Kabupaten Aceh Besar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Koordinat: 5°22′N 95°30′E / 5.367°N 95.500°E / 5.367; 95.500

Kabupaten Aceh Besar
كابوڤاتين اچيه راييك
Lambang Kabupaten Aceh Besar.png
Lambang Kabupaten Aceh Besar
كابوڤاتين اچيه راييك


Moto: Putoh Ngon Mufakat, Kuwat Ngon Meuseuraya



Lokasi Aceh Kabupaten Aceh Besar.svg
Peta lokasi Kabupaten Aceh Besar
كابوڤاتين اچيه راييك di Aceh
Koordinat: 5°22′02″N 95°31′52″E / 5.3672°N 95.5312°E / 5.3672; 95.5312
Provinsi Aceh
Dasar hukum UURI Nomor 7 Tahun 1956
Ibu kota Kota Jantho
Pemerintahan
- Bupati Ir. Mawardi Ali
- Wakil Bupati Tgk. Husaini. A. Wahab
APBD
- APBD Rp.1.662.846.328.700,-[1]
- PAD Rp. 132.396.380.300,-
- DAU Rp. 713.344.629.000,-(2018)[1]
Luas 2.969,00 km²[2]
Populasi
- Total 384.661 jiwa (2017)[2]
- Kepadatan 130 jiwa/km²(2017)
Demografi
- IPM 71,75 (2016)[3]
- Zona waktu UTC +7
- Kode area telepon 0651
Pembagian administratif
- Kecamatan 23[2]
- Kelurahan -
- Desa 604 gampong[2]
Simbol khas daerah
Situs web http://www.acehbesarkab.go.id/

Kabupaten Aceh Besar (Bahasa Aceh: Acèh Rayek; Jawi, اچيه راييك) adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Sebelum dimekarkan pada akhir tahun 1970-an, ibu kota Kabupaten Aceh Besar adalah Kota Banda Aceh. Setelah Kota Banda Aceh berpisah menjadi kotamadya tersendiri, ibu kota kabupaten dipindahkan ke Jantho di Pegunungan Seulawah. Kabupaten Aceh Besar juga merupakan tempat kelahiran pahlawan nasional Cut Nyak Dhien yang berasal dari Lampadang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada waktu Aceh masih sebagai sebuah kerajaan, yang dimaksud dengan Aceh atau Kerajaan Aceh adalah wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Kabupaten Aceh Besar ditambah dengan beberapa kenegerian/daerah yang telah menjadi bagian dari Kabupaten Pidie. Selain itu, juga termasuk Pulau Weh (sekarang telah menjadi pemerintah kota Sabang), sebagian wilayah pemerintah kota Banda Aceh, dan beberapa kenegerian/daerah dari wilayah Kabupaten Aceh Barat. Aceh Besar dalam istilah Aceh disebut Aceh Rayeuk. Penyebutan Aceh Rayeuk sebagai Aceh yang sebenarnya karena daerah inilah yang pada mulanya menjadi inti Kerajaan Aceh dan juga karena di situlah terletak ibu kota kerjaaan yang bernama Bandar Aceh atau Bandar Aceh Darussalam. Untuk nama Aceh Rayeuk ada juga yang menamakan dengan sebutan Aceh Lhee Sagoe (Aceh Tiga Sagi).[4]

Sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956, Kabupaten Aceh Besar merupakan daerah yang terdiri dari tiga kawedanan, yaitu Kawedanan Seulimum, Kawedanan Lhoknga dan Kawedanan Sabang. Akhirnya dengan perjuangan yang panjang Kabupaten Aceh besar disahkan menjadi daerah otonom melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1956 dengan ibu kotanya pada waktu itu adalah Banda Aceh dan juga merupakan wilayah hukum Kotamadya Banda Aceh.

