Sutoyo Siswomiharjo
Mayor Jenderal TNI (Anm.) Sutoyo Siswomiharjo | |
|---|---|
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 28 Agustus 1922 Karanganyar, Kebumen, Keresidenan Kedu, Hindia Belanda |
| Meninggal | 1 Oktober 1965 (umur 43) Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia |
| Makam | Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata 6°15′26″S 106°50′46″E / 6.25722°S 106.84611°E |
| Suami/istri |
|
| Anak | 3, termasuk Agus Widjojo[1] |
| Julukan | Toyota[a] |
| Karier militer | |
| Pihak | Indonesia |
| Dinas/cabang | |
| Masa dinas | 1945–1965 |
| Pangkat | |
| Pertempuran/perang | Revolusi Nasional Indonesia |
| Pangkat terakhirnya adalah Brigadir Jenderal TNI, tetapi karena gugur dalam tugas, maka diberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) menjadi Mayjen. TNI (Anumerta). | |

Sutoyo Siswomiharjo (28 Agustus 1922 – 1 Oktober 1965) adalah Pahlawan Revolusi Indonesia yang merupakan salah satu dari enam jenderal angkatan darat yang diculik dan kemudian dibunuh selama upaya kudeta oleh Gerakan 30 September.
Kehidupan awal
[sunting | sunting sumber]Sutoyo lahir di Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Ia menyelesaikan sekolahnya sebelum invasi Jepang pada tahun 1942, dan selama masa pendudukan Jepang, ia belajar administrasi pemerintahan di Jakarta.[4] Ia kemudian bekerja sebagai pegawai negeri di Purworejo, tetapi mengundurkan diri pada tahun 1944.[5]
Karier militer
[sunting | sunting sumber]Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Sutoyo bergabung ke dalam bagian Polisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Hal ini kemudian menjadi Polisi Militer Indonesia. Pada Juni 1946, ia diangkat menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto, komandan Polisi Militer. Ia terus mengalami kenaikan pangkat di dalam Polisi Militer, dan pada tahun 1954 ia menjadi kepala staf di Markas Besar Polisi Militer. Dia memegang posisi ini selama dua tahun sebelum diangkat menjadi asisten atase militer di kedutaan besar Indonesia di London. Setelah pelatihan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Bandung dari tahun 1959 hingga 1960, ia diangkat menjadi Inspektur Kehakiman Angkatan Darat, kemudian karena pengalaman hukumnya, pada tahun 1961 ia menjadi inspektur kehakiman/jaksa militer utama.[4][5][6]
Kematian
[sunting | sunting sumber]
Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, anggota Gerakan 30 September yang dipimpin oleh Sersan Mayor Surono masuk ke dalam rumah Sutoyo di Jalan Sumenep, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka masuk melalui garasi di samping rumah. Mereka memaksa pembantu untuk menyerahkan kunci, masuk ke rumah itu dan mengatakan bahwa Sutoyo telah dipanggil oleh Presiden Soekarno. Mereka kemudian membawanya ke markas mereka di Lubang Buaya.[7][8] Di sana, dia dibunuh dan tubuhnya dilemparkan ke dalam sumur yang tak terpakai. Seperti rekan-rekan lainnya yang dibunuh, mayatnya ditemukan pada 4 Oktober dan dia dimakamkan pada hari berikutnya. Dia secara anumerta dipromosikan menjadi Mayor Jenderal dan menjadi Pahlawan Revolusi.[9]
Tanda Jasa
[sunting | sunting sumber]| Baris ke-1 | Bintang Republik Indonesia Adipradana (10 November 1965)[10] | Bintang Gerilya | |
|---|---|---|---|
| Baris ke-2 | Bintang Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia | Satyalancana Kesetiaan 16 Tahun | Satyalancana Perang Kemerdekaan I |
| Baris ke-3 | Satyalancana Perang Kemerdekaan II | Satyalancana G.O.M I | Satyalancana G.O.M II |
Referensi
[sunting | sunting sumber]- Anderson, Benedict R O'G & McVey, Ruth (1971), A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia, Modern Indonesian project Southeast Asian Program, Cornell University, Ithaca, NY
- Bachtiar, Harsja W. (1988), Siapa Dia?: Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Penerbit Djambatan, Jakarta, ISBN 979-428-100-X
- Mutiara Sumber Widya (publisher)(1999) Album Pahlawan Bangsa, Jakarta
- Sekretariat Negara Republik Indonesia (1975) 30 Tahun Indonesia Merdeka: Jilid 3 (1965-1973)
- Sekretariat Negara Republik Indonesia (1994) Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya ISBN 9790830025
- Sudarmanto, Y.B. (1996) Jejak-Jejak Pahlawan dari Sultan Agung hingga Syekh Yusuf, Penerbit Grasindo, Jakarta ISBN 979-553-111-5
Catatan
[sunting | sunting sumber]- 1 2 https://www.instagram.com/p/BtKewwshi60/?igsh=N2drdHRzdHpvdTdw
- ↑ https://www.instagram.com/p/CVEtC0BJhtz/?igsh=eWtlZDhmbjFscjBw
- ↑ https://www.instagram.com/p/BxRLPihHkKx/?igsh=MTJxb20xb3V0dnI4
- 1 2 Sudarmanto (1996)
- 1 2 Mutiara Sumber Widya (publisher)(1999)
- ↑ Bachtiar (1988)
- ↑ Sekretariat Negara Republik Indonesia (1994)
- ↑ Anderson & McVey (1971)
- ↑ Sekretariat Negara Republik Indonesia (1975)
- ↑ Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia 1959 - sekarang (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-07-29. Diakses tanggal 4 Oktober 2021.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Indonesia) Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo
- ↑ Sandi yang digunakan oleh Cakrabirawa pada saat Gerakan 30 September[3]
<ref> untuk kelompok bernama "lower-alpha", tapi tidak ditemukan tanda <references group="lower-alpha"/> yang berkaitan- Koordinat tidak tersedia di Wikidata
- Kelahiran 1922
- Kematian 1965
- Meninggal usia 43
- Pahlawan nasional Indonesia
- Tokoh yang dibunuh di Indonesia
- Tokoh TNI
- Tokoh militer Indonesia
- Tokoh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat
- Tokoh Polisi Militer
- Tokoh Jawa
- Tokoh Jawa Tengah
- Tokoh Kebumen
- Tokoh dari Kebumen
- Tokoh Angkatan 45
- Penerima Bintang Republik Indonesia Adipradana
- Penerima Bintang Gerilya
- Penerima Bintang Sewindu APRI

