Alexander Andries Maramis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
A. A. Maramis
Aa maramis.jpg
Menteri Keuangan Indonesia 2
Masa jabatan
26 September 1945 – 14 November 1945
Presiden Soekarno
Pendahulu Samsi Sastrawidagda
Pengganti Soenarjo Kolopaking
Masa jabatan
3 Juli 1947 – 29 Januari 1948
Presiden Soekarno
Perdana Menteri Amir Sjarifuddin
Pendahulu Sjafruddin Prawiranegara
Masa jabatan
29 Januari 1948 – 19 Desember 1948
Presiden Soekarno
Perdana Menteri Mohammad Hatta
Pengganti Lukman Hakim
Masa jabatan
13 July 1949 – 4 August 1949
Presiden Soekarno
Perdana Menteri Mohammad Hatta
Pendahulu Lukman Hakim
Pengganti Lukman Hakim
Menteri Luar Negeri Indonesia
Masa jabatan
19 Desember 1948 – 13 Juli 1949
Presiden Soekarno
Pendahulu Agus Salim
Pengganti Agus Salim
Duta Besar Indonesia untuk Filipina 1
Masa jabatan
25 Januari 1950 – 8 Mei 1950
Presiden Soekarno
Duta Besar Indonesia untuk Jerman Barat 1
Masa jabatan
10 April 1953 – 27 Juni 1956
Presiden Soekarno
Pengganti Zairin Zain
Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet
Masa jabatan
15 Oktober 1956 – November 1959
Presiden Soekarno
Pendahulu L.N. Palar
Pengganti Adam Malik
Duta Besar Indonesia untuk Finlandia
Masa jabatan
18 Agustus 1958 – 1960
Presiden Soekarno
Informasi pribadi
Lahir (1897-06-20)20 Juni 1897
Manado, Sulawesi Utara, Hindia Belanda
Meninggal dunia 31 Juli 1977(1977-07-31) (umur 80)
Jakarta, Indonesia
Partai politik Partai Nasional Indonesia (PNI)
Pasangan Elizabeth Marie Diena Veldhoedt
Alma mater Universitas Leiden, Belanda
Pekerjaan Pejuang Kemerdekaan,
Ekonom,
Diplomat

Mr. Alexander Andries Maramis (lahir di Manado, 20 Juni 1897 – meninggal di Jakarta, 31 Juli 1977 pada umur 80 tahun) adalah pejuang kemerdekaan Indonesia. Dia pernah menjadi anggota BPUPKI dan KNIP. Ia juga pernah menjadi Menteri Keuangan Indonesia dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama. Keponakan Maria Walanda Maramis ini menyelesaikan pendidikannya dalam bidang hukum pada tahun 1924 di Belanda.

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Alexander Andries Maramis lahir di Manado pada tanggal 20 Juni 1897. Ayahnya bernama Andries Alexander Maramis (nama pertama dan tengah dibalik) dan ibunya bernama Charlotte Ticoalu.[1] Adik ayahnya adalah Pahlawan Nasional Indonesia Maria Walanda Maramis.[2] Alex Maramis belajar di sekolah dasar bahasa Belanda (Europeesche Lagere School, ELS) di Manado.[3] Dia kemudian masuk sekolah menengah Belanda (Hogere burgerschool, HBS) di Batavia (sekarang Jakarta) di mana dia bertemu dan berteman dengan Arnold Mononutu yang juga dari Minahasa dan Achmad Soebardjo.[4][5]

Studi dan kerja dalam bidang hukum[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1919, Maramis berangkat ke Belanda dan belajar hukum di Universitas Leiden.[6] Selama di Leiden, Maramis terlibat dalam organisasi mahasiswa Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging). Pada tahun 1924, ia terpilih sebagai sekretaris perhimpunan tersebut.[7] Maramis lulus dengan gelar "Meester in de Rechten" (Mr.) pada tahun 1924.[8] Ia kemudian kembali ke Indonesia dan membuka praktek hukum swasta di Batavia dan kemudian Palembang.[9][10]

Persiapan kemerdekaan Indonesia[sunting | sunting sumber]

Maramis (tengah) di belakang Soekarno

Maramis diangkat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) yang dibentuk pada tanggal 1 Maret 1945. Dalam badan ini, Maramis termasuk dalam Panitia Sembilan. Panitia ini ditugaskan untuk merumuskan dasar negara dengan berusaha menghimpun nilai-nilai utama dari prinsip ideologis Pancasila yang digariskan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945.[11] Rumusan ini dikenal dengan nama Piagam Jakarta. Maramis mengusulkan perubahan butir pertama Pancasila kepada Drs. Mohammad Hatta setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo.[butuh rujukan] Pada tanggal 11 Juli 1945 dalam salah satu rapat pleno BPUPK, Maramis ditunjuk sebagai anggota Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang ditugaskan untuk membuat perubahan-perubahan tertentu sebelum disetujui oleh semua anggota BPUPK.[12] Pada tahun 1976 bersama Hatta, A.G. Pringgodigdo, Sunario Sastrowardoyo, dan Soebardjo, Maramis termasuk dalam "Panitia Lima" yang ditugaskan Presiden Suharto untuk mendokumentasikan perumusan Pancasila.[13]

