Suku Ogan
| |||||||||||||||||||||||||
| Daerah dengan populasi signifikan | |||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 720.000[1] | |||||||||||||||||||||||||
| • | 500.000 | ||||||||||||||||||||||||
| Bahasa | |||||||||||||||||||||||||
| Ogan (utama), Melayu Palembang | |||||||||||||||||||||||||
| Agama | |||||||||||||||||||||||||
| Kelompok etnik terkait | |||||||||||||||||||||||||
| Lampung, Komering, Besemah, Melayu Palembang | |||||||||||||||||||||||||
Suku Ogan (bahasa Ogan: Hang Ugan, Jeme Ugan; Surat Ulu (aksara Ogan): ꤺꤸ ꥆꥈ ꤱꥐ) adalah salah satu kelompok etnis yang mayoritas bermukim di Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Lampung. Masyarakat suku Ogan tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ulu (Baturaja, Ulu Ogan, Semidang Aji, Lubuk Batang, Peninjauan, Pengandonan), Kabupaten Ogan Komering Ilir (Muara Baru, Anyar dan Banding Anyar), Kabupaten Ogan Ilir (Kecamatan Muara Kuang) di sepanjang aliran Sungai Ogan (Ayakh Ugan) dan juga terdapat kantong populasi kecil di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (Tugu Harum Belitang, Mendah dan Martapura).
Selain di Sumatera Selatan, Suku Ogan dapat dijumpai dalam jumlah yang besar di Provinsi Lampung, yang meliputi Kabupaten Way Kanan (Way Tuba, Banjit dan Kasui), Lampung Utara (Kotabumi, Bukit Kemuning dan Ogan Lima), Pesawaran (Tegineneng), Lampung Barat (Sukau), Lampung Selatan, Kota Metro dan Lampung Timur. Jumlah populasi suku Ogan pada sensus terakhir (tahun 2010) diperkirakan sebanyak 720.000 orang.
Asal-usul
Berdasarkan buku De Palembangsche Marga oleh Van Royen (1927), Eenige Bijzonderheden Omtrent Palembang oleh C.F.G. Praetorius (1843), Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië vol. 20 oleh Achtste Jaargang (1846) serta Bermukim di Tepian Sungai Ogan : Etnografi Masyarakat dan Budaya Ogan di Pengandonan oleh Zainal Arifin dkk. (2019). Gelombang masyarakat suku Ogan pertama dan tertua berasal dari wilayah Gunung Seminung-Pesagi pada abad ke-14 dengan pemukiman pertama berada di Ulu Tenggayak yang kini berada di wilayah administrasi Desa Mendingin, Kecamatan Ulu Ogan, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Dari wilayah ini masyarakat Ogan pertama melakukan pembukaan rimba untuk pemukiman (nyusuk). Dari keturunan ini melahirkan orang-orang Ogan klasik/pertama yang meliputi kemargaan Temenggungan (Ulu Ogan), Samikerian (Pengandonan), dan Aji (Semidang Aji). Dari keturunan inilah juga mereka mempelopori keadatan Ogan dan masih memelihara kesenian asal mereka yaitu kesenian Nyambai, Ngigal, dan Kulintangan. Di masa ini terjadi perubahan kultural yang sangat signifikan terutama dalam bahasa dan budaya generik, yaitu masyarakat Ogan menganut bahasa Melayu Tengah sehubungan dengan interaksi dan permasalahan wilayah mereka dengan orang-orang Besemah.[2][3][4]
J.W. Van Royen dalam bukunya Adatverband en bestuurshervorming in Zuid-Sumatra (1932) menulis keberadaan migrasi orang rumpun Lampung yang datang dari Ranau yang masih merupakan wilayah Seminung-Pesagi[5]:
“Aan de midden Ogan had de uitstrooming uit het Ranauhoogland de Ogan bereikt in de marga's (vermoedelijk genealogische eenheden, zooals overal elders in het Lampoengs sprekende gebied). Al deze uitzwermingen schijnen direct of indirect uit de boeai Adji in Moeara Doea te zijn gekomen.” (Di wilayah Ogan Tengah, penyebaran dari dataran tinggi Ranau telah mencapai daerah Ogan dalam bentuk marga-marga, yang diduga merupakan satuan-satuan genealogis seperti di daerah penutur bahasa Lampung lainnya. Semua penyebaran ini tampaknya, baik langsung maupun tidak langsung, berasal dari Buay Adji di Muara Dua.)

Gelombang selanjutnya datang dari rombongan orang-orang Bangkahulu/Sungai Serut/Bengkulu yang melalui wilayah Ulu Tenggayak dan berakhir bermukim di wilayah Ogan Tengah yang menjadi marga Semidang Alun II Suku III, kini menjadi wilayah Semidang Aji. Berdasarkan silsilah dan hikayat marga ini, mereka adalah keturunan dari Raden Cili Mangkusa atau R. Kasegeni, anak penguasa Bangkahulu yaitu Ratu Agung. Marga ini tersebar dari desa Ulak Pandan sampai ke Pandan Dulang.
Van Royen (1932) turut mencatat sebuah interaksi dan perpaduan antara marga-marga atau buay Lampung yang hadir pertama dengan hadirnya pengaruh dan migrasi orang-orang keturunan Semidang (orang Rejang yang membawa budaya Besemah) di wilayah Suku Ogan awal. Hal ini tertulis dalam kutipan sebagai berikut[6]:
"Het, naar afkomst oorspronkelijke Lampoengsche Ogangebied, lag binnen de sfeer der Pasemahsche uitstrooming, en werd geheel ver„persemah"t." (Wilayah Ogan yang asal-usulnya dari orang Lampung, terletak dalam lingkup pengaruh ekspansi/penyebaran orang Pasemah, dan menjadi sepenuhnya ‘dipasemahkan’.)
Selain itu, Royen juga mencatat interaksi kedua kelompok masyarakat ini kemudian menghasilkan sebuah etnis yang tidak murni Lampung dan tidak murni Besemah, sehingga melahirkan suatu kelompok masyarakat dengan identitas tersendiri yaitu Suku Ogan. Menurut Royen, perpaduan ini merupakan yang terunik yang dijumpai di Sumatera Selatan[7].
De kern van deze groep is eveneens een Semidang uitzwerming. Later groeide zij uit en assimileerde al groeiende de Lampoengsche marga's in het midden Ogandal.
Tot aan de vroeger Lampoengsche nu geassimileerde marga's Adji, terwijl het nog meer stroomafgelegen Semidang Aloen Doea haar naam dankt aan een rechtstreeksche uitzwerming van Semidang.
(Inti kelompok ini juga merupakan suatu penyebaran/diaspora orang Semidang. Kemudian kelompok itu berkembang dan, sembari berkembang, mengasimilasi marga-marga Lampung di wilayah Ogan Tengah.
Sampai kepada marga-marga Adji (Aji Ogan) yang dulu Lampung namun kini sudah terasimilasi, sedangkan Semidang Alun Dua yang lebih jauh di hilir mendapatkan namanya dari suatu penyebaran langsung dari Semidang.)
