Kabupaten Lampung Barat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Lampung Barat
Kabupaten di Lampung, Indonesia
Danau Ranau
Lambang Kabupaten Lampung Barat.jpg
Lambang
Motto: 
Beguai Jejama
(Bahasa Lampung: Bekerja bersama)
Lokasi Lampung Kabupaten Lampung Barat.svg
Kabupaten Lampung Barat is located in Sumatra
Kabupaten Lampung Barat
Kabupaten Lampung Barat
Kabupaten Lampung Barat is located in Indonesia
Kabupaten Lampung Barat
Kabupaten Lampung Barat
Koordinat: 5°08′57″S 104°11′35″E / 5.14904°S 104.19309°E / -5.14904; 104.19309
Negara Indonesia
ProvinsiLampung
Tanggal peresmian16 Agustus 1991 (UU)
24 September 1991 (peresmian)
Dasar hukumUU RI No.6 Tahun 1991
Ibu kotaLiwa
Pemerintahan
 • BupatiParosil Mabsus [1]
 • Wakil BupatiMad Hasnurin
Luas
 • Total2.064,4 km2 (7,971 sq mi)
Populasi
 (2018)
 • Total300.703 jiwa
Demografi
 • AgamaIslam 98,67%
Kristen 0,99%
Protestan 0,81%
Katolik 0,18%
Hindu 0,29%
Buddha 0,05%[2]
Zona waktuWIB (UTC+07:00)
Kode telepon0728
Kode Kemendagri18.04 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan15
Jumlah kelurahan5
Jumlah desa131
DAURp 523.760.591.000,-(2017)[3]
IPM66,74 (2018)[4]
Bandar udaraBandar Udara Mohammad Taufik Kiemas/Seray[5]
Situs webwww.lampungbaratkab.go.id

Kabupaten Lampung Barat (Aksara Lampung: Lampungbarat-aksara.png) adalah salah satu kabupaten di provinsi Lampung, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Liwa. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1991 tanggal 16 Agustus 1991 yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Lampung Utara.

Kabupaten ini dominan dengan perbukitan serta memiliki perkebunan kopi yang sangat luas. Daerah pegunungan yang merupakan punggung Bukit Barisan di kawasan batu brak, ditempati oleh vulkanik quarter dari beberapa formasi. Daerah ini berada pada ketinggian 500 - > 1000 mdpl. Daerah ini dilalui oleh Belahan Semaka, dengan lebar zona sebesar ± 20 Km. Pada beberapa tempat salah satunya di Kecamatan Suoh, Bandar Negeri Suoh, Lampung Barat dijumpai beberapa aktivitas vulkanik dan pemunculan panas bumi.[6]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Lambang Kabupaten Lampung Barat yang lama

Dengan luas wilayah lebih kurang 3.368,14 km² Setelah pemekaran Kabupaten Pesisir Barat atau 10,6 % dari luas wilayah Provinsi Lampung dan mempunyai garis pantai sepanjang 260 km. Lampung Barat terletak pada koordinat 4o,47',16" - 5o,56',42" lintang selatan dan 103o,35',08" - 104o,33',51" Bujur Timur.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Lampung Barat berbatasan dengan:[2]

  • Sebelah Utara: Kab. Ogan Komering Ulu Selatan (Provinsi Sumatra Selatan),
  • Sebelah Selatan: Kab. Pesisir Barat dan Kab. Tanggamus,
  • Sebelah Barat: Kab. Pesisir Barat,
  • Sebelah Timur: Kab. Lampung Utara, Kab. Way Kanan, dan Kab. Tanggamus.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kabupaten Lampung Barat tahun 2019, penduduk kabupaten ini berjumlah 300.703 jiwa yang terdiri atas 159.636 jiwa laki-laki dan 141.067 jiwa perempuan.[2]

Pemerintahan dan Sejarah[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati Mulai menjabat Akhir jabatan Prd. Ket. Wakil Bupati
1
Letkol. Chb.
Hakim Saleh Umpu Singa
1991
1997
1
Drs.
Indra Ismail Bangsawan
(Penjabat)
1997
1997
2
Letkol
I Wayan Dirpha
1997
2002
2
3
Erwin Nizar T
2002
2007
3
Drs.
Mukhlis Basri
MM
4
Mukhlis Basri.jpg Drs.
Mukhlis Basri
MM
2007
2012
4
Drs.
Dimyati Amin
2012
2017
5
Drs. H.
Makmur Azhari
5
Parosil Mabsus.JPG Parosil Mabsus
12 Desember 2017
Petahana
6
Mad Hasnurin

