Suku Melayu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Suku Melayu
Orang Melayu
اورڠ ملايو
Malay couple.jpg
Sepasang suami-istri dalam setelah melakukan upacara akad nikah (prosesi pernikahan). Pengantin laki-laki mengenakan baju melayu yang dipasangkan dengan songkok dan songket, sementara pengantin perempuan mengenakan baju kurung dengan sebuah tudong.
Jumlah populasi
ca. 27 juta
Daerah dengan populasi signifikan
Dunia Melayuca. 27 juta
Malaysia Malaysia15,479,600
Indonesia Indonesia8,753,791[1]
Thailand Thailand2,150,950[2]
Singapura Singapura811,209[3]
Brunei Brunei314,560[4]
Arab Saudi Arab Saudi~50,000[5][6]
Australia Australia33,183[7]
Britania Raya Britania Raya~33,000[8]
Amerika Serikat Amerika Serikat29,431[9]
Myanmar Myanmar~27,000[10]
Kanada Kanada16,920[11]
Bahasa
Mayoritas
Melayu
Agama
Mayoritas
Star and Crescent.svg Islam
Etnis terkait
Bangsa Austronesia terkait

a Beberapa data mungkin menunjukkan bahwa resipien merupakan orang dengan ras/suku/genetika campuran, tetapi dapat berbicara dalam bahasa Melayu, sehingga mereka dimasukkan ke dalam data.
flag of Triwarna Melayu yang menunjukkan identitas orang Melayu

Suku Melayu (bahasa Melayu: Orang Melayu, Jawi: أورڠ ملايو) merupakan salah satu kelompok etnis di wilayah Austronesia yang menempati wilayah pesisir timur Sumatra, Semenanjung Malaka, dan beberapa wilayah di Kalimantan. Selain itu, kelompok etnis ini juga dapat dijumpai di pulau-pulau kecil yang tersebar diantara wilayah besar tersebut. Wilayah-wilayah persebaran ini seringkali disebut sebagai dunia Melayu. Wilayah-wilayah tersebut pada masa sekarang merupakan bagian dari negara Malaysia, Indonesia (Sumatra bagian timur dan selatan, pesisir pantai Kalimantan, Bangka Belitung dan Kepulauan Riau), bagian selatan Thailand (Pattani, Satun, Songkhla, Yala, dan Narathiwat), Singapura, dan Brunei Darussalam.

Terdapat beberapa perbedaan unsur bahasa, kebudayaan, kesenian, dan keberagaman sosial diantara sub-kelompok turunan dari bangsa Melayu. Hal ini dikarenakan suku Melayu inti menyebar ke berbagai penjuru wilayah dunia Melayu, sehingga terjadi asimilasi sub-kelompok turunan Melayu dengan beberapa kelompok etnis daerah tertentu di wilayah Asia Tenggara Maritim. Secara historis, populasi suku Melayu merupakan turunan langsung dari orang-orang suku Austroasiatik Austronesia yang menuturkan bahasa-bahasa Melayik yang menjalin kontak dan perdagangan dengan kerajaan, kesultanan, ataupun pemukiman tertentu (terutama dengan kerajaan Brunei, Kedah, Langkasuka, Gangga Negara, Chi Tu, Nakhon Si Thammarat, Pahang, Melayu dan Sriwijaya.)[12][13]

Perkembangan dan pendirian Kesultanan Malaka pada abad ke-15 menyebabkan revolusi besar-besaran pada sejarah bangsa Melayu. Hal tersebut terjadi karena kesultanan tersebut membawa perubahan yang sangat signifikan pada tata kebudayaan dan kesultanan tersebut meraih kejayaan pada masa tersebut.

Menurut catatan sejarah, suku Melayu telah dikenal sebagai komunitas pedagang lintas perairan dengan karakteristik budaya yang dinamis.[14][15] Mereka dapat menyerap, berbagi, dan menyalurkan sekian banyak keunikan kebudayaan dari kelompok etnik lain, seperti kebudayaan Minang dan Aceh.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Tari Joget yang berasal dari masa Kesultanan Malaka, banyak dari aspek budaya Melayu berasal dari wilayah Malaka.

