Lompat ke isi

Uang kertas rupiah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Mata uang rupiah yang dikeluarkan Bank Indonesia tahun emisi 2022.
Koleksi rupiah pecahan 50.000 rupiah asli.

Uang kertas yang pertama kali digunakan di Nusantara (kini disebut sebagai Indonesia) adalah surat kredit dari "Rijksdaalder" yang dibawa oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie-VOC) antara tahun 1783 sampai dengan 1811. Selanjutnya, diikuti dengan uang kertas "Gulden Hindia Belanda" pada tahun 1815, dan "Uang Gulden De Javasche Bank" pada tahun 1827.[1]

Uang pecahan yang rendah (dibawah 5 gulden) dikeluarkan oleh pemerintah pada tahun 1919-1920 dan 1939-1940, karena pada masa itu kekurangan logam untuk perang. Tetapi, transaksi sehari-hari tetap dilakukan dengan menggunakan uang koin.

Semenjak kependudukan Jepang pada Desember 1941 di Borneo dan Februari 1942 di Jawa dan Sumatra, Jepang mulai menggunakan Oeang Djepang berupa "Gulden Jepang" pada 1942 dan "Roepiah Jepang" pada 1944. Hal ini, dimaksudkan untuk mengokupasi dan menduduki wilayah Hindia Belanda.[2]

Uang kertas yang sebenarnya "Rupiah Indonesia" baru diterbitkan pada tahun 1946, selama perang kemerdekaan dengan Belanda dan setelah deklarasi kemerdekaan sepihak oleh Indonesia pada akhir Perang Dunia II pada tanggal 17 Agustus 1945. Uang ini dikenal sebagai "Oeang Republik Indonesia". Oeang Republik Indonesia (ORI) merupakan cikal bakal Rupiah Indonesia yang digunakan saat ini.

Oeang Republik Indonesia (ORI)

[sunting | sunting sumber]

Oeang Republik Indonesia (ORI) adalah mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka. Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga sebagai lambang utama negara merdeka.

Meski masa peredaran ORI cukup singkat, namun ORI telah diterima di seluruh wilayah Republik Indonesia dan ikut menggelorakan semangat perlawanan terhadap penjajah. Pada Mei 1946, saat suasana di Jakarta genting, maka Pemerintah RI memutuskan untuk melanjutkan pencetakan ORI di daerah pedalaman, seperti di Yogyakarta, Surakarta, dan Malang.

Namun peredaran ORI tersebut sangat terbatas dan tidak mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia. Di Sumatra yang beredar adalah mata uang Jepang. Pada tanggal 8 April 1947, Gubernur Provinsi Sumatra mengeluarkan uang kertas URIPS-Uang Republik Indonesia Provinsi Sumatra.

Pada tanggal 17 Oktober 1945, tepat dua bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, diluncurkanlah "Oeang Republik Indonesia" (ORI) untuk pertama kalinya. Namun, belum sepenuhnya diedarkan. Baru pada tanggal 10 Oktober 1946, ORI mulai diedarkan untuk pertama kalinya di Pulau Jawa.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanUkuranWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTanggal PengeluaranTanggal PeredaranTanggal Penarikan Kembali
1 Sen97 × 45 mmHijauKerisTulisan legal, BatikA. A. Maramis17 Oktober 194510 Oktober 19461 Mei 1950
5 Sen100 × 50 mmCoklatBatik
10 Sen105 × 55 mm
Rp 1/2120 × 60 mmHijau
Rp1138 × 65 mmIr. SoekarnoGunung Berapi
Rp5148 × 71 mmAbu-AbuTulisan legal, Batik
Rp10160 × 77 mmBiru
Rp100174 × 86 mm

Seri ORI II (1947-1948)

[sunting | sunting sumber]

ORI seri kedua diluncurkan di Yogyakarta pada tanggal 1 Januari 1947, ketika ibu kota dan pusat pemerintahan Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.