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Lampung Barat dalam dua periode terakhir. [7][8][9]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019
Sebelum Pemekarana
2014-2019
Sesudah Pemekaranb
2019-2024
Logo PKB.svg PKB 4 3 1
Logo Gerindra.svg Gerindra 4 2 Increase 5
LOGO- PDIP.svg PDI Perjuangan 12 Increase 13 11
GOLKAR logo.png Golkar 3 Steady 3 Increase 5
Partai NasDem.svg NasDem 1 Increase 2 1
PKS logo 2020.png PKS 1 Increase 2 Steady 2
Logo PPP.svg PPP 3 2 Steady 2
Logo Partai Amanat Nasional.png PAN 4 2 1
Democratic Party (Indonesia).svg Demokrat 5 4 Increase 6
Lambang PKPI PKPI 3 2 1
Jumlah Anggota 40 35 Steady 35
Jumlah Partai 10 Steady 10 Steady 10
Keterangan:
aDPRD Lampung Barat dan DPRD Pesisir Barat
bDPRD Lampung Barat

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lampung Barat meliputi sejumlah kecamatan sebagai berikut: Kabupaten Lampung Barat terdiri dari 15 kecamatan, 5 kelurahan, dan 131 pekon. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 301.131 jiwa dengan luas wilayah 2.142,78 km² dan sebaran penduduk 140 jiwa/km².[10][11]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Lampung Barat, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Pekon
Status Daftar
Pekon/Kelurahan
18.04.19 Air Hitam 10 Pekon
18.04.04 Balik Bukit 2 10 Pekon
Kelurahan
18.04.23 Bandar Negeri Suoh 10 Pekon
18.04.10 Batu Brak 11 Pekon
18.04.21 Batu Ketulis 10 Pekon
18.04.06 Belalau 10 Pekon
18.04.15 Gedung Surian 5 Pekon
18.04.18 Kebun Tebu 10 Pekon
18.04.22 Lumbok Seminung 11 Pekon
18.04.20 Pagar Dewa 10 Pekon
18.04.08 Sekincau 1 4 Pekon
Kelurahan
18.04.11 Sukau 10 Pekon
18.04.09 Suoh 7 Pekon
18.04.05 Sumber Jaya 1 5 Pekon
Kelurahan
18.04.07 Way Tenong 1 8 Pekon
Kelurahan
TOTAL 5 131

Pemekaran Daerah[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan UU DOB tanggal 25 Oktober 2012, wilayah Kabupaten Lampung Barat mengalami pemekaran menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pesisir Barat.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lampung Barat adalah salah satu pemekaran dari Lampung Utara, yang memiliki sejarah beribu kota di Liwa. Pemilihan Liwa sebagai Ibu Kota Kabupaten Lampung Barat memang tepat. Beberapa alasan memperkuat pernyataan ini adalah:

  • Tempatnya strategis karena berada di tengah-tengah wilayah Lampung Barat, sehingga untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh daerah Lampung Barat oleh pemerintah kabupaten akan relatif efektif
  • Liwa merupakan persimpangan lalu lintas jalan darat dari berbagai arah yaitu Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung sendiri dari tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Tentang asal usul nama Liwa, menurut cerita orang, berasal dari kata-kata "meli iwa" (bahasa Lampung), artinya membeli ikan, tapi cerita tersebut tidak bisa di buktikan hingga saat ini. Dari dahulu Liwa merupakan daerah yang subur, persawahan serta perkebunan kopi yang luas, sehingga hasil pertaniannya melimpah. Liwa juga nama salah satu marga dari 1 marga yaitu marga Liwa yang berada di tanah Lampung.[12]
  • Masih berjalannya Adat serta budaya yang merupakan warisan leluhur secara turun-temurun dari generasi ke generasi dengan dibuktikan penyambutan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Rudini Untuk Melakukan Peresmian berdirinya Kabupaten Lampung Barat Sekaligus melantik Pejabat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lampung Barat yaitu Hakim Saleh Umpu Singa Tanggal 24 September 1991 Secara Adat, Lambang Kehormatan secara adat dari Sultan Sekala Brak. Sebab adat yang memang hidup ditengah masyarakat Kabupaten Lampung Barat sebagai warisan nenek moyang yang tetap dipegang teguh menjadi pranata sosial yang memunculkan nilai dan sikap kebajikan dari setiap pemiliknya[13][14].

