Suku Banjar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Suku Banjar
Urang Banjar اورڠ بنجر
Muhammad Arsyad Albanjari Museum Lambung Mangkurat.JPG Pangeran Antasari Museum Lambung Mangkurat.JPG Pangeran Hidayatullah Museum Lambung Mangkurat.JPG Pangeran Moh. Noor.jpg
Hasan Basry.jpg Idham Chalid.jpg Saadillah mursjid.jpg Djohan effendi.jpg
Kabinet taufik e.jpg Syamsul-mu'arif 2.jpg Gusti Muhammad Hatta, 2011.jpg Syamsudin Noor.jpg
Jumlah populasi

Kurang lebih 5,7 juta

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Bendera Indonesia Indonesia (Sensus 2010) 4.127.124 [1]
Bendera Kalimantan Selatan         Kalimantan Selatan 2.686.627
Bendera Kalimantan Tengah         Kalimantan Tengah 464.260
Bendera Kalimantan Timur         Kalimantan Timur 440.453
Bendera Riau         Riau 227.239
Bendera Sumatera Utara         Sumatera Utara 125.707
Bendera Jambi         Jambi 102.237
Bendera Kalimantan Barat         Kalimantan Barat 14.430
Bendera Kepulauan Riau         Jawa Timur 12.405
Bendera Kepulauan Riau         Kepulauan Riau 11.811
Bendera Malaysia Malaysia 1.256.000 [2]
Bendera Singapura Singapura 8.210
Bahasa
Banjar, Indonesia, dan Melayu
Agama
Allah-green.svg Islam Sunni
Kelompok etnik terdekat
Dayak (Meratus, Maanyan, Bakumpai, Ngaju), Kutai, Melayu, Jawa
Sketsa seorang pembesar Kerajaan Banjar sekitar tahun 1850 (koleksi Museum Lambung Mangkurat).

Suku Banjar (bahasa Banjar: Urang Banjar / اورڠ بنجر) adalah suku bangsa yang menempati wilayah Kalimantan Selatan, serta sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur. Populasi Suku Banjar dengan jumlah besar juga dapat ditemui di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Utara dan Semenanjung Malaysia karena migrasi Orang Banjar pada abad ke-19 ke Kepulauan Melayu.[3]

Berdasarkan sensus penduduk 2010 orang Banjar berjumlah 4,1 juta jiwa. Sekitar 2,7 juta orang Banjar tinggal di Kalimantan Selatan dan 1 juta orang Banjar tinggal di wilayah Kalimantan lainnya serta 500 ribu orang Banjar lainnya tinggal di luar Kalimantan.

Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjar yang merupakan pembauran masyarakat beberapa daerah aliran sungai yaitu DAS Bahan, DAS Barito, DAS Martapura dan DAS Tabanio. Dari daerah pusat budayanya ini suku Banjar sejak berabad-abad yang lalu bergerak secara meluas melakukan migrasi secara sentrifugal atau secara lompat katak ke berbagai daerah di Nusantara hingga ke Madagaskar.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman meneliti DNA orang Dayak pada tahun 2012 yang bertujuan memastikan kaitan antara Dayak Maanyan dan Madagaskar.[4]

Hipotesa nenek moyang orang Madagaskar sempat diduga berasal dari Suku Bajo, Bugis dan Dayak Maanyan, namun ternyata konfirmasi riset genetik menunjukkan itu identik dengan Suku Banjar.[5]

Secara genetika suku Banjar purba sudah terbentuk ribuan tahun yang lalu yang merupakan pembauran orang Melayu purba sebagai unsur dominan dan Dayak Maanyan. Suku Banjar yang memiliki genetik Melayu dominan ini telah melakukan migrasi keluar pulau Kalimantan sekitar tahun 830 Masehi atau 1.200 tahun yang lalu menuju Madagasikara alias Madagaskar yang menurunkan bangsa Malagasi.[6][7][8][9][10][11]

Bahasa Malagasi menunjukkan unsur-unsur bahasa Banjar dan bahasa Maanyan, misalnya varika dari warik (bahasa Banjar) dan rano dari kata ranu (bahasa Maanyan).[12] [13] Adat pemakaman sekunder Dayak beragama Kaharingan yang disebut aruh Buntang disebut Famadihana di Madagaskar. Tetapi di Madagaskar tidak terdapat upacara Ijambe (kremasi/ngaben) maupun Aruh Baharin/Aruh Ganal (upacara panen) yang masih dilakukan masyarakat Dayak Kaharingan di Kalsel. Adat mengayau juga tidak dilakukan oleh penduduk Madagaskar. Selain itu masih terdapat adat memberi makan buaya di Madagaskar dan yang juga masih dilakukan orang Banjar di Kalimantan Selatan.

