Kabupaten Mesuji

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Mesuji
Peta Lokasi Kabupaten Mesuji.svg
Peta lokasi Kabupaten Mesuji
Koordinat:
Provinsi Lampung
Dasar hukum UU RI No. 49 Tahun 2008
Ibu kota Wiralaga Mulya
Pemerintahan
 - Bupati Khamamik, S.H
 - Wakil Bupati Saply
 - DAU Rp 448.282.207.000,-(2017)[1]
Luas 2.184 km2
Populasi
 - Total 196.913 jiwa (2015)[2]
 - Kepadatan 90,16 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0726
Pembagian administratif
 - Kecamatan 7
 - Desa 105
Simbol khas daerah
Situs web http://www.mesujikab.go.id

Kabupaten Mesuji adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, Indonesia. Mesuji merupakan kabupaten dengan jarak terjauh dari Bandar Lampung, ibukota Lampung, serta berbatasan langsung dengan Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

Wilayah kabupaten Mesuji merupakan Daerah agraris dimana mata pencaharian pokok penduduknya berada di sektor pertanian. Hal ini dikarenakan daerah terluas merupakan daerah dataran yang cocok dimanfaatkan untuk pertanian.

Sejarah[3][sunting | sunting sumber]

Pra-kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Mesuji adalah daerah yang tidak terlepas dari sejarah Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1865, Sirah Pulau Padang Kayu Agung Onder Afdeling Kayu Agung melaksanakan pemilihan pasirah. Pemilihan ini diadakan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Kayu Agung.

Pemilihan pasirah saat itu diadakan dengan memilih antara dua kakak beradik yaitu Muhamad Ali bin Pangeran Djugal dan adiknya Muhamad Batun bin Pangeran Djugal. Sistem politik adu domba atau Devide et Impera terjadi saat itu dan yang menjadi sirah adalah Muhamad Batun bin Pangeran Djugal.

Hal ini mendatangkan perasaan tak menyenangkan bagi sang kakak, sehingga beliau hijrah dengan mendatangi daerah baru dengan mengajak pengikut-pengikutnya untuk membuka daerah baru yang merupakan cikal bakal dari Marga Mesuji Lampung.

Setelah perladangan (ume’) yang dilakukan oleh Muhamad Ali ini berhasil, yaitu dengan nama sonor atau membakar lahan rawa kemudian ditabur benih gabah yang mereka dapat dari saudara atau desa daerah asal, namun bukan bibit padi yang berlabel seperti sekarang.

Pada tahun 1870, ia mengajak sanak keluarga, kerabat serta teman-temanya untuk pindah ke Sungai Kabung Mesuji. Adapun suku-suku yang ikut datang ke Sungai Kabung Mesuji, antara lain:

  1. Suku Sirah Pulau Padang atau disebut Suku Seri Pulau
  2. Suku Sugi Waras atau disebut Suku Sugi Waras
  3. Suku Kayu Agung atau disebut Suku Kayu Agung
  4. Suku Palembang atau disebut Suku Palembang
  5. Suku Lampung Tulang Bawang, yang tersebar di Sungai Sidang dan Talang Batu.

Setelah beberapa tahun, kampung tersebut terus menunjukkan peningkatan kesejahteraan penduduknya, sehingga pada tanggal 22 Oktober 1886 Pemerintah Hindia Belanda kemudian memberikan penghargaan kepada Muhammad Ali, dengan gelar Pangeran Mad, dengan simbol berupa payung obor-obor berwarna putih.

Hal ini menandakan bahwa Pangeran Mad sebagai raja adat di Mesuji dan mensyahkan warga dari kampung tua di Mesuji yang berasal dari Sumatera Selatan, Palembang, Seri Pulau Padang, dan Kayu Agung dengan sebutan Marga Mesuji. Penyebaran mereka terus dilakukan berpencar ke tepian sungai lain yang tidak jauh.

Terdapat sembilan kampung tua di Mesuji (sejak tahun 1875), yaitu:

  1. Wiralaga (Kampung tertua)
  2. Sungai Sidang
  3. Sungai Cambai
  4. Sungai Badak
  5. Nipah Kuning
  6. Sri Tanjung
  7. Kagungan Dalam
  8. Talang Batu
  9. Labuhan Batin

Kampung-kampung tua tersebut berada di pinggir sungai-sungai besar. Mata pencaharian masyarakatnya hanya mencari ikan dan menebang kayu, bukan hasil budidaya tetapi hasil alam yang dimanfaatkan. Selanjutnya hasil usaha dijual ke Jakarta menggunakan kapal kayu yang mereka buat, dengan jarak tempuh dua hari dua malam melewati sungai dan laut. Alasan lebih memilih menggunakan jalur laut karena pada saat itu belum ada jalan darat menuju Bandar Lampung dan sekitar mereka merupakan hutan yang masih belantara.

Tahun 1930, jumlah Marga Mesuji (inlander/penduduk asli) sekitar 3.586 jiwa serta warga china (chineezen) berjumlah 8 jiwa.

Pasca kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Pada era pasca kemerdekaan daerah Marga Mesuji digabungkan ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Utara hingga tahun 1997. Setelah itu sempat masuk sebagai wilayah Kabupaten Tulang Bawang dari tahun 1997-2008.

Pada tahun 1982, Program Transmigrasi lokal yaitu perpindahan penduduk antar kabupaten dalam satu provinsi, ditempatkan di wilayah ini tersebar yang juga dilanjutkan pada tahun 1985, 1992, dan 1999.

Era Kabupaten Mesuji[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Mesuji merupakan salah satu Daerah Otonomi Baru (DOB) di Provinsi Lampung, hasil dari pemekaran Kabupaten Tulang Bawang. Mengingat wilayah Kabupaten Tulang Bawang saat itu sangat luas dan lokasi Kabupaten Mesuji (saat itu masih berupa Kecamatan Mesuji, wilayah Kabupaten Tulang Bawang) yang terlampau jauh dari pusat pemerintahan di Menggala.

Sesuai dengan amanah UU No.49 tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Mesuji, ditetapkan bahwa ibu kota Kabupaten Mesuji adalah kecamatan Mesuji, berdasarkan hasil musyawarah tokoh-tokoh masyarakat ditetapkan bahwa ibukota terletak tepatnya di Wiralaga Mulya. Nama Wiralaga Mulya diambil dari penggabungan dua kampung di Kecamatan Mesuji yaitu Kampung Wiralaga dan Kampung Sidomulyo yang merupakan hasil musyawarah tokoh masyarakat dan tetua Mesuji.

Pembagian Wilayah Administratif[4][sunting | sunting sumber]

Nama kecamatan Jumlah penduduk
( Jiwa, Tahun 2015 )
Luas wilayah
(km2)
Jumlah kelurahan Jumlah desa
Way Serdang 43.437 294,42 20
Simpang Pematang 25.387 139,61 13
Panca Jaya 15.730 197,72 7
Tanjung Raya 36.172 238,07 21
Mesuji 20.489 274,73 11
Mesuji Timur 30.820 810,20 20
Rawa Jitu Utara 24.878 229,25 13

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]