Suku Lampung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Suku Lampung
Lampung-Ulun lampung2.png
Ulun Lampung
Saibatin dan Pepadun.jpg
Siger adalah mahkota wanita pengantin Suku Bangsa Lampung yang terdiri atas masyarakat SaiBatin dan Punyimbang.
Daerah dengan populasi signifikan
Lampung2.028.190
Jawa Barat92.862
Banten64.803
Jakarta45.215
Sumatra Selatan44.983
Bahasa
Bahasa Lampung
Agama
Islam
Suku bangsa terkait
Suku Palembang
Suku Melayu
Suku Komering

Suku/Etnis Lampung yang biasa disebut Lampung-Ulun lampung2.png (Ulun Lampung) secara tradisional geografis merupakan salah satu rumpun dari masyarakat melayu yang berdiam di pulau Sumatera bagian paling selatan. Yakni seluruh provinsi Lampung, sebagian provinsi Sumatra Selatan bagian selatan dan tengah seperti daerah Martapura, Muaradua di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kayu Agung, Tanjung Raja di Kabupaten Ogan Komering Ilir, juga didaerah Merpas Nasal Kaur di sebelah selatan Bengkulu, serta didaerah Cikoneng di pantai barat Banten. Suku Lampung juga memiliki sub-suku yaitu Suku Komering dan Suku Daya di Sumatra Selatan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana asal-usul masyarakat etnis Indonesia yang lain. Etnis Lampung merupakan bagian dari bangsa Austronesia yang leluhurnya diperkirakan berasal dari kepulauan Formosa yang bermigrasi ke Kepulauan Filipina, Sulawesi, Kalimantan dan kemudian berakhir di Selatan Sumatera. Dalam studi bahasa yang pernah dilakukan, Etnis Lampung memiliki akar kesamaan bahasa dengan masyarakat tradisional Puyuma di kepulauan Formosa.

Beberapa catatan sejarah dari Tiongkok menuliskan, bahwa pada abad ke VII masyarakat telah membicarakan suatu wilayah didaerah Selatan (Namphang) dimana terdapat kerajaan yang disebut To-Lang Po-Hwang, To berarti orang dan Lang-Po-Hwang adalah Lampung. Menunjukan bukti bahwa telah datang kenegeri Tiongkok, utusan dari masyarakat Lampung pada abad ke VII.

Dalam kronik Taiping Huanyu Ji yang ditulis oleh Yue-Shi dari abad ke X, lebih jelas lagi disebutkan nama-nama negeri di kawasan Nan-hai (Laut Selatan), antara lain dua buah negeri yang disebutkan berurutan: To-lang dan Po-hwang. Negeri To-lang hanya disebut satu kali. Tetapi negeri Po-hwang cukup banyak disebut, sebab negeri ini telah mengirim utusan ke negeri Tiongkok pada tahun 442, 449, 451, 459, 464 dan 466.

Prof. Gabriel Ferrand, pada tulisannya dalam majalah ilmiah Journal Asiatique, Paris, 1918, hal. 477, berpendapat bahwa kedua nama itu mungkin hanya satu nama: To-lang-po-hwang, lalu negeri itu dilokasikan Ferrand di daerah Tulangbawang, Lampung. Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka, dalam bukunya Riwajat Indonesia I,Jajasan Pembangunan, Djakarta, 1952, hal. 25, menyetujui kemungkinan adanya kerajaan Tulangbawang, meskipun anggapan itu semata-mata karena menyatukan dua toponimi dalam kronik Tiongkok.

