Soeprijadi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Soeprijadi
Supriyadi.jpg
Menteri Keamanan Rakyat Indonesia ke-1
Masa jabatan
19 Agustus 1945 – 20 Oktober 1945
Tidak pernah muncul, tidak diketahui keberadaannya
PresidenSoekarno
PendahuluTidak ada jabatan baru
PenggantiMuhammad Suliyoadikusumo
Panglima Tentara Nasional Indonesia ke-1
Masa jabatan
5 Oktober 1945 – 12 November 1945
PendahuluTidak ada jabatan baru
PenggantiSudirman
Informasi pribadi
Lahir13 April 1923
Trenggalek, Hindia Belanda
Orang tua
  • R. Darmadi (ayah)
  • Rahayu (ibu)
Menghilang14 Februari 1945 (pada umur 21 tahun)
Blitar, Pendudukan Jepang
StatusDinyatakan meninggal
9 Agustus 1975(1975-08-09) (umur 52)

Soeprijadi (13 April 1923 – 14 Februari 1945) adalah seorang tokoh militer Indonesia sekaligus pahlawan nasional Indonesia. Pada bulan Februari 1945, selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, ia menjadi penggerak dan pemimpin pemberontakan milisi PETA (pemberontakan bersenjata terbesar Indonesia melawan Jepang) di kota Blitar, Jawa Timur. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia diangkat menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia yang pertama dan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang pertama, tetapi gagal dilantik karena ia hilang waktu pemberontakan yang dikepalainya dipadamkan oleh pasukan Jepang.

Nasib Soeprijadi selanjutnya tetap menjadi subyek dari berbagai dugaan dan hipotesis dan dianggap sebagai salah satu misteri paling signifikan dalam sejarah Indonesia modern. Menurut pendapat yang paling umum, dia meninggal di tangan Jepang: baik terbunuh saat melawan di lereng gunung Kelud di utara Blitar atau mati akibat penyiksaan saat berada di penangkaran. Pada saat yang sama, ada sejumlah catatan saksi mata yang diduga bertemu dengannya setelah penindasan pemberontakan Blitar dicatat.

Berulang kali, orang-orang muncul menyaru sebagai Soeprijadi yang masih hidup. Kasus paling bergema semacam ini terjadi pada tahun 2008. Terlepas dari kenyataan bahwa orang yang mengklaim identitas Soeprijadi tak diakui oleh kerabat dan rekan pahlawan nasional, ada sejumlah sejarawan Indonesia serta perwakilan media dan publik Indonesia, yang cenderung mengakui keabsahan klaimnya.

Masa muda[sunting | sunting sumber]

Supriyadi lahir pada tanggal 13 April 1923 di pemukiman Trenggalek tepatnya di pantai selatan Jawa Timur. Dia adalah anak sulung dalam keluarga bangsawan: baik ayahnya Darmadi dan ibunya Rahayu memiliki gelar bangsawan Jawa yaitu raden. Pada saat kelahiran putra sulungnya, Raden Darmadi menduduki jabatan di pemerintahan Kabupaten Blitar, yang saat itu termasuk wilayah Trenggalek. Ketika Soeprijadi genap berusia dua tahun, ibunya meninggal dan setahun kemudian pada tahun 1926, Darmadi menikah lagi dengan seorang wanita bernama Susilih, yang menjadi ibu dari 11 adik laki-laki Soeprijadi.[1][2][3] Satu-satunya saudara kandung Soeprijadi adalah Wiyono yang lahir dari Rahayu setahun sebelum kematiannya.[4]

Setelah kematian ibunya, kakeknya, ayah Rahayu, memainkan peran penting dalam pengasuhannya.[5] Lambat laun di antara Soeprijadi dan ibu tirinya terjalin hubungan yang cukup baik dan saling percaya. Waktu sudah dewasa dan hidup terpisah dari keluarganya, ia melakukan surat menyurat dengan Susilih. Dalam suratnya pada ibu tirinya, ia berbagi banyak ide dan impian dengannya.[1][2] Keluarganya sangat religius dan Soeprijadi tumbuh ajaran orang yang sangat saleh sampai akhir hayatnya. Ia rajin memenuhi semua ajaran Islam tentang salat dan puasa.[6]

Soeprijadi mengenyam pendidikan yang sangat baik untuk orang Indonesia pada tahun-tahun itu: ia berturut-turut lulus dari sekolah dasar Belanda untuk pribumi (bahasa Belanda: Europeesche Lagere School) dan sekolah menengah tingkat pertama (bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), setelah itu yang ia masuki sekolah menengah kedua yang terletak di Magelang (bahasa Belanda: Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren), yang melatih pegawai junior untuk administrasi kolonial.[2][3] Pendidikannya yang terakhir terputus pada Februari 1942 dikarenakan invasi Jepang ke Indonesia, tetapi pada tahun berikutnya, Soeprijadi dapat menyelesaikan pendidikan menengahnya, setelah dilatih di kursus yang diselenggarakan oleh administrasi pendudukan di Tangerang.[6][7]

Bergabung dengan PETA[sunting | sunting sumber]

Seperti banyak orang Indonesia, Soeprijadi pada awalnya cukup setia kepada Jepang dan berharap bahwa invasi mereka mengganggu pemerintahan kolonial Belanda serta akan menciptakan kondisi untuk pembangunan negara yang lebih makmur di masa mendatang terutama untuk penentuan nasib sendiri politiknya. Sentimen seperti itu secara aktif dipupuk dengan propaganda Jepang.[8][9]

Saat masih belajar di kursus di Tangerang, ia mengikuti kelas pelatihan militer yang diadakan oleh militer Jepang dan setelah menyelesaikan kursus itu pada bulan Oktober 1943, ia secara sukarela bergabung dengan barisan PETA (Pembela Tanah Air) — milisi militer yang dibentuk oleh penguasa di kalangan pribumi Indonesia. Setelah pelatihan di sekolah perwira PETA di Tangerang ia menerima pangkat komandan peleton PETA.[9][10] Ada kenangan para instruktur Jepang tentang Soeprijadi yang menganggapnya sebagai seorang kadet yang sangat cakap dan seorang pemuda yang cerdik dan cerdas.[11]

Pada awal tahun 1944, ia dikirim untuk mengabdi di kota Blitar, Jawa Timur. Pada saat itu, ayahnya, Raden Darmadi, memegang salah satu jabatan penting di pemerintahan kabupaten di Blitar.[9][10]

Persiapan pemberontakan PETA[sunting | sunting sumber]

Pejuang PETA dalam latihan awal tahun 1945

Di Batalion PETA Blitar, yang dibentuk di antara unit-unit pertama milisi pada akhir tahun 1943, Soeprijadi diangkat menjadi komandan peleton. Tugas utama batalion, yang baraknya terletak di dekat pinggiran selatan kota adalah untuk melindungi para romusha (pekerja paksa Indonesia yang dieksploitasi oleh pemerintahan pendudukan Jepang dalam pembangunan benteng, jalan, dan berbagai fasilitas infrastruktur lainnya). Untuk tujuan ini, peleton batalion terus-menerus dipindahkan ke berbagai daerah di Jawa Timur.[8][12][13]

Kondisi kerja dan kehidupan romusha yang sangat sulit menyebabkan kematian yang tinggi diantara mereka. Situasi paling tragis terjadi dalam pembangunan struktur hidrolik di Tulungagung, Jawa Timur. Di sana, peleton Soeprijadi sering dikirim. Menyaksikan nasib rekan senegaranya yang demikian, Soeprijadi segera mengubah sikap setianya terhadap Jepang.[8][12] Selain dari penderitaan romusha perubahan radikal dalam pandangannya juga disebabkan oleh banyaknya kasus pememaksaan gadis-gadis Jawa untuk menjadi ianfu yaitu pelacur di tempat-tempat hiburan tentara Jepang, serta perlakuan menghina yang dialami oleh para pejuang PETA oleh militer Jepang. Umpamanya, para perwira milisi, terlepas dari pangkatnya, wajib memberi hormat kepada sersan dan bintara Jepang. Lebih dari itu mereka bersama dengan orang biasa, dapat dicambuk di depan umum bahkan untuk pelanggaran kecil. Hal mana sangat memalukan bagi orang-orang dari keluarga bangsawan Jawa, yang selain Soeprijadi sendiri, termasuk banyak perwira batalion Blitar.[12][13]

