Lompat ke isi

Pattimura

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Thomas Matulessy
JulukanPattimura
Lahir(1783-06-08)8 Juni 1783
Haria, Saparua, Maluku, Hindia Belanda
Meninggal16 Desember 1817(1817-12-16) (umur 34)
Nieuw Victoria, Ambon, Maluku, Hindia Belanda
PengabdianPerusahaan Hindia Timur Britania Raya
Dinas/cabangAngkatan Darat Britania Raya
PangkatSersan Mayor
Perang/pertempuranPerang Pattimura
PenghargaanPahlawan Nasional Indonesia

Thomas Matulessy (8 Juni 1783  16 Desember 1817), yang juga dikenal sebagai Kapitan Pattimura atau singkatnya Pattimura, adalah seorang Pahlawan Nasional asal Maluku yang terkenal dan menjadi simbol perjuangan Masyarakat Maluku. Thomas Matulessy ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto pada 6 November 1973.[1]

Asal-usul

Thomas Matulessy lahir pada 8 Juni 1783 di Negeri Haria 'Leawaka Amapati'.[2] Leluhur keluarga Matulessy berasal dari Negeri Itawaka, yang kemudian sebagian menetap di Negeri Ullath dan sebagian lainnya di Negeri Haria. Salah satu anggota keluarga yang menetap di Negeri Haria adalah Frans Matulessy. Ia menikah dengan Fransina Silahooy, asal Negeri Siri Sori Kristen yang merupakan ibu dari Yohannes dan Thomas Matulessy. “Keluarga Matulessy beragama Kristen Protestan, Nama Yohannes dan Thomas diambil dari Alkitab."[3]

Kehidupan pribadi

Thomas Matulessy belum menikah tetapi memiliki kekasih bernama Elisabeth Gassier seorang wanita blasteran Inggris-Maluku. sedangkan Kakaknya Yohannes Matulessy Menikah dan meneruskan keturunan Matulessy yang mendiami Negeri Haria. Frans Matulessy atau yang dikenal sebagai Bung Angky menjadi Ahli waris Thomas Matulessy yang menjaga Rumah Thomas Matulessy dan memegang Surat pengangkatan Thomas Matulessy sebagai Pahlawan Nasional dia juga menyimpan Pakaian dan Parang Salawaku milik Thomas Matulessy.[4]

Karier Militer Thomas Matulessy pada Masa Pemerintahan Inggris di Maluku

Kepengurusan wilayah Ambon berpindah dari pihak Belanda kepada Inggris melalui misi yang dijalankan oleh Sir Edward Tucker bersama William Byam Martin. Bagian dari koleksi The British Museum dan National Maritime Museum di Greenwich, London. Karya Emeric Essex Vidal, 17 Februari 1810.

17 Februari 1810, Inggris resmi mengambil alih Kepulauan Maluku dari tangan Belanda.[5] Peralihan kekuasaan tersebut seketika menggemparkan seisi Kota Ambon. Penduduk dikagetkan dengan kehadiran kapal-kapal Berbendera Inggris di sekitar pelabuhan. Bendera Belanda yang semula berkibar di Benteng Victoria pun telah berganti menjadi ‘Union Jack’ milik Inggris. Ratusan prajurit bersenjata lengkap ikut disiagakan di seluruh kota.[6]

Kepanikan seketika melanda Maluku. Rakyat bertanya-tanya tentang nasib mereka di bawah pemerintahan yang baru datang hari itu. Kekhawatiran terbesar mereka adalah apakah pemerintah baru ini akan lebih baik dari Pemerintah Belanda? atau malah lebih buruk lagi?[6]

Sedikit demi sedikit Inggris mulai membangun pemerintahannya di Maluku. Peraturan semasa Belanda yang merugikan dirasa mulai berubah. Rakyat melihat secerca harapan dari pemerintah baru ini. Mereka yang awalnya mengira Inggris sama dengan Belanda pun mulai mengubah pandangannya.[6]

Dalam transisi kekuasaan tersebut, Inggris menerapkan sistem pemerintahan baru serta mengevaluasi kebijakan administrasi Belanda di masa lalu. Langkah ini diambil karena kebijakan sebelumnya yang dianggap menekan rakyat dan sering memicu perlawanan di Maluku.

Pemerintah Inggris di bawah pimpinan Gubernur Maluku, Edward Tucker menerapkan Kebijakan Non-Interferensi (Policy of Non-Interference). Melalui kebijakan ini, Inggris memilih untuk tidak mencampuri urusan permasalahan dalam negeri, adat, maupun agama masyarakat setempat demi menghindari konflik dan perlawanan rakyat.

Pendekatan ini sangat kontras dengan pemerintah Belanda sebelumnya yang menerapkan politik adu domba (Devide et Impera) dan sering mengintervensi kepemimpinan di setiap negeri demi menempatkan pemimpin yang setia kepada mereka. Edward Tucker menerapkan strategi ini guna menjaga stabilitas sosial antara pemerintah Inggris dan masyarakat Maluku.[7]

Di tengah perbedaan gaya kepemimpinan tersebut, tradisi Pela Gandong muncul sebagai salah satu tradisi masyarakat Maluku yang menjadi pusat perhatian utama Inggris. Edward Tucker melihat Pela Gandong sebagai bentuk tradisi persaudaraan orang Maluku yang menjaga persatuan antar Negeri, sehingga pemerintah Inggris berkomitmen dalam menjaga tradisi adat tersebut.[8]

Hal ini berbeda jauh dengan Belanda yang membenci sistem Pela Gandong karena satu alasan yang kuat, yaitu persatuan. Bagi Belanda, persaudaraan yang sangat kuat antar negeri adalah salah satu faktor yang memperhambat mereka dalam melaksanakan politik devide et impera (adu domba).[9]

Kebijakan yang paling berdampak bagi rakyat adalah keputusan Gubernur Maluku, Edward Tucker untuk menghapuskan Pelayaran Hongi (Hongitochten). Langkah ini mengakhiri praktik patroli laut Belanda yang secara sistematis memusnahkan pohon cengkih dan pala milik penduduk lokal. Dengan dihapuskannya kebijakan tersebut, ancaman terhadap sumber mata pencaharian rakyat berakhir, sehingga mereka dapat kembali mengelola perkebunan.

Mengawali transformasi ekonomi di Maluku, Residen Ambon, William Byam Martin, menerapkan kebijakan Reformasi Ekonomi Liberal (Liberal Economic Reform) Kebijakan ini adalah bagian dari gerakan Liberalisme Ekonomi yang menentang Merkantilisme sistem monopoli ketat yang dijalankan Pemerintah Belanda sebelumnya. William menghapus berbagai bentuk kerja rodi dan kewajiban-kewajiban berat yang sebelumnya diterapkan oleh pemerintah Belanda. Melalui perdagangan, Inggris tidak menerapkan monopoli rempah-rempah sekejam Belanda, sehingga rakyat maluku merasa lebih bebas dalam menjalankan aktivitas ekonomi mereka.[10]

William memperkenalkan Sistem Pembayaran Tunai (Cash Payment System) yang menjamin rakyat Maluku menerima upah dalam bentuk uang fisik secara konsisten. Kebebasan ini sekaligus menghapuskan praktik, manipulasi harga yang sebelumnya sering dilakukan birokrasi Belanda untuk mengambil keuntungan sepihak. Melalui pembayaran yang jujur, terjadi sirkulasi mata uang yang lancar, di mana uang terus berputar di tengah masyarakat dan menghidupkan pasar lokal.

Seluruh rangkaian transformasi ekonomi di Maluku ini pada akhirnya menciptakan iklim ekonomi yang Sehat, sebuah kondisi di mana transparansi dan keadilan ekonomi, meningkatkan daya beli serta memberikan dampak kesejahteraan hidup bagi rakyat Maluku secara nyata.

Tak sekedar urusan administratif, William Byam Martin menunjukkan perhatian pada fasilitas umum, kesehatan serta pendidikan. Hal ini menciptakan kesan bahwa pemerintah Inggris benar-benar ingin membangun Kepulauan Maluku, bukan sekadar menguras kekayaannya.[11]

Era baru Pemerintahan Inggris di Maluku yang dipimpin oleh Gubernur Maluku, Edward Tucker dan Residen Ambon, William Byam Martin dinilai baik oleh semua kalangan. Rakyat tidak merasa adanya tekanan seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda sebelumnya. Hal itu dirasakan juga oleh Thomas Matulessy bersama deretan pemuda asal Kepulauan Lease, Maluku Tengah, turut merasakan dampak positif dari kebijakan tersebut.

Sesekali Thomas Matulessy memanfaatkan kelonggaran kebijakan Pemerintah Inggris melalui Izin resmi dari Residen Ambon, William Byam Martin, untuk berlayar menuju Kota Ambon, Hal ini beriringan juga dengan keberangkatan para pemuda dari berbagai negeri di Maluku yang secara mandiri mendatangi pusat pemerintahan Inggris guna mengumpulkan berbagai informasi penting.[12]

Ketika Angkatan Darat Britania Raya membuka pendaftaran bagi pemuda Maluku untuk menjadi bagian dari Kesatuan Militer Inggris pada Maret hingga Agustus 1810, Thomas Matulessy beserta seluruh pemuda dari berbagai wilayah di Maluku segera mendaftar dan tak sedikit pun dari mereka ragu untuk menjadi bagian dari barisan prajurit Inggris tersebut.[13]

Alasan utama Thomas Matulessy memilih bergabung dalam Kesatuan Militer Inggris adalah 'Tugas Pasukan Wilayah' yang dibentuk untuk menjaga wilayah kekuasaan Inggris dari pihak luar atau secara tidak langsung turut serta menjaga rakyat Maluku. Selain itu tidak sama seperti Belanda yang mengirim tentara lokal ke Batavia, Pemerintah Inggris akan menempatkan mereka di Kota Ambon.

Untuk lolos ke dalam pasukan ini, para calon prajurit harus memenuhi beberapa persyaratan, terutama tes kesehatan dan uji kemampuan fisik yang menjadi standar utama dalam kemiliteran Inggris. Setelah seluruh proses persyaratan telah selesai dilalui, pada 15 Agustus 1810, sebanyak 500 pemuda Maluku terpilih, termasuk Thomas Matulessy, dan resmi dilantik menjadi bagian dari Angkatan Darat Britania Raya di Kota Ambon.[13]

1 Juni 1811 Inggris secara formal membentuk 'British Amboina Corps' unit ini berada di bawah otoritas Perusahaan Hindia Timur Britania Raya (EIC) yang dirancang oleh Thomas Stamford Raffles  untuk memperkuat pertahanan Inggris melawan kemungkinan serangan balik dari aliansi Prancis-Belanda. Pada periode inilah Thomas Matulessy bersama rekan-rekan prajurit Maluku dilatih secara intensif menjadi prajurit profesional, selain dibekali seragam resmi dan profesionalisme, mereka juga dihargai dengan pemberian gaji yang cukup tinggi serta fasilitas asrama yang memadai di Kota Ambon, yang sangat menunjukkan jati diri korps mereka. Latihan berperang, pendaratan di berbagai pantai yang berombak, berpasir putih hingga berkarang adalah latihan yang sungguh-sungguh dipersiapkan untuk menangkis dan menyerang musuh.[14]

Para perwira Inggris sangat serius dalam melatih Thomas Matulessy beserta para prajurit lainnya. Berbagai teknik penggunaan senjata mereka pelajari selama masa pendidikan. Karena perang antara Inggris melawan aliansi Prancis-Belanda yang masih berkecamuk di Eropa, pemerintahan Inggris di Maluku selalu berada dalam kondisi siaga. Setelah dinyatakan siap, Matulessy dan para prajurit lainnya segera ditempatkan di berbagai pulau strategis di seluruh Kepulauan Maluku.[13]

Selama masa bertugas, Thomas Matulessy menunjukkan kedisiplinan, kemampuan memimpin dan kecakapan militer yang sangat mumpuni. Selain itu, Thomas Matulessy adalah seorang penembak jitu yang andal dan sangat mahir dalam menangani berbagai jenis senjata. Ia pun cepat mendapatkan promosi serta dipercayakan menjadi pemimpin bagi para prajurit di kesatuan 'British Amboina Corps', sehingga menghantarkannya mencapai pangkat Sersan Mayor. Thomas Matulessy menyelesaikan masa tugasnya di kemiliteran Inggris setelah mengabdi selama kurang lebih tujuh tahun. Kariernya berakhir secara resmi pada 19 Agustus 1816, menyusul pemberlakuan Konvensi London 1814. Perjanjian tersebut mengharuskan Inggris menyerahkan kembali wilayah kekuasaannya di Hindia Belanda, termasuk Maluku, kepada pihak Belanda.[15]

Perang Thomas Matulessy tahun 1817

Kembalinya Belanda di Maluku memicu Kemarahan Rakyat

Inggris menduduki wilayah Hindia Belanda pada periode 1811–1816, dengan Sir Thomas Stamford Raffles menjabat sebagai Letnan Gubernur. Namun, perubahan peta politik di eropa pasca-kekalahan Perang Napoleon memicu lahirnya Konvensi London pada 13 Agustus 1814.[16] Perjanjian ini ditandatangani di London oleh Robert Stewart, Viscount Castlereagh sebagai perwakilan Inggris dan Hendrik Fagel sebagai perwakilan Belanda. Berdasarkan perjanjian tersebut, Inggris setuju mengembalikan wilayah Hindia Belanda kepada Kerajaan Belanda guna memperkuat stabilitas ekonomi dan politik Belanda di Eropa.[17]

Proses pengembalian ini baru terealisasi sepenuhnya pada 19 Agustus 1816 di Batavia. Dalam proses tersebut, Inggris diwakili oleh pengganti Raffles, John Fendall, sementara pihak Belanda diwakili oleh tiga Komisaris Jenderal: Cornelis Theodorus Elout, Baron van der Capellen, dan Arnold Adriaan Buyskes.[18]

Khusus untuk Kepulauan Maluku, peralihan kekuasaan baru terlaksana pada 25 Maret 1817 di Benteng Victoria, Kota Ambon. Administrasi Maluku diserahkan oleh Residen Inggris, William Byam Martin, kepada Ketua Komisi Penyerahan Maluku dari Inggris ke Belanda, Nicolaas Engelhard dan Gubernur Belanda yang baru, Jacobus Ariën van Middelkoop di Benteng Victoria, Kota Ambon.[19]

Selanjutnya di Benteng Victoria, Nicolaas Engelhard melantik Johannes Rudolph van den Berg, seorang Residen muda berusia 28 tahun, sebagai Residen Saparua untuk menempati pos di Benteng Duurstede. Ia didampingi istrinya, Johana Christina Umbgrove, yang juga masih muda berusia 26 tahun beserta ketiga anak mereka yang masih kecil, yaitu putra tertua Jean Lubert van den Berg berusia 5 tahun, anak kedua Gerardus van den Berg berusia 3 tahun, dan si bungsu Rudolph van den Berg berusia 1 tahun.

