As'ad Samsul Arifin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
As'ad Syamsul 'Arifin
Kiai Haji Raden
As'ad Syamsul 'Arifin
اَسْعَدْ شَمْسُ الْعَارِفِيْنْ
Mbah as'ad syamsul.jpg
Nama dan Gelar
Semua Gelar
Gelar (Islam)Kiai Haji Raden
Nama
NamaAs'ad Syamsul 'Arifin
Nama (bahasa Arab)اَسْعَدْ شَمْسُ الْعَارِفِيْنْ
Kelahirannya
Tahun lahir (M)1897
Tempat lahirMakkah
Negara lahir
(penguasa wilayah)
Makkah
Nama ayahIbrahim
Nama ibuSiti Maimunah
Agama, Identitas, Kebangsaan
Agama Islam
Etnis (Suku bangsa)
Etnis
(Suku bangsa)
Madura dan Jawa
KebangsaanIndonesia
Bantuan kotak info

Kiai Haji Raden As'ad Syamsul Arifin (lahir pada 1897 di Mekkah - wafat 4 Agustus 1990 di Situbondo pada usia 93 tahun) adalah ulama sekaligus tokoh penting dalam berdirinya Nahdlatul Ulama, sebab ia adalah penyampai pesan isyarat berupa tongkat disertai ayat Al Qur'an dari Syaikhona Kholil kepada KH. Hasyim Asy'ari, yang merupakan cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama. Hingga wafatnya ia menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan juga sebagai pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Situbondo. Ia di anugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 9 November 2016 sesuai Keputusan Presiden Nomor 90/TK/Tahun 2016.[1]

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Kiai As'ad adalah anak pertama dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maimunah, keduanya berasal dari Pamekasan, Madura.[2] Ia mempunyai adik bernama Abdurrahman.[3] Ia dilahirkan di perkampungan Syi'ib Ali, dekat Masjidil Haram, Mekah, ketika kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman.[2] Kiai As'ad masih memiliki darah bangsawan dari kedua orang tuanya.[3] Ayahnya, Raden Ibrahim (yang kemudian lebih dikenal dengan nama K.H. Syamsul Arifin) adalah keturunan Sunan Kudus dari jalur sang ayah.[3] Sedangkan dari pihak ibu masih memiliki garis keturunan dari Sunan Ampel.[3][4]

Pada usia enam tahun, Kiai As'ad dibawa orang tuanya pulang ke Pamekasan dan tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura.[2][3][4] Sedangkan adiknya, Abdurrahman, yang masih berusia empat tahun dititipkan kepada Nyai Salhah, saudara sepupu ibunya yang masih bermukim di Mekah.[2][3] Setelah lima tahun tinggal di Pamekasan, Kiai As'ad diajak ayahnya untuk pindah ke Asembagus, Situbondo yang sekarang daerah tersebut masuk kedalam kecamatan Banyuputih, Situbondo, daerah tersebut dulunya masih berupa hutan belantara yang terkenal angker dan dihuni oleh banyak binatang buas dan makhluk halus..[2][5] Kiai As'ad diajak ayahnya pindah ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam di sana.[2]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sebagai anak seorang ulama, sejak kecil Kiai As'ad sudah mendapat pendidikan agama yang diajarkan langsung oleh ayahnya.[2] Setelah beranjak remaja, ia dikirim ayahnya untuk belajar di Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, sebuah pesantren tua yang didirikan oleh K.H. Itsbat Hasan pada tahun 1785[2] saat Di Pondok Pesantren tersebut, Kiai As'ad diasuh oleh K.H. Abdul Majid dan K.H. Abdul Hamid, keturunan dari K.H. Itsbat.[2]

Setelah tiga tahun belajar di Pesantren Banyuanyar (1910-1913), ia kemudian dikirimkan ayahnya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan melanjutkan belajarnya di sana.[2] Di Mekah, ia masuk ke Madrasah Al-Shaulatiyah, sebuah madrasah yang sebagian besar murid dan guru-gurunya berasal dari al-Jawi (Melayu).[2] Ia belajar ilmu-ilmu keislaman kepada ulama-ulama terkenal, baik yang berasal dari al-Jawi (Melayu) maupun dari Timur Tengah.[2]