Suku bangsa Banjar adalah pembauran orang Melayu purba yang membawa bahasa Melayik dengan Dayak Barito-Meratus dari suku Dayak Maanyan, Dayak Meratus, dan sebagian rumpun Dayak Ngaju terutama yang tinggal di hilir (disebut Dayak Ngawa: Berangas, Mendawai dan Bakumpai). Dan terakhir juga dilakukan Dayak Abal (rumpun Lawangan), yang hampir seluruh anggota sukunya bergabung dan berasimilasi dengan suku Banjar dan konversi ke agama Islam serta meninggalkan bahasa ibunya. Namun saat mereka masih belum diidentifikasikan sebagai Dayak. Dan sebelum Dayak dipakai sebagai penyebutan pribumi asli Borneo.

Sekitar tahun 1526, ketika raja Banjar menerima dan memeluk Islam maka diikuti seluruh kalangan penduduk Kerajaan Banjar untuk melakukan konversi massal ke agama Islam, sehingga kemunculan suku Banjar dengan ciri keislamannya ini bukan hanya sebagai konsep etnis tetapi juga konsep politis, sosiologis, dan agamis. Kelompok masyarakat yang telah menganut Islam ini disebut Oloh Masih dalam bahasa Dayak Ngaju atau Ulun Hakey dalam bahasa Dayak Maanyan. Menurut Tjilik Riwut dalam "Kalimantan membangun, alam, dan kebudayaan: 407" Bila tamu yang datang mengatakan oloh masih berarti tamu yang datang beragama Islam. Untuk tamu yang beragama Islam, akan diserahkan ayam hidup, telur dan sayur-sayuran untuk dimasak sendiri.......Namun sebagian penduduk yang masih ingin mempertahankan agama suku Kaharingan lebih memilih untuk bermigrasi ke daerah perhuluan dan dataran tinggi yang sekarang menjadi Dayak Maanyan dan Dayak Meratus.

Pada jaman dahulu, suku Banjar termasuk masyarakat bahari atau berjiwa kemaritiman. Perjanjian tanggal 18 Mei 1747 antara Sultan Banjar Tamjidillah I dengan VOC-Belanda tentang monopoli perdagangan oleh VOC-Belanda di Kesultanan Banjar diantaranya mengatur bahwa orang Banjar tidak boleh berlayar ke sebelah timur sampai ke Bali, Sumbawa, Lombok, batas ke sebelah barat tidak boleh melewati Palembang, Johor, Malaka dan Belitung.[14] Sejak itu wilayah pelayaran orang Banjar mulai menyempit, namun sisa-sisa jiwa kebaharian orang Banjar masih terlihat jejaknya pada kehidupan masyarakat Banjar di daerah perairan Kalimantan Selatan.

Etimologis[sunting | sunting sumber]

Menurut Hikayat Banjar, dahulu kala penduduk pribumi Kalimantan Selatan belum terikat dengan satu kekuatan politik dan masing-masing puak masih menyebut dirinya berdasarkan asal Daerah Aliran Sungai misalnya orang batang Alai, orang batang Amandit, orang batang Tabalong, orang batang Balangan, orang batang Labuan Amas, dan sebagainya. Sekitar abad ke-13 sebuah entitas politik yang bernama Negara Dipa terbentuk yang mempersatukan puak-puak yang mendiami semua daerah aliran sungai tersebut. Negara Dipa kemudian digantikan oleh Negara Daha. Semua penduduk Kalimantan Selatan saat itu merupakan warga Kerajaan Negara Daha, sampai ketika seorang Pangeran dari Negara Daha mendirikan sebuah kerajaan di muara Sungai Barito yaitu Kesultanan Banjar. Dari sanalah nama Banjar berasal, yaitu dari nama Kampung Banjar yang terletak di muara Sungai Kuin, di tepi kanan sungai Barito. Kampung ini dipimpin oleh seorang Patih (Kepala Kampung) yang bernama Patih Masih. Gabungan nama kampung Banjar dan nama Patihnya tersebut sehingga kampung ini lebih dikenal dengan nama panjangnya Kampung Banjar Masih. Kelak kampung ini berkembang menjadi Kerajaan Banjar Masih dengan raja pertama Sultan Suriansyah, yang merupakan keponakan dari penguasa Kerajaan Hindu Negara Daha yang terletak di pedalaman.

Kerajaan Banjar Masih merupakan kerajaan baru yang muncul untuk memisahkan diri dari Negara Daha. Kerajaan Banjar Masih dengan rakyatnya yang dikenal sebagai orang Banjar Masih, merupakan entitas politik yang dibenturkan dengan orang Negara Daha (atau disebut juga orang Banjar Lama/proto Banjar) yang merupakan warga negara Kerajaan Negara Daha yang menjadi rivalnya. Kerajaan Negara Daha (atau disebut juga wilayah Batang Banyu) akhirnya berhasil ditaklukan dan wilayahnya dimasukan ke dalam Kerajaan Banjar Masih. Kekuatan kerajaan Banjar Masih didukung penuh oleh Kesultanan Demak yang memberi persyaratan bahwa raja dan rakyat Banjar Masih (beserta bekas Negara Daha) harus menerima agama baru yaitu agama Islam, yang kini menjadi identitas orang Banjar sebagai etnoreligius/kultur grup Muslim yang membedakannya dari masyarakat sekitarnya pada masa itu.