Tiga kapal Belanda melepas jangkar di Teluk Ambon. Kapal Evertsen dibawa Komando Kapten Laut Nicolaas Hermanus Dietz yang meninggal 20 Maret 1817 sehingga digantikan Letnan Laut Quirijn Maurits Rudolph Ver Huell, Kapal Nassau dibawa Komando Kapten Laut Sloterdijk dan Kapal Maria Reigersbergen dibawa Komando Letnan Laut Groot,[20]

Permasalahan utama kerajaan Belanda pascapenyerahan resmi Hindia Belanda dari Inggris tahun 19 Agustus 1816 adalah terjadinya kekosongan kas kerajaan Belanda dan utang yang menumpuk akibat membiayai perang Napoleon. Situasi tersebut mendorong Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1817 mencetuskan ide yang kemudian memerintahkan Gubernur Maluku Jan Ariën van Middelkoop serta Residen Saparua Johannes Rudolph van den Berg menghidupkan kembali kebijakan Pemerintah Belanda sebelumnya yaitu kebijakan eksploitatif, mulai dari sistem Heerendiensten (kerja paksa) untuk membangun infrastruktur seperti jalan dan perbaikan Benteng Duurstede tanpa upah yang layak, hingga sistem penyerahan wajib hasil bumi berupa Kopi, garam laut, ikan asin, ikan Kering serta Daging Sapi Kering (Dendeng) demi memasok kebutuhan armada perang di Ambon serta hasil bumi harus diserahkan kepada Residen Saparua.

Selain itu, rakyat juga dipaksa menjadi tenaga pendayung dalam Pelayaran Hongi (Hongitochten) untuk mengawasi monopoli perdagangan Cengkih dan Pala, Jika produksi Cengkih dan Pala di suatu area dianggap berlebih, Belanda melakukan Ekstirpasi (pemusnahan pohon) yang menghancurkan mata pencaharian penduduk setempat. Rakyat pun semakin terjun dalam jurang kemiskinan ketika perkebunan mereka dimusnahkan oleh Belanda. tujuannya demi menjaga kestabilan harga Belanda di Pasar Eropa.

Selanjutnya Belanda menerapkan Kebijakan (Landrente) Pajak atas Tanah yang menyatakan bahwa seluruh tanah yang tidak memiliki bukti kepemilikan Sertifikat adalah milik negara. Oleh karena itu, rakyat yang menggarap tanah dianggap sebagai penyewa dan wajib membayar pajak sewa kepada pemerintah Belanda.

Khusus di wilayah Maluku termasuk Saparua, selain pajak tanah secara umum, beban rakyat diperberat dengan monopoli rempah-rempah. Rakyat tidak hanya membayar pajak atas tanah, tetapi juga wajib menyerahkan hasil bumi tertentu kepada Belanda dengan harga yang ditentukan sepihak. Semua kebijakan ini dilakukan pemerintah belanda untuk menyelamatkan Negara Belanda dari kebangkrutan.

Konvensi London 1814, dalam pasal 11 yang memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan 'British Amboina Corps' dengan Gubernur Belanda, dalam perjanjian tersebut dicantumkan dengan jelas yang menyatakan:

“Following the cessation of British administration in Moluccas, Moluccan soldiers incorporated into the British Amboina Corps were entitled to discharge, granting them the autonomy to either reenlist or exit Dutch military service.”[21]

Terjemahan Bebas:

"Jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku, maka para serdadu Maluku yang tergabung dalam British Amboina Corps harus dibebaskan; dalam artian, mereka berhak untuk memilih memasuki Dinas Militer atau tidak memasuki Dinas Militer Belanda."

Akan tetapi, Pemerintah Belanda melanggar Pasal tersebut yang mewajibkan perundingan pemindahan 'British Amboina Corps.' Alih-alih memberikan kebebasan kepada para serdadu untuk memilih sebagaimana diatur dalam pasal 11, mereka justru memaksakan perekrutan mantan serdadu Maluku ke dalam barisan tentara KNIL Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger dengan rencana pengiriman tentara ke Batavia.

Kembalinya pemerintah Belanda memicu pertentangan keras dari rakyat, yang menolak kehadiran mereka dengan sangat tegas. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad, antara rakyat dan pemerintah. Kemarahan yang memuncak di seluruh pelosok Maluku kemudian melahirkan sebuah tradisi lisan sebagai bentuk protes dari masyarakat yang dikenal dengan istilah 'Pantung' (sebutan orang Maluku untuk pantun).

'Pantung' itu berisi kalimat protes dalam Bahasa Ambon:

"cengkih cupa-cupa, beras gantang-gantang, orang laeng yang susah, orang laeng tarima gampang."

Terjemahan Bebas:

“Seseorang yang bersusah payah bekerja keras mengumpulkan hasil, namun orang lain yang justru menikmati hasilnya dengan cuma-cuma.”

Itu merupakan sikap protes Masyarakat atas Monopoli Cengkih & Pala yang sedang dilakukan Kompeni VOC pada masa itu. Pantung itu lahir dari keadaan bahwa karena hasil Cengkih & Pala melimpah, Kompeni datang ke negeri-negeri melakukan berbagai cara untuk "kasih senang masyarakat", lalu mengambil semua hasil bumi dengan cuma-cuma atau memberikan harga yang sangat murah.

Musyawarah Seluruh Kapitan Maluku di Negeri Tuhaha

Sabtu, 3 Mei 1817 di Negeri Haria, Yohannes Matulessy, Nicolaas Pattinasarany, Jeremias Tamaela, Marawael Hattu, Bastiaan Latupeirissa dan Hermanus Latupeirissa mengadakan pertemuan di Waehauw bertempat dibatu sipat tiga jiku, perbatasan Haria, Tiouw dan Paperu. Dalam pertemuan itu, mereka membahas kebijakan pemerintah Belanda yang dianggap memonopoli kembali perekonomian serta merugikan masyarakat Maluku. Selain itu, mereka membicarakan rumor bahwa Pemerintah Belanda akan melakukan pemaksaan kepada prajurit Maluku yang sebelumnya berdinas di Angkatan Darat Britania Raya untuk bergabung menjadi bagian dari tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) serta memindahkan mereka ke Batavia.[22]

Dari hasil pembahasan tersebut, mereka berencana untuk menghimpun kembali para kapitan yang sebelumnya tergabung dalam satu kesatuan militer Inggris di Ambon, yakni unit 'British Amboina Corps' untuk berkumpul di Pulau Saparua, tepatnya di Negeri Tuhaha 'Beinusa Amalatu'. Selanjutnya, mereka berencana mengadakan musyawarah mengenai lokasi strategis dan strategi penyerangan terhadap Benteng Duurstede yang terletak di atas bukit karang setinggi 20 meter pada sebuah tanjung kecil yang menjorok ke Laut, tepat di ujung timur laut Teluk Saparua, sekaligus merancang penyerangan atas seluruh penghuni benteng yang kini menjadi kediaman utama bagi Residen muda, Johannes Rudolph van den Berg.

Untuk mewujudkan rencana besar tersebut, Yohannes Matulessy, Nicolaas Pattinasarany, Jeremias Tamaela, Marawael Hattu, Bastiaan Latupeirissa dan Hermanus Latupeirissa memutuskan untuk mengadakan pertemuan di kediaman Kapitan Sayyid Perintah (Sarasa Sanaky Tepasiwa), seorang pemimpin Muslim yang memegang peran ganda sebagai Kapitan sekaligus Raja (Jou) dari Negeri Siri Sori Islam 'Louhata Yama Elhau'.

Kapitan Sayyid Perintah didaulat sebagai figur sentral yang merangkul para Kapitan Maluku di seluruh negeri. Pertemuan di kediaman Raja Sayyid Perintah juga menjadi saksi diikrarkannya sumpah Pela Karas antara Negeri Haria dan Negeri Siri-Sori Islam.[23]

Di tengah situasi yang kian memanas, Sayyid Perintah bergegas menghimpun kekuatan para Kapitan Patasiwa-Patalima. Melalui surat perintah 'AIHATA', Sang Jou menyerukan agar para Kapitan berkumpul di Negeri Tuhaha, Pulau Saparua.

Surat itu ditandai dengan bulu ayam berwarna putih dan hitam, yang artinya surat harus disebar baik siang maupun malam bagi siapapun yang menerimanya. Setelah surat berhasil disebarkan, para kapitan dari Pulau Ambon, Haruku, Nusa Laut, Seram dan Saparua mulai berdatangan menuju Negeri Tuhaha.[24]

Di pulau Saparua inilah, para kapitan 'British Amboina Corps' berkumpul di Negeri Tuhaha untuk bermusyawarah bersama dalam menentukan lokasi strategis serta mengatur strategi penyerangan ke Benteng Duurstede, dari hasil musyawarah tersebut, terpilihlah Gunung Saniri sebagai lokasi yang paling tepat guna melancarkan taktik penyerangan ke Benteng Duurstede.

Penetapan Gunung Saniri sebagai titik kumpul didasarkan pada lokasinya yang strategis di wilayah Siri Sori Kristen dan merupakan area yang sangat luas serta strategis untuk memantau secara langsung dari ketinggian pergerakan tentara Belanda di sekitaran Benteng Duurstede.

Kemudian, wilayah Gunung Saniri juga sulit bagi tentara belanda untuk melakukan patroli ke arah Gunung karena penuh dengan dengan risiko. Dan hampir semua pos pejuang tersebar di hutan-hutan Negeri Tuhaha, Siri-sori islam, Siri sori kristen, Itawaka, Ullath, dan Ouw, sehingga tentara Belanda harus berpikir seribu kali dalam melakukan patroli serta melaksanankan pengawasan di lokasi tersebut.

Setelah serangkaian musyawarah di Negeri Tuhaha berjalan sesuai rencana, pertemuan pun ditutup dengan khidmat. Dalam musyawarah tersebut, Guru Jemaat, Yakub Sahetapy memimpin doa agar Tuhan senantiasa menyertai perjuangan rakyat. Selanjutnya para kapitan sepakat untuk menggelar rapat umum yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 Mei 1817 di Baileo Negeri Haria. Pertemuan besar ini bertujuan untuk memilih panglima perang dengan menghadirkan para raja serta tua-tua adat.[25]

Pengangkatan Thomas Matulessy sebagai Panglima Perang Tertinggi

Jumat, 9 Mei 1817 Pemilihan pemimpin perang dilakukan puluhan pimpinan rakyat. Tapi mereka tidak berhasil memilih pemimpin, situasi itu menyebabkan, Kepala Soa dan juga seorang Kapitan dari Negeri Nolloth, Lucas Selanno (alias Huliselan) dikenal juga dengan nama Lucas Wattimena, mengusulkan Nama Thomas Matulessy yang segera disepakati semua pimpinan. Dalam rapat umum di baileo Negeri Haria, Thomas Matulessy diangkat dalam upacara adat sebagai Panglima Perang Tertinggi, yang dihadiri oleh para raja serta tua-tua Adat dari Ambon, Haruku, Nusa laut, Seram dan Saparua.

Setelah memahami akar permasalahan yang terjadi, Thomas Matulessy dipercaya memimpin penyerangan ke Benteng Duurstede sebagai Panglima Perang Tertinggi. Usulan dari Lucas Selanno ini didasarkan pada latar belakang Thomas Matulessy sebagai anak negeri yang memiliki keahlian strategi perang yang profesional. Selama hampir tujuh tahun, ia berkarier di Angkatan Darat Britania Raya dalam unit ‘British Amboina Corps’ hingga mencapai pangkat Sersan Mayor.[26]

Yang memimpin rapat adalah Kapitan Aipassa. Melalui Rapat tersebut ditetapkan beberapa Keputusan, antara lain:

(A) Semua kapitan harus memimpin Rakyatnya untuk "Angkat Parang Salawaku Lawan Kompeni".

(B) Di mana ada Kompeni di Wilayah kita, semua Raja dan Kapitan harus mengusir Mereka, dan jangan bergaul dengan mereka, karena sudah "Biking Susah Rakyat'.

(C) Ditunjuk Thomas Matulessy, sebagai Panglima Perang Tertinggi dan Benteng Duurstede "Musti Dapat Serang Kemuka".

(D) Yohannes Matulessy, Kakak dari Thomas Matulessy yang menjabat sebagai Wakil Panglima Perang Tertinggi, bila Thomas Matulessy tidak berada ditempat.[27]

Surat Terakhir Johanna Christina Umbgrove dari Benteng Duurstede

Desas-desus rencana penyerangan sebenarnya sudah sampai ke telinga Residen Johannes Rudolph van den Berg yang mendapatkan informasi dari istrinya, Johanna Christina Umbgrove. Bahkan jauh sebelum itu pemerintah Belanda di Kota Ambon juga sudah mendengar kabar tersebut namun mereka mengabaikannya karena dianggap sebagai Rumor.

Gubernur van Middelkoop di Ambon mengabaikan laporan para raja pro-Belanda tentang pergerakan para Kapitan sejak 3 Mei 1817 karena menganggapnya sekadar rumor pribumi. Terjebak birokrasi kaku, Gubernur hanya mau bertindak berdasarkan surat resmi dari Residen di Saparua, sehingga ia merasa tidak perlu memobilisasi pasukan besar hanya untuk menanggapi desas-desus atau rumor yang disampaikan secara lisan.

Hingga akhirnya, fakta mengejutkan datang karena yang dianggap sekadar rumor ini mengagetkan pemerintah Belanda di Kota Ambon ketika Gubernur Maluku Jan Ariën van Middelkoop 17 Mei 1817 memperoleh sepucuk surat yang dikirim istri Residen van den Berg, Johanna Christina Umbgrove tertanggal 13 Mei 1817, yang menginfokan, kalau suaminya akan ditangkap dan dibunuh oleh penduduk Negeri Haria dan Porto dia melarikan diri ke Benteng dan menulis surat serta meminta bantuan prajurit segera dikirim dari Kota Ambon.[28]

Pada 10 Mei 1817, seorang informan lokal melaporkan adanya persiapan perlawanan rakyat kepada Residen van den Berg di Benteng Duurstede. Namun, laporan tersebut dibantah oleh dua raja lokal yang dipanggil untuk memverifikasi laporan tersebut, sehingga informan lokal tersebut justru dijatuhi hukuman cambuk.[29]

Dua hari kemudian 12 Mei 1817, kebenaran informasi tersebut kembali disampaikan oleh istri salah satu raja lokal kepada istri Residen. ia telah menyaksikan sendiri para lelaki di wilayahnya bersiap untuk berangkat menuju Negeri Tuhaha. Ia meyakinkan bahwa konsentrasi massa di Tuhaha, merupakan persiapan untuk melancarkan serangan besar. Meski ia meyakinkan bahwa massa telah bersiap untuk menyerang, Residen beserta seluruh otoritas benteng tetap mengabaikan peringatan tersebut.[30]

Keesokan harinya, Selasa, 13 Mei 1817 Ketegangan memuncak pada siang hari saat Residen van den Berg memerintahkan para pengawalnya ke pelabuhan Negeri Porto untuk menyita sebuah arumbai bermuatan palisade (pagar kayu) yang akan dibawa ke Ambon. Namun, para pengawal tersebut justru di tangkap dan di aniaya oleh penduduk Haria dan Porto. Massa kemudian membakar dan menenggelamkan arumbai beserta muatannya.