Di antara guru-guru Kiai As'ad ketika belajar di Mekah antara lain:[2]

  • Syeikh Abbas al-Maliki
  • Syeikh Hasan al-Yamani
  • Syeikh Muhammad Amin al-Quthbi
  • Syeikh Hasan al-Massad
  • Syeikh Bakir (K.H. Bakir asal Yogyakarta)
  • Syeikh Syarif as-Sinqithi

Setelah beberapa tahun belajar di Mekah, Kiai As'ad kemudian pulang ke Indonesia.[2] Setelah sampai di kampungnya, ia tidak langsung mengajar di pesantren ayahnya, Kiai As'ad memutuskan untuk memperdalam ilmunya dan melanjutkan belajarnya.[2] Ia pergi ke berbagai pesantren dan singgah dari pesantren satu ke pesantren lain, baik untuk belajar maupun hanya untuk ngalaf barakah (mengharap berkah) dari para kiai.[2]

Kiprah[sunting | sunting sumber]

Peran saat berdirinya NU[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1924, Syaikhona Kholil mengutus Kiai As'ad yang saat itu berumur 27 tahun untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Kiai Hasyim Asy'ari, Tebuireng, Jombang dan menghafalkan Surat Thaha ayat 17-23 untuk dibacakan di hadapan Kiai Hasyim. Berangkatlah Kiai As'ad dengan mengayuh sepeda, Kiai As'ad telah dibekali uang oleh Syaikhona Kholil untuk di perjalanan, namun ia justru berpuasa selama di perjalanan. Kemudian setibanya di Tebuireng, Kiai As’ad menghadap Kiai Hasyim Asy'ari dan menyerahkan tongkat itu. Kiai Hasyim bertanya “Apakah ada pesan dari Syaikhona?” Lalu Kiai As’ad membaca Surat Thaha ayat 17-23 yang arti terjemahannya :

“Apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa ? Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.” Allah berfirman, “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu ia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Dia (Allah) berfirman, “Peganglah ia dan jangan takut, Kami (Allah) akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih (bercahaya) tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain, untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar”.[6]

Berselang beberapa hari, Syaikhona Kholil kembali mengutus Kiai As'ad untuk mengantarkan sebuah tasbih kepada Kiai Hasyim. Ketika Syaikhona Kholil menyerahkan tasbihnya, Kiai As'ad enggan untuk menerima dengan tangannya, ia memohon kepada Syaikhona untuk mengalungkan tasbih itu ke lehernya. Syaikhona Kholil berpesan agar Kiai As'ad membaca "Yaa Jabbar Yaa Qahhar" hingga sampai Tebuireng dan membacanya di hadapan Kiai Hasyim. Selama di perjalanan, Kiai As'ad sama sekali tidak berani menyentuh tasbih itu, hingga sesampainya di Tebuireng, Kiai As'ad segera menghadap Kiai Hasyim dan memohon Kiai Hasyim untuk mengambil tasbih itu dari lehernya searaya ia membaca "Yaa Jabbar Ya Qahhar".

KH. Hasyim Asy'ari telah menangkap dua isyarat kuat tersebut yang mengartikan bahwasannya Syakhona Kholil telah memantapkan hati beliau dan merestui didirikannya Jam'iyah Nahdlatul Ulama. Setahun kemudian, pada tanggal 31 Desember 1926 M / 16 Rajab 1344 H di Surabaya berkumpul para ulama se-Jawa-Madura. Mereka bermusyawarah dan sepakat mendirikan organisasi Islam Nahdlatul Ulama.[7]

Membesarkan partai NU[sunting | sunting sumber]

Saat Nahdlatul Ulama memutuskan menjadi sebuah partai politik dan meninggalkan Partai Masyumi pada tahun 1952, Kiai As'ad dan para ulama senior kala itu melakukan pengembangan, pengabdian, dan peluasan guna menuju politik kebangsaan. Pada tahun 1957, ia menjadi juru kampanye Partai NU dan dipercayai sebagai penasehat pribadi KH. Idham Chalid yang kala itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI.

