Pakubuwana XIII

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pakubuwana XIII
ꦥꦏꦸꦧꦸꦮꦤ꧇꧑꧓꧇
Tingalan Jumenengan Dalem ke-13 Susuhunan Pakubuwono XIII (cropped).jpg
Sri Susuhunan Pakubuwana XIII ketika memperingati upacara Tingalandalem Jumenengan ke-13
Susuhunan Surakarta
ke-12
Bertakhta10 September 2004 – sekarang
PendahuluPakubuwana XII
Putra mahkotaGRM. Surya Mustika/ KGPH. Purbaya/ KGPAA. Hamangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram
PresidenMegawati Soekarnoputri
Susilo Bambang Yudhoyono
Joko Widodo
Lahir28 Juni 1948 (umur 74)
Surakarta, Indonesia
WangsaMataram
Nama lengkap
Gusti Raden Mas Suryo Partono
Nama takhta
Sahandhap Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Ingkang Jumeneng kaping Tiga Welas ing Nagari Surakarta Hadiningrat[1][2]
AyahPakubuwana XII
IbuKRAy. Pradapaningrum
PasanganKRAy. Endang Kusumaningdyah (bercerai)
KRAy. Winarti (bercerai)
GKR. Pakubuwana
Anak
  • GRM. Suryo Suharto/KGPH. Mangkubumi
  • GRM. Suryo Aryo Mustiko/KGPH. Purbaya/KGPAA. Hamangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram
  • GRAy. Rumbai Kusuma Dewayani/GKR. Timur
  • GRAy. Devi Lelyana
  • GRAy. Ratih Widyasari
  • BRAy. Sugih Oceani (wafat sebelum PB XIII naik takhta)
  • GRAy. Putri Purnaningrum
AgamaIslam

Sri Susuhunan Pakubuwana XIII (disingkat sebagai PB XIII, bahasa Jawa: ꦱꦿꦶꦱꦸꦱꦸꦲꦸꦤꦤ꧀ꦥꦏꦸꦧꦸꦮꦤꦏꦥꦶꦁ​ꦠꦶꦒꦮꦺꦭꦱ꧀; lahir 28 Juni 1948) adalah Susuhunan Surakarta kedua belas yang bertakhta sejak tahun 2004. Gelar Pakubuwana XIII awalnya diklaim oleh dua pihak, setelah wafatnya Susuhunan Pakubuwana XII tanpa putra mahkota yang jelas karena ia tidak memiliki permaisuri, maka dua putra Pakubuwana XII dari ibu yang berbeda saling mengakui takhta ayahnya.

Putra yang tertua, KGPH. Hangabehi, oleh keluarga didaulat sebagai penguasa keraton dan KGPH. Tejowulan menyatakan keluar dari keraton; dua-duanya mengklaim pemangku takhta yang sah, dan masing-masing menyelenggarakan acara pemakaman ayahnya secara terpisah. Akan tetapi, konsensus keluarga telah mengakui bahwa Hangabehi yang diberi gelar Pakubuwana XIII.

Konflik Raja Kembar tersebut berlangsung selama sekitar delapan tahun, hingga pada tahun 2012 dualisme kepemimpinan di Kasunanan Surakarta akhirnya usai setelah KGPH. Tejowulan mengakui gelar Pakubuwana XIII menjadi milik KGPH. Hangabehi dalam sebuah rekonsiliasi resmi yang diprakarsai oleh Pemerintah Kota Surakarta bersama DPR-RI, dan KGPH. Tejowulan sendiri menjadi mahapatih (kemudian mahamenteri) dengan gelar Kangjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung.[3][4]

Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Dalam buku Mas Behi: Angger-Angger dan Perubahan Zaman yang diterbitkan Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta tahun 2004 menyebutkan, dari seorang garwa ampil Susuhunan Pakubuwana XII bernama KRAy. Pradapaningrum, telah lahir seorang anak lelaki tertua pada Senin, 28 Juni 1948, dengan nama GRM. Suryadi. Karena sakit-sakitan, neneknya yang permaisuri Susuhunan Pakubuwana XI bernama GKR. Pakubuwana, mengganti nama sang cucu menjadi GRM. Suryo Partono (bahasa Jawa: Gusti Raden Mas Surya Partana) seperti lazimnya masyarakat kebanyakan mengikuti petuah spiritual dalam adat Suku Jawa. Ketika sudah dewasa dan Pakubuwana XII bersama seluruh komunitas keraton berada di alam republik, pada tahun 1979 paugeran atau pranata adat lalu menetapkan GRM. Suryo Partono yang merupakan putra laki-laki tertua berhak menyandang nama Hangabehi dengan gelar Kangjeng Gusti Pangeran Harya. Artinya, dia adalah seorang pangeran tertua yang disiapkan menjadi calon penerus takhta.

Dalam pemerintahan Kasunanan Surakarta, KGPH. Hangabehi pernah menjabat sebagai Pangageng Museum Keraton Surakarta dan berbagai jabatan penting lainnya. Ia juga mendapat anugerah Bintang Sri Kabadya I oleh Pakubuwana XII atas jasa-jasanya dalam mengatasi musibah kebakaran yang melanda Keraton Surakarta tahun 1985. Dari seluruh putra-putri Pakubuwana XII, hanya Hangabehi yang pernah memperoleh bintang kehormatan tersebut.[5] Untuk karier di luar keraton, Hangabehi pernah bekerja di Caltex Pacific Indonesia, Riau, sebelum akhirnya pindah ke Jakarta.[5][6] Selain menerima beberapa anugerah tertinggi dari beberapa lembaga institusi dalam negeri maupun negara asing, Hangabehi juga mendapat gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Global (GULL, Amerika Serikat). Kegemaran kesehariannya pun tak berbeda dengan orang kebanyakan di luar keraton. Hangabehi, selain hobi bermain keyboard dan berbagai alat musik lainnya, juga pernah aktif di Organisasi Amatir Radio Indonesia.[6]

Naik Takhta sebagai Raja[sunting | sunting sumber]

Setelah wafatnya Susuhunan Pakubuwana XII pada 11 Juni 2004, terjadi ketidaksepakatan di antara putra-putri Pakubuwana XII mengenai siapa yang akan menggantikan kedudukan raja. Pada 31 Agustus 2004, salah satu putra Pakubuwana XII, KGPH. Tejowulan, dinobatkan sebagai raja oleh beberapa putra-putri Pakubuwana XII di Sasana Purnama, Badran, Kottabarat, Surakarta, yang merupakan salah satu rumah milik pengusaha BRAy. Mooryati Sudibya.[7]

Padahal, sebelumnya dalam rapat Forum Komunikasi Putra-Putri (FKPP) Pakubuwana XII yang berlangsung 10 Juli 2004, menetapkan bahwa putra tertua Pakubuwana XII, KGPH. Hangabehi, yang berhak menjadi raja selanjutnya, dan memilih tanggal penobatan Hangabehi sebagai raja pada 10 September 2004.[8] Namun pada awal September 2004, secara tiba-tiba KGPH. Tejowulan bersama para pendukungnya menyerbu dan mendobrak pintu Keraton Surakarta. Keributan ini bahkan sempat menimbulkan beberapa orang luka-luka, termasuk para bangsawan dan abdidalem yang saat itu berada di dalam keraton. Atas kejadian tersebut, KP. Edy Wirabumi (suami GKR. Wandansari) selaku ketua Lembaga Hukum Keraton Surakarta didampingi beberapa orang kuasa hukum bahkan melaporkan para pendukung Tejowulan ke Polresta Surakarta atas dasar perusakan cagar budaya di lingkungan keraton.[9]

