Kabupaten Aceh Barat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Koordinat: 4°27′LU 96°11′BT / 4,45°LU 96,183°BT / 4.450; 96.183

Kabupaten Aceh Barat
اچيه بارت
Lambang Kabupaten Aceh Barat.png
Lambang Kabupaten Aceh Barat
اچيه بارت


Bivouac Teunom Pantai Barat Aceh
Bivouac Teunom Pantai Barat Aceh
Lokasi Aceh Kabupaten Aceh Barat.svg
Peta lokasi Kabupaten Aceh Barat
اچيه بارت di Aceh
Koordinat: 04°61'-04°47' LU
95°00'- 86°30' BT
Provinsi Aceh
Dasar hukum UU RI Nomor 7 (Darurat) Tahun 1956
Ibu kota Meulaboh
Pemerintahan
-Bupati H. Ramli MS
-Wakil Bupati --
APBD
-APBD Rp.1.251.178.454.853,-[1]
-PAD Rp.164.140.534.232,-
-DAU Rp.570.763.544.000,-(2018)[1]
Luas 2.927,95 km²[2]
Populasi
-Total 189.119 jiwa (2017)[2]
-Kepadatan 65 jiwa/km²
Demografi
-Agama Islam 98.35%, Kristen 0.23%, Buddha 0.37%
-IPM 69,26 (2016)[3]
-Zona waktu UTC+07:00, WIB
-Kodepos 23615-23682
-Kode area telepon 0655
Pembagian administratif
-Kecamatan 12[2]
-Kelurahan -
-Desa 322 gampong[2]
Simbol khas daerah
Situs web http://www.acehbaratkab.go.id

Kabupaten Aceh Barat (Ejaan Aceh: Acèh Barat, Jawoe: اچيه بارت)adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia.[4] Sebelum pemekaran, Aceh Barat mempunyai luas wilayah 10.097.04 km² atau 1.010.466 Ha dan merupakan bagian wilayah pantai barat dan selatan pulau Sumatera yang membentang dari barat ke timur mulai dari kaki gunung Geurutee (perbatasan dengan Aceh Besar) sampai ke sisi Krueng Seumayam (perbatasan Aceh Selatan) dengan panjang garis pantai sejauh 250 km. Sesudah dimekarkan luas wilayah menjadi 2.927,95 km².[4]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebuah pantai di Meulaboh

Masa kesultanan Aceh[sunting | sunting sumber]

Wilayah bagian barat Kerajaan Aceh Darussalam mulai dibuka dan dibangun pada abad ke-16 atas prakarsa Sultan Saidil Mukamil (Sultan Aceh yang hidup antara tahun 1588-1604), kemudian dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda (Sultan Aceh yang hidup tahun 1607-1636) dengan mendatangkan orang-orang Aceh Rayeuk dan Pidie.

Daerah ramai pertama adalah di teluk Meulaboh (Pasi Karam) yang diperintah oleh seorang raja yang bergelar Teuku Keujruen Meulaboh, dan Negeri Daya (Kecamatan Jaya) yang pada akhir abad ke-15 telah berdiri sebuah kerajaan dengan rajanya adalah Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah dengan gelar Poteu Meureuhom Daya.

Dari perkembangan selanjutnya, wilayah Aceh Barat diakhir abad ke-17 telah berkembang menjadi beberapa kerajaan kecil yang dipimpin oleh Uleebalang, yaitu : Kluang; Lamno; Kuala Lambeusoe; Kuala Daya; Kuala Unga; Babah Awe; Krueng No; Cara' Mon; Lhok Kruet; Babah Nipah; Lageun; Lhok Geulumpang; Rameue; Lhok Rigaih; Krueng Sabee; Teunom; Panga; Woyla; Bubon; Lhok Bubon; Meulaboh; Seunagan; Tripa; Seuneu'am; Tungkop; Beutong; Pameue; Teupah (Tapah); Simeulue; Salang; Leukon; Sigulai.

