Paku Alam VIII

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya
Paku Alam
ꦦꦏꦸ​ꦲꦭꦩ꧀​ VIII
Penguasa Paku Alam di Yogyakarta ke-8
Masa jabatan
13 April 1937 – 11 September 1998
Didahului oleh Paku Alam VII
Digantikan oleh Paku Alam IX
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ke-2
Masa jabatan
1 Oktober 1988 – 11 September 1998
Presiden Soeharto
Bacharuddin Jusuf Habibie
Didahului oleh Hamengkubuwana IX
Digantikan oleh Hamengkubuwana X
Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ke-1
Masa jabatan
18 Agustus 1945 – 1 Oktober 1988
Presiden Soekarno
Soeharto
Gubernur Hamengkubuwana IX
Didahului oleh Tidak ada, jabatan baru
Digantikan oleh Paku Alam IX
Informasi pribadi
Lahir BRMH Sularso Kunto Suratno
10 April 1910
Bendera Belanda Pakualaman, masa Hindia Belanda
Meninggal 11 September 1998 (umur 88)
Bendera Indonesia Yogyakarta, Indonesia
Kebangsaan  Indonesia
Suami/istri KRAy. Ratnaningrum
KRAy. Purnamaningrum
Anak Dari KRAy. Ratnaningrum:
* Ir. KPH. H. Probokusumo
* BRAy. Retno Sundari
* BRAy. Retno Sewayani
* KPH. Anglingkusumo
* KPH. Songkokusumo
* BRAy. Retno Pudjawati (wafat ketika bayi)
* KPH. Ndoyokusumo
* KPH. Wijoyokusumo
Dari KRAy. Purnamaningrum:
* KPH. Ambarkusumo
* BRAy. Retno Martani
* KPH. Gondhokusumo
* BRAy. Retno Suskamdani
* BRAy. Retno Rukmini
* KPH. H. Tjondrokusumo
* BRAy. Hj. Retno Widanarni
* KPH. Indrokusumo
Agama Islam
Tanda tangan

BRMH Sularso Kunto Suratno (lahir di Yogyakarta, 10 April 1910 – meninggal 11 September 1998 pada umur 88 tahun) adalah Raja Pakualaman VIII yang diangkat sebagai KPH Prabu Suryodilogo pada 4 September 1936.

Sejarah hidup[sunting | sunting sumber]

Pendidikan yang ditempuh adalah Europesche Lagere School Yogyakarta, Christelijk MULO Yogyakarta, AMS B Yogyakarta, Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta - sampai tingkat candidaat). Pada 13 April 1937 ia ditahtakan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo menggantikan mendiang ayahnya. Setelah kedatangan Bala Tentara Jepang pada tahun 1942 ia mulai menggunakan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII.

Pada 19 Agustus 1945 bersama Hamengkubuwono IX, Paku Alam VIII mengirimkan telegram kepada Sukarno dan Hatta atas berdirinya RI dan terpilihnya mereka sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pada 5 September 1945 secara resmi KGPAA Paku Alam VIII mengeluarkan Amanat/Maklumat (semacam dekrit kerajaan) bergabungnya Kadipaten Pakualaman dengan Negara Republik Indonesia. Sejak saat itulah kerajaan terkecil pecahan Mataram ini menjadi daerah Istimewa. Melalui Amanat Bersama antara Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII dan dengan persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Daerah Yogyakarta pada tanggal 30 Oktober tahun yang sama, ia berdua sepakat untuk menggabungkan Daerah Kasultanan dan Kadipaten dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jabatan yang dipangku selanjutnya adalah Wakil Kepala Daerah Istimewa, Wakil Ketua Dewan Pertahanan DIY (Oktober 1946), Gubernur Militer DIY dengan pangkat Kolonel (1949 setelah agresi militer II). Mulai tahun 1946-1978 Paku Alam VIII sering menggantikan tugas sehari-hari Hamengkubuwono IX sebagai kepala daerah istimewa karena kesibukan Hamengkubuwono IX sebagai menteri dalam berbagai kabinet RI. Selain itu ia juga menjadi Ketua Panitia Pemilihan Daerah DIY dalam pemilu tahun 1951, 1955, dan 1957; Anggota Konstituante (November 1956); Anggota MPRS (September 1960) dan terakhir adalah Anggota MPR RI masa bakti 1997-1999 Fraksi Utusan Daerah.

Setelah Hamengkubuwono IX mangkat pada tahun 1988, Paku Alam VIII menggantikan sang mendiang menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sampai akhir hayatnya pada tahun 1998. Perlu ditambahkan bahwa pada 20 Mei 1998 ia bersama Hamengkubuwono X mengeluarkan Maklumat untuk mendukung Reformasi Damai untuk Indonesia. Maklumat tersebut dibacakan di hadapan masyarakat dalam acara yang disebut Pisowanan Agung. Beberapa bulan setelahnya ia menderita sakit dan meninggal pada tahun yang sama. Sri Paduka Paku Alam VIII tercatat sebagai wakil Gubernur terlama (1945-1998) dan Pelaksana Tugas Gubernur terlama (1988-1998) serta Pangeran Paku Alaman terlama (1937-1998).

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Ia memiliki dua istri, yaitu;

Dari KRAy. Ratnaningrum :

  1. Ir. KPH. H. Probokusumo
  2. BRAy. Retno Sundari
  3. BRAy. Retno Sewayani
  4. KPH. Anglingkusumo
  5. KPH. Songkokusumo
  6. BRAy. Retno Pudjawati (wafat ketika bayi)
  7. KPH. Ndoyokusumo
  8. KPH. Wijoyokusumo

Dari KRAy. Purnamaningrum :

  1. KPH. Ambarkusumo
  2. BRAy. Retno Martani
  3. KPH. Gondhokusumo
  4. BRAy. Retno Suskamdani
  5. BRAy. Retno Rukmini
  6. KPH. H. Tjondrokusumo
  7. BRAy. Hj. Retno Widanarni
  8. KPH. Indrokusumo

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Paku Alam VII
Penguasa Paku Alam di Yogyakarta
1937–1998
Diteruskan oleh:
Paku Alam IX
Jabatan politik
Didahului oleh:
Hamengkubuwono IX
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
1988–1998
Diteruskan oleh:
Hamengkubuwono X
Posisi baru Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
1945–1988
Jabatan lowong
Selanjutnya dijabat oleh
Paku Alam IX