Akhirnya pada 10 September 2004, KGPH. Hangabehi tetap dinobatkan sebagai raja oleh para pendukungnya di Keraton Surakarta. Kehadiran tiga sesepuh keraton, yaitu Brigjen. Prof. GPH. Harya Mataram, S.H., BKPH. Prabuwinata, dan GRAy. Panembahan Bratadiningrat, yang merestui KGPH. Hangabehi menjadi Pangeran Adipati Anom di Dalem Ageng Prabasuyasa, merupakan salah satu legitimasi bertakhtanya Hangabehi sebagai raja baru Kasunanan Surakarta. Ketiga sesepuh keraton tersebut juga berkenan mengawal Hangabehi ketika berjalan menuju ke Bangsal Manguntur Tangkil di Kompleks Sitihinggil Lor untuk menyaksikan dan merestui jumenengan nata sebagai Susuhunan Pakubuwana XIII, berikut disaksikan oleh sejumlah putra-putridalem, para cucu Susuhunan Pakubuwana XII (wayahdalem), para bangsawan dan pejabat keraton (sentanadalem), para abdidalem, para duta besar negara asing, utusan-utusan dari kerajaan-kerajaan di Indonesia, serta masyarakat.[10]

Rekonsiliasi dengan KGPH. Tejowulan[sunting | sunting sumber]

Susuhunan Pakubuwana XIII bersama KGPH. Tejowulan dan Wali Kota Joko Widodo dalam acara penandatanganan nota kesepahaman rekonsiliasi damai di Balai Kota Surakarta, 24 Mei 2012.[11]

Rekonsiliasi damai antara KGPH. Hangabehi dan KGPH. Tejowulan berlangsung pada tahun 2012, atas prakarsa wali kota Surakarta saat itu, Joko Widodo.[11] Penandatanganan rekonsiliasi dilakukan di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, 4 Juni 2012. Rekonsiliasi itu disaksikan berbagai pihak seperti Ketua DPR-RI Marzuki Alie, pimpinan Komisi II, IV, dan IX DPR-RI, perwakilan Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Wali Kota Surakarta Joko Widodo, dan lainnya.[12] Rekonsiliasi menyepakati bahwa KGPH. Tejowulan bersedia melepas gelar Pakubuwana XIII. Selanjutnya, Tejowulan mendapat gelar Kangjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung,[3] dan gelar Susuhunan Pakubuwana XIII secara tunggal menjadi milik KGPH. Hangabehi.

Pada awalnya, rekonsiliasi damai tersebut sempat ditentang oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta yang dipimpin oleh GKR. Wandansari (Gusti Moeng).[13] Saat pelaksanaan upacara Tingalandalem Jumenengan (peringatan kenaikan takhta) Susuhunan Pakubuwana XIII yang ke-8 pada 15 Juni 2012, kubu LDA yang terdiri dari beberapa orang putra-putri Pakubuwana XII dan Pakubuwana XIII bahkan sempat menghalangi rombongan kubu Tejowulan yang hendak memasuki Sasana Sewaka, hingga menyebabkan terjadinya keributan dan adu mulut antara GKR. Timur (putri tertua Pakubuwana XIII) bersama salah seorang bibinya yang tergabung dalam kubu LDA, dengan salah satu pangeran dari kubu pendukung rekonsiliasi.[14] Meski demikian, upacara dapat dilangsungkan dengan kondusif dan KGPH. Tejowulan yang secara resmi diundang untuk menghadiri upacara tersebut diperkenankan duduk bersila di sebelah singgasana Pakubuwana XIII, yang selanjutnya ia melakukan sungkem di hadapan Pakubuwana XIII sebagai bentuk permohonan maaf.[13]