Setelah massa membakar dan menenggelamkan arumbai tersebut, suasana semakin mencekam saat sersan penjaga pos DELF beserta pasukannya tiba untuk meredam perlawanan. terjadi tembak menembak antara penduduk Porto dan Haria dengan Sersan beserta prajuritnya, namun pasukan kecil Belanda itu tak kuasa menghalau serangan rakyat. Sersan beserta seluruh prajuritnya tewas di tempat.

Peristiwa di Porto kemudian mematangkan langkah perjuangan, yang direncanakan akan berlanjut pada pelantikan Thomas Matulessy sebagai Kapitan Pattimura keesokan harinya di Hutan Sasawoni pada siang hari, Rabu, 14 Mei 1817. Konsolidasi kekuatan ini berlanjut dengan pertemuan rahasia para kapitan di Gunung Saniri pada malam harinya, guna mematangkan strategi sebelum peperangan pecah pada Kamis, 15 Mei 1817, di Benteng Duurstede.[31]

Karena jarak antara Porto dan Saparua hanya sekitar 2-3 kilometer, berita perlawanan ini menyebar cepat dalam hitungan jam hingga sampai ke telinga Johanna melalui seorang Informan lokal di Kediaman Residen (Residentiehuis). Setelah menerima kabar bahwa terjadi insiden di Pelabuhan Porto, Johanna segera lari menuju Benteng Duurstede untuk memperingatkan suaminya. ia melaporkan bahwa terjadi pergolakan rakyat di Negeri Porto dan nyawa Residen kini terancam oleh kemarahan penduduk Haria dan Porto.[32]

Namun, Johannes Rudolph van den Berg mengabaikan peringatan istrinya karena menganggap laporan itu hanyalah reaksi berlebihan atas keributan kecil. Sang Residen merasa kedudukannya masih aman dan menganggap ancaman pembunuhan tersebut sekadar rumor.

Het oud Huis van den Ambonschen Landvoogt (Rumah lama Gubernur Ambon) Bangunan ikonik ini merupakan kantor dan tempat tinggal para Gubernur Belanda di Ambon, yang di kemudian hari dihuni oleh Jan Ariën van Middelkoop saat pecahnya Perang Pattimura pada 1817. Karya François Valentijn, 1724.

Di tengah kepanikan yang mulai menjalar, Johanna bergegas mengambil pena dan kertas. Di bawah bayang-bayang ketakutan, ia menuliskan surat darurat yang ditujukan langsung kepada Gubernur Jan Ariën van Middelkoop di Ambon.[33]

Dalam surat tertanggal 13 Mei 1817 tersebut, ia meluapkan kekhawatirannya, Johanna melaporkan bahwa suaminya terancam dibunuh oleh penduduk Haria dan Porto, situasi di Saparua sudah tidak terkendali, dan memohon agar bantuan prajurit segera dikirimkan dari pusat kekuasaan di Ambon. Johanna kemudian memanggil seorang kurir lokal kepercayaannya. Dengan pesan yang sangat rahasia dan mendesak, ia menyerahkan surat tersebut agar dibawa melintasi laut menuju Kota Ambon.[34]

Surat yang dikirim istri Residen van den Berg, Johanna Christina Umbgrove tertanggal 13 Mei 1817 tersebut mengalami keterlambatan dalam pengiriman karena, kurir lokal kepercayaannya yang membawa surat itu harus bergerak secara sembunyi guna menghindari patroli penduduk Negeri Haria dan Porto, dan Jika kurir ini tertangkap oleh penduduk, ia bisa dianggap sebagai pengkhianat atau mata-mata Belanda.[35]

Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan pada perahu layar tradisional yang dikendalikan oleh arah angin dan arus laut yang tidak menentu antara saparua dan ambon, akibat dari kendala alam tersebut, surat yang dikirim membutuhkan waktu berhari-hari. Kendala alam inilah yang menyebabkan surat darurat tersebut tertahan di perjalanan dan baru mencapai meja Gubernur pada 17 Mei 1817, namun, semuanya sudah terlambat. Saparua telah jatuh ke tangan rakyat dan para kapitan yang dipimpin oleh Thomas Matulessy sejak 15 Mei 1817. Surat yang dikirim dengan penuh harapan itu kini hanya menjadi saksi bisu atas sebuah tragedi yang tak sempat dicegah.[36]

Naskah Pelantikan Thomas Matulessy Sebagai Kapitan Pattimura

Rabu, 14 Mei 1817 Pelantikan ini muncul dalam suatu rapat khusus yang diadakan siang hari oleh Staf Saniri Tiga Batang Air (Eti, Tala, dan Sapalewa) dengan para kapitan dari Lease ini terjadi di Hutan Sasawoni perbatasan Porto dan Haria, sesudah Thomas Matulessy di pilih dan terpilih secara aklamasi. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Umum Saniri Tiga Batang Air. Yaitu "Inama/Raja Sahulau" bernama "Sahune Sahulau" dengan disaksikan oleh peserta rapat tersebut. Dengan mencabut parang saktinya dari sarungnya, ditempelkan pada dahi Thomas Matulessy dengan mengucapkan Kata-kata Ini:

”Oo; Lanite Tapile Dabite Tuwale; Dengan Nama Tuhan yang menjadikan langit dan Bumi, dengan nama datuk-datuk dan orang tua-tua dan demi tanah air. Saya mulai dari sekarang ini Pangkatkan Thomas Matulessy menjadi Kapitan dengan gelar Kapitan Pattimura, artinya: “Raja Keadilan” apa perintahnya harus dituruti dan jangan seorangpun melawan kepadanya”.[37]

Pertemuan Rahasia di Gunung Saniri

Setelah prosesi pelantikan Thomas Matulessy sebagai Kapitan Pattimura selesai pada siang hari, para raja-raja beserta para kapitan melanjutkan agenda dengan mengadakan pertemuan rahasia di Gunung Saniri pada malam hari. Pertemuan ini bertujuan untuk menyusun strategi penyerangan terhadap Benteng Duurstede.

Dalam pertemuan ini, para Kapitan yang berasal dari Pulau Ambon, Haruku, Nusalaut, dan Seram mengukuhkan sumpah setia dan menerima mandat di bawah kepemimpinan Thomas Matulessy untuk memimpin perlawanan di wilayah masing-masing. Pelantikan tersebut disertai dengan sumpah perjuangan yang berbunyi demikian:

"Dengan Nama Tiga Oknum dengan nama datuk-datuk kita, dengan nama Jou-Jou Patih/Latu dan juga tanah air kita, beta bersumpah atas nama Kapitan-Kapitan seluruh Maluku. Basmilah penjajah yang hendak menjajah tanah air yang telah dianugerahkan oleh Tiga Oknum Yang Esa kepada orang tua-tua dan datuk-datuk kita. Tagal itu kami harus berjuang untuk menegakan keadilan dan kebenaran. Jangan mundur, peliharakanlah keberanianmu hai segala Kapitan dan jika kita gagal, anak cucu kita sampai turunan yang ketujuh akan teruskan perjuangan ini. Amin,-"

Usai pelantikan, Thomas Matulessy segera menunjuk sejumlah kapitan dan perwakilan dari Saparua untuk memimpin dan memobilisasi rakyat di setiap negeri. Kekuatan besar ini disiapkan untuk menggempur Benteng Duurstede pada keesokan harinya, yakni Kamis, 15 Mei 1817 Para tokoh tersebut di antaranya adalah: Yohannes Matulessy dari Haria, Kapitan Wattimury (Kakirussi) dari Porto, Kapitan Sayyid Perintah dari Siri-Sori Islam, Anthone Rhebok dan pemuda Titaley dari Saparua. Tokoh lainnya yang terlibat meliputi kakak-beradik dari Tiouw; Philips Latumahina bersama adiknya, Lukas Latumahina dari Paperu; Lucas Selanno dari Nolloth; Lukas Lisapaly (Aron Lisapaly) dari Ihamahu; serta Kapitan Nanulaitta dan Hehanussa dari Booi.

15 Mei 1817: Peristiwa Kemenangan Rakyat dan Pasukan Thomas Matulessy Merebut Benteng Duurstede

Tampilan udara Benteng Duurstede di Saparua. Di lokasi inilah pada 15 Mei 1817, pasukan Thomas Matulessy dan rakyat melancarkan serangan besar yang berhasil melumpuhkan pertahanan Belanda dan merebut pusat kekuasaan di Pulau Saparua.

Kamis, 15 Mei 1817, tepat saat hari beranjak siang, Pasukan Thomas Matulessy secara terencana memanfaatkan momentum waktu ini untuk menyergap musuh di titik lengah mereka saat Residen van den Berg beserta keluarga, para prajurit, dan pejabat Belanda biasanya beristirahat demi menghindari terik matahari Pulau Saparua.

Strategi penyerangan ini dikerahkan Thomas Matulessy dalam dua lapis kekuatan. Barisan depan terdiri dari para Kapitan yang bersenjatakan Senapan lantak, Flintlock musket, & Karabin; senjata-senjata yang mereka miliki sejak berdinas di militer Inggris. Sementara itu, dari barisan belakang, rakyat dalam jumlah yang sangat besar menggunakan Parang Salawaku beserta Senjata tajam lainnya.

Begitu kedua lapis kekuatan ini merapat ke arah Benteng Duurstede, seketika pecahlah kekacauan hebat di area luar benteng. Suara teriakan, dobrakan pintu gerbang, serta amarah para kapitan yang mencoba menerobos masuk, baik melalui pintu maupun tembok-tembok benteng. Melihat kediaman mereka mulai dikepung orang pertama yang tewas adalah Bombardier Verhagen; ia tewas tersungkur dan terkapar di lantai benteng saat mencoba menghalangi para kapitan di depan pintu masuk.

Mendengar bunyi tembakan yang semakin ramai dan kacaunya keadaan, residen van den Berg yang diliputi kepanikan segera menaiki anak tangga di atas gerbang Benteng Duurstede untuk mengibarkan Bendera Putih, akan tetapi simbol menyerah itu tidak mampu meredam amarah dari rakyat. Terompet kerang (Tahuri) ditiup, Tifa dipukul, serta diiringi Tarian Cakalele yang menandakan pembalasan dendam dari rakyat yang tidak tertahankan lagi.[38]

Dalam keputusasaan, Johannes van den Berg terpaksa keluar untuk menghadapi para Kapitan. Ia sempat berdialog dengan mereka dan meminta maaf, namun ia ditembak; kali ini mengenai pahanya. Saat terkena tembakan Senapan lantak pertama, Residen van den Berg masih bertahan hidup. ia berupaya mundur dan menutup kembali pintu gerbang benteng, dengan napas tersengal-sengal ia lari menuju tembok bagian belakang benteng yang cukup dangkal agar segera melompat dan melarikan diri.

Namun, upaya van den Berg untuk menutup pintu gerbang sia-sia. Dengan kekuatan ribuan massa, rakyat berhasil mendobrak dan menerobos masuk ke dalam. Di dalam pelataran benteng, pecahlah pertempuran jarak dekat yang brutal; rakyat merangsek ke setiap sudut, melumpuhkan serta membantai seluruh prajurit beserta Pejabat Belanda yang mencoba melawan.

Benteng Duurstede di Saparua, karya Charles William Meredith van de Velde, 1844.

Pergerakan van den Berg yang berusaha kabur akhirnya terdeteksi oleh para Kapitan bersenjata, residen akhirnya dipukul menggunakan pangkal senjata di bagian kepala dan tersungkur jatuh tak berdaya, Residen kemudian diseret ke area terbuka di depan tiang Bendera Belanda yang terletak di sisi tengah bagian belakang Benteng Duurstede di mana rakyat telah berkumpul untuk menyaksikan jatuhnya simbol penjajahan di atas tanah Maluku.

Setibanya di depan tiang Bendera Belanda, Thomas Matulessy meminta kepada Guru Jemaat, Yakub sahetapy untuk berdoa kepada sang residen, sebelum Residen Saparua, Johannes Rudolph van den Berg, ditembak Berkali-kali hingga tewas.[39]

Dalam peristiwa bersejarah ini rakyat beserta para kapitan di bawah komando Thomas Matulessy telah berhasil merebut Benteng Duurstede dan membantai serta menewaskan hampir seluruh penghuni benteng. Total 40 korban yang mencakup Residen Saparua, Johannes Rudolph van den Berg, Istrinya Johanna Christina Umbgrove dan kedua anaknya Gerardus van den Berg dan si bungsu Rudolph van den Berg, 1 orang administrator, 17 prajurit yang terdiri dari tentara Eropa dan Pribumi beserta 18 tenaga kerja lokal di Benteng Duurstede.[40]

Peristiwa penguasaan Benteng Duurstede oleh rakyat dan pasukan Thomas Matulessy juga berhasil merampas aset prajurit Belanda di Benteng yang meliputi puluhan Meriam, ratusan Senapan lantak (musket), serta stok Mesiu dan Amunisi dalam jumlah besar. Mereka juga menemukan ratusan senjata tajam standar eropa seperti Pedang dan Bayonet, serta persediaan Tombak cadangan yang kemudian dibagikan kepada para pejuang untuk meningkatkan daya gempur pasukan infanteri rakyat.

Dari sisi logistik, kemenangan ini memberikan akses terhadap gudang bahan pangan berisi Ikan asin, Ikan kering, Daging sapi kering (dendeng), Kopi & Beras.

Pasukan perlawanan juga menyita uang kas beserta koin emas (gouden dukaat) dan perak (gulden) dalam jumlah besar beserta dokumen administratif milik pemerintah Belanda. Temuan berharga dari Benteng Duurstede ini direncanakan oleh Thomas Matulessy untuk segera mendanai operasional perang serta mengatur pertukaran informasi penting antar-negeri, termasuk menggerakkan Jaringan informasi rakyat dan para pengintai.