Kata Melayu pada awalnya merupakan nama tempat (toponim), yang merujuk pada suatu lokasi di Sumatra. Setelah abad ke-15 istilah Melayu mulai digunakan untuk merujuk pada nama suku (etnonim).[16]:3

Dalam karya sastra dan hikayat, kata "Melayu" kemungkinan berasal dari na salah satu sungai di Sumatra, Indonesia, yakni Sungai Melayu. Beberapa orang berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari sebuah kata yang berasal dari bahasa Melayu, yakni "melaju" yang berasal dari awalan 'me' dan akar kata 'laju', yang menggambarkan kuatnya arus pada sungai tersebut.[17]

Candi Muaro Jambi di Jambi, dikaitkan dengan keberadaan kerajaan Melayu pra-Islam. Candi-candi biasanya dibangun di tengah-tengah pusat kerajaan


Sebagai nama tempat (toponim)[sunting | sunting sumber]

Istilah "Melayu" dan pelafalan serupa sejak abad ke-15 merupakan sebuah toponim kuno yang pada umumnya mengacu pada daerah-daerah di selat Malaka.[18]

Tengku Abdu Aziz, Pangeran dari Terengganu yang mengenakan busana khas Melayu formal pada masa itu (sekitar 1920)
  • Malaya Dwipa, "Malaya Dwipa", seperti yang tertera dalam bab 48 Vayu Purana, wilayah Malaka merupakan sebuah provinsi di laut timur yang sangat kaya akan emas dan perak. Beberapa ahli juga memasukkan daerah Sumatra ke dalam istilah tersebut.[19] Akan tetapi, para ahli dari India menyakini bahwa istilah ini hanya merujuk pada semenanjung Melayu yang terdiri atas banyak pegunungan, sementara Sumatra lebih merujuk kepada penggambaran di dalam Suvarnadvipa. [20][21][22][23][24]
  • Maleu-kolon – sebuah lokasi di Semenanjung Emas, yang tertera di dalam karya Klaudius Ptolemaeus (90–68 M), Geographia mencatat sebuah tanjung di Aurea Chersonesus (Semenanjung Melayu) yang bernama Maleu-kolon, yang diyakini berasal dari Bahasa Sanskerta, malayakolam atau malaikurram.[25] [26]
  • Mo-lo-yu – seperti yang disebutkan oleh Yijing, seorang biarawan Buddha aliran Tiongkok dari dinasti Tang yang berkunjung ke Asia tenggara pada tahun 688–695. Menurut Yijing, kerajaan "Mo-Lo-Yu" berjarak 15 hari pelayaran dari Bogha (Palembang), ibu kota Sribhoga (Sriwijaya). Kerajaan tersebut juga berjarak 15 hari pelayaran dari Ka-Cha (Kedah), sehingga dapat dikarakan bahwa kerajaan Mo-Lo-Yu terletak di tengah-tengah jarak antara keduannya.[27] Teori populer mengaitkan keberadaan "Mo-Lo-Yu" dengan situs Candi Muaro Jambi di Sumatra,[28] akan tetapi letak Jambi sangat bertentangan dengan pernyaraan Yi Jinh yang menyatakan bahwa ia terletak di tengah-tengah Ka-Cha (Kedah) dengan Bogha (Palembang)". Diantara masa akhir dinasti Yuan (1271–1368) dengan masa awal dinasti Ming (1368–1644), kata Ma-La-Yu seringkali disebut di dalam teks-teks kuno Tiongkok untuk menyebutkan wilayah yang terletak di laut selatan. Meskipun begitu, ejaan untuk menyebutkan "Ma-La-Yu" berbeda-beda karena adanya pergantian dinasti ataupun intervensi pengguna bahasa-bahasa Tionghoa, akan tetapi "Bôk-lá-yù", "Mók-là-yū" (木剌由), Má-lì-yù-er (麻里予兒), Oō-laì-yu (巫来由) merupakan istilah yang sering digunakan menurut catatan tertulis dari biarawan Xuanzang) dan Wú-laī-yû (無来由).

Orang Gunung[sunting | sunting sumber]

Pada Bab 48 teks agama Hindu Vuya Purana yang berbahasa Sanskerta, kata Malayadvipa merujuk kepada sebuah provinsi di pulau yang kaya emas dan perak. Di sana berdiri bukit yang disebut dengan Malaya yang artinya sebuah gunung besar (Mahamalaya). Meskipun begitu banyak sarjana Barat, antara lain Sir Roland Braddell menyamakan Malayadvipa dengan Sumatra.[29] Sedangkan para sarjana India percaya bahwa itu merujuk pada beberapa gunung di Semenanjung Malaya.[30][31][32][33][34]

Kerajaan Malayu[sunting | sunting sumber]

Dari catatan Yi Jing, seorang pendeta Buddha dari Dinasti Tang, yang berkunjung ke Nusantara pada tahun 688–695, dia menyebutkan ada sebuah kerajaan yang dikenal dengan Mo-Lo-Yu (Melayu), yang berjarak 15 hari pelayaran dari Sriwijaya. Dari Ka-Cha (Kedah), jaraknya pun 15 hari pelayaran.[35] Berdasarkan catatan Yi Jing, kerajaan tersebut merupakan negara yang merdeka dan akhirnya ditaklukkan oleh Sriwijaya.