Gambar UtamaPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTanggal Pengeluaran dan PeredaranTanggal Penarikan Kembali
Rp5HijauIr. SoekarnoTulisan legal, BatikSjafruddin Prawiranegara1 Januari 19471 Mei 1950
Rp10
Rp25CoklatKerbau
Rp100BiruTulisan legal, Batik

Seri ORI III (1947-1950)

[sunting | sunting sumber]

Seri ini merupakan kelanjutan dari Seri ORI kedua, dan merupakan seri yang cukup jarang ditemukan, sebab jumlah peredarannya terbatas.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanUkuranWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTanggal PengeluaranTanggal PeredaranTanggal Penarikan Kembali
Rp1/2104 x 55 mmCoklatHarga dan OtoritasTulisan legal, HargaA. A. Maramis26 Juli 194726 Juli 19471 Mei 1950
Rp2 1/2124 x 65 mmUngu tuaHarga dan otoritasTeks legal, hargaA. A. Maramis26 Juli 194726 Juli 19471 Mei 1950
Rp25170 x 83 mmHijauSoekarno dan pemandanganBanteng mengamukA. A. Maramis26 Juli 194726 Juli 19471 Mei 1950
Rp50143 x 83 mmCoklatSoekarno dan penyadap karetTeks legal, ornamenA. A. Maramis26 Juli 194726 Juli 19471 Mei 1950
Rp100172 x 85 mmCoklat/MerahSoekarno dan KerisTeks legal, hargaA. A. Maramis26 Juli 194726 Juli 19471 Mei 1950
Rp100150 x 84 mmCoklatSoekarno dan perkebunan tembakauTeks legal, hargaA. A. Maramis26 Juli 194726 Juli 19471 Mei 1950
Rp250154 x 94 mmCoklatSoekarno dan petaniTeks legal, hargaA. A. Maramis26 Juli 194726 Juli 19471 Mei 1950

Seri ORI IV (1948)

[sunting | sunting sumber]

Seri ini merupakan kelanjutan dari Seri ORI ketiga, dan merupakan seri yang sangat sulit ditemukan, sebab jumlah peredarannya terbatas. Pada seri ini pula, hampir semua nominalnya bersifat ganjil atau jarang ditemukan dalam nominal biasa yang diketahui masyarakat. Uang ini ditandatangani di Yogyakarta oleh Mohammad Hatta pada 23 Agustus 1948

Bagian DepanBagian BelakangPecahanUkuranWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTanggal PengeluaranTanggal PeredaranTanggal Penarikan Kembali
Rp40138 x 40 mmHijauSoekarno dengan penenunTulisan legal, HargaMohammad Hatta23 Agustus 194823 Agustus 1948tidak diketahui
Rp75150 x 88 mmCokelatSoekarno dengan pandai besiTeks legal, hargaMohammad Hatta23 Agustus 194823 Agustus 1948tidak diketahui
Rp100148 x 80 mmCoklat dan MerahSoekarno dan perkebunan tembakauTeks legal, hargaMohammad Hatta23 Agustus 194823 Agustus 1948tidak diketahui
Rp400158 x 105 mmHijauSoekarno dan Pohon TebuTeks legal, ornamenMohammad Hatta23 Agustus 194823 Agustus 1948tidak diketahui
tidak diketahuiRp600164 x 105 mmKuningSoekarno dan lambang RItidak diketahuiMohammad Hattatidak diedarkantidak diedarkantidak diketahui

Seri ORI Baru (1949)

[sunting | sunting sumber]

Seri ORI Baru merupakan seri yang juga dikeluarkan di Yogyakarta tetapi ditandatangani oleh Lukman Hakim. Seri ini sulit ditemukan, dan jumlah edarnya sangat terbatas

Bagian DepanBagian BelakangPecahanUkuranWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTanggal PengeluaranTanggal PeredaranTanggal Penarikan Kembali


Rp10 Sen102 x 61 mmBiru-Coklat
Merah-Hijau
Harga dan otoritasTeks undang-udangLoekman Hakim17 Agustus 194917 Agustus 1949tidak diketahui


Rp1/2101 x 83 mmMerah-Hijau
Biru muda-Ungu
Harga dan terataiPohon beringinLoekman Hakim17 Agustus 194917 Agustus 1949tidak diketahui


Rp1110 x 68 mmUngu
Hijau (Proof)
Otoritas dan HargaHarga dan ornamenLoekman Hakim17 Agustus 194917 Agustus 1949tidak diketahui

