Kabupaten Gayo Lues

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Koordinat: 3°58′LU 97°21′BT / 3,967°LU 97,35°BT / 3.967; 97.350

Kabupaten Gayo Lues
Lambang Gayo Lues.png
Lambang Kabupaten Gayo Lues


Moto: Musara



Lokasi Aceh Kabupaten Gayo Lues.svg
Peta lokasi Kabupaten Gayo Lues di Aceh
Koordinat: 3°40'46,13"-4°16'50,45" LU 96°43'15,65"-97°55'24,29" BT
Provinsi Aceh
Dasar hukum UU No.4 Tahun 2002
Tanggal peresmian 10 April 2002
Ibu kota Blangkejeren
Pemerintahan
-Bupati H. Muhammad Amru, MSP
-Wakil Bupati H. Said Sani, S.Pd
APBD
-APBD Rp.853.469.044.480,-[1]
-PAD Rp. 54.431.433.676,-
-DAU Rp.462.943.021.000,-(2018)[1]
Luas 5.719,58 km²[2]
Populasi
-Total 95.370 jiwa (2017)[2]
-Kepadatan 17 jiwa/km²
Demografi
-Suku bangsa Gayo, Aceh, Alas, Batak
-IPM 64,26 (2016)[3]
-Zona waktu UTC +7 WIB
-Kodepos 24653
-Kode area telepon 0642
Pembagian administratif
-Kecamatan 11[2]
-Kelurahan -
-Desa 136 gampong[2]
Simbol khas daerah
Situs web http://www.gayolueskab.go.id

Kabupaten Gayo Lues adalah salah satu kabupaten di provinsi Aceh, Indonesia dan merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tenggara dengan Dasar Hukum UU No.4 Tahun 2002 pada tanggal 10 April 2002. Kabupaten ini berada di gugusan pegunungan Bukit Barisan. Sebagian besar wilayahnya merupakan areal Taman Nasional Gunung Leuser yang telah dicanangkan sebagai warisan dunia. Kabupaten ini merupakan kabupaten yang paling terisolasi di Aceh. Selain itu, daerah ini merupakan asal Tari Saman yang pada Desember 2012 telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO di Bali.

Pada mulanya daerah Gayo dan Alas membentuk pemerintahan sendiri terpisah dari Kabupaten Aceh Tengah. Oleh karena itu terbentuklah Kabupaten Aceh Tenggara (UU No. 4/1974). Namun karena daerah Gayo mengalami kesulitan, mereka pun membentuk kabupaten tersendiri yang dinamakan Kabupaten Gayo Lues (UU No. 4/2002). Pusat pemerintahan dari kabupaten ini dikendalikan dari Desa Cinta Maju sedangkan pusat perekonomian tetap di ibukota Blangkejeren.[4] Adapun pejabat Bupati ditetapkan Ir. Muhammad Ali Kasim, M.M.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Gayo Lues memiliki luas wilayah 5.719 km2 dan terletak pada koordinat 3°40'46,13" - 4°16'50,45" LU 96°43'15,65" - 97°55'24,29" BT.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten ini memiliki batas wilayah sebagai berikut:[4]

Utara Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Aceh Timur
Selatan Kabupaten Aceh Tenggara
Barat Kabupaten Aceh Barat Daya
Timur Kabupaten Aceh Tamiang dan Sumatera Utara

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal Usul Penamaan Gayo Lues[sunting | sunting sumber]

Gayo berasal dari bahasa aceh kuno yang di adopsi dari bahasa sansekerta yang arti nya Gunung dan Lues berarti Luas dalam bahasa setempat. Maka dapat di simpulkan Gayo Lues berarti gunung luas atau pegunungan yang luas yang terletak di gugusan bukit barisan.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil Bupati
Ir. H.
Muhammad Alikasim
MM
(Penjabat)
2002
2006
dr. H.
Aspino Abusamah
M.Kes
(Penjabat)
2006
2007
1
H.
Ibnu Hasyim
S.Sos, MM
2007
2012
1
Letkol. Inf.
Firdaus Karim
(2007–09)
Drs.
Cipta Hunai
M.Si
(Penjabat)
2012
2012
(1)
H.
Ibnu Hasyim
S.Sos, MM
25 September 2012
25 September 2017
2
H.
Adam
SE, M.AP
2
H.
Muhammad Amru
MSP
3 Oktober 2017
Petahana
3
H.
Said Sani
S.Pd