Berdasarkan Prasasti Padang Roco (1286) di Sumatra Barat, ditemukan kata-kata bhumi malayu dengan ibu kotanya di Dharmasraya. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Malayu dan Sriwijaya yang telah ada di Sumatra sejak abad ke-7. Kemudian Adityawarman memindahkan ibu kota kerajaan ini ke wilayah pedalaman di Pagaruyung.

Petualang Venesia yang terkenal, Marco Polo dalam bukunya Travels of Marco Polo menyebutkan tentang Malauir yang berlokasi di bagian selatan Semenanjung Melayu. Kata "Melayu" dipopulerkan oleh Kesultanan Malaka yang digunakan untuk membenturkan kultur Malaka dengan kultur asing yakni Jawa dan Thai.[16]:4 Dalam perjalanannya, Malaka tidak hanya tercatat sebagai pusat perdagangan yang dominan, namun juga sebagai pusat peradaban Melayu yang berpengaruh luas.[36]

Sebagai nama suku (etnonim)[sunting | sunting sumber]

Sastra Melayu Klasik menggambarkan orang Melayu dengan arti cukup sempit daripada interpretasi modern. Hikayat Hang Tuah (sekitar 1700, manuskrip sekitar 1849) hanya mengidentifikasi Melayu sebagai subjek Kesultanan Malaka—Brunei, misalnya, tidak dianggap Melayu. Hikayat Patani (sekitar 1876) misalnya, tidak menyebut Patani dan Brunei sebagai Melayu, istilah itu hanya digunakan untuk Johor. Kedah tidak dimasukkan sebagai suku Melayu dalam hikayat Kedah. Hikayat Aceh (sekitar 1625, manuskrip yang ada sekitar 1675) menghubungkan etnis Melayu dengan Johor, tapi tidak menyebut Aceh atau Deli sebagai Melayu.[37][38]

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Sekelompok orang dari Brunei Darussalam yang mengenakan busana berjenis Cekak Musang, yang dikenakan dengan songket (paling kiri) dan kain sarung.

Proto-Melayu[sunting | sunting sumber]

Melayu asli atau yang juga dijuluki sebagai Melayu purba atau Proto-Melayu, adalah sekelompok suku dan bangsa yang memiliki asal-usul Austronesia dan diperkirakan telah bermigrasi menuju Kepulauan Melayu dalam kurun waktu periode yang cukup lama, yakni antara tahun 2500 sampai 1500 sebelum Masehi.[39] Masih terdapat sisa-sisa keturunan Proto-Melayu yang masih terlihat kental hingga saat ini, salah satunya adalah suku Moken, Jakun, Orang Kuala, Temuan, dan Orang Kanaq.[40] The Encyclopedia of Malaysia: Early History (bahasa Indonesia: Ensiklopedia Malaysia: Sejarah pada Masa Awal) menyebutkan tiga teori mengenai asal-usul bangsa Melayu yang telah dikenal:

  • Teori Yunnan (diterbitkan tahun 1889) menjelaskan bahwa bangsa Proto-Melayu ber melalui sepanjang aliran sungai Mekong. Teori Proto-Melayu yang dikemukakan oleh Yunnan tersebut didukung oleh R.H Geldern, J.H.C Kern, J.R Foster, J.R Logen, Slamet Muljana dan Asmah Haji Umar. Bukti lain yang mendukung teori ini antara lain: alat-alat batu yang ditemukan di Kepulauan Melayu dianalogikan dengan alat-alat Asia Tengah, kesamaan adat Melayu dan adat di daerah Assam.
  • Teori Taiwan (diterbitkan pada tahun 1997) menjelaskan bahwa migrasi dilakukan sekelompok orang dari Tiongkok Selatan sudah terjadi semenjak 6.000 tahun yang lalu. Beberapa diantaranya bermigrasi ke Taiwan (pribumi Taiwan), dan kemudian ke Filipina dan kemudian ke Kalimantan (kira-kira 4.500 tahun yang lalu) (pada masa sekarang, keturunan langsung yang dapat ditemui adalah Dayak dan kelompok lainnya). Kemudian, beberapa diantaranya berpisah lagi menuju wilayah lain seperti Sulawesi dan yang lainnya berkembang ke Jawa, dan Sumatera. Migrasi tersebut menyebabkan semua suku-suku turunan berbicara dalam bahasa-bahasa yang termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Migrasi terakhir adalah ke Semenanjung Malaya sekitar 3.000 tahun yang lalu. Sebuah sub-kelompok dari Kalimantan bermigrasi ke Champa (pada masa kini merupakan bagian dari wilayah Vietnam bagian Tengah dan Selatan) sekitar 4.500 tahun yang lalu. Ada juga jejak migrasi Dong Son dan Hoabinhian dari Vietnam dan Kamboja.[41]