Setelah itu, orang-orang Ogan pertama ini kemudian melakukan penyebaran hingga ke wilayah Muara Kuang (Ulakan) seiring dengan padatnya wilayah Ogan Ulu. Dalam perjalanan waktu, wilayah Ogan Ulakan mengalami kedatangan baru baik dari wilayah Rambang, Palembang, dan Jawa. Contohnya, Desa Lubuk Rukam yang leluhurnya berasal dari Demak (Jawa), Desa Saung Naga Peninjauan dari Rambang Niru, Kelampadu dan Lubuk Batang dari Palembang. Beberapa desa di Ogan ada yang datang dari wilayah Besemah seperti desa Panggal-panggal tetapi kedatangan mereka jauh lebih belakangan dan tidak sebanyak pemukim awal. Seiring waktu, mereka berasimilasi dengan pemukim awal dan mengadopsi adat, kesenian, dan budaya Ogan.[8][9]
Merunut kepada temuan arkeologis di Gua Harimau, salah satu peninggalan zaman purba di wilayah Sumatera Selatan, menunjukkan bahwa peradaban disekitar Sungai Ogan sudah berumur puluhan ribu tahun, bahkan diperkirakan telah ada sejak masa zaman es. Penghuni gua-gua purba ini, awalnya merupakan komunitas Ras Australomelanesoid. Berdasarkan Buku Gua Harimau dan Perjalanan Panjang Peradaban OKU (2015), hubungan masyarakat di Gua Harimau dan pemukim-pemukim Ogan modern seperti Marga Aji masih belum ditemukan kaitan keturunan yang pasti mengingat rentang waktu di antaranya kedua peradaban sangatlah jauh.[10]
Wilayah persebaran


Suku Ogan memiliki persebaran yang sangat luas, umumnya mereka menyebar di Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Lampung. Meskipun mayoritas Suku Ogan berada di wilayah administratif Kabupaten Ogan Komering Ulu, tetapi wilayah adat Suku Ogan (Ogan Ulu) jauh lebih besar dari kabupaten OKU sendiri.
Kabupaten Ogan Komering Ulu
Kabupaten Ogan Komering Ulu terletak 200 km ke selatan dari Kota Palembang. Kabupaten ini berpusat di Kota Baturaja. Mayoritas penduduk OKU merupakan petani kopi dan karet. Mayoritas Suku Ogan bermukim dan tinggal di kabupaten ini dan merupakan satu-satunya kabupaten mayoritas Suku Ogan di Sumatera Selatan. Suku Ogan sendiri dapat ditemui hampir di semua kecamatan atau marga di OKU selain Kecamatan Sosoh Buay Rayap dan Lengkiti yang merupakan wilayah Suku Komering dan Daya terutama di pinggiran Sungai Ogan. Beberapa kecamatan dan desa yang merupakan daerah Suku Ogan antara lain:[12]
| No | Kecamatan | Desa/Kelurahan | Marga |
|---|---|---|---|
| 1 | Ulu Ogan | Kelumpang | Temenggungan |
| Gunung Tiga | |||
| Pedataran | |||
| Sukajadi | |||
| Mendingin | |||
| Ulak Lebar | |||
| Belandang | Samikerian | ||
| 2 | Muara Jaya | Lontar | Temenggungan |
| Kemala Jaya (Ampakh-Ampakh) | |||
| Karang Lantang | Samikerian | ||
| Muara Saeh | |||
| Surau | |||
| Lubuk Tupak | |||
| Beringin | |||
| 3 | Pengandonan | Gunung Meraksa | Samikerian |
| Tanjung Pura (Pelawe) | |||
| Belambangan | |||
| Tanjung Sari (Sebaya) | |||
| Gunung Liwat | |||
| Tangsi Lontar | |||
| Kesambirata (Blang Babi) | |||
| Pengandonan | |||
| Ujan Mas | |||
| Semanding | |||
| Tanjungan | |||
| Gunung Kuripan | Aji | ||
| 4 | Semidang Aji | Tanjung Kurung (Lentipeh) | Aji |
| Sukarami (Kutepadang) | |||
| Nyiur Sayak (Perugaian) | |||
| Batanghari | |||
| Sukamerindu (Sekucing) | |||
| Padang Bindu | |||
| Bedegung | Semidang Alun II Suku III | ||
| Panggal-Panggal | |||
| Kebun Jati | |||
| Ulak Pandan | |||
| Keban Agung | |||
| Tubohan | |||
| Tebing Kampung | |||
| Raksa Jiwa | |||
| Pengaringan (Senafal) | |||
| Seleman | |||
| Singapura (Asam Kelat) | |||
| Banjar Sari (Sukedane) | |||
| Pandan Dulang | |||
| 5 | Baturaja Barat | Air Gading | Bindung Langit Lawang Kulon |
| Batukuning | |||
| Tanjung Agung | |||
| Saung Naga | |||
| Batuputih | |||
| Karang Agung | |||
| Karang Endah | |||
| Laya (Halaye) | |||
| Pusar (Pusakh) | |||
| Sukamaju | |||
| Tanjung Karang | |||
| 6 | Baturaja Timur | Baturaja Lama | Bindung Langit Lawang Kulon |
| Kemalaraja | |||
| Pasar Baru | |||
| Sukajadi | |||
| Sekar Jaya | |||
| Air Paoh | |||
| Tanjung Baru | |||
| Terusan | |||
| Tanjung Kemala | |||
| 7 | Lubuk Batang | Air Wall | Lubuk Batang |
| Bandar Agung | |||
| Banuayu | |||
| Belatung | |||
| Gunung Meraksa | |||
| Kartamulia (Kurungan Nyawe) | |||
| Kurup | |||
| Lubuk Batang Baru | |||
| Lubuk Batang Lama | |||
| Lunggaian | |||
| Markisa | |||
| Merbau | |||
| Tanjung Dalam | |||
| Tanjung Manggus | |||
| 8 | Peninjauan | Bindu | Marga Perwatin IV |
| Belimbing | |||
| Durian | |||
| Karang Dapo | |||
| Kedondong | |||
| Kepayang | |||
| Lubuk Rukam | |||
| Mendala | |||
| Peninjauan | |||
| Saung Naga | |||
| 9 | Kedaton Peninjauan Raya | Kedaton | Marga Ngabehi IV |
| Kedaton Timur | |||
| Sinar Kedaton | |||
| Kampai | |||
| Bunglai | |||
| Lubuk Kemiling | |||
| Rantau Panjang | |||
| Sukapindah | |||
| 10 | Lubuk Raja | Untuk di Kecamatan Lubuk Raja, Suku Ogan cukup tersebar dan berbaur dengan masyarakat transmigran Jawa dan Bali. Semenjak 1970an, daerah Lubuk Raja sendiri merupakan daerah kosong yang dijadikan pemukiman untuk masyarakat transmigrasi. | Marga Ngabehi IV, Perwatin IV, Lubuk Batang & Bindung Langit Lawang Kulon |
| 11 | Sinar Peninjauan | Untuk di Kecamatan Sinar Peninjauan, Suku Ogan cukup tersebar dan berbaur dengan masyarakat transmigran Jawa dan Bali. Semenjak 1970an, daerah Lubuk Raja sendiri merupakan daerah kosong yang dijadikan pemukiman untuk masyarakat transmigrasi. | Marga Ngabehi IV & Perwatin IV |
Kabupaten Ogan Ilir
Kabupaten Ogan Ilir sendiri merupakan kabupaten yang terletak di antara Kota Palembang dan Kabupaten Ogan Komering Ulu. Masyarakat Suku Ogan sendiri hanya ditemui di dua kecamatan yang terdapat di hulu Sungai Ogan, yaitu Kecamatan Lubuk Keliat dan Kecamatan Muara Kuang. Persebarannya antara lain :
- Kecamatan Muara Kuang
- Desa Kelampadu
- Desa Kasah
- Desa Kuang Anyar
- Desa Muara Kuang
- Desa Munggu
- Desa Nagasari
- Desa Rama Kasih
- Desa Rantau Sialang
- Desa Seri Kembang
- Desa Seri Menanti
- Desa Suka Cinta
- Desa Sukajadi
- Desa Tanabang Ilir
- Desa Tanabang Ulu
- Kecamatan Lubuk Keliat
- Desa Lubuk Keliat
- Desa Embacang
Pembagian
Berdasarkan hunian masyarakat sepanjang hulu sungai Ogan, suku Ogan dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu suku Ogan Ulakan dan Ogan Uluan.[13]
Suku Ogan Ulakan (Hilir)
Suku Ogan ini menghuni wilayah sepanjang aliran sungai Ogan bagian hilir. Suku Ogan ini terbagi atas 5 Marga (Marge) utama, yaitu Marga Bindung Langit Lawang Kulon, Lubuk Batang, Perwatin IV Suku I, Ngabehi IV dan Muara Kuang. Masyarakat Ogan di Hilir memiliki pengaruh kebudayaan yang kuat dari Melayu Palembang (vermalesicht). Suku Ogan Ulakan merupakan sub-suku yang memiliki persebaran terluas di Lampung. Umumnya berasal dari Desa Kedaton dan Lubuk Rukam.
