Suku Banggai

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Suku Banggai merupakan suku asli yang mendiami Kepulauan Banggai di Kabupaten Banggai di Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Suku Banggai terdiri dari dua kelompok, yaitu Suku Banggai Kepulauan yang berada di wilayah kepulauan Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dan Suku Sea-Sea atau Suku Banggai Pegunungan yang berada di wilayah pegunungan daratan utama di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Di Kabupaten Banggai sebenarnya terdapat tiga suku bangsa utama yaitu Suku Banggai, Suku Saluan dan Suku Balantak, tetapi ketiga suku ini berbeda dan masing-masing memiliki adat dan kebudayaan sendiri-sendiri. Suku Banggai dianggap sebagai penduduk asli wilayah ini. Sedangkan suku Saluan dan suku Balantak, merupakan pendatang dari wilayah lain di luar wilayah Banggai.[1]

Kepercayaan[sunting | sunting sumber]

Menurut data BPS di tahun 2015, penduduk Kabupaten Banggai sebagian besar beragama Islam dengan persentase 72,36 % pemeluk agama Kristen 24,51%, pemeluk agama hindu dan Budha 3,13%.[2] Penyebaran agama Islam di Sulawesi Tengah adalah Abdullah Raqile yang lebih dikenal dengan Dato Karamah seorang Ulama dari Sumatra Barat. Agama Kristen pertama kali disebarkan oleh Missionaris dari belanda yaitu A. C. Cruyt dan Adrian di wilayah kabupaten Poso dan bagian selatan kabupaten Donggala. Sedangkan agama Hindu dan Budha dibawa oleh para transmigran asal Bali. [3]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Adat dan Kesenian[sunting | sunting sumber]

Berbagai macam adat serta kebudayaan dari suku Banggai sangat melekat dalam masyarakat yang memang sangat menarik, musik yang di antaranya; batongan, kanjar, libul dan lain sebagainya, juga ada tarian, yang termasuk Onsulen, Balatindak, Ridan. Cerita rakyat atau legenda yang sangat banyak yang di kenal dengan nama Banunut, lagu atau puisi yaitu Baode, Paupe. dan masih banyak lagi kesenian tradisional lainnya.[4]

Ada pun beberapa tradisi yang masih dipegang secara menyeluruh dari suku Banggai, misalnya pada saat perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad saw, para masyarakat suku Banggai akan membuat sejenis kue yang di beri nama Kala-kalas, ada juga yang menyebutnya kaakaras. Kue ini tebuat dari tepung beras yang bentuk jadinya di goreng, dan kue ini sangat unik sekali, bahkan hanya akan di jumpai pada saat perayaan Maulid Nabi saw saja. Selain itu, masih banyak tradisi lainnya, Upacara Adat misalnya, upacara pelantikan Tomundo, upacara pelantikan Basalo, dan lain sebagainya. Tradisi-tradisi dalam masyarakat pun bahkan beragam, masyarakat yang tinggal di tepian pantai dengan masyarakat yang tinggal di pedalaman akan memberikan suatu gambaran yang jauh berbeda, kesenian, upacara adat, bahkan kehidupan adat sehari-haripun tidak banyak menunjukan kesamaan, contohnya, ada sebuah upacara adat atau perayaan ketika para nelayan telah menangkap ikan, yang cara menangkapnya di kenal dengan nama sero, sedangkan di pedalaman akan ada penanaman sejenis Umbi yang memang satu-satunya di dunia ini hanya terdapat dan berasal dari Banggai, sehingga di kenal dengan nama Ubi Banggai, ini akan memberikan suatu cerita tersendiri yang sangat menakjubkan, yang di mulai dari proses hingga selesai, akan banyak sisi-sisi kehidupan tradisi yang memberikan gaya artistik yang sangat berharga.[4]

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Mata Pencaharian[sunting | sunting sumber]

Suku Banggai sudah mengenal pertanian misalnya tanaman padi, jagung, coklat, ubi dan lain-lain. Selain pertanian juga menjadi nelayan, dan kegiatan lain adalah berburu (Baasu), yang merupakan salah satu kegiatan dari zaman pra-kerajaan Banggai. Dan kegiatan yang sampai sekarang ini dan dijumpai adalah berburu terutama di kawasan Pulau Peling daerah pedalaman.[5]

Rujukan[sunting | sunting sumber]