Pakubuwana XII

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Sri Susuhunan Pakubuwana XII
Pakubuwana XII
Pakubuwana XII
Susuhunan Surakarta
Memerintah 19452004
Pendahulu Susuhunan Pakubuwana XI
Penerus Susuhunan Pakubuwana XIII
Gubernur Militer Jepang Shigeichi Yamamoto
Presiden Soekarno
Soeharto
Bacharuddin Jusuf Habibie
Abdurrahman Wahid
Megawati Soekarnoputri
Kepala Daerah Istimewa Surakarta
Memerintah 19451946
Pendahulu Jabatan baru
Pengganti Tidak ada, jabatan dihapus
Presiden Soekarno
Pasangan KRAy. Mandayaningrum
KRAy. Rogasmara
KRAy. Pradapaningrum
KRAy. Kusumaningrum
KRAy. Pujaningrum
Nama lengkap
Raden Mas Suryo Guritno
Wangsa Wangsa Mataram
Ayah Susuhunan Pakubuwana XI
Ibu GKR. Pakubuwana
Lahir 14 April 1925
Bendera Hindia Belanda Surakarta, Hindia Belanda
Meninggal 11 Juni 2004 (umur 79)
Bendera Indonesia Surakarta, Indonesia
Agama Islam

Sri Susuhunan Pakubuwana XII (Bahasa Jawa: Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwono XII) lahir di Surakarta, 14 April 1925 – meninggal di Surakarta, 11 Juni 2004 pada umur 79 tahun, adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah paling lama, yaitu selama 59 tahun, tepatnya mulai tahun 1945 hingga 2004.

Awal Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Nama aslinya adalah Raden Mas Surya Guritna (Bahasa Jawa: Raden Mas Suryo Guritno), putra Pakubuwana XI yang lahir dari permaisuri KRAy. Koespariyah (bergelar GKR. Pakubuwana) pada tanggal 14 April 1925. Ia juga memiliki seorang saudara perempuan seibu bernama GRAy. Koes Sapariyam (bergelar GKR. Kedaton).

Surya Guritna di masa kecilnya pernah bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School) Pasar Legi, Surakarta. Oleh teman-temannya, Surya Guritna sering dipanggil dengan nama Bobby. Di sekolah yang sama ini pula beberapa pamannya, putra Pakubuwana X yang sebaya dengannya menempuh pendidikan. Surya Guritna termasuk murid yang mudah bergaul dan hubungannya dengan teman-teman berlangsung akrab, bahkan ketika di sekolah pun ia bergaul tanpa memandang status sosial yang disandangnya. Waktu kecil ia gemar mempelajari tari-tarian klasik, dan yang paling digemari adalah Tari Handaga dan Tari Garuda. Ia juga pemuda yang gemar mengaji pada Bapak Pradjawijata dan Bapak Tjandrawijata dari Mambaul Ulum. Kegemarannya yang lain adalah olah raga panahan. Mulai tahun 1938 Surya Guritna terpaksa berhenti sekolah cukup lama, sekitar lima bulan, karena harus mengikuti ayahandanya yang memperoleh mandat mewakili kakeknya, Pakubuwana X, pergi ke Belanda bersama raja-raja di Hindia Belanda saat itu untuk menghadiri undangan perayaan peringatan 40 tahun kenaikan tahta Ratu Wilhelmina.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Hogere Burger School (HBS) Bandung bersama beberapa pamannya. Baru dua setengah tahun ia belajar, pecah Perang Pasifik, dan waktu itu bala tentara Jepang menang melawan sekutu dan Hindia Belanda pun jatuh ke tangan Jepang.

Pakubuwana XI memintanya pulang dari Bandung ke Surakarta. Kemudian, ia harus menerima kenyataan menyedihkan lantaran pada Sabtu, 1 Juni 1945, Pakubuwana XI wafat. Berdasarkan tradisi maka KGPH. Mangkubumi, putra sulung Pakubuwana XI, sesungguhnya yang paling berhak meneruskan tahta. Namun peluang itu tertutup setelah ibundanya, GKR. Kencana (istri pertama Pakubuwana XI), telah mendahului wafat pada tahun 1910 sehingga tidak berkesempatan diangkat sebagai permaisuri tatkala suaminya mewarisi tahta kerajaan. Maka terbukalah peluang untuk Surya Guritna bisa menggantikan Pakubuwana XI sekalipun berumur paling muda.