Menurut ibu tiri Soeprijadi, "jerami terakhir" yang akhirnya mengubah pandangan Soeprijadi tentang pendudukan Jepang adalah pengiriman ayahnya Raden Darmadi ke kursus pelatihan ulang untuk pegawai administrasi sipil. Kelas-kelas di kursus ternyata sangat melelahkan, dan sikap orang Jepang terhadap karyawan Indonesia sangat keras dan sombong. Menurut penuturan sang ayah, keadaannya yang kurus kering dan tertekan sangat membekas bagi Soeprijadi.[13] Akibatnya pada pertengahan tahun 1944, perwira muda itu menjadi penentang keras pemerintah Jepang dan mulai menetaskan gagasan pemberontakan bersenjata melawan penjajah.[10][12]

Soekarno yang pada awal 1945 mencoba mencegah Soeprijadi dari pemberontakan

Pada bulan September 1944, Soeprijadi mengungkapkan rencananya kepada beberapa rekan perwira, yang dengan antusias mendukungnya. Setelah itu, para konspirator mulai mengadakan pertemuan rahasia. Lama-kelamaan lingkaran mereka meluas. Dalam beberapa bulan, mereka berhasil memenangkan sebagian besar perwira dan bintara serta sebagian lumayang besar dari tamtama batalion. Terlepas dari kenyataan bahwa perwira berpangkat lebih tinggi termasuk diantara para konspirator, Soeprijadi mempertahankan peran sebagai pemimpin informal dan ideologis perlawanan. Menurut memoar rekan-rekannya, ia menikmati otoritas tinggi diantara mereka, walaupun sifatnya yang lembut, sederhana dan tidak banyak bicara.[14][15] Pada pertemuan-pertemuan rahasia, Soeprijadi muncul dalam pakaian sipil yaitu sarung nasional khas Jawa, dipersenjatai dengan pistol dan keris berkelok-kelok yang banyak dianggap oleh orang Jawa sebagai makna sakral dan spiritual.[5]

Pada awal 1945, Soeprijadi bersama beberapa rekannya berbagi rencana pemberontakan dengan Soekarno, pemimpin gerakan pembebasan nasional Indonesia, yang pada waktu itu berada di Blitar: Soekarno secara berkala mengunjungi orang tuanya yang tinggal di kota ini. Soekarno mengambil sikap agak skeptik tentang gagasan perwira muda tersebut — singkatnya pemberontakan yang dipersiapkannya tidak tepat waktu dan tak mampu memobilisasi kekuatan yang cukup.[1][8]

Diketahui bahwa salah satu rekan Soeprijadi setuju dengan pendapat Soekarno tentang kemungkinan kekalahan pemberontakan. Perwira PETA itu meminta dia terlebih dahulu untuk melawan pemberontak, mengingat bahwa sesaat sebelum ini Soekarno berhasil mendapatkan kepemimpinan pemerintah pendudukan untuk menghapus hukuman mati sosialis Indonesia Amir Syarifudin, bakal calon perdana menteri negara, yang ditangkap oleh Jepang karena kegiatan subversif. Namun Soekarno mengingatkan para perwira bahwa tidak seperti Syarifudin yang seorang warga sipil jika ditangkap mereka akan menghadapi vonis pengadilan militer yang tidak dapat ia pengaruhi. Namun demikian, semua argumen ini tak membuat Soeprijadi membatalkan rencananya untuk memberontak: waktu meninggalkan wisma Soekarno, Soeprijadi terus meyakinkan Soekarno bahwa dia tidak ragu tentang kemenangan pemberontakan.[8][16]

Diketahui, Soeprijadi berharap dapat menghubungi bagian lain dari PETA yang ditempatkan di Jawa Timur untuk membujuk mereka untuk bertindak secara bersamaan. Dalam hal ini, ia menaruh harapan khusus pada latihan gabungan sepuluh batalion PETA di provinsi itu, yang direncanakan oleh komando Jepang pada 5 Februari. Namun hanya beberapa jam sebelum waktu yang diharapkan, latihan ini dibatalkan. Alasannya menurut sejarawan Indonesia adalah ketidakpuasan yang ditunjukkan oleh unit-unit milisi sehubungan dengan beberapa insiden. Dengan demikian, diketahui bahwa suasana hati batalion PETA dipengaruhi secara negatif oleh penemuan mayat pekerja romusha di lokasi latihan, yang diduga mati karena kelaparan serta kematian seorang tamtama PETA dalam keadaan yang tak jelas.[15][17]

Pada saat yang sama pada awal Februari 1945, Soeprijadi mulai mendapat kesan bahwa Jepang mulai menebak-nebak rencana pemberontakan. Kesan itu menjadi kepercayaan pasti setelah salah satu instruktur Jepang langsung menuduhnya memiliki niat berontak. Selain itu, para konspirator mengetahui kedatangan pasukan Kempeitai (polisi militer Jepang) tambahan dari Semarang di Blitar yang mereka artikan sebagai persiapan penyerangan. Semua keadaan ini memaksa Soeprijadi untuk membuat pilihan untuk segera memulai pemberontakan dengan kekuatan satu batalion saja.[15][18]

Pada tanggal 9 Februari, Soeprijadi mengunjungi penceramah Muslim terkenal Ahmad Kasan Bendo di Blitar yang sering bergaul dengannya dan bahkan ia sebut "bapak spiritual", untuk meminta restunya atas pemberontakan. Kasan Bendo menganggap gagasan pemberontakan itu terlalu dini dan dengan gigih berusaha mendesak muridnya untuk menahan diri dan menunda aksi bersenjata selama beberapa bulan. Namun pada akhirnya, penceramah itu diduga mengizinkan Soeprijadi untuk menunjukkan kemampuan bersenjatanya, dan menegaskan bahwa pertentangan melawan Jepang adalah perkara yang saleh.[15][18][19]

Pada tanggal 13 Februari, dalam pertemuan para konspirator terakhir yang dihadiri oleh 25 perwira dan bintara batalion, diputuskan untuk memulai pertunjukan pada pagi hari berikutnya. Rencana yang dikembangkan menyerukan penghapusan semua personel militer Jepang yang bertugas di Blitar, serta pembebasan semua tahanan Indonesia yang ditahan di penjara kota. Setelah itu, para pemberontak harus meninggalkan kota untuk melancarkan operasi partisan di pedesaan sekitarnya dan mengumpulkan penduduk di sekitarnya untuk melawan Jepang. Pada saat yang sama, atas desakan Soeprijadi, kekerasan apapun terhadap personel batalion PETA yang menolak berpartisipasi dalam pemberontakan, serta terhadap orang Indonesia manapun dinyatakan tak dapat diterima.[8][20][21][22]

Pemberontakan dan penghilangan Soeprijadi[sunting | sunting sumber]

Pemberontakan yang terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 adalah yang terbesar dari semua pemberontakan anti-Jepang oleh PETA yang terjadi di Indonesia pada tahap akhir Perang Dunia II.[16][23] Sebagian besar batalion Blitar mengambil bagian di dalamnya yaitu setidaknya 360 orang.[15]

