Kota Sabang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kota Sabang
Sumatra 1rightarrow blue.svg Aceh
Lambang Kota Sabang
Lambang
Peta Kota Sabang
Kota Sabang berlokasi di Sumatra
Kota Sabang
Kota Sabang
Kota Sabang berlokasi di Indonesia
Kota Sabang
Kota Sabang
Koordinat: 5°53′35″N 95°19′12″E / 5.8931°N 95.32°E / 5.8931; 95.32
Negara Indonesia
ProvinsiAceh
Tanggal peresmian14 Juni 1965 dan 30 Juni 1979
Dasar hukumUU RI No.10 Tahun 1965 & PP RI No.20 Tahun 1979
Ibu kota-
Pemerintahan
 • Wali kotaNazaruddin
 • WakilSuradji Junus
Luas
(2017)[1]
 • Total153,00 km² km2 (Formatting error: invalid input when rounding sq mi)
Populasi
 (2017[1])
 • Total40,040 jiwa jiwa
Zona waktuWIB (UTC+07:00)
Kode pos
23517-23521
Kode telepon(+62)652
Kode Kemendagri11.72 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan2[1]
Jumlah kelurahan-
Jumlah desa18 gampong[1]
DAURp350.863.359.000,00(2018)[2]
PADRp46.609.405.393,00[2]
APBDRp613.999.489.403,00[2]
IPM73,36 (2016)[3]
Situs websabangkota.go.id

Kota Sabang adalah salah satu kota di Aceh, Indonesia.[1][4] Kota ini berupa kepulauan di seberang utara pulau Sumatra, dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesar. Kota Sabang merupakan zona ekonomi bebas Indonesia[5], ia sering disebut sebagai titik paling utara Indonesia, tepatnya di Pulau Rondo[6].

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kapal penumpang SS "Jan Pieterszoon Coen" di Sabang pada tahun 1935

Setelah pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869, kepulauan Indonesia tidak lagi dapat dicapai dari Selat Sunda, tetapi melalui Selat Malaka, dan tentu saja melewati pulau Weh. Ketika VOC sebagai serikat dagang Belanda dibubarkan pada tahun 1799, didirikanlah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) yang membeli rempah-rempah dan hasil perkebunan di wilayah koloninya dengan harga murah yang membuat keuntungan besar bagi Belanda. Tahun 1881 Belanda mendirikan Kolen Station di teluk Sabang yang terkenal dengan pelabuhan alamnya. Tahun 1883 Didirikannya Atjeh Associate oleh Factorij van de Nederlandsche Handel Maatschappij (Factory of Netherlands Trading Society) dan De Lange & Co. di Batavia (Jakarta) untuk mengoperasikan pelabuhan dan stasiun batubara di Sabang. Awalnya pelabuhan ini dimaksudkan sebagai stasiun batubara untuk Angkatan Laut Belanda, tetapi kemudian juga melayani kapal dagang umum. Pada tahun 1895 sebuah depot batubara atau pelabuhan alam yang bernama Kolen Station selesai dibangun dengan kapasitas 25.000 ton batubara yang berasal dari Sumatra Barat. Pelabuhan juga menyediakan bahan bakar minyak yang dikirim dari Palembang. Kapal yap dari banyak negara, singgah untuk mengambil bahan bakar batubara, air segar, ataupun memanfaatkan fasilitas perbaikan kapal (docking).

Tahun 1896 Sabang dibuka sebagai pelabuhan bebas (vrij haven) untuk perdagangan umum dan sebagai pelabuhan transit barang-barang terutama dari hasil pertanian Deli, sehingga Sabang mulai dikenal oleh lalu lintas perdagangan dan pelayaran dunia. Tahun 1899 Ernst Heldring mengenali potensi Sabang untuk menjadi pelabuhan internasional dan mengusulkan pengembangan pelabuhan Sabang pada NHM (Nederlandsche Handel Maatschappij) dan beberapa perusahaan Belanda lainnya melalui bukunya yang berjudul Oost Azie en Indie. Balthazar Heldring selaku presiden direktur NHM menyambut baik usulan ini dan pada tahun itu juga mengubah Atjeh Associate menjadi N. V. Zeehaven en Kolenstation Sabang te Batavia (Sabang Seaport and Coal Station of Batavia) yang kemudian dikenal dengan Sabang Maatschappij atau Sabang Mij, dan merehab infrastruktur pelabuhan agar layak menjadi pelabuhan bertaraf Internasional. Dengan demikian, sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang adalah pelabuhan yang sangat penting dibandingkan Singapura.