Selain itu, dana tersebut dialokasikan kepada para raja dan patih di berbagai negeri untuk memobilisasi pemuda menjadi pasukan, serta membiayai para kurir yang menyeberangi lautan menuju Pulau Haruku dan Ambon demi mengoordinasikan blokade transportasi laut terhadap Belanda untuk mengantisipasi kemungkinan serangan balik dari Belanda.

Selain itu uang tersebut digunakan untuk menyokong sistem logistik rakyat dengan menjamin ketersediaan bahan pangan dan perlengkapan bagi ribuan pejuang yang berkumpul di Saparua. Dana ini juga berfungsi sebagai modal politik untuk menjalankan roda pemerintahan darurat di wilayah yang telah dibebaskan, sehingga perlawanan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga terorganisir secara administratif melalui kerja sama antar-pemimpin di Kepulauan Maluku.

Seorang warga kemudian menemukan sepucuk surat dari Residen Saparua, Johannes Rudolph van den Berg. Surat tersebut tampaknya ditulis untuk meminta bantuan, namun tidak sempat terkirim. Catatan yang ditemukan belakangan itu menyatakan:

“Sergeant komt spoedig cito met 12 man met scherp geladen, om mij te verlossen, alles is in oproer” van den Berg.

Terjemahan Bebas:

"Sersan segera datang dengan 12 orang Bersenjata tajam, untuk menyelamatkan saya, semuanya dalam kekacauan" van den Berg.[41]

Surat darurat Residen van den Berg hampir dipastikan ditujukan kepada Sersan di pos DELF, negeri Porto, sebagai satu-satunya bantuan militer terdekat yang ia harapkan. Namun, perintah tersebut tidak pernah tersampaikan karena Residen tewas di Benteng Duurstede.

Sementara itu, sersan beserta seluruh pasukannya di Porto juga telah tewas dalam serangan serentak yang dilancarkan oleh penduduk Haria dan Porto. Perlawanan rakyat tersebut diakhiri dengan penghancuran total Pos DELF di negeri Porto, yang memastikan jalur bantuan taktis bagi Belanda terputus sepenuhnya.[41]

Jean Lubbert van den Berg

Jean Lubbert van den Berg, diserahkan oleh seorang pria lokal salah satu pengikut Pattimura dan Maria Pattiwael, kepada Letnan Laut, Quirijn Maurits Rudolph Ver Huell 1817.

Jean Lubbert van den Berg, putra tertua Residen yang berumur lima tahun, adalah satu-satunya orang Belanda yang selamat. Warga menemukannya di dalam Benteng Duurstede pada Jumat, 16 Mei 1817 saat hendak memakamkan jasad para korban, anak lelaki residen tersebut ditemukan bersembunyi di balik tumpukan beras dalam keadaan yang sangat ketakutan dengan sebelah telinga berdarah, hilang tertebas pedang, warga menemukannya karena terdengar suara tangisan di dalam gudang beras.

Kabar penemuan anak ini langsung disampaikan warga kepada Thomas Matulessy. Meski banyak massa yang menghendaki agar anak itu dibunuh, tetapi Thomas Matulessy ingin agar Jean tetap hidup dan mempercayakannya kepada Arnold Pattiwael, yang kemudian diserahkan kepada kakaknya, Salomon Pattiwael (belakangan menjadi Raja Tiouw).

"Setelah perang berakhir, anak ini akan dikenal namanya sebagai Jean Lubbert van den Berg van Saparua dan dipulangkan kepada keluarganya melalui Kapten Kapal Eversten, Q.M.R Ver Huell, Ucap Thomas Matulessy kepada Salomon Pattiwael."

Ketika Jean Lubbert diserahkan kepada Salomon Pattiwael, atas permintaan Salomon dan istrinya, Putra Residen van den Berg tersebut agar segera disembunyikan di Hutan Rila, Negeri Saparua. Dan Selama masa persembunyiannya, Jean Lubbert diasuh dan dirawat oleh Maria Pattiwael, Putri dari Salomon Pattiwael sebelum nantinya diserahkan kepada Letnan laut Q.M.R. Ver Huell. [42]

Kehancuran Ekspedisi Mayor Beetjes di Pantai Waisisil

Menanggapi surat tertanggal 13 Mei 1817 dari Johanna Christina Umbgrove yang baru sampai ke meja Gubernur Maluku pada tanggal 17 Mei 1817 yang mengabarkan penangkapan dan ancaman pembunuhan terhadap suaminya oleh penduduk di Negeri Haria dan Porto, Pemerintah Belanda di Ambon terkejut dan menyadari situasi di Saparua sudah di ambang kehancuran. Tanpa mengetahui bahwa pada tanggal 15 Mei 1817 Benteng Duurstede sebenarnya sudah jatuh ke tangan rakyat, Gubernur Jan Ariën van Middelkoop segera mempersiapkan dan menghimpun kekuatan besar prajurit untuk ntuk memulihkan keadaan di Saparua.

Setelah tiga hari masa persiapan yang sangat sibuk di Kota Ambon, tepat pada hari Selasa, 20 Mei 1817, pemerintah Belanda mengerahkan 300 personel yang terdiri dari satu orang komandan tertinggi berpangkat Mayor, 2 orang Kapten, 3 orang Letnan, 9 orang bintara, serta didukung oleh 285 orang prajurit. Ekspedisi ini dipimpin langsung oleh seorang perwira berpangkat Mayor yang bernama, Pioneer Pieter Jacobus Beetjes (Mayor Beetjes). Dalam ekspedsi ini menggunakan Kapal Evertsen dan Nassau.

Meskipun Belanda memiliki kapal seperti Evertsen dan Nassau, mereka kekurangan perahu untuk mendarat ke pesisir atau bergerak dari pulau ke pulau di perairan dangkal. Kapal besar seperti Evertsen dan Nassau tidak bisa merapat sampai ke tepi daratan karena risiko kandas, untuk memindahkan ratusan prajurit dari kapal ke daratan, mereka membutuhkan Arumbai (perahu kecil/sedang). Perjalanan mereka sangat menyedihkan, di Ambon, Beetjes telah berupaya mencari bantuan dari satu negeri ke negeri lainnya, namun tidak ada satu pun negeri yang bersedia menyerahkan perahu-perahunya untuk mengangkut prajurit Beetjes.[43]

Mayor Beetjes akhirnya bertolak menuju Pulau Haruku dengan menggunakan kapal Evertsen dan Nassau. Setelah bersusah payah menembus cuaca buruk, mereka akhirnya tiba di perairan Haruku dimana terdapat Benteng Nieuw Zeelandia. Beetjes pun terus berupaya menghimpun armada pendukung dari tiap Negeri, namun upaya tersebut sia-sia karena tidak ada satupun negeri yang mau menyerahkan perahu-perahu untuk mereka.

Dengan susah payah, pada akhirnya Residen Uitenbroek yang ditugaskan mengatur logistik & perahu untuk ekspedisi Mayor Beetjes berhasil memperoleh satu kruis arumbai (Perahu berukuran Besar) dan enam arumbai (Perahu berukuran Sedang) yang hanya mampu untuk mengangkut sekitar 100 prajurit yang rata-rata satu perahu hanya hanya mampu menapung sekitar 16 hingga 17 prajurit.

Satu kruis arumbai merupakan aset milik pemerintah Belanda atau "perahu dinas" residensi yang memang disiagakan untuk keperluan patroli sementara enam arumbai lainnya yang berhasil Uitenbroek kumpulkan, diambil secara paksa dari nelayan serta penduduk di negeri yang sudah terisolasi oleh tentara Belanda, sehingga mereka tidak bisa menolak perintah Residen.[44]

Mayor Beetjes akhirnya meninggalkan Pulau Haruku dan bertolak menuju Pulau Saparua, dalam perjalanan menuju Pulau Saparua, Mayor Beetjes sempat mempertimbangkan Pelabuhan Porto sebagai titik pendaratan utama. Namun, ia membatalkan niat tersebut karena menyadari bahwa merapat di dermaga Porto hanya akan menjadikan kapal Evertsen dan Nassau sasaran empuk serangan serentak dari rakyat yang mungkin telah disiagakan untuk menjaga perairan tersebut.

Situasi semakin sulit bagi Beetjes ketika cuaca memburuk. Hantaman angin barat memicu ombak dahsyat dari arah Laut Banda, sehingga ia harus segera mencari tempat pendaratan yang lebih tenang. Demi menghindari risiko hantaman pasukan rakyat di Pelabuhan Porto sekaligus mencari perlindungan dari alam, Beetjes akhirnya merencanakan untuk mendaratkan prajuritnya di Pantai Waisisil, sebuah pesisir di sebelah Barat Laut Benteng Duurstede.

Beetjes memilih Pantai Waisisil karena posisi tersebut berada di luar sudut tembak utama Benteng Duurstede. Kemudian ia berencana membuang jangkar di ujung perairan Tanjung Paperu, sebuah semenanjung yang menonjol ke Teluk Saparua. Posisi ini dipilih sebagai titik lindung alami karena letaknya yang berada di sebelah barat daya Benteng Duurstede. Dengan jarak sekitar 4,2 kilometer, tepat di luar jangkauan efektif peluru meriam Benteng Duurstede yang saat itu hanya berkisar antara 1,5 hingga 3 kilometer.

Ia tidak berani mendekatkan kapal-kapal ke ke sisi tengah teluk Saparua karena menganggap hal itu sebagai tindakan bunuh diri; armada Belanda bisa hancur seketika oleh meriam benteng.

Kekhawatiran ini muncul setelah ia mempertimbangkan selisih waktu antara surat Johanna Christina Umbgrove tertanggal 13 Mei 1817 dengan ekspedisinya yang baru terlaksana pada 20 Mei 1817, ia menyadari bahwa bantuan tersebut mungkin saja sudah terlambat, dan jika Residen van den Berg benar-benar telah gugur di tangan penduduk Haria dan Porto, maka Benteng Duurstede hampir dipastikan sudah jatuh ke tangan rakyat.

Beetjes memilih posisi jangkar tersebut demi mengamankan Kapalnya, meskipun ia tahu bahwa prajurit yang nantinya diturunkan ke perahu menuju Pantai Waisisil tetap akan berada di bawah bayang-bayang ancaman maut meriam musuh dari arah Benteng Duurstede.

Ekspedisi Mayor Beetjes mulai tampak di kejauhan, mendekati Pulau Saparua. Kabar ini dengan cepat sampai ke telinga Thomas Matulessy melalui Jaringan informasi rakyat dalam jumlah besar yang ia kerahkan. Para pengintai yang telah disiagakan di titik strategis, termasuk Pelabuhan Porto, terus memberikan laporan terkini mengenai pergerakan kapal musuh.

Pengalaman militer Thomas Matulessy sebagai mantan Sersan Mayor di Angkatan Darat Britania Raya membuatnya sangat paham bahwa akurasi informasi dan koordinasi adalah landasan utama kemenangan.

Thomas Matulessy berhasil memastikan Belanda gagal mendapatkan bantuan transportasi dengan menggerakkan solidaritas rakyat. Melalui para kurir yang ia kerahkan sejak 15 Mei 1817, bertepatan dengan jatuhnya Benteng Duurstede, ia menginstruksikan setiap negeri di Pulau Ambon dan Haruku agar tidak membiarkan satu pun perahu jatuh ke tangan Belanda. Thomas juga telah memperhitungkan bahwa perahu yang berhasil dikumpulkan Belanda hanyalah hasil rampasan dalam jumlah kecil, sehingga pasukan Beetjes terpaksa melakukan pendaratan secara bertahap. Dengan strategi ini, pasukan musuh tidak dapat mendarat secara serentak, sehingga lebih mudah untuk dilumpuhkan.

Berdasarkan analisis medan yang akurat, Thomas Matulessy meyakini bahwa Kapal-kapal milik Belanda tidak akan berani merapat ke pelabuhan utama di Negeri Porto. Karena ia paham bahwa mendekati dermaga Porto hanya akan membuat armada musuh menjadi sasaran empuk serangan serentak dari rakyat yang telah ia siagakan untuk menjaga perairan tersebut. sehingga ia memprediksi Belanda pasti akan mencari titik pendaratan lain guna menghindari konfrontasi terbuka dengan rakyat yang sudah bersiaga penuh di sepanjang dermaga.

Secara taktis, Thomas telah membedah setiap kemungkinan langkah musuh. Ia yakin Belanda akan memprioritaskan wilayah perairan Tanjung Paperu sebagai titik pendaratan yang dianggap terlindung dari sudut tembak meriam Benteng Duurstede agar kapal-kapal mereka tetap aman. Thomas juga memperhitungkan bahwa prajurit Belanda tidak akan berani mengambil risiko mendarat di area berkarang yang tajam dan pasti akan mencari pesisir pantai yang berpasir untuk menurunkan para prajurit. Maka ia berkesimpulan bahwa Belanda akan mendaratkan prajuritnya secara bertahap di Pantai Waisisil.

Memanfaatkan momentum tersebut, Thomas Matulessy segera membentuk pasukan inti yang dibagi ke dalam dua tugas strategi. Pasukan pertama, di bawah komando Anthone Rhebok, terdiri dari mantan prajurit Inggris dengan kemahiran tinggi dalam mengoperasikan meriam besi. Mereka ditempatkan di Benteng Duurstede dan diperintahkan untuk menahan tembakan meriam hingga perahu lawan masuk ke dalam jarak tembak yang akurat.

Sementara itu, Thomas Matulessy memegang komando tertinggi atas pasukan kedua yang dipimpin oleh Philips Latumahina. Pasukan ini ditugaskan untuk mengatur pertahanan di balik rapatnya hutan mangrove di sepanjang Pantai Waisisil, menunggu hingga musuh berada dalam posisi terjepit. Untuk mendukung strategi ini, Thomas Matulessy membekali pasukan Philips Latumahina dengan kombinasi senjata mematikan: perpaduan antara Senjata modern hasil rampasan dari Benteng Duurstede seperti ratusan Senapan lantak (musket), Pedang, dan Bayonet dengan senjata tradisional Maluku berupa Tombak dan Parang Salawaku.

Serangan yang dirancang secara terstruktur ini bertujuan untuk memastikan prajurit Belanda terkunci dalam koordinasi serangan dua arah: gempuran Meriam Besi yang terukur dari arah Benteng Duurstede dan tembakan secara tersembunyi di balik rimbunya pohon mangrove beserta sergapan pasukan yang akan mengejutkan musuh dari balik Hutan mangrove.

Ilustrasi Proses penurunan 100 prajurit Beetjes dan 6 arumbai secara bertahap dari atas Kapal Eversten dan Nassau (1817) di wilayah perairan tanjung Paperu menuju Pantai Waisisil sebelum arumbai beserta prajurit Beetjes di hantam peluru meriam secara total oleh Pasukan Anthone Rhebok dari arah Benteng Duurstede. Karya Quirijn Maurits Rudolph Ver Huell.

