Lompat ke isi

Suku Banjar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Banjar
Urang Banjar  (Banjar)
اورڠ بنجر
Jumlah populasi
6.900.000[1] (2010)
Daerah dengan populasi signifikan
 Indonesia (Kalimantan Selatan)
 Malaysia (Semenanjung) (Sabah)
 Singapura
Rincian jumlah populasi per wilayah
 Kalimantan Selatan3.174.158
 Kalimantan Tengah593.198
 Kalimantan Timur504.234
 Riau287.280
 Sumatera Utara150.824
 Jambi126.392
 Kalimantan Utara24.764
 Kalimantan Barat18.474
 Jawa Timur12.405
 Kepulauan Riau13.887
 Jawa Barat9.383
 Jakarta8.572
 Sulawesi Selatan4.587
 Sulawesi Tengah3.884
 Aceh3.173
 Banten2.208
 Yogyakarta2.567
 Jawa Tengah2.336
 Sumatera Selatan1.668
 Nusa Tenggara Barat1.064
 Sulawesi Utara797
 Sulawesi Tenggara529
 Lampung411
 Sumatera Barat355
 Bali349
 Malaysia 2.000.000
Bahasa
  • Pribumi
  • Banjar
    • Banjar Baku
    • Banjar Batangbanyu
    • Banjar Kuala
    • Banjar Pahuluan
  • Juga
Agama
Islam (Sunni)
Kelompok etnik terkait

Suku Banjar (Banjar: اورڠ بنجر) adalah suatu kelompok etnis yang berasal dari daerah Banjar (Banua Banjar/Tanah Banjar), yang sekarang menjadi provinsi Kalimantan Selatan. Populasi suku Banjar dalam jumlah besar juga dapat di temukan di daerah Kalimantan lainnya seperti di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, selain itu populasi suku Banjar dalam jumlah signifikan juga dapat di temukan di luar Kalimantan seperti di Riau, Sumatra Utara, Jambi dan Semenanjung Malaysia, akibat Migrasi Orang Banjar pada abad 18 ke kepulauan Melayu.[2] Suku Banjar merupakan penutur Bahasa Banjar (dengan berbagai macam dialeknya), dan terikat dalam persamaan sejarah atau latar belakang serta kebudayaan. Suku Banjar merupakan salah satu etnis pribumi asli Kalimantan di Indonesia yang mana berbagai elemen kebudayaannya secara resmi diakui oleh pemerintah republik Indonesia dan dianggap sebagai salah satu komponen penting warisan kebudayaan nasional.[3]

Dikarenakan faktor historis pengislaman pribumi Kalimantan, mayoritas masyarakat etnis Banjar pada umumnya kini merupakan pemeluk agama Islam (Muslim). Masyarakat ini menunjukkan karakteristik yang agak berbeda dari kebanyakan Dayak di wilayah pedalaman Kalimantan. Suku Banjar cenderung memiliki gaya hidup dan norma-norma yang berbasis Islami. Etnis Banjar juga terkenal akan kemampuannya dalam bidang perniagaan. Pada masa kini populasi diaspora Banjar dapat ditemui pula secara global atau di seluruh belahan dunia, termasuk diantaranya dalam cakupan wilayah Asia Tenggara maupun hingga ke Timur Tengah (terutama di Arab Saudi). Beberapa penyebutan untuk orang Banjar menurut logat bahasa suku lain misalnya Banyar (bahasa Sumbawa), Bandiyar (bahasa Tausug), Banjara (Bugis-Makassar), Bênjêr (bahasa Kutai), mBanjar (Jawa) dan al-Banjari.

Nomenklatur

[sunting | sunting sumber]

Secara etimologis, kata "Banjar" dari sudut pandang komunitas Dayak sebagai etnonim mulanya berasal dari terminologi bahasa Ma'anyan. Dalam bahasa Ma'anyan sendiri istilah ini disebut Ulun Hakey, yaitu sebutan untuk komunitas yang tidak makan daging babi dan mempunyai ritual pemakaman langsung dikubur ke dalam tanah tanpa digali lagi, hal ini berbeda dari Dayak Maanyan asli (Kaharingan) yang memiliki adat pemakaman sekunder (yaitu ijambe, ritual pembakaran tulang sisa jenazah dari hasil penggalian kuburan dari pemakaman pertama, untuk selanjutnya ditempatkan pada peti jenazah berkaki dua yang disebut Tambak). Secara hakikatnya, etnonim ini digunakan untuk mengidentifikasi golongan "Dayak" dari etno-lingusitik Ma'anyan, Meratus, Ngaju dan Paku-Karau (Luangan), 'rahasia umum' dalam masyarakat Kalimantan bahwa etnis Banjar sejatinya merupakan bagian dari masyarakat Dayak yang lebih besar yang telah mengalami asimilasi (baik itu dari segi agama, budaya, dan lain sebagainya) dengan pengaruh luar.

Namun sebutan Dayak itu sendiri baru diperkenalkan di Kalimantan Selatan pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman dari Banjar, sesaat sebelum pendirian Geredja Dajak Evengelis pada tanggal 10 April 1839, untuk menyatukan berbagai komunitas menjadi satu identitas kultural yang dianggap sama tapi berasal dari beragam penutur bahasa yang berbeda-beda (etno-linguistik) sebagai basis penginjilan. Komunitas yang sudah dibaptis ini disebut Ulun Ungkup. Hal tersebut didahului dengan munculnya pula istilah geografis yang disebut Tanah Dayak pada awal pembentukan Hindia Belanda pada permulaan abad ke-19.

Namun dalam Hikayat Banjar, istilah Banjar itu sendiri diambil dari nama sebuah kampung di tepi sungai Kuin. Komunitas Dayak Ngaju menyebut komunitas ini dengan sebutan Oloh-Masih. Oloh-Masih ini identik dengan komunitas sub-etnis Banjar Kuala (kuala= muara).