Jam setengah empat pagi para pemberontak mengibarkan bendera merah-putih di atas barak dan mulai menyita semua senjata dan amunisi yang ada di lokasi unit. Sebelum meninggalkan unit, mereka menembakkan mortir dan senapan mesin ke gedung markas Kempeitai yang terletak di sekitar barak, serta Hotel Sakura, yang menampung sebagian besar perwira dan pejabat sipil Jepang yang berada di Blitar pada waktu itu. Namun setelah penembakan, ternyata kedua bangunan itu kosong: sehingga akhirnya dipastikan bahwa Jepang telah mengetahui persiapan pemberontakan sebelumnya.[10][22][24] Setelah itu, para pemberontak yang terbagi menjadi 4 kelompok, mulai bergerak keluar kota ke berbagai arah. Soeprijadi tidak memimpin salah satu kelompok, tetapi bertanggung jawab juga untuk mengkoordinasikan tindakan diantara dua dari empat kelompok itu yang masing-masing maju ke arah utara dan timur.[22] Berbeda dengan semua rekan-rekannya yang meninggalkan barak dengan berseragam, Soeprijadi hanya mengenakan pakaian sipil dengan sarung khas Jawa.[10][24]

Salah satu kelompok masuk ke gedung penjara kota di sepanjang jalan dan membebaskan semua tahanan yang ditahan disana sekitar 285 orang, yang sebagian besar dihukum berdasarkan pasal pidana. Tak ada bentrokan di kota, tetapi para pemberontak membunuh beberapa orang tentara Jepang yang mereka temui di pagi hari di berbagai bagian kota serta beberapa orang Indonesia yang mereka tuduh menjadi mata-mata Jepang. Maka dengan demikian larangan Soeprijadi atas kekerasan terhadap rekan senegaranya dilanggar oleh beberapa rekannya.[25]

Pada sore hari tanggal 14 Februari, pada saat pasukan utama pemberontak telah meninggalkan Blitar, pasukan Jepang dan unit PETA, yang dikerahkan untuk menekan pemberontakan, sudah mendekati kota dari beberapa arah. Di antara pasukan PETA yang dimobilisasi komando Jepang, ada juga personel batalion Blitar yang menolak untuk berpartisipasi dalam pemberontakan. Dalam upaya untuk menghindari kerugian militer dan untuk menstabilkan situasi sesegera mungkin, komando Jepang lebih suka melakukan negosiasi dengan kelompok pemberontak masing-masing. Selama dua hari berikutnya, sebagian besar dari mereka dibujuk untuk kembali ke barak. Beberapa orang milisi melawan dan terbunuh. Kelompok yang dipimpin oleh komandan peleton Moeradi, salah satu rekan utama Soeprijadi, yang meninggalkan kota ke arah barat laut dan bercokol di lereng gunung Kelud semula menghindari negosiasi.[10][24][26] Pada saat yang sama, pasukan Muradi juga hengkang dari bentrokan. Fakta bahwa sebagian besar pasukan yang menentang mereka bukanlah orang Jepang, tetapi pejuang PETA memiliki efek yang sangat negatif pada moral para pemberontak: mereka yakin akan kurangnya dukungan dari rekan-rekan mereka di milisi. Terlebih lagi, sesuai dengan pesan Soeprijadi, sebagian besarnya tidak menganggapnya mungkin untuk bertarung dengan rekan senegaranya. Akibatnya, Muradi akhirnya setuju untuk melakukan negosiasi dengan Kolonel Katagiri (Jepang: 片桐), yang memerintahkan operasi untuk menekan pemberontakan.[8][26]

Setelah Kolonel Katagiri setuju dengan tuntutan Muradi untuk pengampunan semua peserta pemberontakan dan membiarkan mereka kembali ke barak tanpa pengawalan dengan senjata di tangan mereka, kelompok terakhir batalion PETA Blitar meninggalkan posisi mereka. Diketahui bahwa sebelum pindah ke barak, beberapa pejuang yang tidak setuju untuk menyerah kepada Jepang, dengan izin Muradi memisahkan diri dari pasukan dan bersembunyi di hutan.[27] Persyaratan menyerah dipenuhi oleh Katagiri sendiri, tetapi pada hari yang sama persyaratan itu diingkari oleh komando Angkatan Darat ke-16 Jepang, yang wilayah pendudukannya meliputi Pulau Jawa. Akibatnya, para pejuang pasukan Muradi seperti sebagian besar peserta pemberontakan lainnya ditangkap dan diinterogasi secara intensif selama beberapa minggu. Setelah itu, menurut berbagai sumber, dari 68 hingga 78 pemberontak dipindahkan ke Jakarta. Pada 14-16 April 1945, mereka dihadapkan ke pengadilan militer tingkat tertinggi.[25]

55 orang dinyatakan bersalah atas kejahatan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda[28], 8 diantaranya dijatuhi hukuman mati. Dua dari mereka yang dihukum kemudian diringankan menjadi penjara seumur hidup, sementara 6 lainnya ditembak di wilayah lapangan terbang militer di kawasan Ancol pinggiran Jakarta pada 16 Mei 1946[29][30] serta 47 sisanya dijatuhi hukuman penjara mulai dari beberapa bulan hingga seumur hidup.[31]

Pemberontakan Soeprijadi, meskipun durasinya singkat dan keberhasilannya sedikit dari sudut pandang militer, memiliki dampak psikologis yang cukup signifikan baik pada personel PETA di bagian lain negara itu maupun pada Jepang. Setelah peristiwa itu, kepercayaan administrasi pendudukan pada milisi pribumi dirusak secara signifikan sehingga rencana penggunaannya dalam permusuhan disesuaikan secara signifikan dan staf perwiranya menjalani pembersihan yang serius. Batalion PETA Blitar dibubarkan dan prajuritnya yang tak dihukum akan dipindahkan ke unit lain.[23] Kebanyakan dari mereka mengikuti pelatihan ulang yang dipimpin oleh Soeharto, yang kelak menjadi presiden kedua Indonesia dan pada waktu itu menjabat sebagai perwira senior dalam formasi PETA di Jawa Timur.[32]

Soeprijadi sendiri menghilang pada siang hari 14 Februari 1945. Menurut kesaksian beberapa pasukan pemberontakan Blitar, ia terakhir kali terlihat dalam keadaan hidup di lereng selatan Gunung Kelud di antara pasukan Muradi. Tidak ada bukti kematiannya atau penangkapannya oleh Jepang serta bukti yang dapat diandalkan tentang keberhasilannya keluar dari pengepungan Jepang. Diketahui secara pasti Soeprijadi tak muncul dalam daftar terdakwa dalam sidang pengadilan militer Jepang di Jakarta.[5][10]

Pengangkatan kemiliteran ke posisi senior[sunting | sunting sumber]

Susunan pemerintahan pertama Indonesia, diterbitkan setelah absennya Soeprijadi. Menteri Pertahanan tercantum sebagai "beloem diangkat"

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno yang menjabat sebagai presiden mulai membentuk otoritas dan lembaga dasar negara baru. Pada 19 Agustus, komposisi pemerintahan pertama Republik diumumkan. Dalam kabinet itu Soeprijadi diberi jabatan Menteri Keamanan Nasional.[33] Pada tanggal 5 Oktober, setelah pembentukan angkatan bersenjata reguler di Indonesia, yang pada awalnya disebut Tentara Keamanan Rakyat, ia juga diangkat menjadi panglima tertinggi TKR.[2][34]

Para peneliti sepakat bahwa alasan pengangkatan perwira yang begitu muda pada jabatan yang begitu tinggi karena ia merupakan kenalan pribadi Soekarno selama tinggal di Blitar pada awal 1945. Diusulkan pula bahwa dengan penunjukan ini, Presiden Indonesia ingin memaksa Soeprijadi yang hilang untuk tampil di khalayak umum.[8][16] Namun ini tak terjadi: Soeprijadi tidak pernah muncul dan tak menduduki posisi menteri dan panglima. Akibatnya setelah beberapa minggu absen, jabatan menteri secara resmi dinyatakan kosong (jabatan itu sendiri diubah namanya dari Menteri Keamanan Rakyat menjadi Menteri Pertahanan). Pada 20 Oktober 1945, Mohammad Suliyoadikusumo diangkat sebagai kepala sementara departemen militer dan pada 14 November, Amir Syarifudin diangkat menjadi menteri pertahanan. Sedangkan Ketua Staf Umum Angkatan Darat, Urip Sumohardjo menjadi panglima sementara Tentara Keamanan Rakyat sejak hari pertama ketidakhadiran Soeprijadi. Pada tanggal 12 November, Soedirman resmi ditunjuk untuk posisi ini.[2][34]