Teka-teki itu kian terkuak waktu jenazah Pakubuwana XI dimakamkan di Astana Imogiri, Surya Guritna tidak terlihat hadir di pemakaman. Sebelum naik tahta sebagai raja, Surya Guritna diangkat sebagai putra mahkota dengan gelar KGPH. Purbaya (Bahasa Jawa: Kangjeng Gusti Pangeran Haryo Purboyo). Terlepas setuju atau tidak, keluarga keraton harus mulai bisa menerima pertanda itu, sebab berdasarkan kepercayaan adat keraton, bakal raja dipantangkan datang ke pemakaman. Namun versi lain menyebutkan, pengangkatan Surya Guritna itu berkaitan erat dengan peran yang dimainkan Presiden Soekarno. Pakubuwana XII dipilih karena masih muda dan mampu mengikuti perkembangan serta tahan terhadap situasi. Meski raja baru telah disepakati, namun bukan berarti seluruh persoalan terselesaikan. Rencana penobatan Surya Guritna itu sempat mendapat tentangan keras dari Kooti Jimu Kyoku Tyokan, Pemerintah Gubernur Jepang. Jepang menyatakan tidak berani menjamin keselamatan calon raja.

Riwayat Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Masa Revolusi Fisik[sunting | sunting sumber]

Susuhunan Pakubuwana XII bersama KGPAA. Mangkunegara VIII dan Presiden Soekarno saat acara perjamuan di Sasana Handrawina, Keraton Surakarta.

Raden Mas Surya Guritna naik takhta sebagai Pakubuwana XII pada tanggal 11 Juni 1945. Awal pemerintahan Pakubuwana XII hampir bersamaan dengan lahirnya Republik Indonesia. Karena masih berusia sangat muda, dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari, ia seringkali didampingi ibunya, GKR. Pakubuwana, yang dikenal dengan julukan Ibu Ageng. Pakubuwana XII dijuluki Sinuhun Hamardika karena merupakan Susuhunan Surakarta pertama yang memerintah pada era kemerdekaan.

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, pada 1 September 1945 Pakubuwana XII bersama Mangkunegara VIII, secara terpisah mengeluarkan dekrit (maklumat) resmi kerajaan yang berisi pernyataan ucapan selamat dan dukungan terhadap Republik Indonesia, empat hari sebelum maklumat Hamengkubuwana IX dan Pakualam VIII. Lima hari kemudian, 6 September 1945, Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran mendapat Piagam Penetapan Daerah Istimewa dari Presiden Soekarno.

Selama revolusi fisik Pakubuwana XII memperoleh pangkat militer kehormatan (tituler) Letnan Jenderal dari Presiden Soekarno. Kedudukannya itu menjadikan ia sering diajak mendampingi Presiden Soekarno meninjau ke beberapa medan pertempuran. Tanggal 12-13 Oktober 1945, Pakubuwana XII sendiri bahkan ikut serta menyerbu markas Kenpetai di Kemlayan. Ia juga berkenan ikut melakukan penyerbuan ke markas Kenpetai di Timuran. Sewaktu melakukan penyerbuan ke markas Kido Butai di daerah Mangkubumen, Pakubuwana XII juga menyempatkan berangkat bersama anggota KNI dan berhasil kembali dengan selamat.

Belanda yang tidak merelakan kemerdekaan Indonesia berusaha merebut kembali negeri ini dengan kekerasan. Pada bulan Januari 1946 ibu kota Indonesia terpaksa pindah ke Yogyakarta karena Jakarta jatuh ke tangan Belanda. Pemerintahan Indonesia saat itu dipegang oleh Sutan Syahrir sebagai perdana menteri, selain Presiden Soekarno selaku kepala negara. Sebagaimana umumnya pemerintahan suatu negara, muncul golongan oposisi yang tidak mendukung sistem pemerintahan Perdana Menteri Sutan Syahrir, misalnya kelompok Jenderal Sudirman.