Menteri Keuangan[sunting | sunting sumber]

Foto Kabinet Hatta I
Maramis bersama Ratulangi

Maramis diangkat sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet Indonesia pertama pada tanggal 26 September 1945. Ia menggantikan Samsi Sastrawidagda yang pada awalnya diberi jabatan tersebut pada waktu kabinet dibentuk pada tanggal 2 September 1945. Sastrawidagda mengundurkan diri setelah hanya menjabat selama dua minggu karena sakitnya.[14] Sastrawidagda adalah orang pertama yang ditunjuk sebagai Menteri Keuangan Indonesia, tetapi karena waktunya yang sangat singkat, Maramis dapat dianggap, secara de facto, sebagai Menteri Keuangan Indonesia pertama.

Sebagai Menteri Keuangan, Maramis berperan penting dalam pengembangan dan pencetakan uang kertas Indonesia pertama atau Oeang Republik Indonesia (ORI). Dibutuhkan waktu satu tahun sebelum uang kertas ini bisa dikeluarkan secara resmi pada tanggal 30 Oktober 1946. Nota-nota ini menggantikan uang kertas Jepang yang diedarkan oleh pemerintah Hindia Belanda (NICA).[15][16] Uang dikeluarkan untuk denominasi 1, 5, dan 10 sen, dengan ditambah ½, 1, 5, 10, dan 100 rupiah. Tanda tangan Maramis sebagai Menteri Keuangan terdapat dalam cetakan uang-uang kertas ini.

Maramis menjabat sebagai Menteri Keuangan beberapa kali lagi, secara berurutan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I pada tanggal 3 Juli 1947[17], Kabinet Amir Sjarifuddin II pada tanggal 12 November 1947[18], dan Kabinet Hatta I pada tanggal 29 Januari 1948[19]. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda memulai Agresi Militer Belanda II pada saat pemerintahan Hatta. Soekarno, Hatta, dan pejabat pemerintahan lainnya yang berada di Yogyakarta ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Maramis pada saat itu sedang berada di New Delhi, India. Dia menerima kawat dari Hatta sebelum Hatta ditangkap dengan instruksi untuk membentuk pemerintahan darurat di pengasingan di India seandainya Sjafruddin Prawiranegara tidak dapat membentuk pemerintahan darurat di Sumatra.[20] Prawiranegara mampu membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan Kabinet Darurat di mana Maramis diangkat sebagai Menteri Luar Negeri. Setelah Soekarno dan Hatta dibebaskan, Prawiranegara mengembalikan pemerintahan kepada Hatta pada tanggal 13 Juli 1949 dan Maramis kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Duta Besar[sunting | sunting sumber]

Di antara tahun 1950 dan 1960, Maramis mewakili Indonesia sebagai Duta Besar untuk empat negara: Filipina[21][22], Jerman Barat[23][24], Uni Soviet[25], dan Finlandia[26]. Selama beberapa bulan ia menjabat sebagai duta besar untuk Uni Soviet dan Finlandia pada waktu yang bersamaan.[27] Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai duta besar untuk Uni Soviet dan Finlandia, Maramis dan keluarganya menetap di Swiss.[28] Dia sedang menetap di Lugano pada saat sebelum dia kembali ke Indonesia pada tahun 1976.[29]

Wafat[sunting | sunting sumber]

Setelah hampir 20 tahun tinggal di luar Indonesia, Maramis menyatakan keinginannya untuk kembali ke Indonesia. Pemerintah Indonesia mengatur agar ia bisa kembali dan pada tanggal 27 Juni 1976 ia tiba di Jakarta.[30] Di antara para penyambut di bandara adalah teman-teman lamanya Soebardjo dan Mononutu, dan juga Rahmi Hatta (istri Mohammad Hatta).[31] Pada bulan Mei 1977, ia dirawat di rumah sakit setelah mengalami perdarahan. Maramis meninggal dunia pada tanggal 31 Juli 1977 di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto, hanya 13 bulan setelah ia kembali ke Indonesia.[32] Jenazahnya disemayamkan di Ruang Pancasila Departemen Luar Negeri dan dilanjutkan dengan upacara militer dan kemudian pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata.[33]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Uang Rp. 100 dengan tanda tangan Maramis
Kantor Kementerian Keuangan yang dinamakan Gedung "A.A. Maramis"