Meskipun Soeprijadi tak hadir untuk menduduki jabatan-jabatan militer senior dan hanya bersifat formal untuk waktu yang singkat, ia terdaftar sebagai kepala departemen pertahanan pertama dan sebagai panglima tertinggi pertama angkatan bersenjata Indonesia dalam sumber-sumber resmi Indonesia.[35]

Versi nasib selanjutnya[sunting | sunting sumber]

Nasib Soeprijadi lebih lanjut tetap menjadi subyek berbagai hipotesis hingga hari ini sehingga dianggap salah satu misteri paling signifikan dalam sejarah Indonesia modern. Secara resmi dia terus terdaftar sebagai orang hilang. Menurut pendapat paling umum, yang dianut oleh sebagian besar kerabat dan rekan pemimpin pemberontakan Blitar, ia tewas dalam pertempuran di lereng Gunung Kelud pada 14 Februari 1945 atau pada hari berikutnya. Hal ketidakhadirannya dari daftar terdakwa dalam sidang pengadilan militer Jepang di Jakarta diperkirakan sebagai bukti buat gagasan ini. Sebagai argumen tambahan yang mendukung versi itu, faktanya adalah bahwa negosiasi dengan Kolonel Katagiri, perwira senior Jepang, tidak dilakukan oleh pemimpin pemberontak itu sendiri, tetapi oleh sekutunya Muradi.[16][36][37]

Sejarawan militer Indonesia terkemuka Nugroho Notosusanto, penulis salah satu studi pertama tentang pemberontakan PETA, berdasarkan wawancara dengan puluhan pihak terkait dan saksi mata peristiwa Februari 1945, dengan yakin menunjukkan bahwa Soeprijadi bisa saja ditangkap oleh orang Jepang dan kemudian meninggal akibat siksaan sebelum dimulainya persidangan pengadilan militer di Jakarta. Menurut pendapatnya juga, Jepang dapat menyembunyikan fakta ini karena takut kematian pemimpin pemberontakan akan meningkatkan suasana protes di antara pejuang PETA. Untuk mendukung versinya, Nugroho merujuk pada fakta bahwa beberapa pemberontak yang ditangkap oleh Jepang meninggal di penjara sebelum persidangan dan beberapa peserta dalam proses Jakarta berada dalam keadaan yang sangat parah karena pemukulan dan kondisi penahanan yang kejam.[28]

Menurut salah satu versi, Soeprijadi terbunuh di lereng Gunung Wilis.

Ada yang beranggapan bahwa Soeprijadi mati terbunuh atau mati karena sebab alamiah setelah penumpasan pemberontakan, waktu bersembunyi dari Jepang di wilayah Gunung Kelud atau sudah berada pada jarak yang cukup jauh dari tempat-tempat tersebut.[16][36][37][38] Mendukung versi ini, mereka menafsirkan fakta bahwa sejumlah pemberontak termasuk beberapa orang dari pasukan Muradi menolak untuk kembali ke barak dan mencoba bersembunyi, meskipun sebagian besar dari mereka ditemukan dan ditangkap oleh tentara Jepang dalam beberapa hari.[27]

Pada tahun 1971 dalam "Vidya Yudha" yaitu buletin yang diterbitkan departemen sejarah dan kearsipan Departemen Pertahanan dan Keamanan Indonesia, sebuah artikel dipublikasikan oleh Mayor Soebardjo. Dengan menutip kenangan salah satu mantan rekannya, Soebardjo mengklaim bahwa Soebardjo berhasil menghindari Jepang dan bersembunyi dari mereka selama beberapa bulan. Namun pada bulan Agustus 1945, beberapa hari sebelum kemerdekaan Indonesia, pemimpin pemberontak Blitar diduga ditemukan dan dibunuh oleh patroli militer Jepang hampir 100 kilometer barat laut Kota Blitar, di lereng Gunung Wilis.[8]

Kemudian, Kementerian Sosial Republik Indonesia menerbitkan sebuah pamflet tentang pemberontakan Blitar yang juga memberikan bukti bahwa Soeprijadi diduga tetap hidup setidaknya untuk beberapa waktu setelah penindasan pembangkangan PETA. Dengan demikian, Harjosemiarso, kepala desa Sumberagung yang bermukim pada jarak 20 km dari sebelah utara Blitar, mengklaim bahwa dia menyembunyikan Soeprijadi dari Jepang di rumahnya selama beberapa hari. Sedangkan Roromejo, kepala desa Ngliman yang terletak persis di lereng utara Gunung Kelud tersebut, mengklaim membantu Soeprijadi bersembunyi di sebuah gua dan bahkan menemani ayahnya Raden Darmadi ke sana, yang mengunjungi putranya dalam persembunyian.[39]

Pada bulan April 1975, sekelompok wartawan Indonesia bertemu di Singapura dengan kepala cabang lokal perusahaan teknik dan konstruksi Jepang Taisei Corporation Nakajima (Jepang: 中島) yang selama Perang Dunia II bertugas di salah satu unit intelijen militer Jepang di Pulau Jawa. Pada tahun 1943, ia menjabat sebagai instruktur di kursus perwira PETA di Tangerang — justru waktu Soeprijadi dilatih di sana — dan kemudian ditugaskan ke kota Salatiga di Jawa Tengah. Menurut Nakajima, pada akhir Februari atau awal Maret 1945 yaitu sekitar 2 minggu setelah pemberontakan PETA di Blitar, Soeprijadi datang ke rumahnya di Salatiga bersama dua rekannya. Nakajima bersimpati pada Soeprijadi sejak kenalannya di sekolah Tangerang. Karena itu dia mengizinkan dia dan teman-temannya bermalam di rumahnya. Keesokan paginya, saat mengucapkan selamat tinggal, Soeprijadi memberitahu Nakajima bahwa dia akan pergi ke Bayah, sebuah desa pertambangan besar yang terletak di barat daya Jawa.[1][5][39] Menurut Nakajima, dia memberi uang kepada mantan kadetnya untuk perjalanan dan memberinya pistol. Para peneliti menekankan bahwa justru pada saat inilah Tan Malaka, salah satu pemimpin gerakan pembebasan nasional Indonesia, tinggal di Bayah.[40]

Tak lama setelah publikasi wawancara Nakajima, seorang warga desa Bayah bernama Mukandar menyatakan bahwa pada Juli 1945 ia merawat seorang pemuda bernama Soeprijadi, yang menderita disentri dalam keadaan yang sangat parah, di rumahnya. Menurutnya, orang asing itu meninggal beberapa hari kemudian dan dimakamkan di dekat rumah Mukandar. Dalam foto pahlawan nasional yang diperlihatkan oleh wartawan, Mukandar dengan percaya diri mengenali orang yang meninggal itu.[5][39]

Berdasarkan kesaksian Mukandar, Kementerian Sosial Republik Indonesia memerintahkan penggalian jenazah seorang pria yang dimakamkan di desa Bayah. Di tempat yang ditunjukkan oleh Mukandar, tak ditemukan sisa-sisa manusia, namun dari penggalian yang dilakukan di daerah sekitarnya, ditemukan kerangka seorang pria yang waktu penguburannya sesuai dengan kesaksian Mukandar. Untuk mempelajari sisa-sisa tersebut, sebuah komisi dibentuk, yang mencakup spesialis khusus dari fakultas kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Mereka berhasil mengembalikan perkiraan penampakan wajah orang yang dikebumikan dari tengkoraknya, namun gambar itu tak sesuai dengan gambaran penampakan Soeprijadi yang disampaikan kerabatnya. Akibatnya, Soeprijadi resmi tetap dianggap hilang.[40][41]