Deutro-Melayu[sunting | sunting sumber]

Dua orang perempuan dari Palembang yang sedang mengenakan pakaian adat, yakni Baju Kurung yang berasal dari helaian Songket. Pakaian ini biasanya sering dipakai ataupun dikaitkan dengan kebiasaan berbusana masyarakat perempuan Melayu.

Deuter-Melayu merupakan istilah yang mengacu pada orang-orang zaman besi yang sebagian besar merupakan turunan dari bangsa Austronesia yang memiliki teknik pertanian yang lebih maju dan pengetahuan baru tentang logam.[42][43][44] Tidak seperti pendahulu mereka, orang-orang Deutro-Melayu sudah tidak melakukan sistem nomaden. Mereka menetap dan mendirikan kampung yang berfungsi sebagai unit utama dalam masyarakat. Kampung-kampung ini biasanya terletak di tepi sungai atau daerah pesisir. Pada akhir abad terakhir SM, kampung-kampung ini mulai melakukan perdagangan dengan dunia luar.[45] Masyarakat Deutro-Melayu dianggap sebagai nenek moyang langsung dari bangsa Melayu yang ada pada saat ini.[46]

Penyebaran dari wilayah Sundaland[sunting | sunting sumber]

Sebuah teori yang lebih baru menyatakan bahwa penduduk Proto-Melayu Asia Tenggara Maritim tidak berasal dari Asia daratan, melainkan para penduduk tersebut memang sudah ada sejak zaman es di semenanjung Melayu, kepulauan tetangga Indonesia, dan paparan daratan yang luas (Sundaland). Penduduk di wilayah tersebut berkembang secara lokal dari pemukim manusia pertama dan menyebar hingga ke Asia daratan. Pendukung teori ini berpendapat bahwa persebaran ini memberikan penjelasan yang jauh lebih sulit daripada bukti linguistik, arkeologi, dan antropologis daripada model teori persebaran yang sebelumnya, khususnya model Taiwan.[47] Teori ini juga mendapat dukungan dari bukti genetik yang ditemukan oleh Organisasi Genom Manusia yang menunjukkan bahwa penduduk di Asia Daratan berasal dari satu jalur migrasi tunggal melalui Asia Tenggara. Rute ini kemudian dianggap sebagai daerah Melayu modern. Persebaran itu sendiri mungkin didorong oleh naiknya permukaan laut pada akhir Zaman Es.[48][49]

Pemrakarsa Stephen Oppenheimer telah lebih lanjut berteori bahwa persebaran penduduk dari wilayah yang mulai tergenang terjadi dalam tiga gelombang cepat karena naiknya permukaan laut pada akhir Zaman Es. Persebaran ini juga turut menyebarkan kebudayaan, mitologi, dan teknologi bukan hanya ke daratan Asia Tenggara, tetapi sampai India, Asia Tengah, dan Mediterania melalui para penduduk diaspora.[50][51][52]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan prasasti Keping Tembaga Laguna, pedagang Melayu telah berdagang ke seluruh wilayah Asia Tenggara, juga turut serta membawa adat budaya dan Bahasa Melayu pada kawasan tersebut. Bahasa Melayu akhirnya menjadi lingua franca menggantikan Bahasa Sanskerta.[53] Era kejayaan Sriwijaya merupakan masa emas bagi peradaban Melayu, termasuk pada masa wangsa Sailendra di Jawa, kemudian dilanjutkan oleh kerajaan Dharmasraya sampai pada abad ke-14, dan terus berkembang pada masa Kesultanan Malaka[54][55][56] sebelum kerajaan ini ditaklukan oleh kekuatan tentara Portugis pada tahun 1511.

Masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke-12, diserap baik-baik oleh masyarakat Melayu. Islamisasi tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat jelata, namun telah menjadi corak pemerintahan kerajaan-kerajaan Melayu. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut ialah Kesultanan Johor, Kesultanan Perak, Kesultanan Pahang, Kesultanan Brunei, Kesultanan Langkat, Kesultanan Deli, dan Kesultanan Siak, bahkan kerajaan Karo Aru pun memiliki raja dengan gelar Melayu. Kedatangan Eropa telah menyebabkan orang Melayu tersebar ke seluruh Nusantara, Sri Lanka, dan Afrika Selatan. Di perantauan, mereka banyak memiliki kedudukan dalam suatu kerajaan, seperti syahbandar, ulama, dan hakim.

