Susuhunan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Susuhunan atau Sunan adalah gelar yang merujuk pada penguasa monarki, meskipun digunakan kaum bangsawan penggunaanya juga ditujukan kepada orang yang dihormati. Gelar ini berasal dari bahasa Jawa Kuno susuhunan yang berakar dari kata suhun. Istilah "susuhunan" dapat diartikan sebagai "junjungan".

Di pulau Jawa gelar ini tidak hanya digunakan pada penguasa monarki tetapi juga oleh ulama anggota Sembilan Wali (Wali Songo), yang merupakan penyebar agama Islam. Selain di Jawa, gelar ini dipakai juga oleh penguasa tertentu di Kesultanan Banjar dan Kesultanan Palembang.

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Daftar anggota Walisongo[sunting | sunting sumber]

Daftar susuhunan dari Mataram[sunting | sunting sumber]

Daftar susuhunan dari Surakarta[sunting | sunting sumber]

Penggunaan dalam masyarakat Sunda dan Tengger[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Sunda memakai "sunan" untuk menyebut orang yang memiliki kedudukan terhormat (Susuhunan). Salah satu contohnya adalah penyebutan tokoh Sunan Ambu, sosok perempuan mulia yang merupakan ibu dari kebudayaan Sunda.

Masyarakat Tengger yang mewarisi tradisi Jawa pra-Islam, menyebut beberapa nama leluhur dan roh-roh pelindung dengan gelar sunan, seperti:

  • Sunan Pernoto (roh yang mendiami Pura Luhur Ponten dan juga salah satu anak Rara Anteng dan Joko Seger)
  • Sunan Perniti (pelindung tangga naik ke Bromo, juga salah satu anak Rara Anteng dan Joko Seger)
  • Sunan Dewa Kusuma (roh yang mendiami kawah Bromo, juga salah satu anak Roro Anteng dan Joko Seger), dan
  • Sunan Ibu (roh Bromo).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]