Hitam

Cokelat
Rp10127 x 79 mmHitam
Coklat
Soekarno, daun pisang, dna padiCorak sayapLoekman Hakim17 Agustus 194917 Agustus 1949tidak diketahui
Rp100152 x 95 mmBiruSoekarnoTeks undang-undang, HargaLoekman Hakim17 Agustus 194917 Agustus 1949tidak diketahui
Bagian DepanBagian BelakangPecahanUkuranWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTanggal PengeluaranTanggal PeredaranTanggal Penarikan Kembali
Rp5136 x 44 mmMerahSoekarno, tulisan legalUndang-undang dan pemandangan alamSyafruddin Prawiranegara1 Januari 19501 Januari 195017 Agustus 1950
Rp10136 x 64 mmHitamSoekarno, tulisan legalUndang-undang dan pemandangan alamSyafruddin Prawiranegara1 Januari 19501 Januari 195017 Agustus 1950

Seri Pemandangan Alam I (1951)

[sunting | sunting sumber]

ORI seri ketiga diluncurkan pada tahun 1951 sebagai nasionalisasi dari De Javasche Bank. Ditandatangani oleh Sjafruddin Prawiranegara (1951) dan Soemitro Djojohadikoesoemo (1953)

Gambar UtamaPecahanUkuranWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTahun Pengeluaran dan Peredaran
Rp1127 × 66 mmBiruPantai dan SawahPegununganSjafruddin Prawiranegara1951
Rp2½Merah dan HijauPantai dan Pohon KelapaGaruda Pancasila

Seri Pemandangan Alam II (1953)

[sunting | sunting sumber]
Bagian DepanBagian BelakangPecahanUkuranWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTahun Pengeluaran dan Peredaran
Rp1127 × 66 mmBiruPantai dan SawahPegununganSoemitro Djojohadikoesoemo1953
Rp2½Merah dan HijauPantai dan Pohon KelapaGaruda Pancasila

Seri Suku Bangsa I dan II (1954-1956, sebagai uang negara)

[sunting | sunting sumber]

Meskipun Bank Indonesia telah terbentuk pada tahun 1952, namun peredaran ORI masih terus berlanjut. Ditandatangani oleh Ong Eng Die (1954) dan Jusuf Wibisono (1956).

Bagian DepanBagian BelakangPecahanUkuranWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTahun Pengeluaran dan Peredaran
Rp1130 × 60 mmBiruWanitaGaruda PancasilaOng Eng Die1954
Rp2½Merah dan HijauPria
Bagian DepanBagian BelakangPecahanUkuranWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTahun Pengeluaran dan Peredaran
Rp1130 × 60 mmBiruWanitaGaruda PancasilaJusuf Wibisono1956
Rp2½Merah dan HijauPria

Uang kertas Bank Indonesia

[sunting | sunting sumber]

Seri Kebudayaan (1952)

[sunting | sunting sumber]

Uang kertas pertama Bank Indonesia dikeluarkan pada tahun 1952 dengan pecahan Rp5, Rp10, Rp25, Rp50, Rp100, Rp500, dan Rp1.000 dengan tanda tangan Sjafruddin Prawiranegara dan Indra Kasuma.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp5BiruR.A. KartiniBatikSjafruddin Prawiranegara dan Indra Kasuma19521962
Rp10CoklatPatungBatikSjafruddin Prawiranegara dan Indra Kasuma19521962
Rp25BiruPohonBatikSjafruddin Prawiranegara dan Indra Kasuma19521962
Rp50HijauPohon dan burungBatikSjafruddin Prawiranegara dan Indra Kasuma19521962
Rp100CoklatPangeran DiponegoroBatikSjafruddin Prawiranegara dan Indra Kasuma19521962
Rp500Hijau, CoklatReliefBatikSjafruddin Prawiranegara dan Indra Kasuma19521962
Rp1.000Hijau, CoklatPatungBatikSjafruddin Prawiranegara dan Indra Kasuma19521962

Seri Hewan (1957)

[sunting | sunting sumber]

