Kompas TV

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kompas TV
PT Gramedia Media Nusantara
Kompas-TV.png
Diluncurkan 9 September 2011
Pemilik Kompas Gramedia
Tokoh penting Jakob Oetama
Agung Adiprasetyo
Slogan Inspirasi Indonesia
Negara  Indonesia
Kantor pusat Jl. Palmerah Selatan No.1 Jakarta Barat 10270, Indonesia[1]
Saluran saudara KTV (2011-sekarang)
Situs web www.kompas.tv
Ketersediaan Nasional
Terestrial
Banda Aceh 24 UHF (melalui Antero TV)
Bandung 34 UHF
Banjarmasin 23 UHF
Bengkulu 38 UHF (melalui Bengkulu TV)
Denpasar 23 UHF
Jakarta 25 UHF
Jambi 47 UHF (melalui Batanghari TV)
Jember 54 UHF (melalui JMTV)
Kendari 32 UHF
Kupang 40 UHF (melalui AFB TV)
Makassar 23 UHF
Manado 46 UHF (melalui Pacific TV)
Palembang 52 UHF
Pelaihari 32 UHF
Pontianak 39 UHF
Purworejo 59 UHF (melalui ART TV)
Semarang 47 UHF
Surabaya 40 UHF
Yogyakarta 40 UHF (melalui RBTV)
Satelit
aora 919
BiG TV 677
K-Vision 131
OrangeTV 910
TransVision 312
Palapa D 4051/V/1600
Kabel
First Media 15
Max3 15 (SD)
85 (HD)
IPTV
Groovia TV 114
Televisi Internet
UseeTV Kompas TV
Situs resmi Kompas TV Live Streaming
Indostreamix Kompas TV (Dari Perangkat Mobile)

Kompas TV (Dari PC)

Kompas TV adalah salah satu stasiun televisi swasta terestrial nasional di Indonesia.[2][3] Kompas TV dimiliki oleh Kompas Gramedia. Stasiun televisi ini hadir menggantikan stasiun televisi yang pernah dimiliki oleh Kompas Gramedia, yaitu TV7. Sejak saham TV7 dibeli oleh pihak Trans Corp yang berdiri di bawah kepemimpinan Chairul Tanjung pada tahun 2006 dan nama TV7 diganti menjadi Trans7, maka saham Kompas Gramedia terhadap Trans7 menurun menjadi hampir setengah dari Trans Corp. Pada tanggal 11 September 2011, Kompas TV mengubah logonya yaitu dengan menghilangkan tulisan TV pada logo tersebut, dan tulisan TV tersebut kembali digunakan mulai 5 Oktober 2012 hingga sekarang.

Jaringan siaran[sunting | sunting sumber]

Kompas TV mulai mengudara secara luas pada tanggal 9 September 2011 melalui jaringan televisi lokal di daerah. Siaran stasiun televisi lokal tersebut terdiri dari 70% siaran yang direlai dari Kompas TV dan sisa 30%-nya merupakan siaran yang dikelola sendiri. Stasiun televisi lokal yang termasuk ke dalam jaringan Kompas TV sejak tanggal 1 Maret 2012 adalah :[4]

Kota-kota besar lain akan menyusul kemudian. Bahkan, sebagian besar kota sudah siap menyiarkan jaringan Kompas TV dengan membangun stasiun relai dan dalam tahap siaran percobaan, seperti di Yogyakarta, Purwokerto, Cirebon, dan kota-kota besar lain yang memiliki jaringan Kompas Gramedia atau disesuaikan dengan terbitnya koran Kompas di seluruh Indonesia.

Pada awalnya Kompas TV di Jabodetabek bersiaran di frekuensi 28 UHF dengan menggandeng stasiun televisi lokal KTV, tetapi mulai tanggal 28 Juni 2015, Kompas TV di Jabodetabek pindah frekuensi menjadi 25 UHF. Frekuensi ini dulunya digunakan oleh TV Plus! sebelum pindah frekuensi ke 32 UHF dan berganti nama menjadi Megaswara TV.[5]

Sejak tanggal 9 September 2011, Kompas TV juga dapat disaksikan di televisi berlangganan sebagai berikut:

Kompas TV dapat juga disaksikan secara siaran gratis melalui parabola di satelit Palapa D.

Kompas HD[sunting | sunting sumber]

Kompas TV juga menjadi stasiun televisi pertama di Indonesia yang mengadopsi kualitas gambar beresolusi tinggi atau High Definition yang dinamakan Kompas HD. Kompas HD sendiri hadir di K-Vision HD, Max3 dan live streaming di kompas.tv/live

Program acara[sunting | sunting sumber]

Pembawa acara[sunting | sunting sumber]

Mantan presenter[sunting | sunting sumber]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Kehadiran Kompas TV dipersoalkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melalui siaran pers tertanggal 7 September 2011. Dalam siaran pers tersebut, KPI menilai Kompas TV belum memiliki izin sebagai lembaga penyiaran sehingga belum dapat mengatasnamakan diri sebagai badan hukum lembaga penyiaran. KPI juga berpendapat bahwa praktik sistem siaran berjaringan hanya dapat dilakukan pada sesama lembaga penyiaran yang telah memiliki Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) tetap, sementara Kompas TV bersiaran melalui sejumlah stasiun televisi lokal yang sebagian besar hanya memiliki IPP prinsip. Logo Kompas TV pada layar televisi di sejumlah stasiun televisi lokal juga dinilai menyembunyikan/mengaburkan/memperkecil identitas atau logo stasiun televisi lokal tersebut, tidak sesuai dengan eksistensi dari stasiun televisi lokal tersebut yang telah cukup lama menempuh proses perizinan dengan semangat lokal yang perlu didorong.[6][7] Kompas TV menanggapi siaran pers KPI tersebut dengan menegaskan bahwa Kompas TV hanya merupakan penyedia konten, sehingga yang memerlukan izin siaran adalah stasiun-stasiun televisi lokal yang menjadi mitra siaran berjaringan di daerah.[8]

[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]