Ahmad Sanusi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kyai Haji
Ahmad Sanusi
Ajengan ahmad sanusi.jpg
Lahir 18 September 1889
 Hindia Belanda, Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat
Meninggal 0 Desember 1950 (umur 60)
 Indonesia, Sukabumi, Jawa Barat
Kebangsaan  Indonesia
Nama lain Ajengan Genteng
Suku Sunda
Pendidikan
Pesantren Nusantara
  • Pesantren Salajambe, Cisaat, asuhan K.H. Muhammad Anwar
  • Pesantren Gudang, Tasikmalaya, asuhan K.H. Ahmad Syuja'i
  • Pesantren Gentur, Warungkondang, Cianjur, asuhan K.H. Ahmad Syathibi
  • Pesantren Sukamantri, Cisaat, Sukabumi, asuhan K.H. Muhammad Siddiq
  • Pesantren Sukaraja, Sukabumi, asuhan K.H. Zainul Arif
Pesantren Mekkah
  • Syeikh Muhammad Junaidi
  • Syeikh Mukhtar Attarid (asal Bogor)
  • Syeikh Said Jawani
  • Syeikh Saleh Bafadlal
  • Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
Pekerjaan
  • Pendiri Pondok Pesantren Syamsul Ulum, Sukabumi.
  • Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Organisasi
  • Sarekat Islam.
  • Pendiri Al-Ittahadul Islamiyah (AII).
  • Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII).
Dikenal karena Ulama ahli tafsir, fikih, tasawuf dan kalam.
Karya terkenal
Bidang tafsir
  • Kanzur ar-Rahmah wa Luth fi Tafsir Surah al-Kahfi
  • Tajrij Qulub al-Mu’minin fi Tafsir Surah Yasin
  • Kasyf as-Sa’adah fi Tafsir Surah Waqi’ah
  • Hidayah Qulub as Shibyan fi Fadlail Surah Tabarak al-Mulk min al-Qur’an
  • Kasyf adz-Dzunnun fi Tafsir Layamassuhu ilaa al-Muthahharun
  • Tafsir Surah al-Falaq
  • Tafsir Surah an-Nas
  • Raudhlatul Irfan fi Ma’rifat Al-Qur’an
  • Maljau at-Thalibin
  • Tamsyiyatul Muslimin fi Tafsir Kalam Rabb al-‘Alamin
  • Ushul al-Islam fi Tafsir Kalam al-Muluk al-Alam fi Tafsir Surah al-Fatihah
Bidang fikih
  • Tahdzir al-‘Awam fi Mufiariyat Cahaya Islam
  • Al-Mufhamat fi Daf’I al-Khayalat
  • At-Tanbih al-Mahir fi al-Mukhalith
  • Tarjamah Fiqh al-Akbar as-Syafi’i
  • Al-Jauhar al-Mardliyah fi Mukhtar al-Furu as-Syafi’iyah
  • Nurul Yaqin fi Mahwi Madzhab al-Li’ayn wa al-Mutanabbi’in wa al-Mubtadi’in
  • Tasyfif al-Auham fi ar-Radd’an at-Thaqham
Bidang tasawuf
  • Mathla’ul al-Anwar fi Fadhilah al-Istighfar
  • Al-Tamsyiyah al-Islam fi Manaqib al-Aimmah
  • Fakh al-Albab fi Manaqib Quthub al-Aqthab
  • Siraj al-Adzkiya fi Tarjamah al-Azkiya
  • Al-Audiyah as-Syafi’iyah fi Bayan Shalat al-Hajah wa al-Istikharah
  • Siraj al-Afkar
  • Dalil as-Sairin
  • Jauhar al-Bahiyah fi Adab al-Mar’ah al-Mutazawwiyah
Bidang kalam
  • Miftah al-Jannah fi Bayan ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah
  • Tauhid al-Muslimin wa ‘Aqaid al-Mu’minin
  • Alu’lu an-Nadhid
  • Al-Mufid fi Bayan ‘ilm al-Tauhid
  • Siraj al-Wahaj fi al-Isra wa al-Mi’raj
  • Al-‘Uhud wa al-Hudud
  • Bahr al-Midad fi Tarjamah Ayyuha al-Walad
  • Haliyat al-‘Aql wa al-Fikr fi Bayan Muqtadiyat as-Syirk wa al-Fikr
  • Thariq as-Sa’adah fi al-Farq al-Islamiyah
  • Maj’ma al-Fawaid fi Qawaid al-‘Aqaid
  • Tanwir ad-Dzalam fi Farq al-Islam
Kota asal Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi
Agama Islam
Suami/istri Siti Juwariyah binti Haji Afandi
Orang tua Ajengan Haji Abdurrahim bin Yasin
Penghargaan