Uang kertas kedua Bank Indonesia dengan seri hewan diluncurkan pada tahun 1957 dengan tanda tangan Sjafruddin Prawiranegara dan Sabaroedin, dengan pecahan baru, Rp5.000. Kecuali pada pecahan Rp2.500, tanda tangan gubernur oleh Loekman Hakim.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp5HijauOrang utanCandi PrambananPangeran DiponegoroSjafruddin Prawiranegara dan Sabaroedin19571965
Rp10CoklatRusa JawaPerahu Kora koraPangeran DiponegoroSjafruddin Prawiranegara dan Sabaroedin19571965
Rp25CoklatBadak JawaRumah Adat TapanuliPangeran DiponegoroSjafruddin Prawiranegara dan Sabaroedin19571965
Rp50MerahBuayaMasjid Raya MedanPangeran DiponegoroSjafruddin Prawiranegara dan Sabaroedin19571965
Rp100HijauTupaiIstana BogorPangeran DiponegoroSjafruddin Prawiranegara dan Sabaroedin19571965
Rp500CoklatHarimau SumatraSawahPangeran DiponegoroSjafruddin Prawiranegara dan Sabaroedin19571965
Rp1.000CoklatGajahNelayanPangeran DiponegoroSjafruddin Prawiranegara dan Sabaroedin19571965
Rp2.500HijauKomodoSungai MartapuraPangeran DiponegoroLoekman Hakim dan Sabaroedin19571965
Rp5.000MerahBantengKapal pesiarPangeran DiponegoroSjafruddin Prawiranegara dan Sabaroedin19571965

Seri Pekerja (1958)

[sunting | sunting sumber]

Seri ini merupakan seri keempat uang kertas Bank Indonesia dan dicetak oleh Pertjetakan Kebajoran. Sebenarnya, uang kertas seri ini pertama kali diluncurkan pada tahun 1958 (pecahan Rp5-Rp5.000).

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp5CoklatPembuat batikRumah Adat Jawa TengahKepala BantengLoekman Hakim dan Sabaroedin19581966
Rp10CoklatPembuat patungRumah Adat BaliKepala BantengLoekman Hakim dan Sabaroedin19581966
Rp25HijauPengrajin ulosRumah Adat Sumatera UtaraKepala BantengLoekman Hakim dan Sabaroedin19581966
Rp50CoklatPemintal benangRumah Adat TimorKepala BantengLoekman Hakim dan Sabaroedin19581966
Rp100CoklatPenebangan pohonRumah Adat KalimantanKepala BantengLoekman Hakim dan Sabaroedin19581966
Rp500CoklatPembelahan buah kelapaRumah Adat MinahasaKepala BantengLoekman Hakim dan Sabaroedin19581966
Rp1.000VioletPengrajin perakRumah Adat Sumatera BaratKepala BantengLoekman Hakim dan Sabaroedin19581966
Rp1.000MerahPengrajin perakRumah Adat Sumatera BaratGaruda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19581966
Rp5.000HijauPetaniSawahKepala BantengLoekman Hakim dan Sabaroedin19581966
Rp5.000MerahPetaniSawahGaruda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19581966

Seri Bunga dan Unggas (1959)

[sunting | sunting sumber]

Seri ini merupakan seri ketiga uang kertas Bank Indonesia dan dicetak oleh Thomas De La Rue (TDLR) Co. Ltd., dari Inggris. Uang kertas seri ini sangat diminati oleh kolektor karena gambarnya yang menarik.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp5BiruBunga WijayakusumaBurung-madu pengantinGaruda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19591967
Rp10MerahHoyaKakatuaGaruda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19591967
Rp25HijauSerojaKuntul besarGaruda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19591967
Rp50CoklatBunga matahariElang-laut dada-putihGaruda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19591967
Rp100CoklatPatma raksasaRangkong badakGaruda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19591967
Rp500BiruBougenvilleAyam-hutan hijauGaruda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19591967
Rp1.000CoklatMelatiBurung CenderawasihGaruda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19591967
Rp2.500OranyeBungaKuau RajaGaruda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19591967
tidak diketahuiRp5.000CoklatBunga pada bagian tengah di antara dua Gapura Bali(tidak diketahui)Garuda PancasilaLoekman Hakim dan Sabaroedin19591967

Seri Pekerja II (1963-1964)

[sunting | sunting sumber]

Beberapa pecahan uang kertas seri pekerja, dimulai dari Rp10 hingga Rp10.000 mengalami perombakan. Tetapi, gambar pada bagian depan dan belakangnya masih sama seperti pada tahun 1958.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp10Abu-abuPembuat patungRumah Adat BaliGaruda PancasilaSoemarno dan Hertatijanto19631966
Rp25Abu-abuPengrajin ulosRumah Adat Sumatera UtaraGaruda PancasilaJusuf Muda Dalam dan Hertatijanto19641966
Rp50CoklatPemintal benangRumah Adat TimorGaruda PancasilaJusuf Muda Dalam dan Hertatijanto19641966