Sekala Brak, Asal Muasal[sunting | sunting sumber]

Sekala Brak (baca: Sekara Beghak),ini kawasan yang sampai kini dapat disaksikan warisan peradabannya. Sekala berasal dari nama tumbuhan yang disebut Sekala, Sedangkan Brak berasal dari nama sebuah Batu yang berada di tengkuk gunung pesagi Hanibung yang di sebut Batu Brak. Sekala Brak adalah Sebuah Kerajaan yang berdiri di tanah Lampung sejak tanggal 24 Agustus 1289 Masehi. Kawasan ini boleh dibilang kawasan yang “sudah hidup” sejak jaman sejarah sekala brak kuno sampai masa prasejarah saat ini. Situs Megalithikum Batu-batu menhir, tumbuhan Sekala peninggalan Negeri Sekala Brak yang berada di sejumlah titik di Kabupaten Lampung Barat. Peninggalan ini membuktikan, ada tanda kehidupan pada abad ke-3 yang bermula dari unit masyarakat yang disebut suku tumi yang bercorak hindu dan menganut animisme karakteristik tersebut bertahan hingga abad ke-12 Masehi.

Ada pula sebuah batu prasasti termuda di Bunuk Tenuar desa harakuning perkampungan disekitaran kaki Gunung Pesagi, Liwa berangka tahun 966 Saka "1 Tahun Saka ialah 79 Tahun Masehi", menunjukkan ada jejak animisme di kawasan tersebut. Bahkan di tengah rimba ditemukan bekas parit dan jalan Zaman animisme. Ada lagi disebut-sebut bahwa Kenali yang dikenal sekarang sebagai Ibu Kota Kecamatan, adalah bekas kerajaan bernama “Kendali” dengan “Raja Sapalananlinda” sebagaimana disebut dalam “Kitab Tiongkok Kuno”. Kata “Sapalananlinda” oleh L. C. Westenenk ditafsir sebagai berasal dari kata “Sribaginda” dalam pengucapan dan telinga orang Cina. Jadi bukan nama orang tetapi gelar penyebutan. Buku itu konon juga menyebut, bahwa Kendali itu berada di antara Jawa dan Siam-Kamboja. Kitab itu, menyebut angka tahun antara 454–464 Masehi. Kitab ini telah disalin ke dalam bahasa Inggris oleh Groenevelt (Wikipedia Indonesia, 2007).

Meski belum seluruhnya terbaca, namun dapat disimpulkan: di situ tercatat suatu peradaban panjang. Suatu kawasan tua yang mencatatkan diri dalam sejarah umat manusia. Di wilayah ini pula pernah berdiri sebuah Kerajaan yang memiliki Empat titik Kebesaran Istana, untuk Kepaksian Pernong Sekala Brak disebut Istana Gedung Dalom, Paksi Buay Nyerupa disebut Gedung Pakuon, Paksi Buay Bejalan Diway disebut Lamban Dalom, Paksi Buay Belunguh disebut Lamban Gedung. Ada sebagian pula masyarakat penyimbang yang menyebut kerajaan tersebut adalah Kerajaan Tulang Bawang namun bukti-bukti keberadaannya sulit ditemukan dan tidak pernah bisa di buktikan. Sedang keyakinan yang terus hidup dan dipertahankan masyarakat khususnya di Lampung Barat serta keturunan mereka yang tersebar hingga seluruh wilayah Sumatra Selatan, menyebutkan Kerajaan Sekara Beghak (Kerajaan Sekala Brak). Pendapat ini juga disokong oleh keberadaan para raja yang bergelar Saibatin Paksi Pak, hingga bukti-bukti bangunan dan alat-alat kebesaran kerajaan, upacara, dan seni tradisi yang masih terjaga. Masih banyak bukti lain, namun perlu pembahasan terpisah tentang Istana Gedung Dalom, Gedung Pakuon, Lamban Dalom, Lamban Gedung.

Kalau membaca peta Provinsi Lampung sekarang, kisaran lokasi pusat Sekala Brak berada di hampir seluruh wilayah Kabupaten Lampung Barat, sebagian Kecamatan Banding Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatra Selatan. “Pusat kerajaan” meliputi daerah pegunungan di lereng Gunung Pesagi di daerah Liwa, seputar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan Kecamatan Balik Bukit.

Sebagai kesatuan politik Kerajaan Sekala Brak telah berakhir. Tetapi, sebagai kesatuan budaya (cultural based) keberadaannya turun-temurun diwarisi melalui sejarah panjang yang menggurat kuat dan terbaca makna-maknanya hingga saat ini. Sekala Brak dalam gelaran peta Tanah Lampung, pastilah tertoreh warna tegas, termasuk sebaran pengaruh kebudayaannya sampai saat ini.

Tata kehidupan berbasis adat tradisi Sekala Brak juga masih dipertahankan dan dikembangkan. Terutama, Sekala Brak setelah dalam pengaruh “Empat Umpu, Ratu” penyebar agama Islam dan lahirnya masyarakat adat Sai Batin. Adat dan tradisi terus diacu dalam tata hidup keseharian masyarakat pendukungnya dan dapat menjadi salah satu sumber inspirasi dan motivasi pengembangan nilai budaya bangsa.