Pada Agustus 2018, diterbitkan sejumlah publikasi media mengenai pemberontakan Blitar yang memberikan data baru tentang keadaan hilangnya Soeprijadi, dengan mengutip dua orang saksi. Yang pertama ialah seorang rekan prajurit pahlawan nasional berusia 91 tahun bernama Sukiyarno yang disebut-sebut sebagai orang terakhir yang masih hidup dalam pemberontakan Blitar sedangkan yang kedua adalah Darsono yang berusia 89 tahun yang diduga seperti Soeprijadi, adalah pengikut pendakwah Blitar Ahmad Kasan Bendo.[19][42] Sukiyarno mengatakan bahwa terakhir kali dia melihat Soeprijadi adalah pada malam 14 Februari 1945: dia berbicara menentang menyerah kepada Jepang dan berencana untuk keluar dari pengepungan ke arah barat. Beberapa waktu kemudian, Sukiyarno yang setelah pemberontak menyerah, melarikan diri dengan hanya beberapa hari ditangkap, mendengar desas-desus bahwa Soeprijadi adalah bagian dari brigade romusha yang bekerja di tambang batu bara desa Bayah. Informasi ini ditafsirkan sebagai kemungkinan konfirmasi dari bukti yang sudah diketahui tentang tinggalnya Supriyadi di desa Bayah.[19]

Darsono, yang pada tahun 1945 berusia 16 tahun, melaporkan bahwa ia hadir pada pertemuan terakhir Soeprijadi dengan Ahmad Kasan Bendo, seorang ustadz Blitar yang berusaha membujuk perwira muda tersebut untuk memulai pemberontakan karena menganggapnya terlalu dini dan dapat dikalahkan dengan mudah. Setelah tidak berhasil meyakinkan Soeprijadi, Bendo diduga menginstruksikan Darsono dan 3 murid mudanya untuk membantu menyembunyikan pemimpin pemberontak dari Jepang setelah perlawanan dipatahkan. Mengikuti instruksi sang guru, Darsono dan kawan-kawan berhasil membawa Soeprijadi pada malam 14 Februari ke tempat penampungan di lereng timur gunung Kelud, tempat mereka bermalam dan di pagi hari terus bergerak melalui hutan bersama. Pada sore hari tanggal 15 Februari, di sebuah perhentian, Soeprijadi meminta rekan-rekannya untuk berdoa untuk keselamatan bersama mereka dengan mata tertutup dan ketika para pemuda itu menyelesaikan doa, petugas pemberontak itu tidak lagi berada di samping mereka. Murid-murid Bendo mengira bahwa Soeprijadi bersembunyi di sebuah gua yang terletak tak jauh dari tempat peristirahatannya, tetapi mereka tidak mengikutinya.[19]

Anggapan bahwa Soeprijadi selamat meninggalkan Blitar didukung oleh para sejarawan Jepang yang umumnya tak menilai tinggi persiapan pemberontakan dan dampaknya terhadap penguasa pendudukan. Umpamanya, Shigeru Sato (Jepang: 茂 佐藤), penulis beberapa karya tentang sejarah Indonesia selama masa pendudukan Jepang dan pembentukan kemerdekaan negara, percaya bahwa Soeprijadi melarikan diri dari medan perang dan kemungkinan mencapai Jawa Barat.[11]

Pada gilirannya, hampir semua kerabat dan kolega Soeprijadi menganggap dengan apriori skeptis setiap versi yang menunjukkan kelangsungan hidup Soeprijadi setelah penindasan pemberontakan. Beberapa orang peserta peristiwa Blitar Februari 1945 pernah menekankan bahwa mereka menganggap Soeprijadi sebagai pahlawan justru karena keyakinan akan kematiannya di medan perang. Jika fakta menyelamatkan pemimpin pemberontakan dikonfirmasi, reputasi kepahlawanannya menurut mereka akan hancur total dan rekan-rekan seperjuangannya tidak dapat memandangnya selain sebagai pengecut, pengkhianat, dan pembelot.[39]

Kemungkinan keberadaan Soeprijadi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun-tahun berikutnya, agak sering muncul orang-orang yang mengklaim sebagai Soeprijadi yang diduga masih hidup.[3][5][43][44] Raden Darmadi sendiri, ayah Soeprijadi yang meninggal tahun 1973 sempat bertemu sedikitnya 5 orang yang mengklaim dirinya sebagai anaknya.[45] Menurut beberapa kerabat Soeprijadi, jumlah penyaru tersebut mencapai puluhan.[4] Dalam kebanyakan kasus, pemalsuan terungkap dengan cukup mudah dan cepat.[43][44] Kadang-kadang terjadi insiden yang sungguh aneh: misalnya, pada Juni 1965 sebuah kabar diterbitkan di pers Indonesia tentang seorang perwira salah satu unit militer, Letnan Sain yang menyatakan bahwa dirinya kesurupan roh Soeprijadi. Namun, Letnan Sain itu tidak mengklaim dirinya menjadi Soeprijadi: dengan mengatasnamakan roh mendiaminya, ia menceritakan bahwa pemimpin pemberontakan Blitar tersebut telah dibunuh dan kepalanya dipenggal oleh Jepang.[25]

Pada pertengahan 1990-an, Kolonel Angkatan Udara Indonesia Wiguno bertemu dengan seorang pria yang mengaku sebagai Soeprijadi di provinsi Lampung. Wiguno melaporkan hal ini dalam sebuah surat kepada Wakil Presiden Indonesia, Tri Sutrisno yang memerintahkan pemeriksaan resmi. Pria tersebut kemudian dibawa ke Yogyakarta untuk bertemu Utomo Darmadi, salah satu adik Soeprijadi, yang tinggal di sana. Setelah berbicara dengan orang yang dikenalkannya, Utomo Darmadi mencelanya sebagai penyaru dengan alasan dia tidak bisa berbahasa Belanda atau Jepang, sedangkan Supriyadi yang belajar di sekolah Belanda dan kursus sipil dan militer Jepang, hampir fasih berbahasa Belanda dan bersumbangsih dengan bahasa Jepang tingkat menengah.[25][46]

Sebagian besar kasus klaim atas kepribadian Soeprijadi tak menimbulkan minat media dan masyarakat yang serius. Namun pada tahun 2008, terjadi insiden yang cukup lama menyita perhatian media nasional, kalangan jurnalistik dan ilmiah luas: tabib berusia 88 tahun asal Semarang Andaryoko Wisnu Prabu menyatakan dirinya sebagai Soeprijadi. Tak seperti para pendahulunya, kisah-kisahnya sangat rinci dan cukup masuk akal dari banyak aspek.[5][39][47]

Andaryoko dengan sangat akurat menuturkan alur pemberontakan Blitar. Menurut tabib tua tersebut, ia berhasil menghindari Jepang setelah penindasan pemberontakan dan bersembunyi dari mereka selama lebih dari 3 bulan di hutan pegunungan Jawa Timur. Pada akhir Mei 1945, ia diduga bisa sampai ke Jakarta dan bertemu Soekarno disana yang memperkenalkan perwira muda yang dikenalnya dari Blitar itu ke lingkaran dalamnya. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dan pembentukan pemerintahan pertama Republik, ia memang mengambil jabatan Menteri Keamanan Rakyat yang ditawarkan kepadanya, tetapi setelah beberapa hari ia diduga dipindahkan ke posisi Pembantu Utama Presiden yang khusus didirikan untuknya. Pekerjaannya dalam posisi ini sepenuhnya dirahasiakan, sehingga hanya Soekarno sendiri dan beberapa orang terdekat presiden yang mengetahuinya.[48][49]