Sehubungan dengan tuntutan dan perkembangan daerah yang semakin maju dan berwawasan luas, Kota Banda Aceh sebagai ibu kota dianggap kurang efisien lagi, baik untuk masa kini maupun untuk masa yang akan datang. Usaha pemindahan ibu kota tersebut dari Kota Banda Aceh mulai dirintis sejak tahun 1969, lokasi awalnya dipilih Kecamatan Indrapuri yang jaraknya 25 km dari Kota Banda Aceh. Usaha pemindahan tersebut belum berhasil dan belum dapat dilaksanakan sebagaimana diharapkan.

Kemudian pada tahun 1976 usaha perintisan pemindahan ibu kota untuk kedua kalinya mulai dilaksanakan lagi dengan memilih lokasi yang lain yaitu di Kecamatan Seulimeum tepatnya di kemukiman Janthoi yang jaraknya sekitar 52 km dari Kota Banda Aceh.

Akhirnya usaha yang terakhir ini berhasil dengan ditandai dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1976 tentang Pemindahan Ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Besar dari wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Banda Aceh ke kemukiman Janthoi di Kecamatan Seulimeum, Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Besar, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia dan Pemerintah Daerah yang bekerjasama dengan Konsultan PT. Markam Jaya yang ditinjau dari segala aspek dapat disimpulkan bahwa yang dianggap memenuhi syarat sebagai ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Besar adalah Kemukiman Janthoi dengan nama Kota Jantho.

Setelah ditetapkan Kota Jantho sebagai ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Besar yang baru, maka secara bertahap pemindahan ibu kota terus dimulai, dan akhirnya secara serentak seluruh aktivitas perkantoran resmi dipindahkan dari Banda Aceh ke Kota Jantho pada tanggal 29 Agustus 1983, dan peresmiannya dilakukan oleh Bapak Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pada masa itu, yaitu Bapak Soepardjo Rustam pada tanggal 3 Mei 1984.[5]

Di Kota Jantho hanya terdapat kompleks perumahan dan kantor-kantor pemerintahan, tidak ada losmen ataupun hotel. Kota Jantho dihubungkan dengan labi-labi dengan jarak 60 km dari Banda Aceh, 28 km menuju Saree, dan 12 km menuju jalan utama Banda Aceh - Medan. Kira-kira 12 km dari Kota Jantho ini terdapat air terjun.[4]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Masjid Agung Janthoe

Wilayah darat Aceh Besar berbatasan dengan Kota Banda Aceh di sisi utara, Kabupaten Aceh Jaya di sebelah barat daya, serta Kabupaten Pidie di sisi selatan dan tenggara.

Aceh Besar juga mempunyai wilayah kepulauan yaitu wilayah Kecamatan Pulo Aceh. Kabupaten Aceh Besar bagian kepulauan di sisi barat, timur dan utaranya dibatasi dengan Samudera Indonesia, Selat Malaka, dan Teluk Benggala, yang memisahkannya dengan Pulau Weh, tempat di mana Kota Sabang berada. Pulau-pulau utamanya adalah Pulau Breueh dan Pulau Nasi.

Secara geografis sebagian besar wilayah Kabupaten Aceh Besar berada pada hulu aliran Sungai Krueng Aceh. Saat ini kondisi tutupan lahan adalah 62,5% (menurut data citra landsat tahun 2007). Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda yang merupakan bandara internasional dan menjadi salah satu pintu gerbang untuk masuk ke Provinsi Aceh berada di wilayah kabupaten ini. Pulau Benggala yang merupakan pulau paling barat dalam wilayah Republik Indonesia merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Besar.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Foto Nama Bupati Mulai Jabatan Akhir Jabatan Wakil Bupati Keterangan Ref.
1 dr. Tgk. H. Bukhari Daud, M.Ed 2007 2012(?) Anwar Ahmad
2 Mukhlis Basyah 3 Juli 2012 11 Juni 2017
3 Mawardi Ali 11 Juni 2017 2022 Tgk Husaini Abdul Wahab [6][7]