Prasejarah

[sunting | sunting sumber]

Dirunut dari genealoginya, masyarakat etnis Banjar pada zaman dahulu merupakan satu kesatuan entitas yang sama dengan masyarakat Dayak lainnya di sekitar wilayah Pegunungan Meratus (khususnya dengan etnis Bukit atau kerap dikenali sebagai Dayak Meratus). Penelitian arkeologi pada zaman modern di kawasan Geopark Meratus mengungkapkan bahwa wilayah ini telah dihuni oleh manusia purba sejak zaman masa prasejarah.

Peradaban

[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Tanjung Puri

[sunting | sunting sumber]
Rumah Banjar Bubungan Tinggi zaman dahulu

Kerajaan Tanjung Puri didirikan pada tahun 520 Masehi oleh diaspora Melayu Kuno yang diduga berintikan penduduk asli Kerajaan Sriwijaya yang berlayar dan mendarat di selatan pulau Kalimantan dan di beri izin oleh penduduk setempat yaitu orang Dayak Maanyan, untuk mendirikan Kerajaan di wilayah Tanjung, Tabalong, yang di beri nama Kerajaan Tanjung Puri. Wilayah Tanjung Puri kemudian menjadi daerah perdagangan yang ramai dan berkembang pesat, dengan rakyat yang hidup dalam kemakmuran.

Baju adat Banjar Bagajah Gamuling Baular Lutut

Antara orang Melayu Kuno dan Dayak Maanyan, Terjadi pembauran dan Asimilasi budaya maupun bahasa di Kerajaan Tanjung Puri sehingga melahirkan kebudayaan baru yang bercorak Melayu-Kaharingan, dan Melayu-Hindu Siwa. Hal ini dapat di lihat dari pakaian adat Banjar tertua yaitu Bagajah Gamuling Baular Lutut yang merupakan asimilasi dari budaya Melayu kuno untuk Baju dan Mahkotanya dan Dayak Maanyan untuk Aksesoris Janur yang disebut Halilipan di belakang kepala.

Tanjung Puri sendiri diperkirakan merupakan bagian dari atau berdirinya Kerajaan Kuripan, sebuah kerajaan kuno yang kemudian berkembang menjadi Negara Dipa.

Kerajaan Negara Dipa

[sunting | sunting sumber]
Candi Agung salah situs peninggalan kerajaan Negara Dipa

Kerajaan Negara Dipa merupakan sebuah sebutan setempat oleh masyarakat etnis Banjar yang merujuk kepada suatu entitas kerajaan yang merupakan cikal bakal dinasti raja-raja Banjar yang didirikan seorang tokoh yang bernama Ampu Jatmaka yang merupakan bangsawan dari Majapahit pada tahun 1380 Masehi, dan dianggap sebagai peradaban yang memiliki pengaruh dominan bagi masyarakat Banjar.

Lahirnya negara Dipa sebagai Kerajaan baru membuat adanya pengaruh budaya jawa di kehidupan masyarakat Banjar yang sebelumnya telah di masuki pengaruh Melayu Kuno di era Kerajaan Tanjung Puri, pengaruh Jawa mulai dari Bahasa, Musik seperti gamelan, wayang, Seni Tari Keraton maupun tari rakyat seperti Kuda Gepang, hingga keris.

Adapun tokoh yang terkenal dari Negara Dipa adalah Puteri Junjung Buih yang diyakini merupakan pemimpin ketiga kerajaan Negara Dipa, Menurut mitologi rakyat pesisir Kalimantan seorang raja haruslah keturunan raja puteri ini sehingga raja-raja Kalimantan Selatan mengaku sebagai keturunan putri Junjung Buih.

Kerajaan Negara Daha

[sunting | sunting sumber]
Artefak yang ditemukan di situs Candi Laras koleksi Museum Lambung Mangkurat.

Kerajaan Negara Daha merupakan bentuk lanjutan dari kekuasaan Dipa Negara atau Negara Dipa yang mana kerajaan ini didirikan tahun 1437 Masehi, dengan raja pertama nya bernama Raden Sekar Sungsang / Panji Suryanata Yang Berjuluk Jaka Krewet [4] yang merupakan seorang pangeran Majapahit putra Brawijaya Bhre Kerthabumi, pada masa ini pemimpin monarki atau sang raja telah dilantik dari keturunan raja yang menetap di Kalimantan.

Raden Sekar Sungsang, diberi gelar Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan. Pusat pemerintahannya di Muara Hulak dan pelabuhannya di Muara Bahan. Wilayah kekuasaan Negara Daha adalah Sewa Agung, Bunyut, Karasikan, Balitung, Lawai, dan Kotawaringin. Raja terakhir Kerajaan Negara Daha adalah Raden Sukarama.

Kesultanan Banjar

[sunting | sunting sumber]
Gambar keraton Kesultanan Banjar di Martapura pada tahun 1843.

Kemunculan Banjar sebagai kerajaan berbasis Islam tahun 1526 Masehi didukung langsung oleh Kesultanan Demak di Jawa, Setelah pengambilalihan Negara Daha oleh Kesultanan Banjar.

Pedagang Banjar pada saat itu berhubungan dagang dengan kota-kota pelabuhan seperti Tedunan, Jepara, Demak, Tuban, Giri, Surabaya, Arosbaya dan Sumenep. Oleh seorang ulama yang yang datang dari negeri Arab dan komunitas Melayu, Raja Banjar diberi gelar Sultan.

Pada masa kegemilangan Mataram, seluruh kerajaan yang terkoneksi dengan Jawa mengalami pengaruh keislaman dengan disahkannya pengadopsian sistem pemerintahan ala Timur Tengah, yakni kesultanan. Sejak saat itu, kerajaan Banjar bertransformasi menjadi kesultanan Banjar, yang mana pemimpin monarkinya berupa seorang sultan (bukan lagi raja seperti sebelumnya).