Perang Dunia II ikut memengaruhi kondisi Sabang dimana pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang dan dijadikan basis pertahanan maritim wilayah barat yang terbesar di Sumatra. Kemudian Sabang sebagai pelabuhan bebas ditutup dan pelabuhan Sabang dijadikan sebagai pelabuhan militer Jepang, kemudian dibom pesawat Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian terpaksa ditutup. Tahun 1945 Sabang mendapat dua kali serangan dari pasukan Sekutu dan menghancurkan sebagian infrastruktur. Kemudian Indonesia Merdeka tetapi Sabang masih menjadi wilayah koloni Belanda.[7]

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sabang menjadi pusat pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wewenang penuh dari pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertahanan RIS Nomor 9/MP/50. Semua aset pelabuhan Sabang Maatschaappij dibeli Pemerintah Indonesia. Kemudian pada tahun 1965 dibentuk pemerintahan Kotapraja Sabang berdasarkan UU No 10/1965 dan dirintisnya gagasan awal untuk membuka kembali sebagai Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas.

Gagasan itu kemudian diwujudkan dan diperkuat dengan terbitnya UU No 3/1970 tentang Perdagangan Bebas Sabang dan UU No 4/1970 tentang ditetapkannya Sabang sebagai Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Dan atas alasan pembukaan Pulau Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Sabang terpaksa dimatikan berdasarkan UU No 10/1985. Kemudian pada tahun 1993 dibentuk Kerja Sama Ekonomi Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) yang membuat Sabang sangat strategis dalam pengembangan ekonomi di kawasan Asia Selatan.

Pada tahun 1997 di Pantai Gapang, Sabang, berlangsung Jambore Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang diprakarsai BPPT dengan fokus kajian ingin mengembangkan kembali Sabang. Disusul kemudian pada tahun 1998 Kota Sabang dan Kecamatan Pulo Aceh dijadikan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) yang bersama-sama KAPET lainnya, diresmikan oleh Presiden BJ Habibie dengan Keppes No. 171 tahun 1998 pada tanggal 28 September 1998.

Era baru untuk Sabang, ketika pada tahun 2000 terjadi Pencanangan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas oleh Presiden KH. Abdurrahman Wahid di Sabang dengan diterbitkannya Inpres No. 2 tahun 2000 pada tanggal 22 Januari 2000. Dan kemudian diterbitkannya Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang No. 2 tahun 2000 tanggal 1 September 2000 selanjutnya disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang.

Aktivitas Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas Sabang pada tahun 2002 mulai berdenyut dengan masuknya barang-barang dari luar negeri ke kawasan Sabang. Tetapi pada tahun 2004 aktivitas ini terhenti karena Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer.

Sabang juga mengalami Gempa dan Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, namun karena palung-palung di Teluk Sabang yang sangat dalam mengakibatkan Sabang selamat dari tsunami. Sehingga kemudian Sabang dijadikan sebagai tempat transit udara dan laut yang membawa bantuan untuk korban tsunami di daratan Aceh. Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias menetapkan Sabang sebagai tempat transit untuk pengiriman material konstruksi dan lainnya yang akan dipergunakan di daratan Aceh.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Dari segi geografis Indonesia, wilayah Kota Sabang berada pada 95°13'02"-95°22'36" BT, dan 05°46'28"-05°54'-28" LU, merupakan wilayah administratif paling utara, dan berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, Thailand, dan India. Wilayah Kota Sabang dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudera Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudera Hindia di Barat.

Pulau[sunting | sunting sumber]

  1. Pulau Klah (0,186 km²)
  2. Pulau Rondo (0,650 km²)
  3. Pulau Rubiah (0,357 km²)
  4. Pulau Seulako (0,055 km²)
  5. Pulau Weh (121 km²)

Topografi[sunting | sunting sumber]

  • Dataran rendah (3%)
  • Bergelombang (10%)
  • Berbukit-bukit (35%)
  • Bergunung (52%)
  • Di sepanjang pantai penuh dengan batu-batuan.