Saat Kapal-kapal Belanda membuang jangkar di perairan tanjung Paperu, operasi pendaratan pun dimulai. Sebanyak 100 prajurit diperintahkan Mayor Beetjes untuk diturunkan ke atas arumbai-arumbai, bergerak perlahan menuju Pantai Waisisil. sementara 200 personel lainnya termasuk Mayor Beetjes bersiaga menunggu giliran jemputan berikutnya.

Namun, di atas menara Benteng Duurstede, mulut-mulut meriam telah siaga membidik ke arah laut. Pasukan Anthone Rhebok di Benteng Duurstede membiarkan perahu-perahu pendarat itu melaju hingga memasuki jarak tembak paling mematikan, di mana posisi mereka terjepit dan tidak mungkin berbalik arah. Seketika kesunyian pecah, bola-bola besi menghujam tepat sasaran, menghancurkan seluruh arumbai beserta seluruh prajurit.

Dari atas kapal, Mayor Beetjes menyaksikan dengan ngeri bagaimana para prajuritnya musnah tanpa sisa sebelum sempat menginjakkan kaki di pesisir pantai. Melihat pembantaian total itu, Mayor Beetjes beserta prajurit yang masih tertahan di atas kapal Evertsen dan Nassau didera kepanikan luar biasa. Mereka hanya bisa menunggu dengan tegang hingga gempuran dari benteng benar-benar berhenti.

Begitu dentuman mereda dan persediaan Amunisi meriam dari arah Benteng Duurstede dianggap telah terkuras habis, Mayor Beetjes segera mengambil keputusan cepat. Ia mengerahkan satu unit kruis- arumbai (Perahu berukuran Besar) yang mampu mengangkut 141 personel termasuk dirinya, sementara 59 personel lainnya diperintahkan untuk menunggu giliran jemputan berikutnya.[45]

Namun, Mayor Beetjes beserta prajuritnya tidak menyadari bahwa wilayah yang mereka anggap aman itu sebenarnya adalah jebakan maut. Di balik rimbunnya Hutan Mangrove yang lebat, pasukan Thomas Matulessy dan Philips Latumahina telah bersiap dalam kesunyian yang mencekam. Mereka memantau dengan sabar hingga perahu besar itu masuk sepenuhnya ke dalam jarak tembak yang mematikan, Thomas Matulessy dan Philips Latumahina beserta seluruh pasukan membiarkan musuh merasa seolah-olah pendaratan mereka tidak terdeteksi.

Ilustrasi Pertempuran di Pantai Waisisil (1817): Menggambarkan taktik penjepitan yang dilakukan pasukan Thomas Matulessy dan Philips Latumahina. Setelah menghujani musuh dengan tembakan dari balik hutan mangrove, para pejuang menyerbu ke pesisir untuk menyapu bersih sisa prajurit Mayor Beetjes dalam pertempuran jarak dekat. Karya Quirijn Maurits Rudolph Ver Huell.

Tepat saat perahu hampir menyentuh Bibir pantai, kesunyian itu pecah oleh rentetan tembakan serentak dari balik pepohonan. Pasukan Thomas Matulessy dan Philips Latumahina menghujani seluruh isi Kruis Arumbai dengan peluru Senapan lantak tanpa ampun. Mayor Beetjes yang berdiri di posisi komando tewas seketika, disusul oleh gugurnya sebagian besar prajurit lainnya. Mereka yang selamat terjatuh dan berlarian dalam kondisi hancur berantakan, para prajurit kehilangan kepemimpinan dan tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk membalas serangan.

Tak membiarkan sisa musuh mencari perlindungan, dengan segera Thomas Matulessy memerintahkan pasukan Tombak untuk menyisir pantai dan menutup semua celah pelarian ke arah hutan. Saat melihat barisan pertahanan Belanda telah hancur berantakan dan persediaan amunisi senapan lantak pasukannya mulai menipis, Thomas Matulessy segera memberikan perintah pamungkas kepada pasukan Philips Latumahina untuk melancarkan serangan jarak dekat guna menyapu bersih lawan yang tersisa.

Para pejuang keluar dari rimbunnya Hutan Mangrove sambil mengayunkan Parang Salawaku, Pedang, serta Bayonet. Dengan semangat tempur yang membara, mereka menyerbu masuk ke jantung pertahanan lawan dan memaksa prajurit Belanda terlibat dalam pertempuran satu lawan satu yang brutal. Pertempuran sengit ini terus berkecamuk hingga akhirnya prajurit Belanda mengalami kekalahan total di pesisir Pantai Waisisil.[46]

Serangan terpadu ini berhasil mengakhiri Ekspedisi Mayor Beetjes di Pantai Waisisil. Keunggulan medan serta kemahiran pasukan di bawah komando Thomas Matulessy dan di bawah pimpinan Philips Latumahina membuat lawan terjebak dalam kehancuran total. Sementara itu, dari kejauhan, 59 personel yang masih tertahan di atas kapal hanya bisa menyaksikan dengan ngeri barisan tempur mereka yang dilumpuhkan secara total tanpa berbuat apa-apa.[47]

Sebagaimana dipaparkan oleh Ben van Kaam dalam bukunya, Ambon door de eeuwen (1977) di Baarn, Belanda, ekspedisi Mayor Beetjes berakhir tragis. Dari 300 personel yang dikerahkan, 241 di antaranya tewas melalui dua tahap pembantaian yang mengerikan: 100 prajurit pertama musnah di laut akibat hantaman meriam dari Benteng Duurstede, Sedangkan 141 personel lainnya, termasuk Mayor Beetjes, tewas dibantai di pesisir Pantai Waisisil setelah terjebak strategi penjepitan pasukan Pattimura. Sementara 59 personel yang selamat segera mundur menyelamatkan diri ke Pulau Haruku, Negeri Suli, dan Ambon.[48]

Kemenangan gemilang pasukan Thomas Matulessy seketika mengobarkan semangat perlawanan rakyat Maluku di hampir seluruh kepulauan rempah-rempah. Dengan semangat yang membara, Thomas Matulessy berencana menggelar pertemuan besar di Rumah Adat Baileo, Negeri Haria, yang akan dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1817 untuk mengukuhkan persatuan para pemimpin rakyat dan menandatangani Proklamasi Haria dan Keberatan Hatawano guna menentang kekuasaan Belanda. [49]

Proklamasi Haria dan Upaya Merebut Benteng Nieuw Zeelandia

Rumah Adat Baileo Negeri Haria, Saparua, Maluku Tengah, merupakan tempat pelaksanaan Rapat Umum 9 Mei 1817 sekaligus lokasi pembacaan Proklamasi Haria dan Keberatan Hatawano pada 29 Mei 1817.[44]

29 Mei 1817, Thomas Matulessy menugaskan Melchior Kesaulya untuk menyusun dua dokumen penting, yakni keberatan Hatawano yang berisi daftar penderitaan rakyat dan naskah proklamasi Haria yang berisi sumpah perjuangan melanjutkan penyerangan ke Benteng Nieuw Zeelandia di pulau Haruku.

Kedua dokumen ini kemudian dibacakan di hadapan 21 Raja-Patih, para kapitan dan rakyat yang hadir dalam sebuah pertemuan di rumah adat Baileo, Negeri Haria, Pulau Saparua. Pertemuan ini disebut sebagai rapat raksasa karena dihadiri oleh ribuan rakyat serta para pemimpin adat untuk menyaksikan pembacaan serta penandatanganan dokumen tersebut. Akhirnya, naskah disahkan melalui tanda tangan 21 Raja-Patih sebagai bukti persatuan Maluku.[50]

Melchior Kesaulya diangkat oleh Thomas Matulessy sebagai salah satu komandan pasukan rakyat di pulau Haruku untuk merebut Benteng Nieuw Zeelandia di bawah pimpinan Kapitan Lukas Selanno yang dibantu oleh Kapitan Lukas Lisapaly alias Kapitan Aron. sementara Abraham Hukom, kapitan dari Negeri Titawaay 'Lesinusa Amalatu', turut mengobarkan perlawanan di wilayah haruku.[51]

1 juni 1817, serangan berturut-turut dilancarkan ke arah benteng Nieuw zeelandia namun upaya tersebut gagal karena prajurit belanda di Benteng Nieuw Zeelandia semakin kuat berkat datangnya bala bantuan militer dari Kota Ambon. prajurit belanda yang datang dengan peralatan perang yang lengkap kemudian menyerang dan menghujani pasukan Pattimura dengan peluru serta meriam, akibatnya, upaya pengepungan gagal dan pasukan Pattimura terpaksa ditarik mundur, sementara kedudukan Belanda di Benteng Nieuw Zeelandia menjadi semakin kuat.[52]

Keberatan Hatawano beserta Surat dari Thomas Matulessy

Kembali ke persoalan Arumbai di Negeri Porto pada 13 Mei 1817; peristiwa tersebut sebenarnya hanyalah puncak dari kekecewaan rakyat terhadap berbagai kebijakan Gubernur Maluku dan Residen Saparua. Jan Boelan, seorang perwira Angkatan Laut di kapal Maria Reigersbergen yang ikut dalam ekspedisi ke Pulau Saparua, mencatat detail peristiwa tersebut.

Memasuki pertengahan bulan Juli, tepatnya pada 14 Juli 1817, diadakannya pertemuan antara delegasi kapal Maria Reigersbergen yaitu Letnan Ellinghuizen dan Christiaansen dengan beberapa pemimpin rakyat di negeri Hatawano (Saparua). Tujuan kedatangan Letnan Ellinghuizen dan Christiaansen adalah untuk menggali alasan di balik perlawanan rakyat yang pecah di pulau saparua.

Ada tiga hal yang terungkap:

1. Setiap bentuk keluhan atau protes masyarakat terhadap kebijakan Residen van den Berg dijawab dengan intimidasi militer dan kekerasan fisik, bukan melalui dialog.

2. Residen Saparua tidak menerima pembayaran uang kertas;

3. warga menginginkan seorang Pendeta Karena Setelah masa transisi dari Inggris kembali ke Belanda, banyak jabatan pendeta di jemaat-jemaat lokal kosong karena pemerintah Belanda tidak segera mengirimkan penggantinya dari Eropa atau Batavia. Pelayanan sehari-hari hanya dijalankan oleh Guru Jemaat. Padahal, dalam aturan gereja saat itu, Guru Jemaat tidak memiliki wewenang untuk melakukan sakramen penting seperti pembaptisan dan pemberkatan pernikahan. Terdapat 3 Guru jemaat yang bertugas di Pulau Saparua, H. Rissakotta ditugaskan di Porto, Suterdeik ditugaskan di Haria dan Yakub Sahetapy yang bertugas di Saparua. Ketika Belanda kembali, banyak sekolah negeri yang dibangun Pemerintah Inggris sebelumnya yang di bangun oleh Residen Ambon, William Byam Martin mengalami kerusakan dan terbengkalai. Rakyat mengharapkan pemerintah Belanda untuk memperbaiki dan mengaktifkan kembali sekolah-sekolah ini. Namun semua itu diabaikan Residen van den Berg.

Akan tetapi, sesuai penelusuran van Doren, ada Tujuh poin pokok keberatan Masyarakat saat itu.

1. Belanda berusaha mengontrol organisasi keagamaan dan menempatkan pemuka agama yang hanya tunduk pada kemauan pemerintah. Hal ini membuat rakyat merasa ibadah mereka tidak lagi murni tapi disetir oleh kepentingan politik.

2. Ketidakpuasan masyarakat terhadap peredaran uang kertas yang diperkenalkan pemerintah Belanda.

3. Setelah uang kertas diedarkan, Residen Saparua menolak untuk menerima uang kertas, tetapi meminta Koin Emas (Gouden Dukaat) & Perak (Gulden) untuk pembayaran Kepada negara.

4. Residen mengancam akan mengirim mereka ke Batavia sebagai tawanan jika menolak, tetapi akan dibebaskan jika memberikan Koin Emas & Perak.

5. Residen meminta masyarakat menyerahkan surat izin kepemilikan kebun Cengkih dan Pala untuk diperiksa. Namun, setelah surat-surat tersebut dikuasainya, ia menolak mengembalikannya kecuali masyarakat membayar tebusan sebesar 50 Spanyol Dolar perak atau 60 Gulden.

6. Masyarakat harus memberikan Garam Laut, Ikan asin, Ikan Kering, Daging Sapi Kering (Dendeng) & Kopi Kepada Residen Saparua tanpa bayaran atau menggunakan barter dengan kualitas barang yang sangat murah.

7. Semua tenaga kerja dan persediaan material, yang dulunya dibayar pemerintah Inggris, sekarang diambil oleh Negara tanpa Pembayaran.


Sementara itu, Kapten Kapal Evertsen, Qurinius Maurits Rudolph Verhuell, memiliki surat yang diteken sendiri oleh Thomas Matulessy, pada 12 Juli 1817 ditulis dalam Bahasa Melayu. Surat itu ditujukan kepada semua panglima yang menguasai pulau-pulau, tentang permintaan semua pulau dan mengenai perang dengan Kompeni. Kalau diterjemahkan bebas, kira-kira begini:

“Meskipun saya tidak tahu sedikit pun alasan dari apa yang terjadi pada peristiwa 15 Mei 1817. Semua Desa di pulau-pulau mengumpulkan orang-orang untuk mengambil sumpah. Saya tidak tahu apa yang mereka inginkan. Setelah semua bergabung, kemudian mereka bersepakat untuk tidak menuruti Perintah Residen, karena Residen telah menindas dan memaksa mereka dengan berbagai cara, tanpa menerima imbalan apapun atas pekerjaan mereka untuk mendukung penghidupan Mereka. Oleh karena itu pada hari ke-14 tersebut mereka mengikatkan diri dengan sumpah.

Kemudian mereka berkata kepada orang-orang di dua negeri, kalau mereka tidak menenggelamkan Arumbai, Negeri mereka akan hancur. Kemudian, warga dari dua Negeri menenggelamkan Arumbai, sehingga tidak berangkat ke Ambon pada hari yang sama. Para kepala, yang memimpin mereka, yang telah pergi membawa kedamaian bagi Kompeni, tidak tahu alasan perang saat ini, oleh karena itu surat-surat Kompeni, yang ditulis untuk orang-orang di pulau, tidak dipahami. Untuk itu, saya telah meminta informasi kepada para Pemimpin, dan mereka telah menjawab, bahwa mereka berharap saya akan menyelidiki sendiri.

