Kota Blitar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kota Blitar
Kota Proklamator
Kota di Indonesia
Dari kiri ke kanan: Makam Bung Karno, Candi Penataran, Masjid Agung Kota Blitar, Istana Gebang, dan Hutan Maliran.
Dari kiri ke kanan: Makam Bung Karno, Candi Penataran, Masjid Agung Kota Blitar, Istana Gebang, dan Hutan Maliran.
Lambang Kota Blitar
Lambang
Semboyan: Kridha Hangudi Jaya
"Kerja Keras Mencapai Kejayaan"
Peta lokasi Kota Blitar
Peta lokasi Kota Blitar
Kota Blitar berlokasi di Indonesia
Kota Blitar
Kota Blitar
Peta lokasi Kota Blitar
Koordinat: 8°5′55″LU 112°9′55″BT / 8,09861°LS 112,16528°BT / -8.09861; 112.16528
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Timur
Hari jadi 1 April 1906
Pemerintahan
 • Wali Kota Muhammad Samanhudi Anwar, S.H., M.M.
 • Wakil Wali Kota Drs. H. Santoso, M.Pd.
Area
 • Total 32.58 km2 (12.58 mil²)
Peringkat luas 85
Populasi (2010)
 • Total 131.968
 • Peringkat 67
 • Kepadatan Bad rounding here4,100/km2 (Bad rounding here10,000/sq mi)
 • Peringkat 32
Demografi
 • Suku bangsa Jawa, Tionghoa, Arab, dll.
 • Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu
 • Bahasa Indonesia, Jawa
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode telepon +62 342
Kecamatan 3
Kelurahan 21
Situs web www.blitarkota.go.id

Kota Blitar merupakan sebuah kota yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 167 km sebelah barat daya Surabaya dan 80 km sebelah barat Malang. Kota Blitar terkenal sebagai tempat dimakamkannya presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.[1]

Selain disebut sebagai Kota Proklamator dan Kota Patria, kota ini juga disebut sebagai Kota Peta (Pembela Tanah Air) karena di bawah kepimpinanan Soeprijadi, Laskar Peta melakukan perlawanan terhadap Jepang untuk pertama kalinya pada tanggal 14 Februari 1945 yang menginspirasi timbulnya perlawanan menuju kemerdekaan di daerah lain.

Ikan koi yang populer di Jepang dapat dibudidayakan dengan baik di kota ini sehingga memberikan julukan tambahan sebagai Kota Koi.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Hotel "Van Rheeden" di Blitar (tahun 1919-1926).

Berdasarkan legenda, dahulu bangsa Tartar dari Asia Timur sempat menguasai daerah Blitar yang kala itu belum bernama Blitar. Majapahit saat itu merasa perlu untuk merebutnya. Kerajaan adidaya tersebut kemudian mengutus Nilasuwarna untuk memukul mundur bangsa Tartar.

Keberuntungan berpihak pada Nilasuwarna, ia dapat mengusir bangsa dari Mongolia itu. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar sebagai Adipati Aryo Blitar I untuk kemudian memimpin daerah yang berhasil direbutnya tersebut. Ia menamakan tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembali pulangnya bangsa Tartar.

Akan tetapi, pada perkembangannya terjadi konflik antara Aryo Blitar I dengan Ki Sengguruh Kinareja yang tak lain adalah patihnya sendiri. Konflik ini terjadi karena Sengguruh ingin mempersunting Dewi Rayung Wulan, istri Aryo Blitar I.

Singkat cerita, Aryo Blitar I lengser dan Sengguruh meraih tahta dengan gelar Adipati Aryo Blitar II. Akan tetapi, pemberontakan kembali terjadi. Aryo Blitar II dipaksa turun oleh Joko Kandung, putra dari Aryo Blitar I. Kepemimpinan Joko Kandung dihentikan oleh kedatangan bangsa Belanda. Sebenarnya, rakyat Blitar yang multietnis saat itu telah melakukan perlawanan, tetapi dapat diredam oleh Belanda.

Kota Blitar mulai berstatus gemeente (kotapraja) pada tanggal 1 April 1906 berdasarkan peraturan Staatsblad van Nederlandsche Indie No. 150/1906. Pada tahun itu, juga dibentuk beberapa kota lain di Pulau Jawa, antara lain Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Cheribon, Kota Magelang, Samarang, Salatiga, Madioen, Soerabaja, dan Pasoeroean.