Silsilah Raja Meulaboh[sunting | sunting sumber]

Raja-raja yang pernah bertahta di kehulu-balangan Kaway XVI hanya dapat dilacak dari T. Tjik Pho Rahman, yang kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama T.Tjik Masaid, yang kemudian diganti oleh anaknya lagi yang bernama T.Tjik Ali dan digantikan anaknya oleh T.Tjik Abah (sementara) dan kemudian diganti oleh T.Tjik Manso yang memiliki tiga orang anak yang tertua menjadi Raja Meulaboh bernama T.Tjik Raja Nagor yang pada tahun 1913 meninggal dunia karena diracun, dan kemudian digantikan oleh adiknya yang bernama Teuku Tjik Ali Akbar, sementara anak T.Tjik Raja Nagor yang bernama Teuku Raja Neh, masih kecil.

Saat Teuku Raja Neh (ayah dari H.T.Rosman. mantan Bupati Aceh Barat) anak dari Teuku Tjik Raja Nagor besar ia menuntut agar kerajaan dikembalikan kepadanya, namun T.Tjik Ali Akbar yang dekat dengan Belanda malah mengfitnah Teuku Raja Neh sakit gila, sehingga menyebabkan T Raja Neh dibuang ke Sabang.

Pada tahun 1942 saat Jepang masuk ke Meulaboh, T.Tjik Ali Akbar dibunuh oleh Jepang bersama dengan Teuku Ben dan pada tahun 1978, mayatnya baru ditemukan di bekas Tangsi Belanda atau sekarang di Asrama tentara Desa Suak Indrapuri, kemudian Meulaboh diperintah para Wedana dan para Bupati dan kemudian pecah menjadi Aceh Selatan, Simeulue, Nagan Raya, Aceh Jaya. (teuku dadek)

Dimasa penjajahan Belanda, melalui suatu perjanjian (Korte Verklaring), diakui bahwa masing-masing Uleebalang dapat menjalankan pemerintahan sendiri (Zelfsbestuur) atau swaparaja (landschap). Oleh Belanda Kerajaan Aceh dibentuk menjadi Gouvernement Atjeh en Onderhorigheden (Gubernemen Aceh dan Daerah Taklukannya) dan selanjutnya dengan dibentuknya Gouvernement Sumatera, Aceh dijadikan Keresidenan yang dibagi atas beberapa wilayah yang disebut afdeeling (provinsi) dan afdeeling dibagi lagi atas beberapa onderafdeeling (kabupaten) dan onderafdeeling dibagi menjadi beberapa landschap (kecamatan).

Penjajahan Belanda[sunting | sunting sumber]

Masjid Agung Meulaboh

Aceh Barat sangat berkaitan dengan sejarah Meulaboh, Ibukota Kabupaten Aceh Barat yang terdiri dari Kecamatan Johan Pahlawan, sebagian Kaway XVI dan sebagian Kecamatan Meureubo adalah salah satu Kota yang paling tua di belahan Aceh bagian Barat dan Selatan. Menurut HM.Zainuddin dalam Bukunya Tarih Atjeh dan Nusantara, Meulaboh dulu dikenal sebagai Negeri Pasir Karam. Nama tersebut kemungkinan ada kaitannya dengan sejarah terjadinya tsunami di Kota Meulaboh pada masa lalu, yang pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi kembali.

Meulaboh sudah berumur 402 tahun terhitung dari saat naik tahtanya Sultan Saidil Mukamil (1588-1604), catatan sejarah menunjukan bahwa Meulaboh sudah ada sejak Sultan tersebut berkuasa.

Pada masa Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), demikian HM.Zainuddin negeri itu ditambah pembangunannya. Di Meulaboh waktu itu dibuka perkebunan merica, tetapi negeri ini tidak begitu ramai karena belum dapat menandingi Negeri Singkil yang banyak disinggahi kapal dagang untuk mengambil muatan kemenyan dan kapur barus. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Djamalul Alam, Negeri Pasir Karam kembali ditambah pembangunannya dengan pembukaan kebun lada. Untuk mengolah kebun-kebun itu didatangkan orang-orang dari Pidie dan Aceh Besar.