Saya mengatakan bahwa perang telah datang karena kebencian musuh kita. Kemudian mari kita pergi dan menemukan musuh-musuh itu, dan bagaimana kita bisa melakukannya, ketika kita mendengarkan Nubuat tentang perdamaian. Untuk ini mereka menjawab, apakah itu damai atau perang, kita akan tetap mati. Mungkin Tuhan telah memberikan perang ini di pulau-pulau, karena mereka pantas mendapatkannya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melanjutkan perang itu.

Saparua, 12 Juli 1817, Thomas Matulessy.”

Di sini tampak kalau Thomas Matulessy memahami detail persoalan arumbai di Porto. Namun mengetahui keluhan dari penduduk pulau-pulau terhadap perlakuan buruk pemerintah Belanda.

Thomas Matulessy juga tampak mempertimbangkan peperangan, karena di satu sisi ada ajaran mengenai kedamaian dalam agama Kristen Protestan yang dianutnya. Namun, rupanya perang ini disikapi sebagai Kehendak Tuhan.

Keinginan akan adanya seorang pendeta, juga disampaikan Thomas Matulessy kepada Taruna di Kapal Maria Reigersbergen, Feldman yang diutus untuk turun ke darat menyampaikan pesan Gencatan Senjata kepada Thomas Matulessy.

Feldman bersama dengan Thomas Matulessy masing-masing menunggangi kuda saat melakukan perjalanan dari Benteng Duurstede menuju ke Negeri Haria (kediaman Thomas Matulessy) guna membahas lebih lanjut mengenai tawaran damai atau gencatan senjata. Di sepanjang perjalanan, Feldman mengisahkan kepada Thomas Matulessy bahwa ayahnya adalah seorang pendeta.

“Jika ayahmu adalah seorang pendeta, kamu harus memintanya untuk datang ke sini (Honimoa/Saparua),” ucap Thomas Matulessy kepada Feldman, seperti yang dicatat oleh Jan Boelan, seorang perwira yang juga merupakan rekan dari Feldman, dalam buku hariannya. Ia menuliskan bahwa Feldman adalah orang Denmark yang fasih bahasa setempat, sehingga dipercaya mengemban misi menyampaikan pesan gencatan senjata kepada Thomas Matulessy.

Namun 22 Juli 1817, Thomas Matulessy mengirim surat ke Kapal Maria Reigersbergen, isi pesan tersebut di baca oleh Letnan Laut Groot yang menyatakan:

“Setuju untuk gencatan senjata tetapi kami tidak dapat berdamai.” Surat dari Thomas Matulessy ini tidak pernah mendapat balasan lagi.[53]

Pengkhianatan & Penangkapan Thomas Matulessy

Pemerintah Belanda mengalami kesulitan dalam menghadapi perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Thomas Matulessy sejak Mei hingga September 1817. Informasi mengenai Kematian Residen Saparua, Johannes Rudolph van den Berg beserta Kekalahan telak ekspedisi Mayor Beetjes di Saparua menggemparkan seluruh pemerintah Belanda di Ambon dan Batavia. Peristiwa ini merupakan kegagalan fatal bagi pimpinan di ambon sehingga memicu aksi saling tuduh dan menyalahkan. Tekanan tersebut akhirnya membuat Komisaris Pemerintah, Nicolaas Engelhard dan Gubernur Maluku, Jan Ariën van Middelkoop memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan mereka.

Menyikapi situasi tersebut, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron van der Cappelen, mengirim Komisaris Jenderal Arnold Adriaan Buyskes dari Batavia. untuk mengambil alih otoritas penuh atas seluruh Wilayah Maluku. Kedatangan Buyskes sekaligus bertujuan memecat Komisaris Pemerintah, Nicolaas Engelhard dan Gubernur Maluku, Jan Ariën van Middelkoop tetapi sebelum di lakukan pemecatan mereka sudah terlebih dahulu mengundurkan diri.

Laksamana Muda Buyskes tiba di Kota Ambon pada 30 September 1817 dengan Kapal Perang yang sangat besar ''Prins Frederik' di bawah komando Kapten van Senden. Kapal Perang yang dilengkapi 40 meriam besar membawa bala bantuan sebanyak 250 prajurit infanteri dari Batavia, kekuatan tempur tersebut diperkuat dengan tambahan 160 prajurit dari Ambon, sehingga total kekuatan yang dikerahkan mencapai 410 personel.

Guna melancarkan operasi penaklukan Pulau Saparua, kapal tersebut beserta seluruh prajuritnya diserahkan di bawah komando Mayor Meijer sebelum melakukan penyerangan utama ke Saparua, Mayor Meijer mengerahkan 250 prajurit untuk menyisir dan meredam perlawanan di Pulau Ambon, Haruku dan Seram setelah operasi penyisiran selesai dan sebagian prajurit ditempatkan untuk menjaga wilayah yang telah dikuasai, kendali penuh atas armada dan sisa prajurit difokuskan untuk penaklukan Pulau Saparua.

Kekuatan tempur yang dikerahkan terdiri dari 160 prajurit. Untuk memastikan efektivitas serangan, pasukan ini dibagi ke dalam tiga divisi guna melakukan pengepungan serentak dari berbagai arah.

Serangan pertama dengan skala besar dimulai dengan menghancurkan pertahanan rakyat di Negeri Porto dan Haria, yang disusul dengan keberhasilan menduduki kembali Benteng Duurstede. Dari titik tersebut, prajurit Meijer bergerak menyisir Negeri Tiouw, Siri-Sori Kristen, dan Siri-Sori Islam. Operasi militer ini mencapai puncaknya dengan serangan ke Negeri Ullath dan Ouw. Jatuhnya Ullath dan Ouw menandakan berakhirnya perlawanan rakyat secara terorganisir di selatan Pulau Saparua. [54]

Walaupun Pulau Saparua telah berhasil ditaklukan, Pemerintah Belanda masih saja kewalahan oleh kecerdikan Thomas Matulessy yang Pandai berpindah-pindah tempat. Bahkan Pemerintah Belanda akan memberikan Hadiah sebesar 1.000 Gulden kepada pihak yang berhasil menangkap Thomas Matulessy.

11 November 1817 Akibat pengkhianatan yang dilakukan seorang raja, Belanda mengetahui tempat persembunyian Thomas Matulessy dan Pemerintah Belanda memerintahkan Letnan Veerman untuk menangkap Thomas Matulessy.[55]

12 November 1817 pada malam hari, Thomas Matulessy dan pasukannya sedang berdiam diri disebuah rumah ditengah hutan tempat persembunyian mereka. Tidak ada perbincangan apapun, mereka hanya diam termenung. Tiba-tiba terdengar keramaian diluar dan pintu terbuka oleh tendangan seseorang. Beberapa pajurit Veerman merangsek masuk, mengarahkan senjata ke semua orang.

Letnan Veerman berteriak memberi perintah untuk menyerah, sambil mengarahkan senjatanya ke dada Thomas Matulessy. Kemudian masuk dan berteriak raja tersebut: “Thomas, menyerahlah engkau. Tidak ada gunanya melawan. Rumah ini sudah dikepung empat puluh serdadu yang siap menembak mati kalian.”

“Terkutuklah engkau, pengkhianat!” Geram Thomas Matulessy, seraya digiring keluar menuju Kapal Eversten yang akan diberangkatkan menuju Benteng Victoria, Kota Ambon.

Tidak disebutkan apakah raja tersebut mendapatkan imbalan atas pengkhianatannya itu. Namun alasan menjual informasi kepada Belanda karena dendam setelah Thomas Matulessy menurunkan posisinya sebagai pemimpin rakyat.[56]

Kabar penangkapan Thomas Matulessy tersiar ke seluruh pelosok Negeri dengan sangat cepat. Para pemimpin perang lain pun segera menjadi target perburuan. Sebagian memilih meletakkan senjata, tetapi sebagian lain memutuskan tetap berperang. Mereka tidak ingin nasibnya berakhir ditiang Gantung, dan terus melanjutkan perjuangan Thomas Matulessy.

Setibanya di Kota Ambon, Thomas Matulessy dan sejumlah Pejuang yang tertangkap di kurung dalam penjara Benteng Victoria. Selama di dalam penjara, mereka dinterogasi oleh Tentara Belanda. Namun Thomas Matulessy menutup rapat-rapat mulutnya sehingga tidak banyak informasi yang didapat Belanda.

12 Desember 1817, Para Tahanan dihadapkan di depan Ambonsche Raad van Justitie (Dewan Pengadilan Kota Ambon). Setelah melalui beberapa Sidang, Vonis pun dijatuhkan. Thomas Matulessy, Anthone Rhebok, Sayyid Perintah, Melchior Kesaulya dan Philips Latumahina mendapat hukuman paling berat sebagai Pemimpin Perang, yakni Hukuman Gantung.

13 Desember 1817 Vonis Hukuman Gantung disahkan oleh Laksamana Arnold Adriaan Buyskes dengan Surat Keputusan Nomor 129:Philips Latumahina, Nomor 130:Sayyid Perintah, Nomor 131:Anthone Rhebok, Nomor 132:Melchior Kesaulya dan Nomor 133:Thomas Matulessy.

Thomas Matulessy, Anthone Rhebok, Sayyid Perintah, Melchior Kesaulya dan Philips Latumahina mengisi hari-hari terakhir mereka menjelang ekseskusi dengan Renungan:

“Suatu malam penuh ketegangan dan perjuangan batin, Pikiran Kelima Pemimpin itu melayang-layang ke sanak saudara. "Kebebasan yang mereka ingini menyebabkan korban besar yang harus mereka berikan, Tetapi sekarang kembali mereka akan ditindas oleh Kaum Penjajah.”[57]

Thomas Matulessy dihukum Gantung

Benteng Victoria, Ambon, tempat Thomas Matulessy dan empat kapitan lainnya di hukum gantung[58]

Selasa, 16 Desember 1817, tibalah hari eksekusi. Pagi-pagi sekali, Lima orang Pemimpin itu telah diperintahkan untuk bersiap. tidak terlihat kecemasan di wajah Thomas Matulessy, Anthone Rhebok, Sayyid Perintah, Melchior Kesaulya dan Philips Latumahina karena sehari sebelumnya Para Pemuka Agama datang mengunjungi mereka dan semalaman menemani didalam sel sambil terus memanjatkan Doa.

Di lapangan depan Benteng Victoria, di pesisir Hunitetu, Kota Ambon. Tiang Gantung telah disiapkan. Para Algojo pun telah berdiri disamping tiang gantungan, menunggu korbannya tiba. Sejumlah besar Prajurit Belanda bersenjata lengkap dipersiapkan, baik di sekitar lapangan eksekusi maupun pantai untuk menghalau segala bentrokan yang mungkin terjadi. Rakyat Maluku pun telah berkumpul, berusaha melihat Para Pemimpin mereka untuk terakhir kalinya.[59]

Sekitar pukul Tujuh Pagi, Thomas Matulessy, Anthone Rhebok, Sayyid Perintah, Melchior Kesaulya dan Philip Latumahina tiba dengan tangan terikat serta penjagaan yang amat ketat.


Setelah mereka ditempatkan di depan Tiang Gantungan, Pemerintah Belanda masih menawarkan kerja sama sekali lagi kepada Thomas Matulessy tetapi di jawab dengan suara lantang di depan Para Hakim serta Algojo yang sedang menunggu eksekusi mereka.

" Beta akan mati tetapi akan bangkit Pattimura-Pattimura Muda yang akan meneruskan Beta punya perjuangan."[60]

yang diartikan ke dalam Bahasa Indonesia:

"Pattimura-Pattimura tua boleh dihancur-kan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit."

Mendengar pernyataan Thomas Matulessy tersebut, Seorang Petugas Letnan. I. Steenboom dari Eversten Pengadilan langsung membacakan Putusan Vonis Hukuman Gantung Dewan Hakim Pengadilan Kota Ambon di hadapan seluruh Masyarakat Maluku yang hadir:

"Zij zullen worden opgehangen tot de dood erop volgt, voltrokken door de beulen. Vervolgens zullen hun lijken naar buiten worden gebracht en opgehangen, opdat hun vlees ten prooi valt aan de lucht en de vogels, en opgehangen opdat hun beenderen tot stof vergaan, hetgeen dientengevolge een verschrikkelijke les zal zijn voor het nageslacht. Met uitzondering van Thomas Matulessy, die voor eeuwig zal worden opgehangen in een ijzeren kooi en, zelfs nadat hij tot stof is vergaan, vanwege zijn daden angst zal inboezemen."

Terjemahan Bebas:

“Mereka akan dihukum Gantung sampai mati, dilaksanakan oleh para Algojo. Kemudian mayat mereka akan dibawa keluar dan digantung agar daging mereka menjadi mangsa udara dan burung-burung, dan digantung agar tulang belulang mereka menjadi debu sehingga dengan demikian menjadi suatu pelajaran yang menakutkan bagi turun-temurun. Kecuali, Thomas Matulessy untuk selama-lamanya akan digantung didalam sebuah kerangkeng besi dan sekalipun telah menjadi debu, akan menimbulkan ketakutan karena perbuatannya.”[61]

Philips Latumahina menjadi yang pertama menaiki tiang gantung. Tali dipasangkan dan genderang dibunyikan. Namun sesaat kemudian ia terjatuh. Tali maut itu ternyata tidak mampu menahan beban Philipis Latumahina yang memang berbadan besar. Dengan susah payah, Algojo menyeretnya kembali ke depan Tiang Gantungan. Malang nasibnya, ia harus merasakan Tali Gantungan untuk kedua kalinya. Beberapa detik kemudian nyawa pun melayang.[62]

Setelah Latumahina, berturut-turut Sayyid Perintah dan Anthone Rhebok menaiki Tiang Gantung. Tidak perlu usaha dan waktu terlalu lama bagi algojo mengeksekusi keduanya. Setelah genderang dibunyikan, nyawa keduanya dengan cepat terlepas.

Selanjutnya, Melchior Kesaulya menjadi terpidana keempat yang menaiki tiang gantungan; empat orang pejuang telah berpulang.

Kini tibalah giliran Sang Panglima Tertinggi Maluku, Thomas Matulessy, menaiki tiang gantungan. Dari atas tempat eksekusi ia melihat puluhan musuh yang sangat ingin ia hancurkan sedang menyaksikannya. Sementara di kejauhan ia menatap Rakyat Maluku yang hendak ia bebaskan, meski Gagal.

Dengan langkah yang tegap, ia melangkah maju menuju tiang gantungan. Saat algojo memasangkan tali di lehernya, ia tetap tenang sambil mengarahkan pandangannya ke arah Hakim-Hakim Belanda, Sesaat Genderang di bunyikan, dengan suara tenang dan keras Thomas Matulessy mengucapkan kata-kata perpisahannya: "Selamat Tinggal, Toewan-toewan!".[57]

Alasan Thomas Matulessy tidak dimakamkan

Penyebab utama Thomas Matulessy tidak memiliki makam resmi berakar pada vonis hukuman gantung yang dijatuhkan oleh Ambonsche Raad van Justitie. Putusan yang dibacakan oleh Letnan I Steenboom tersebut secara tegas menyatakan bahwa Thomas Matulessy akan digantung di dalam kerangkeng besi untuk selama-lamanya agar sisa jasadnya yang telah menjadi debu tetap menyebarkan ketakutan.