Rp100Coklat (versi pertama)
Biru (versi kedua)
Penebangan pohonRumah Adat KalimantanGaruda PancasilaJusuf Muda Dalam dan Hertatijanto19641966


Rp10.000HijauNelayanSungai BaritoKepala Banteng
Garuda Pancasila
Jusuf Muda Dalam dan Hertatijanto19641966
Rp10.000MerahNelayanSungai BaritoGaruda PancasilaJusuf Muda Dalam dan Hertatijanto19641966

Seri "Soekarno" (1965-1967)

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1965-an penarikan uang lama dilakukan dengan tujuan untuk mengeluarkan uang kertas baru, hal ini sesuai dengan Keputusan Presiden pada tanggal 13 Desember 1965. Pada tahun ini presiden memberikan wewenang kepada Bank Indonesia untuk mencetak uang untuk pertama kalinya. Uang yang dicetak oleh Bank Indonesia adalah uang dengan pecahan 5, 10, 25, 50, 100, 500, dan 1000 rupiah. Sedangkan, untuk pecahan 1 dan 2,5 rupiah dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia.

Uang pecahan 1 dan 2,5 rupiah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia adalah:

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp1MerahSoekarnoPenari Perempuan BaliGaruda PancasilaSoemarno19651968
Rp2,5Biru

Uang pecahan 5, 10, 25, 50, 100, 500, dan 1000 rupiah yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia adalah:

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp5UnguSoekarnoPenari Adat BaliSoekarnoSoetikno Slamet dan Indra Kasoema19651971
Rp10Cokelat Keabuan
Rp25 Hijau Soekarno (Thomas De La Rue); Kerbau (Pertjetakan Kebajoran)
Rp50 Biru Tua
Rp100 Merah Marun Penari Adat Batak Soekarno
Rp500 Abu-abu Penari Adat Jawa Soekarno (Thomas De La Rue); Kerbau dan Garuda (1968)(Pertjetakan Kebajoran) 1967
Rp1000 Hijau Tosca Penari Adat Bali Soekarno (Thomas De La Rue); Kerbau (Pertjetakan Kebajoran)

Seri "Soedirman" (1968-1970)

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1968, masa kepemimpinan Soeharto telah berdiri. Bank Indonesia diberi wewenang penuh untuk menerbitkan semua uang kertas termasuk pecahan dibawah 5 rupiah dan uang koin.

Pada tahun tersebut, uang kertas didesain dengan gambar depan Jenderal Soedirman dan gambar belakang berbagai variasi industri dan pembangunan.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp1MerahJenderal SoedirmanPerempuan Mengekstrak KelapaGaruda PancasilaRadius Prawiro, Soeksmono B. Martokoesoemo19681975
Rp2,5 Biru Tua Perempuan Membawa Padi
Rp5 Ungu Konstruksi Bendungan 1969
Rp10 Cokelat Tambang Minyak 1968
Gagal unggah Rp25 Hijau Jembatan Ampera 1969
Rp50 Ungu Biru Hanggar Pesawat
Rp100 Merah Pekerjaan Pasangan di Pelabuhan 1988
Rp500 Hijau Hitam Pabrik Kapas
Rp1000 Jingga Hitam Pabrik Pupuk 1977
Gagal unggah Rp5000 Biru Muda Pabrik Semen Pangeran Diponegoro 1970
Rp10000 Merah Muda Tambang Timah

Uang Kertas Bank Indonesia untuk Kesatuan Moneter

[sunting | sunting sumber]

Era tahun '70-an merupakan era perwujudan kesatuan moneter di Indonesia. Keputusan Presiden No.8/1971 pada tanggal 18 Februari 1971, menetapkan bahwa uang Rupiah berlaku umum sebagai alat/ media pembayaran yang sah di Prov. Irian Barat, di samping Rupiah Irian Barat yang akan ditarik secara bertahap. Penarikan kembali Rupiah Irian Barat dimulai pada tanggal 1 Mei 1971. Dengan demikian tercapailah kesatuan moneter di seluruh wilayah Republik Indonesia.[3]

Seri Rupiah Tahun '70-an (1975-1977)

