Pedesaan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Pedesaan (red: sering juga disebut dengan istilah desa) adalah daerah pemukiman penduduk yang sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, iklim, dan air sebagai syarat penting bagi terwujudnya pola kehidupan agraris penduduk di tempat itu.[1]

Defenisi Lain[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa defenisi dan penjelasan tentang pedesaan atau desa, yaitu:[2]

  1. Menurut Sutardjo Kartodikusuma, desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri.
  2. Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik, dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.[3]
  3. Menurut Paul H. Landis, desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri-ciri pedesaan sebagai berikut:
    • Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
    • Ada pertalian perasaan yang sama  tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
    • Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti: iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
  4. Menurut Undang - Undang Nomor 5 Tahun 1979, pengertian desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.[4]
  5. Menurut Undang - Undang Nomor 22 Tahun 1999, pengertian desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan Nasional dan berada di daerah Kabupaten.[5]
  6. Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, pengertian desa adalah pengertian desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.[6]
  7. Menurut Undang - Undang Nomor 6 Tahun 2014, pengertian desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.[7]

Masih terdapat beberapa defenisi dan penjelasan lain terkait pedesaan, namun defenisi dan penjelasan yang telah ditampilkan dan diterangkan di atas dapat menggambarkan pengertian pedesaan secara harfiah.

Istilah Terkait[sunting | sunting sumber]

Beberapa istilah yang terkait dengan pedesaan yaitu:[1]

  • Desa: merupakan kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri (dikepalai oleh seorang kepala desa).
  • Perdesaan: merupakan daerah (kawasan) desa.
  • Kedesaan: yang berhubungan dengan sifat atau keadaan desa
  • Istilah lainnya:
    • Abdi: merupakan desa yang ditempati oleh pegawai atau bawahan sultan (di Banten).
    • Kaputihan: merupakan desa yang terletak di dekat masjid atau pusat peribadahan yang didiami orang-orang saleh.
    • Mijen: desa yang diserahkan oleh raja kepada keluarga tertentu dan mereka dibebaskan dari pajak tanah.
    • Pakuncen: desa yang dibebani kewajiban menjaga kuburan.
    • Perdikan: desa yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak kepada pemerintah pusat (pada zaman kerajaan)
    • Praja: merupakan kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu, berhak mengurus rumah tangga sendiri, memilih penguasa, dan mempunyai harta benda sendiri.
    • Swadaya: merupakan desa yang masih terikat oleh tradisi karena taraf pendidikannya relatif rendah, produksi diarahkan untuk kebutuhan primer keluarga, dan komunikasi ke luar sangat terbatas. Adapun ciri - ciri desa swadaya adalah:
      1. Daerahnya terisolir dengan daerah lainnya.
      2. Penduduknya jarang.
      3. Mata pencaharian homogen yang bersifat agraris.
      4. Bersifat tertutup.
      5. Masyarakat memegang teguh adat.
      6. Teknologi masih rendah.
      7. Sarana dan prasarana sangat kurang.
      8. Hubungan antarmanusia sangat erat.
      9. Pengawasan sosial dilakukan oleh keluarga.
    • Swakarya: merupakan desa yang sudah agak longgar adat-istiadatnya karena pengaruh luar, mengenal teknologi pertanian, dan taraf pendidikan warganya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan desa lainnya. Adapun ciri -ciri desa swakarya adalah:
      1. Kebiasaan atau adat istiadat sudah tidak mengikat penuh.
      2. Sudah mulai menpergunakan alat-alat dan teknologi
      3. Desa swakarya sudah tidak terisolasi lagi walau letaknya jauh dari pusat perekonomian.
      4. Telah memiliki tingkat perekonomian, pendidikan, jalur lalu lintas dan prasarana lain.
      5. Jalur lalu lintas antara desa dan kota sudah agak lancar.
    • Swasembada: merupakan desa yang lebih maju daripada desa swakarya dan tidak terikat lagi oleh adat-istiadat yang ketat. Adapun ciri - ciri desa swasembada adalah:
      1. kebanyakan berlokasi di ibukota kecamatan.
      2. penduduknya padat-padat.
      3. tidak terikat dengan adat istiadat
      4. telah memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai dan labih maju dari desa lain.
      5. partisipasi masyarakatnya sudah lebih efektif.