Suku Ogan Uluan (Hulu)
Suku Ogan ini menghuni wilayah sepanjang aliran sungai Ogan bagian hulu hingga aliran tengah. Suku Ogan ini terbagi atas 4 Marga (Marge) utama, yaitu Marga Temenggungan, Samikerian, Semidang Alun II Suku III dan Aji. Masyarakat Ogan di hulu memiliki pengaruh kebudayaan yang kuat dari budaya Besemah dengan dasar kebudayaan dari Seminung-Pesagi (Lampung). Masyarakat ini diyakini sebagai masyarakat paling tua dan hadir pertama kali di wilayah Ogan. Suku Ogan Uluan merupakan sub-suku yang masih kental akan kebudayaan Austronesia asli seperti pada kesenian Ngigal, Nyambai, dan Kenong khas Ogan yang masih berakar pada kesenian masyarakat Seminung-Pesagi.
Struktur masyarakat
Pada masyarakat Ogan terdapat beberapa struktur masyarakat antara lain punduk, dangau, talang, dusun, pasar, kute, dan marge. Suku Ogan sendiri tidak memiliki dewan adat yang menaungi semua Suku Ogan dan masih terbatas pada dewan adat dusun dan marge sendiri.[14]
Talang & Dusun

Struktur masyarakat Suku Ogan yang terkecil dimulai dari sebuah Talang. Talang sendiri merupakan perkumpulan beberapa punduk dan dangau (rumah pondok) yang masih belum memiliki fasilitas yang memadai, biasanya sebuah talang beranggotakan beberapa orang yang masih dalam satu keluarga besar. Talang pada umumnya juga terdapat ladang dan juga sawah sebagai sumber mata pencaharian.
Ketika suatu talang sudah mulai ramai penduduknya dan diisi oleh banyak keluarga, maka akan terbentuklah sebuah pemukiman Dusun (Desa). Dusun sendiri merupakan perkumpulan dari beberapa talang yang memiliki persamaan dasar kebutuhan, kekeluargaan dan sejarah berdirinya. Dusun memiliki persyaratan antara lain terdapat bangunan timbokan atau khumah tinggi, sebuah masjid atau tempat peribadatan dan makam seorang pendiri dusun atau puyang. Sistem Dusun dalam masyarakat Ogan sama saja seperti desa-desa pada umumnya.
Pola pemukiman Dusun dalam masyarakat Ogan lebih berbeda daripada etnis-etnis lainnya di Sumatera Selatan. Pola pemukiman dusun Ogan lebih linear dan sejajar mengikuti aliran sungai. Jarak antar rumah dibuat berdekatan dan tidak berpagar, serta tidak ada susunan hierarkis di antar rumah-rumah yang ada.[15]
Secara ekonomi, dusun di Ogan mengandalkan pasar tumpah atau kalangan dalam menjalankan perputaran roda perekonomian.
Dusun pada masyarakat Ogan bersifat mandiri. Setiap dusun memiliki aturan adat dan pantangan masing-masing serta tidak saling mencampuri atau mengetahui urusan-urusan dusun lainnya. Selain itu, dusun di Ogan memiliki dewan adat sendiri dalam menjalankan roda kehidupan sehari-hari. Dalam melakukan hubungan dengan dusun Suku Ogan yang lain, maka harus dikirim seorang utusan atau menghubungi pesirah. Sistem dusun di Ogan seperti negara-negara kecil, mirip dengan nagari-nagari di Minangkabau, huta-huta di Batak Toba dan negara-kota Yunani.
Pasar
Pasar dalam struktur masyarakat Ogan adalah sebuah pusat keramaian di atas dusun. Selain menjadi sebuah pusat keramaian, dusun yang telah menjadi sebuah pasar umumnya dijadikan sebagai ibukota dari sebuah marga (marge). Pasar sendiri dalam masyarakat Ogan terdapat sebuah aktivitas perekonomian sendiri yang tidak terlalu bergantung dengan adanya pasar tumpah atau kalangan. Permasalahan sosial masyarakat di pasar akan jauh lebih kompleks.
Kute
Kute atau Kota merupakan perkembangan selanjutnya dari sebuah pasar. Struktur kute sendiri merupakan yang tertinggi dalam masyarakat Ogan dan tidak semua pasar Suku Ogan dapat berkembang menjadi sebuah kute. Kute sendiri ditandai dengan kompleksnya sosial budaya seiring dengan padatnya penduduk dan meningkatnya populasi. Pada struktur kute, masyarakat cenderung lebih heterogen di mana Suku Ogan juga hidup berdampingan dan berinteraksi dengan etnis-etnis pendatang.
Kute sendiri juga menjadi pusat perekonomian dan perdagangan yang paling pesat serta menjadi pusat roda politik dan sosial budaya. Satu-satunya contoh Kute yang sukses didirikan oleh Suku Ogan adalah Kota Baturaja.
Marge
Marge atau Marga adalah salah satu sistem pemerintahan tradisional di Uluan dengan struktur dan aturan yang berlaku di Sumatera Selatan. Pada masyarakat Ogan, marge sendiri ditentukan berdasarkan jurai (keturunan), kesamaan bahasa dan lain-lain. Sebuah marge Ogan menaungi beberapa dusun di bawahnya baik secara genealogis maupun kewilayahan. Khusus marge di Ogan Uluan, mereka adalah marge yang bersifat genealogis karena menyesuaikan hadirnya buai-buai keturunan Lampung yang pertama hadir di sana[5], sementara di Ogan Ulakan lebih bersifat teritorial. Pada suatu marge Ogan dijabat oleh seorang pesirah yang dipilih secara demokratis, meskipun status pesirah ini diteruskan jabatannya ke anak cucunya.
