Kota Tanjungpinang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠ ڤينڠ
Bintan 1rightarrow blue.svg Kepulauan Riau
Pemandangan Kota Tanjungpinang  كوتا تنجوڠ ڤينڠ
Pemandangan Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠ ڤينڠ
Lambang Kota Tanjungpinang  كوتا تنجوڠ ڤينڠ
Lambang
Semboyan: Jujur Bertutur Bijak Bertindak
Lokasi Kota Tanjungpinang  كوتا تنجوڠ ڤينڠ di Pulau Bintan
Lokasi Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠ ڤينڠ di Pulau Bintan
Kota Tanjungpinang  كوتا تنجوڠ ڤينڠ berlokasi di Indonesia
Kota Tanjungpinang  كوتا تنجوڠ ڤينڠ
Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠ ڤينڠ
Lokasi Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠ ڤينڠ di Pulau Bintan
Koordinat: 1°5′0″LU 104°29′0″BT / 1,08333°LU 104,48333°BT / 1.08333; 104.48333
Negara  Indonesia
Hari jadi 17 Oktober 2001
Ibu kota Senggarang
Pemerintahan
 • Wali Kota H. Lis Darmansyah
Populasi (2015)
 • Total 204,194[1] jiwa
 • Kepadatan 848/km2 (2,200/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsa Melayu, Jawa, Tionghoa, Minangkabau, Batak, Sunda
 • Agama Islam 78.53%
Buddha 13.28%
Kristen Protestan 6.53%
Katolik 1.38%
Konghucu 0.25%
Hindu 0.03%[2]
 • Bahasa Bahasa Melayu, Bahasa Hokkien Bahasa Tiochiu
Zona waktu WIB
Kecamatan 4
Desa/kelurahan 18
Bandar udara Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah
Situs web www.tanjungpinangkota.go.id

Tanjungpinang atau Tanjung Pinang (disingkat Tg. Pinang) adalah ibu kota dari Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Kota ini terletak di Pulau Bintan dan beberapa pulau kecil seperti Pulau Dompak dan Pulau Penyengat, dengan koordinat 0º5' LU dan 104º27' BT. Kota Tanjungpinang dahulunya adalah pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga. Sebelum dimekarkan menjadi kota otonom, Tanjungpinang adalah ibukota Kabupaten Kepulauan Riau (sekarang Kabupaten Bintan). Kota ini juga awalnya adalah ibukota Provinsi Riau (meliputi Riau daratan dan kepulauan) sebelum kemudian dipindahkan ke Kota Pekanbaru.

Kota ini memiliki cukup banyak daerah pariwisata seperti Pulau Penyengat yang hanya berjarak kurang lebih 2 mil dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Pantai Trikora dengan pasir putihnya terletak kurang lebih 65 km dari kota, dan Pantai Buatan yaitu Tepi Laut yang terletak di garis pantai pusat kota sebagai pemanis atau wajah kota (waterfront city).

Pelabuhan Laut Tanjungpinang di Sri Bintan Pura memiliki kapal-kapal jenis feri dan feri cepat (speedboat) untuk akses domestik ke pulau Batam dan pulau-pulau lain seperti Kepulauan Karimun dan Kundur, serta kota-kota lain di Riau. Pelabuhan ini juga merupakan akses internasional ke Malaysia dan Singapura.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Sulalatus Salatin, Tanjungpinang merupakan bagian dari Kerajaan Malaka. Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugal, Sultan Mahmud Syah menjadikan kawasan ini sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Malaka. Kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor, sebelum diambil alih oleh Belanda setelah mereka menundukan perlawanan Raja Haji Fisabilillah tahun 1784 di Pulau Penyengat.

Pada masa Hindia Belanda, Tanjungpinang merupakan pusat pemerintahan Karesidenan Riouw. Kemudian di awal kemerdekaan Indonesia, menjadi ibu kota Provinsi Riau. Pada tahun 1957, Tanjungpinang menjadi ibu kota Provinsi Riau. Namun dua tahun kemudian ibu kota propinsi itu dipindahkan ke Pekanbaru.[3] Setelah itu statusnya menjadi Kota Administratif hingga tahun 2000. Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2001, pada tanggal 21 Juni 2001 statusnya ditingkatkan menjadi Kota Tanjungpinang. Pusat pemerintahan yang semula berada di pusat Kota Tanjungpinang, kemudian dipindahkan ke Senggarang (bagian utara kota).[4] Hal ini bertujuan untuk pemerataan pembangunan serta mengurangi kepadatan penduduk yang selama ini berpusat di Kota Lama (bagian barat kota). Pada tahun 2002, Kota Tanjungpinang kembali menjadi ibu kota provinsi, yakni Provinsi Kepulauan Riau.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2002 Dra. Hj. Suryatati A. Manan terpilih sebagai walikota pertama melalui pemilihan oleh DPRD Kota Tanjungpinang. Pada tahun 2007, ia terpilih kembali untuk menjadi Wali Kota Tanjungpinang. Kemudian pada tahun 2013, ia digantikan oleh H. Lis Darmansyah.

Wilayah administrasi pemerintahan Kota Tanjungpinang terbagi menjadi 4 kecamatan dan 18 kelurahan.

Kecamatan-kecamatan di Kota Tanjungpinang adalah:

Geografi[sunting | sunting sumber]

Sebagian wilayah Tanjungpinang merupakan dataran rendah, kawasan rawa bakau, dan sebagian lain merupakan perbukitan, sehingga lahan kota sangat bervariasi dan berkontur.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Kota Tanjungpinang maupun Pulau Bintan keseluruhan beriklim tropis dengan temperatur 23 °C – 34 °C. Tekanan udaranya berkisar antara 1.010,2 mbs dan 1.013,7 mbs.

