Lompat ke isi

Kota Mataram

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kota Mataram
Transkripsi bahasa daerah
  Aksara Sasakᬓᭀᬢ ᬫᬢᬭᬫ᭄
Islamic Centre Mataram
Islamic Centre Mataram
Bendera Kota Mataram
Lambang resmi Kota Mataram
Julukan: 
Kota Seribu Masjid
Motto: 
Kota Mataram Maju, Religius dan Berbudaya
Peta
Peta
Kota Mataram di Kepulauan Sunda Kecil
Kota Mataram
Kota Mataram
Peta
Kota Mataram di Indonesia
Kota Mataram
Kota Mataram
Kota Mataram (Indonesia)
Koordinat: 8°35′S 116°07′E / 8.58°S 116.12°E / -8.58; 116.12
Negara Indonesia
ProvinsiNusa Tenggara Barat
Tanggal berdiri31 Agustus 1993
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 6 [1]
  • Kelurahan: 50 [1]
Pemerintahan
  JenisWali kota—dewan
  BadanPemerintah Kota Mataram
  Wali KotaMohan Roliskana
  Wakil Wali KotaMujiburrahman
  Sekretaris DaerahLalu Alwan Basri
  Ketua DPRDAbdul Malik
Luas
  Total61,30 km2 (23,67 sq mi)
Populasi
 (31 Desember 2024)[2]
  Total461.936
  Kepadatan7,500/km2 (20,000/sq mi)
Demografi
  Agama
  • 83,09% Islam
  • 13,66% Hindu
  • 0,91% Buddha
  • 0,01% Konghucu[2]
  BahasaIndonesia, Sasak, Bali
  IPMKenaikan 79,59 (2022)
tinggi[3]
Zona waktuUTC+08:00 (WITA)
Kode BPS
5271 Edit nilai pada Wikidata
Kode area telepon0370
Pelat kendaraanDR
Kode Kemendagri52.71 Edit nilai pada Wikidata
APBDRp 1.412.049.871.000,-[4]
PADRp 350.255.500.000,-
DAURp 641.141.879.000,- (2020)
Situs webwww.mataramkota.go.id

Mataram merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia.[5][6] Adat suku Sasak cukup mewarnai masyarakat di kota ini. Mataram merupakan Kota Inti kawasan Metropolitan Mataram Raya kawasan metropolitan terbesar kedua di Kepulauan Nusa Tenggara setelah Sarbagita. Jumlah penduduk Kota Mataram akhir tahun 2024 sebanyak 461.936 jiwa, dengan kepadatan penduduk sebanyak 7.500 jiwa/km2.[2]

Etimologi

Nama Mataram, di Lombok disebutkan dengan beragam, diantaranya Mataram, Metaram, Mentaram, atau Mataharam. Beberapa literatur menyebutkan, Mataram berasal dari bahasa Sanskerta dari kata mata 'ibu' dan kata aram 'hiburan'. Mataram juga berarti 'persembahan untuk ibu pertiwi'. Kata Mataram juga berasal dari kata matta 'gembira' atau 'gairah' dan aram 'hiburan'. Sehingga kata matta-aram dapat diartikan menjadi 'pembangunan kota ini adalah sebagai lambang pernyataan kegembiran' atau juga 'lambang kegairahan hidup untuk membangun tanah harapan yang menjanjikan masa depan lebih cerah'.[7]

Sejarah

Dalam Babad Lombok, terdapat ekspedisi untuk menaklukkan wilayah Sunda Kecil. Ekspedisi ini dipimpin Sunan Prapen yang berangkat bersama para mubalig dan armadanya didukung puluhan kapal dengan 10 ribu pasukan berasal dari daerah di pulau Jawa seperti Mataram, Majalengka, Madura, Sumenep, Surabaya, Semarang, Gresik, Besuki Gembong, Candi, Betawi dan lainnya. Mereka dipimpin pemukanya seperti Arya Majalengka, Ratu Madura dan Sumenep, Adipati Surabaya, Adipati Semarang, Patih Ki Jaya Lengkara, dan Raden Kusuma Betawi.

