Kota Banda Aceh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Banda Aceh)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kota Banda Aceh
Ibu kota provinsi Aceh, Indonesia
Meuseujid Raya Bayturrahman.JPGAceh Tsunami Museum.JPG
Replika Seulawah 001 di Blang Padang, Banda Aceh.jpgAceh Thanks the World.JPG
Gunongan Putroë Phang.JPGPeucut 3.JPG
Lambang resmi Kota Banda Aceh
Lambang
Julukan: 
Kota Serambi Mekkah
Motto: 
Saboeh Pakat Tabangun Banda

Semboyan: Kota Madani dan Gemilang
Lokasi Aceh Kota Banda Aceh.svg
Kota Banda Aceh is located in Sumatra
Kota Banda Aceh
Kota Banda Aceh
Kota Banda Aceh is located in Indonesia
Kota Banda Aceh
Kota Banda Aceh
Koordinat: 5°33′00″N 95°19′03″E / 5.55°N 95.3175°E / 5.55; 95.3175
Negara Indonesia
ProvinsiAceh
Tanggal peresmian22 April 1205; 816 tahun lalu (1205-04-22)
Pemerintahan
 • Wali KotaAminullah Usman
 • Wakil Wali KotaZainal Arifin
Luas
 • Total61,36 km2 (2,369 sq mi)
Populasi
 • Total270.328 jiwa
 • Kepadatan4.405,60/km2 (11,410,5/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam 98,07%
Buddha 1,07%
Kristen 0,85%
- Protestan 0,66%
- Katolik 0,19%
Hindu 0,01% [2]
 • BahasaIndonesia, Aceh
Zona waktuWIB (UTC+07:00)
Kode telepon+62 651
Kode Kemendagri11.71 Edit the value on Wikidata
Kode SNIBTJ
Jumlah kecamatan9[3]
Jumlah kelurahan90[3]
DAURp 591.711.772.000,-(2018)[4]
IPMKenaikan 85,41 (2020)
Sangat Tinggi[5]
Bandar udaraBandara Internasional Sultan Iskandar Muda
PelabuhanPelabuhan Ulee Lheu
Situs webbandaacehkota.go.id

Kota Banda Aceh (Aksara Jawoë : كوتا بندر اچيه) merupakan kotamadya dan ibukota dari provinsi Aceh, provinsi paling Utara di pulau Pulau Sumatera, Indonesia.[3][6] Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kota Banda Aceh juga merupakan kota Islam yang paling tua di Asia Tenggara, di mana Kota Banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh.[7]

Sejarah

Lukisan Kota Banda Aceh pada masa Kesultanan Aceh dari arah laut oleh François Valentijn (1724-1726)

Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri). Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribu kota di Kutaraja (Banda Aceh). (H. Mohammad Said a, 1981:157).[8]

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribu kota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Meukuta Alam.[9] Lokasi istana Meukuta Alam berada di wilayah Banda Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam yang beribu kota di Banda Aceh, hanya selama 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Kesultanan Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi. Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

Pada masa Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa. Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

Pada masa agresi kedua Belanda, terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja. Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43.

Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Hindia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini. Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Pemerintah Kota Banda Aceh, jumlah penduduk Kota Banda Aceh hingga akhir Mei 2019 adalah sebesar 270.321 jiwa.[10]

Geografi

Letak astronomis Banda Aceh adalah 05°16'15"–05°36'16" Lintang Utara dan 95°16'15"–95°22'35" Bujur Timur dengan tinggi rata-rata 0,80 meter di atas permukaan laut.

Batas Wilayah

Kota Banda Aceh berbatas dengan;

Utara Selat Malaka
Timur Kabupaten Aceh Besar
Selatan Kabupaten Aceh Besar
Barat Samudera Hindia

Geologi

Berdasarkan peta geologi lembar Banda Aceh, Sumatra (Bennet et al, 1981), wilayah Kota Banda Aceh umumnya tersusun oleh endapan kuarter yang terdiri dari endapan pematang pantai, endapan rawa, dan endapan aluvial berumur Pleistosen dan Holosen. Berdasarkan data pemboran, lapisan endapan aluvial dekat dengan pantai dapat mencapai ketebalan 206 meter di bawah permukaan tanah di daerah Cot Paya di sebelah Timur Sungai Krueng Aceh. Sementara itu, beberapa puluh kilometer ke arah hulu di daerah Lambaro, endapan aluvium mempunyai ketebalan minimum 70 meter dengan proporsi 20% pasir dan 80% lempung pasiran hingga pasir lempungan (Ploethner dan Siemon, 2006).[11]