Tindakan ini merupakan bagian dari tradisi hukuman bagi pelaku Crimen Laesae Majestatisatau pengkhianatan terhadap negara, di mana pemerintah Belanda sengaja menghilangkan jejak jenazah untuk mencegah makamnya dijadikan simbol perlawanan baru. Belanda berupaya menghapus sejarah dan memutus semangat perjuangan rakyat Maluku dengan memastikan tidak ada bukti fisik yang dapat dikeramatkan dan akan menimbulkan perdebatan kepada generasi mendatang. Akibatnya jenazah dari Thomas matulessy mungkin dibuang ke laut atau dimakamkan di lokasi tanpa tanda di sekitar area eksekusi.

Kebijakan penghilangan jejak ini tidak hanya menimpa Thomas Matulessy, tetapi juga berlaku bagi para kapitan pendukungnya, seperti Philips Latumahina, Sayyid Perintah, Anthone Rhebok & Melchior Kesaulya.[61]

Pahlawan dari staf inti Thomas Matulessy yang di hukum gantung

Philips Latumahina

Philips Latumahina Letnan orang Borgor dari Negeri Paperu, salah satu dari keempat pahlawan dalam perang Pattimura pada tahun 1817. Bersama Thomas Matulessy dan pasukan rakyat merebut benteng Duurstede pusat pertahanan Belanda di Saparua pada tanggal 15 Mei 1817 dan membantu Thomas dalam pertempuran melawan tentara Belanda di pantai Waisisil selain memimpin pertempuran, Philips bertugas sebagai koordinator massa yang menyusun barisan pasukan rakyat di area strategis untuk menyambut pendaratan ekspedisi Belanda yang dipimpin Mayor Beetjes. Philips juga ikut memimpin pertempuran-pertempuran di Saparua, Tiouw dan tempat-tempat pertempuran lainnya di Jasirah Hatawano dan Jasirah Tenggara (OuwUllath).

Pahlawan yang adalah staf inti Thomas Matulessy ini yang juga mantan pasukan "British Amboina Corps”. Philips Latumahina tertangkap pada tanggal 12 November 1817 oleh pasukan Letnan Veerman di Hutan Booi. Mereka ditahan dan diangkut dengan kapal “Eversten” menuju Kota Ambon. Pada tanggal 12 Desember 1817, Ambonsche Raad van Justitie (Pengadilan Belanda di Kota Ambon) menjatuhkan hukuman gantung terhadap Philips Latumahina. Vonis ini disahkan oleh Laksamana Buyskes dengan Surat Keputusan tanggal 13 Desember 1817 Nomor 129.

Pada tanggal 16 Desember 1817 pagi hari, Philips Latumahina menjalani hukuman gantung. Philips yang pertama-tama menaiki tiang gantungan. Ketika algojo melaksanakan tugasnya, Philips jatuh terpelanting karena tali gantungannya putus, sebab badannya besar, gemuk dan kuat. Dengan susah payah, dia diseret ke atas lagi kemudian dipasang lagi jerat yang baru maka beberapa saat kemudian pahlawan ini tewas.[63]

Sayyid Perintah

Sayyid Perintah (Sarasa Sanaky Tepasiwa) adalah raja pertama Negeri Siri Sori Islam dan memiliki marga Pattisahusiwa. Sayyid Perintah berperan penting dalam mengumpulkan para kapitan Maluku di Negeri Tuhaha. Penulis-penulis Belanda menulis nama Sayyid juga sebagai Sayat (Sayat Perintah). Sayyid Perintah ikut berjuang menentang Belanda dalam perang Pattimura 1817 Bersama Thomas Matulessy dan pasukan rakyat merebut Benteng Duurstede dan membantu Thomas Matulessy dalam pertempuran melawan tentara Belanda di pantai Waisisil di Saparua 20 Mei 1817, Sayyid yang sebagai raja juga menandatangani dua dokumen penting “Proklamasi Haria” dan "Keberatan Hatawano" 29 Mei 1817.

Pada tanggal 12 November 1817 Sayyid Perintah ditahan Oleh prajurit Letnan Veerman dan diangkut dengan kapal “Eversten” menuju Kota Ambon. Q.M.R. Verheul menulis bahwa Sayyid Perintah dihukum gantung pada pagi hari tanggal 16 Desember 1817 bersama keempat pahlawan lainnya yaitu Anthone Rhebok Kapten Borgor, Philip Latumahina Letnan Borgor, Melchior Kesaulya alias Pattisaha dan Thomas Matulessy alias Pattimura. Vonisnya disahkan Laksamana Buyskes dengan Surat Keputusan tanggal 13 Desember 1817 Nomor 130. Pada tanggal 16 Desember 1817 pagi hari, Sayyid Perintah menjalani hukuman gantung.[64]

Anthone Rhebok

Anthone Rhebok Kapten orang Borgor, Blasteran (Belanda-Maluku) salah satu dari keempat pahlawan dalam perang Pattimura 1817 yang dipimpin oleh Thomas Matulessy. Anthone Rhebok bersama Thomas Matulessy dan pasukan rakyat merebut Benteng Duurstede pada tanggal 15 Mei 1817. Sebagai mantan prajurit 'British Amboina Corps', Anthone Rhebok memiliki keahlian khusus dalam persenjataan berat dan memimpin pertempuran yang memegang komando kepada pasukan meriam untuk mengarahkan mulut-mulut meriam besi ke arah arumbai-arumbai dan menghancurkan 100 prajurit Beetjes sebelum para prajurit menyentuh pantai Waisisil. Anthone Rhebok juga diserahi tugas oleh Thomas Matulessy untuk mengatur pertahanan rakyat di Pulau Nusalaut dan merebut benteng Belanda yaitu Beverwijk di Sila Leinitu. Ia juga aktif di medan-medan pertempuran di Pulau Saparua dan sekitarnya.

Pahlawan dari staf inti Thomas Matulessy Kapitan Pattimura yang juga adalah mantan prajurit Inggris “British Amboina Corps” itu tertangkap bersama Patih Negeri Tiouw Jacobus Pattiwael pada tanggal 13 November 1817. Mereka diangkut dengan kapal “Maria Reigersbergen” menuju Kota Ambon. Anthone Rhebok mendapat hukuman mati gantung oleh Pengadilan Belanda Ambonsche Raad van Justitie. Laksamana Buyskes mengesahkan hukuman tersebut dengan Surat Keputusan tanggal 13 Desember 1817 Nomor 131. Pada tanggal 16 Desember 1817 pagi hari, Anthone Rhebok menjalani hukuman gantung.[64]

Melchior Kesaulya

Melchior Kesaulya yang namanya dieja sebagai Melojier Kesaulya alias Kapitan Pattisaha adalah raja Siri Sori Kristen yang diangkat Thomas Matulessy sebagai Kapitan. Melchior-lah yang menyusun dua dokumen penting “Proklamasi Haria" dan "Keberatan Hatawano" pada musyawarah besar di Baileo Negeri Haria tanggal 29 Mei 1817. Ia diangkat oleh Thomas Matulessy sebagai salah satu komandan pasukan rakyat di Pulau Haruku untuk merebut benteng Nieuw Zeelandia di bawah pimpinan Kapitan Lukas Selanno yang dibantu oleh Kapitan Lukas Lisapaly alias Kapitan Aron.

Ketiga kapitan ini pernah berdinas dalam kesatuan tentara Inggris yaitu “British Amboina Korps” di bawah pimpinan Sersan Mayor Thomas Matulessy. Pada akhir peperangan, Pada tanggal 12 November 1817 Melchior ditangkap dan diangkut dengan kapal “Evertsen” menuju Kota Ambon. Dia diputuskan mendapat hukuman mati gantung oleh Ambonsche Raad van Yustitie (Pengadilan Belanda di Ambon). Vonisnya disahkan Laksamana Buyskes dengan Surat Keputusan tanggal 13 Desember 1817 Nomor 132. Pada tanggal 16 Desember 1817 pagi hari, Melchior Kesaulya menjalani hukuman gantung.[65]

Obor Pattimura

Kisah perjuangan Kapitan Pattimura dirangkum dalam simbolisme "Tiga Obor" yang diawali oleh:

Obor Pertama: Air Mata, yang melambangkan pedihnya penderitaan Rakyat Maluku akibat penindasan dan monopoli kolonial yang merampas harga diri mereka. Kepedihan tersebut kemudian membakar semangat perlawanan yang memuncak kepada kaum penjajah.

Obor Kedua: Perjuangan, sebuah api perjuangan abadi yang melambangkan tekad yang tak kunjung padam bagi generasi muda Maluku untuk terus menjaga kedaulatan dan kehormatan rakyat Maluku.

Obor Ketiga: Pertumpahan Darah, di mana rakyat dengan gagah berani mempertaruhkan nyawa di medan laga demi mengusir penjajah dari Tanah Maluku. Meski sang Kapitan akhirnya gugur, semangatnya tetap hidup dalam semangat api perjuangan rakyat Maluku.

Rekonstruksi Wajah Thomas Matulessy Sebagai Ikon Nasional

Sketsa asli Thomas Matulessy beserta tanda tangannya. Karya Quirijn Maurits Rudolph Ver Huell, 1817.

Sketsa asli Thomas Matulessy beserta tanda tangannya pertama kali dibuat oleh Quirijn Maurits Rudolph Ver Huell pada tanggal 12 November 1817. Dokumen bersejarah ini digambar secara langsung tepat saat Thomas Matulessy sedang ditawan di atas Kapal Evertsen saat menuju Benteng Victoria sebelum Thomas matulessy di hukum gantung 16 Desember 1817.

Uang kertas rupiah pecahan Rp1.000 emisi tahun 2000-2016. Hasil akhir rekonstruksi wajah Thomas Matulessy (1951) karya pelukis Christian Latuputty yang diabadikan oleh Bank Indonesia sebagai simbol perjuangan nasional.

Jarak waktu 134 tahun antara peristiwa eksekusi (1817) hingga pembuatan lukisan standar (1951) mencakup masa Pemerintahan Belanda yang sangat panjang hingga Indonesia merdeka pada 1945. Oleh karena itu, visualisasi Thomas Matulessy yang kita kenal saat ini merupakan hasil rekonstruksi wajah oleh pelukis asal Maluku Christian Latuputty pada tahun 1951, atau sekitar 134 tahun setelah peristiwa eksekusi tersebut.

Dalam prosesnya, Christian Latuputty melakukan riset mendalam di Negeri Haria dengan memadukan dua sumber utama: sketsa asli karya Ver Huell (1817) dan keterangan lisan dari para ahli waris keluarga Matulessy. Melalui riset tersebut, Christian Latuputty kemudian menyempurnakan citra Thomas Matulessy menjadi sebuah lukisan yang lebih representatif menjadi gambar standar nasional.

Dalam proses rekonstruksi wajah Thomas Matulessy, pelukis Christian Latuputty tetap mempertahankan struktur dasar wajah yang mirip dengan sketsa asli tahun 1817, seperti rahang yang tegas, hidung proporsional, dan kumis khasnya. Namun, terdapat perbedaan pada sorot mata Thomas Matulessy yang semula tampak lelah dan sayu karena sedang dalam masa tawanan, kemudian diubah menjadi lebih tajam serta berwibawa untuk menonjolkan jiwa kepahlawanan.

Selain itu, versi rekonstruksi ini terlihat jauh lebih rapi dengan rambut dan pakaian yang tertata dibandingkan sketsa asli yang digambarkan apa adanya sebagai hasil rekaman cepat di atas kapal Eversten. Hasil karyanya kini resmi menjadi gambar standar nasional yang diabadikan dalam buku-buku sejarah. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, Bank Indonesia juga menyertakan wajah hasil rekonstruksi tersebut dalam uang kertas Rupiah pecahan Rp1.000 emisi tahun 2000-2016 sebagai upaya nasional untuk merekam jejak perjuangan rakyat Maluku.

Penghargaan Kapitan Pattimura

Pengukuhan Gelar Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura

Thomas Matulessy bergelar Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai pahlawan Nasional Republik Indonesia Pada 6 November 1973, Pemerintah Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto menetapkan Thomas Matulessy, yang dikenal sebagai Kapitan Pattimura, sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973[66][67]

Penghargaan Kapitan Pattimura di Sarana Publik dan Institusi

Monumen Patung Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy) di Kota Ambon.[68]

Penghormatan terhadap Kapitan Pattimura diabadikan di berbagai institusi dan sarana publik sebagai bentuk penghargaan atas jasanya.

Di jantung Kota Ambon, terdapat Taman Pattimura yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau sekaligus pusat sejarah. Di sinilah berdiri megah Patung Baru Thomas Matulessy, pahlawan nasional bergelar Kapitan Pattimura yang menggenggam Parang Salawaku ini hadir menggantikan patung lama yang kini telah dipindahkan ke kawasan Museum Siwalima.

Monumen Kapitan Pattimura dibuat untuk mengenang tanggal 15 Mei 1817 yang juga merupakan awal mulanya perlawanan Pattimura saat melawan bangsa Belanda.[69]

Nama Pattimura kini diabadikan sebagai nama Universitas Pattimura, Kodam XV/Pattimura, hingga Bandar Udara Internasional Pattimura. Secara historis, bandara yang terletak di Negeri Laha ini awalnya merupakan pangkalan udara militer Belanda bernama Vliegveld Laha (Pangkalan Udara Laha), yang dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1939. Setelah masa pemerintahan Belanda berakhir, pangkalan tersebut diserahkan kepada Pemerintah Indonesia dan resmi berganti nama menjadi Bandar Udara Pattimura untuk menghormati jasa sang Kapitan dalam melawan penindasan.[70]

Sosok Thomas Matulessy juga pernah menghiasi uang kertas rupiah pecahan Rp1.000 emisi tahun 2000-2016. Keputusan Bank Indonesia menyertakan wajahnya merupakan upaya nasional untuk merekam jejak perjuangan Maluku.

Selain itu, namanya juga disematkan pada kapal perang KRI Kapitan Pattimura (371), sebuah kapal jenis korvet yang menjaga kedaulatan laut Nusantara.