Pada tanggal 15 Februari 1961, Maramis dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputra Utama dan pada tanggal 5 Oktober 1963 ia dianugerahi penghargaan Bintang Gerilya.[34] Maramis secara anumerta dianugerahi Bintang Republik Indonesia Utama pada tanggal 12 Agustus 1992.[35] Pada tanggal 30 Oktober 2007, Maramis diakui oleh Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai Menteri Keuangan yang tanda tangannya tertera pada uang kertas yang paling banyak. Di antara tahun 1945 dan 1947, tanda tangannya tertera pada 15 uang kertas yang berbeda.[36]

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Maramis menikah dengan Elizabeth Marie Diena Veldhoedt. Ayah Elizabeth adalah orang Belanda sedangkan ibunya berasal dari Bali. Perkawinan Maramis dan Veldhoedt tidak menghasilkan anak, tetapi Veldhoedt memiliki seorang putra dari pernikahan sebelumnya. Anak itu diterima dengan baik oleh Maramis bahkan ia diberi name Lexy Maramis.[37]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Sumber referensi

  • Anderson, Benedict (1972). Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance 1944–1946 [Jawa pada saat Revolusi: Pendudukan dan Perlawanan 1944–1946] (dalam bahasa English). Ithaca, N.Y.: Cornell University Press. ISBN 978-080-140-687-4. 
  • Anwar, Rosihan (2009). Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia, Jilid 3. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN 978-979-709-429-4. 
  • Aritorang, Jan; Steenbrink, Karel (2008). A History of Christianity in Indonesia [Sejarah Kekristenan di Indonesia] (dalam bahasa English). Leiden: Brill. ISBN 978-900-417-026-1. 
  • Careers Institute (1953). Current Affairs, Issue 8 [Urusan Terkini, No. 8] (dalam bahasa English). New Delhi: Careers Institute. 
  • Elson, R. E. (October 2009). "Another Look at the Jakarta Charter Controversy of 1945" [Melihat Kembali Kontroversi Piagam Jakarta 1945]. Indonesia (dalam bahasa English) (88): 105–130. 
  • Finch, Susan; Lev, Daniel (1965). Republic of Indonesia Cabinets: 1945–1965 [Kabinet-Kabinet Republik Indonesia: 1945–1965] (dalam bahasa English). Ithaca, N.Y.: Cornell University. 
  • Idris, Safwan (1982) (dalam bahasa English). Tokoh-tokoh Nasional: Overseas Education and the Evolution of the Indonesian Educated Elite (Ph.D.). Madison, WI: University of Wisconsin-Madison. 
  • Alexander Andries Maramis (dalam bahasa English). Arlington, VA.: Joint Publications Research Service. 1977. 
  • Khrushchev, Nikita (2007). Khrushchev, Sergei, ed. Memoirs of Nikita Khrushchev, Volume 3 [Memoar Nikita Khrushchev, Volume 3] (dalam bahasa English). Diterjemahkan oleh Shriver, George. University Park: The Pennsylvania State University Press. ISBN 978-027-103-317-4. 
  • Lev, Daniel, ed. (2000). Legal Evolution and Political Authority in Indonesia [Evolusi Hukum dan Otoritas Politik di Indonesia] (dalam bahasa English). The Hague: Kluwer Law International. ISBN 9-0411-1421-1. 
  • Lindblad, J. Thomas (2008). Bridges to New Business: The Economic Decolonization of Indonesia [Jembatan ke Usaha yang Baru: Ekonomu Dekolonisasi di Indonesia] (dalam bahasa English). Leiden: KITLV Press. ISBN 978-906-718-290-4. 
  • Massier, AB (2008). The Voice of the Law in Transition: Indonesian Jurists and Their Languages [Suara Hukum dalam Transisi: Jaksa-Jaksa Indonesia dan Bahasa Mereka] (dalam bahasa English). Diterjemahkan oleh Wouters, Michaela. Leiden: KITLV Press. ISBN 978-906-718-271-3. 
  • Nalenan, R. (1981). Arnold Mononutu: Potret Seorang Patriot. Jakarta: Gunung Agung. 
  • Otterspeer, Willem, ed. (1989). Leiden Oriental Connections 1850–1940 [Hubungan Oriental Leiden 1850–1940] (dalam bahasa English). Leiden: Brill. ISBN 9-0040-9022-3. 
  • Parengkuan, Fendy E. W. (1982). A.A. Maramis, SH. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 
  • Pour, Julius (2010). Doorstoot naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN 978-979-709-454-6. 
Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Samsi Sastrawidagda
Menteri Keuangan
1945
Diteruskan oleh:
Sunarjo Kolopaking
Didahului oleh:
Syafruddin Prawiranegara
Menteri Keuangan
1947—1949
Diteruskan oleh:
Lukman Hakim
Didahului oleh:
Agus Salim
Menteri Luar Negeri Indonesia
1949
Diteruskan oleh:
Agus Salim
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Tidak ada
Duta Besar Indonesia untuk Jerman Barat
1953—1956
Diteruskan oleh:
Zairin Zain