Karena Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan, secara otomatis Surakarta yang merupakan saingan lama menjadi pusat oposisi. Kaum radikal bernama Barisan Banteng yang dipimpin Dr. Muwardi dengan berani menculik Pakubuwana XII dan Sutan Syahrir sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Indonesia.

Barisan Banteng berhasil menguasai Surakarta sedangkan pemerintah Indonesia tidak menumpasnya karena pembelaan Jenderal Sudirman. Bahkan, Jenderal Sudirman juga berhasil mendesak pemerintah sehingga mencabut status daerah istimewa yang disandang Surakarta. Sejak tanggal 1 Juni 1946 Kasunanan Surakarta hanya berstatus karesidenan yang menjadi bagian wilayah provinsi Jawa Tengah. Pemerintahan dipegang oleh kaum sipil, sedangkan kedudukan Pakubuwana XII hanya sebagai simbol saja.

Era Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Susuhunan Pakubuwana XII saat memberikan gelar kehormatan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Akbar Tanjung di Keraton Surakarta.

Pada awal pemerintahannya, Pakubuwana XII dinilai gagal mengambil peran penting dan memanfaatkan situasi politik Republik Indonesia, sehingga pamornya di mata rakyat kalah dibanding Hamengkubuwana IX di Yogyakarta.

Sebenarnya Pakubuwana XII sudah berusaha untuk mengembalikan status Daerah Istimewa Surakarta. Pada 15 Januari 1952 Pakubuwana XII pernah memberi penjelasan tentang Wilayah Swapraja Surakarta secara panjang lebar pada Dewan Menteri di Jakarta, dalam kesempatan ini ia menjelaskan bahwa Pemerintah Swapraja tidak mampu mengatasi gejolak dan rongrongan yang disertai ancaman bersenjata, sementara Pemerintah Swapraja sendiri tidak mempunyai alat kekuasaan. Namun usaha itu tersendat-sendat karena tak kunjung menemui titik temu. Pada tahun 1954, akhirnya Pakubuwana XII sendiri memutuskan untuk meninggalkan keraton guna menempuh pendidikan di Jakarta. Ia menunjuk KGPH. Kusumayuda sebagai wakil sementara di keraton.

Pada masa pemerintahannya, terjadi dua kali musibah yang melanda Keraton Surakarta. Pada tanggal 19 November 1954, bangunan tertinggi di kompleks keraton, yaitu Panggung Sangga Buwana, mengalami kebakaran yang menghancurkan sebagian besar bangunan termasuk atap dan hiasan di puncak bangunan. Selanjutnya pada tanggal 31 Januari 1985, di malam Jumat Wage, kompleks inti keraton terbakar pada pukul 21.00 WIB. Kebakaran terjadi di bangunan Sasana Parasdya, Sasana Sewaka, Sasana Handrawina, Dalem Ageng Prabasuyasa, Dayinta, dan Paningrat. Seluruh bangunan termasuk segala isi dan perabotannya tersebut musnah dilalap api.

Susuhunan Pakubuwana XII saat upacara Tingalandalem Jumenengan di Keraton Surakarta.

Akhirnya, pada tanggal 5 Februari 1985, Pakubuwana XII melapor kepada Presiden Soeharto atas musibah yang melanda Keraton Surakarta. Presiden Soeharto pun menindaklanjuti dengan membentuk Panitia 13 guna mengemban tugas untuk melaksanakan rehabilitasi keraton. KRT. Harjonagoro, budayawan nasional sekaligus sahabat Pakubuwana XII, termasuk dalam jajaran Panitia 13 ini. Keraton Surakarta berhasil pulih setelah mendapat dana 4 milyar rupiah dari pemerintah pusat, dan pembangunan kembali kompleks inti keraton dapat diselesaikan dan diresmikan pada tahun 1987.

