Suku Ngada

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Suku Ngada (atau Ngadha, Nad'a, Nga'da) adalah suku yang mendiami sebagian besar daerah Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 155.000 jiwa. Mata pencaharian hidup suku ini umumnya adalah berladang, sebagian di sawah, ada pula yang beternak sapi, kerbau, dan kuda.[1]

Suku Ngada merupakan penutur bahasa Ngada. Berdasarkan perbedaan dialek-dialek bahasa, Suku Ngada dibagi atas tujuh klan yakni Ngada, Maung, Riung, Rongga, Nage Keo, Bajawa, dan Palue. Masing-masing klan mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri yang masih dipertahankan sampai saat ini, seperti rumah adat, tarian, pakaian adat, dan lain-lain.[1]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama Ngada diambil dari nana salah satu dari tujuh klan terbesar yang terdapat di wilayah yang kini bernama Kabupaten Ngada. Sebutan "Ngada" diperkenalkan sebagai wilayah administratif oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1907. Seorang antropolog bernama Paul Arndt pernah melakukan penelusuran mengenai asal mula nama Ngada. Dalam penelusurannya yang dilakukan pada 1929, Paul menjelaskan bahwa istilah Ngada berasal dari "Nad’a", lalu berubah menjadi "Nagdha", "Nga'da", dan akhirnya "Ngada" karena lebih mudah diucapkan oleh lidah.[2]

Dalam Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia disebutkan, terdapat mitos bahawa nenek moyang Suku Ngada telah melakukan perjalanan yang jauh dari tempat yang disebut dengan istilah "pu’u zili giu gema", artinya tempat yang gelap gulita. Dalam syair adat yang dinyanyikan disebutkan bahwa tempat yang jauh itu mengacu ke sebuah negeri bernama Sina One, diartikan sebagai Negeri China.[2]

Rumah adat[sunting | sunting sumber]

Rumah orang Ngada disebut "sa'o". Rumah-rumah ditata membentuk permukiman dengan pola bulat telur atau persegi panjang dan posisi mengelilingi sebuah lapangan yang digunakan untuk berkumpul dan mengadakan upacara. Di tengah-tengah lapangan, terdapat sebuah panggung batu untuk melengkapi upacara yang disebut "terse" dan di atasnya terdapat altar yang disebut "watu lewa".[1]

Setiap rumah adat Suku Ngada selalu menghadap ke "ngadhu" dan "agha" sebagai poros. Ngadhu berbentuk seperti rumah berukuran kecil yang merupakan lambang leluhur perempuan, sementara bagha melambangkan leluhur laki-laki dengan bentuk menyerupai payung dengan keri atau atap alang-alang dari ijuk hitam. Jumlah keduanya selalu berpasangan mengartikan banyaknya klan di dalam satu permikiman.[3]

Sistem kekerabatan[sunting | sunting sumber]

Suku Ngada menganut sistem kekerabatan patrilineal. Keluarga inti disebut "se sao". Beberapa "se sao" bergabung membentuk keluarga patrilineal yang disebut "sipopali". Beberapa sipopali yang merasa masih satu kakek moyang dengan "sipopali" lain bergabung membentuk klan kecil yang disebut "ilibhou". Beberapa ilibhou terikat ke dalam satu kesatuan teritorial genealogis yang disebut "woe". Masing-masing woe mempunyai lambang "totem" yang mereka junjung tinggi.[1]

Sosial dan kemasyarakatan[sunting | sunting sumber]

Suku Ngada mengenal stratifikasi sosial atau disebut "gae meze" dalam istilah setempat. Pengelompokan ini biasanya ketika ada kelompok-kelompok woe yang dominan dan menganggap diri sebagai golongan bangsawan. Di bawahnya, ada golongan rakyat biasa disebut "gae kisa". Paling rendah, yakni golongan hamba sahaya atau bekas budak yang disebut "azi ana" atau "ho'o".[4]

Agama dan kepercayaan[sunting | sunting sumber]

Dalam Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia, mayoritas agama yang dipeluk Suku Ngada yakni Katolik dan sedikit Islam. Sejak tahun 1910-an, Suku Ngada sudah menjadi target misionaris di bawah kelompok Societas Verbi Divini.[2] Sebagian anggota masyarakat masih menganut kepercayaan asli mereka yang bersifat animisme dan dinamisme.[4]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki
Daftar pustaka