Dengan statusnya sebagai gemeente, selanjutnya di Blitar juga dibentuk Dewan Kotapradja Blitar yang beranggotakan 13 orang dan mendapatkan subsidi sebesar 11.850 gulden dari Pemerintah Hindia Belanda. Untuk sementara, jabatan burgemeester (wali kota) dirangkap oleh Residen Kediri.

Pada zaman pendudukan Jepang, berdasarkan Osamu Seirei tahun 1942, kota ini disebut sebagai Blitar-shi dengan luas wilayah 16,1 km² dan dipimpin oleh seorang shi-chō.

Selanjutnya, berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No. 17/1950, Kota Blitar ditetapkan sebagai daerah kota kecil dengan luas wilayah 16,1 km². Dalam perkembangannya, nama kota ini kemudian diubah lagi menjadi Kotamadya Blitar berdasarkan Undang-Undang No. 18/1965. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 48/1982, luas wilayah Kotamadya Blitar ditambah menjadi 32,58 km² serta dikembangkan dari satu menjadi tiga kecamatan dengan dua puluh kelurahan. Terakhir, berdasarkan Undang-Undang No. 22/1999, nama Kotamadya Blitar diubah menjadi Kota Blitar.[3]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Secara geografis, Kota Blitar terletak di sebelah selatan Provinsi Jawa Timur, berada di kaki Gunung Kelud dengan ketinggian 156 meter dari permukaan laut, dan bersuhu udara rata-rata cukup sejuk antara 24°–34° Celsius.

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Tahun 1942 1957 1965 1982 2003 2007
Jumlah penduduk 45.000 60.000 73.142 106.500 124.767 132.106
Sejarah kependudukan Kota Blitar.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kepala Daerah[sunting | sunting sumber]

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Kota Blitar hasil Pemilu 2014 tersusun dari 9 partai politik, dengan perincian sebagai berikut:

Partai Kursi
Lambang PDI-P PDI-P 10
Lambang PKB PKB 3
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 3
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 2
Lambang PPP PPP 3
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 1
Lambang PKS PKS 1
Lambang Partai NasDem Partai NasDem 1
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 1
Total 25

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Wilayah administratif pemerintahan Kota Blitar dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Blitar. Saat ini, Kota Blitar terdiri atas tiga kecamatan, yaitu Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.

Kecamatan Kepanjenkidul[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Kepanjenkidul terdiri atas tujuh kelurahan, yaitu Kepanjenkidul, Kepanjenlor, Sentul, Ngadirejo, Tanggung, Bendo, dan Kauman.

Kecamatan Sananwetan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Sananwetan terdiri atas tujuh kelurahan, yaitu Sananwetan, Karangtengah, Bendogerit, Plosokerep, Rembang, Klampok, dan Gedog.

Kecamatan Sukorejo[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Sukorejo terdiri atas tujuh kelurahan, yaitu Sukorejo, Pakunden, Tlumpu, Karangsari, Blitar, Turi, dan Tanjungsari.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Gerbang selatan Alun-Alun Kota Blitar yang menghadap Jalan Merdeka.
Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno.
Perempatan Lovi pada tahun 1920-an.
Pemandangan jalan menuju Stasiun Blitar pada tahun 1900-an.

Potensi pariwisata Kota Blitar tidak lepas dari nilai-nilai sejarah yang masih kental tergurat di kota yang pernah menjadi salah satu tempat berkecamukmya semangat kepahlawanan pejuang bangsa. Nama-nama besar seperti Arya Blitar, Soekarno, Soeprijadi, dan lain sebagainya menjadi inspirasi yang ikut mewarnai dinamika, arah, dan kemajuan kota yang sedang tumbuh ini.

Dalam upaya membangun iklim yang kondusif, didukung oleh sistem perdagangan barang dan jasa unggulan, pemerintah Kota Blitar memilih sektor pariwisata sebagai primadona untuk mengembangkan ekonomi daerah. Beberapa tempat tujuan wisata yang ada di Blitar, dari waktu ke waktu kian dibenahi dan diperkaya guna meningkatkan potensi wisata di Kota Blitar.