Karesidenan Aceh[sunting | sunting sumber]

Seluruh wilayah Keresidenan Aceh dibagi menjadi 4 (empat) afdeeling yang salah satunya adalah Afdeeling Westkust van Atjeh atau Aceh Barat dengan ibukotanya Meulaboh. Afdeeling Westkust van Atjeh (Aceh Barat) merupakan suatu daerah administratif yang meliputi wilayah sepanjang pantai barat Aceh, dari gunung Geurutee sampai daerah Singkil dan kepulauan Simeulue serta dibagi menjadi 6 (enam) onderafdeeling, yaitu :

  1. Meulaboh dengan ibukota Meulaboh dengan Landschappennya Kaway XVI, Woyla, Bubon, Lhok Bubon, Seunagan, Seuneu'am, Beutong, Tungkop dan Pameue;
  2. Tjalang dengan ibukota Tjalang (dan sebelum tahun 1910 ibukotanya adalah Lhok Kruet) dengan Landschappennya Keluang, Kuala Daya, Lambeusoi, Kuala Unga, Lhok Kruet, Patek, Lageun, Rigaih, Krueng Sabee dan Teunom;
  3. Tapaktuan dengan ibukota Tapak Tuan;
  4. Simeulue dengan ibukota Sinabang dengan Landschappennya Teupah, Simalur, Salang, Leukon dan Sigulai;
  5. Zuid Atjeh dengan ibukota Bakongan;
  6. Singkil dengan ibukota Singkil.

Penjajahan Jepang[sunting | sunting sumber]

Di zaman penjajahan Jepang (1942 - 1945) struktur wilayah administrasi ini tidak banyak berubah kecuali penggantian nama dalam bahasa Jepang, seperti Afdeeling menjadi Bunsyu yang dikepalai oleh Bunsyucho, Onderafdeeling menjadi Gun yang dikepalai oleh Guncho dan Landschap menjadi Son yang dikepalai oleh Soncho.

Masa kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan Undang-undang Nomor 7 (Drt) Tahun 1956 tentang pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Provinsi Sumatera Utara, wilayah Aceh Barat dimekarkan menjadi 2 (dua) Kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan. Kabupaten Aceh Barat dengan Ibukota Meulaboh terdiri dari tiga wilayah yaitu Meulaboh, Calang dan Simeulue, dengan jumlah kecamatan sebanyak 19 (sembilan belas) Kecamatan yaitu Kaway XVI; Johan Pahlwan; Seunagan; Kuala; Beutong; Darul Makmur; Samatiga; Woyla; Sungai Mas; Teunom; Krueng Sabee; Setia Bakti; Sampoi Niet; Jaya; Simeulue Timur; Simeulue Tengah; Simeulue Barat; Teupah Selatan dan Salang. Sedangkan Kabupaten Aceh Selatan, meliputi wilayah Tapak Tuan, Bakongan dan Singkil dengan ibukotanya Tapak Tuan.

Pada Tahun 1996 Kabupaten Aceh Barat dimekarkan lagi menjadi 2 (dua) Kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Barat meliputi kecamatan Kaway XVI; Johan Pahlwan; Seunagan; Kuala; Beutong; Darul Makmur; Samatiga; Woyla; Sungai Mas; Teunom; Krueng Sabee; Setia Bakti; Sampoi Niet; Jaya dengan ibukotanya Meulaboh dan Kabupaten Adminstrtif Simeulue meliputi kecamatan Simeulue Timur; Simeulue Tengah; Simeulue Barat; Teupah Selatan dan Salang dengan ibukotanya Sinabang.