Pada 26 September 1995, lima puluh tahun setelah kemerdekaan Indonesia, berdasarkan SK No. 70/SKEP/IX/1995, Pakubuwana XII mendapat pemberian Penghargaan dan Medali Perjuangan Angkatan '45 dari pemerintah pusat. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada Pakubuwana XII yang pada masa awal kemerdekaan merupakan raja pertama di Indonesia yang menyatakan setia dan berdiri di belakang pemerintah republik. Pakubuwana XII juga secara sukarela menyumbangkan sebagian kekayaan pribadinya maupun kekayaan Keraton Surakarta kepada pemerintah pusat saat itu.

Meskipun pada awal pemerintahannya Pakubuwana XII dapat dikatakan gagal secara politik, namun Pakubuwana XII tetap menjadi sosok figur pelindung kebudayaan Jawa. Pada zaman reformasi, para tokoh nasional, seperti Presiden Abdurrahman Wahid, tetap menghormatinya sebagai salah satu sesepuh tanah Jawa.

Pada pertengahan tahun 2004, Pakubuwana XII mengalami koma dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Panti Kosala Dr. Oen Surakarta. Akhirnya pada tanggal 11 Juni 2004, Pakubuwana XII dinyatakan wafat. Wafatnya Pakubuwana XII bersamaan dengan keramaian kampanye Pemilihan Umum Presiden di Surakarta. Sepeninggalnya sempat terjadi perebutan tahta antara KGPH. Hangabehi dangan KGPH. Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII.

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Lukisan Susuhunan Pakubuwana XII sebagai salah satu Pahlawan Nasional dari Kasunanan Surakarta karya KGPH. Puger. Lukisan ini terpajang di Kompleks Kedaton, Keraton Surakarta.
  1. KRAy. Mandayaningrum
  2. KRAy. Rogasmara
  3. KRAy. Pradapaningrum
  4. KRAy. Kusumaningrum
  5. KRAy. Retnadiningrum
  6. KRAy. Pujaningrum
  • Memiliki lima belas putra:
  1. KGPH. Hangabehi (naik tahta sebagai Susuhunan Pakubuwana XIII)
  2. KGPH. Hadi Prabowo
  3. KGPH. Puspo Hadikusumo
  4. KGPH. Kusumoyudo
  5. KGPH. Tejowulan
  6. KGPH. Puger
  7. GPH. Dipokusumo
  8. GRM. Suryo Saroso
  9. GPH. Benowo
  10. GPH. Noto Kusumo
  11. GPH. Madu Kusumo
  12. GPH. Wijoyo Sudarsono
  13. GPH. Suryo Wicaksono
  14. GPH. Cahyaningrat
  15. GPH. Suryo Mataram
  • Memiliki dua puluh putri:
  1. GKR. Alit
  2. GKR. Galuh Kencono
  3. GRAy. Koes Rahmaniyah
  4. GRAy. Koes Saparniyah
  5. GRAy. Koes Handariyah
  6. GRAy. Koes Kristiyah
  7. GRAy. Koes Sapardiyah
  8. GRAy. Koes Raspiyah
  9. GRAy. Koes Sutriyah
  10. GRAy. Koes Isbandiyah
  11. GRAy. Koes Partinah
  12. GRAy. Koes Niyah
  13. GRAy. Koes Murtiyah
  14. GRAy. Koes Sabandiyah
  15. GRAy. Koes Triniyah
  16. GRAy. Koes Indriyah
  17. GRAy. Koes Suwiyah
  18. GRAy. Koes Ismaniyah
  19. GRAy. Koes Samsiyah
  20. GRAy. Koes Saparsiyah

Penghargaan Militer[sunting | sunting sumber]

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • (Indonesia) Biografi Sri Susuhunan Pakubuwono XII (1925-2004) [1]

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
Jabatan Baru
Kepala Daerah Istimewa Surakarta
1945–1946
Diteruskan oleh:
Jabatan Dihapus
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Pakubuwana XI
Susuhunan Surakarta
1945-2004
Diteruskan oleh:
Pakubuwana XIII

|}