Iklim

Seperti wilayah lain di Indonesia, Kota Banda Aceh memiliki iklim tropis yang disertai dengan dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Curah hujan tahunan di wilayah kota Banda Aceh berkisar antara 1039 hingga 1907 milimeter. Rata-rata suhu udara di wilayah Banda Aceh adalah 25°–28 °C. Tingkat kelembapan udara di wilayah ini berada pada angka 70% hingga 80%.[12]

Data iklim Banda Aceh, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rekor tertinggi °C (°F) 36
(97)
38
(100)
39
(102)
33
(91)
37
(99)
37
(99)
37
(99)
42
(108)
35
(95)
38
(100)
34
(93)
36
(97)
42
(108)
Rata-rata tertinggi °C (°F) 27.8
(82)
28.8
(83.8)
31
(88)
32
(90)
30
(86)
30.3
(86.5)
30.1
(86.2)
30.9
(87.6)
30.1
(86.2)
30.5
(86.9)
28.9
(84)
27.9
(82.2)
29.86
(85.78)
Rata-rata harian °C (°F) 25.9
(78.6)
26.5
(79.7)
27.3
(81.1)
28.3
(82.9)
27.6
(81.7)
27.9
(82.2)
27.5
(81.5)
28.2
(82.8)
27.4
(81.3)
28
(82)
26.8
(80.2)
26.2
(79.2)
27.3
(81.1)
Rata-rata terendah °C (°F) 24.1
(75.4)
24.2
(75.6)
23.7
(74.7)
24.6
(76.3)
25.2
(77.4)
25.6
(78.1)
24.9
(76.8)
25.6
(78.1)
24.7
(76.5)
25.5
(77.9)
24.7
(76.5)
24.5
(76.1)
24.78
(76.62)
Rekor terendah °C (°F) 17
(63)
18
(64)
20
(68)
20
(68)
21
(70)
17
(63)
18
(64)
18
(64)
20
(68)
17
(63)
21
(70)
20
(68)
17
(63)
Presipitasi mm (inci) 200
(7.87)
114
(4.49)
117
(4.61)
139
(5.47)
143
(5.63)
85
(3.35)
90
(3.54)
95
(3.74)
161
(6.34)
225
(8.86)
321
(12.64)
257
(10.12)
1.947
(76,66)
Rata-rata hari hujan 11 7 7 9 9 6 6 6 10 15 19 17 122
% kelembapan 81 82 81 82 81 74 74 71 77 80 83 83 79.1
Rata-rata sinar matahari harian 6 7 7 7 7 8 8 8 7 5 4 5 6.6
Sumber #1: Climate-Data.org[13]
Sumber #2: Weatherbase[14] & Weather2travel[15]

