Johannes Abraham Dimara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Johannes Abraham Dimara
Johannes Abraham Dimara.jpg
Informasi pribadi
Lahir(1916-04-16)16 April 1916
Bendera Hindia Belanda Korem, Biak Utara, Papua, Hindia Belanda
Meninggal dunia20 Oktober 2000(2000-10-20) (umur 84)
Bendera Indonesia Jakarta
Dinas militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabangInsignia of the Indonesian Army.svg TNI Angkatan Darat
Masa dinas1950—1960
PangkatPdu mayortni staf.png Mayor
SatuanInfanteri

Mayor TNI Johannes Abraham Dimara (16 April 1916 – 20 Oktober 2000) adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Papua. Saat ini nama Johannes Abraham Dimara diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara TNI AU yang berada di Merauke tepatnya pada tanggal 24 September 2018.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Johannes Abraham Dimara dilahirkan di Korem, Biak Utara, Papua, pada 16 April 1916. Ia tamat pendidikan dasar di Ambon pada tahun 1930. Ia kemudian masuk Sekolah Pertanian di Laha hingga tahun 1940. Ia kemudian masuk Sekolah Pedidikan Injil, dan setelah lulus ia menjadi seorang guru injil di Pulau Buru.

Pada tahun 1946, ia ikut serta dalam Pengibaran Bendera Merah Putih di Namlea, pulau Buru. Ia turut memperjuangkan pengembalian wilayah Irian Barat ke tangan Republik Indonesia. Pada tahun 1950, ia diangkat menjadi Ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat). Ia pun menjadi anggota TNI dan melakukan infiltrasi pada tahun 1954 yang menyebabkan ia ditangkap oleh tentara Kerajaan Belanda dan dibuang ke Digul, hingga akhhinya dibebaskan tahun 1960.

Ketika Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora, ia menjadi contoh sosok orang muda Papua dan bersama Bung Karno ikut menyerukan Trikora di Yogyakarta. Ia juga turut menyerukan seluruh masyarakat di wilayah Irian Barat supaya mendukung penyatuan wilayah Irian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1962, diadakanlah Perjanjian New York. Ia menjadi salah satu delegasi bersama Menteri Luar Negeri Indonesia. Isi dari perjanjian itu akhirnya mengharuskan pemerintah Kerajaan Belanda untuk bersedia menyerahkan wilayah Irian Barat ke tangan pemerintah Republik Indonesia. Maka mulai dari saat itu wilayah Irian Barat masuk menjadi salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketika pawai 17 Agustus di depan istana, Dimara mengenakan rantai yang terputus. Bung Karno melihat itu dan terinspirasi membuat patung pembebasan Irian Barat. Maka, dibuatlah patung pembebasan Irian Barat di lokasi yang hanya berjarak tidak sampai 1,5 km dari Istana negara, di Lapangan Banteng. Dimara menceritakan hal itu dalam buku yang ditulis oleh Carmelia Sukmawati berjudul, Fai Do Ma, Mai Do Fa, Lintas Perjuangan Putra Papua, J.A. Dimara (2000).

Menjadi Pahlawan Nasional[sunting | sunting sumber]

Atas segala jasa-jasanya, bersama Dr. J. Leimena ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.[1]

Kematian[sunting | sunting sumber]

Johannes Abaraham Dimara meninggal pada tanggal 20 Oktober 2000 di Jakarta.[1]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

  • Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu
  • Satyalancana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua
  • Satyalancana Satya Dharma
  • Satyalancana Bhakti
  • Satyalancana Gerakan Operasi Militer III
  • Satyalancana Perintis Pergerakan kemerdekaan

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Hutasoit, Lia. "Deretan Pahlawan Pemberani Asal Papua yang Berhasil Menyatukan NKRI". IDN Times. Diakses tanggal 16 April 2021. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  1. "Johannes Abraham Dimara". IKPNI. Diakses tanggal 16 April 2021. 
  2. "Sosok Mayor TNI Johannes A Dimara, Pahlawan Nasional yang Anaknya Kini Sakit Parah". merdeka.com. Diakses tanggal 16 April 2021. 
  3. Indonesia. Departemen Penerangan (1962). Semangat perdjuangan Irian-Barat masih tetap bernjalanjala, kronik. Direktorat Publisitet & Penerangan Daerah, Bagian Dokumentasi. hlm. 15–. 
  4. Gavriil Leonidovich Kesselʹbrenner (1961). Irian Barat-wilajah jang tak terpisahkan dari Indonesia. Lembaga Kebudajaan Rakjat. 
  5. William H. Frederick; Robert L. Worden (1993). Indonesia: A Country Study. Government Printing Office. hlm. 57–. ISBN 978-0-8444-0790-6. 
  6. Carmelia Sukmawati (2000). Fa ido ma, ma ido fa: J.A. Dimara, lintas perjuangan putra Papua. Sakanindo Printama.