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Aceh Besar

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Sampai dengan akhir tahun 2017, Kabupaten Aceh Besar memiliki 23 kecamatan dan 604 gampong dengan kode pos 23351-23952 (dari total 289 kecamatan dan 6.497 gampong di seluruh Aceh). Pada tahun 2010, jumlah penduduk di wilayah ini adalah 350.225 (dari penduduk seluruh provinsi Aceh yang berjumlah 4.486.570) yang terdiri atas 179.495 pria dan 170.730 wanita (rasio 105,13). Dengan luas daerah 2.969 km² (dibanding luas seluruh provinsi Aceh 57.956 km²), tingkat kepadatan penduduk di wilayah ini adalah 118 jiwa/km² (dibanding kepadatan provinsi 78 jiwa/km²). Pada tahun 2017, jumlah penduduknya sebesar 384.661 jiwa dengan luas wilayahnya 2.969,00 km² dan sebaran penduduk 129 jiwa/km².[2] Salah satu kecamatannya berupa kepulauan yaitu kecamatan Pulo Aceh.[8]

Daftar kecamatan di Kabupaten Aceh Besar
No. Kode

Kemendagri

Nama

Kecamatan

Luas Wilayah

(km2)

Penduduk 2017

(jiwa)

2017
Mukim Gampong Dusun
1 11.06.20 Baitussalam 20,84 18.878 2 13
2 11.06.23 Blang Bintang 41,75 31.983 3 26
3 11.06.07 Darul Imarah 24,35 53.177 4 32
4 11.06.19 Darul Kamal 23,05 7.713 1 14
5 11.06.12 Darussalam 38,43 25.853 3 29
6 11.06.03 Indrapuri 197,04 22.689 3 52
7 11.06.10 Ingin Jaya 24,34 12.323 6 50
8 11.06.16 Kota Jantho 593 9.631 1 13
9 11.06.15 Krueng Barona Jaya 6,96 16.116 3 12
10 11.06.17 Kuta Baro 61,07 26.796 5 47
11 11.06.16 Kuta Cot Glie 332,25 14.075 2 32
12 11.06.11 Kuta Malaka 22,82 6.716 1 15
13 11.06.14 Lembah Seulawah 319,6 12.246 2 12
14 11.06.22 Leupung 169,15 2.919 1 6
15 11.06.02 Lhoknga 87,95 16.904 4 28
16 11.06.01 Lhoong 149,03 10.354 4 28
17 11.06.05 Mesjid Raya 129,93 23.785 2 13
18 11.06.09 Montasik 59,73 20.181 3 39
19 11.06.08 Peukan Bada 36,25 17.792 4 26
20 11.06.13 Pulo Aceh 90,56 4.315 3 17
21 11.06.04 Seulimeum 404,35 24.618 5 47
22 11.06.18 Simpang Tiga 27,6 6.053 2 18
23 11.06.06 Suka Makmur 43,45 15.796 4 35
TOTAL 2.903,50 400.913 68 604
Sumber: Kabupaten Aceh Besar dalam Angka 2017, BPS

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Wisata Sejarah[sunting | sunting sumber]

