Alas Mentaok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Hutan Mentaok (bahasa Jawa: Alas Mentaok) adalah hutan yang pernah ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi hutan Mentaok membentang dari timur laut hingga tenggara Kota Yogyakarta saat ini, diperkirakan mulai dari daerah Purwomartani di Sleman, daerah Banguntapan di Bantul, hingga daerah Kotagede, di Kota Yogyakarta [1].

Pada zaman dahulu, hutan Mentaok merupakan wilayah bekas Kerajaan Mataram Kuno yang menguasai wilayah Jawa Tengah bagian selatan pada abad 8 hingga abad 10. Setelah Kerajaan Mataram Hindu memindahkan pusat kerajaannya ke daerah Jawa Timur akhirnya wilayah pusat kerajaan yang lama menjadi hutan dan disebut Alas Mentaok [1].

Setelah beberapa abad kemudian Alas Mentaok menjadi wilayah Kesultanan Pajang. Pada tahun 1556, saat Kesultanan Pajang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, wilayah Alas Mentaok, yang juga disebut Bumi Mataram pada kala itu, diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas keberhasilannya, bersama putranya yaitu Danang Sutawijaya dalam menumpas pemberontakan Arya Penangsang[2], Adipati Kadipaten Jipang Panolan yang berpusat di daerah Panolan, Kedungtuban, Blora, Jawa Tengah sekarang[3].

Setelah serah terima wilayah Alas Mentaok dilakukan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan, kemudian Alas Mentaok yang saat itu berupa hutan lebat dibuka menjadi sebuah desa oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani[4]. Desa di Alas Mentaok tersebut selanjutnya dinamai Mataram dan berstatus sebagai tanah perdikan atau swatantra atau daerah bebas pajak [5]

Seiring berjalannya waktu, wilayah Alas Mentaok semakin berkembang, penduduknya bertambah, dan akhirnya menjadi sebuah daerah yang makmur. Sejarah mencatat bahwa di kawasan Alas Mentaok ini, tepatnya di daerah Kotagede saat ini, pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Mataram, seiring runtuhnya Kesultanan Pajang [6]. Kini, bekas wilayah Alas Mentaok menjadi bagian dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman, di mana juga terdapat Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di wilayah Kota Yogyakarta[7].

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • (Indonesia) [1]
  • (Indonesia) [2]
  • (Indonesia) [3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Alas Mentaok (Legenda dan Sejarahnya)". www.jogjaicon.blogspot.co.id. 
  2. ^ Aloysius B Kurniawan & Thomas Pudjo Widijanto (22 September 2007). "Alas Mentaok, Joglo, dan "Omah" Kalang". www.travel.kompas.com. Diakses tanggal 12 Oktober 2016. 
  3. ^ Rochani Sastra Adiguna (26 Juni 2015). "Pemberontakan Arya Penangsang". www.travel.kompas.com. Diakses tanggal 12 Oktober 2016. 
  4. ^ "Alas Mentaok". www.isugihar.blogspot.co.id. 22 September 2007. 
  5. ^ "Sekilas Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta". www.alumni.ugm.ac.id. 
  6. ^ mbs (12 Mei 2015). "Mataram Lahir di Bawah Beringin Kotagede". www.news.okezone.com. Diakses tanggal 12 Oktober 2016. 
  7. ^ "Api di Bukit Menoreh - Buku 58". adbmcadangan.wordpress.com. 

Rujukan[sunting | sunting sumber]