Menurut Andaryoko, ia sendiri minta Soekarno untuk menggantikan jabatannya dari posisi menteri ke posisi pembantu rahasia. Alasannya adalah suatu kejadian saat ia berkeliaran di hutan Jawa Timur untuk bersembunyi dari Jepang: katanya, dia mendapatkan wisik — yaitu petunjuk dari atas — agar tidak main di atas panggung, yang ia sendiri tafsirkan sebagai larangan terlibat dalam kegiatan politik publik. Tugas pokok pembantu utama presiden menurut tabib itu adalah untuk mengetahui suasana hati massa. Untuk melaksanakan tugas itu ia secara sistematis mengunjungi berbagai wilayah negara terutama di Pulau Jawa. Ia berkomunikasi penyamaran dengan orang-orang biasa dan justru saat itulah katanya, dia menggunakan nama samaran Andaryoko.[50]

Pada pergantian tahun 1940-an dan 1950-an, Andaryoko alias Soeprijadi diduga mulai menyatakan ketidaksetujuannya dengan kebijakan Soekarno di banyak bidang. Hasil Konferensi Meja Bundar di Den Haag, serta transisi Indonesia pada tahun 1950 dari bentuk pemerintahan presidensial ke parlementer, diduga menyebabkan penolakan terbesar dari "pembantu utama Presiden". Setelah sia-sia berupaya mempengaruhi garis politik internal dan kebijakan luar negeri, ia memundurkan diri dari kegiatan negara dan menetap di Semarang. Di sana, untuk beberapa waktu, ia memegang posisi di pemerintahan kabupaten dan kemudian sebagai manajer salah satu perusahaan Belanda yang dinasionalisasi. Waktu pensiun ia mulai berlatih ilmu kedokteran. Namun sementara itu ia sesekali terus berkomunikasi dengan beberapa negarawan dan posisi "pembantu utama Presiden" secara resmi dipertahankan olehnya sampai pengunduran diri Soekarno pada tahun 1967. Soeharto, yang menggantikan Soekarno di kursi kepresidenan, tak tahu apa-apa tentang pekerjaan rahasia Soeprijadi alias Andaryoko dan seperti kebanyakan orang sangat yakin akan kematian pemimpin pemberontakan Blitar pada tahun 1945.[51]

Meskipun Soeharto mengangkat Soeprijadi menjadi pahlawan nasional, Andaryoko memilih untuk tak menyatakan dirinya karena takut dipenjarakan atas kerjasamanya yang erat dengan Soekarno: memang pula ada banyak pejabat pemerintah Soekarno yang mengalami represi politik setelah Soeharto berkuasa. Andaryoko memutuskan untuk mengungkapkan rahasianya hanya di usia tuanya, dia diduga termotivasi untuk mencerahkan para pemuda yang konon mulai melupakan era heroik perjuangan kemerdekaan.[52][53] Menurut kesaksian anggota keluarga dukun Semarang, untuk pertama kalinya ia mulai berbicara tentang dirinya sebagai Soeprijadi pada tahun 2003.[47][53]

Klaim Andaryoko ditanggapi dengan sangat serius oleh pemerintah Kota Blitar dan Kabupaten Blitar. Wali Kota Djarot Saiful Hidayat yang kemudian menjadi negarawan besar: Gubernur Daerah Khusus Ibukota dan Wakil Dewan Perwakilan Rakyat membicarakannya secara pribadi dengan kerabat dan rekan prajurit Soeprijadi. Pimpinan pemerintah kabupaten membentuk komisi untuk mempelajari keadaan yang berkaitan dengan nasib komandan pemberontak Blitar itu. Di Blitar dan di sejumlah kota lain, serangkaian pertemuan publik dengan Andaryoko berlangsung, yang melibatkan kerabat dan teman Soeprijadi, sejarawan dan jurnalis.[15][49]

Akibatnya, tidak ada kerabat dan saudara prajurit yang mengenali dukun Semarang Soeprijadi.[38][54][55] Selain itu, beberapa veteran dari batalion PETA yang memberontak meminta dia untuk diadili karena pencemaran nama baik dan pemalsuan.[37] Penilaian komisi yang dipimpin oleh kepala dinas pers administrasi Blitar, juga bersaksi tidak mendukung "Soeprijadi yang baru muncul", meskipun secara resmi perwakilan pemerintah daerah tak memberikan kesimpulan bulat. Anggota komisi dan banyak skeptis lainnya mencatat beberapa inkonsistensi dalam narasi Andaryoko, serta pengetahuannya yang buruk tentang bahasa Belanda dan ketidaktahuan sama sekali tentang bahasa Jepang.[54][56] Ditegaskan pula bahwa tidak kegiatan Pembantu Utama Presiden tidak sesekalipun disebutkan dalam memoar pejabat pemerintah Indonesia atau dalam arsip negara. Kesenjangan antara usia Andaryoko dan usia pemimpin pemberontakan Blitar yang terkenal itu juga ditegaskan: Soeprijadi, kalau masih hidup seharusnya 3 tahun lebih muda dari sesepuh Semarang. Selain itu, kerabat Soeprijadi berbicara tentang surat yang dikirim ke rumah mereka sesaat sebelum pemberontakan Blitar. Di dalamnya, perwira muda itu memperingatkan kerabatnya tentang kemungkinan perubahan tajam dalam nasibnya dan berjanji untuk memberitahukan mengenai keberadaanya dalam waktu 5 tahun. Katanya, tak adanya berita yang lebih lama berarti kematiannya.[15][44]

Ada dugaan bahwa dukun Semarang itu adalah salah satu rekan Soeprijadi ini, hal mana menurut para skeptis dapat menjelaskan pengetahuannya yang baik tentang jalannya pemberontakan Blitar dan beberapa detail kehidupan pribadi Soeprijadi.[36][37] Versi ini menjadi sangat populer setelah penyelidikan mengungkapkan bahwa dua orang bernama Soeprijadi bertugas di batalion PETA Blitar.[3] Adik-adik pemimpin pemberontakan Blitar mendesak Andaryoko untuk menjalani pemeriksaan genetik untuk memastikan hubungannya dengan mereka.[57]

Setelah reaksi negatif dari kerabat Soeprijadi, tabib tua itu segera mengoreksi kesaksiannya secara signifikan. Yang paling penting, Andaryoko menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak berhubungan dengan orang yang dianggap saudara kandungnya, karena ia bukan anak kandung Raden Darmadi dan Rahayu. Menurut versi baru, ia dilahirkan bukan di Trengalek, tetapi di Salatiga tempat tinggalnya hingga awal pendudukan Jepang. Pada tahun 1943, ia memutuskan untuk bergabung dengan PETA, tetapi kehendak ini ditentang oleh orang tuanya. Akibatnya ia melarikan diri dari kota asalnya ke Bitar. Di sana, ia menyamar sebagai penduduk asli setempat untuk menggabung sama batalion PETA: konon, ketika merekrut unit PETA, Jepang lebih menyukai penduduk lokal.[6][58]

Selain itu, untuk meningkatkan peluangnya untuk mendaftar di PETA, ia mengurangi usianya: sebagai tahun kelahirannya yang diunjukkannya bukan tahun 1920, tetapi 1923 ini, hak mana menentukan perbedaan antara usia sebenarnya dan usia Soeprijadi yang dikenal publik.[59] Selama bertugas di Blitar, ia diduga bertemu dengan Raden Darmadi (ayah Soeprijadi) yang saat itu menjabat di pemerintahan kabupaten dan sering mengunjungi lokasi batalion PETA Blitar. Lama-kelamaan Raden Darmadi bersahabat dengan perwira muda itu sehingga memperlakukannya seperti anaknya sendiri dan bahkan menyatakan kesiapannya untuk mengadopsi. Dengan demikian, Andaryoko justru mengalihkan tuduhan pemalsuan itu kepada lawan-lawannya dan kerabat Soeprijadi. Namun, versi baru biografinya hanya memperkuat kecurigaan skeptis: banyak yang menganggapnya sebagai tipuan untuk membenarkan ketidaktahuan Andaryoko tentang banyak detail kehidupan keluarga Soeprijadi dan untuk menghilangkan pemeriksaan genetik.[57][60][61]