Dari Mataram sendiri dipimpin seseorang yang disebut Patih Mentaram. Di Lombok, setelah mengislamkan raja Lombok Prabu Rangkesari, dengan berbasis di kotaraja Lombok di teluk Lombok, ekspedisi dipecah-pecah menjadi rombongan yang dikirim ke seluruh penjuru pulau Lombok. Salah satu peran penting patih Mataram mendapat tugas menaklukkan semua orang di utara gunung dari Samulya (saat ini Sambelia).[7]

Sedangkan sebuah literatur dari Bali-Lombok menyebutkan, Setelah Kerajaan Karangasem mulai menguasai seluruh pulau Lombok mereka membangun ibukota kerajaannya di wilayah lombok barat, Kota Mataram dipercaya dibangun bersamaan dengan Pura Lingsar pada tahun 1714 oleh Raja Gusti Anglurah Karangasem. Sang raja mendirikan kota ini merujuk pada Kitab Lontar Tata Ruang Kota dari Bali seperti Lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Bumi. Kerajaan Karangasem mulai menamai pemukiman-pemukiman daerah yang dibangunnya dengan nama kerajaan hindu yang pernah berjaya di Nusantara, seperti Mataram dan Singasari. Hal ini didukung dengan makna nama "Mataram" yang diterjemahkan sebagai hadiah untuk ibu pertiwi (merujuk pada Karangasem) sebagai tanah kelahiran raja-raja Karangasem-Lombok.

Setelah kematian Wakil Karangasem, Gusti Wayan Tegeh pada 1740, Lombok terpecah menjadi beberapa kepangeranan Bali, dua yang utama adalah Mataram-Karangasem dan Karangasem-Lombok atau dikenal sebagai Singasari-Karangasem, kedua kepangeranan sebenarnya masih dalam satu dinasti namun keinginan untuk menjadi penguasa tunggal di lombok menyebabkan terjadinya bibit perpecahan yang disusul pada perang suksesi pada 1838 Masehi yang dimenangkan oleh Kepangeranan Mataram kemudian menjadi Kerajaan Mataram-Karangasem sebagai penguasa tunggal di Tanah Lombok.

Beberapa tahun kemudian Raja Mataram kemudian memindahkan ibukota ke utara Mataram yang diberi nama Cakranegara (Cakra berarti pusat, jadi artinua Pusat Negara) dan membangun keratonnya yang bernama Puri Agung Cakranegara, karena ukiran kunonya yang khas, maka masyarakat sering menyebutnya sebagai Puri Agung Ukirkawi. Raja-raja Mataram dari Dinasti Karangasem dikenal sebagai penguasa yang toleran, kaya dan disegani, beliau juga melaksanakan sensus penduduk dengan meminta rakyat untuk mengumpulkan jarum, hal ini terbukti efektif untuk mencegah korupsi yang sempat terjadi dalam tubuh Kerajaan Mataram Lombok saat itu.[8]

Setelah Kerajaan Mataram jatuh oleh pemerintah Hindia Belanda, yang dibayar mahal dengan tewasnya Jend. P.P.H. van Ham dan ratusan serdadu belanda (monumennya ada di Karang Jangkong), Cakranegara mulai menerapkan sistem pemerintahan dwitunggal berada di bawah Afdeling Bali-Lombok yang berpusat di Singaraja, Bali.

Pulau Lombok dalam pemerintahan dwitunggal terbagi menjadi 3 (tiga) onder afdeling, dari pihak kolonial sebagai wakil disebut kontrolir dan dari wilayah disebut Kepala Pemerintahan Setempat (KPS) sampai ke tingkat Kedistrikan. Adapun ketiga wilayah administratif masih disebut West Lombok (Lombok Barat), Middle Lombok (Lombok Tengah) dan East Lombok (Lombok Timur) dipimpin oleh seorang 7 (tujuh) wilayah administratif yang meliputi Kedistrikan Ampenan Barat di Dasan Agung, Kedistrikan Ampenan Tmur di Narmada, Kedistrikan Bayan di Bayan Belek, Asisten Distrik Gondang di Gondang, Kedistrikan Tanjung di Tanjung, Kedistrikan Gerung di Gerung, dan Kepenggawaan Cakranegara di Mayura.[butuh rujukan]