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun ini Bank Indonesia menerbitkan uang kertas pecahan 1000, 5000 dan 10.000 yang di redesain pada 1975. Sedangkan, uang kertas pecahan 100 dan 500 di redesain pada 1977.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp100MerahBadak JawaBadak Jawa di habitatGaruda PancasilaRachmat Saleh (Gubernur), Arifin M. Siregar (Direktur)19771988
Gagal unggahRp500HijauRahmi Hatta dan Anggrek VandaGedung BI di JakartaPangeran Diponegoro
Rp1000BiruPageran DiponegoroBajak SawahGadjah MadaRachmat Saleh (Gubernur), Soeksmono. B. Martokoesoemo (Direktur)1975
Rp5000KremPenjala IkanKapal NelayanCut Nyak Dhien
Rp10000 Hijau dan Krem Relief Ramayana di Borobudur Batara Kala, Candi Jago Jenderal Sudirman 1980

Seri Rupiah Tahun '80-an I (1979-1982)

[sunting | sunting sumber]

Uang kertas pecahan 10.000 rupiah "Pemain Gamelan" 1979 adalah uang pecahan pertama yang menggantikan 10.000 rupiah "Relief Ramayana" 1975, kemudian diikuti dengan pecahan lainya kecuali pecahan 100 rupiah.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Gagal unggahRp500HijauBunga Bangkai RaksasaGedung BI di Kawasan Kota TuaAhmad YaniRachmat Saleh, Durmawel Achmad19821992
Rp1000BiruSoetomoNgarai SianokSultan Hasanuddin1980
Rp5000KremPengasah Intan, Kalimantan3 Rumah adat TorajaDewi Sartika
Rp10000UnguPemain Gamelan, JawaCandi PrambananSoetomoRachmat Saleh, Arifin M. Siregar1979

Seri Rupiah Tahun '80-an II (1984-1988)

[sunting | sunting sumber]

Uang kertas pecahan 100 rupiah "Badak Jawa" 1977 digantikan pada tahun 1984, keseluruhan seri rupiah tahun '70-an kemudian digantikan dengan uang kertas pecahan 500, 1000, 5000 dan 10.000 yang terbit pada tahun 1985-1988.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp100MerahGoura VictoriaBendungan AsahanGaruda PancasilaArifin M. Siregar, Sujitno Siswowidagdo19841995
Gagal unggahRp500HijauKijang TimorBangunan BI di CirebonAhmad Yani1988
Rp1000BiruSisinga-mangaraja XIIKeraton YogyakartaSultan Hasanuddin1987
Rp5000KremTeuku UmarMenara Masjid KudusMartha Christina Tiahahu1986
Rp10000UnguKartini dan Candi PrambananWisudawati dan Bendera RITjipto Mangunkusumo1985

Seri Rupiah Tahun '90-an I (1992-1993)

[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 28 Desember 1992, perombakan total pada semua jenis pecahan uang kertas dilakukan untuk yang pertama kalinya sejak tahun 1968. Selain itu, uang kertas pecahan 20.000 rupiah ditambahkan untuk yang pertama kalinya.

Pada tahun 1993, uang kertas 50.000 rupiah juga diterbitkan untuk yang pertama kalinya. Uang kertas ini, merupakan uang kertas peringatan "25 Tahun Pembangunan" pada pemerintahan presiden RI ke-2 Soeharto. Desainnya menampilkan Soeharto pada bagian depan dan Bandara Soekarno-Hatta pada bagian belakang, desain pesawat lepas landas pada uang kertas ini melambangkan pertumbuhan Indonesia di era tersebut.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp100MerahKapal PinisiGunung Anak KrakatauKi Hajar DewantaraAdrianus Mooy (Gubernur), Sujitno Siswowidagdo (Direktur)19922006
Rp500HijauOrang UtanRumah Adat DayakOmar Said Tjokro-aminoto
Rp1000 Biru Danau Toba Lompat Batu Nias Cut Nyak Meutia Adrianus Mooy (Gubernur), Hendrobudiyanto (Direktur)
Rp5000 Krem Sasando Rote Danau Kelimutu Adrianus Mooy (Gubernur), Hasudungan T. (Direktur)
Rp10000 Ungu Hamengku-buwono IX Candi Borobudur Wage Rudolf Supratman Adrianus Mooy (Gubernur), R. Rachmad (Direktur) 2000
Rp20000 Abu-abu Burung Cenderawasih Bunga Cengkeh Ki Hajar Dewantara Adrianus Mooy (Gubernur), Binhadi (Direktur)
Gagal unggah Rp50000 Biru Muda Soeharto Soekarno Hatta International Airport Wage Rudolf Supratman Adrianus Mooy (Gubernur), TM Sjakur Machmud (Direktur) 1993