Hasil pembacaan atas segala yang ada dalam masyarakat berkebudayaan Sai Batin di Lampung, memperlihatkan kedudukan dan posisi penting Sekala Brak sebagai satuan peradaban yang lengkap dan terwariskan. Keberadaan Sekala Brak tampak sangat benderang dalam peta kebudayaan Sai Batin, sebagai satu tiang sangga utama pembangun masyarakat Lampung. Bahkan, telah diakui, Sekala Brak sebagai cikal bakal atau asal muasal tertua leluhur “orang Lampung”. Bahkan keberadaan Sekala Brak, berada dalam kisaran waktu strategis perubahan peradaban besar di Nusantara, dari bercorak Hindu dan menganut animisme ke Islam.

Seperti dikutip Harian KOMPAS, (11 Desember 2006:36), pada abad 13 datang empat kelompok masyarakat yang menduduki sekitar Danau Ranau. Di sebelah barat danau dihuni orang-orang yang datang dari Pagaruyung Sumatra Barat dipimpin Dipati Alam Padang. Sementara itu, tiga kelompok lainnya berasal dari Sekala Brak. Tiga kelompok orang-orang Sekala Brak itu adalah Raja Singa Jukhu (dari Kepaksian Bejalan Diway), menempati sisi timur danau. Di sisi timur danau pula, kelompok yang lainnya Pangeran Liang Batu dan Pahlawan Sawangan (berasal dari Kepaksian Nyerupa) bertempat. Sementara kelompok yang dipimpin oleh Umpu Sijadi Helau menempati sisi utara danau.

Ketiga kelompok dari Sekala Brak ini kemudian berbaur dan menempati kawasan Banding Agung, Pematang Ribu, dan Warkuk. Sampai sekarang banyak orang Banding Agung mengaku keturunan Paksi Pak (Paksi Pak Sekala Brak). Di samping itu, ada kisah-kisah perpindahan orang Sekala Brak, sebagaimana ditulis dalam Wikipedia (7/3/07: 04.02), yang dipimpin Pangeran Tongkok Podang, Puyan Rakian, Puyang Nayan Sakti, Puyang Naga Berisang, Ratu Pikulun Siba, Adipati Raja Ngandum, dan sebagainya. Bahkan, daerah Cikoneng di Banten ada daerah yang diberikan kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kepaksian Belunguh atas jasa-jasanya, dan banyak orang Sekala Brak yang migrasi ke sana atau sebaliknya. Kisah-kisah ini memperkuat suatu kenyataan bahwa Sekala Brak tidak hanya sebagai sumber muasal secara geografis, melainkan juga sumber kultur masyarakat. Sekala Brak adalah hulu suatu kebudayaan masyarakat. Dari Sekala Brak ini juga lahir huruf Lampung yaitu Kaganga. Bagi sebuah kebudayaan, memiliki bahasa dan aksara sendiri merupakan bukti kebesaran masa lalu kebudayaan tersebut. Di Indonesia hanya sedikit kebudayaan yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak, Lampung (Sumatra Selatan), Jawa, Sunda, Bali, dan Bugis. Dan kebudayaan yang memiliki aksara sendiri dapat dikategorikan sebagai kebudayaan unggul. Karena bahasa merupakan alat komunikasi sekaligus simbol kemajuan peradaban.

Semua aksara Nusantara tersebut berasal dari bahasa Palava, yang berinduk pada bahasa Brahmi di India. Bahasa Palava digunakan di India dan Asia Tenggara. Di Nusantara, bahasa ini mengalami penyebaran dan pengembangan, bermula dari bahasa Kawi, sebagai induk bahasa Nusantara. Dari bahasa Kawi menjadi bahasa: Jawa (Hanacaraka), Bali, Surat Batak, Lampung, Sumatra Selatan (Kaganga), dan Bugis. Dari Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak yang telah memiliki unsur-unsur “kebudayaan lengkap” ini pulalah “ideologi” Sai Batin dilahirkan dan disebarluaskan. Sampai saat ini, masih banyak yang bisa dibaca dari jejak-jejak yang tertinggal. Baik dari jejak fisik maupun jejak yang tidak kasatmata. Dari legenda, seni budaya, adat tata cara, bahasa lisan tulisan, artefak benda peninggalan, hingga falsafah hidup masih ada runut rujukannya. Dari Kepaksian Sekala Brak (Baca: Kepaksian Sekara Beghak) itu di kemudian hari pengaruh budaya dan peradabannya berkembang dan berpengaruh luas ke seluruh Lampung bahkan sampai ke Komering di Sumatra Selatan sekarang. Tidak terhitung kemudian “pendukung budaya”-nya yang tersebar di seluruh Indonesia pada masa kini.[15]

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Sarana transportasi dari dan menuju Lampung Barat serta daerah pinggiran cukup banyak tersedia, seperti bus, angdes, mobil sewaan, dan ojek, mobil, motor milik pribadi rakyat. Kondisi sarana jalan hingga mencapai desa dalam kondisi sebagian baik aspal Onderlagh, dengan total panjang ruas jalan 416,95 km.