Suku Ogan memiliki beberapa marge dan sampai sekarang ini masih dijaga sebagai wujud pelestarian identitas dan budaya. Beberapa orang Ogan pun bahkan menyematkan nama marga di belakang namanya seperti marga Samikerian. Marge-marge Ogan tersebut antara lain :
- Marge Temenggungan (Ulun Ogan & Muara Jaya, OKU)
- Marge Samikerian (Ulu Ogan & Pengandonan, OKU)
- Marge Aji (Pengandonan & Semidang Aji, OKU)
- Marge Semidang Alun II Suku III (Semidang Aji, OKU)
- Marge Bindung Langit Lawang Kulon (Baturaja Barat & Baturaja Timur, OKU)
- Marge Lubuk Batang (Lubuk Batang, OKU)
- Marge Perwatin IV (Peninjauan, OKU)
- Marge Ngabehi IV (Kedaton Peninjauan Raya, OKU)
- Marge Muarakuang (Muara Kuang dan Rambang Kuang, Ogan Ilir)
- Marge Way Tube (Way Tuba, Way Kanan, Lampung)
Budaya
Mayoritas masyarakat suku Ogan adalah pemeluk agama Islam, meskipun terdapat juga sebagian kecil penduduk yang memeluk agama Kristen Katolik [diragukan ]. Masyarakat suku Ogan yang Muslim adalah pemeluk Islam yang taat. Sehingga hampir seluruh budaya dan adat-istiadat mereka dipengaruhi oleh budaya Islam dan Melayu. Hal ini terlihat dari beberapa tradisi yang telah mereka miliki sejak lama.
Pernikahan

Pada dasarnya terdapat 3 ketentuan adat mengenai Pernikahan dalam masyarakat Suku Ogan yaitu Belaki Bebini, Kambik Anak, dan Senak Anak.[16] Belaki atau Bebini merupakan konsep patrilineal Suku Ogan ketika sang istri setelah pernikahan (payuan) akan tinggal bersama dengan keluarga suami, biasanya sang suami harus menyediakan daigadaian/uang jujur. Kambik Anak adalah konsep matrilineal Suku Ogan ketika sang suami setelah menikah akan tinggal bersama keluarga istri, biasanya Kambik Anak disebabkan karena sang suami tidak berkecukupan atau bisa karena sang istri merupakan tulang punggung penting dan lebih berpengaruh. Dan Senak Anak merupakan konsep bilateral antar dua keluarga suami dan istri di mana mereka membina rumah tangga sendiri dan meneruskan keturunan kepada anaknya yang akan mewarisi darah kedua jurai.
Tercatat ada beberapa tradisi unik dari setiap masyarakat suku Ogan di wilayah manapun mengenai pernikahan. Beberapa di antaranya seperti Hajat Batin, Ngukus, Pengadangan, Ningkuk, dan lain-lain.
Hajat Batin dan Ngukus merupakan perayaan yang dilakukan oleh masyarakat jelang pernikahan. Hajat Batin adalah acara bagi laki-laki dalam suatu kampung yang utamanya bapak-bapak untuk melakukan kegiatan penunjang jelang upacara pernikahan. kegiatan yang dilakukan adalah bahu membahu mendirikan tenda dilokasi acara. Ada dua jenis tenda yang mereka dirikan. Tenda pertama adalah tenda utama untuk gelaran resepsi atau sedekah. Tenda kedua adalah tenda yang kelak akan dipakai oleh para rebai (hebai/ibu ibu) dalam aktivitas Ngukus. Ngukus sendiri adalah acara bagi perempuan, utamanya bagi ibu-ibu, untuk menyiapkan bahan makanan untuk keluarga besan dan para tetamu yang kelak hadir dalam acara sedekah atau resepsi. Hingga saat ini tradisi ini masih sering ditemukan di beberapa wilayah kediaman suku Ogan, yang tujuannya adalah menjalin erat silaturrahmi sesama warga masyarakat.


Pengadangan adalah perayaan unik menjelang akad nikah dilangsungkan, yang cara melakukannya adalah dengan berusaha menghalang-halangi pengantin pria dengan menggunakan sebuah selendang panjang. Agar bisa melewati selendang tersebut, mempelai pria beserta rombongannya harus memenuhi apa saja permintaan dari mempelai wanita. Selain sebagi bentuk penghormatan, pengadangan juga dilaksanakan untuk mempererat silaturahmi antar dua keluarga yang akan disatukan dalam suatu pernikahan. Dalam prosesi pengadangan, pihak mempelai pria akan diiringi dengan tetabuhan rebana, dan tidak lupa membawa berbagai barang seserahan yang diinginkan oleh mempelai wanita. Pada saat pengadangan dibutuhkan seorang juru bicara yang berasal dari pemangku adat yang bertugas untuk meyakinkan pihak mempelai wanita. Setelah persetujuan disepakati kedua belah pihak, kemudian dilanjutkan dengan prosesi akad nikah. Setelah akad nikah diucapkan, dan kedua mempelai telah sah secara adat dan hukum negara, pesta pernikahan kemudian dimeriahkan dengan tarian penghibur pengantin.[17][18]

Sementara Ningkuk adalah perayaan menjelang akad pernikahan lainnya, yang merupakan salah satu kebudayaan yang masih ada khususnya di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu. Berbeda dengan Pengadangan, yang mengikuti dan melaksanakan acara Ningkuk adalah pemuda dan pemudi yang merupakan sahabat atau kerabat dari kedua mempelai pengantin. Perbedaan lainnya adalah saat datang ke acara Ningkuk, pemuda harus menjemput dan meminta izin pada orang tua pemudi yang diajaknya ke acara Ningkuk. Setelah acara selesai, pemuda itu harus mengantarkan pulang kembali pemudi yang diajaknya ke acara Ningkuk tadi. Pelaksanaan tradisi Ningkuk biasanya dimulai setelah acara resepsi pernikahan dilaksanakan. Tradisi ini awalnya dilakukan dengan dikumpulkannya pemuda dan pemudi yang memiliki hubungan dekat (dalam hal ini teman atau sahabat, bisa juga kerabat) dengan kedua mempelai. Setelah itu mereka dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri atas kelompok pemuda dan kelompok pemudi. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini melibatkan kedua mempelai yang berperan sebagai raja dan ratu serta seorang moderator yang menjadi pemandu acara yang menjelaskan aturan Ningkuk tersebut sebelum dimulai. Dalam pelaksanaannya, tiap kelompok pemuda dan pemudi akan diberikan sarung, yang nantinya akan diberikan secara bergantian antar kelompok. Pada saat prosesi tukar menukar sarung, sebagai penentu atau acuan waktu akan diputar sejumlah lagu, yang jumlahnya bisa satu atau lebih. Ketika kemudian lagu dimatikan, maka pemuda dan pemudi yang memperoleh sarung paling akhir akan diberikan hukuman oleh kedua mempelai. Hukuman tersebut dapat berupa menyanyi, berjoget, pantun, puisi, dan sebagainya. Pada saat acara akan memasuki bagian akhir, pemuda diperbolehkan untuk menyatakan perasaannya pada pemudi idamannya yang hadir pada ritual tersebut. Jika tidak dapat menyampaikannya secara langsung, pemuda tersebut dapat juga melakukannya dengan memberikan surat yang nantinya akan disampaikan oleh moderator.[19]
Bahasa

Bahasa Ogan merupakan rumpun Bahasa Melayik yang dituturkan oleh masyarakat Ogan baik di Sumatera Selatan dan kantong wilayah diaspora-diaspora Ogan lainnya. Secara kekerabatan, Bahasa Ogan masih satu rumpun dengan Bahasa Besemah-Semende dalam keluarga Melayu Barisan Selatan meskipun tidak sama persis. Bahasa Ogan merupakan bahasa komunikasi utama yang dipakai dalam setiap acara adat Ogan sampai bertutur sehari-hari.