Geografi

Kota Mataram memiliki topografi wilayah berada pada ketinggian kurang dari 50 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan rentang ketinggian sejauh 9 km, terletak pada 08° 33’ - 08° 38’ Lintang Selatan dan 116° 04’ - 116° 10’ Bujur Timur. Struktur geologi Kota Mataram sebagian besar adalah jenis tanah liat dan tanah endapan tuff yang merupakan endapan alluvial yang berasal dari kegiatan Gunung Rinjani, secara visual terlihat seperti lempengan batu pecah, sedangkan di bawahnya terdapat lapisan pasir.

Batas Wilayah

Batas-batas wilayah Kota Mataram adalah sebagai berikut:[9]

UtaraKecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat
TimurKecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat
SelatanKecamatan Labu Api, Kabupaten Lombok Barat
BaratSelat Lombok

Iklim

Seperti kota-kota lain di Indonesia, kota Mataram beriklim tropis dengan tipe iklim muson tropis (Am) yang memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Suhu udara di Kota Mataram berkisar antara 20.1 °C sampai dengan 31.6 °C. Kelembapan maksimum 83% terjadi pada bulan Januari–Maret dan Desember, sedangkan kelembapan minimum 77% terjadi pada bulan Agustus dan September. Rata-rata penyinaran matahari maksimum pada bulan September. Sementara jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari sebanyak 20 hari, dengan curah hujan rata-rata mencapai 1200–2000 mm per tahun, dan jumlah hari hujan relatif ≥120 hari per tahun.[10]

Data iklim Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rekor tertinggi °C (°F) 34
(93)
34.6
(94.3)
35.2
(95.4)
35
(95)
34.8
(94.6)
34.6
(94.3)
33.6
(92.5)
33.2
(91.8)
34
(93)
36.4
(97.5)
36
(97)
35.2
(95.4)
36.4
(97.5)
Rata-rata tertinggi °C (°F) 30.6
(87.1)
30.6
(87.1)
30.5
(86.9)
30.6
(87.1)
30.9
(87.6)
30.3
(86.5)
29.5
(85.1)
29.6
(85.3)
30.2
(86.4)
31.1
(88)
31.6
(88.9)
30.6
(87.1)
30.51
(86.93)
Rata-rata harian °C (°F) 26.9
(80.4)
26.8
(80.2)
26.6
(79.9)
26.5
(79.7)
26.6
(79.9)
25.5
(77.9)
24.8
(76.6)
24.9
(76.8)
25.8
(78.4)
26.7
(80.1)
27.1
(80.8)
26.9
(80.4)
26.26
(79.26)
Rata-rata terendah °C (°F) 23.2
(73.8)
23
(73)
22.7
(72.9)
22.4
(72.3)
22.3
(72.1)
20.7
(69.3)
20.1
(68.2)
20.2
(68.4)
21.4
(70.5)
22.3
(72.1)
22.6
(72.7)
23.3
(73.9)
22.02
(71.6)
Rekor terendah °C (°F) 19.8
(67.6)
19
(66)
17.4
(63.3)
16.9
(62.4)
15.9
(60.6)
15.4
(59.7)
14.9
(58.8)
14.9
(58.8)
17.4
(63.3)
18.4
(65.1)
20.1
(68.2)
20.4
(68.7)
14.9
(58.8)
Presipitasi mm (inci) 234
(9.21)
232
(9.13)
184
(7.24)
160
(6.3)
102
(4.02)
52
(2.05)
34
(1.34)
11
(0.43)
50
(1.97)
128
(5.04)
237
(9.33)
230
(9.06)
1.654
(65,12)
Rata-rata hari hujan 14 12 12 10 6 3 2 1 2 6 13 14 95
% kelembapan 83 83 83 83 82 79 78 77 77 79 81 83 80.7
Rata-rata sinar matahari harian 7.9 8.4 8.5 8.7 9.3 9.4 9.4 9.6 10.4 10.1 9.7 8.6 9.17
Kemungkinan sinar matahari (persen) 60 62 68 74 80 82 82 84 82 79 71 62 73.8
Sumber #1: Weather2travel[11]
Sumber #2: BMKG[12] Stasiun Klimatologi Lombok Barat[13][14][15][16]

Pemerintahan

Secara administratif Kota Mataram memiliki luas daratan 61,30 km² dan 56,80 km² perairan laut, terbagi atas 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ampenan, Cakranegara, Mataram, Sandubaya, Selaparang dan Sekarbela dengan 50 kelurahan dan 297 lingkungan.