Dalam beberapa masyrakat adat di Indonesia, istilah desa memiliki penamaan yang berbeda seperti kampung di Banten,Jawa Barat, Papua dan Kalimantan Timur, dusun di Daerah Istimewa Yogyakarta atau Bali, nagari di Sumatera Barat dan gampong di Aceh.

Pola Persebaran Pedesaan[sunting | sunting sumber]

Pola persebaran pedesaan di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 pola utama yaitu:

  • Pola Pedesaan Memanjang (linier).

Pola pedesaan memanjang dapat dibagi menjadi 4 sub kategori lagi, yaitu:

  1. Pola pedesaan yang mengikuti jalan. Pola pedesaan yang terdapat di sebelah kiri dan kanan jalan raya atau jalan umum. Pola pedesaan ini banyak terdapat di dataran rendah.
  2. Pola pedesaan yang mengikuti sungai. Pola pedesaan ini bentuknya memanjang mengikuti bentuk sungai, umumnya terdapat di daerah pedalaman.
  3. Pola pedesaan yang mengikuti rel kereta api. Pola pedesaan ini banyak terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera karena penduduknya mendekati dan mengenal fasilitas transportasi kereta api.
  4. Pola pedesaan yang mengikuti pantai. Pada umumnya, pola pedesaan seperti ini merupakan pedesaan nelayan yang terletak di kawasan pantai yang landai dan hampir dapat dijumpai di seluruh pesisir pantai Indonesia.

Maksud dari pola memanjang atau linier adalah untuk mendekati prasarana transportasi seperti jalan, sungai, pantai, dan jalur kereta api sehingga memudahkan untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya baik jika ada keperluan primer, sekunder, maupun tersier. Di samping itu, untuk memudahkan penyerahan dan perpindahan barang dan jasa.

  • Pola Pedesaan Menyebar

Pola pedesaan ini umumnya terdapat di daerah pegunungan atau dataran tinggi yang memilki kontur dan berelief kasar. Permukiman penduduk membentuk kelompok unit-unit yang kecil dan saling menyebar.

  • Pola Pedesaan Tersebar

Pola pedesaan ini merupakan pola yang tidak teratur karena kesuburan tanah tidak merata. Pola pedesaan seperti ini banyak terdapat di daerah gunung atau bukit karst atau daerah berkapur. Keadaan topografinya sangat buruk.

Karakteristik Masyarakat Pedesaan[sunting | sunting sumber]

Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga, seorang ahli sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mengenal karakteristik sebagai berikut:[2]

  • Afektifitas: ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan, dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan  tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain, dan menolongnya tanpa pamrih.
  • Orientasi kolektif,  sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan, tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
  • Partikularisme,  pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
  • Askripsi, yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
  • Kekabaran (diffuseness), sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (red: pendapat Talcott Parson), dapat terlihat bahwa pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.

Tipe Masyarakat Pedesaan[sunting | sunting sumber]

Masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang belum kompleks, yaitu masyarakat yang belum mengenal pembagian kerja, struktur, dan aspek-aspeknya masih dapat dipelajari sebagai satu kesatuan.[8]

Selain telah dijabarkan pada karakteristik masyarakat pedesaan di atas, masyarakat pedesaan juga memiliki ciri - ciri spesifik sebagai berikut:

  • Kehidupan keagamaan di kota berkurang dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
  • Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.
  • Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
  • Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota daripada warga desa.
  • Interaksi yang lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
  • Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
  • Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh.

Mata Pencaharian[sunting | sunting sumber]

Secara umum, masyarakat pedesaan memiliki mata pencaharian dalam bidang pertanian, perkebunan, perternakan, dan perdagangan.