Pemerintahan

Daftar Wali kota

Flag of Indonesia.svg Wali Kota Banda Aceh Lambang Kota Banda Aceh.png
No Foto Wali Kota Mulai Jabatan Akhir Jabatan Ket. Wakil Wali Kota
1 01 T. Ali Basyah.jpg Teuku Ali Basyah 1957 1959 [ket. 1]
2 02 T. Oesman Yacoub.jpg Teuku Oesman Yacoub 1959 1967 [ket. 2]
3 03 T. Mohd. Syah.jpg T. Mohd. Syah 1967 1968
4 04 T. Ibrahim.jpg T. Ibrahim 1968 1970
(2) 02 T. Oesman Yacoub.jpg Teuku Oesman Yacoub 1970 1973
5 05 Drs. Zein Hasjmy Ec.jpg Drs. Zein Hasjmy 1973 1978
6 06 Drs. Djakfar Ahmad MA.jpg Drs. Djakfar Ahmad 1978 1983
7 07 Drs. Baharuddin Yahya.jpg Drs. Baharuddin Yahya 1983 1998
1988 1993
8 08 Drs. Said Hussain Al-Haj.jpg Drs. Said Hussain Al-Haj 1993 1998
i 09 Drs. Muhammad Y.jpg Drs. Muhammad Y 1998 1998 [ket. 3]
9 10 Drs. Zulkarnain.jpg Drs. Zulkarnain 1998 2003
i 11 Drs. H. Syarifuddin Latif.jpg Drs. H. Syarifuddin Latief 2003 26 Desember 2004 [ket. 4]
[ket. 5]
i 13 Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc.jpg Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc 8 Februari 2005 1 April 2006 [ket. 6]
i 12 Drs. Razali Yussuf.jpg Drs. Razali Yussuf 1 April 2006 19 Februari 2007 [ket. 7]
10 13 Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc.jpg Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc 19 Februari 2007 19 Februari 2012 Illiza Sa'aduddin Djamal
i T. Saifuddin TA.jpg Drs. T. Saifuddin TA, M.Si 19 Februari 2012 4 Juli 2012 [ket. 8] -
(10) 13 Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc.jpg Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc 4 Juli 2012 8 Februari 2014 [ket. 9] Illiza Sa'aduddin Djamal
i Foto Resmi Illiza Sa'aduddin Djamal.jpg Hj.Illiza Sa'aduddin Djamal,S.E 17 Februari 2014 16 Juni 2014 [ket. 10]
11 16 Juni 2014 7 Juli 2017 Zainal Arifin
12 Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman.jpg H. Aminullah Usman,S.E., Ak., M.M. 7 Juli 2017 Petahana Zainal Arifin
Keterangan
  1. ^ Bernama Wali Kota Kuta Raja
  2. ^ Pada 1962, berubah nama menjadi Wali Kota Banda Aceh
  3. ^ Pelaksana Tugas Walikotamadya
  4. ^ Pejabat Wali kota
  5. ^ Meninggal dunia akibat Tsunami Aceh
  6. ^ Pejabat Wali kota
  7. ^ Pejabat Wali kota
  8. ^ Pejabat Wali kota
  9. ^ Meninggal dunia sebelum akhir masa jabatan
  10. ^ Pelaksana Harian Wali Kota

Dewan Perwakilan

DPRK Banda Aceh memiliki 30 orang anggota yang dipilih secara langsung dalam pemilihan umum legislatif lima tahun sekali. Anggota DPRK Banda Aceh yang saat ini menjabat adalah hasil Pemilu 2019 yang menjabat untuk periode 2019-2024 sejak 11 September 2019.[16] DPRK Banda Aceh dipimpin oleh satu ketua dan dua wakil ketua yang berasal dari partai politik pemilik kursi dan suara terbanyak. Pimpinan DPRK Banda Aceh periode 2019-2024 dijabat oleh Farid Nyak Umar dari Partai Keadilan Sejahtera sebagai Ketua, Usman dari Partai Amanat Nasional sebagai Wakil Ketua I, dan Isnaini Husda dari Partai Demokrat sebagai Wakil Ketua II.[17] Berikut ini adalah komposisi anggota DPRK Kota Banda Aceh dalam dua periode terakhir.[18][19]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
  Gerindra 2 Kenaikan 4
  Golkar 3 Steady 3
  NasDem 4 Penurunan 3
  PKS 4 Kenaikan 5
  PPP 3 Penurunan 2
  PAN 3 Kenaikan 5
  Demokrat 5 Steady 5
  PA 4 Penurunan 2
  PD Aceh 1 Penurunan 0
  PNA 0 Kenaikan 1
  PKPI 1 Penurunan 0
Jumlah Anggota 30 Steady 30
Jumlah Partai 10 Penurunan 9


Kecamatan

Pembagian Wilayah Kecamatan di Kota Banda Aceh

Kota Banda Aceh memiliki 9 kecamatan dan 90 gampong dengan kode pos 23111-23244 (dari total 243 kecamatan dan 5827 gampong di seluruh Aceh). Per tahun 2010 jumlah penduduk di wilayah ini adalah 224.209 (dari penduduk seluruh provinsi Aceh yang berjumlah 4.486.570) yang terdiri atas 115.296 pria dan 108.913 wanita (rasio 105,86). Dengan luas daerah 617 ha (dibanding luas seluruh provinsi Aceh 5.677.081 ha), tingkat kepadatan penduduk di wilayah ini adalah 36.425 jiwa/km² (dibanding kepadatan provinsi 78 jiwa/km²). Pada tahun 2017, jumlah penduduknya sebesar 238.814 jiwa dengan luas wilayahnya 61,36 km² dan sebaran penduduk 3.892 jiwa/km².[3][6]