Baju Nanang-Galuh Banjar yang berunsur Melayu setelah Islam

Pada masa Kesultanan Banjar, pihak istana banyak meninggalkan kebudayaan lama mereka yang bercorak Hindu dan Kaharingan, dan banyak menyerap budaya Melayu yang lebih Islami dan tertutup yang sesuai dengan syariat islam. Hal ini juga di ikuti oleh rakyat Banjar yang lambat laun mulai melakukan pergeseran dan adaptasi ke Budaya Melayu yang islami, Pengaruh Melayu ini sangat kuat dan hampir ada di setiap aspek masyarakat Banjar hingga saat ini, mulai dari Pakaian Adat, Seni Tari (Japin), Kuliner, Musik (Panting), hingga Bahasa, dan hal inilah yang menjadi identitas suku Banjar itu sendiri sampai sekarang.

Sistem kekerabatan

[sunting | sunting sumber]
Waring
Sanggah
Datu
Kayi (kakek) + Nini (nenek)
Abah (ayah) + Uma (ibu)
Kakak < ULUN (saya/sudut pandang pembaca)> Ading
Anak
Cucu
Buyut
Intah/Muning

Seperti sistem kekerabatan umumnya, masyarakat Banjar mengenal istilah-istilah tertentu sebagai panggilan dalam keluarga. Skema di samping berpusat dari ULUN sebagai penyebutnya.

Bagi ULUN juga terdapat panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara tertua disebut Julak, saudara kedua disebut Gulu, saudara berikutnya disebut Tuha, saudara tengah dari ayah dan ibu disebut Angah, dan yang lainnya biasa disebut Pakacil (paman muda/kecil) dan Makacil (bibi muda/kecil), sedangkan termuda disebut Busu. Untuk memanggil saudara dari kai dan nini sama saja, begitu pula untuk saudara datu.

Disamping istilah di atas masih ada pula sebutan lainnya, yaitu:
 · minantu (suami / isteri dari anak ULUN)
 · pawarangan (ayah / ibu dari minantu)
 · mintuha (ayah / ibu dari suami / isteri ULUN)
 · mintuha lambung (saudara mintuha dari ULUN)
 · sabungkut (orang yang satu Datu dengan ULUN)
 · mamarina (sebutan umum untuk saudara ayah/ibu dari ULUN)
 · kamanakan (anaknya kakak / adik dari ULUN)
 · sapupu sakali (anak mamarina dari ULUN)
 · maruai (isteri sama isteri bersaudara)
 · ipar (saudara dari isteri / suami dari ULUN)
 · panjulaknya (saudara tertua dari ULUN)
 · pambusunya (saudara terkecil dari ULUN)
 · badangsanak (saudara kandung)

Untuk memanggil orang yang seumur boleh dipanggil ikam, boleh juga menggunakan kata aku untuk menunjuk diri sendiri. Sedangkan untuk menghormati atau memanggil yang lebih tua digunakan kata pian, dan kata ulun untuk menunjuk diri sendiri.

Dalam sistem kekerabatan, orang Banjar menganut prinsip garis keturunan bilateral (parental), artinya menarik garis keturunan pada pihak ayah dan pihak ibu.

Diagramatik Y-DNA suku Banjar (DNA Southern Borneo)

[sunting | sunting sumber]

Genetika Y-DNA suku Banjar dalam tabel

  C (13.3%)
  K-M9 (6.7%)
  O1b1a1a subcalde (Former 02a) Austroasia (26.7%)
  O-M122/02a-n6 subclade (Former 03a)- Sino-Tibet (26.7%)

Agama dan kepercayaan

[sunting | sunting sumber]
Masjid tradisional dengan gaya arsitektur rumah panggung Banjar

Istilah Islam Banjar menunjuk kepada sebuah proses historis dari fenomena inkulturisasi Islam di Tanah Banjar, yang secara berkesinambungan tetap hidup di dan bersama masyarakat Banjar itu sendiri.[5] Dalam ungkapan lain, istilah Islam Banjar setara dengan istilah-istilah berikut: Islam di Tanah Banjar, Islam menurut pemahaman dan pengalaman masyarakat Banjar, Islam yang berperan dalam masyarakat dan budaya Banjar, atau istilah-istilah lain yang sejenis, tentunya dengan penekanan-penekanan tertentu yang bervariasi antara istilah yang satu dengan lainnya.

Inti dari Islam Banjar adalah terdapatnya karakteristik khas yang dimiliki agama Islam dalam proses sejarahnya di Tanah Banjar. Ciri khas itu adalah terdapatnya kombinasi pada level kepercayaan antara kepercayaan Islam, kepercayaan bubuhan, dan kepercayaan lingkungan. Kombinasi itulah yang membentuk sistem kepercayaan Islam Banjar.[6] Di antara ketiga sub kepercayaan itu, yang paling tua dan lebih asli dalam konteks Banjar adalah kepercayaan lingkungan, karena unsur-unsurnya lebih merujuk pada pola-pola agama pribumi pra-Hindu. Oleh karena itu, dibandingkan kepercayaan bubuhan, kepercayaan lingkungan ini tampak lebih fleksibel dan terbuka bagi upaya-upaya modifikasi ketika dihubungkan dengan kepercayaan Islam.[5]

Sejarah Islam Banjar dimulai seiring dengan sejarah pembentukan entitas Banjar itu sendiri. Menurut kebanyakan peneliti, Islam telah berkembang jauh sebelum berdirinya Kerajaan Banjar di Kuin Banjarmasin, meskipun dalam kondisi yang relatif lambat lantaran belum menjadi kekuatan sosial-politik. Kerajaan Banjar, dengan demikian, menjadi tonggak sejarah pertama perkembangangan Islam di wilayah Selatan pulau Kalimantan. Kehadiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjar lebih kurang tiga abad kemudian merupakan babak baru dalam sejarah Islam Banjar yang pengaruhnya masih sangat terasa sampai dewasa ini.

