Suku Mamasa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Suku Mamasa
To Mamasa
Daerah dengan populasi signifikan
Sulawesi Barat
Bahasa
Mamasa
Agama
Protestan 95% (mayoritas), Islam 2%, Katolik 2%, agama tradisional 1% (minoritas)
Suku bangsa terkait
Suku Toraja

Suku Mamasa (Mamasa: To Mamasa) adalah suatu komunitas masyarakat asli yang berada di kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Masyarakat suku Mamasa tersebar di seluruh kecamatan di kabupaten Mamasa. Suku Mamasa merupakan bagian dari sub-suku Toraja.[1] Secara adat-istiadat dan budaya, berkerabat dengan suku Toraja. Selain itu bahasa Mamasa juga mirip dengan bahasa Toraja. Oleh karena itu suku Mamasa ini sering juga disebut sebagai suku Toraja Mamasa.

Sejarah

Asal-usul suku Mamasa menurut sebuah cerita rakyat yang terpelihara di kalangan suku Mamasa, menceritakan bahwa "Nene' Torije'ne" (nenek moyang nenek) datang dari laut dan "Nenek Pongkapadang" (nenek moyang kakek) datang dari sebelah timur pegunungan pulau ini. Mereka bertemu satu sama lain kemudian pindah ke Buntu Bulo, di desa Tabulahan dekat kabupaten Mamuju. Menurut para peneliti, suku Mamasa ini dahulunya adalah berasal dari orang-orang Toraja Sa'dan yang bermigrasi ke wilayah ini. Tumbuh dan berkembang menjadi suatu komunitas yang sekarang lebih umum dikenal sebagai suku Mamasa. Suku Mamasa, secara mayoritas adalah pemeluk agama Kristen. Perkembangan agama Kristen diterima oleh masyarakat suku Mamasa sekitar awal tahun 1900, oleh misionaris dari Belanda. Suku Mamasa berbicara dalam bahasa Mamasa. Bahasa Mamasa ini dikelompokkan ke dalam sub-dialek dari bahasa Toraja, karena banyak terdapat kesamaan bahasa antara bahasa Mamasa dan bahasa Toraja. Bahasa Mamasa diucapkan di daerah sepanjang sungai Mamasa di perbatasan Kabupaten Mamasa dan kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Kepercayaan

Mayoritas orang Mamasa beragama Protestan dengan minoritas Islam dan Katolik, juga sebagian masih ada yang mempraktekkan tradisi dari agama tradisional leluhur mereka, yang disebut "Ada' Mappurondo" atau "Aluk Tomatua". Tradisi agama tradisional ini tetap terpelihara dan terus terwariskan ke generasi berikutnya. Tradisi dari Ada 'Mappurondo ini dilaksanakan terutama setelah panen padi berakhir, sebagai ucapan syukur atas hasil panen mereka. Ada satu tradisi dari agama tradisional suku Mamasa, yang unik dan mungkin tidak ada di daerah lain, yaitu tradisi penguburan orang yang telah mati, tapi dengan membuat sang jenazah berjalan dengan sendirinya menuju kuburan yang telah disiapkan.[2] Mereka percaya bahwa semua mayat dari sebuah keluarga atau kerabat akan berada di tempat yang sama dalam kehidupan sesudahnya.[3]

Kebudayaan

Bahasa

Bahasa Mamasa memiliki beberapa dialek, yaitu:

  • dialek Mamasa Utara
  • dialek Mamasa Tengah
  • dialek Pattae’ (Mamasa Selatan, Patta’ Binuang, Binuang, Tae’, Binuang-Paki-Batetanga-Anteapi)

Rumah adat

Suku Mamasa memiliki rumah adat yang berfungsi sebagai rumah tinggal di masa lalu maupun sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Rumah adat suku Mamasa ini sangat unik, yang menurut mereka menyerupai bentuk kapal, seperti kapal-kapal para nenek moyang mereka ketika berangkat dari negeri asal, menyeberangi laut dan berhenti di daerah ini melalui hulu sungai. Rumah adat suku Mamasa mirip dengan rumah adat suku Toraja. Kemiripan ini dikarenakan memang asal-usul suku Mamasa dan suku Toraja adalah berasal dari satu rumpun.[4]

Pertanian

Masyarakat suku Mamasa hidup pada hasil pertanian, pada tanaman padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, sayur-sayuran dan berbagai jenis buah-buahan. Mereka juga memiliki perkebunan yang ditanami kopi dan kakao yang dikelola dengan cara tradisional. Di luar bidang pertanian, mereka juga memelihara hewan ternak, seperti babi, kerbau, sapi, kuda, kambing, ayam dan bebek. Untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, dan juga dijual untuk menambah penghasilan keluarga.

Kesenian

Masyarakat mamasa memiliki kesenian yang melekat dalam budayanya seperti beberapa tarian, alat musik dan pakaian adat. Terdapat 3 tarian tradisional di Mamasa, yaitu dari Bulu Londong, tari Malluya dan tari Burrake. Alat musik yang dimiliki oleh masyarakat Mamasa, yaitu suling pompang. Suling Pompang merupakan alat music dari bambu yang dimainkan dengan cara ditiup dan disajikan dalam bentuk ansambel. Lalu pakaian adat tradisional untuk laki-laki, yaitu baju pongko, celana toraya, dan sapu tangan, sedangkan perempuan mengenakan rok tenun dan tas tenun.[5]

Referensi

  1. ^ "Mendefinisikan Mamasa Sebagai Suku Bangsa". www.indonesiana.id. Diakses tanggal 25 April 2021. 
  2. ^ "Mengenal Suku Mamasa yang Punya Kemampuan Membangkitkan Mayat". travel.okezone.com. Diakses tanggal 25 April 2021. 
  3. ^ "Suku Mamasa, Kerabat Toraja". www.goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 25 April 2021. 
  4. ^ "Membedah Rumah Adat Toraja dan Mamasa yang Serupa Tapi Tak Sama". sulsel.idntimes.com. Diakses tanggal 25 April 2021. 
  5. ^ "Ekspedisi Mamasa". arsitekturhijau.com. Diakses tanggal 25 April 2021.