Dalam perkembangan selanjutnya, hampir seluruh Kepulauan Nusantara mendapatkan pengaruh langsung dari Suku Melayu. Bahasa Melayu yang telah berkembang dan dipakai oleh banyak masyarakat Nusantara, akhirnya dipilih menjadi bahasa nasional di Indonesia, Malaysia, dan Brunei.

Budaya[sunting | sunting sumber]

Melayu Indonesia[sunting | sunting sumber]

Berikut ini uraian suku Melayu di wilayah Indonesia:

Melayu Malaysia[sunting | sunting sumber]

Sebuah kampung Melayu di Johor.
Seorang penari mempersembahkan tarian Ulek Mayang, sebuah persembahan tarian dari Terengganu, Malaysia.

Melayu Malaysia yang disebut sebagai "Kaum Melayu" adalah masyarakat Melayu berintikan orang Melayu asli tanah Semenanjung Malaya (Melayu Anak Jati), ditambah suku-suku pendatang dari Indonesia dan tempat lainnya yang disebut "Melayu Anak Dagang" seperti Palembang, Riau, Bangka-Belitung, Lembak, Serawai, Pontianak, Sambas, Deli, Langkat, Tamiang, Sintang, Jambi, Bengkulu, Kerinci, Melayu Singapura, Kedayan Brunei, Melayu Brunei, Melayu Filipina, bahkan Melayu Thailand Selatan digolongkan sebagai suku Melayu tetapi bukan asli dari Malaysia maka digolongkan suku Melayu anak dagang. Ada pula suku non Melayu dari Indonesia maupun Brunei digolongkan sebagai anak dagang seperti Jawa, Minangkabau, Makassar, Batak Mandailing, Aceh, Bugis, Bawean, Gayo, Batak,Banjar, Dayak, Mandar, Lampung, Sunda, Dayak, Madura, dan lain-lain. Adapun suku-suku Non Melayu di luar Nusantara (di luar Indonesia & Brunei) statusnya sama seperti Tionghoa/India yang akan dicantumkan nama suku beserta negara asalnya, contoh saja Bangsa Filipina (orang Tagalog, Bisaya, dll.) Bangsa Thai, Bangla, Pakistan/Punjabi, Bangsa Arab, Bangsa Inggris dll. Semua suku yang beragama Islam di Malaysia diikat oleh agama Islam dan budaya Melayu Malaysia. Karena sudah bercampur dengan penduduk asli/Melayu lokal maka orang keturunan tersebut dianggap sebagai orang Melayu tetapi keturunan dari suku Jawa, Bugis, Aceh misalnya. Ras lain yang beragama Islam dan sudah bercampur/menikah dengan orang Melayu lalu mempunyai keturunan juga dikategorikan Kaum Melayu, seperti Tionghoa Muslim, India Muslim, dan Arab. Sehingga Melayu juga berarti bangsa yang merupakan "komunitas Bangsa Malaysia" yang ada di Kerajaan Islam tersebut, karena jika ada konsep Sultan (umara) berarti juga ada ummat yang dilindunginya.

Namun, etnis Melayu di Malaysia Barat (Malaya) yang tidak terikat dengan perlembagaan Malaysia secara umumnya terbagi kepada tiga suku etnis terbesar, yaitu Melayu Kelantan, Melayu Johor dan Melayu Kedah[butuh rujukan].Di Malaysia Timur terdapat pula komunitas Melayu, yaitu Melayu Sarawak dan Melayu Brunei yang mempunyai dialek yang berbeda dengan Melayu Semenanjung Malaya. Suku Melayu Sarawak biasanya terdapat di Negara Bagian Sarawak, serta lebih berkerabat dengan Suku Melayu Pontianak dari Kalimantan Barat. Sedangkan Suku Melayu Brunei biasanya menetap di bagian utara Sarawak, Pantai Barat Sabah, serta Brunei Darussalam.

Melayu Siam[sunting | sunting sumber]

Thailand mempunyai jumlah suku Melayu ketiga terbesar setelah Malaysia dan Indonesia, dengan populasi kurang lebih 3 juta jiwa (Perkiraan 2010).[57][58] Kebanyakan dari mereka berdomisili di kawasan selatan Thailand serta di kawasan sekitar Bangkok (terkait dengan perpindahan suku Melayu dari selatan Thailand serta utara semenanjung Malaya ke Bangkok sejak abad ke 13).