Bahasa dan kesusastraan

[sunting | sunting sumber]

Bahasa yang dituturkan oleh masyarakat etnis Banjar adalah bahasa Banjar yang bertetangga dengan rumpun bahasa Barito Raya. Namun secara geneaologis linguistiknya, bahasa ini merupakan salah satu bahasa dalam rumpun bahasa Melayik (Dayak Laut) yang berserumpun dengan bahasa Iban, Seberuang, Kanayatn, Sambas, Keninjal, Tomun, Tamuan, Teringin, Meratus, Kutai, Berau, Kadayan, Brunei dan lain sebagainya.

Pengaruh linguistik

[sunting | sunting sumber]
Peta wilayah kekuasaan kemaharajaan Majapahit

Serupa dengan rumpun bahasa Dayak lainnya yang dituturkan di wilayah Kalimantan, bahasa Banjar memiliki pengaruh linguistik yg paling dominan dari bahasa Dayak sendiri dan sedikit dari bahasa Jawa yang diduga mengalami pemesatan pengaruh pada masa kemaharajaan Majapahit. Namun demikian, selain mendapat pengaruh sedikit dari bahasa Jawa, terdapat juga pengaruh dari bahasa Arab yang menandakan sejarah linguistik bidang religiusitas dalam masyarakat etnis Banjar.

Kesusastraan

[sunting | sunting sumber]

Hikayat Banjar

[sunting | sunting sumber]
Lukisan Gadis Banjar sekitar tahun 1850

Terdapat beberapa unsur filsafat hidup suku Banjar, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif, antara lain:[7]

  • Baiman, yaitu setiap orang Banjar meyakini adanya Tuhan atau Allah. Setiap individu suku Banjar dianjurkan untuk mempelajari rukun iman dan melaksanakan kelima rukun Islam secara tekun. Apabila belum mempelajari keimanan dan rukun Islam tersebut, dianggap bahwa keberagamaan orang Banjar belum sempurna.
  • Bauntung, yaitu setiap orang Banjar diwajibkan memiliki keterampilan hidup. Sejak kecil, orang Banjar diajarkan keterampilan kejuruan yang terkait dengan pekerjaan tertentu di lingkungannya. Misalnya, orang Kelua memiliki keahlian menjahit, orang Amuntai ahli membuat lemari, orang Alabio sebagai pedagang kain, di Negara ahli berdagang emas, membuat gerabah, dan membuat perahu atau kapal, orang Margasari ahli membuat anyaman, serta orang Martapura ahli berdagang batu-batuan. Setiap individu diajarkan keterampilan hidup agar mampu mandiri. Urang Banjar senantiasa bekerja terus-menerus, karena setelah menyelesaikan satu tugas, tugas lain sudah menanti.
  • Batuah, yaitu berkah atau hal yang bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Sebagai pemeluk agama Islam, orang Banjar diajarkan untuk mengamalkan ajaran agama dengan baik agar hidupnya membawa kebaikan bagi orang lain, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Oleh karena itu, urang Banjar, baik pada masa lalu maupun saat ini, diharapkan hidupnya berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas. Agar dapat bermanfaat bagi masyarakat, urang Banjar harus memiliki iman yang kuat, ilmu yang bermanfaat, serta mengamalkan perbuatan kebajikan.
  • Cangkal, yaitu ulet dan rajin dalam bekerja. Urang Banjar diajarkan untuk bekerja keras guna meraih cita-cita, sehingga pada masa lalu mereka kerap merantau. Sifat cangkal menjadi salah satu identitas urang Banjar. Dalam pandangan mereka, bekerja harus dilakukan secara maksimal disertai doa dan bertawakal kepada Allah Swt., sehingga kehidupan menjadi bahagia di dunia dan akhirat.
  • Baik Tingkah laku. Yaitu Urang Banjar dalam pergaulan sehari-hari harus menunjukkan budi pekerti yang luhur agar dia disenangi orang lain. Dengan kata lain, Urang Banjar harus pandai beradaptasi dengan lingkungan di mana dia bertempat tinggal.
  • Kompetitif individual. Yaitu orang Banjar terkenal sebagai pekerja keras dalam menggapai cita-citanya tetapi bekerja sendiri-sendiri tidak secara kolektif, sehingga Urang Banjar tidak mampu membangun suatu poros kekuatan ekonomi atau politik di Pentas Nasional. Urang Banjar cenderung memiliki sifat individual dan ego yang tinggi sehingga susah diatur.
  • Materialis pragmatis. Gaya hidup Urang Banjar saat ini dikarenakan pengaruh globalisasi dengan trend hidup yang materialis-pragmatis, sehingga pola hidup Urang Banjar sangat konsumtif. Disisi lain, gaya hidup anak muda Banjar dalam memilih kerja, lebih mengutamakan kerja kantoran yang berdasi atau karyawan supermarket daripada pedagang kecil dengan modal sendiri dan mandiri.
  • Sikap qanaah dan pasrah. Urang Banjar selagi muda adalah pekerja keras untuk meraih cita-citanya, tapi kalau sudah berhasil dan sudah tua hidupnya santai untuk menikmati hidup dan beribadah kepada Allah untuk mengisi waktu.
  • Haram manyarah dan waja sampai kaputing. Yaitu pantang menyerah dan tegar pendirian. Kata hikmah di atas diungkapkan oleh Pangeran Antasari dalam rangka memperkuat motivasi pasukannya menghadapi pasukan penjajah Belanda. Urang Banjar mempunyai pendirian yang kuat untuk mempertahankan keyakinan atau yang diperjuangkannya, sehingga tidak mudah goyang atau terombang-ambing oleh situasi dan kondisi yang dihadapi. Prinsip ini dipakai dan dijadikan semboyan Provinsi Kalimantan Selatan.