Kemudian pada tahun 2000 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5, Kabupaten Aceh Barat dimekarkan dengan menambah 6 (enam) kecamatan baru yaitu Kecamatan Panga; Arongan Lambalek; Bubon; Pantee Ceureumen; Meureubo dan Seunagan Timur. Dengan pemekaran ini Kabupaten Aceh Barat memiliki 20 (dua puluh) Kecamatan, 7 (tujuh) Kelurahan dan 207 Desa.

Selanjutnya pada tahun 2002 Kabupaten Aceh Barat daratan yang luasnya 1.010.466 Ha, kini telah dimekarkan menjadi tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Barat dengan dikeluarkannya Undang-undang N0.4 Tahun 2002

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kopi tubruk khas Meulaboh disajikan secara terbalik.

Kabupaten ini dipimpin oleh seorang Bupati yang terpilih dalam setiap Pilkada.

Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Periode Ket. Wakil Bupati
1
IbnuSadan-1stRegentofWestAceh.JPG H.
Ibnu Sa'dan
20 Oktober 1945
15 Juni 1947
1
2
AbdulWahab-2ndRegentofWestAceh.JPG Abdul Wahab
15 Juni 1947
22 September 1948
2
3
GafurAkhir-3rdRegentofWestAceh.JPG Abdul Gafur Akhir
7 Agustus 1957
28 Agustus 1958
3
4
TgkAbdullah-4thRegentofWestAceh.JPG Tuangku Abdullah
28 Agustus 1958
11 Januari 1959
4
5
DaudDaryah-5thRegentofWestAceh.JPG H.
Daud Daryah
11 Januari 1959
7 Oktober 1961
5
6
TRajaMahmud-6thRegentofWestAceh.JPG Teuku Radja Mahmud
7 Oktober 1961
31 Desember 1961
6
7
HamidiHS-7thRegentofWestAceh.JPG Mayor
Hamidi HS
15 Januari 1962
7 Juli 1964
7
8
OesmanNurdin-8thRegentofWestAceh.JPG Oesman Noerdin
16 Juli 1964
7 Februari 1966
8
9
AKAbdullah-9thRegentofWestAceh.JPG Abdul Karim Abdullah
7 Februari 1966
8 April 1967
9
10
ARIshak-10thRegentofWestAceh.JPG Drs.
Abdul Rahman Ishak
8 April 1967
19 Oktober 1972
10
11
ARani-11thRegentofWestAceh.JPG A. Rani
19 Oktober 1972
22 Februari 1973
11
12
SyamsunanMahmud-12thRegentofWestAceh.JPG Drs.
Syamsunan Mahmud
22 Februari 1973
6 Mei 1978
12
13
TUsmanMahmud-13thRegentofWestAceh.JPG Drs.
Teuku Usman Mahmud
6 Mei 1978
25 Juli 1983
13
14
MalikRidwanBadai-14thRegentofWestAceh.JPG Malik Ridwan Badai
SH
14 November 1983
14 November 1988
14
15
TeukuRosman-15thRegentofWestAceh.JPG Drs.
Teuku Rosman
14 November 1988
24 Maret 1998
15
16
16
Nasrudin-16thRegentofWestAceh.JPG Drs. H.
Nasruddin
M.Si
24 Maret 1998
Agustus 2004
17
*
Syahbuddin-ActingRegentofWestAceh.JPG Drs.
Syahbuddin BP
MM
Agustus 2004
Maret 2005
16
Nasrudin-16thRegentofWestAceh.JPG Drs. H.
Nasruddin
M.Si
18 Maret 2005
29 Maret 2006
18
*
Sofyanis-ActingRegentofWestAceh.JPG Drs.
Sofyanis
29 Maret 2006
20 Oktober 2006
*
TalamsyahBanta-ActingRegentofWestAceh.JPG H.
Teuku Alamsyah Banta
20 Oktober 2006
23 April 2007
17
Ramli-17thRegentofWestAceh.JPG H.
Ramli MS
S.Pd, M.Si
23 April 2007
23 April 2012
19
*
RidwanHasan-ActingRegentofWestAceh.JPG Ridwan Hasan
SH, MM
25 April 2012
8 Oktober 2012
18
Bupati Aceh Barat Teuku Alaidinsyah.jpg Teuku Alaidinsyah
10 Oktober 2012
10 Oktober 2017
20
Rahmat Fitri
(17)
Bupati Aceh Barat H. Ramli MS (Periode ke-2).png H.
Ramli MS
S.Pd, M.Si
10 Oktober 2017
Petahana
21
Drs. H.
Banta Puteh Syam
SH, MM


Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Antara tahun 2000 s.d. 2003[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Aceh Barat sejak tahun 2000 - 2003 terbagi menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:

  1. Aceh Barat dengan ibu kota Meulaboh
  2. Aceh Jaya dengan ibu kota Calang
  3. Nagan Raya dengan ibu kota Sukamakmue
  4. Simeulue dengan ibu kota Sinabang

Sejak pemekaran 2003[sunting | sunting sumber]

Semenjak pemekaran wilayah, Kabupaten Aceh Barat berkurang lebih dari separuh wilayahnya dan kecamatan yang tersisa adalah sebagai berikut:

Program Strategis Pembangunan Daerah[sunting | sunting sumber]

Pembangunan Kabupaten Aceh Barat mencakup semua kegiatan pembangunan daerah dan sektoral yang dikelola oleh pemerintah bersama masyarakat.

Titik berat pembangunan diletakan pada bidang ekonomi kerakyatan melalui peningkatan dan perluasan pertanian dalam arti luas sebagai pengerak utama pembangunan yang saling terkait secara terpadu dengan bidang-bidang pembangunan lainnya dalam suatu kebijakan pembangunan. maka ditetapkan prioritas pembangunan sebagai berikut :

  1. Meningkatkan pelaksanaan Syariat Islam, peran ulama dan adat istiadat.
  2. Peningkatan Sumber Daya Manusia.
  3. Pemberdayaan ekonomi masyarakat.
  4. Meningkatakan aksesibilitas daerah.
  5. Meningkatkan pendapatan daerah.

Lambang[sunting | sunting sumber]

Lambang Daerah Kabupaten Aceh Barat ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Barat No. 12 Tahun 1976 Tanggal 26 Nopember 1976 tentang Lambang Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Barat dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Dalam Negeri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor Pem./10/32/46-263 Tanggal 17 Mei 1976 serta telah diundangkan dalam Lembaran Daerah Tingkat II Aceh Barat Nomor 10 Tahun 1980 Tanggal 3 Januari 1980.

Lambang Kabupaten Aceh Barat mempunyai perisai berbentuk kubah masjid yang berisi lukisan lukisan dengan bentuk, warna dan perbandingan ukuran tertentu dan mempunyai maksud serta makna sebagai berikut:

  • Perisai berbentuk kubah masjid, melambangkan ketahanan Nasional dan kerukunan yang dijiwai oleh semangat keagamaan;
  • Bintang persegi lima, melambangkan falsafah negara, Pancasila;
  • Kupiah Meukeutop, melambangkan kepemimpinan;
  • Dua tangkai kiri kanan yang mengapit Kupiah Meukeutop terdiri dari kapas, padi, kelapa dan cengkeh, melambangkan kesuburan dan kemakmuran daerah;
  • Rencong, melambangkan jiwa patriotik/kepahlawanan rakyat;
  • Kitab dan Kalam, melambangkan ilmu pengetahuan dan peradaban;
  • Tulisan "Aceh Barat" mengandung arti bahwa semua unsur tersebut diatas terdapat di dalam Kabupaten Aceh Barat.

Lambang Daerah ini digunakan sebagai merek bagi perkantoran pemerintah Kabupaten Aceh Barat dan ;

  • Sebagai petanda batas wilayah Kabupaten Aceh Barat dengan Kabupaten lainnya.
  • Sebagai cap atau stempel jabatan dinas.
  • Sebagai lencana yang digunakan oleh pegawai pemerintah Kabupaten Aceh Barat yang sedang menjalankan tugasnya.
  • Sebagai panji atau bendera digunakan oleh suatu rombongan yang mewakili atau atas nama pemerintah Kabupaten Aceh Baratdan dapat dipergunakan pada tempat tempat upacara resmi, pintu gerbang dan lain sebagainya.