Telekomunikasi[sunting | sunting sumber]

Kondisi layanan telekomunikasi dan informasi di wilayah Kabupaten Lampung Barat tersedia telepon, telepon seluler, telegram, ORARI, televisi, radio, dan kantor pos.

Ekonomi, Adat, Wisata Budaya[sunting | sunting sumber]

Pasar[sunting | sunting sumber]

Kondisi pasar di wilayah Lampung Barat, tersedia tujuh pasar umum dan seratus dua buah toko permanen serta 143 semipermanen.

Bank dan Rumah Sakit[sunting | sunting sumber]

Di Kabupaten Lampung Barat terdapat lima buah bank besar seperti Bank Lampung Capem Liwa, BNI Capem Liwa, BRI Capem Liwa, beberapa lembaga keuangan BPR, Bank Mandiri, Bank Eka serta Rumah Sakit Umum daerah Lampung Barat.

Industri dan Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Kondisi geografis Lampung Barat yang terdiri dari pegunungan dan perbukitan luas menjadikan kabupaten ini memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa melimpah. Mulai dari pemandangan alamnya yang penuh pesona juga produk hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang melimpah. Sumber daya alam ini sangat potensial sebagai bahan baku industri dan jika dilakukan penanganan pascapanen yang baik, dapat menjadi komoditas ekspor dalam bentuk bahan mentah atau raw material.

KUAT (Kawasan Usaha Agro Industri Terpadu)[sunting | sunting sumber]

Tahun 2007, Pemkab Lampung Barat membangun Kawasan Usaha Agro Industri Terpadu (KUAT) di Pekon (Desa) Marang Kecamatan Pesisir Selatan. KUAT dibangun untuk mengolah berbagai potensi di daerah pesisir Lampung Barat seperti kelapa, perikanan, dan damar agar mempunyai nilai tambah. Dengan demikian akan menambah penghasilan masyarakat. Karena KUAT menjadikan masyarakat sebagai pemasok bahan baku utama. Kawasan Industri Terpadu yang ingin diwujudkan adalah kawasan industri yang mengelola bahan baku lokal potensial berwawasan lingkungan, yakni industri pengolahan ikan terpadu dan industri pengolahan kelapa terpadu kala itu.

Tahap pertama yang menjadi fokus KUAT adalah pengolahan kelapa. Mulai dari sabut hingga airnya akan menjadi produk bernilai tinggi. Adapun komposisi dan produk turunan kelapa adalah untuk sabut kelapa, produk turunannya adalah coco fiber dan matras. Daging kelapa akan menjadi desicated coconut, VCO coconut oil, dan biodesel, batok kelapa akan menjadi briket arang dan arang aktif, sementara air kelapa akan menjadi nata de coco, kecap, dan cuka dapur.

Selain kelapa, yang menjadi produk KUAT adalah ikan segar dengan produk turunannya. Adapun produk turunan ikan segar adalah filet ikan yang menjadi bahan baku sosis ikan, bakso ikan, dan abon ikan. Selain itu, ikan segar juga bisa menjadi ikan beku yang produk turunannya adalah fish nugget.

Potensi komoditas unggulan[sunting | sunting sumber]

Dodol tomat dan labu siam: Komoditas unggulan dari sektor pertanian di antaranya tomat, labu siam dan yang lainnya yang sangat berlimpah, dengan luas areal 2.525 ha, dengan pemanfaatan lebih lanjut produk pertanian ini menjadi makanan khas berupa dodol tomat dan labu siam yang terdapat di Kecamatan Sekincau dan Balik Bukit.

Kopi Stroberi: Kopi bubuk dengan aroma dan cita rasa khas merupakan produksi cenderamata yang cukup dikenal dari Lampung Barat. bahkan saat ini menjadi usaha rumahan untuk memproduksi kopi bubuk untuk di jual di pasaran lokal.

Kue Adat/Kue Tart: Salah satu makanan khas Lampung Barat adalah kue tart. Kue ini ditampilkan pada saat acara resmi. Salah satu pengrajin kue ini adalah masyarakat adat setempat.