Nilai budaya Banjar yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan diri sendiri dan manusia dengan alam:[8]

  • Wujud konsepsi berelaan merupakan nilai ikhlas dan syukur dan semata-mata untuk ibadah dan mendapat keridhoan Allah SWT.
  • Pada sistem kekerabatan, baik karena keturunan maupun karena status sosial dan profesi, ada konsep bubuhan. Dalam konsepsi bubuhan termuat nilai bedingsanakan (persaudaraan), betutulungan (tolong menolong) dan mau haja bakalah bamanang (mau saja kalah menang) maksudnya mau saja memberi dan menerima. Bubuhan sebagai kesatuan sosial sangat kuat ikatannya dengan ke-gotongroyongan. Orang hidup harus betutulongan (tolong menolong), jangan hidup saurang-saurang (sendiri-sendiri).
  • Nilai untuk pengembangan diri konsepsi gawi manuntung, yaitu seseorang dalam mengerjakan sesuatu harus dapat menyelesaikannya dengan baik. Serta konsepsi dalas balangsar dada artinya biarpun harus berselancar dada yang maknanya seseorang harus berjuang dengan sungguh-sungguh.
  • Nilai konsepsi bisa-bisa maandak awak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. nasihat ini biasanya diberikan agar dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat
3 Macam Busana Pengantin Banjar, Bagajah Gamuling Baular Lulut, Babaju Kun Galung Pacinan dan Baamar Galung Pancar Matahari

Umumnya adat kebudayaan Banjar berakar dari ritual keagamaan Kaharingan yang setelah pengislaman massal adat kebudayaan Kaharingan ini disunting untuk disesuaikan dengan keyakinan baru mereka yaitu Islam.

Salah satu contohnya adalah adat baayun anak yang pada zaman dahulu adalah ritual pemberkatan anak penganut Kaharingan dengan dibacakan mantra-mantra Balian, sekarang dalam adat Banjar yang Islam baayun anak tidak lagi menggunakan mantra-mantra Balian akan tetapi dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Tradisi Baayun Anak Masyarakat Banjar

Keterampilan Mengolah Lahan Pasang Surut

[sunting | sunting sumber]

Kehidupan orang Banjar terutama kelompok Banjar Kuala dan Batang Banyu lekat dengan budaya sungai. Sebagai sarana transportasi, orang Banjar mengembangkan beragam jukung (perahu) sesuai dengan fungsinya yakni Jukung Pahumaan, Jukung Paiwakan, Jukung Paramuan, Jukung Palambakan, Jukung Pambarasan, Jukung Gumbili, Jukung Pamasiran, Jukung Beca Banyu, Jukung Getek, Jukung Palanjaan, Jukung Rombong, Jukung/Perahu Tambangan, Jukung Undaan, Jukung Tiung dan lain-lain.[9] Kondisi geografis Kalimantan Selatan yang banyak memiliki sungai dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh orang Banjar, sehingga salah satu keahlian orang Banjar adalah mengolah lahan pasang surut menjadi kawasan budi daya pertanian dan permukiman.[10] Sistem irigasi khas orang Banjar yang dikembangkan masyarakat Banjar mengenal tiga macam kanal. Pertama, Anjir (ada juga yang menyebutnya Antasan) yakni semacam saluran primer yang menghubungkan antara dua sungai. Anjir berfungsi untuk kepentingan umum dengan titik berat sebagai sistem irigasi pertanian dan sarana transportasi. Kedua, Handil (ada juga yang menyebut Tatah) yakni semacam saluran yang muaranya di sungai atau di Anjir. Handil dibuat untuk menyalurkan air ke lahan pertanian daerah daratan. Handil ukurannya lebih kecil dari Anjir dan merupakan milik kelompok atau bubuhan tertentu. Ketiga, Saka merupakan saluran tersier untuk menyalurkan air yang biasanya diambil dari Handil. Saluran ini berukuran lebih kecil dari Handil dan merupakan milik keluarga atau pribadi.

Rumah Banjar

[sunting | sunting sumber]
Artikel utama: Rumah Bubungan Tinggi
Rumah Ba'anjung Pisang Sasikat Muka Ba'atap Sindang Langit Bubungan Tinggi disingkat Rumah Bubungan Tinggi di Desa Telok Selong.
Rumah Bubungan Tinggi di Kota Banjarmasin

Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif, menggunakan kayu ulin sebagai bahan bangunannya dan simetris. Rumah tradisonal Banjar adalah tipe-tipe rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri. Mulai berkembang sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Dari sekian banyak jenis-jenis rumah Banjar, tipe Bubungan Tinggi merupakan jenis rumah Banjar dengan kasta tertinggi dan paling dikenal karna jenis rumah ini merupakan kediaman raja zaman dahulu, dan Bubungan Tinggi menjadi identitas rumah adat suku Banjar sampai sekarang.

Tradisi lisan

[sunting | sunting sumber]
Artikel utama: Madihin
Pertunjukan Madihin oleh masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan

Tradisi lisan oleh Suku Banjar sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu, Arab, dan Cina. Tradisi lisan Banjar (yang kemudian hari menjadi sebuah kesenian) berkembang sekitar abad ke-18 yang di antaranya adalah Madihin dan Lamut. Madihin berasal dari bahasa Arab, yakni madah (ﻤﺪﺡ) yang artinya pujian. Madihin merupakan puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Sedangkan Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut berasal dari negeri Cina dan mulanya menggunakan bahasa Tionghoa.[11] Namun, setelah dibawa ke Tanah Banjar oleh pedagang-pedagang Cina, maka bahasanya disesuaikan menjadi bahasa Banjar.[11]

Artikel utama: Mamanda
Penampilan kesenian Mamanda

Satu-satunya seni teater tradisional yang berkembang di pulau Kalimantan adalah Mamanda. Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.[12]

Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut (Putri).[12]

Tokoh-tokoh ini wajib ada dalam setiap Pementasan. Agar tidak ketinggalan, tokoh-tokoh Mamanda sering pula ditambah dengan tokoh-tokoh lain seperti Raja dari Negeri Seberang, Perompak, Jin, Kompeni dan tokoh-tokoh tambahan lain guna memperkaya cerita.