Kehadiran Suku Melayu di kawasan selatan Thailand telah ada sebelum perpindahan Suku Thai ke Semenanjung Malaya melalui penaklukan Kerajaan Sukhothai, yang diikuti oleh Kerajaan Ayutthaya, pada awal abad ke-16. Hal ini dapat dilihat pada nama-nama daerah di kawasan selatan Thailand yang berasal dari bahasa Melayu atau nama lain dalam logat Melayu, misalnya "Phuket/ภูเก็ต" dalam bahasa Melayu "Bukit/بوكيت", "Thalang" ("Talang/تلاڠ"), "Trang" ("Terang/تراڠ"), Narathiwat/นราธิวาส ("Menara"), "Pattani/ปัตตานี" ("Patani/ ڤتني"), "Krabi/กระบี่" ("Gerabi"), "Songkla/สงขลา" ("Singgora/سيڠڬورا"), "Surat Thani/สุราษฎร์ธานี" ("Lingga"), "Satun/สตูล" ("Mukim Setul/مقيم ستول"), "Ranong/ระนอง" ("Rundung/روندوڠ"), "Nakhon Si Thammarat/นครศรีธรรมราช" ("Ligor"), "Chaiya/ไชยา" (Cahaya), "Phattalung/พัทลุง" ("Mardelung/مردلوڠ"), "Yala/ยะลา" ("Jala/جال"), "Koh Phi-Phi/หมู่เกาะพีพี" ("Pulau Api-Api"), "Koh Samui/เกาะสมุย"("Pulau Saboey"), "Su-ngai Kolok/สุไหงโก-ล" (Sungai Golok), "Su-ngai Padi/สุไหงปาดี" (Sungai Padi), "Rueso/รือเสาะ" ("Resak"), "Koh Similan/หมู่เกาะสิมิลัน" ("Pulau Sembilan/ڤولاو سمبيلن"), dan "Sai Buri/สายบุรี" ("Selindung Bayu/سليندوڠ بايو").

Kawasan selatan Thailand juga pernah melihat kebangkitan dan kejatuhan kerajaan Melayu antaranya Negara Sri Dhamaraja (100-an–1500-an), Langkasuka (200-an − 1400-an), Kesultanan Pattani [59][60](1516–1771), Kesultanan Reman (1785–1909)[61] serta Kesultanan Singgora (1603–1689).[62][63]

Kebanyakan suku Melayu Siam fasih berbicara bahasa Thai serta bahasa Melayu setempat saja. Contohnya, suku Melayu di kawasan pesisir tenggara Thailand yakni Pattani, Songkhla, serta Hat Yai, lebih cenderung menggunakan logat Melayu Pattani, sedangkan suku Melayu di pesisir barat seperti Satun, Phuket, dan Ranong, menuturkan logat Melayu Kedah. Suku Melayu di Bangkok juga mempunyai logat Melayu Bangkok sendiri.

Pada saat ini, ada upaya dari pemerintah pusat untuk mengerdilkan budaya Melayu di Thailand, salah satunya dengan meniadakan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah dan menggantinya dengan bahasa Thai. Selain itu, kegiatan-kegiatan suku Melayu Siam yang beragama Islam cenderung dibatasi, baik secara sosial, ekonomi, maupun kultural.

Melayu Myanmar[sunting | sunting sumber]

Selain dari Thailand, Myanmar juga mempunyai komunitas suku melayu yang besar di Indochina. Kebanyakan daripada Suku Melayu terpusat di bagian paling selatan negara itu, yaitu di Divisi Tanintharyi Bahasa Myanmar: တနင်္သာရီတိုင်းဒေသကြီး (Bahasa Melayu: Tanah Sari) dan Kepulauan Mergui မြိတ်ကျွန်းစု. Akibat daripada pengijarahan, komunitas Melayu Myanmar juga terdapat di Yangon, Divisi Mon, Thailand, serta Malaysia.[64]

Kehadiran Suku Melayu di kawasan selatan Myanmar diperkirakan seawal 1865, ketika satu kumpulan yang diketuai Nayuda Ahmed membuka pemukiman di kawasan yang pada hari ini dikenali sebagai Kawthaung ကော့သောင်းမြို့ (dikenali sebagai Pelodua dalam Bahasa Melayu).