Adat-istiadat[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Adat Lampung terdiri atas dua sistem Pemerintahan Adat yakni Masyarakat Adat Lampung Saibatin (Peminggir/Pesisir) dan Masyarakat Adat Lampung Penyimbang (Pepadun/Pedalaman). Dengan penjelasan sebagai berikut:

Masyarakat Adat Lampung Saibatin[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Adat Saibatin sering kali juga dinamakan Masyarakat Adat Lampung Peminggir (Pesisir). Karena sebagian besar berdomisili di sepanjang pantai timur, selatan dan barat lampung. Beberapa kemargaan yang menggunakan sistem pemerintahan adat Saibatin antara lain: Bandar Lima Way Lima, Bandar Enom Semaka, Kepaksian Sekala Brak, Melinting Tiyuh Pitu, Marga Lima Way Handak, Enom Belas Marga Krui, Pitu Kepuhyangan Komering, Telu Marga Ranau dan Cikoneng Pak Pekon

Masyarakat adat Lampung Punyimbang[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Adat Lampung Punyimbang atau yang sering kali juga dinamakan Masyarakat Adat Lampung Pepadun berdiam didaerah pedalaman Lampung. Beberapa kemargaan yang menggunakan sistem pemerintahan adat Punyimbang antara lain : Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulangbawang, Pubian Telu Suku, Buway Lima Way Kanan dan Bunga Mayang Sungkay

Falsafah Hidup Ulun Lampung[sunting | sunting sumber]

Artikel Lengkap di Piil Pesenggiri

Falsafah Hidup Ulun Lampung termaktub dalam ajaran Piil Pesenggiri, yaitu:

  1. Pesenggiri, mengandung ajaran: Tidak mudah menyerah, tidak mengenal takut dan pantang mundur dalam menghadapi tantangan yang datang didalam kehidupan. Keberanian adalah merupakan bagian dari harga diri.
  2. Juluk-Adok, mengandung ajaran: Selalu menggunakan nama-nama panggilan yang baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Panggilan yang baik bukan saja membuat orang lain terhormat, tetapi juga menunjukan diri yang bermartabat.
  3. Nemuy-Nyimah, mengandung ajaran: Senang berkunjung dan dikunjungi dengan sikap yang ramah dan pemurah. Berkunjung dan dikunjungi bagian dari sikap saling menghormati.
  4. Nengah-Nyappur, mengandung ajaran: Selalu bergaul ditengah masyarakat. Memperluas hubungan persahabatan dan kekeluargaan dengan semua orang.
  5. Sakay-Sambayan, mengandung ajaran: Senang tolong-menolong dan bergotong-royong dalam hubungan persaudaraan dan kekeluargaan. Sehingga persoalan bersama dapat diselesaikan pula secara bersama-sama.

Bahasa Lampung[sunting | sunting sumber]

Artikel Utama : Bahasa Lampung

Bahasa Lampung, adalah sebuah bahasa yang dipertuturkan oleh Ulun Lampung yang berada di Provinsi Lampung, selatan Sumatera Selatan, selatan Bengkulu dan pantai barat Banten. Berdasarkan pemetaan bahasa. Bahasa Lampung memiliki Dua Sub-Dialek yaitu Sub-Dialek A dan Sub-Dialek O yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

Sub-Dialek A (api) dipertuturkan oleh beberapa Marga di Lampung antara lain: Paksi Pak Sekala Brak, Bandar Enom Semaka, Bandar Lima Way Lima, Melinting Tiyuh Pitu, Marga Lima Way Handak, Enom Belas Marga Krui, Pitu Kepuhyangan Komering, Telu Marga Ranau, Cikoneng Pak Pekon, Pubian Telu Suku, Buway Lima Way Kanan dan Bunga Mayang Sungkay

Sementara Sub-Dialek O (nyow) dipertuturkan oleh beberapa Marga di Lampung antara lain : Abung Siwo Mego dan Mego Pak Tulangbawang

Aksara Lampung[sunting | sunting sumber]

Artikel Utama : Aksara Lampung

Aksara lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tetapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.

Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.

Aksara lampung telah mengalami perkembangan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung kuno jauh lebih kompleks. Sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Huruf atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan tersebut.

