Lompat ke isi

Sunan Kalijaga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Raden Syahid
GelarSyekh, sunan, wali, ulama, guru, Priyo
Nasabbin Ahmad Sahur
Lahir1450
Tuban, Majapahit
Meninggal1513 (umur 6263)
Kadilangu, Demak
Dimakamkan diKadilangu, Demak
Nama lainBrandal Lokajaya Syekh Malaya
KebangsaanKerajaan Majapahit, Kesultanan Demak, dan Kesultanan Pajang
ZamanMajapahit, Demak
Pekerjaan
  • Penasihat Majapahit, Demak, Pajang,
  • Dewan Walisongo
DenominasiSunni
Murid dariSunan Bonang, Syekh Siti Jenar, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Dang Hyang Nirartha dan guru-gurunya Sunan Kalijaga
Mempengaruhi
  • Sunan Bayat, Sunan Geseng, Sultan Hadiwijaya, Sunan Muria, Syekh Jangkung, dan murid-muridnya
Istri
  • Syarifah Zainab, Syarifah Arofa Retno Dumilah
Keturunan4
Orang tuaRaden Ahmad Sahur (ayah)
Dewi Nawang Arum (ibu)

Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said/Syahid adalah seorang ulama terkenal dan penasehat pemerintahan di era Majapahit pada masa prabu Kertabhumi, Demak, Pajang. Ia juga termasuk dalam anggota Walisongo.

Selain sebagai ulama ia juga menjadi seniman, dan arsitek yang ulung. Salah satu media dakwahnya yang dikenal luas hingga sekarang melalui pentas adalah wayang kulit.

Kesenian wayang kulit yang awalnya berisi kisah-kisah Hindu, diganti oleh Sunan Kalijaga menjadi kisah-kisah yang berisi ajaran Islam. Contohnya yaitu Wayang sadat, dan Jamus Kalimasada, sebagaimana yang dijelaskan oleh Siti Wahidoh dalam Buku Intisari Sejarah Kebudayaan Islam.

Menjadi Murid Sunan Bonang

[sunting | sunting sumber]

Menurut cerita, Sebelum menjadi Walisongo, Raden Said adalah seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi di kerajaannya, merampok orang-orang yang kaya. Hasil curiannya, dan rampokannya itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin.

Suatu hari, saat Raden Said berada di hutan, ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat, ternyata orang itu adalah Sunan Bonang. Karena tongkat itu jika dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu. Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi, Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasehati Raden Said bahwa Allah S.W.T tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu, Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang.

Karena itu, Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang. Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke sungai. Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai. Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu, ia menjadi tertidur dalam waktu lama. Karena lamanya ia tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya.

Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Penerus Dakwah

[sunting | sunting sumber]

Setelah Sunan Kalijaga Wafat, Perjuangan dakwah dilanjutkan oleh putranya sendiri yakni Sunan Hadi sebagai pemimpin kadilangu, pada tahun 1601 masehi gelar berubah menjadi Panembahan Hadi, (karena gelar Sunan digunakan Sunan Hanyokrowati sebagai Raja Mataram) sampai dengan keturunan sekarang trah Panembahan widjil di kadilangu Demak.

Keluarga dan Silsilah

[sunting | sunting sumber]

Panembahan Hadi

Raden Abdurrahman

Ratu Retno Ayu Pembayun

Ratu Retno Penenggak

Raden Syarif Umar Sa'id At-Tuba Al-Hasani (Sunan Muria)

Silsilah Menurut Itsbat Naqobatul Asyrof Maroko :

1. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam

2. Sayyidatuna Fatimah Az-Zahra

3. Sayyidina Hasan Al-Mujtaba

4. Syarif Hasan Al-Mutsanna

5. Syarif Abdullah Al-Mahdi

6. Syarif Idris Al-Akbar

7. Syarif Idris Al-Azhar

8. Syarif Isa

9. Syarif Muhammad

10. Syarif Ahmad

11. Syarif Isa

12. Syarif Abdurrahman

13. Syarif Ali

14. Syarif Mandil

15. Syarif Alusy

16. Syarif Junun

17. Syarif Harun

18. Syarif Abdul Aziz

19. Syarif Abdurrahim

20. Syarif Imran

21. Syarif Ibrahim

22. Syarif Muhammad (Leluhur Sadah Asyraf Ad-Dabagh dan At-Tuba)[1]

23. Syarif Mansyur

24. Syarif Tsauri (Adipati Tuban)

25. Raden Syarif Sa'id At-Tuba Al-Hasani

Pemakaman

[sunting | sunting sumber]

Sunan Kalijaga diperkirakan meninggal pada tanggal 12 Muharram 1513 saka (sekitar 17 Oktober 1592 M).

Sunan Kalijaga dimakamkan di Daerah Kadilangu, Kabupaten Demak. Makam ini hingga sekarang, ramai diziarahi orang-orang dari seluruh indonesia.

Haul Sunan Kalijaga diperingati setiap tanggal 10 Muharram oleh masyarakat di Kadilangu, Demak.

Warisan Budaya

[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah daftar warisan budaya dari Sunan Kalijaga, yaitu :

  • Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul.
  • Dialah Penggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Ratu").
  • Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.
  • Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Pusat Inspirasi

[sunting | sunting sumber]

Kisah perjalanan hidup Sunan Kalijaga juga sudah dibuatkan Film, diantaranya :

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  • Soekirno, Ade (1994). Sunan Kalijaga: asal-usul mesjid agung demak: cerita rakyat Jawa Tengah. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. ISBN 9795534629.
  • Nasuhi, Hamid (2017). "Shakhṣīyat Sunan Kalijaga fī taqālīd Mataram al-Islāmīyah". Studia Islamika. Vol. 24 no. 1. Republic of Indonesia: Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta. ISSN 2355-6145.
  • Chodjim, Achmad (2013). Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. ISBN 9789790242920.
  • Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia since c.1300, 2nd Edition. London: MacMillan. p. 10. ISBN 0-333-57689-6.
  • Sunyoto, Agus (2014). Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah. 6th edition. Depok: Pustaka IIMaN. ISBN 978-602-8648-09-7
  1. Naqib Maroko. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)