Bahasa Ogan saat ini masih dituturkan sekitar 69% Suku Ogan atau sekitar 500.000 ribu jiwa. Keunikan dari bahasa ini adalah dapat dijumpai banyaknya sinonim yang digunakan untuk kondisi-kondisi serta norma moral (kesopanan) tertentu, hal ini tidak dijumpai dalam Bahasa Besemah-Semende. Selain itu juga, banyak kosakata Bahasa Ogan yang hanya ditemukan ekslusif di Bahasa Ogan dibandingkan bahasa etnis di sekitarnya. Contoh, seperti kata Gerewe yang berarti "Bercanda yang buruk" dan Pikh-Ampikh yang berarti "Compang-camping".
Secara logat, Bahasa Ogan mengikuti aliran Sungai Ogan, semakin ke hulu logat Bahasa Ogan akan semakin keras dan tegas sementara semakin ke hilir logat Bahasa Ogan akan semakin halus dan mendayu-dayu. Meskipun seperti itu, masyarakat Ogan masih dengan mudah untuk memahami satu sama lain.
Sebelum pertengahan abad ke-20, Masyarakat Ogan masih memiliki tulisan asli yang bernama Surat Ulu atau Surat Ugan dalam urusan hukum perdata sampai tulisan sehari-hari. Sampai kemudian perlahan-lahan tergantikan oleh aksara Latin atau Urup Laten. Aksara ini sempat diajarkan di sekolah-sekolah di Ogan Komering Ulu sepanjang mendekati awal tahun 2000-an sampai kemudian dihapus. Namun pada awal tahun 2020, Pemerintah Ogan Komering Ulu mulai membangkitkan lagi pembelajaran Surat Ulu dan Bahasa Ogan untuk sekolah dasar dan menengah.[20][21]


Sastra Lisan
Masyarakat Ogan memiliki sastra tutur lisan yang sangat kaya, terdapat 3 (tiga) sastra utama asli Suku Ogan antara lain Jelihiman, Rendai dan Jang-Panjang.[22] Jelihiman merupakan sastra tutur lisan berupa syair yang menceritakan epos-epos, legenda dan kisah-kisah orang-orang hebat di masa lampau, kesenian ini sudah punah di Ogan walau begitu sudah tercatat untuk keperluan penelitian linguistik. Rendai merupakan sastra lisan menyerupai pantun bernada, ciri khas dari Rendai dapat ditemukan pada kalimat pembuka yang berbunyi "Endeng Endeng". Kesenian Rendai kini lebih umum ditemukan pada acara pernikahan Suku Ogan yang berada di wilayah Semidang Aji, Baturaja sampai ke Lubuk Batang di Ogan Komering Ulu. Jang-Panjang merupakan sastra tutur berupa syair yang dilantunkan panjang-panjang, biasanya Jang-Panjang dilakukan ketika sedang berkebun untuk melepaskan rasa bosan dan jenuh.
Selain tiga sastra lisan di atas, terdapat juga Ungguk-Ungguk atau pantun 4 baris dan Andai-Andai yang berupa dongeng dan kisah legenda yang memiliki makna sejarah dan moral yang dalam.
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat dalam budaya Ogan dikenal dengan sebutan Andai-Andai. Di setiap dusun (desa) dan marga Suku Ogan memiliki kekayaan cerita rakyatnya masing-masing. Tujuan terlahirnya Andai-Andai dalam budaya Ogan sendiri adalah sebagai media pengenalan bagi penerus jurai Suku Ogan mengenai budaya dan kearifan lokal di daerahnya. Salah satu yang terkenal adalah kisah Putri Dayang Merindu dan Si Pahit Lidah mengenai asal muasal Gua Puteri di Desa Padang Bindu, Semidang Aji, Ogan Komering Ulu.[23] Cerita Rakyat di Suku Ogan terbagi atas empat cerita utama, yaitu tentang asal muasal daerah atau desa, tokoh-tokoh kepuyangan, asal muasal suatu tradisi dan hewan atau makhluk-makhluk mistis dan ajaib. Ada beberapa dari cerita rakyat Suku Ogan ini memiliki kaitan dengan hal luar angkasa, seperti Andai-Andai Asal Usul Desa Durian yang berkaitan dengan jatuhnya meteor yang disangka sebagai durian raksasa jatuh yang kelak menjadi nama Desa Durian, Kecamatan Peninjauan, Ogan Komering Ulu.[24]
Senjata Tradisional

Senjata khas dari Suku Ogan antara lain Tumbuk Lade (sejenis badik), Kekhis (Keris), Kujur (Tombak), Gerahang (Parang), Beliyung (Kapak) dan berbagai jenis pisau seperti Sungkur, Uncoh, Lading dan Landai.
Tari Tradisional
Dalam budaya Suku Ogan, terdapat 4 jenis tarian utama yang sangat unik dan melekat pada identitas Suku Ogan, yaitu Nyambai, Ngigal, Dane, dan Ngibing.[25] Tari Nyambai merupakan tarian tertua dalam adat Ogan, tarian ini dipentaskan oleh perempuan Suku Ogan. Tari Nyambai ini biasanya ditemukan acara-acara kebesaran Suku Ogan seperti panen buah, acara pernikahan, dan penyambutan tamu-tamu agung yang datang. Tarian ini memiliki gerakan yang sederhana tetapi sakral. Nyambai ditarikan oleh 2 sampai dengan 8 orang perempuan, gerakannya sendiri meliputi perpindahan dan lambaian tangan, perpindahan pola gerak kaki, dan minim sekali gerakan badan. Tarian ini memiliki durasi yang tidak menentu dalam pelaksanaannya, dalam pakem tertentu terkadang dapat dilakukan sehari semalam.

Perlengkapan musik pada tari Nyambai terdiri atas bendi (gong), burdah atau jidur (gendang), kulintangan atau gambelang (gamelan), tawak-tawak (gong kecil), tukgetuk atau tumbe (kentongan raksasa), dan terkadang menghadirkan alat musik gesek seperti rebab sebagai harmonisasi. Perlengkapan pakaian untuk penari Nyambai terdiri atas baju beludu atau kelambi anjang, mahkota tajuk suhun atau pilis, beringin, kalung kuku macan, kalung anak ayam, kain sarung tumpal, kuku tanggai, kain sampang atau sungkit, dan ikat pinggang logam atau benting.
Tari Ngigal merupakan tarian Ogan lama yang umum dipentaskan oleh laki-laki Suku Ogan. Tarian ini memiliki gerakan yang lebih lincah dan banyak variasi. Biasanya, tarian ini bisa dilakukan secara berkelompok yang terdiri atas 2 sampai dengan 8 orang laki-laki dalam formasi berbaris maupun melingkar. Selain itu, tari Ngigal boleh ditampilkan bersamaan dengan kesenian bela diri Kuntau serta juga bisa dipentaskan bersama tari Nyambai yang disebut bagai tari Nyambai Ngigal. Pada tari Nyambai Ngigal, penari laki-laki akan menari mengelilingi penari perempuan. Tarian ini melambangkan sebagaimana sepasang burung enggang yang mana burung enggang jantan mengitari burung enggang betina saat terbang bersama, memiliki filosofi yang sangat erat akan nilai harmoni dan kesetiaan. Perlengkapan musik untuk penampilan Ngigal masih sama dengan penampilan Nyambai. Perlengkapan pakaian untuk laki-laki penari Ngigal sangat sederhana, yaitu berupa ikat kepala berupa semutar dan kuncup (tanjak Ogan), kalung kuku macan, baju putih, dan kain sarung tumpal.