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Dalam bidang pertanian khususnya holtikultura, Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu kabupaten penghasil sayur mayur terbesar di Provinsi Lampung. Ada empat kecamatan yang merupakan penghasil sayuran terbesar di Kabupaten Lampung Barat, yaitu Kecamatan Way Tenong, Sekincau, Balik Bukit, dan Sukau.

Keempat kecamatan ini telah menyuplai beberapa jenis sayuran antara lain kentang, cabai merah, kubis, labu siam, tomat, wortel, buncis, dan sawi dengan luas panen dan jumlah produksi makin meningkat dari tahun ke tahun. Ditambah lagi dengan daya dukung dan perhatian Pemerintah Kabupaten Lampung Barat begitu besar, sehingga Kabupaten Lampung Barat mampu menjadi pendistribusi sayur-mayur ke daerah–daerah lain seperti Bandar Lampung, Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu, Padang, dan mulai juga menyuplai sebagian Jabotabek.

Sebagai perwujudan dari slogan “LIWA KOTA BERBUNGA”, maka Pemerintah Kabupaten Lampung Barat bekerja sama dengan IPB dan Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Hias Departemen Pertanian melakukan pengembangan Tanaman Hias. Hal ini didukung iklim dan tanah Lampung Barat yang sangat cocok untuk pengembangan tanaman hias.

Lampung Barat memiliki klimatologi yang sesuai untuk budidaya berbagai jenis tanaman hias. Wilayah kecamatan yang sesuai untuk pengembangan tanaman hias meliputi Kecamatan Sumberjaya, Gedung Surian, Way Tenong, Sekincau, Belalau, Batu Brak, Balik Bukit, dan Sukau dengan luas ± 248.857 m²

Ke depan, Kabupaten Lampung Barat bertekad menjadi sentra tanaman hias di Indonesia, adapun jenis tanaman yang telah/pernah ditanam antara lain: anggrek, mawar, helicona (pisang-pisangan), krisan, sedap malam, melati, palem, dan bugenvil, juga herbra.

Sebagai penghijauan, tanaman Paku Sura dipilih sebagai Maskot Tanaman hias Lampung Barat, dan tanaman ini sudah banyak ditanam khususnya di daerah Kecamatan Sukau dan Sumber Jaya. Paku sukha tersebut berasal dari tengkuk gunung pesagi, hingga saat ini paku sukha tersebut masih banyak tumbuh dengan sendirinya di sekitaran gunung pesagi serta masih bisa di temui hingga saat ini.

Lampung Barat penghasil kopi favorit dunia. Tanah subur memiliki perkebunan Kopi penyumbang ekspor terbanyak pertahunnya luas perkebunan kopi di sekala brak adalah diatas 53 ribu hektare (ha) tang berada di 15 Kecamatan di Kabupaten Lampung Barat pada Jaman Pra-sejarah saat ini. perkebunan tersebut 100% dikelolah oleh rakyat sebanyak diatas 35.737 KK petani kopi. Sekitar 80% rakyat Kabupaten Lampung Barat Mata pencahariannya adalah perkebunan Kopi. Dalam meningkatkan produksi tanaman kopi khas Lampung Barat serta sebagai langkah mempermudah petani kopi dalam melakukan perbaikan lahan yang sudah dianggap tidak produktif lagi, Kabupaten Lampung Barat, menjadi sentra ujicoba pengembangan sistem Embriogenesis somatik[16] (ES) tanaman kopi untuk Provinsi Lampung[17]. Sumber di dapat dari para petani di Lampung Barat bahwasanya tanaman lada akhir-akhir ini mengalami kuning pada daun nya sehingga berjalannya waktu para petani memperbaharui tanaman-tanaman lada tersebut, Dorongan dari pemerintah dalam memberikan arahan, kesetabilah harga kepada petani agar menerapkan sistem tanam tepat guna serta penampungan hasil perkebunan menjadi salah satu factor untuk menjadikan rakyat Lampung Barat Sejahtera di bidang Pertanian.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Provinsi Lampung. Ini dapat dilihat dari banyaknya wisatawan mancanegara maupun nusantara yang datang berkunjung untuk menikmati berbagai objek wisata di Lampung Barat. Objek wisata di Lampung Barat sangat lengkap mulai dari, danau, pegunungan, wisata alam, dan wisata petualangan. Untuk pengembangan pariwisata di Lampung Barat, pemerintah kabupaten terus melakukan berbagai upaya seperti penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur.

Hotel[sunting | sunting sumber]

Hotel yang tersedia di wilayah Lampung Barat sebanyak delapan belas hotel tersebar di berbagai daerah kecamatan berdekatan dengan lokasi wisata seperti Hotel Karang Nyimbur, Mutiara Alam Zandino, Wisma Sindai Lapai, Sederhana, Gunung Putri, dan Hotel Permata.