Pulau Weh[sunting | sunting sumber]

Pembagian Wilayah Kecamatan di Kota Sabang

Di Pulau Weh terdapat sebuah danau air tawar bernama Danau Aneuk Laot.

Pulau Weh merupakan sebuah pulau vulkanik, sebuah pulau atol (pulau karang) yang proses terjadinya mengalami pengangkatan dari permukaan laut. Proses terjadinya dalam tiga tahapan, terbukti dari adanya tiga teras yang terletak pada ketinggian yang berbeda.

Umumnya Pulau Weh terdiri atas dua jenis batuan, yaitu tuf marina dan batuan inti. Tuf marina dijumpai hampir sepanjang pantai sampai pada ketinggian 40 sampai 50 meter. Lapisan tuf yang terlebar didapat di sekitar kota Sabang, di bagian pantai berlapis sempit. Batuan sempit adalah batuan vulkanik yang bersifat andesitik.

Berdasarkan wilayah, tampak bahwa wilayah barat Pulau Weh terdapat topografi paling berat. Mulai dari Sarong Kris sebagai puncak tertinggi di sebelah Timur, terdapat tiga barisan punggung yang berjolak menuju ke Barat Laut, sehingga lembah-lembah yang ada di antara punggung itu sempit.

Topografi di sebelah Timur terdapat sebuah pegunungan yang arahnya dari Utara ke Selatan yang memisahkan Pulau Weh Timur dengan bagian lainnya. Gunung Leumo Mate merupakan puncak yang tertinggi. Di bagian ini terdapat lapisan tuf marina yang lebih besar. Di antara bagian Barat dan Timur terdapat aliran dua buah sungai, yaitu Sungai Pria Laot dan Sungai Raya. Daerah ini merupakan sebuah slenk dari sebuah fleksun (patokan yang tidak sempurna).

Kondisi geologis wilayah ini terdiri dari 70% batuan vulkanis (andesite), 27% batuan sedimen (line stone dan sand stone), dan 3% endapan aluvial (recent deposit).

Cuaca[sunting | sunting sumber]

Pulau Weh mengalami dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan lazimnya jatuh pada bulan September sampai Februari. Musim kemarau pada bulan Maret hingga bulan Agustus. Menurut hasil pengukuran Stasiun Meteorologi Sabang, curah hujan yang tercatat rata-rata 1.745 - 2.232 mm/tahun, dengan angka terendah pada bulan Maret sebesar 18 mm dan angka tertinggi pada bulan September sebesar 276 mm. Pada bulan September dan Oktober terjadi peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Wali kota[sunting | sunting sumber]

No Wali Kota Mulai Jabatan Akhir Jabatan Periode Wakil Wali kota Ket.
1 Harun Ali 1966 1972
2 Oesman Effendi 1972 1973
3 Teuku Zaini 1973 1976
4 M. Yusuf Walad 1976 1983
- Zainuddin
(Pelaksana tugas)
1983 1983
5 Husein Main 1983 1985
6 Sulaiman Bahri 1985 1985
7 Soelaiman Ibrahim 1985 1995
8 Bustari Mansyur 1995 1999
9 Sofyan Haroen 1999 2000
2000 2006
10 T. Yusuf 2006 2007
11 Munawar Liza Zainal 2007 2011 Islamudin
- Zulkifli
(Pelaksana tugas)
2011 2012
12 Zulkifli H Adam 17 September 2012 17 September 2017 Nazaruddin
13 Wali Kota Sabang Nazaruddin.jpg Nazaruddin 17 September 2017 Petahana Suradji Yunus