Kepala daerah

No Wali Kota Mulai jabatan Akhir jabatan Wakil Wali Kota
5 Mohan Roliskana 20 Februari 2025 Petahana Mujiburrahman

Dewan Perwakilan

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Mataram dalam empat periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi pada Periode
2009–2014[17] 2014–2019[18] 2019–2024[19] 2024–2029
PKB 0 Kenaikan 1 Steady 1 Steady 1
Gerindra 3 Kenaikan 6 Steady 6 Penurunan 5
PDI-P 4 Kenaikan 5 Steady 5 Steady 5
Golkar 4 Kenaikan 9 Steady 9 Penurunan 7
NasDem (baru) 2 Penurunan 1 Kenaikan 4
PKS 3 Steady 3 Kenaikan 5 Kenaikan 6
Hanura 3 Penurunan 2 Penurunan 1 Steady 1
PAN 3 Penurunan 1 Kenaikan 3 Penurunan 2
Demokrat 7 Penurunan 4 Steady 4 Steady 4
PPP 3 Kenaikan 5 Penurunan 3 Kenaikan 5
PBR 2
PKPB 2
PPI 1
Berkarya (baru) 1
PKPI 0 Kenaikan 2 Penurunan 1
Jumlah Kursi 35 Kenaikan 40 Steady 40 Steady 40
Jumlah Partai 11 Steady 11 Kenaikan 12 Penurunan 10

Kecamatan

Kota Mataram terdiri dari 6 Kecamatan dan 50 Kelurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 419.506 jiwa dengan luas wilayah 61,30 km² dan sebaran penduduk 6.843 jiwa/km².[20][21]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Mataram, adalah sebagai berikut:

KemendagriKecamatanJumlah
Kelurahan
Daftar
Kelurahan
52.71.01 Ampenan10
52.71.03 Cakranegara10
52.71.02 Mataram9
52.71.06 Sandubaya7
52.71.04 Sekarbela5
52.71.05 Selaparang9
TOTAL50

Demografi

Gedung pandopo wali kota Mataram

Suku bangsa

Suku Sasak merupakan suku bangsa mayoritas yang merupakan penduduk asli di Kota Mataram. Selain itu, terdapat juga suku Bali, Tionghoa, Melayu, Bugis, Sumbawa, Bima, Jawa, dan Arab. Keharmonisan kehidupan antar suku di Mataram sempat terganggu oleh peristiwa pecahnya kerusuhan Lombok pada 17 Januari 2000 yang menyeret isu agama dan ras sebagai penyebab kerusuhan.

Di wilayah Ampenan juga terdapat pemukiman etnis Melayu yang dikenal dengan nama Kampung Melayu, di mana penduduknya adalah etnis Melayu dan berbicara dalam bahasa Melayu. Masyarakat Mataram telah mengenal bahasa Melayu sejak pertengahan abad ke-19, atau bahkan sebelumnya. Seperti yang disebutkan oleh Wallace dalam bukunya The Malay Archipelago (1869), masyarakat Lombok berdialog dengan Fernandes tentang keilahian. Juga oleh Charles Kordhoff, seorang pelaut AS, yang menyebutkan penggunaan bahasa Melayu di Lombok.[22]

Agama

Kota Mataram merupakan kota yang multietnis dan multiagama. Pengaruh budaya Sasak dan Bali, sangat terasa di kota ini. Adapun keberagaman penduduk Kota Mataram menurut agama yang dianut, berdasarkan data kementerian Dalam Negeri tahun 2024, yakni pemeluk agama Islam (83,09%) yang umumnya dianut oleh suku Sasak dan kelompok etnik asal NTB lainnya, Hindu (13,66%) terutama dianut oleh suku Bali, kemudian Kekristenan (2,33%), di mana terbagi antara penganut Protestan (1,53%) dan Katolik (0,80%) yang umumnya dianut penduduk dari Nusa Tenggara Timur, Batak, dan Tionghoa. Sebagian lagi beragama Buddha (0,91%) yang dianut oleh masyarakat Tionghoa.[2]