Kini, penampilan Nyambai dan Ngigal sangat sulit dijumpai kembali sebagai kesenian komunal di seluruh wilayah Suku Ogan. Kesenian tarian vernakular dari etnis ini hanya dapat ditemukan di tempat tertentu saja yang masih melestarikan adat lama Ogan. Beberapa di antara masih tersebar pada beberapa desa di Kecamatan Ulu Ogan (Belandang, Mendingin, Ulak Lebar, Gunung Tiga, dan Kelumpang), Kecamatan Pengandonan (Ujan Mas dan Gunung Kuripan), dan Semidang Aji (Tanjung Kurung) di Kabupaten Ogan Komering Ulu.
Tari Dane merupakan tarian Suku Ogan yang mendapatkan pengaruh dari penyebaran agama Islam dan budaya Melayu Pesisir yang masuk ke Uluan Ogan. Tarian ini merupakan transformasi dari tari Bedana atau tari Zapin yang sangat populer ditemui pada budaya Melayu klasik. Namun, tari Dane ini sendiri kemudian disesuaikan dengan batasan aturan-aturan adat yang dijalankan pada Suku Ogan. Penyesuaian tersebut antara lain tarian ini hanya dibatasi untuk dilakukan oleh penari perempuan, tidak ada gerakan menunduk dan menunjukkan lekuk badan, dan gerakannya hanya diperbolehkan pada kelincahan gerakan kaki dan tangan. Penampilan tari Dane dapat ditemukan pada acara yang lekat dengan tradisi Islam, seperti acara akikahan atau marhaba (aqiqahan) dan peringatan hari-hari besar agama Islam. Perlengkapan musik yang dipakai pada pelaksanaan Dane terdiri atas piane (akordion), rebana, dan tawak-tawak (gong kecil).
Tari Ngibing atau Tari Undan adalah kesenian tari kelompok yang bertujuan untuk menyambut tamu kehormatan dan pelengkap acara pernikahan (payuan) serta Ningkukan. Jumlah para penari Ngibing tidak terbatas dan dapat diikuti oleh semua orang. Pada tari Ngibing para perempuan baik gadis maupun khebai menari dengan gerakan yang gemulai dan konstan sementara para laki-laki baik bujang maupun batin ikut menari dengan mengibaskan selendang atau undan. Durasi tarian tidak memiliki ketentuan dan disesuaikan dengan kondisi acara, tarian ini ditutup dengan pengalungan selendang atau undan dari pihak laki-laki ke perempuan atau kepada tokoh penting ketika acara penyambutan.
Pada pelaksanaan Ngibing, biasanya tari ini diiringi dengan lagu atau tembang Sarawak yang mengandung rasa sukacita, nasihat dan juga petatah petitih. Perlengkapan instrumen musik yang digunakan antara lain burdah raksasa (gendang khas Suku Ogan), terbangan (rebana), piane (akordion), bendi (gong besar) dan tawak-tawak (gong kecil). Pakaian yang dipakai para penari Ngibing tidak terlalu kaku, sekurangnya para perempuan memakai sungkit atau sampang, memakai kuku tanggai dan sunting khas Ogan, sementara para laki-laki memakai ketupung (songkok) atau kuncup (tanjak Ogan) dan tidak lupa memakai undan.
Kesenian Ngibing ini sangat umum ditemukan dalam semua acara adat Suku Ogan walaupun kini mulai terbatas dan lebih dipentaskan pada acara penyambutan dan pernikahan di Kecamatan Ulu Ogan, Pengandonan dan Muara Jaya di Ogan Komering Ulu.
Berdasarkan catatan C.F.G Praetorius, Residen Palembang, seluruh kesenian tari Ogan ini telah terdokumentasi dengan sangat baik dalam Eenige Bijzonderheden Omtrent Palembang (1843).[26]
Rumah Adat
Secara tradisional, rumah adat Suku Ogan berbentuk rumah panggung. Suku Ogan sendiri menyebut rumah adat mereka dengan sebutan Khumah Ulu atau Khumah Bakhi. Secara bentuk, rumah khas Suku Ogan ini adalah transformasi antara Rumah Limas di hiliran Palembang dan Rumah Baghi khas Besemah.

Rumah Ulu Ogan sendiri berbentuk persegi dengan sudut curam dengan tiang-tiang (sake) yang tidak ditanam melainkan diberikan sejenis ganjalan yang disebut dengan umpak-umpakan atau perigian. Ukuran tiang tersebut berupa kayu gelondongan yang berdiameter 50 cm - 90 cm.
Rumah Ulu Ogan memiliki atap teritisan yang jauh lebih tinggi dari rumah khas kebanyakan etnis-etnis lainnya di Sumatera Selatan dengan kemiringan 55 - 60 derajat. Ukuran luas dari Rumah Ulu Ogan bermacam-macam mulai dari 25 M² sampai dengan 49 M². Rumah ini terbagi atas beberapa ruangan, yaitu Kuruk atau Pemidangan Tengah atau kamar untuk istirahat, Ambin yaitu semacam ruang keluarga atau tempat orang tua untuk memberikan edukasi untuk anak-anak, Paun atau Dapukh yaitu tempat untuk memasak, Jugan atau Luan yang merupakan ruang depan untuk menjamu tamu, Tundan atau semacam tempat untuk mencuci pakaian dan peralatan dapur serta untuk buang air kecil dan Lintut atau Lung-galungan yaitu semacam teras untuk bersantai. Bagian kolong di bawah rumah ini bertujuan untuk meletakkan hewan-hewan ternak atau tempat bekerja bagi sang pemilik rumah.
Pembangunan dari Rumah Ulu Ogan mengikuti prinsip Ulu-Ulak (Hulu-Hilir) dengan mengutamakan orientasi pembangunan ke hilir dan lebih dekat ke sungai. Sebelum dilakukan pemasangan atap, terlebih dahulu ketua adat berkumpul mengadakan sebuah tradisi bernama Naekkan Bumbungan atau Munggahi Bumbungan sebagai syarat pelengkap agar rumah tersebut dapat nyaman untuk ditinggali.
Semenjak dikenal Rumah Panggung model Gudang dan model modern lainnya, Rumah Ulu Ogan ini sudah mulai berkurang jumlahnya di daerah Ogan sendiri (Ogan Komering Ulu), hanya beberapa desa yang masih mempertahankan keaslian dari arsitektur khas Suku Ogan ini seperti Desa Batukuning, Mendala, Pengandonan, Singapura dan Kepayang. Salah satu contoh model asli dari Rumah Ulu Ogan ini dapat dilihat di Museum Balaputeradewa di Kota Palembang.[27][28][29]
Tumpakan Uhang
Tumpakan Uhang (Bahasa Ogan : "Pangkuan Orang") adalah aturan adat (penggawe) penting dalam masyarakat Ogan di mana anak tertua dari orang tua atau penjedi memiliki kewajiban untuk menjaga dan memelihara harta, marwah dan zuriyat keluarga besar. Sistem adat ini mirip dengan Tunggu Tubang pada Suku Semende dan Jurai Anak Lanang pada Suku Besemah. Perbedaan Tumpakan Uhang dalam adat Ogan adalah anak yang mengemban Tumpakan Uhang boleh dari anak laki-laki atau perempuan yang diputuskan dalam musyawarah secara demokratis. Berbeda sekali dengan Tunggu Tubang Semende yang diwajibkan pada anak perempuan tertua (matrilineal) dan Jurai Anak Lanang Besemah yang diwajibkan pada anak laki-laki tertua (patrilineal).