Marga Lampung[sunting | sunting sumber]

Artikel Lengkap : Marga Lampung

Masyarakat Lampung terdiri atas 14 kemargaan besar yang menghimpun kepaksian, kemargaan, kebuwayan, puhyang dan tiyuh. Kemargaan besar tersebut antara lain:

Bandar Enom Semaka[sunting | sunting sumber]

Terdiri atas beberapa marga antara lain:

  • Marga Padang Ratu
  • Marga Suoh
  • Marga Way Kerap
  • Marga Semuong

Bandar Lima Way Lima[sunting | sunting sumber]

Melinting Tiyuh Pitu[sunting | sunting sumber]

Terdiri atas tujuh tiyuh antara lain

  • Tiyuh Meringgai
  • Tiyuh Tebing
  • Tanjung Aji
  • Tiyuh Wano
  • Tiyuh Nibung
  • Tiyuh Pempen
  • Tiyuh Negaraagung

Marga Lima Way Handak[sunting | sunting sumber]

Kepaksian Sekala Brak[sunting | sunting sumber]

Terdiri atas empat paksi antara lain:

  • Paksi Buay Bejalan Di Way
  • Paksi Buay Nyerupa
  • Paksi Buay Belunguh
  • Kepaksian Pernong

Enom Belas Marga Krui[sunting | sunting sumber]

Terdiri atas enam belas marga antara lain:

  • Marga Pugung Malaya
  • Marga Pugung Penengahan
  • Marga Pugung Tampak
  • Marga Tenumbang
  • Marga Ulu Krui
  • Marga Pasar Krui
  • Marga Bandar Krui
  • Marga Ngambur
  • Marga Way Napal
  • Marga Ngaras
  • Marga Way Napal
  • Marga Laay
  • Marga Bengkunat
  • Marga Belimbing
  • Marga Way Sindi
  • Marga Pedada
  • Marga Pulau Pisang

Buway Lima Way Kanan[sunting | sunting sumber]

Terdiri atas lima buway antara lain:

  • Buway Pemuka
  • Bahuga
  • Semenguk
  • Baradatu
  • Barasakti

Pubian Telu Suku[sunting | sunting sumber]

Terdiri atas tiga suku antara lain:

  • Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat
  • Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus
  • Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi

Abung Siwo Migo[sunting | sunting sumber]

Terdiri atas sembilan buway antara lain:

  • Buway Nunyai
  • Buway Unyi
  • Buway Subing
  • Buway Uban
  • Buway Anak Tuha
  • Buway Kunang
  • Buway Beliyuk
  • Buway Selagai
  • Buway Nyerupa

Mego Pak Tulang Bawang[sunting | sunting sumber]

Terdiri atas empat Puyang antara lain:

  • Puyang Umpu
  • Puyang Bulan
  • Puyang Aji
  • Puyang Tegamoan

Bunga Mayang Sungkay[sunting | sunting sumber]

Terdiri atas beberapa buway antara lain:

  • Buway Inder Gajah
  • Buway Selembasi
  • Buway Sereja
  • Buway Harayap
  • Buway Liwa
  • Buway Semenguk
  • Buway Dibintang

Pitu Kepuhyangan Komering[sunting | sunting sumber]

Telu Marga Ranau[sunting | sunting sumber]

Cikoneng Pak Pekon[sunting | sunting sumber]

Sastra Lampung[sunting | sunting sumber]

Artikel Lengkap di Sastra Lampung

Tokoh Lampung[sunting | sunting sumber]

Artikel Utama: Daftar Tokoh Lampung

Referensi Lampung[sunting | sunting sumber]

  • Adat Istiadat Daerah Lampung. Hilman Hadikusuma dkk. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung. 1977
  • Profil Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Prof.Dr.H.A Fauzie Nurdin, M.S. 2018
  • Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Hilman Hadikusuma. Bandar Madju Bandung. 1989
  • Kepaksian Pernong Sekala Brak Menjawab Sejarah. Tim Advis Prof. Dr. Sudjarwo (Koord). 2018

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]