Bahasa

Masyarakat Kota Mataram sebagian besar menggunakan bahasa Sasak dalam kesehariannya. Selain itu, bahasa Indonesia dan Melayu juga digunakan sebagai basantara di antara masyarakat Mataram yang heterogen. Bahasa lainnya yang cukup banyak dituturkan adalah bahasa Bali, Sumbawa, dan Bima. Bahasa Sasak sendiri terbagi atas beberapa dialek, tergantung wilayah penggunaannya masing-masing di Pulau Lombok, serta dapat digunakan sebagai acuan perbedaan strata sosial di masyarakatnya.

Transportasi

Udara

Keberadaan Bandar Udara Selaparang merupakan pintu masuk melalui udara ke Kota Mataram khususnya serta Pulau Lombok dan Nusa Tenggara Barat umumnya. Dan seiring dengan perkembangan Mataram dan NTB pada umumnya, saat ini Bandar Udara Selaparang sudah ditutup dan digantikan dengan Bandar Udara Internasional Lombok, Bandara tersebut berlokasi di wilayah Lombok Tengah.

Darat

Terminal Induk di kota ini adalah Terminal Mandalika yang terletak di sebelah Timur di Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. Di samping itu juga ada Terminal Kebon Roek yang berada di sebelah barat di wilayah Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Terminal Kebon Roek merupakan sarana transportasi darat melayani angkutan kota di Kota Mataram. Untuk sarana transportasi darat lainnya di kota ini dikenal dengan nama Cidomo, kendaraan seperti bemo serta ojek.

Laut

Sebelum Pelabuhan Lembar di Kabupaten Lombok Barat dikembangkan, Ampenan merupakan pelabuhan laut yang ramai, Pelabuhan Ampenan ini berada di sebelah barat Kota Mataram. Namun karena faktor keganasan arus laut Selat Lombok, dipilihlah lokasi yang lebih ideal untuk pelabuhan Laut yaitu sekarang ini di Lembar.

Pariwisata

Museum Nusa Tenggara Barat

Kota Mataram terletak di pulau Lombok, merupakan sentra dari perjalanan wisata di Pulau Lombok. Kota Mataram saat ini dikembangkan menjadi salah satu kota pariwisata.

Akomodasi dan penginapan

Di Kota Mataram terdapat beberapa hotel, mulai dari hotel kelas Melati sampai Hotel Berbintang. Beberapa di antaranya adalah Hotel Lombok Raya, Hotel Grand Legi, Hotel Lombok Garden, Hotel Lombok Plaza, Hotel Santika Mataram, Hotel Nitour, Hotel Chandra, Hotel Mataram Square, Hotel Handayani dan Hotel Lombok Vaganza.

Tempat wisata

Pantai Ampenan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia

Wisata Alam

Pulau Lombok dengan pusat di Kota Mataram, merupakan tempat yang sangat terkenal dengan eksotisme alamnya. Dari kota ini anda bisa menuju tempat wisata alam yang sangat terkenal di antaranya Pantai Senggigi, Gili Trawangan, Gili Air ,Gili Meno, Pantai Kuta, Pantai Ampenan, Pesona Gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia yaitu Rinjani.

Wisata Budaya

Untuk wisata budaya, perpaduan antara budaya Lombok dan Bali dan sentuhan dari etnis lainnya, melahirkan suatu kolaborasi budaya yang sangat menarik, dan ada beberapa tempat menarik yang layak untuk dikunjungi terkait dengan hal tersebut antara lain, Kuburan Tionghoa Bintaro, Taman Mayura, Pura Meru, Pura Segara, Loang Baloq, Kota Tua Ampenan, Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat.[butuh rujukan] Kota Mataram juga memiliki sebuah museum yaitu Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.[23]

Belanja

Kota ini juga memiliki berbagai pusat perbelanjaan, misalnya Mataram Mall,Lombok Epicentrum Mall, Pusat Kerajinan Mutiara Pagesangan dan Ampenan Cerah Ceria. Disamping itu untuk anda yang suka belanja oleh-oleh Senggigi Square, Sukarara, Pusat Mutiara Di desa Sekarbela, bisa menjadi pilihan anda.