Selanjutnya, kredibilitas narasi Andaryoko semakin menurun setelah ia mulai berbicara tentang partisipasinya dalam peristiwa sejarah Indonesia yang paling penting dan dipelajari baik, termasuk proklamasi kemerdekaan Indonesia dan turunnya Presiden Soekarno dari jabatan. Namun demikian, cerita Andaryoko yang agak rinci dan masih cukup masuk akal dianalisis dengan cermat oleh banyak jurnalis dan sejarawan Indonesia, beberapa di antaranya akhirnya mengakui kemungkinan korespondensi mereka dengan kenyataan.[36][53][54][56]

Penelitian paling mendalam tentang hal ini dilakukan oleh Baskara Tulus Wardaya, Profesor Asosiasi di Fakultas Sejarah Universitas Sanata Dharma yang pada tahun 2008 menerbitkan monografi besar Mencari Soeprijadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno. Di dalamnya, ia menahan diri dari kesimpulan tegas yang mendukung klaim Andaryoko, tetapi menekankan logika argumennya dan pengetahuan yang baik tentang realitas sejarah yang relevan, dan juga secara kritis memeriksa argumen para penentang dukun Semarang.[62]

Andaryoko meninggal mendadak pada Juni 2009[63], tetapi kepribadiannya terus membangkitkan minat beberapa media Indonesia bahkan setelah itu. Sejak anumerta, sejumlah program televisi pusat, serta publikasi di media cetak nasional dan daerah, dikhususkan untuk klaimnya tentang kepribadian Soeprijadi.[3][64]

Pada Agustus 2018, muncul penyaru lain yang mengaku sebagai Soeprijadi, seorang lansia warga desa Tamansari di Kabupaten Jember, Jawa Timur bernama Waris Yono. Dia mengklaim bahwa pada hari pertama pemberontakan Blitar dia terluka parah, setelah itu dia dirawat selama 3 bulan di rumah salah satu mantan gurunya.[65] Waris Yono tak menjelaskan versi rinci tentang nasib masa berikutnya. Menurutnya, sejak itu ia telah hidup dengan berbagai nama palsu dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain setiap beberapa tahun. Dia juga tidak menjelaskan alasan yang membuatnya bersembunyi begitu hati-hati selama lebih dari 7 dekade.[66][67] Kerabat Soeprijadi bereaksi sangat cepat terhadap laporan media terkait, tanpa ragu-ragu menyatakan Waris Yono adalah penyaru.[68]

Peninggalan Soeprijadi di Indonesia modern[sunting | sunting sumber]

Patung Supriyadi di Museum Pembela Tanah Air (PETA), Bogor.

Baik pada masa kepresidenan Soekarno dan sesudahnya, citra Soeprijadi secara aktif dipahlawan oleh propaganda Indonesia. Dalam historiografi resmi Indonesia, pemberontakan PETA Blitar ditampilkan sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam konteks perjuangan kemerdekaan nasional dan hari jadinya diperingati secara khidmat di Blitar. Jalan di Kota Blitar yang tempat letaknya gedung-gedung bekas barak batalion pemberontak berada (saat ini, terdapat 3 sekolah berada di gedung-gedung ini yang dibangun pada tahun 1910), dinamai Jalan Soeprijadi. Ayah Soeprijadi, Raden Darmadi, setelah kemerdekaan Indonesia diangkat sebagai kepala pemerintahan kabupaten Blitar (ia memegang posisi ini dua kali, pada tahun 1945-1947 dan pada tahun 1950-1956).[69] Pada tanggal 9 Agustus 1975, melalui SK Presiden Soeharto No. 063/TK/1975, Soeprijadi diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.[9]

Setahun setelah pemberontakan, pada bulan Juli 1946, sebuah monumen berupa prasasti batu kecil diresmikan oleh Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Jenderal Soedirman, di dekat bangunan barak PETA, tempat para pemberontak mengibarkan bendera Indonesia.[70] Pada tanggal 14 Februari 1998, dalam sebuah upacara resmi yang didedikasikan untuk peringatan pemberontakan Blitar berikutnya, sebuah monumen berupa patung tinggi Soeprijadi di atas alas diresmikan di depan bekas barak. Pada tahun 2007-2008, monumen ini mengalami pemugaran dan diperluas secara signifikan: di kedua sisi Soeprijadi, 6 rekannya yang dieksekusi oleh Jepang ditambahkan ke tumpuan. Dalam bentuk baru, komposisi patung dibuka kembali pada upacara resmi yang didedikasikan untuk peringatan peristiwa 14 Februari 1945.[71]