Seri Rupiah Tahun '90-an II (1998-1999)

[sunting | sunting sumber]

Uang kertas pecahan besar yaitu 10.000, 20.000 dan 50.000 rupiah diperbarui pada tahun 1998 dan 1999. Sedangkan pertanggal 1 November 1999, uang kertas polimer senilai 100.000 rupiah diterbitkan untuk yang pertama kalinya. Uang pecahan ini merupakan uang kertas dengan nilai tertinggi yang pernah diterbitkan oleh Bank Indonesia hingga saat ini.

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp10000Krem BiruCut Nyak DhienDanau Segara AnakWage Rudolf SoepratmanJ. Soedradjad Djiwandono, Mukhlis Rasyid19982008
Rp20000Krem HijauKi Hajar DewantaraGuru dan Murid di SekolahKi Hadjar DewantaraJ. Soedradjad Djiwandono, Haryono
Rp50000 Krem Biru WR Soepratman Upacara Bendera Omar Said Tjokro-aminoto Syahril Sabirin (Gubernur), Dono Iskandar Djojosoebroto (Deputi Gubernur) 1999
Gagal unggah Rp100000 Jingga Biru Soekarno - Hatta Gedung MPR dan DPR RI Garuda dan Logo Bank Indonesia Syahril Sabirin (Gubernur), Iwan R. Prawiranata (Deputi Gubernur)

Uang Kertas Bank Indonesia Terkini

[sunting | sunting sumber]

Era tahun 2000-an merupakan era di mana perkembangan uang kertas yang dikeluarkan oleh Bank indonesia semakin diperbaiki. Adapun uang kertas tersebut adalah

Seri Pahlawan Nasional 1 (2000-2005)

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun '2000-an uang kertas pertama yang diterbitkan adalah pecahan 1000 rupiah, diikuti dengan pecahan 5000 rupiah pada tahun 2001. Masing-masing memiliki gambar Kapitan Pattimura dan Tuanku Imam Bonjol pada bagian depan.

Tiga tahun berselang tepatnya pada 29 Desember 2004, Bank Indonesia mengeluarkan uang pecahan Rp20.000,- dan Rp100.000,-. Kedua uang kertas ini telah mengakomodasi keinginan dari penyandang tunanetra untuk menggunakan kode tertentu di samping kanan bagian muka uang tersebut. Di samping itu, juga terdapat perubahan dari ukuran benang pengaman yang jauh lebih lebar dan nomor seri tidak simetris. Pada uang pecahan Rp100.000 baru terdapat dua pita dengan kombinasi 2 warna.[4]

Satu tahun selanjutnya, pada 20 Oktober 2005, Bank Indonesia juga mengeluarkan uang pecahan Rp10.000,- dan Rp50.000,-. Sepertihalnya pada tahun 2004, uang kertas pecahan baru ini juga mengakomodir kebutuhan para tuna netra dengan menyediakan kode tertentu (blind code). Selain itu, pecahan baru ini dilengkapi dengan benang pengaman yang jauh lebih lebar dan terlihat seperti dianyam, nomor seri yang berjenis teleskopik dan tidak simetris serta tinta berubah warna.[5]

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp1000BiruKapitan PattimuraPulau Matiara dan TidoreTjut Nyak MeutiaBervariasi2000Masih berlaku hingga saat ini
Rp5000 Krem Tuanku Imam Bonjol Penenun Songket 2001
Gagal unggah Rp10000 Ungu Sultan Mahmud Badaruddin II Rumah Tradisional Limas Sumsel Sultan Mahmud Badaruddin II 2005
Rp20000 Hijau Oto Iskandar Di Nata Pemetik Teh Oto Iskandar di Nata 2004
Rp50000 Biru Tua I Gusti Ngurah Rai Pura Ulun Danu Bratan, Bali I Gusti Ngurah Rai 2005
Gagal unggah Rp100000 Merah Soekarno-Hatta Gedung MPR dan DPR RI WR Supratman 2004

Revisi Seri Pahlawan Nasional 1 (2010-2011)

[sunting | sunting sumber]