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Gayo Lues mencakup 57 persen dari wilayah lama Aceh Tenggara, dan dibagi menjadi 11 (sebelas) kecamatan dengan perincian sebagai berikut:

Suku[sunting | sunting sumber]

penduduk kabupaten Gayo Lues berasal dari berbagai etnik dan suku. suku Gayo, Aceh, Melayu, Tionghoa, Alas, Minang, Batak Toba, Mandailing, Karo, Sunda, Singkil, Pakpak, Devayan dan Jawa dll.

Potensi Daerah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten yang berpenduduk multi etnis ini sedang berbenah diri untuk mengejar ketertinggalannya dalam pembangunan. Potensi pertanian menjadi prioritas utama pengembangan.

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Beberapa komoditas potensial yang dimiliki kabupaten ini adalah:

  • Cabe merah besar di kecamatan Blang Pegayon dan Puteri Betung
  • Serai Wangi, yang dikembangkan di sela-sela pepohonan pinus di hampir seluruh wilayah Gayo Lues
  • Nilam, yang banyak ditanam di daerah Terangun
  • Tembakau Virginia di Kecamatan Pantan Cuaca
  • Kakao di kecamatan Puteri Betung
  • Kopi Gayo di Kecamatan Pantan Cuaca
  • Durian di Kecamatan Pining
  • jagung di kecamatan blang kejeren

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

  • Pintu utama pendakian Gunung Leuser di Kedah, Penosan, Kecamatan Blang Jerango
  • Pemandian air panas di Kecamatan Puteri Betung
  • Air terjun Akang Siwah di Kecamatan Blang Pegayon
  • Wisata Ekosistem Leuser di Kecamatan Puteri Betung
  • genting di kecamatan pining
  • air terjun rerebe di kecamatan terangon
  • Kampung Inggris di Agusen

Seni Budaya[sunting | sunting sumber]

Pertambangan[sunting | sunting sumber]

  • Timah di Kecamatan Pining
  • Emas di Kecamatan Putri Betung dan Kecamatan Pantan Cuaca
  • Tambang pasir keramik di Kecamatan Rikit Gaib

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Rencana pembangunan Jalur Ladia Galaska (Samudera Indonesia, Gayo, Alas, dan Selat Malaka) yang menghubungkan Samudera Indonesia dengan Selat Malaka sangat diharapkan dapat memperbaiki tingkat perekonomian masyarakat Gayo Lues. Saat ini, lalu lintas dari Blangkejeren, pusat pemerintahan kabupaten, ke Banda Aceh harus melalui Medan, Sumatera Utara. Meskipun demikian, rencana ini banyak ditentang oleh kalangan pelestari lingkungan hidup karena memotong zona utama taman nasional.

Gayo Lues kemudian dikenal dengan nama Negeri Seribu Bukit. Nama ini dipopulerkan oleh Mohsa El Ramadan, wartawan senior, Pemimpin Redaksi Koran Rajapost Banda Aceh, dan editor buku Memadamkan Bara di atas Ladia Galaska. Buku yang ditulis oleh Muhammad Alikasim Kemaladerna ini adalah sebuah solusi penyelesaian konflik pembangunan jalan Ladia Galaska antara pemerintah dan pemerhati lingkungan di Aceh.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  2. ^ a b c d "Permendagri no.137 tahun 2017". 27 Desember 2017. Diakses tanggal 12 Juni 2018. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2016". Diakses tanggal 2018-07-06. 
  4. ^ a b Dhakidae, Daniel (Juli 2005). Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. hlm. 35–39. ISBN 979-709-201-1. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]