Konflik kembali terjadi pada 26 Agustus 2013. GKR. Wandansari dan beberapa kerabat keraton yang tergabung di LDA memaksa masuk ke dalam Sasana Putra di kawasan Keraton Surakarta dan membuat kekacauan dengan membubarkan secara paksa acara halal bihalal sekaligus pengukuhan Tejowulan sebagai mahamenteri yang diadakan oleh Pakubuwana XIII.[4] Bahkan, pada malam harinya terjadi keributan susulan yang mengakibatkan pendobrakan pintu gerbang Sasana Putra oleh massa pendukung Pakubuwana XIII dan sebagian warga Baluwarti.[15] Usai mendobrak pintu Sasana Putra, massa berusaha menyelamatkan Pakubuwana XIII dan keluarganya yang dicurigai telah disandera oleh pihak LDA.[16] Setelah peristiwa tersebut, Pakubuwana XIII tidak dapat memasuki kawasan inti Keraton Surakarta dan memimpin beberapa upacara adat karena adanya penutupan beberapa akses dari kediamannya di Sasana Narendra menuju kawasan inti keraton.[17] Setelah TNI dan Kepolisian turun tangan serta adanya mediasi antara pihak Pakubuwana XIII dan Lembaga Dewan Adat,[18][19] pada bulan April 2017 akhirnya Pakubuwana XIII dan Tejowulan bisa kembali masuk ke dalam keraton dan menyelenggarakan upacara tingalandalem jumenengan yang dihadiri oleh keluarga, abdidalem, perwakilan masyarakat, dan beberapa pejabat tinggi pemerintahan.[20]

Riwayat Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Peran sebagai raja Surakarta[sunting | sunting sumber]

Sejak dinobatkan menjadi raja Kasunanan Surakarta pada 10 September 2004, Susuhunan Pakubuwana XIII telah berperan dan terlibat dalam berbagai peristiwa penting, khususnya mengenai posisinya sebagai kepala keluarga keraton dan yang dipertuan pemangku takhta adat, yang merupakan simbol dan pemimpin informal kebudayaan Jawa khususnya budaya Jawa gagrak (gaya) Surakarta. Selain menyelenggarakan berbagai upacara adat dan acara besar keraton seperti labuhan, grebeg, sekaten, kirab malam 1 Sura, dan lain-lain,[21] Pakubuwana XIII juga melanjutkan tradisi pemberian gelar kebangsawanan atau kepangkatan (selain yang diberikan untuk keluarga keraton dan abdidalem) setara honoris causa kepada pejabat pemerintahan, anggota TNI dan Kepolisian, politisi, pengusaha, ulama, tenaga kependidikan, seniman dan budayawan, maupun masyarakat umum dari berbagai kalangan yang dianggap berprestasi, mempunyai perhatian terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Jawa, atau memiliki jasa terhadap Keraton Surakarta dan Republik Indonesia.[22]

Sebagai raja Kasunanan Surakarta yang secara tradisional dianggap sebagai figur pelindung kebudayaan Jawa, pada tahun 2014 Susuhunan Pakubuwana XIII bersama Sultan Hamengkubuwana X dari Kesultanan Yogyakarta dan perwakilan dari Kesultanan Kasepuhan Cirebon turut menghadiri kirab dan sarasehan kebudayaan dalam rangka hari jadi Kabupaten Batang.[23] Dalam bidang pelestarian kebudayaan, Pakubuwana XIII beberapa kali menghadiri dan berpartisipasi dalam berbagai pameran keris dan tosan aji serta mengadakan pergelaran wayang kulit.[21] Pada peringatan Hari Wayang Nasional dan Dunia di Institut Seni Indonesia Surakarta tahun 2018, Susuhunan Pakubuwana XIII bersama KPA. Begug Purnomosidi (mantan bupati Wonogiri) turut menerima penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai pemrakarsa pergelaran wayang kulit dengan kelir terpanjang di dunia.[24] Di tahun 2018, Susuhunan Pakubuwana XIII selaku pemimpin tertinggi keluarga besar Keraton Surakarta memberikan kekancingan dan surat silsilah kepada keluarga keturunan Mr. RAA. M. Sis Cakraningrat dan GKR. Pembayun (putri tunggal Susuhunan Pakubuwana X dengan permaisurinya, GKR. Hemas) yang menjadi bukti pengesahan bahwa mereka adalah pemilik sah dari tanah seluas beberapa hektar di Temon, Kulon Progo yang akan dipergunakan untuk bangunan Bandar Udara Internasional Yogyakarta, yang kepemilikannya sempat diklaim oleh orang lain.[25][26]