Disinyalir istilah Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja. Mamanda secara etimologis terdiri dari kata "mama" (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.[12]

Artikel utama: Musik Panting
Alunan musik Banjar sebagai pengiring tari Japin Sigam yang berasal dari pulau Laut.

Salah satu kesenian berupa musik tradisional khas Suku Banjar adalah Musik Panting. Musik ini disebut Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan panting, sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut musik panting.

Pria Banjar memainkan alat musik Panting

Pada awalnya musik panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk mirip seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya, maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti babun (gendang), agung (gong) dan piul (biola) dan pemainnya juga terdiri dari beberapa orang. Nama musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada musik panting yang terkenal alat musik nya dan yang sangat berperan adalah panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting. Orang yang pertama kali memberi nama sebagai musik panting adalah A. Sarbaini. Dan sampai sekarang ini musik panting terkenal sebagai musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.[13]

Selain itu, ada sebuah kesenian musik tradisional Suku Banjar, yakni Musik Kentung. Musik ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat, Astambul dan kampung Bincau, Martapura. Pada masa sekarang, musik kentung ini sudah mulai langka. Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.[14]

Artikel utama: Tari Baksa Kembang
Penari Banjar dalam gerakan tari Baksa Kembang

Seni Tari Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (keraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat Banjar. Seni tari keraton ditandai dengan nama "Baksa" yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, tetapi gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan.

Artikel utama: Kue Tradisional Banjar
Bingka salah satu Kue khas Banjar

Kuliner tradisional Banjar antara lain sate Banjar,[15] soto Banjar, ketupat Kandangan, kue bingka dan amparan tatak.[16] Terdapat 41 macam kue (wadai) khas Banjar untuk ritual upacara adat Banjar.[17]

Senjata tradisional

[sunting | sunting sumber]

Baberapa senjata tajam untuk perlengkapan dan pertahanan diri dan senjata pusaka, yang asli dari Kalimantan dan senjata hasil asimilasi budaya:

  1. Mandau putri batiti
  2. Ambang
  3. Pedang Jenawi
  4. Pedang VOC
  5. Pohon Pedang VOC
  6. Ujung Pedang VOC / sangkur
  7. Parang bungkul
  8. Parang Nabur
  9. Parang Kemudi Singkir
  10. Parang Lubuk / Laméng
  11. Parang Kajang Rungkup
  12. Parang Pacat Gantung
  13. Parang Baduk
  14. Parang Sundrik
  15. Parang Kayutangi
  16. Parang Tabu Darat
  17. Parang Lantik
  18. Parang Lais
  19. Parang Lais Antasari
  20. Parang Lais Pandan Liris
  21. Parang Nabur Lais
  22. Parang Wawalutan
  23. Parang Nabur Walut
  24. Parang Nabur Salin Alai Walut
  25. Parang Nabur Pipih
  26. Parang Nabur Buaya Sapit
  27. Baladau Balabang/Baladah
  28. Parang Nabur Balanak
  29. Parang Nabur Salin Alai Balanak
  30. Parang Nabur Carangasoka
  31. Lading Belati Laki
  32. Lading Belati Bini
  33. Pisau Pipisawan Laki
  34. Pisau Pipisawan Bini
  35. Pisau Julung-Julung
  36. Pisau raut
  37. Pisau Gagak Pati
  38. Pisau Ujung Pedang VOC
  39. Pisau Garagai
  40. Pisau Sangkuh
  41. Pisau sadap
  42. Badik Balitung Laki
  43. Badik Balitung Bini
  44. Badik Raja Tumpang
  45. Badik Raja Bagalung
  46. Badik Asu
  47. Badik Sadup
  48. Badik Sakin
  49. Badik Kawali
  50. Badik Santik Hundang
  51. Badik Santing
  52. Badik Santagi
  53. Badik Kuku Bima
  54. Badik Jambia
  55. Badik Cukmar
  56. Badik Abu Gagang
  57. Badik Ilat Patung
  58. Tumpang Sari
  59. Keris berkelok (luk)
    1. Keris Carita lok 13
    2. Keris Kulintang lok 11
    3. Keris Gajah Maruta lok 15
    4. Keris Kabulajir lok 3 atau lok 7
    5. Keris Nagarunting lok 5-7-9-11.
    6. Keris Nagasalira lok 5 atau lok 7.
    7. Keris Naga Sastra Bini lok 5 atau 9.
    8. Keris Naga Sastra Laki lok 11.
    9. Keris Naga Pancar lok 7.
    10. Keris Ular Birang lok 5 atau 7.
    11. Keris Panah Barantai lok 25.
    12. Keris Pandawa lok 7.
    13. Keris Pandawa Carita lok 5.
    14. Keris Parong lok 5.
    15. Keris Gagak Pasupati lok 5.
    16. Keris Sabuk Intan lok 11.
    17. Keris Sampana Carita lok 9.
    18. Keris Sampana Panimbal lok 9.
    19. Keris Sandang Kadaton lok 7.
    20. Keris Sandang Kamajaya lok 5.
    21. Keris Saputra lok 5.
    22. Keris Jangkung Mangkurat
  60. Keris lurus:
    1. Keris Brojol
    2. Keris Pasupati Pandu
    3. Keris Kuricin
    4. Keris Mandorang
    5. Keris Samburat
    6. Keris Sampana
    7. Keris Sampana Bindrang
    8. Keris Sampana Mayang Bungkus
    9. Keris Sampana Jaruju
    10. Keris Sampana Kijang
    11. Keris Sampana Nipis
    12. Keris Sampana Pipilis
    13. Keris Sampana Pucuk
    14. Keris Sampana Daun
    15. Keris Sapukal
    16. Keris Sapukal Sari
    17. Keris Sampana Tilam Upih
    18. Keris Arjuna Sasrabahu ?
    19. Keris Panji Pengantin
  61. Tombak:
    1. Tombak kuningan lok dapak
    2. Tombak Biring
    3. Tombak Kalang Barajut
    4. Tombak Biji Waluh
    5. Tombak Sapit Tagun
    6. Tombak Sangkuh
    7. Tombak Blankas (Buntut belangkas)
    8. Tombak Lumpus
    9. Tombak Cikil Laki
    10. Tombak Duha
    11. Tombak Belimbing
    12. Tombak Trisula
  62. Serapang
  63. Cabang
  64. Rutikalung
  65. Camati Ali
  66. Sungga
  67. Sumbiang
  68. Radang
Peta persebaran Suku Banjar di Nusantara