Daftar kecamatan dan gampong di Kota Banda Aceh, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Gampong
Daftar Gampong
11.71.01 Baiturrahman 10
11.71.07 Banda Raya 10
11.71.08 Jaya Baru 9
11.71.02 Kuta Alam 11
11.71.06 Kuta Raja 6
11.71.05 Lueng Bata 9
11.71.03 Meuraksa 16
11.71.04 Syiah Kuala 10
11.71.09 Ulee Kareng 9
TOTAL 90

Ekonomi

Kesehatan

Media Massa

Radio

Kota Banda Aceh juga memiliki beberapa terdiri dari 25-stasiun radio bersiaran lokal seperti:

Nama Frekuensi
Radio Republik Indonesia (RRI Banda Aceh Pro-1) FM 97.7
Radio Republik Indonesia (RRI Banda Aceh Pro-2) FM 92.6
Radio Republik Indonesia (RRI Banda Aceh Pro-3) FM 88.6
Radio Republik Indonesia (RRI Banda Aceh Pro-4) FM 87.8
Binkara FM FM 89.4
Pop FM FM 89.6
Serambi FM FM 90.2
Seulaweut FM FM 91.0
Hot FM FM 93.2
Three FM FM 94.5
Meugah FM FM 95.3
A-Radio FM FM 96.1
Radio MNC Trijaya Banda Aceh (MNC Trijaya FM) FM 96.9
Baiturrahman FM FM 98.5
Toss FM FM 99.3
P-Radio FM FM 100.3
Radio Elshinta FM Banda Aceh (Elshinta Radio) FM 100.9
Kontiki FM FM 101.2
Antero FM FM 102.0
OZ Radio FM FM 102.8
Djati FM FM 103.6
Flamboyant FM FM 105.2
Nikoya FM FM 106.0
Radio Rumoh PMI FM FM 107.0
Radio Rodja FM FM 107.7

Televisi

Terestrial

Di Kota Banda Aceh (dan sekitarnya) dapat disaksikan sejumlah siaran televisi, baik itu siaran lokal dan nasional, dengan sistem analog maupun digital.

Kanal Signal Frekuensi Nama Nama Perusahaan Pemilik Status
Analog (PAL, hingga 29 April 2022[20])
22 479.25 MHz UHF antv PT Cakrawala ANTV Aceh Visi Media Asia Nasional
24 495.25 MHz Kompas TV PT Televisi Antero Nusantara KG Media
26 511.25 MHz GTV PT GTV Aceh Media Nusantara Citra
28 527.25 MHz RCTI PT RCTI Limabelas Aceh
30 543.25 MHz Trans TV PT Trans TV Aceh Trans Media
34 575.25 MHz MNCTV PT TPI Sepuluh NAD Media Nusantara Citra
36 591.25 MHz TVRI Nasional LPP Televisi Republik Indonesia Stasiun Aceh LPP Televisi Republik Indonesia
TVRI Aceh Lokal
40 623.25 MHz iNews PT Semesta Aceh Televisi Media Nusantara Citra Nasional
42 639.25 MHz Trans7 PT Trans7 Padang Aceh Trans Media
44 655.25 MHz tvOne PT Lativi Media Karya Aceh dan Gorontalo Visi Media Asia
46 671.25 MHz SCTV PT Surya Citra Sentosa Surya Citra Media
48 687.25 MHz Aceh TV PT Aceh Media Televisi Indonesia Kelompok Media Bali Post Lokal berjaringan
57 759.25 MHz UBonTV Universitas Ubudiyah Indonesia Komunitas
60 783.25 MHz NET. PT Sarana Media Aceh Net Visi Media Nasional
Digital (DVB-T2)
29 538 MHz UHF TVRI Nasional LPP Televisi Republik Indonesia Stasiun Aceh LPP Televisi Republik Indonesia Nasional
TVRI Aceh Lokal
TVRI Kanal 3 Nasional
TVRI Sport HD
32 562 MHz Trans TV PT Trans TV Aceh Trans Media
Trans7 PT Trans7 Padang Aceh
CNN Indonesia
CNBC Indonesia
Kompas TV PT Televisi Antero Nusantara KG Media
Aceh TV PT Aceh Media Televisi Indonesia Kelompok Media Bali Post Lokal berjaringan
38 610 MHz tvOne PT Lativi Media Karya Aceh dan Gorontalo Visi Media Asia Nasional
antv PT Cakrawala ANTV Aceh
41 634 MHz Metro TV PT Media Televisi Banda Aceh Media Group
Magna Channel
BNTV
UBonTV Universitas Ubudiyah Indonesia Komunitas
43 650 MHz SCTV PT Surya Citra Sentosa Surya Citra Media Nasional
Indosiar PT Indosiar Medan Televisi
O Channel
Mentari TV
45 666 MHz RCTI PT RCTI Limabelas Aceh Media Nusantara Citra
MNCTV PT TPI Sepuluh NAD
GTV PT GTV Aceh
iNews PT Semesta Aceh Televisi