Mengasuh pesantren[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1908, setelah pindah ke Situbondo, Kiai As'ad dan ayahnya beserta para santri yang ikut datang dari Madura membabat alas (menebang hutan) di Dusun Sukorejo untuk didirikan pesantren dan perkampungan.[3][5] Pemilihan tempat tersebut atas saran dua ulama terkemuka asal Semarang, Habib Hasan Musawa dan Kiai Asadullah.[3]

Usaha Kiai As'ad dan ayahnya tersebut akhirnya terwujud.[5] Sebuah pesantren kecil yang hanya terdiri dari beberapa gubuk kecil, mushala, dan asrama santri yang saat itu masih dihuni beberapa orang saja.[5]

Sejak tahun 1914, pesantren tersebut berkembang bersamaan dengan datangnya para santri dari berbagai daerah sekitar.[5] Pesantren tersebutlah yang akhirnya dikenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah.[5]

Setelah K.H. Samsul Arifin meninggal pada tahun 1951, pondok pesantren tersebut ganti diasuh oleh Kiai As'ad.[2] Di bawah kepemimpinan Kiai As'ad, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah berkembang semakin pesat, dengan bertambahnya santri hingga mencapai ribuan.[2] Kemudian, lembaga pendidikan dari pesantren tersebut akhirnya semakin diperluas, tanpa meninggalkan sistem lama yang menunjukkan ciri khas pesantren.[2] Pesantren tersebut mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah, kemudian didirikan pula sekolah umum seperti SMP, SMA, dan SMEA.[2]

Wasiat kepada para santrinya[sunting | sunting sumber]

Meskipun Kiai As'ad telah meninggal, namun dawuh (nasihat) maupun perkataannya masih melekat dan diikuti oleh para santri dan pecintanya.[8] Di antara wasiat (pesan) Kiai As'ad yang pernah ia sampaikan kepada para santrinya ialah:[9]

  1. Santri Sukorejo yang keluar dari NU (Nahdlatul Ulama), jangan berharap berkumpul dengan saya di akhirat.
  2. Santri saya yang pendiriannya tidak dengan saya, saya tidak bertanggung jawab di hadirat Allah SWT (Subhanahu Wa Ta'ala).
  3. Santri saya yang pulang atau berhenti harus ikut mengurusi dan memikirkan paling tidak salah satu dari tiga hal, yakni: Pendidikan Islam, dakwah melalui NU dan ekonomi masyarakat.
  4. Istiqamah (terus menerus) membaca Ratibul Haddad.
  5. Santri saya sebenarnya umum, anak siapa saja, dalam keadaan bagaimana saja, pasti selamat dan jaya asal jujur, giat dan ikhlas.

Karya[sunting | sunting sumber]

  • Ekonomi Dalam Islam
  • Syair Madura
  • Risalah Shalat Jumat
  • Isra' wal Mi'raj
  • Tsalats ar-Risail
  • Tarikh Perjuangan Islam Indonesia
  • Risalah at-Tauhid

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Gelar Pahlawan Nasional akan di berikan pada KH As'ad Syamsul Arifin". Detik.com. 9 November 2016. [pranala nonaktif permanen]
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t H.M. Bibit Suprapto (2009). Ensiklopedi Ulama Nusantara. Gelegar Media Indonesia. ISBN 979-980661114-5.  Halaman 258-263.
  3. ^ a b c d e f g h Syamsul A. Hasan (2003). Kharisma Kiai As'ad di Mata Umat. PT LKiS Pelangi Aksara. ISBN 978-979-3381-30-5.  Halaman 3-6.
  4. ^ a b Samsul Munir Amin (2008). Karomah Para Kiai. PT LKiS Pelangi Aksara. ISBN 978-979-8452-49-9.  Halaman 210-212.
  5. ^ a b c d e f www.sukorejo.com: Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Diarsipkan 2014-04-20 di Wayback Machine.. Diakses 24 April 2014
  6. ^ "Surat Thaha 17-23". Kementerian Agama RI. Diakses tanggal 14-01-2022. 
  7. ^ "Nahdlatul Ulama". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2022-01-12. 
  8. ^ www.taufiq.net: Kiai As'ad: Neka Guruna. Diakses 24 April 2014
  9. ^ www.muslimedianews.com: Inilah 5 Wasiat KHR. As'ad Syamsul Arifin untuk Santrinya Diarsipkan 2014-04-24 di Wayback Machine.. Diakses 24 April 2014