Musim[sunting | sunting sumber]

Secara resmi memiliki musim kemarau dan musim penghujan. Tidak ada perbedaan musim yang mencolok di daerah ini. Hujan dapat turun sepanjang tahun. Namun setiap akhir sampai dengan awal tahun terjadi "Angin Utara" yang sangat berbahaya dengan gelombang yang sangat kuat.

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Komposisi etnis Kota Tanjungpinang pada tahun 2010
Etnis Jumlah (%)
Melayu 30,7
Jawa 27,9
Tionghoa 13,5
Minangkabau 9,5
Batak 6,6
Sunda 2,8
Bugis 1,9
Lain-lain 7,1
Sumber: Sensus Penduduk Tahun 2010[5]

Suku Melayu merupakan penduduk asli dan kelompok suku bangsa terbesar di Tanjungpinang. Disamping itu terdapat pula Suku Bugis, Suku Minang, Orang Laut dan Tionghoa yang sudah ratusan tahun berbaur dengan Suku Melayu dan menjadi penduduk tetap semenjak zaman Kesultanan Johor-Riau dan Residentie Riouw.[5] Suku Bugis awalnya menetap di Kampung Bugis dan Suku Tionghoa banyak menempati Jalan Merdeka dan Pagar Batu. Setelah masa kemerdekaan, orang Jawa dan Minang mulai ramai mendatangi Tanjungpinang. Dimana orang Minang sebagian besar menempati pemukiman di sekitar pasar[6], sedangkan Suku Jawa banyak yang bermukim di Kampung Jawa.

Bahasa yang digunakan di Tanjungpinang adalah Bahasa Melayu klasik. Bahasa Melayu di kota ini hampir sama dengan Bahasa Melayu yang digunakan di Singapura. Disamping itu, banyak pula yang menggunakan Bahasa Jawa, Minangkabau dan Batak.[7] Masyarakat Tionghoa yang dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan, sebagian masih menggunakan Bahasa Tiochiu dan Hokkien dalam berkomunikasi.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Transportasi di Tanjungpinang sebagian besar masih mengandalkan transportasi laut. Di kota ini terdapat 24 pelabuhan domestik dan satu pelabuhan internasional yaitu Pelabuhan Sri Bintan Pura.[3] Untuk terminal angkutan kota, hanya ada satu yaitu Terminal Sei Carang. Sedangkan untuk pengangkutan udara, kota ini dilayani oleh Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah yang memiliki kapasitas 610.000 orang per tahun. Pada tahun 2014, penumpang yang datang melalui bandara ini berjumlah 135.797 penumpang, sedangkan yang berangkat sebanyak 132.735 orang.[3]

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2001, sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam membangun perekonomian Kota Tanjungpinang yaitu sebesar 35,54% kemudian diikuti oleh sektor industri pengolahan 15,37%, sektor bangunan 13,29%, sektor jasa-jasa 12,51%, dan sektor pengangkutan dan komunikasi 10,82%. Sedangkan sektor lainnya meliputi sektor listrik, gas, dan air bersih, keuangan, pertanian, dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 12,47%.[8]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Pulau Penyengat dilihat dari Tanjungpinang

Pulau Penyengat merupakan salah satu kawasan wisata di Kota Tanjungpinang. Pulau seluas 3,5 km² ini berada di sebelah barat Kota Tanjungpinang dan dapat ditempuh 15 menit dengan transportasi laut. Pada pulau ini terdapat banyak peninggalan lama dengan wujud bangunan dan makam yang telah dijadikan situs cagar budaya. Selain itu juga dijumpai kelenteng atau vihara di kawasan Kampung Bugis dan Senggarang yang sekaligus menjadi kawasan wisata religi. Wisata lainnya juga dapat ditemukan di Pantai Impian, Tugu Pensil, Tepi Laut, Mall Ramayana Tanjung Pinang, Bestari Mall, Bintan Indah Mall, Tanjungpinang City Center dan sebagainya.

Pariwisata di Kota Tanjungpinang ditunjang oleh adanya 8 hotel berbintang, 32 hotel melati,[3] 34 rumah makan dan pusat-pusat belanja yang terdiri dari 13 supermarket serta pertokoan yang tersebar di wilayah kota. Pada tahun 2014, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebagian besar berasal dari Singapura (71,39%) dan diikuti oleh Malaysia (13,71%). Wisatawan dari luar ASEAN terutama berasal dari China (3,31%), India (2,21%) dan Inggris (1,08%).[3] Kota ini juga menawarkan sajian kuliner aneka hidangan laut dan masakan Cina.[9]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Kota Tanjungpinang Dalam Angka 2016", diakses 13 Agustus 2017
  2. ^ "Kota Tanjungpinang Dalam Angka 2016", diakses 13 Agustus 2017
  3. ^ a b c d e Kota Tanjungpinang Dalam Angka 2015, Badan Pusat Statistik, 2015
  4. ^ Dulu Terpisah Kini Jadi Pusat Pemerintahan
  5. ^ a b Nicholas J. Long; Being Malay in Indonesia: Histories, Hopes and Citizenship in the Riau Archipelago, 2013
  6. ^ Novendra, Nov., Peranan Orang Minang Dalam Perekonomian Kota Administratif Tanjung Pinang, Depdikbud, 1999
  7. ^ U.U. Hamidy, Bahasa Melayu Riau: Sumbangan Bahasa Melayu Riau kepada Bahasa dan Bangsa Indonesia, Pustaka A.S., 1981
  8. ^ ciptakarya.pu.go.id Profil Kota Tanjungpinang (diakses pada 4 Februari 2012)
  9. ^ www.bappedatanjungpinang.info Sekilas Kota Tanjungpinang (diakses pada 4 Februari 2012)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]