Masjid Laweyan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Masjid Laweyan
Informasi umum
LetakJalan Liris I, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta
NegaraBendera Indonesia Indonesia

Masjid Laweyan adalah salah satu masjid bersejarah yang ada di Kota Surakarta. Masjid ini sudah ada sebelum Masjid Agung Surakarta.[1] Masjid ini dibangun pada tahun 1546 pada masa Sultan Hadiwijaya salah satu sultan Kesultanan Pajang yang merupakan cikal bakal dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut catatan sejarah, pada masa Kesultanan Pajang, seorang pemeluk Hindu bernama Ki Beluk sempat tinggal dan membangun sebuah pura di pinggir Sungai Kabanaran, sungai yang dulu digunakan sebagai sarana lalu-lintas perdagangan para sudagar batik. Ki Beluk menjalin persahabatan dengan Ki Ageng Henis, orang kepercayaan Sultan Hadiwijaya, sekaligus tokoh yang mengenalkan dan mengajarkan teknik-teknik pembuatan batik kepada warga Laweyan. Di waktu senggangnya, Ki Beluk kerap menghabiskan waktu dengan berdiskusi seputar ajaran Islam bersama Ki Ageng Henis. Perlahan, Ki Beluk tertarik untuk lebih mendalami Islam dan pada akhirnya ia menetapkan hatinya memeluk Islam. Berbarengan dengan itu, ia pun lantas menyerahkan pura yang didirikannya ke warga sekitar untuk difungsikan sebagai sebuah masjid.[2]

Karakteristik bangunan[sunting | sunting sumber]

Bentuk bangunan masjid yang mirip seperti kelenteng jawa, menjadi ciri khas Masjid Laweyan yang berbeda dengan bentuk masjid pada umumnya. Ciri arsitektur jawa ditemukan pula pada bentuk atap masjid, bentuk atap menggunakan tajuk atau bersusun. Atap Masjid Laweyan terdiri atas dua bagian yang bersusun. Dinding masjid Laweyan terbuat dari susunan batu bata dan semen. Penggunaan batu bata sebagai bahan dinding, baru digunakan masyarakat sekitar tahun 1800. Sebelum dibangun seperti sekarang, bahan-bahan bangunan masjid, sebagian menggunakan kayu. Bukti bahwa dinding awal Masjid Laweyan adalah kayu, ditunjukkan dengan adanya rumah pelindung makam kuno terbuat dari kayu.[1]

Tata ruang Masjid Laweyan sendiri mengikuti tata ruang masjid jawa pada umumnya. Ruang masjid dibagi menjadi tiga bagian, yakni ruang induk (utama), serambi kanan (untuk kaum perempuan) dan serambi kiri (bagian perluasan masjid untuk tempat shalat berjamaah). Terdapat tiga buah lorong di bagian depan masjid sebagai jalur masuk ke dalam Masjid Laweyan. Tiga lorong itu merupakan simbol atau perlambang tiga jalan dalam upaya menuju tata kehidupan yang bijak yakni Islam, Iman dan Ihsan. Kekhasan lain yang terkait dengan Masjid Laweyan adalah sebuah mata air sumur yang berada di kompleks masjid. Konon, mata air ini muncul dari injakan kaki Sunan Kalijaga. Air sumur ini tidak pernah kering meskipun sedang dalam musim kemarau panjang.[2]

Referemsi[sunting | sunting sumber]