Penghormatan ini pun tidak hanya terbatas di Ambon; nama Pattimura digunakan sebagai nama jalan di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan di Wierden, Belanda, terdapat sebuah jalan di lingkungan pemukiman Maluku yang dinamai Pattimurastraat.[71]

Profil Peneliti Sejarah Thomas Matulessy

Wim Manuhutu

Drs. Wim Manuhutu[72] adalah seorang sejarawan, kurator, dan akademisi eropa berkebangsaan Belanda keturunan Maluku yang lahir di Vught, Belanda, pada tahun 1959. Ia menempuh pendidikan sejarah di Utrecht University dengan spesialisasi sejarah Indonesia dan kemudian menjadi pengajar sejarah politik di Vrije Universiteit Amsterdam. Wim Manuhutu memiliki rekam jejak panjang dalam pelestarian warisan budaya Maluku di Belanda, di mana ia menjabat sebagai direktur Museum Maluku (Moluks Historisch Museum) di Utrecht dari tahun 1987 hingga 2009. Sebagai ahli sejarah, ia aktif mengumpulkan informasi Sejarah Maluku dari masa lalu kolonial, dekolonisasi, dan keberagaman masyarakat Maluku pascakolonial melalui berbagai inisiatif seperti Mapping Slavery NL.[73]

Dalam kajiannya, Wim Manuhutu menjelaskan bahwa Perang Pattimura (1817) harus dipahami dalam konteks transisi kekuasaan dari Inggris ke Belanda. Menurutnya ketegangan ini dipicu oleh perubahan drastis pada kebijakan Pemerintah Belanda dalam bidang politik, ekonomi, militer dan hubungan kemasyarakatan yang berdampak pada Masyarakat Maluku sehingga memicu terjadinya perang Pattimura 1817. Dalam menyusun narasi sejarah tersebut, Wim Manuhutu menggunakan metode penelitian yang menggabungkan tiga sumber utama: Catatan resmi pemerintah Inggris, Catatan resmi pemerintah Belanda, dan Tradisi lisan masyarakat Maluku.[74]

Irwin Otto Nanulaitta

Drs. Irwin Otto Nanulaitta[75] adalah seorang sejarawan dan penulis biografi Indonesia asal Maluku, ia merupakan penulis buku biografi mengenai asal usul Thomas Matulessy di Negeri Haria (1985), sebuah karya yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. Sepanjang kariernya, I. O. Nanulaitta banyak mendokumentasikan riwayat hidup Pahlawan Nasional, termasuk kontribusinya dalam menyusun sejarah perjuangan kemerdekaan di Wilayah Indonesia Timur.[76]

Referensi

  1. Mutiarasari, Kanya Anindita. "Pattimura Pahlawan Nasional dari Tanah Maluku, Ini Sosoknya". detiknews. Diakses tanggal 2026-02-23.
  2. https://news.espos.id/biografi-pahlawan-pattimura-kapten-besar-dari-maluku-1465544-1465544.
  3. Redaksi (2025-07-23). "Kapitan Pattimura: Perlawanan Rakyat Maluku dan Eksekusi Tragis". Bisnis.com. Diakses tanggal 2026-02-23.
  4. FDVS. "Ambon dan Saparua Manise [2]". www.pesona.co.id (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2024-12-11. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  5. "Inggris Pernah Menjajah Indonesia, Bagaimana Sejarahnya?". internasional. Diakses tanggal 2026-02-23.
  6. 1 2 3 Pamungkas, M. Fazil (2019-08-27). "Belanda vs Inggris di Maluku". Historia.ID. Diakses tanggal 2026-02-23.
  7. Pamungkas, M. Fazil (2019-08-13). "Pattimura Pernah Jadi Tentara Inggris". Historia.ID. Diakses tanggal 2026-02-05.
  8. MOLUCCAN CHRISTIANITY IN THE 19TH AND 20TH CENTURY BETWEEN AGAMA AMBON AND ISLAM (PDF). London: K.A. Steenbrink. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. Post, Philip (2024-08). "Revolution and Resistance: An Exploration of the Looping Effect in the Moluccas in 1817". Itinerario (dalam bahasa Inggris). 48 (2): 136–151. doi:10.1017/S0165115324000184. ISSN 0165-1153.
  10. Post, Philip (2024-08). "Revolution and Resistance: An Exploration of the Looping Effect in the Moluccas in 1817". Itinerario (dalam bahasa Inggris). 48 (2): 136–151. doi:10.1017/S0165115324000184. ISSN 0165-1153.
  11. brill.com https://brill.com/display/book/9789047441830/Bej.9789004170261.i-1004_010.pdf. Diakses tanggal 2026-03-11.
  12. Ini merupakan tempat kelahiran Pattimura versi Pemerintah Indonesia berdasarkan buku "Kapitan Pattimura" karya I.O. Nanulaitta.
  13. 1 2 3 "Pattimura Pernah Jadi Tentara Inggris". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2019-08-13. Diakses tanggal 2023-01-25.
  14. profilbaru.com. "Pattimura" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-01-25.
  15. "Pattimura Pernah Jadi Tentara Inggris". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2019-08-13. Diakses tanggal 2023-01-24.
  16. "Convention Between Great Britain And The Netherlands - Hansard - UK Parliament". hansard.parliament.uk (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-03-05.
  17. "Convention Between Great Britain And The Netherlands - Hansard - UK Parliament". hansard.parliament.uk (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-03-05.
  18. "Today History Aug, 19 1816". Historia.ID. Diakses tanggal 2026-03-05.
  19. "2.21.004.21 Inventaris van het archief van Nicolaas Engelhard, 1620-1831 | Nationaal Archief". www.nationaalarchief.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2026-03-05.
  20. "Thomas Matulessy, Kapitan Poelo atau Kapitan Pattimura? (1)". 2021-09-01. Diakses tanggal 2023-01-25.
  21. Post, Philip (2024-08). "Revolution and Resistance: An Exploration of the Looping Effect in the Moluccas in 1817". Itinerario (dalam bahasa Inggris). 48 (2): 136–151. doi:10.1017/S0165115324000184. ISSN 0165-1153.
  22. Isnaeni, Hendri F. (2022-07-04). "Menggelar Gelar Pattimura". Historia.ID. Diakses tanggal 2026-02-03.
  23. Manuhutu, Rianty. "BUDAYA PELA GANDONG DI NEGERI HARIA SEBAGAI ALAT PEMERSATU DAN PERDAMAIAN ORANG MALUKU TENGAH".
  24. onlySavior. "perlawanan terhadap belanda dimulai dengan penyerbuan benteng belanda duurtsde pada tanggal 15 mei 1817, perlawanan ini di pimpin thomas matulesi. dalam penyerbuan ini benteng duurtstede dapat di rebut rakyat, bahkan residen belanda. van den berg ikut tewas dalam pertempuran ini". nesia (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 2023-01-25. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  25. "GUNUNG SANIRI: Renungan Jelang... - Elifas Tomix Maspaitella". www.facebook.com. Diakses tanggal 2023-01-26.
  26. Redaksi, Tim (2021-09-02). "Thomas Matulessy, Kapitan Poelo atau Kapitan Pattimura? (3)". BERGELORA.COM. Diakses tanggal 2026-02-02.
  27. Redaksi (2021-09-06). "Thomas Matulessy, Kapitan Poelo atau Kapitan Pattimura?". sinarharapan.net (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-03.
  28. P.J.M. Noldus : The Pattimura Revolt of 1817, its causes, course and consequences, A Thesis of master of arts history in University Canterbury, 1984. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  29. C.J.G.L, Van den Berg van Saparoea : Herinneringen mijneur jeugd, 1942. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  30. C.J.G.L, Van den Berg van Saparoea : Herinneringen mijneur jeugd, 1942. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  31. P.J.M. Noldus : The Pattimura Revolt of 1817, its causes, course and consequences, A Thesis of master of arts history in University Canterbury, 1984. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  32. DBNL. "Pattimura en het kind van Saparua De Molukken-opstand van 1817 in de Indisch-Nederlandse literatuur Peter van Zonneveld, Indische Letteren. Jaargang 10". DBNL (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2026-02-25.
  33. DBNL. "Pattimura en het kind van Saparua De Molukken-opstand van 1817 in de Indisch-Nederlandse literatuur Peter van Zonneveld, Indische Letteren. Jaargang 10". DBNL (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2026-02-25.
  34. DBNL. "Pattimura en het kind van Saparua De Molukken-opstand van 1817 in de Indisch-Nederlandse literatuur Peter van Zonneveld, Indische Letteren. Jaargang 10". DBNL (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2026-02-25.
  35. DBNL. "Pattimura en het kind van Saparua De Molukken-opstand van 1817 in de Indisch-Nederlandse literatuur Peter van Zonneveld, Indische Letteren. Jaargang 10". DBNL (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2026-02-25.
  36. "Johanna Christina (Umbgrove) Van den Berg (1791-1817) | WikiTree FREE Family Tree". www.wikitree.com (dalam bahasa Inggris). 1791-04-29. Diakses tanggal 2026-02-09.
  37. Madrohim dan Midhio, I. W. (2021). "Study on the Implementation of the Total War Strategy in War Against the Dutch Occupation: Pattimura War Case Study" (PDF). Journal of Social and Political Sciences. 4 (2). The Asian Institute of Research: 209. doi:10.31014/aior.1991.04.02.289. ISSN 2615-3718.
  38. Sapija, M. (1984). Kisah perjuangan Pattimura. Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional.
  39. Redaksi, Tim (2021-09-02). "Thomas Matulessy, Kapitan Poelo atau Kapitan Pattimura? (1)". BERGELORA.COM. Diakses tanggal 2026-02-01.
  40. Inventaris van island archief te Batavia (1602 – 1816), Mr .J.A. van Der Chijs, Batavia Landsdrukkerij, 1882. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  41. 1 2 P.J.M. Noldus : The Pattimura Revolt of 1817, its causes, course and consequences, A Thesis of master of arts history in University Canterbury, 1984. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  42. Lalala, Ferdy (2016-11-14). "Pisarana Hatusiri Amalatu: Van den Berg Van Saparoea". Pisarana Hatusiri Amalatu. Diakses tanggal 2026-02-04.
  43. "KPPBC Tipe Madya Pabean C Ambon". www.bc-ambon.com. Diakses tanggal 2026-02-03.
  44. 1 2 "beta Masilli: Pahlawan Asal Maluku selain Pattimura & Martha Ch. Tiahahu". beta Masilli. Minggu, 05 Oktober 2014. Diakses tanggal 2023-01-27.
  45. Redaksi, Tim (2021-09-02). "Thomas Matulessy, Kapitan Poelo atau Kapitan Pattimura? (2)". BERGELORA.COM. Diakses tanggal 2023-01-25.
  46. Wiguna, Ringgana Wandy; Team, Ruangguru Tech (2024-08-01). "Perang Pattimura: Latar Belakang, Strategi & Akhir Perang". Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-03.
  47. Pambudi, Aan. "Sejarah Kapitan Pattimura". Geografi.org. Diakses tanggal 2026-02-03.
  48. "Ambon door de eeuwen - Ben van Kaam | gedrukt boek | Bibliotheek.nl". www.bibliotheek.nl. Diakses tanggal 2026-03-05.
  49. "Perlawanan Pattimura terhadap Belanda : Latar Belakang, Kronologi dan Dampak Perang". SMAN 13 Semarang Progresif. Diakses tanggal 2026-02-03.
  50. Media, Kompas Cyber (2022-07-20). "Sejarah Perang Pattimura: Tokoh, Penyebab, Kronologi, dan Dampak Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-01-25.
  51. developer, mediaindonesia com (2022-11-01). "Kisah Perjuangan Kapitan Pattimura dan Hal Positif yang Bisa Dicontoh". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2023-01-28.
  52. "Vredeburg.id". vredeburg.id. Diakses tanggal 2023-01-28.
  53. "Thomas Matulessy, Kapitan Poelo atau Kapitan Pattimura? (2)". www.tribun-maluku.com. 2021-09-02. Diakses tanggal 2025-05-15.
  54. Gemini, Red. "Perlawanan Rakyat Maluku Melawan VOC".
  55. Media, Kompas Cyber (2021-11-09). "Perang Saparua: Penyebab, Tokoh, Jalannya Perlawanan, dan Akhir Halaman 2". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-01-24.
  56. Pamungkas, M. Fazil (2019-08-15). "Pattimura Dihukum Mati Karena Dikhianati". Historia.ID. Diakses tanggal 2026-02-02.
  57. 1 2 "Pattimura Dihukum Mati Karena Dikhianati - Historia". historia.id. 2019-08-15. Diakses tanggal 2023-01-24.
  58. "Kisah Heroik Kapitan Pattimura: Melawan Belanda, Digantung, dan Makam Misterius". kumparan. Diakses tanggal 2023-01-25.
  59. Media, Kompas Cyber (2022-07-20). "Sejarah Perang Pattimura: Tokoh, Penyebab, Kronologi, dan Dampak". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-01-25.
  60. "Semangat Pattimura Dalam Dinamika Pembangunan Maluku". 2016-05-16. Diakses tanggal 2023-01-25.
  61. 1 2 "Pattimura Dihukum Mati Karena Dikhianati". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2019-08-15. Diakses tanggal 2023-01-25.
  62. "Pahlawan Nasional Maluku". balagu.50webs.com. Diakses tanggal 2023-01-25.
  63. "Pahlawan Nasional Maluku". balagu.50webs.com. Diakses tanggal 2023-01-27.
  64. 1 2 "Pahlawan Nasional Maluku". balagu.50webs.com. Diakses tanggal 2023-01-27.
  65. "Melchior Kesaulya". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2022-02-10.
  66. "Menggelar Gelar Pattimura". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2022-07-05. Diakses tanggal 2023-01-25.
  67. "Daftar pahlawan nasional Indonesia". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2022-12-26.
  68. Media, Kompas Cyber (2008-05-15). "Patung Pattimura Seberat 4 Ton Diresmikan". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-01-25.
  69. Atourin. "Taman Pattimura di Ambon". Atourin. Diakses tanggal 2026-03-06.
  70. "Ada Peristiwa Apa pada Tanggal 16 Desember?". kumparan. Diakses tanggal 2023-01-29.
  71. "10 Orang Indonesia yang Namanya Diabadikan sebagai 'Nama Jalan' di Luar Negeri. Ada Presiden, Ada Pula Rakyat Biasa". floresku.com. Diakses tanggal 2023-01-29.
  72. "Wim Manuhutu". Framer Framed (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-03-04.
  73. manuhutu, wim. "Wim Manuhutu - Vrije Universiteit Amsterdam". vu-nl.academia.edu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-03-04.
  74. Manuhutu, Wim. "Situs manu2u". manu2u.
  75. Nanulaitta, I. O. (1966). Kapitan Pattimura. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  76. Isnaeni, Hendri F. (2022-07-04). "Menggelar Gelar Pattimura". Historia.ID. Diakses tanggal 2026-03-01.

Daftar pustaka

Pranala luar