Susuhunan Pakubuwana XIII aktif memimpin langsung pelaksanaan upacara-upacara adat dan menghadiri peresmian perkumpulan abdidalem di berbagai daerah.[27][28] Selain itu, Pakubuwana XIII bersama para kerabat Keraton Surakarta juga terus menjaga hubungan baik dengan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah Provinsi Jawa Tengah, Kota Surakarta, serta daerah-daerah lain.[29] Seperti yang pernah dilakukan kepada beberapa wali kota Surakarta sebelumnya, pada 20 September 2021 Pakubuwana XIII secara langsung memberikan gelar kebangsawanan kepada Wali Kota Gibran Rakabuming Raka.[30] Pada bulan Oktober-November 2021, Pakubuwana XIII dan Keraton Surakarta turut membantu program vaksinasi pencegahan Covid-19 di Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Pacitan dengan memberikan 20.000 dosis vaksin gratis untuk warga.[31] Dalam hubungannya dengan pemimpin dan kerabat Kadipaten Mangkunegaran, pada 12 Maret 2022 Susuhunan Pakubuwana XIII bersama Sultan Hamengkubuwana X dan Adipati Pakualam X secara resmi menghadiri upacara pengukuhan Adipati Mangkunegara X di Pura Mangkunegaran Surakarta.[32]

Melantik putra mahkota[sunting | sunting sumber]

Dalam upacara Tingalandalem Jumenengan yang ke-18 pada 27 Februari 2022 Susuhunan Pakubuwana XIII mengangkat KGPH. Purbaya, yang merupakan putra laki-lakinya yang lahir dari permaisuri, sebagai putra mahkota Kasunanan Surakarta dengan gelar KGPAA. (Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom) Hamangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram.[33] Pengukuhan Purbaya sebagai putra mahkota tersebut disaksikan oleh kakak dan beberapa adik Pakubuwana XIII, kakak perempuan Purbaya, keluarga besar Keraton Surakarta yang hadir, para abdidalem, dan para tamu undangan yang terdiri dari beberapa pejabat tinggi pemerintahan serta perwakilan dari kerajaan-kerajaan di Indonesia dan masyarakat umum, termasuk Ketua DPD-RI La Nyalla Mattalitti, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Wiranto dan Addatuang Sidenreng XXV Andi Faisal.[33][34]

Silsilah[sunting | sunting sumber]

  1. Nuk Kusumaningdyah/KRAy. Endang Kusumaningdyah (bercerai)
  2. Winari Sri Haryani/KRAy. Winarti (bercerai)
  3. Asih Winarni/KRAy. Pradapaningsih/GKR. Pakubuwana (sebagai permaisuri)
  1. GRM. Suryo Suharto/KGPH. Mangkubumi
  2. GRM. Suryo Aryo Mustiko/KGPH. Purbaya (Purubaya)/KGPAA. Hamangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram (sebagai putra mahkota)
  • Memiliki lima putri:[37]
  1. GRAy. Rumbai Kusuma Dewayani/GKR. Timur
  2. GRAy. Devi Lelyana Dewi
  3. GRAy. Ratih Widyasari
  4. BRAy. Sugih Oceani
  5. GRAy. Putri Purnaningrum