Rumah Cut Nyak Dhien
Masjid Kuno Indrapuri
  • Rumah Cut Nyak Dhien. Pada mulanya merupakan tempat tinggal Cut Nyak Dhien. Di dalamnya berisi koleksi sejarah Aceh yang dikelola dan dirawat oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar. Hanya fondasi yang asli dari bangunan ini, sedangkan yang berdiri sekarang ini adalah hasil renovasi bangunan yang sebelumnya telah dibakar oleh Belanda.[9]
  • Masjid Purbakala Indrapuri. Mesjid ini terletak sekitar 25 km ke selatan arah ke Medan dan dapat ditempuh dengan transportasi apapun. Wilayah Indrapuri dulunya merupakan Kerajaan Hindu dan merupakan tempat pemujaan sebelum Islam masuk. Kemudian, Sultan Iskandar Muda memperkenalkan Islam kepada masyarakat. Dan setelah seluruh masyarakat memeluk Islam, tempat yang sebelumnya kuil diubah menjadi sebuah masjid. Bangunan masjid berdiri di atas tanah seluas 33.875 m², terletak di ketinggian 4,8 meter di atas permukaan laut dan berada sekitar 150 meter dari tepi Sungai Krueng Aceh.[9]
  • Kuta Indra Patra. Benteng ini terletak ± 19 km dari Banda Aceh arah ke Krueng Raya, dekat Pantai Ujong Batee. Menurut riwayat dibangun pada masa pra Islam di Aceh yaitu pada masa Kerajaan Hindu, Indra Patra. Namun ada sumber yang menyebutkan bahwa benteng ini dibangun pada masa Kesultanan Aceh Darussalam dalam upaya menahan serangan Portugis. Benteng ini sangat besar fungsinya pada zaman Sultan Iskandar Muda yang angkatan lautnya terkenal kuat di Asia Tenggara.[9]
  • Perpustakaan Kuno Tanoh Abee, terdapat di Desa Tanoh Abee di kaki Gunung Seulawah, Aceh Besar. Perpustakaan Tanoh Abee terletak di dalam kompleks Dayah Tanoh Abee yang didirikan oleh keluarga Fairus yang mencapai klimaks kejayaannya pada masa pimpinan Syekh Abdul Wahab yang terkenal dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee. Ia meninggal pada tahun 1894 dan dimakamkan di Tanoh Abee. Pengumpulan naskah (manuskrip) Dayah Tanoh Abee telah dimulai sejak Syekh Abdul Rahim, kakek dari Syekh Abdul Wahab. Naskah yang terakhir ditulis pada masa Syekh Muhammad Sa’id, anak Syekh Abdul Wahab yang meninggal dunia pada tahun 1901 di Banda Aceh, dalam tahanan Belanda.[9]
  • Rumoh Teunun Nyak Mu, merupakan pusat produksi tenun asli khas Aceh, yang berlokasi di Gampong Siem, Mukim Siem, Kecamatan Darussalam. Lokasi ini berjarak 12 km sebelah timur Kota Banda Aceh. Di Rumoh Teunun Nyak Mu ini di produksi aneka kain tenun Aceh dengan beragam motif khas Aceh.[9]
Benteng Indra Patra

Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

Pantai Lhok Me di Lam Reh, Mesjid Raya

Sosial Budaya[sunting | sunting sumber]

Kuliner Khas[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Aceh Besar terkenal dengan salah satu makanan khasnya, yakni Bolu manis ala Aceh yang terkonsentrasi di kecamatan Peukan Bada. Bolu ini terkenal dengan citarasanya yang khas, namun kesulitan pengembangan karena kendala dana selain kondisi yang belum sepenuhnya stabil. Selain itu ada pula gulai kambing (kari) dan ayam tangkap yang terkenal kelezatannya serta Sie rebuh (daging Rebus) dan asam keu eung (asam pedas).

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  2. ^ a b c d e "Permendagri no.137 tahun 2017". 27 Desember 2017. Diakses tanggal 12 Juni 2018.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Permendagri" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2016". Diakses tanggal 2018-07-06. 
  4. ^ a b Sekilas tentang Aceh Besar di situs NAD
  5. ^ Aceh Besar Dalam Angka 2004
  6. ^ "IRWANDI YUSUF LANTIK BUPATI ACEH BESAR". Diakses tanggal 19 November 2018. 
  7. ^ "Irwandi Yusuf Lantik Bupati Aceh Besar dan Wakilnya - Tribunnews.com". Tribunnews.com. 2017-07-11. Diakses tanggal 2018-11-19. 
  8. ^ Daftar kecamatan di Aceh Besar di situs resmi
  9. ^ a b c d e f Wisata Budaya Aceh Besar di situs NAD
  10. ^ Presiden SBY meresmikan Waduk Keuliling
  11. ^ Pocut Meurah Intan: Riwayatmu Kini
  12. ^ Eksotisme Cagar Alam Jantho

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]