Berlangganan

Pariwisata

Kota Banda Aceh sebagai ibu kota dari Kesultanan Aceh Darussalam yang dahulunya merupakan salah satu dari lima Kerajaan Islam terbesar di dunia menyimpan berbagai situs peninggalan sejarah dari berbagai masa, mulai dari masa Kesultanan, masa Kolonial Belanda, masa bergabung dalam bingkai NKRI, masa konflik hingga tsunami. Berbagai situs objek wisata tersebut antara lain adalah Masjid Raya Baiturrahman, Komplek Taman Ghairah, Museum Sejarah Aceh, Museum Tsunami Aceh, Makam Sultan Iskandar Muda dan berbagai macam situs peninggalan sejarah lainnya terdapat di berbagai sudut kota Islam tertua di Asia Tenggara ini.

Galeri

Kota kembar

  1. Bendera Indonesia Martapura, Indonesia
  2. Bendera Uzbekistan Samarkand, Uzbekistan[21]
  3. Bendera Belanda Apeldoorn, Belanda[22][23]
  4. Bendera Yaman Sana'a, Yaman

Referensi

  1. ^ "Kota Banda Aceh Dalam Angka 2020" (pdf). www.bandaacehkota.bps.go.id. Diakses tanggal 20 November 2020. 
  2. ^ "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2020" (Virtual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 28 Juli 2021. 
  3. ^ a b c d "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Désémber 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Permendagri-137-2017" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  4. ^ "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  5. ^ "Metode Baru Indeks Pembangunan Manusia 2019-2020" (pdf). www.bps.go.id. Diakses tanggal 28 Juli 2021. 
  6. ^ a b "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  7. ^ "Mengenang Tuan Di Kandang, Penggagas Lahirnya Banda Aceh". kumparan. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  8. ^ SEJARAH KOTAMADYA BANDA ACEH
  9. ^ Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo a, 2006:72-73
  10. ^ "Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh". aceh.bps.go.id. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  11. ^ Kerentanan Likuifaksi Wilayah Kota Banda Aceh Berdasarkan Metode Uji Penetrasi Konus
  12. ^ http://sippa.ciptakarya.pu.go.id/sippa_online/ws_file/dokumen/rpi2jm/DOCRPIJM_390a7bfcc5_BAB%20IV4.%20BAB%20IV-DOK.pdf
  13. ^ "Banda Aceh, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 19 Agustus 2020. 
  14. ^ "BANDA ACEH, INDONESIA". Weatherbase. Diakses tanggal 19 Agustus 2020. 
  15. ^ "Banda Aceh climate guide". Weather2travel. Diakses tanggal 19 Agustus 2020. 
  16. ^ Junaidi, Hafid (11-09-2019). "Sah, 30 Anggota DPRK Banda Aceh 2019-2024 Dilantik". Laman Resmi Pemko Banda Aceh. Diakses tanggal 18-07-2020. 
  17. ^ "Pimpinan DPRK Banda Aceh Resmi Dilantik". Laman Resmi DPRK Banda Aceh. 08-10-2019. Diakses tanggal 17-07-2020. 
  18. ^ Perolehan Kursi DPRK Banda Aceh 2014-2019
  19. ^ Perolehan Kursi DPRK Banda Aceh 2019-2024
  20. ^ "Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 11/2021 tentang Perubahan atas Permenkominfo 6/2021". Kemenkominfo. Diakses tanggal 16 Agustus 2021. 
  21. ^ "Banda Aceh - Samarkand". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-03-29. Diakses tanggal 2011-11-27. 
  22. ^ "Dutch - Indonesian sister cities". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-12-14. Diakses tanggal 2011-11-27. 
  23. ^ "Sister Cities". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-07-10. Diakses tanggal 2011-11-27. 

Pranala luar

Lihat Juga