Kuliner

Kota ini menyajikan sajian khas Lombok di antaranya adalah ayam taliwang, beberuk terong, sate bulayak, plecing kangkung, nasi balap puyung, ares, sate rembiga, sate tanjung, poteng jaje tujak, iwel, dan bebalung.

Pendidikan

Fasilitas pendidikan di Kota Mataram tersedia dengan cukup memadai. Di Kota ini terdapat beberapa perguruan tinggi baik Negeri maupun Swasta.

Perguruan Tinggi

Gedung Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram
Kampus Universitas Mataram

Perguruan Tinggi Negeri yang cukup terkenal di kota ini adalah Universitas Mataram, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Gde Pudja Mataram dan UIN Mataram. Sementara, beberapa Perguruan Tinggi Swasta juga banyak di Kota Mataram, di antaranya adalah:

Kesehatan

Referensi

  1. 1 2 3 "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-09-19. Diakses tanggal 05-12-2018. ;
  2. 1 2 3 4 "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2024" (visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 23 Agustus 2025.
  3. "Metode Baru Indeks Pembangunan Manusia 2021-2022". www.bps.go.id. Diakses tanggal 14 Agustus 2023.
  4. "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-07-06. Diakses tanggal 2018-07-06.
  5. George, Nathan. [Bps "Bps"]. Bps.
  6. Sugiarto, Ari (2019-12-30). "Data Terbaru Jenis-Jenis Kupu-Kupu di Desa Serdang Menang". doi.org. Diakses tanggal 2025-05-01.
  7. 1 2 Anggraeni, Dewi (2013-12-10). "Inilah Asal Muasal Lahirnya Kota Mataram". LOMBOKita. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-08-09. Diakses tanggal 2019-11-19.
  8. Sudirman, Ahmad (2014). Studi Sejarah dan Budaya Lombok. Mataram: Pusaka NTB.
  9. "Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten Kota 1993-2020". BPS NTB. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-21. Diakses tanggal 2 September 2020.
  10. "Salinan arsip" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-12-18. Diakses tanggal 2020-08-27.
  11. "Mataram climate guide". Weather2travel. Diakses tanggal 25 Agustus 2020.
  12. "Buku Peta Rata-Rata Curah Hujan Dan Hari Hujan Periode 1991-2020 Indonesia" (PDF). BMKG. hlm. 79 & 143. Diakses tanggal 25 September 2024.
  13. "Mataram, Stasiun Meteorologi Selaparang – Periode 1971-2014". BMKG NTB. Diakses tanggal 25 Desember 2020.
  14. "Mataram, Stasiun Meteorologi Selaparang – Periode 1971-2014". BMKG NTB. Diakses tanggal 25 Desember 2020.
  15. "Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Selaparang – Periode 1971-2014". BMKG NTB. Diakses tanggal 25 Desember 2020.
  16. "Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Selaparang – Periode 1971-2014". BMKG NTB. Diakses tanggal 25 Desember 2020.
  17. "35 ANGGOTA DPRD KOTA MATARAM DILANTIK"[pranala nonaktif permanen], Antara
  18. Perolehan Kursi DPRD Kota Mataram 2014-2019
  19. "Perolehan Kursi DPRD Kota Mataram 2019-2024". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-08-03. Diakses tanggal 2020-05-22.
  20. "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
  21. "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020.
  22. Muhlis, Buyung S. (26 Februari 2025). "Di Ampenan, Burung Saja Berbahasa Melayu". mataramradio.com. Mataram Radio. Diakses tanggal 5 Juli 2025.
  23. Super Admin (8 Oktober 2024). "Jelajah Museum NTB: Belajar Sambil Berwisata". Direktorat SMP. Diakses tanggal 4 Juni 2025.
  24. "Universitas Terbuka Daerah Mataram". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-07. Diakses tanggal 2023-06-12.

Lihat pula

Pranala luar