Pengaruh Melayu dapat dilihat dengan penggunaan nama-nama asli Melayu di kawasan tersebut, antaranya Pulau Dua, Pulau Tongtong, Sungai Gelama, Sepuluh Batu, Kepala Batu, Tanjung Badai, Pasir Panjang, Malay One, Teluk China, Teluk Besar, Mek Puteh, Sungai Balai, Pulau Balai, Pulau Cek, Tanjung Peluru, Pulau Bada, Teluk Peluru, Tanjung Gasi, Pulau Rotan Helang, Pulau Senangin,dan sebagainya.[65] Ini berbeda dengan keadaan di Thailand, di mana berlakunya penukaran nama asli Bahasa Melayu kepada Bahasa Thailand.

Di Myanmar, masyarakat Melayu mempunyai kebudayaan serta bahasa yang seragam dengan Suku Melayu di pantai timur selatan Thailand yaitu di Phuket, Ranong, serta utara Semenanjung Malaya seperti di Kedah, Perlis serta Pulau Pinang. Ini karena kawasan-kawasan tersebut pernah berada di bawah pengaruh Kesultanan Kedah.[66]

Pada zaman ini, komunitas Melayu di Myanmar fasih berbahasa Myanmar, Bahasa Melayu dan Bahasa Thailand, karena keadaan geografis mereka yang berada di perbatasan. Mereka juga masih mengekalkan kebudayaan Melayu yang kental seperti penggunaan kain sarung serta penggunaan tulisan Jawi. Namun, bilangan mereka di Divisi Tanintharyi semakin berkurang karena perpindahan untuk mencari peluang sosio-ekonomi yang lebih baik.

Kaum Melayu Singapura (Golongan Bumiputera)[sunting | sunting sumber]

Komposisi Suku Bangsa dalam Populasi Melayu di Singapura 1931-1990
Kelompok Ras Melayu 1931 1947 1957 1970 1980 1990
Total 65,104 113,803 197,059 311,379 351,508 384,338
Melayu 57.5% 61.8% 68.8% 86.1% 89.0% 68.3%
Minangkabau 24.5% 21.7% 18.3% 7.7% 6.0% 17.2%
Bugis 14.4% 13.5% 11.3% 5.5% 4.1% 11.3%
Bawean 1.2% 0.6% 0.6% 0.2% 0.1% 0.4%
Jawa 0.7% 0.3% 0.2% 0.1% N.A. N.A.
Ras Melayu lain 1.7% 2.1% 0.9% 0.4% 0.8% 2.9%