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ HajadDalem Ringgitan Tutup Suro Tahun EHE 1956 // "SESAJI RAJA SUYA" Dalang: KGPH. Benowo Youtube.com
  2. ^ Wilujengan HajadDalem Mengeti Hadeging Nagari Karaton Surakarta Hadiningrat Tahun EHE 1956 / 2022 Youtube.com
  3. ^ a b Tedjowulan Berhasil 'Tembus' Tembok Keraton Viva.co.id
  4. ^ a b Pengukuhan Mahapatih Tedjowulan digagalkan kubu Gusti Moeng Merdeka.com
  5. ^ a b "Lelampahane Sinuhun PB XIII". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-11-12. Diakses tanggal 2016-11-12. 
  6. ^ a b c The Surakarta Dynasty: GENEALOGY. The Royal Ark
  7. ^ "Konflik Keraton Makin Memuncak, Tedjowulan Bermaksud "Duduki" Keraton". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-06-26. Diakses tanggal 2015-05-12. 
  8. ^ "Penobatan Paku Buwono XIII, Rapat Putuskan 10 September". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-09-24. Diakses tanggal 2015-05-12. 
  9. ^ "Rekaman Penyerbuan ke Keraton Diputar Ulang". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-06-26. Diakses tanggal 2015-05-12. 
  10. ^ "Gusti Behi Baca Kekancingan Jumenengan". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-09-24. Diakses tanggal 2015-05-12. 
  11. ^ a b REKONSILIASI KERATON SOLO: Berpelukan dengan Tedjowulan, Tangis Hangabehi Pecah Solopos.com
  12. ^ Akhirnya, Keraton Surakarta Rekonsiliasi. Kompas.com
  13. ^ a b Prosesi Jumenengan di Tengah Konflik Panjang Keraton Kasunanan Solo. Diarsipkan 2014-09-08 di Wayback Machine. Jpnn.com
  14. ^ Babak Baru Keraton Solo: Sempat Terjadi Keributan Kecil Tribun Jogja
  15. ^ BeritaSatu: Pendukung Pakubuwono XIII Dobrak Pintu Keraton Solo dengan Mobil Youtube.com
  16. ^ Mobil Hardtop Jebol Pintu Keraton Surakarta TEMPO
  17. ^ Dilema Lembaga Dewan Adat Solopos.com
  18. ^ Brimob dan TNI Amankan Keraton Solo Tribun Solo
  19. ^ Sekat Seng Keraton Dibongkar Media Indonesia
  20. ^ Peringatan Naik Takhta Raja Solo CNN Indonesia
  21. ^ a b Indonesia Bagus: Karaton Surakarta, Eksistensi Sang Penjaga Budaya Youtube.com
  22. ^ Penganugerahan Gelar Kebangsawanan Historia
  23. ^ 4 Raja Hadiri Maritim Carnival di Batang Tribun Jayeng
  24. ^ UPT. Audio Visual ISI Surakarta: Upacara Penutupan Hari Wayang Dunia ke-4 tahun 2018 Youtube.com
  25. ^ Keturunan Pakubuwono X Klaim Sebagian Tanah Bandara NYIA Miliknya Suara Merdeka
  26. ^ Satukan Keluarga yang Terpisah, PB XIII Berikan Surat Silsilah Trah PB X Sindonews.com
  27. ^ Lensa Indonesia Channel: Dipimpin SISKS Pakoe Boewono XIII, Kraton Surakarta gelar upacara adat di Kahyangan Dlepih Wonogiri Youtube.com
  28. ^ Ke Tegal, Pakubuwana XIII Serahkan Mandat kepada Dewi Aryani Jaga dan Rawat Aset Keraton yang Ada di Tegal Kabar Tegal - Pikiran Rakyat
  29. ^ Guyub Rukun Resik-Resik Keraton Youtube.com
  30. ^ Paku Buwono XIII Anugerahi Gibran Gelar Kebangsawanan Kanjeng Pangeran Merdeka.com
  31. ^ Kabupaten Pacitan Dapat Bantuan 20 Ribu Vaksin Dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Youtube.com
  32. ^ Raja Surakarta dan Raja Yogyakarta hadiri langsung Jumenengan KGPAA Mangkunagoro X Lensaindonesia.com
  33. ^ a b c Lensa Indonesia Channel: Pakoe Boewono XIII Resmi Tunjuk Putra Mahkota Kraton Surakarta di Peringatan Kenaikan Tahta Ke-18 Youtube.com
  34. ^ Di Keraton Surakarta, La Nyalla minta jangan tinggalkan nilai luhur bangsa demi tiru Barat Lensaindonesia.com
  35. ^ Ini Isi Perjanjian Damai Raja Keraton Solo, PB XIII, dengan Lembaga Dewan Adat. Tribun Solo
  36. ^ Indonesia Bagus: Perayaan Ulang Tahun KGPH. Puruboyo | Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Youtube.com
  37. ^ Raja Keraton Solo Mantu: Tamu Di-Swab Antigen, Resepsi 4 Jam Saja Jawa Pos Radar Solo

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Pakubuwana XII
Susuhunan Surakarta
2004–sekarang
Petahana