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRK Sabang memiliki 20 orang anggota yang dipilih secara langsung dalam pemilihan umum legislatif lima tahun sekali. Anggota DPRK Sabang yang saat ini menjabat adalah hasil Pemilu 2019 yang menjabat untuk periode 2019-2024 sejak 2 September 2019.[8] DPRK Sabang dipimpin oleh satu ketua dan dua wakil ketua yang berasal dari partai politik pemilik kursi dan suara terbanyak. Pimpinan DPRK Sabang periode 2019-2024 dijabat oleh Muhammad Nasir dari Partai Aceh sebagai Ketua, Armadi dari Partai Demokrat sebagai Wakil Ketua I, dan Ferdiansyah dari Partai Golongan Karya sebagai Wakil Ketua II.[9] Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Sabang dalam dua periode terakhir.[10][11]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
GolkarLogo.png Golkar 3 2
Partai NasDem.svg NasDem 1 Steady 1
Contoh Logo Baru PKS.jpg PKS 2 1
Logo PPP.svg PPP 2 0
Logo PAN.svg PAN 1 1
Logo of the Democratic Party (Indonesia).svg Demokrat 2 Steady 2
Partai Aceh - Aceh Party.jpg Partai Aceh 7 11
PNA.jpeg PNA 1 0
Bulan Bintang.jpg PBB 1 2
Jumlah Anggota 20 Steady 20
Jumlah Partai 9 7


Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kota Sabang memiliki 2 kecamatan dan 18 gampong dengan kode pos 23517-23521 (dari total 243 kecamatan dan 5827 gampong di seluruh Aceh). Per tahun 2010 jumlah penduduk di wilayah ini adalah 30.647 (dari penduduk seluruh provinsi Aceh yang berjumlah 4.486.570) yang terdiri atas 15.580 pria dan 15.067 wanita (rasio 103,40). Dengan luas daerah 12.209 ha (dibanding luas seluruh provinsi Aceh 5.677.081 ha), tingkat kepadatan penduduk di wilayah ini adalah 129 jiwa/km² (dibanding kepadatan provinsi 78 jiwa/km²). Pada tahun 2017, jumlah penduduknya sebesar 40.040 jiwa dengan luas wilayahnya 153,00 km² dan sebaran penduduk 261 jiwa/km².[1][4]

Daftar kecamatan dan gampong di Kota Sabang, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Gampong
Daftar
Gampong
11.72.02 Sukajaya 10
11.72.01 Sukakarya 8
TOTAL 18

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk Kota Sabang hasil sensus penduduk tahun 2010 berjumlah ±30.653 jiwa yang terdiri atas 15.600 jiwa laki-laki dan 15.053 jiwa perempuan. Dengan kepadatan penduduk sekitar 200 jiwa/km². Dan pada tahun 2011 penduduknya berjumlah 31.355 jiwa.

Tahun 2008 2009 2009 2010
Jumlah penduduk Green Arrow Up.svg 29.843 Green Arrow Up.svg 29.996 Green Arrow Up.svg 30.653 Green Arrow Up.svg 31.355
Sejarah Kependudukan Kota Sabang
Sumber:[12]

Sekolah di Kota Sabang[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Désémber 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Permendagri-137-2017" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  2. ^ a b c "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2016". Diakses tanggal 2018-07-06. 
  4. ^ a b "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  5. ^ "Sekilas Kawasan Bebas Sabang | Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Tipe Madya Pabean C Sabang" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-06. 
  6. ^ Agency, ANTARA News. "Pulau Rondo Perlu Dikelola". Antara News Sumbar. Diakses tanggal 2020-02-06. 
  7. ^ "PEMERINTAH KOTA SABANG | Sejarah Sabang". www.sabangkota.go.id. Diakses tanggal 2019-03-21. 
  8. ^ "20 Anggota DPRK Sabang Dilantik". Kanal Aceh. 02-09-2019. Diakses tanggal 21-07-2020. 
  9. ^ Arjuna, Diki (21-10-2019). "Unsur Pimpinan DPRK Sabang Dilantik". KBA One. Diakses tanggal 21-07-2020. 
  10. ^ Perolehan Kursi DPRK Sabang 2014-2019
  11. ^ Agency, ANTARA News. "Partai Aceh raih 11 kursi di DPRK Sabang - ANTARA News Aceh". Antara News. Diakses tanggal 2019-10-29. 
  12. ^ "Penduduk Kota Sabang". BPS Kota Sabang. Diakses tanggal 1 Mei 2010. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]