Pakubuwana XI

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Sri Susuhunan Pakubuwana XI
Pakubuwana XI
Pakubuwana XI
Susuhunan Surakarta
Memerintah 19391945
Pendahulu Susuhunan Pakubuwana X
Penerus Susuhunan Pakubuwana XII
Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer
Gubernur Militer Jepang Hitoshi Imamura
Kumashaki Harada
Shigeichi Yamamoto
Lahir 1 Februari 1886
Bendera Hindia Belanda Surakarta, Hindia Belanda
Mangkat 1 Juni 1945 (umur 59)
Bendera Jepang Surakarta, Wilayah Kolonial Jepang
Pasangan GKR. Kencana
GKR. Pakubuwana
KRAy. Dayaresmi
KRAy. Dayaningsih
KRAy. Dayasuma
KRAy. Dayaasmara
KRAy. Dayaningrat
Nama lengkap
Raden Mas Ontoseno
Wangsa Wangsa Mataram
Ayah Susuhunan Pakubuwana X
Ibu KRAy. Mandayaretna
Agama Islam

Sri Susuhunan Pakubuwana XI (Bahasa Jawa: Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwono XI) lahir di Surakarta, 1 Februari 1886 – meninggal di Surakarta, 1 Juni 1945 pada umur 59 tahun, adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 19391945.

Riwayat Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Nama aslinya adalah Raden Mas Antasena (Bahasa Jawa: Raden Mas Ontoseno), merupakan putra sulung Susuhunan Pakubuwana X dari istri selir KRAy. Mandayaretna. la dilahirkan pada Senin Kliwon, 1 Februari 1886, dan setelah dewasa bergelar KGPH. Hangabehi. Ia naik tahta sebagai Susuhunan Pakubuwana XI pada tanggal 26 April 1939.

Pengangkatan KGPH. Hangabehi menjadi Pakubuwana XI bukanlah tanpa konflik. Pasalnya, Pakubuwana X cenderung lebih memilih KGPH. Kusumayuda (GRM. Abimanyu), adik Hangabehi, untuk menggantikannya. Apalagi di mata Pemerintah Hindia Belanda, Kusumayuda dianggap merupakan bangsawan Jawa yang berkepribadian kuat, mandiri, serta tertarik pada persoalan keuangan dan administrasi keraton. Di sisi lain, posisi Hangabehi juga sangat kuat, terutama dukungan mayoritas elite keraton yang anti-Belanda. Pakubuwana X sendiri memiliki putra dan putri lebih dari 60 orang. Masalah yang mengganjal ialah bahwa Pakubuwana X tidak memperoleh putra dari kedua permaisurinya. Dua putra Pakubuwana X yang tertua, Hangabehi dan Kusumayuda, lahir dari selir. Sebenarnya pada tahun 1898 Pakubuwana X sudah berniat mengangkat Kusumayuda sebagai putra mahkota meski usianya 40 hari lebih muda dari Hangabehi. Sampai akhirnya keinginan Pakubuwana X itu diurungkan, dan ia lebih memilih Hangabehi untuk menjadi pewaris tahta.

Hangabehi kemudian diberikan sejumlah posisi penting, di antaranya menjabat sebagai Wedana Tengen (jabatan setingkat Pangageng Putra Sentana), serta memperoleh kepercayaan sesoeratman, sebagai Wakil Ketua Raad Nagari, sebuah dewan pertimbangan kerajaan. Hangabehi juga diutus Pakubuwana X untuk menghadiri undangan peringatan 40 tahun kenaikan tahta Ratu Wilhelmina di Belanda.

Pada akhir bulan November 1938, Pakubuwana X sakit keras dan akhirnya wafat pada Februari 1939. Atas nasihat Den Haag, Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer memilih KGPH. Hangabehi untuk menggantikan ayahnya sebagai Pakubuwana XI. Pengangkatan Hangabehi disertai dengan kontrak politik yang menurunkan kewibawaan susuhunan. Dalam kontrak politik itu disebutkan bahwa Hangabehi bisa diturunkan dari kedudukannya jika ternyata tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam kontrak politik plus pemotongan anggaran belanja keraton secara drastis.

Pemerintahan Pakubuwana XI terjadi pada masa sulit, yaitu bertepatan dengan meletusnya Perang Dunia Kedua. Ia juga mengalami pergantian pemerintah penjajahan dari tangan Belanda kepada Jepang sejak tahun 1942. Pihak Jepang menyebut Kasunanan Surakarta dengan nama Solo Koo. Pada masa pendudukan Jepang terjadi inflasi yang mengakibatkan keuangan keraton dan para bangsawan amat menderita. Jepang juga merampas sebagian besar kekayaan keraton dan aset-aset Kasunanan Surakarta, hingga akhirnya Pakubuwana XI jatuh sakit. Pakubuwana XI kemudian wafat pada 1 Juni 1945, ia digantikan oleh putranya yang masih berusia sangat muda sebagai Pakubuwana XII.

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Susuhunan Pakubuwana XI bersama GKR. Pakubuwana saat meresmikan sekolah HBS di Surakarta (sekitar tahun 1940-1942).
Susuhunan Pakubuwana XI (ke tiga dari kiri) bersama Sultan Hamengkubuwana IX dan KGPAA. Mangkunegara VII menghadap PM Hideki Tojo di Batavia pada tahun 1943.
  • Anak laki-laki pertama dari Susuhunan Pakubuwana X dan istri selir KRAy. Mandayaretna.
  • Memiliki dua istri permaisuri:
  1. GKR. Kencana (wafat sebelum Pakubuwana XI naik tahta)
  2. GKR. Pakubuwana
  • Memiliki lima istri selir:
  1. KRAy. Dayaresmi
  2. KRAy. Dayaningsih
  3. KRAy. Dayasuma
  4. KRAy. Dayaasmara
  5. KRAy. Dayaningrat.
  • Memiliki enam putra:
  1. KGPH. Mangkubumi
  2. KGPH. Hangabehi
  3. KGPH. Prabuwijaya
  4. GPH. Bintara
  5. GPH. Natapura
  6. KGPH. Purbaya (naik tahta sebagai Susuhunan Pakubuwana XII)
  • Memiliki lima putri:
  1. GKR. Ayu
  2. GKR. Bendara
  3. GKR. Candrakirana
  4. GRAy. Kusumadartaya
  5. GKR. Kedaton

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

  • (Indonesia) [1]
  • (Indonesia) [2]

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Pakubuwana X
Susuhunan Surakarta
1939-1945
Diteruskan oleh:
Pakubuwana XII