Sekaten

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sekaten
ꦱꦼꦏꦠꦺꦤ꧀
Gunungan Kutug or Bromo Pj IMG 4560s.jpg
Gunungan Bromo/Kutug, salah satu gunung yang dikirab saat Grebeg Sekaten pada tahun Dal
JenisRitual budaya
DimulaiAbad ke-16 M
FrekuensiSetiap tahun
Lokasi
NegaraIndonesia

Sekaten (Hanacaraka: ꦱꦼꦏꦠꦺꦤ꧀), merupakan rangkaian kegiatan tahunan sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diadakan oleh dua keraton di Jawa yakni Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Rangkaian perayaan secara resmi berlangsung dari tanggal 5 dan berakhir pada tanggal 12 Mulud penanggalan Jawa (dapat disetarakan dengan Rabiul Awal penanggalan Hijriah). Beberapa acara penting perayaan ini adalah dimainkannya gamelan pusaka di halaman Masjid Agung masing-masing keraton, pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad dan rangkaian pengajian di serambi Masjid Agung dan, puncaknya adalah dengan diadakannya perayaan Grebeg Maulud sebagai bentuk syukur pihak istana dengan keluarnya sejumlah gunungan untuk diperebutkan oleh masyarakat.

Perayaan ini dimeriahkan pula oleh pasar malam (biasa disebut "Sekatenan") yang dilangsungkan di alun-alun Utara masing-masing Keraton yang dimana berlangsung selama sekitar 40 hari, dimulai pada awal bulan Sapar (Safar).

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Istilah[sunting | sunting sumber]

Kebanyakan pustaka bersepakat bahwa nama "sekaten" adalah adaptasi dari istilah bahasa Arab, syahadatain, yang berarti "persaksian (syahadat) yang dua". Perluasan makna dari sekaten dapat dikaitkan dengan istilah Sahutain (menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat lacur dan menyeleweng), Sakhatain (menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan), Sakhotain (menanamkan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan), Sekati (setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk, dan Sekat (batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan)[1]

Perayaan[sunting | sunting sumber]

Menurut Puger (2002), awal mula dan maksud perayaan Sekaten dapat ditarik sejak mulainya kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa, yaitu zaman Kesultanan Demak.[2] Sekaten diadakan sebagai salah satu upaya menyiarkan agama Islam. Karena orang Jawa saat itu menyukai gamelan, pada hari raya Islam yaitu pada hari lahirnya Nabi Muhammad di halaman Masjid Agung Demak dimainkanlah gamelan, sehingga warga masyarakat berduyun-duyun datang di halaman masjid untuk mendengarkan gamelan dan sekaligus khutbah-khutbah mengenai keislaman.

Tradisi arak-arakan semacam sekaten, menurut satu cerita rakyat yang digali oleh Saddhono, telah dilakukan pada masa Kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak, sebagai pelanjut dari "wahyu" kerajaan, mencoba meneruskan tradisi tersebut atas saran dari Wali Sanga.[3]

Prosesi[sunting | sunting sumber]

Miyos dan kondur gangsa[sunting | sunting sumber]

Pada hari pertama, upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan abdi dalem (punggawa kraton) bersama-sama dengan dua set gamelan Jawa Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini bermula dari pendapa Ponconiti menuju masjid Agung di Alun-alun Utara dengan dikawal oleh prajurit Kraton. Kyai Nogowilogo akan menempati sisi utara dari Masjid Agung, sementara Kyai Gunturmadu akan berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud, selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Kraton.

Di Keraton Yogyakarta, acara kondur gangsa diawali dengan kedatangan Sri Sultan di Masjid Gedhe untuk menyebar udhik-udhik kepada rakyat di depan bangsal pagongan. Setelah ditebar, Sultan akan masuk ke dalam masjid untuk kembali menyebar udhik-udhik, yang kali ini ditebar untuk para abdi dalem. Setelah itu, Sultan akan duduk bersama dengan para abdi dalem di serambi masjid untuk mendengarkan pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW, yang dibacakan dalam bahasa Jawa oleh abdi dalem kanca kaji. Disini Sultan menggunakan Sumping Melati pada telinga kirinya. Hal ini bermakna bahwa Sultan senantiasa mendengar aspirasi dan pendapat rakyat serta melaksanakan harapan tersebut. Setelah pembacaan riwayat selesai, Sri Sultan bersama rombongan kembali ke keraton, diikuti dengan pengembalian gamelan sekati.