Objek Wisata[sunting | sunting sumber]

Kawasan Wisata Terpadu Lumbok Ranau (Seminung Lumbok Resort)[sunting | sunting sumber]

Keindahan Danau Ranau di Pekon Lumbok Kecamatan Sukau memang luar biasa, demikian diungkapkan berbagai kalangan yang pernah berkunjung ke Lumbok. Di tempat itu kita bisa menyaksikan hamparan biru danau dengan latar belakang Gunung Seminung yang menjulang tinggi dan perbukitan hijau. Wisatawan juga menikmati kehangatan air panas d ikaki Gunung Seminung, berperahu, dan berpiknik bersama keluarga.

Untuk memanjakan wisatawan, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat telah membangun berbagai sarana seperti fasilitas dua cottage dengan kolam renang, hotel standar bintang 3 dengan enam belas kamar, restoran dan balai pertemuan atau convention hall dengan kapasitas 30 orang di lantai dasar dan 400 orang di lantai atas.

Wisata Paralayang[sunting | sunting sumber]

Selain menikmati keindahan alam danau, wisatawan yang hobi olahraga paralayang dapat melakukannya di sini. Kegiatan dirgantara paralayang merupakan bagian atraksi wisata. Dari ketinggian sekitar 400 meter, wisatawan dapat menikmati kontur alam yang begitu indah, Danau Ranau yang dilingkupi oleh pegunungan yang tegak menjulang, salah satunya Gunung Seminung serta areal persawahan yang membentang luas, sungguh panorama alam yang menyejukkan hati. Wisatawan melakukan lepas landas atau take off di Bukit Mandi Angin, Pekon Lumbok, dengan ketinggian 400 meter dpl. Site paralayang di Lumbok Ranau secara teknis sangat layak dan memiliki pemandangan alam yang lengkap.

Wisata Alam Pekon Hujung[sunting | sunting sumber]

Objek wisata di Pekon Hujung Kecamatan Belalau, di sini terdapat Gunung tertinggi di Lampung Barat yaitu Gunung Pesagi, yang mana gunung ini dijadikan sebagai wahana wisata atau wisata alam. Wisatawan, selain berpetualang melakukan pendakian, dapat melihat keindahan alam dan bahari Lampung Barat dari ketinggian gunung, di sini juga terdapat homestay tradisional Lampung Barat yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.

Wisata Alam Kubu Perahu[sunting | sunting sumber]

Lampung Barat memang tidak pernah habis. Satu lagi lokasi petualangan alam yang sangat menantang, yakni wisata alam Kubu Perahu di Kecamatan Balik Bukit. Di sini wisatawan dapat menikmati rimbunnya pohon-pohon besar hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Lokasi ini sangat cocok untuk kegiatan jungle run. Wisatawan dapat menikmati aliran sungai yang jernih disepanjang perjalanan menapaki hutan kawasan TNBBS. Selain itu wisatawan juga dapat menikmati air terjun Sepapa Kiri yang begitu jernih dan indah.

Desa Wisata Lumbok[sunting | sunting sumber]

Lampung Barat juga menyajikan wisata desa, dengan desa yang dikunjungi masih sangat alami dengan suguhan pemandangan Danau Ranau, di tempat ini para pengunjung dapat melakukan aktivitas yang cocok untuk keluarga di antaranya: menombak ikan, memanah ikan, berenang, memancing belut, dan aktivitas malam yang tak kalah serunya. Di Desa Lumbok yang berjarak + 30 km dari Liwa, pengelola kawasan ini menyediakan homestay di rumah tradisional penduduk setempat dan menyajikan kuliner khas, seperti gulai taboh dan ikan bakar

Danau Suoh[sunting | sunting sumber]

Wisata alam ini menyajikan potensi wisata olahraga serta menjanjikan pengalaman yang tak terlupakan, perjalanan ke lokasi yang hanya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan jenis off road dan kendaran roda dua jenis trail. Di sini terdapat tiga buah danau yang berubah-ubah warnanya. Di kawasan sekitar danau terdapat sumber panas bumi yang menambah keunikan dan keistimewaan lokasi. Untuk menuju lokasi, dapat melalui Kecamatan Sekincau atau Kecamatan Batu Brak dengan jarak tempuh 4 jam perjalanan dari Ibu Kota Liwa. Juga dapat melalui Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus.

Arung Jeram[sunting | sunting sumber]

Bagi Anda yang gemar olahraga arung jeram (rafting), Lampung Barat memiliki Sungai Way Besai. Di sungai yang terdapat di Kecamatan Sumber Jaya ini wisatawan dapat menikmati lintasan jeram grade III dengan jarak tempuh 3 km sehingga menjanjikan aktivitas yang menantang bagi para penggemar olahraga arung jeram.