Anak tertua yang diemban untuk menjalankan Tumpakan Uhang memiliki tugas dan kewajiban antara lain menjaga harta benda dan pusaka keluarga, merawat orang tua dan menjadi tempat bernaung orang tua ketika renta, merawat dan memelihara makam (perantuan) para leluhur, menetap di dusun dan tidak boleh pindah rumah, menjaga kehormatan keluarga, memelihara dan meneruskan zuriyat keturunan dan taat serta patuh pada adat istiadat Suku Ogan.[30]
Masakan Khas
Suku Ogan memiliki beragam sekali masakan khas. Salah satu masakan khas yang terkenal dari Suku Ogan adalah Lepat atau Kasuran.[31] Lepat atau Kasuran sangat umum ditemui pada saat Hari Raya Idulfitri (Riaye Agung) sebagai pengganti ketupat pada tiap-tiap sajian rumah Suku Ogan. Selain Kasuran, Suku Ogan mengenal beragam masakan Pindang seperti Pindang Tulang, Pindang Daging dan Pindang Ikan.
Masakan khas Ogan lainnya yang dapat ditemui antara lain Asam (sejenis Tempoyak), gumak, kecepul, hokbus, lempuk, rendang, dan lain-lain.
Wastra

Pada masyarakat Suku Ogan, terdapat dua kelas wastra / tekstil yang digunakan dalam kegiatan adat dan sehari-hari Suku Ogan yaitu Kain Ugan atau Kain Uluan dan Kain Palembang atau Kain Palembangan. Kain Ugan atau Kain Uluan merupakan kain yang diproduksi di wilayah Uluan Ogan yang mempunyai bentuk motif yang unik, etnik, dan ekstotik, sementara Kain Palembangan merupakan kain-kain yang diperoleh dari masifnya perdagangan dari Palembang ke wilayah Suku Ogan, yang mana kehadiran kain dari Palembang ini yang turut menggeser produksi kain lokal Ogan[32]. Secara historis, Kain Ugan banyak diproduksi di wilayah Uluan Ogan mulai dari Kecamatan Pengandonan, Muara Jaya, dan Ulu Ogan di Kabupaten Ogan Komering Ulu, di mana wilayah ini berada posisi yang jauh dan minim dari jangkauan perdagangan dan pengaruh kebudayaan Melayu Palembang. Diperkirakan kain khas Ogan sendiri sudah punah pada awal abad ke-20.
Kain Ugan atau Kain Uluan terbagi atas beberapa jenis utama, antara lain :
- Kain Sungkit Ugan, yaitu berupa kain songket yang memanfaatkan benang emas dan/atau perak pada bidang kain sutra atau katun. Perbedaan Sungkit Ugan dengan ragam songket lainnya adalah kain ini memiliki motif yang jauh lebih sederhana dengan motif yang monoton di tengah kain yang kaya dengan motif bintang segi delapan, motif mata ikan, dan motif jangkar berkait. Pada bagian kedua ujung kainnya terdapat motif padat yang disebut dengan tumpal, di mana terdapat motif pucuk rebung berbaris dan motif garis-garis baik bersambung maupun putus-putus. Sungkit Ugan bisa diakui adiluhung jika ia memakai ikat limar yang rumit di dalamnya, kerumitan ini yang membuat jenis Sungkit Ugan yang memadukan limar hanya dipakai oleh kalangan keluarga pesirah atau pangeran dan orang-orang kaya di Ogan.[33]
- Kain Kuling, atau dikenal sebagai Tajung Ogan, merupakan kain yang berbahan dasar katun maupun sutra, kain ini memiliki ciri motif kotak-kotak yang bergaris tegas. Kain Kuling umumnya memiliki warna-warna yang cerah seperti merah darah, merah kunyit, putih, hijau telur asin, dan indigo. Kain ini dipakai oleh masyarakat biasa dalam kegiatan sehari-hari dan keadatan dikarenakan keterbatasan dalam memperoleh Sungkit Ugan.

Kain Sampul Tangan, spesimen kain tua Suku Ogan yang diproduksi pada awal ke-20 dari Desa Belandang, Ulu Ogan, Ogan Komering Ulu - Kain Sampul Tangan, merupakan kain khas Suku Ogan yang dibuat dengan metode ikat. Kain ini berfungsi sebagai nampan untuk upacara adat, alas barang-barang pusaka dan religi, dan sebagai kain untuk meletakkan makanan persembahan dan bekal. Kain ini memiliki ciri yang sama seperti Kain Nampan yang dipakai dalam kebudayaan Lampung.
Kain Palembangan biasanya diperoleh dari perdagangan dengan orang Palembang. Meski bukanlah wastra produksi lokal Suku Ogan, kain-kain ini turut melengkapi kebiasaan dan adat istiadat yang diberlakukan di kewilayahan Suku Ogan. Wastra Palembangan tersebut antara lain[34][35]:
- Kain Tumpal, kain ini dikenal secara umum di wilayah Sumatera Selatan sebagai Kain Rumpak. Kain ini berfungsi sebagai sarung atau bawahan baik bagi pria dan wanita. Ciri kain ini berupa kain songket yang mengandung benang emas dan/atau perak yang diaplikasikan pada kain bermotif poleng atau kotak-kotak
- Kain Sungkit Pelimbangan, kain ini merupakan kain songket yang diproduksi dan diperjualbelikan di wilayah Ogan.Kain ini menjadi primadona dikarenakan benangnya yang lebih halus dan memiliki kandungan benang logam yang lebih penuh dibandingkan Sungkit Ugan, sehingga memiliki prestise tersendiri bagi pemakainya. Kain songket Palembang yang sering ditemukan di Ogan adalah Songket Lepus Bunga Berantai dan Songket Limar Bunga Cogan[36]. Songket Lepus Bunga Berantai (Sungkit Bunge Mas) biasanya digunakan oleh wanita dari kalangan bangsawan atau orang-orang kaya dalam acara resmi, pemakaian Songket Lepus ini dipakai sebagai substitusi kelangkaan Sungkit Ugan kala itu. Songket Limar Bunga Cogan (Sungkit Limar Kandang) biasanya dipakai sebagai kain dalam adat Pengadangan atau Dang-adangan, di mana kain ini berfungsi sebagai pagar untuk menghalangi pengantin sebelum masuk ke tempat berlangsungnya pesta pernikahan.
- Kain Pelangi, kain ini secara umum dikenal sebagai Kain Jumputan. Kain ini dibuat dengan teknik ikat celup ke dalam wadah pewarna sehingga membentuk pola yang indah dan berwarna-warni. Dalam adat Ogan, kain ini dapat dipakai sebagai kain dalam adat Pengadangan atau Dang-adangan sekaligus sebagai kain penyerahan maskawin.
- Kain Sembagi atau Dudutan, kain ini merupakan sebutan untuk kain batik pesisir yang masuk ke wilayah Uluan Ogan. Kain ini biasanya dipakai sebagai bawahan untuk wanita dalam kegiatan adat sebagai substitusi pemakaian Kain Kuling.
Lain-lain
Selain pernikahan, aspek lain dari budaya suku Ogan adalah sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, sistem peralatan dan perlengkapan, sistem kemasyarakatan, sistem ekonomi, bahasa, dan kesenian. Dari bidang seni, terdapat beberapa seni tari asli yang berasal suku Ogan, yaitu Tari Ngibing atau Tari Undan dan Rudat Ogan.[37]
Lihat pula
Referensi
- ↑ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175.