Numplak Wajik[sunting | sunting sumber]

Dua hari sebelum acara Grebeg Muludan, suatu upacara Numplak Wajik diadakan di halaman istana Magangan pada jam 16.00. Upacara ini berupa kotekan atau permainan lagu dengan memakai kentongan, lumpang (alat untuk menumbuk padi), dan semacamnya yang menandai awal dari pembuatan gunungan yang akan diarak pada saat acara Grebeg Muludan nantinya. Lagu-lagu yang dimainkan dalam acara Numplak Wajik ini adalah lagu Jawa populer seperti: Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal awil, atau lagu-lagu rakyat lainnya.

Grebeg Maulid[sunting | sunting sumber]

Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 (persis pada hari ulang tahun Nabi Muhammad) mulai jam 08.00 hingga 10.00 WIB. Dengan dikawal oleh bermacam-macam bregada (kompi) prajurit Kraton. Sebagai contoh, Grebeg Maulud di Yogyakarta dikawal seluruh bregodo Prajurit Keraton Yogyakarta, yakni: Wirabraja, Dhaheng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrijero, Surakarsa, Bugis, dan Korps Musik. Sedangkan Grebeg Maulud di Surakarta dikawal seluruh bregodo Prajurit Keraton Surakarta, yakni: Tamtama, Jayeng Astra, Prawira Anom, Sarageni, Baki, Jayasura, Dwarapati, Jayataka, Panyutra, dan Korps Musik. Di Yogyakarta, biasanya gunungan dibuat menjadi tiga yang akan dibagikan di Masjid Agung, Kepatihan dan Pura Pakualaman.

Sebuah gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, dan buah-buahan serta sayur-sayuan tersebut dikawal dan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Setelah didoakan, gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka. Bagian gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka.

Prosesi pada Tahun Dal[sunting | sunting sumber]

Tahun Dal dalam penanggalan Jawa terjadi tiap delapan tahun sekali. Pada tahun Dal prosesi sekaten biasanya diadakan lebih besar, khususnya di Keraton Yogyakarta. Keraton memiliki beberapa tradisi sekaten dan grebeg yang hanya dilakukan pada tahun Dal. Salah satu tradisi khusus tersebut adalah njejak banon atau njejak beteng yang dilakukan oleh Sri Sultan sekembalinya dari Masjid Gedhe. Dalam tradisi ini, Sultan tidak melewati regol Masjid, melainkan melewati jalan lain untuk njejak atau menjebol sebuah tembok. Tradisi njejak beteng diilhami oleh kisah Sultan Hamengkubuwana II yang tidak bisa keluar melalui pintu gerbang utama pada peristiwa Geger Sepoy, sehingga untuk meloloskan diri kemudian menuju arah selatan dengan cara menjebol beteng.

Selain tradisi tersebut, terdapat pula upacara Bethak dan Pisowanan Garebeg Dal. Bethak merupakan prosesi pembuatan nasi oleh para kerabat perempuan Sultan di bangsal Keputren. Biasanya upacara Bethak dilakukan sehari sebelum acara Pisowanan, dimana nasi tersebut akan diserahkan kepada Sultan ketika Pisowanan berlangsung.

Jatuhnya tahun Dal juga mempengaruhi jumlah gunungan yang akan dibawa. Pada tahun Dal, keraton biasanya mengeluarkan lebih banyak gunungan. Di Keraton Yogyakarta, salah satu gunungan tersebut adalah Gunungan Bromo, gunungan yang dihadirkan oleh keraton pada tahun Dal saja. Gunungan Bromo kelak akan dibawa kembali ke dalam keraton setelah didoakan, kemudian diperebutkan oleh para keluarga keraton dan para sentana dalem.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Handipaningrat, KRT. H. Perayaan Sekaten. Surakarta: Kapustakan Sono Pustoko Karaton Surakarta. Hal. 3.
  2. ^ Puger, GPH. 2002. Sekaten. Karaton Surakarta: Kapustakan Sono Pustoko Karaton Surakarta
  3. ^ Saddhono, K. tanpatahun. Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta: Kajian Alternatif Pengembangan Bahan Ajar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]