Ahmad Sanusi atau dikenal dengan sebutan Kiai Haji Ahmad Sanusi atau Ajengan Genteng (lahir 18 September 1889 di Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi - meninggal tahun 1950 di Sukabumi pada umur 61 tahun) adalah tokoh Sarekat Islam dan pendiri Al-Ittahadul Islamiyah (AII), sebuah organisasi di bidang pendidikan dan ekonomi.[2][3] Pada awal Pemerintahan Jepang, AII dibubarkan dan secara diam-diam ia mendirikan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII).[2][4] Ia juga pendiri Pondok Pesantren Syamsul Ulum, Sukabumi.[2] Selain itu, Kiai Sanusi juga pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945.[2][5]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kiai Sanusi adalah putera dari Ajengan Haji Abdurrahim bin Yasin, pengasuh Pesantren Cantayan di Sukabumi.[2][6] Sebagai putera seorang ajengan (kiai), ia telah belajar ilmu-ilmu keislaman sejak ia masih kanak-kanak, selain ia juga banyak belajar dari para santri Senior|senior di pesantren ayahnya.[2]

Menginjak usia dewasa, Kiai Sanusi mulai mengaji di beberapa pesantren di Jawa Barat.[2] Pada usia 20 tahun, ia menikah dengan Siti Juwariyah binti Haji Afandi yang berasal dari Kebon Pedes, Baros, Sukabumi.[2] Setelah menikah, ia dikirim ayahnya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu-ilmu keislaman.[2] Ia belajar di Mekah selama tujuh tahun.[5] Disana Kiai Sanusi mendapat gelar imam besar Masjidil Haram.[5] ia berguru kepada ulama-ulama terkenal, khususnya dari kalangan al-Jawi (Melayu).

Mendirikan Pesantren[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1915, sepulang belajar dari Mekah, Kiai Sanusi kembali ke Indonesia untuk membantu ayahnya mengajar di Pesantren Cantayan.[5] Setelah tiga tahun membantu ayahnya, ia mulai merintis pembangunan pondok pesantrennya sendiri yang terletak di Kampung Genteng, sebelah utara desa Cantayan, sehingga ia kemudian dikenal dengan sebutan Ajengan Genteng.[2] Pesantrennya tersebut ia beri nama Pondok Pesantren Syamsul Ulum.[2]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]

Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, salah satu ulama pembaharu asal Mesir yang banyak mempengaruhi pemikiran K.H. Ahmad Sanusi

Ketika belajar di Mekah, Kiai Sanusi telah mengenal ide-ide pembaharuan dari Syeikh Muhammad 'Abduh, Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, dan Jamaluddin al-Afghani, melalui buku-buku dan majalah aliran pembaharuan di Mesir, sehingga pengaruh tersebut menjadikannya ulama pembaharu ketika pulang ke Indonesia.[2] Namun demikian, ia tetap tidak meninggalkan mahzabnya, ia tetap mengikuti mazhab Syafi'i sebagaimana yang dilakukan kedua gurunya, Syeikh Ahmad Khatib dan Syeikh Mukhtar at-Tarid.[2] Bahkan dalam bidang ilmu fikih yang juga merupakan keahliannya, Kiai Sanusi terkenal sangat kritis terhadap dalam menentukan hukum Islam.[2]

Dalam bidang ilmu al-Qur'an, Kiai Sanusi berpendapat bahwa terdapat empat kategori hukum dalam al-Qur'an, yaitu: [6]

  1. Berkaitan dengan keimanan dan kebebasan beragama dalam memilih dan menjalankan ketentuan-ketentuan agama
  2. Berkaitan dengan rumah tangga dan pergaulannya seperti pernikahan dan perceraian, keturunan dan kewarisan
  3. Berkaitan dengan prinsip kerjasama antarsesama umat manusia seperti jual-beli, sewa-menyewa, gadai dan lain-lain
  4. Berkaitan dengan pemeliharaan kehidupan, yaitu berupa peraturan pidana dan perdata untuk menghukum di antara sesama manusia yang melakukan kesalahan

Karya-karya[sunting | sunting sumber]

Kiai Sanusi dikenal sebagai ulama ahli tafsir dan fikih yang telah mengasilkan banyak karya.[2][1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Toni Kamajaya (Sabtu, 08 November 2008 01:00 wib). "Dua Ulama Jabar Dapat Gelar Pahlawan Nasional". www.news.okezone.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Apr 2014 03:49:15 UTC. Diakses tanggal 27 April 2014.  Periksa nilai tanggal di: |date=, |archive-date= (bantuan)
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o H.M. Bibit Suprapto (2009). Ensiklopedi Ulama Nusantara. Gelegar Media Indonesia. ISBN 979-98066-1114-5.  Halaman 212-215.
  3. ^ www.pelitatangerang.com: KH Ahmad Sanusi, Sukabumi. Diakses 27 April 2014
  4. ^ www.sukabumikota.go.id: PUI Telah torehkan Karya Positif bagi Bangsa dan Negara. Diakses 27 April 2014
  5. ^ a b c d www.ensikperadaban.com: Ahmad Sanusi. Diakses 27 April 2014
  6. ^ a b www.hizbut-tahrir.or.id: Ajengan Ahmad Sanusi: Pejuang Syariah Islam. Diakses 27 April 2014