Lambang Daerah Kabupaten Aceh Barat ini dilarang digunakan apabila bertentangan dengan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 1976 dan barang siapa yang melanggarnya dapat dikenakan hukuman selama-lamanya 1 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 10.000.- (sepuluh ribu rupiah).

Geografi[sunting | sunting sumber]

Sebelum pemekaran, Kabupaten Aceh Barat mempunyai luas wilayah 10.097.04 km² atau 1.010.466 hektare dan secara astronomi terletak pada 2°00'-5°16' Lintang Utara dan 95°10' Bujur Timur dan merupakan bagian wilayah pantai barat dan selatan kepulauan Sumatera yang membentang dari barat ke timur mulai dari kaki Gunung Geurutee (perbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar) sampai kesisi Krueng Seumayam (perbatasan Aceh Selatan) dengan panjang garis pantai sejauh 250 Km.

Sesudah pemekaran letak geografis Kabupaten Aceh Barat secara astronomi terletak pada 04°61'-04°47' Lintang Utara dan 95°00'- 86°30' Bujur Timur dengan luas wilayah 2.927,95 km² dengan batas-batas sebagai berikut:

Utara Kabupaten Aceh Jaya dan Kabupaten Pidie
Selatan Samudra Indonesia dan Kabupaten Nagan Raya
Barat Samudera Indonesia
Timur Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Nagan Raya

Rata-rata Suhu, Curah Hujan dan Hari Hujan[sunting | sunting sumber]

Data iklim Kabupaten Aceh Barat
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 32.0
(89.6)
32.2
(90)
32.5
(90.5)
32.5
(90.5)
31.8
(89.2)
31.8
(89.2)
31.7
(89.1)
31.6
(88.9)
31.5
(88.7)
30.6
(87.1)
30.6
(87.1)
30.6
(87.1)
31.62
(88.92)
Rata-rata harian °C (°F) 27.5
(81.5)
27.1
(80.8)
28.0
(82.4)
27.8
(82)
27.2
(81)
26.9
(80.4)
26.5
(79.7)
26.3
(79.3)
26.4
(79.5)
26.0
(78.8)
26.1
(79)
26.0
(78.8)
26.82
(80.27)
Rata-rata terendah °C (°F) 24.1
(75.4)
23.7
(74.7)
23.0
(73.4)
24.0
(75.2)
24.1
(75.4)
22.2
(72)
22.8
(73)
23.0
(73.4)
22.8
(73)
22.4
(72.3)
22.6
(72.7)
22.3
(72.1)
23.08
(73.55)
Presipitasi mm (inci) 495
(19.49)
261
(10.28)
271
(10.67)
354
(13.94)
653
(25.71)
303
(11.93)
105
(4.13)
566
(22.28)
170
(6.69)
477
(18.78)
523
(20.59)
262
(10.31)
4.440
(174,8)
Rata-rata hari hujan atau bersalju 15 10 12 16 21 16 7 14 17 19 23 16 186
% kelembapan 90 91 88 89 89 85 85 86 85 89 91 92 88.3
Sumber: Stasiun Meteorologi dan Geofisika Cut Nyak Dhien [5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  2. ^ a b c d "Permendagri no.137 tahun 2017". 27 Desember 2017. Diakses tanggal 12 Juni 2018. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2016". Diakses tanggal 2018-07-06. 
  4. ^ a b Kabupaten Aceh Barat - Profil Daerah - Kemendagri. Diakses 24 Juli 2017.
  5. ^ "Kabupaten Aceh Barat dalam Angka 2017". Badan Pusat Statistik. Diakses tanggal 03 Maret 2018.  Periksa nilai tanggal di: |accessdate= (bantuan)

Sumber[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]