Revisi uang kertas Bank Indonesia Seri Pahlawan Nasional 1 dimulai pada pecahan Rp10.000,-. Pada tanggal 20 Juli 2010, Bank Indonesia merevisi uang kertas ini dengan mengganti warna yang berbeda, dari ungu kemerahan menjadi ungu kebiruan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan perbedaan yang jelas antara uang kertas pecahan 10.000 dan 100.000 rupiah.[6]

Setahun selanjutnya, tepatnya pada 28 Oktober 2011. Bank Indonesia juga merevisi uang kertas pecahan 20.000, 50.000 dan 100.000 rupiah. Adapun perbedaanya terletak pada penambahan unsur pengaman rainbow printing di sebelah kanan gambar utama pada bagian depan uang, desain berbentuk lingkaran-lingkaran kecil, dan kode tuna netra yang semula tidak kasat mata menjadi kasat mata dan terasa kasar apabila diraba (cetak intaglio).[7]

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp10000 Ungu Sultan Mahmud Badaruddin II Rumah Tradisional Limas Sumsel Sultan Mahmud Badaruddin II Bervariasi 2010 Masih berlaku hingga saat ini
Rp20000 Hijau Oto Iskandar Di Nata Pemetik Teh Oto Iskandar di Nata 2011
Rp50000 Biru Tua I Gusti Ngurah Rai Pura Ulun Danu Bratan, Bali I Gusti Ngurah Rai
Rp100000 Merah Soekarno-Hatta Gedung MPR dan DPR RI WR Supratman

Seri Pahlawan Nasional 2 (2016)

[sunting | sunting sumber]

Sejak berdirinya pemerintahan Presiden Joko Widodo, presiden meresmikan 7 pecahan uang rupiah kertas Tahun Emisi (TE) 2016. Uang ini tediri atas pecahan 1000, 2000, 5000, 10.000, 20.000, 50.000 dan 100.000 rupiah. Peresmian ini sekaligus menandai berlakunya 7 pecahan uang tersebut di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak tanggal 19 Desember 2016.[8] Adapun uang tersebut adalah

Bagian DepanBagian BelakangPecahanWarna DominanGambar DepanGambar BelakangTanda AirTanda TanganTahun PengeluaranTahun Penarikan Kembali
Rp1000 Hijau Muda Cut Meutia Tari Tifa Tjut Meutia Bervariasi 2016 Masih berlaku hingga saat ini
Rp2000Abu-abuMohammad Husni ThamrinTari PiringPangeran Antasari
Rp5000KremIdham ChalidTari GambyongTjut Meutia
Rp10000UnguFrans KaisiepoTari PakarenaSultan Mahmud Badaruddin II
Rp20000HijauG.S.S.J. RatulangiTari GongOto Iskandar di Nata
Rp50000 Biru Tua Djuanda Kartawidjaja Tari Legong I Gusti Ngurah Rai
Rp100000 Merah Soekarno and Mohammad Hatta Tari Topeng Betawi WR Supratman

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Anonim. "Banknotes of The Rupiah". Wikipedia. Diakses tanggal 20 September 2022.
  2. Anonim. "Japanese government-issued currency in the Dutch East Indies". Wikipedia. Diakses tanggal 20 September 2022.
  3. Indonesia, Bank. "Koleksi Numismatik Bank Indonesia". Bank Indonesia. Diakses tanggal 18 September 2022.
  4. "BI Terbitkan Uang Baru Pecahan Rp 20.000 dan Rp 100.000". detikcom. 25 November 2004. Diakses tanggal 28 September 2022.
  5. "BI Keluarkan Uang Baru Pecahan Rp 50.000 dan Rp 10.000". detikcom. 19 September 2005. Diakses tanggal 28 September 2022.
  6. KSP, R. Adhi (20 Juli 2010). KSP, R Adhi (ed.). "Perbedaan Uang Rp 10.000 Lama dan Baru". Kompas.com. Diakses tanggal 28 September 2022.
  7. Aco, Hasanudin (28 Oktober 2011). Simanjuntak, Johnson (ed.). "Desain Baru Pecahan Rp 20.000, Rp 50.000, dan Rp 100.000". Tribunnews.com. Diakses tanggal 28 September 2022.
  8. Humas Setkab (19 Desember 2016). "Inilah 11 Pecahan Uang Rupiah Baru Tahun Emisi 2016 Yang Diluncurkan Bank Indonesia". Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 28 September 2016.