Populasi suku Banjar di seluruh dunia diperkirakan berjumlah 5,7 juta jiwa. Di Indonesia sendiri populasi suku Banjar sebanyak 4.127.124 jiwa[18] dan sekitar 221.000 jiwa berada di Malaysia.[19] Suku Banjar terdapat di seluruh provinsi di Indonesia dengan 2.686.627 jiwa diantaranya tinggal di Kalimantan Selatan. Populasi suku Banjar dalam jumlah besar juga dapat ditemukan di Kalimantan Tengah (464.260) dan Kalimantan Timur (440.453) yang merupakan daerah perantauan primer orang Banjar. Di pulau Sumatra orang Banjar banyak terdapat di Riau (227.239), Sumatra Utara (125.707) dan Jambi (102.237) karena migrasi orang Banjar pada abad ke-19 ke pesisir timur Sumatra.

Populasi suku Banjar diantaranya sebagai berikut:[20]

Provinsi Populasi Suku Banjar Jumlah Penduduk Konsentrasi Distribusi
Kalimantan Selatan 2.686.627 3.626.616 74,08% 65,10%
Kalimantan Tengah 464.260 2.212.089 20,99% 11,25%
Kalimantan Timur 440.453 3.553.143 12,40% 10,67%
Riau 227.239 5.538.367 4,10% 5,51%
Sumatra Utara 125.707 12.982.204 0,97% 3,05%
Jambi 102.237 3.092.265 3,31% 2,48%
Kalimantan Barat 14.430 4.395.983 0,33% 0,35%
Jawa Timur 12.405 37.476.757 0,03% 0,30%
Kepulauan Riau 11.811 1.679.163 0,70% 0,29%
Jawa Barat 9.383 43.053.732 0,02% 0,23%
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 8.572 9.607.787 0,09% 0,21%
Sulawesi Selatan 3.837 8.034.776 0,05% 0,09%
Sulawesi Tengah 3.452 2.635.009 0,13% 0,08%
Aceh 2.734 4.494.410 0,06% 0,07%
Banten 2.572 10.632.166 0,02% 0,06%
Daerah Istimewa Yogyakarta 2.545 3.457.491 0,07% 0,06%
Jawa Tengah 2.336 32.382.657 0,01% 0,06%
Sumatra Selatan 1.442 7.450.394 0,02% 0,03%
Nusa Tenggara Barat 1.083 4.500.212 0,02% 0,03%
Sulawesi Utara 594 2.270.596 0,03% 0,01%
Sulawesi Tenggara 499 2.232.586 0,02% 0,01%
Lampung 411 7.608.405 0,01% 0,01%
Sumatra Barat 355 4.846.909 0,01% 0,01%
Bali 349 3.890.757 0,01% 0,01%
Papua 327 2.833.381 0,01% 0,01%
Bangka Belitung 249 1.223.296 0,02% 0,01%
Sulawesi Barat 221 1.158.651 0,02% 0,01%
Maluku 213 1.533.506 0,01% 0,01%
Nusa Tenggara Timur 200 4.683.827 0,00% 0,00%
Bengkulu 180 1.715.518 0,01% 0,00%
Papua Barat 165 760.422 0,02% 0,00%
Gorontalo 134 1.040.164 0,01% 0,00%
Maluku Utara 102 1.038.087 0,01% 0,00%
Total 4.127.124 237.641.326 1,74% 100,00%

Subetnis dan diaspora

[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan sistem sosiokultural masyarakat Banjar, etnis Banjar dapat dibagi ke dalam tiga kelompok subetnis utama berdasarkan dialeknya, diantaranya yakni:

1.Batangbanyu

Perkampungan Orang Banjar Batangbanyu tempo dulu

Kelompok subetnis Banjar Batangbanyu secara hakikatnya merujuk kepada kelompok etnis Banjar yang mayoritas bermukim di wilayah lembah Sungai Negara, para peneliti berpendapat Banjar Batangbanyu terbentuk dari percampuran orang Dayak Maanyan, Dayak Lawangan, Dayak Dusun dan Melayu kuno era Sriwijaya lebih dari 1.500 tahun yang lalu. Secara budaya orang Banjar Batang Banyu banyak menyerap budaya Melayu dan Dayak yang sekarang sudah menjadi suatu budaya khas suku Banjar Batangbanyu.

2.Kuala

Kehidupan masyarakat Banjar Kuala di Sungai Martapura tempo dulu

Banjar Kuala didefinisikan sebagai masyarakat etnis pribumi Banjar yang bermukim di sekitar aliran Sungai Martapura dan Barito yakni kota Banjarmasin, Martapura, Banjarbaru dan sekitarnya, menurut penelitian Banjar Kuala terbentuk dari percampuran berbagai macam etnis Pribumi Kalimantan seperti Dayak Ngaju, Bakumpai, Maanyan, dan Lawangan dengan etnis Melayu dan Jawa Hindu era Majapahit Kata kuala atau kwala itu sendiri dalam bahasa Banjar bermakna "pertemuan" atau "percampuran".