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Wink (2016-05-04). "Biografi Supriyadi — Pahlawan Nasional Yang Menjadi Misteri". Biografiku.com. Diakses tanggal 2018-06-22. 
  2. ^ a b c d e Sudarmanto 1996, hlm. 231—232.
  3. ^ a b c d e "Misteri Hilangnya Supriyadi PETA, Ini Data Pengadilan Jepang". detikcom. 2018-08-16. Diakses tanggal 2018-08-30.  [pranala nonaktif permanen]
  4. ^ a b "Adik Tiri: Andaryoko Tidak Mirip Sama Sekali dengan Supriyadi". detikcom. 2008-08-13. Diakses tanggal 2018-09-09. 
  5. ^ a b c d e f g Moerjio Wulantoro (2017-02-17). "Pemberontakan Kasih Sayang Shodanco Supriyadi "Pemberontak" PETA Blitar". Koran Yogya. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-06-22. Diakses tanggal 2018-06-22. 
  6. ^ a b c Tulus Wardaya 2008, hlm. 46.
  7. ^ Album 2001, hlm. 161.
  8. ^ a b c d e f g h i Teman Sejarah (2017-02-13). "Pemberontakan Peta di Blitar 14 Februari 1945". Harian Sejarah. Diakses tanggal 2018-06-21. 
  9. ^ a b c d Tulus Wardaya 2008, hlm. 47.
  10. ^ a b c d e f g Album 2001, hlm. 162.
  11. ^ a b Shigeru Sato 2010, hlm. 206.
  12. ^ a b c d Lebra 2010, hlm. 148.
  13. ^ a b c Shigeru Sato 2015, hlm. 197.
  14. ^ Lebra 2010, hlm. 149.
  15. ^ a b c d e f g "Di Ngancar, Supriyadi Menghilang". detikcom. 2008-08-12. Diakses tanggal 2018-06-27. 
  16. ^ a b c d e Fadillah, Ramadhian. Fadillah, Ramadhian, ed. "Kisah pemberontakan tentara PETA & ingkar janji samurai Jepang". Merdeka.com. Merdeka. Diakses tanggal 2018-06-18. 
  17. ^ Prayoga Kartomihardjo et al. 1986, hlm. 88.
  18. ^ a b Prayoga Kartomihardjo et al. 1986, hlm. 89.
  19. ^ a b c d Riady, Erliana (2018-08-15). "Misteri Jejak Komandan PETA Supriyadi, Ini Kata 2 Sahabatnya". detikcom. Diakses tanggal 2018-09-14. 
  20. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 56—59.
  21. ^ Prayoga Kartomihardjo et al. 1986, hlm. 90.
  22. ^ a b c Nugroho 1969, hlm. 117.
  23. ^ a b Бандиленко и др. 1992—1993, ч. 2.
  24. ^ a b c Prayoga Kartomihardjo et al. 1986, hlm. 94.
  25. ^ a b c d Hasan Kurniawan. "Misteri Hilangnya Supriyadi dan Pemberontakan PETA". Sindonews.com. SindoNews. Diakses tanggal 2018-09-06. 
  26. ^ a b Nugroho 1969, hlm. 118.
  27. ^ a b Nugroho 1969, hlm. 119.
  28. ^ a b Nugroho 1969, hlm. 121.
  29. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 58—62.
  30. ^ Seta, Putra Dewangga Candra. "Kisah Dibalik Pemberontakan PETA di Blitar - Supriyadi Menghilang, Soekarno Dihantui Rasa Bersalah". Tribunnews.com. Tribunnews. Diakses tanggal 2018-09-06. 
  31. ^ Nugroho 1969, hlm. 121—122.
  32. ^ Retnowati 2007, hlm. 27.
  33. ^ "Kabinet Menteri". Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-03-23. Diakses tanggal 2018-10-18. 
  34. ^ a b Simanjuntak 2003, hlm. 18.
  35. ^ "Sejarah". Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Diakses tanggal 2018-07-20. 
  36. ^ a b c d "Asvi: Andaryoko Anggota PETA, Tetapi Bukan Supriyadi". Kompas.com. Kompas. Diakses tanggal 2018-06-18. 
  37. ^ a b c d Budi Sugiharto. "Tokoh PETA Surabaya: Supriyadi Meninggal di Gunung Kelud". detikcom. DetikNews. Diakses tanggal 2018-06-18. 
  38. ^ a b Yuli Ahmada. "Supriyadi, Bisa Mengilang tapi Tak Bisa Pulang". Kompas.com. Kompas. Diakses tanggal 2018-07-10. 
  39. ^ a b c d e "Misteri Supriyadi PETA Versi Ronomejo Hingga Nakajima". detikcom. 2008-08-12. Diakses tanggal 2018-06-27. 
  40. ^ a b Tulus Wardaya 2008, hlm. 189.
  41. ^ Warman Adam 2010, hlm. 83.
  42. ^ Riady, Erliana (2018-08-14). "Menapak Usia 91 Tahun, Ini Heroiknya Sukiyarno Perang Lawan Jepang". detikcom. Diakses tanggal 2018-09-14. 
  43. ^ a b Tulus Wardaya 2008, hlm. 41.
  44. ^ a b c Aunur Rofiq. "Pasca Menghilang, Keluarga Pastikan Pahlawan PETA Soeprijadi Meninggal Dunia". Jatim Times. Diakses tanggal 2018-09-05. 
  45. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 179.
  46. ^ "Adik Tiri Supriyadi Kesal Harus Selalu Cek". Kompas.com. Kompas. Diakses tanggal 2018-09-09. 
  47. ^ a b "Pensiunan Karesidenan Semarang Mengaku Supriyadi". Kompas.com. Kompas. Diakses tanggal 2018-07-13. 
  48. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 90—95.
  49. ^ a b "Supriyadi Takut Dikeroyok". Kompas.com. Kompas. Diakses tanggal 2018-07-12. 
  50. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 100—103.
  51. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 107—119.
  52. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 97—99.
  53. ^ a b c "Andaryoko: Supriyadi Sudah Saya Tanggalkan Tahun 1950". Kompas.com. Kompas. Diakses tanggal 2018-06-27. 
  54. ^ a b c "Perbedaan Silsilah Andaryoko dan Keluarga Supriyadi". detikcom. 2008-08-12. Diakses tanggal 2018-06-28. 
  55. ^ "Andaryoko: Saya Hanya Dianggap Anak oleh Bupati Blitar". detikcom. 2008-08-15. Diakses tanggal 2018-09-12. 
  56. ^ a b "Andaryoko Jelaskan Pemberontakan PETA di Blitar". detikcom. 2008-08-12. Diakses tanggal 2018-06-27. 
  57. ^ a b "Pastikan Andaryoko, Keluarga Blitar Siap Tes DNA". detikcom. 2008-08-13. Diakses tanggal 2018-09-13. 
  58. ^ Shigeru Sato 2010, hlm. 197.
  59. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 48.
  60. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 49—50.
  61. ^ "Andaryoko: Saya Hanya Dianggap Anak oleh Bupati Blitar". detikcom. 2008-08-12. Diakses tanggal 2018-09-12. 
  62. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 41—42.
  63. ^ Burhani, Ruslan (ed.). "Andaryoko Yang Mengaku "Supriyadi" Meninggal Dunia". ANTARA News. Antara. Diakses tanggal 2018-09-13. 
  64. ^ "Pahlawan Supriyadi Meninggal Terpeleset, Teka-teki PETA Tak Terjawab". Tribunnews.com. Tribunnews. Diakses tanggal 2018-09-13. 
  65. ^ Mulyono, Yakub (2018-08-16). "Cerita Kakek yang Mengaku Supriyadi Pimpin PETA Lawan Jepang". detikcom. Diakses tanggal 2018-11-01. 
  66. ^ Mulyono, Yakub (2018-08-16). "Misteri Hilangnya Komandan PETA, Kakek Ini Mengaku Supriyadi". detikcom. Diakses tanggal 2018-09-14. 
  67. ^ Mulyono, Yakub (2018-08-16). "Mengaku Komandan PETA Supriyadi yang Hilang, Yono Pamerkan Bukti". detikcom. Diakses tanggal 2018-09-14. 
  68. ^ Riady, Erliana (2018-08-16). "Banyak yang Mengaku Supriyadi PETA, Keluarga Geleng-geleng". detikcom. Diakses tanggal 2018-09-14. 
  69. ^ Tulus Wardaya 2008, hlm. 45.
  70. ^ Riady, Erliana (2017-12-15). "Monumen Potlot, Dari Sini Pemberontakan PETA Blitar Berawal". detikcom. Diakses tanggal 2018-06-27. 
  71. ^ Heri Setya Adi. "Monumen Peta Blitar, Wisata Edukasi Sejarah Perjuangan Kemerdekaan". Kabarnesia. Diakses tanggal 2018-06-27. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Бандиленко Г. Г., Гневушева Е. И., Деопик Д. В., Цыганов В. А. (1992—1993). История Индонезии: В 2 ч. М. 
  • Joyce Lebra. (2010). Japanese-trained Armies in Southeast Asia. Singapura: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-9814-279-444. 
  • Ricklefs, Merle Calvin (2001). A History of Modern Indonesia since c. 1200 (edisi ke-3). Stanford University Press. ISBN 978-0804744805. 
  • Retnowati Abdulgani-Knapp (2007). Review: Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President. An Authorised Biography. Singapura: Marshall Cavendish Editions. ISBN 978-9812613400. 
  • Shigeru Sato (2015). War, Nationalism and Peasants: Java Under the Japanese Occupation, 1942-45: Java Under the Japanese Occupation, 1942-45. Routledge. ISBN 978-1317452362. 
  • Thomas Stodulka, Birgitt Röttger-Rössler (2014). Feelings at the Margins: Dealing with Violence, Stigma and Isolation in Indonesia. Berlin: Campus Verlag. ISBN 978-3593500058. 
  • Baskara Tulus Wardaya (2008). Mencari Supriyadi: kesaksian pembantu utama Bung Karno. Yogyakarta: Galangpress. ISBN 978-602-8174-07-7. 
  • Album Pahlawan Bangsa. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. 2001. 
  • Simanjuntak, P.N.H. (2003). Kabinet-Kabinet Republik Indonesia: Dari Awal Kemerdekaan Sampai Reformasi. Jakarta: Djambatan. ISBN 979-428-499-8. 
  • Sudarmanto, Y.B. (1996). Jejak-Jejak Pahlawan dari Sultan Agung hingga Syekh Yusuf. Jakarta: Gramedia. ISBN 979-553-111-5. 
  • Prayoga Kartomihardjo, Prapto Saptono, Soekarsono. (1986). Monumen Perjuangan Jawa Timur. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan. ISBN 979-553-111-5. 
  • Asvi Warman Adam. (2010). Menguak misteri sejarah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN 978-9797095048. 
  • Nugroho Notosusanto (1969). The Revolt оf а PETA-Battalion In Blitar. February 14, 1945 (PDF) (dalam bahasa Inggris). 1. Asian Studies. hlm. 111—123. 
  • Shigeru Sato (2010). Gatot Mangkupraja, PETA, and the origins of the Indonesian National Army (dalam bahasa Inggris). 166. Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia. hlm. 189—217. doi:10.1163/22134379-90003616. ISSN 0006-2294.