Tempat tujuan wisata di Kota Blitar antara lain:

  • Makam Bung Karno, tempat dimakamkannya presidan pertama sekaligus proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno. Makam ini terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, sekitar 2 kilometer sebelah utara pusat kota.
  • Perpustakaan dan Museum Bung Karno merupakan perpustakaan yang selain berisi segala bentuk memorabilia Bung Karno, juga dikembangkan sebagai pusat studi terpadu. Beberapa koleksi yang ada saat ini adalah lukisan hidup Bung Karno yang dapat berdetak tepat pada bagian jantungnya, uang bergambar Bung Karno yang dapat menggulung sendiri, dan koleksi sumbangan dari Yayasan Idayu.
  • Istana Gebang atau lebih dikenal dengan sebutan Ndalem Gebang, merupakan rumah tempat tinggal orang tua Bung Karno. Istana ini bertempat di Jalan Sultan Agung 69. Di rumah ini pada setiap bulan Juni ramai didatangi pengunjung, baik dalam rangka peringatan hari ulang tahun Bung Karno maupun karena adanya kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Pemkot Blitar, seperti Grebeg Pancasila.
  • Petilasan Arya Blitar merupakan sebuah makam dari Adipati Arya Blitar yang terletak di Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo. Makam ini ramai dikunjungi pada bulan Sura dan juga setiap malam Jumat legi.
  • Monumen Supriyadi merupakan sebuah monumen untuk mengenang jasa Soeprijadi. Pada tahun 1945, Kota Blitar menjadi pusat pemberontakan tentara Peta yang dipimpin oleh Shodancho Soeprijadi melawan tentara Jepang. Monumen ini terletak di depan bekas Markas Peta dan Taman Makam Pahlawan Raden Wijaya. Selain itu, juga dibangun sebuah patung setengah dada Soeprijadi yang terletak di depan Pendapa Rangga Hadinegara.
  • Kebon Rojo, yaitu taman hiburan dan rekreasi keluarga yang berada di belakang kompleks rumah dinas Wali Kota Blitar yang disediakan untuk masyarakat umum maupun wisatawan secara cuma-cuma. Di taman tersebut, terdapat beberapa jenis hewan peliharaan, fasilitas bermain anak-anak, tempat bersantai, panggung apresiasi seniman, air mancur, dan juga berbagai jenis tanaman langka yang berfungsi sebagai paru-paru kota.
  • Taman Air Sumberudel merupakan taman air yang terletak di Jalan Kali Brantas. Taman air ini diresmikan kembali oleh Wali Kota Blitar pada tanggal 10 Oktober 2007 setelah direnovasi selama kurang lebih satu setengah tahun. Fasilitas yang dimilikinya cukup lengkap bila dibandingkan dengan taman-taman air lain di Jawa Timur.
  • Green Park merupakan taman hijau terbuka yang terletak di Kelurahan Bandogerit, Sananwetan. Fasilitas yang ada di taman ini berupa gazebo, tempat duduk, jungkat-jungkit, dan beberapa permainan lain untuk anak-anak.

Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan (PIPP) adalah pusat layanan informasi bagi para pelaku ekonomi, khususnya pelaku perdagangan, selain sebagai pusat layanan informasi tentang pariwisata. Pembangunan pusat informasi ini adalah bentuk realisasi kebijakan pembangunan sarana-prasarana ekonomi pada umumnya, serta sarana-prasarana perdagangan dan pariwisata pada khususnya. Ini adalah penjabaran dari pembangunan sistem perdagangan barang dan jasa unggulan sebagaimana yang tersurat dalam rumusan visi Kota Blitar.

PIPP menjadi media integrasi informasi dan publikasi pariwisata dan potensi daerah secara bersama-sama antara daerah Kota Blitar beserta daerah sekitarnya, seperti Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk, serta daerah-daerah lainnya di wilayah administrasi Badan Koordinasi Wilayah I Madiun. PIPP diresmikan pada tanggal 3 Juli 2004 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri bersamaan dengan peresmian beberapa objek lainnya, antara lain Stadion Gelora Supriyadi, Pasar Legi, dan Perpustakaan Persada Bung Karno.

Fasilitas pendukung[sunting | sunting sumber]

Rupa-rupa[sunting | sunting sumber]

Tokoh terkemuka[sunting | sunting sumber]

Kota kembar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Bung Karno Lahir di Surabaya, Bukan di Blitar". 2011-05-30. Diakses tanggal 2013-09-14. 
  2. ^ Buku Potensi Pariwisata dan Produk Unggulan Jawa Timur, 2009.
  3. ^ Sejarah Pemerintahan

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]