  • Pertanian

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.[9] tidak dapat dipisahkan dari pedesaan. Pertanian merupakan komponen utama dalam menopang kehidupan pedesaan di Indonesia. Pertanian merupakan sektor yang memiliki peranan sangat penting dalam perekonomian pedesaan. Peranan pertanian di pedesaan antara lain adalah:[10]

(1) menyediakan kebutuhan bahan pangan yang diperlukan masyarakat untuk menjamin ketahanan pangan,

(2) menyediakan bahan baku bagi industri,

(3) sebagai pasar potensial bagi produk-produk yang dihasilkan oleh industri,

(4) sumber tenaga kerja dan pembentukan modal yang diperlukan bagi pembangunan sektor lain, dan (

(5) sebagai sumber perolehan devisa (Kuznets, 1964). [11]

Di samping itu, pertanian memiliki peranan penting untuk

(6) mengurangi kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan, dan

(7) menyumbang secara nyata bagi pembangunan pedesaan dan pelestarian lingkungan hidup.

Tanaman yang umum ditanam pada pertanian pedesaan yaitu: padi, jagung, kentang, dan tanaman kebutuhan poko lainnnya.

  • Perkebunan

Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai; mengolah, dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat.[12] Perkebunan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pertanian dan pedesaan. Perkebunan berperan besar dan menjadi bagian penting dalam pengurangan tingkat kemiskinan pedesaan di Indonesia. Adapun tanaman perkebunan yang lazim di tanam di pedesaan yaitu: kelapa sawit, karet, coklat, pinang, kopi, cengkeh, pala, kelapa, dan tanaman lainnya.

  • Perternakan

Perternakan adalah kegiatan mengembangbiakkan dan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari kegiatan tersebut. Pengertian peternakan tidak terbatas pada pemeliharaaan saja, memelihara dan peternakan perbedaannya terletak pada tujuan yang ditetapkan. Tujuan peternakan adalah mencari keuntungan dengan penerapan prinsip-prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi yang telah dikombinasikan secara optimal. [13] Berdasarkan ukuran hewan ternak, bidang peternakan dapat dibagi atas dua golongan, yaitu peternakan hewan besar seperti sapi, sapi perah, kerbau dan kuda, sedang kelompok kedua yaitu peternakan hewan kecil seperti ayamkelinci, itik, mentok, puyuh, dan lain-lain. [14] Selain iut, terdapat golongan perternakan hewan sedang yaitu domba, kambing, dan babi. Macam-macam hewan ternak lainnya yaitu ulat suterabelut, katak hijau, dan ternak lebah madu dimana setiap hewan terjan memiliki tujuan serta manfaat masing - masing bagi masyarakat pedesaan.

  • Perdagangan

Perdagangan atau perniagaan adalah kegiatan tukar menukar barang atau jasa atau keduanya yang berdasarkan kesepakatan bersama bukan pemaksaan. Kegiatan perdagangan perdagangan berkaitan dengan penjualan hasil bumi pertanian dan pekebunan, hasil ternak, serta barang jadi maupun barang setengah jadi.

Infrastruktur Pedesaan[sunting | sunting sumber]

Pembangunan infrastruktur pedesaan terdiri atas beberapa ruang lingkup:[15]

1. Pembangunan infrastruktur transportasi perdesaan guna mendukung peningkatan aksessibilitas masyarakat desa, yaitu: jalan, jembatan, tambatan perahu.

2. Pembangunan infrastruktur yang mendukung produksi pertanian, yaitu: irigasi perdesaan.

3. Pembangunan infrastruktur yang mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, meliputi: penyediaan air minum, sanitasi perdesaan.