- ↑ Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). Batavia: DRUKKERIJ VAN HET BATAVIAASCH GENOOTSCHAP. 1846. hlm. 316–317. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ FAJRI, ZAINAL ARIFIN; SYAFNIL, RAHMAN (2019). BERMUKIM DI TEPIAN SUNGAIETNOGRAFI MASYARAKAT DAN BUDAYA KOMUNITAS OGAN DI PENGANDONAN. Malang: IRDH. hlm. 37–50. ISBN 978-623-7343-44-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Praetorius, C.F.E (1843). De indische Bij, tijdschrift ter bevordering van der Kennis der nederlandsche volkplantingen en derzelver belangen, uitgegeven door C. L. Blume: Eerste Deel. Met Platen (2 Bl. IV, 664 S. (dalam bahasa Belanda). Leyden: Hazenberg. hlm. 115–116. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 van Royen, J.W. (1932). Adatverband en bestuurshervorming in Zuid-Sumatra. Leiden: Universitaire Bibliotheken Leiden. hlm. 335–336. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ van Royen, J.W. (1932). Adatverband en bestuurshervorming in Zuid-Sumatra. Leiden: Universitaire Bibliotheken Leiden. hlm. 324. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ van Royen, J.W. (1932). Adatverband en bestuurshervorming in Zuid-Sumatra. Leiden: Universitaire Bibliotheken Leiden. hlm. 329–330. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "SEJARAH". DESA LUBUK RUKAM. 2014-06-15. Diakses tanggal 2024-05-31.
- ↑ "Desa Saung Naga". Desa Saungnaga. 2017-02-19. Diakses tanggal 2024-05-31.
- ↑ Fauzi dkk. (2015). Gua Harimau dan Perjalanan Panjang Peradaban OKU. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. hlm. 47–48. ISBN 978-602-386-031-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ FAJRI, ZAINAL ARIFIN; SYAFNIL, RAHMAN. BERMUKIM DI TEPIAN SUNGAIETNOGRAFI MASYARAKAT DAN BUDAYA KOMUNITAS OGAN DI PENGANDONAN. IRDH. ISBN 978-623-7343-44-8.
- ↑ Densiusman (Rabu, 23 Mei 2012). "densiusman: PENGGUNA BAHASA OGAN". densiusman. Diakses tanggal 2022-03-02.
- ↑ FAJRI, ZAINAL ARIFIN; SYAFNIL, RAHMAN. BERMUKIM DI TEPIAN SUNGAIETNOGRAFI MASYARAKAT DAN BUDAYA KOMUNITAS OGAN DI PENGANDONAN. IRDH. ISBN 978-623-7343-44-8.
- ↑ FAJRI, ZAINAL ARIFIN; SYAFNIL, RAHMAN. BERMUKIM DI TEPIAN SUNGAIETNOGRAFI MASYARAKAT DAN BUDAYA KOMUNITAS OGAN DI PENGANDONAN. IRDH. ISBN 978-623-7343-44-8.
- ↑ "ARSITEKTUR RUMAH ULU OGAN" (dalam bahasa Inggris). 17 (2). 2017. doi:10.24853/nalars.17.2.129-134. ISSN 2549-6832.
- ↑ "POLA PERKAWINAN ADAT PADA MASYARAKAT OGAN DI DESA SINGAPURA KECAMATAN SEMIDANG AJI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SUMATERA SELATAN". 123dok.com. Diakses tanggal 2022-02-14.
- ↑ Indonesia Kaya: Pengadangan, Tradisi Pernikahan Adat Suku Ogan. Diakses 3 Maret 2019.
- ↑ Majalah Teras: Tradisi Pernikahan Adat Suku Ogan. 14 September 2017. Diakses 4 Maret 2019.
- ↑ Budaya Indonesia: Tradisi Ningkuk. 5 Agustus 2018. Diakses 4 Maret 2019.
- ↑ "BELAJAR AKSARA UGAN; SARANA MEMAHAMI SEJARAH DAN BUDAYA OGAN KOMERING ULU – Disparbud OKU (Dinas Pariwisata & Kebudayaan Ogan Komering Ulu)". Diakses tanggal 2022-04-08.
- ↑ "Kenalkan Aksara Ogan ke Pelajar". OKES.CO.ID. 2020-04-05. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-24. Diakses tanggal 2022-04-08.
- ↑ Izzah (Rabu, 10 Juni 2009). "IZZAH UNSRI: SASTRA TUTUR SUMATERA SELATAN: MEDIA INOVATIF PEMBELAJARAN MULTIBAHASA". IZZAH UNSRI. Diakses tanggal 2022-02-14.
- ↑ "Cerita Rakyat Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan: Legenda Goa Putri". iNews.ID. 2021-12-14. Diakses tanggal 2022-04-08.
- ↑ "Cerita Rakyat Batu Bintang (Asal Muasal Nama Dusun Durian) – Disparbud OKU (Dinas Pariwisata & Kebudayaan Ogan Komering Ulu)". Diakses tanggal 2022-04-08.
- ↑ "Tari Ngibing Asal OKU Ditampilkan Pada Acara Taman Mini Menari". Lahat Online. Diakses tanggal 2022-02-20.
- ↑ Praetorius, C. F. E. (1843). Eenige bijzonderheden omtrent Palembang (dalam bahasa Belanda). Hazenberg en Comp.
- ↑ "Rumah Ulu, Rumah Bernilai Estetis Pembentuk Keluarga Harmonis". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2022-04-08.
- ↑ "Database Warisan Budaya Sumatera Selatan - Rumah Ulu Sumatera Selatan". balitbangnovdasumsel.com. Diakses tanggal 2022-04-08.
- ↑ Hidayat, Husnul (2018-06-05). "ARSITEKTUR RUMAH ULU OGAN". NALARs. 17: 129. doi:10.24853/nalars.17.2.129-134.
- ↑ ALVIN, ALVIN; Herawan, Sauni; Andry, Harijanto (2020). "EKSISTENSI TUNGGU TUBANG YANG TIDAK MEMPUNYAI JURAI(KETURUNAN) MENURUT HUKUM ADAT SEMENDE DI KECAMATAN SEMENDE DARAT LAUT KABUPATEN MUARA ENIM" (dalam bahasa Inggris). Universitas Bengkulu. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-05-03. Diakses tanggal 2022-04-17. ;
- ↑ "Kasuran Menu Khas OKU, Hanya Ada Saat Lebaran". SUMEKS.CO. 2021-05-14. Diakses tanggal 2022-04-08.
- ↑ Catalogus van eene verzameling van voorwerpen van kunstnijverheid uit de hoofdstad Palembang en de landstreek Pasemah Lebar. Amsterdam: Zuid-Sumatra Instituut te Amsterdam. 1922. hlm. 26–27. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Hitchcock, Michael (1991). Indonesian textiles. Internet Archive. New York, NY : Icon Editions. ISBN 978-0-06-430217-3.
- ↑ Wulansari, Lidya (2025-02-02). "Mengenal 5 Jenis Kain Khas Palembang". RRI Palembang. Diakses tanggal 2025-11-13.
- ↑ "Songket Palembang" (PDF). Repositori Kemdikbud. 2012. Diakses tanggal 2025-11-13. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ Hitchcock, Michael (1991). Indonesian textiles. Internet Archive. New York, NY : Icon Editions. ISBN 978-0-06-430217-3.
- ↑ "Planet Agape: Orang Ogan Katolik di Batu Putih Sumatera Selatan". Planet Agape. Diakses tanggal 2022-02-14.