(Reference: Arumainathan 1973, Vol 1:254; Pang, 1984, Appendix m; Sunday Times, 28 June 1992)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Ethnic Group (eng)". indonesia.go id. Indonesian Information Portal. 2017. Diakses tanggal 29 Desember 2020. This quantity only provides the ethnic group population that lies under the term "Melayu" of Melayu Asahan, Melayu Deli, Melayu Riau, Langkat/ Melayu Langkat, Melayu Banyu Asin, Asahan, Melayu, Melayu Lahat, and Melayu Semendo in some part of Sumatra 
  2. ^ "Thailand". World Population Review. 2022. 
  3. ^ "Singapore". CIA World Factbook. 2022. Diakses tanggal 28 Februari 2014. 
  4. ^ "CIA (B)"
  5. ^ "Jejak Melayu di bumi anbiya". Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 September 2018. Diakses tanggal 1 Juni 2018. 
  6. ^ "Jabal Ajyad perkampungan komuniti Melayu di Mekah". Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 September 2018. Diakses tanggal 1 June 2018. 
  7. ^ "Australia – Ancestry". .id community. 
  8. ^ "Malaysian Malay in United Kingdom". Joshua Project. 
  9. ^ "Data Access Dissemination Systems (DADS): Results". United States Census Bureau. 5 October 2010. Diakses tanggal 2 December 2018. [butuh pemastian]
  10. ^ "Malay in Myanmar (Burma)". Joshua Project. 
  11. ^ "Census Profile, 2016 Census". Statistics Canada. 
  12. ^ Milner 2010, hlm. 24, 33.
  13. ^ Barnard 2004, hlm. 7 & 60.
  14. ^ Milner 2010, hlm. 131.
  15. ^ Barnard 2004, hlm. 7, 32, 33 & 43.
  16. ^ a b Timothy P. Barnard (2004). Contesting Malayness: Malay identity across boundaries. Singapore: Singapore University press. ISBN 9971-69-279-1. 
  17. ^ Melebek & Moain 2006, hlm. 9–10.
  18. ^ Barnard 2004, hlm. 3.
  19. ^ Deka 2007, hlm. 57.
  20. ^ Pande 2006, hlm. 266.
  21. ^ Gopal 2000, hlm. 139.
  22. ^ Ahir 1995, hlm. 612.
  23. ^ Mukerjee 1984, hlm. 212.
  24. ^ Sarkar 1970, hlm. 8.
  25. ^ Gerolamo Emilio Gerini (1974). Researches on Ptolemy's geography of eastern Asia (further India and Indo-Malay archipelago. Munshiram Manoharlal Publishers. hlm. 101. ISBN 81-70690366. 
  26. ^ Gerini 1974, hlm. 101.
  27. ^ I Ching 2005, hlm. xl–xli.
  28. ^ Melayu Online 2005.
  29. ^ Phani Deka (2007). The great Indian corridor in the east. Mittal Publications. hlm. 57. ISBN 81-8324-179-4. 
  30. ^ Govind Chandra Pande (2005). India's Interaction with Southeast Asia: History of Science,Philosophy and Culture in Indian Civilization, Vol. 1, Part 3. Munshiram Manoharlal. hlm. 266. ISBN 978-8187586241. 
  31. ^ Lallanji Gopal (2000). The economic life of northern India: c. A.D. 700-1200. Motilal Banarsidass. hlm. 139. ISBN 9788120803022. 
  32. ^ D.C. Ahir (1995). A Panorama of Indian Buddhism: Selections from the Maha Bodhi journal, 1892-1992. Sri Satguru Publications. hlm. 612. ISBN 8170304628. 
  33. ^ Radhakamal Mukerjee (1984). The culture and art of India. Coronet Books Inc. hlm. 212. ISBN 9788121501149. 
  34. ^ Himansu Bhusan Sarkar (1970). Some contributions of India to the ancient civilisation of Indonesia and Malaysia. Calcutta: Punthi Pustak. hlm. 8. 
  35. ^ I-Tsing (2005). A Record of the Buddhist Religion As Practised in India and the Malay Archipelago (A.D. 671-695). Asian Educational Services. hlm. xl – xli. ISBN 978-8120616226. 
  36. ^ Europa Publications Staff (2002). Far East and Australasia 2003 (34th edition). Routledge. hlm. 763. ISBN 978-1857431339. 
  37. ^ Milner, Anthony (2011). The Malays. John Wiley & Sons. hlm. 91–92. ISBN 9781444391664. 
  38. ^ Untuk usia manuskrip, lihat Malay Concordance Project.
  39. ^ Ryan 1976, hlm. 4–5.
  40. ^ "Orang Asli Population Statistics". Center for Orang Asli Concerns. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-07-22. 
  41. ^ Barnard 2004.
  42. ^ Murdock 1969, hlm. 278.
  43. ^ Ooi 2004, hlm. 495.
  44. ^ Anderbeck 2002.
  45. ^ Jamil Abu Bakar 2002, hlm. 39.
  46. ^ TED 1999.
  47. ^ Oppenheimer 2006.
  48. ^ Abdulla et al. 2009.
  49. ^ Soares, et al. 2008.
  50. ^ Razak 2012.
  51. ^ Terrell 1999.
  52. ^ Baer 1999.
  53. ^ Zaki Ragman (2003). Gateway to Malay culture. Singapore: Asiapac Books Pte Ltd. hlm. 1–6. ISBN 981-229-326-4. 
  54. ^ Alexanderll, James (2006). Malaysia Brunei & Singapore. New Holland Publishers. hlm. 8. ISBN 1860113095, 9781860113093 Periksa nilai: invalid character |isbn= (bantuan). 
  55. ^ "South and Southeast Asia, 500 - 1500". The Encyclopedia of World History. 1. Houghton Mifflin Harcourt. 2001. hlm. 138. 
  56. ^ O. W. Wolters (1999). History, culture, and region in Southeast Asian perspectives. Singapore: Cornell University Southeast Asia Program Publications. hlm. 33. ISBN 978-0877277255. 
  57. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-12-29. Diakses tanggal 2011-04-28. 
  58. ^ http://www.minorityrights.org/?lid=5600&tmpl=printpage
  59. ^ http://halaqah.net/v10/index.php?topic=4466.0[pranala nonaktif permanen]
  60. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-10-26. Diakses tanggal 2011-10-26. 
  61. ^ http://kebunketereh.com/?p=387
  62. ^ http://smzakirsayapmatahari.blogspot.com/2009/02/kota-singgora.html
  63. ^ http://www.koransuroboyo.com/2010/11/singgora-kerajaan-melayu-islam.html
  64. ^ http://www.ibnuhasyim.com/2009/06/orang-melayu-myanmar.html
  65. ^ http://www.ibnuhasyim.com/2009/07/myanmar-juga-milik-orang-melayu.html
  66. ^ http://www.bharian.com.my/bharian/articles/SusurgalurMuslimMyanmardariutaraSemenanjung/Article/index_html[pranala nonaktif permanen]

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]