Hubungan Pedesaan dan Perkotaan[sunting | sunting sumber]

Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah antara satu sama lainnya. Bahkan dalam keadaan yang wajar, di antara keduanya terdapat hubungan yang erat. Hubungan pedesaan dan perkotaan bersifat saling berketergantungan, karena adanya rasa saling membutuhkan antara pedesaan dan perkotaan. Perkotaan tergantung pada pedesaan dalam hal pemenuhan kebutuhan warganya sehari-hari akan bahan - bahan pangan seperti: beras, sayur-mayur, buah-buahan, daging, dan ikan. Pedesaan juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis-jenis pekerjaan tertentu di perkotaan, misalnya saja buruh bangunan dalam proyek-proyek perumahan da gedung perkantoran, pembantu rumah tangga, tenaga kebersihan, tenagab buruh proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja- pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah dan ladang. Bila pekerjaan di bidang pertanian mulai menyurut atau musim kemarau dan juga sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Secara teoristik, perkotaan merubah atau paling mempengaruhi pedesaaan melalui beberapa cara, seperti[16]:

(i) Ekspansi perkotaan ke pedesaan, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam;

(ii) Invasi perkotaaan , pembangunan kota-kota baru seperti misalnya Batam, Cikarang, Bekasi, Depok, Tangerang, dan banyak kota baru lainnya sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan;

(iii) Penetrasi perkotaan ke pedesaan, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke pedesaan. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi saat ini dan tidak dapat dikontrol pola dan pengaruhnya;

(iv) ko-operasi perkotaan-pedesaan, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke perkotaan.

Dari keempat hubungan pedesaan dan perkotaan tersebut, kesemuanya diprakarsai pihak dan orang perkotaaan. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.

Urbanisasi[sunting | sunting sumber]

Urbanisasi merupakan proses berpindahnya masyarakat/penduduk desa ke kota. Penyebab urbanisasi disebakan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong "push factor" dan faktor penarik "pull factor". Adapun hal-hal yang termasuk ke damal dua faktor tersebut adalah:[17]

Hal – hal yang termasuk push factor antara lain:

  • Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian.
  • Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.
  • Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.
  • Di desa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.
  • Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain di kota.

Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain:

  • Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa di kota  banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan
  • Di kota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
  • Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak di kota dan lebih mudah didapat.
  • Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.
  • Kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Setiawan, Ebta. "Arti kata desa - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online". kbbi.web.id. Diakses tanggal 2017-10-14. 
  2. ^ a b "Antropologi Pedesaan dan Perkotaan – Ilmu Kita". blog.unnes.ac.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2017-10-14. 
  3. ^ Ahmad, Abu. (2003). Ilmu Sosial Dasar. Hal. 241.
  4. ^ Undang - Undang Nomor 5 Tahun 1979
  5. ^ Undang - Undang Nomor 22 Tahun 1999
  6. ^ Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
  7. ^ Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
  8. ^ "Masyarakat Pedesaan & Masyarakat Perkotaan". ruardy. 2013-01-03. Diakses tanggal 2017-10-14. 
  9. ^ http://books.google.com/books?id=GtBa6XIW_aQC&pg=PA77. Diakses tanggal 2017-10-14.
  10. ^ http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/28030.Diakses tanggal 2017-10-14.
  11. ^ Kuznets, S. 1964. Economic Growth and Contribution of Agriculture. In Eicher, C.K.
  12. ^ Undang - Undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan. Diakses tanggal 2017-10-15.
  13. ^ Rasyaf M. 1994. Manajemen Peternakan Ayam Kampung. Yogyakarta: Kanisius.
  14. ^ Sayuti A. 2006. Geografi budaya dalam wilayah pembangunan daerah Sumatera Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
  15. ^ http://www.pnpmmandiri.org/index.php?option=com_content&view=article&id=64&Itemid=3. Diakses tanggal 2017-10-14.
  16. ^ https://ruardy.wordpress.com/masyarakat-pedesaan-masyarakat-perkotaan/. Diakses tanggal 2017-10-14.
  17. ^ Soekanto, S. (1969). Sosiologi: Suatu Pengantar. Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.