Objek wisata budaya dan sejarah[sunting | sunting sumber]

Objek wisata budaya dan sejarah, adanya situs megalitik di Pekon Purajaya, rumah tradisional di sepanjang jalan lintas menuju liwa dari sumber jaya hingga ranau, dan Situs megalithik Batu Brak di Pekon Balak, Batu Brak, Lampung Barat

Budaya Sekala Brak[sunting | sunting sumber]

Ragam kesenian[sunting | sunting sumber]

  • Pesta Sakura, merupakan pesta topeng yang diadakan satu sampai lima hari setelah Hari Raya Idul Fitri, dimulai sejak jam 09.00 hingga berakhir pada sore hari. Keunikan dari Pesta Sakura ini dalam acara panjat pinang yang berhadiahkan berbagai barang yang digantung di puncak batang pinang, para pemanjatnya terdiri atas beberapa orang pria (kelompok), dan para pemanjat tersebut memakai topeng serta dengan berbagai busana yang unik, bahkan pria ada di antaranya yang memakai pakaian wanita. Pesta ini dilaksanakan
  • Tari-tarian yang sesuai dengan kondisi alam yang terdiri dari daerah perhutanan dan lautan, Kabupaten Lampung Barat memiliki aneka ragam tarian dengan inspirasi dari lingkungan. Keberadaan margasatwa banyak mengilhami gerakan tari-tarian di daerah Lampung Barat. Di daerah Balik Bukit terdapat Tari Kenui dan Tari Batin Batu Brak, dua jenis tarian yang gerakannya meniru burung elang. Tari Batin biasanya dilakukan dalam rangka menyambut tamu-tamu penting. Acara ini dilaksanakan secara rutin menyambut HUT Kabupaten Lampung Barat.

Acara Tahunan[sunting | sunting sumber]

  • Festival Teluk Stabas, dalam acara ini diadakan perlombaan kesenian dan budaya tradisional, antara lain: hadra, bedikhir, hahiwang, gambus, dan Lomba tarian adat tradisional lainnya. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada setiap bulan Juli.
  • Semarak Wisata Tanjung Setia. Pada kegiatan ini dilaksanakan berbagai perlombaan yang bernuansa bahari seperti selancar, kebut jukung, voli pantai, dan sepak bola pantai. Selain itu ditampilkan beberapa atraksi kesenian. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada setiap bulan Juni.
  • Gebyar Pesona Lumbok Ranau. Pada kegiatan ini dilaksanakan berbagai perlombaan yang bernuansa wisata tirta seperti kebut jukung, triatlon tradisional, memanah ikan, memancing di danau. Selain itu ditampilkan beberapa atraksi kesenian. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada setiap bulan September.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ [1]
  2. ^ a b c "Kabupaten Lampung Barat Dalam Angka 2018". www.lampungbaratkab.bps.go.id. Diakses tanggal 30 Januari 2020. 
  3. ^ "Rincian Alokasi DAU Murni T.A. 2017" (PDF). 
  4. ^ https://ipm.bps.go.id/data/provinsi/metode/baru/1800
  5. ^ "Bandara Seray Berganti Nama Menjadi Bandar Udara Mohammad Taufik Kiemas". 2020-06-11. Diakses tanggal 2020-06-11. 
  6. ^ Lampung Barat, BPS (2017). Lampung Barat Dalam Angka 2017. Lampung Barat: BPS Kabupaten Lampung Barat. 
  7. ^ [2] Saibumi - KPU Lampung Barat Sahkan 40 Orang Anggota DPRD 2014-2019 Terpilih
  8. ^ [3] Tribun Lampung - BREAKING NEWS: Berikut Ini Daftar Caleg Terpilih Lambar 2014-2019
  9. ^ Perolehan Kursi DPRD Lampung Barat 2019-2024
  10. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  11. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  12. ^ http://www.lampungbarat.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1062&Itemid=110&limit=1&limitstart=0[pranala nonaktif permanen]
  13. ^ https://lampungpro.co/post/34413/bupati-pertama-lampung-barat-hakim-saleh-umpu-singa-meninggal-di-jakarta
  14. ^ https://lampung.rilis.id/Pemerintah/Berita/Bupati-Pertama-Lampung-Barat-Meninggal-Dunia
  15. ^ http://www.lampungbarat.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1062&Itemid=110&limit=1&limitstart=1[pranala nonaktif permanen]
  16. ^ https://media.neliti.com/media/publications/77634-none-fe383b23.pdf
  17. ^ https://travel.detik.com/cerita-perjalanan/d-5388680/lampung-barat-rumah-kopi-favorit-dunia

Pranala luar[sunting | sunting sumber]