3.Pahuluan

Pasar rakyat Banjar Pahuluan zaman Hindia Belanda

Banjar Pahuluan merujuk kepada berbagai golongan Pribumi (Dayak) yang berasal dari wilayah dataran tinggi atau sepanjang pegunungan Meratus, yang mana masyarakat pribumi ini masih memiliki banyak kedekatan dengan etnis serumpunnya yakni etnis Bukit (atau kerap disebut sebagai Dayak Meratus) dan Dayak Maanyan yang mayoritas mendiami wilayah pegunungan Meratus dan bagian utara provinsi Kalimantan Selatan Dikarenakan faktor pengislaman penduduk kesultanan Banjar sekitar 500 tahun yang lalu, lambat laun orang pribumi asli ini mulai menyerap budaya Melayu yang lebih tertutup dan dekat dengan nilai-nilai Islam. dan meninggalkan budaya dan kepercayaan lama mereka (Kaharingan) hingga menyebut diri mereka sebagai orang Banjar Hulu (Pahuluan).

Sebagai suku yang gemar melakukan perniagaan, suku Banjar telah menyebar ke seluruh belahan dunia sejak zaman lampau untuk memperoleh peruntungan di berbagai wilayah. Dalam cakupan benua Asia, wilayah Asia Tenggara dan Timur Tengah merupakan dua wilayah yang memiliki populasi sebaran diaspora Banjar terbesar di dunia, dengan setidaknya lebih dari 2 juta jiwa orang Banjar yang tersebar di berbagai negara seperti Malaysia khususnya di Perak, Johor dan Sabah lalu di Brunei Darussalam (khususnya di wilayah tenggara Brunei).

terdapat pula komunitas minoritas diaspora masyarakat Banjar di belahan benua lainnya yang mencakup negara Arab Saudi, Australia, Amerika Serikat, maupun di beberapa negara Afrika. Bahkan, beberapa studi genetik pada masa modern mengindikasikan bahwa leluhur masyarakat etnis Malagasi di wilayah barat pulau Madagaskar dan beberapa etnis lainnya di timur Afrika (utamanya wilayah Komoro) merupakan keturunan dari diaspora masyarakat Dayak yang berasal dari daerah Banjar di selatan Kalimantan.[21]

Tokoh Publik

[sunting | sunting sumber]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia (Hasil Sensus Penduduk 2010), Jakarta: Central Bureau of National Statistics of the Republic of Indonesia, 2010
  2. Dachlan, Oemar (2000). Kalimantan Timur dengan Aneka Ragam Permasalahan dan Berbagai Peristiwa Bersejarah yang Mewarnainya. Jakarta: Yayasan Bina Ruhui Rahayu. hlm. 206. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. Thor. ;
  4. Graaf, H.J. (1970). "Sadjarah Pangiwa Lan Panengen". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia. 126 (3): 332–337. doi:10.1163/22134379-90002807. ISSN 0006-2294.
  5. 1 2 (Indonesia) Haeda, Tim (2009). Islam Banjar; Tentang Akar Kultural dan Revitalisasi Citra Masyarakat Religius. Banjarmasin: Lekstur.
  6. (Indonesia) Daud, Alfani (1997). Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisis Kebudayaan Banjar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  7. (Indonesia) Sahriansyah (2015). Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar. Banjarmasin: IAIN Antasari Press. ISBN 978-6020-82829-9.
  8. (Indonesia) Istiqomah, Ermina; Setyobudihono, Sudjatmiko (2014). "Nilai Budaya Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan: Studi Indigenous". Jurnal Psikologi Teori dan Terapan. 5 (1). Surabaya: Universitas Negeri Surabaya: 1-6. ISSN 2597-9035. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
  9. Jukung, Urat Nadi Orang Banjar
  10. (Indonesia) Levang, Patrice (2003). Ayo ke tanah sabrang: transmigrasi di Indonesia. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 165. ISBN 979-9100-03-8. ISBN 9789799100030
  11. 1 2 Kompas Online - Gusti Jamhar Akbar, Tokoh Seni Lamut
  12. 1 2 3 "Viva Borneo - Mamanda, Seni Pementasan Pulau Kalimantan". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-03-15. Diakses tanggal 2010-06-18.
  13. "Musik Panting Banjar". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-05-15. Diakses tanggal 2010-07-08.
  14. "Musik Kentung Banjar". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-05-15. Diakses tanggal 2010-07-08.
  15. (Indonesia) Tim Dapur Demedia, Kitab masakan sepanjang masa, DeMedia, 2010 ISBN 979-1471-89-4, 9789791471893
  16. Fairoussaniy, Mohammad (13 November 2024). "Tambangan dan Amparan Tatak Samarinda Diusulkan jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia". Tribun Kaltim. Diakses tanggal 2 Januari 2025.
  17. Rahmawati, Neni Puji Nur,. Makna simbolik dan nilai budaya kuliner "wadai Banjar 41 macam" pada masyarakat Banjar Kalsel (Edisi Cetakan pertama). Yogyakarta. ISBN 978-602-1228-94-4. OCLC 957057293. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  18. demografi.bps.go.id/phpfiletree/bahan/kumpulan_tugas_mobilitas_pak_chotib/Kelompok_1/Referensi/BPS_kewarganegaraan_sukubangsa_agama_bahasa_2010.pdf
  19. "Language Shift of Banjarese in Sungai Manik, Perak". ASJ. Diakses tanggal 28 January 2014.
  20. (Indonesia) Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 978-979-064-417-5.ISBN 9789790644175
  21. Insight Guides Madagascar [Wawasan Panduan Madagaskar] (dalam bahasa Inggris). Apa Publications. ISBN 9781789192438. The latest genetic studies indicate that these pioneers almost certainly originated from the Banjar Region of Indonesian Borneo.

    Bibliografi

    [sunting | sunting sumber]

    Pranala luar

    [sunting | sunting sumber]