Jadi pada pra-Islam, penduduk kampung Banjar Masih dan kampung sekitarnya yang ada di hilir sungai Barito tergolong sebagai warganegara Kerajaan Negara Daha atau Orang Negara Daha. Namun belakangan nama Banjar lebih populer sehingga dipakai untuk menamakan penduduk pada kedua wilayah tersebut, walaupun pada kenyataan kebudayaan di wilayah Batang Banyu merupakan kebudayaan Banjar yang lebih klasik. Penduduk Banjar dan Negara Daha sebenarnya menggunakan bahasa yang sama namun berbeda dialek. Peperangan antara Banjar melawan Negara Daha yang dimenangkan oleh Banjar ini hampir mirip dengan peperangan antara Demak melawan Majapahit yang dimenangkan oleh Demak, namun perbedaannya adalah Banjar kemudian dipakai sebagai nama etnik dan sedangkan Demak bukan merupakan nama etnik. Di daerah asalnya yang merupakan pusat budaya Banjar, suku Banjar terbagi menjadi tiga kelompok menurut lokasi permukimannya, berturut-turut kelompok pertama yaitu kelompok orang Banjar Masih yang kini lebih dikenal sebagai orang Banjar Kuala karena secara geografis mendiami bagian kuala/hilir, sedangkan kelompok kedua yaitu bekas penduduk kerajaan Hindu Negara Daha (Banjar klasik) dikenal sebagai Banjar Batang Banyu, sedangkan kelompok ketiga dikenal sebagai Banjar Pahuluan yang hidup secara harmonis dengan tempat tinggal yang bersisian langsung dengan beberapa sub suku Dayak yang masih menganut agama Kaharingan. Di wilayah Pahuluan bagian utara masih dapat ditemukan kantong-kantong permukiman sub-sub Dayak Maanyan seperti Dayak Warukin dan Dayak Dusun Halong. Sedangkan di wilayah Pahuluan bagian tengah dan selatan, ditemukan sub-sub Dayak Meratus (Banjar arkhais) seperti Dayak Pitap, Dayak Labuhan dan lain-lain.

Kekerabatan genetika dengan Dayak Meratus menurut mitologi[sunting | sunting sumber]

Mitologi suku Dayak Meratus (Suku Bukit) menyatakan bahwa Suku Banjar (terutama Banjar Pahuluan) dan Suku Bukit merupakan keturunan dari dua kakak beradik yaitu Si Ayuh/Datung Ayuh/Dayuhan/Sandayuhan yang menurunkan suku Bukit dan Bambang Siwara/Bambang Basiwara alias Intingan yang menurunkan suku Banjar.[15] Dalam khasanah cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus ditemukan legenda yang sifatnya mengakui atau bahkan melegalkan keserumpunan genetika (saling berkerabat secara geneologis) antara orang Banjar dengan orang Dayak Meratus. Dalam cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus dimaksud terungkap bahwa nenek moyang orang Banjar yang bernama Bambang Basiwara adalah adik dari nenek moyang orang Dayak Meratus yang bernama Sandayuhan. Bambang Basiwara digambarkan sebagai adik yang berfisik lemah tetapi berotak cerdas. Sedangkan Sandayuhan digambarkan sebagai kakak yang berfisik kuat dan jago berkelahi.

Sesuai dengan statusnya sebagai nenek-moyang atau cikal-bakal orang Dayak Maratus, maka nama Sandayuhan sangat populer di kalangan orang Dayak Meratus. Banyak sekali tempat-tempat di seantero pegunungan Meratus yang sejarah keberadaannya diceritakan berasal usul dari aksi heroik Sandayuhan. Salah satu di antaranya adalah tebing batu berkepala tujuh, yang konon adalah penjelmaan dari Samali’ing, setan berkepala tujuh yang berhasil dikalahkannya dalam suatu kontak fisik yang sangat menentukan.[16]

Kekerabatan genetika dengan Orang Komoro dan Orang Madagaskar (Vezo/Bajo, Mikea, Antemoro) menurut riset ilmiah[sunting | sunting sumber]

Rumah Bubungan Tinggi yang sederhana milik keluarga petani nelayan beratap rumbia dan berdinding pelupuh/gedhek.
Atap Bubungan Tinggi pada Rumah Bubungan Tinggi beratap sirap.
Arsitektur rumah etnik Banjar
Large wooden rectangular house with steeply peaked roof in thatch
Reconstructed Mahitsielafanjaka palace
Arsitektur rumah etnik bangsa Malagasi

Penelitian genetika oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menemukan bahwa etnis Banjar di Kalimantan Selatan sebagai nenek moyang penduduk Madagaskar yang biasa disebut bangsa Malagasi. Diaspora melintasi Samudra Hindia itu terjadi 1.200 tahun lalu dan menjawab teka-teki orang Indonesia yang menjadi leluhur populasi di lepas pantai timur Afrika tersebut. Dugaan bahwa nenek moyang orang Madagaskar berasal dari Indonesia sebenarnya telah lama diketahui.[17][18][19][20][21] Dapat dipastikan bahwa 90 persen bahasa Madagaskar berakar dari bahasa Dayak Ma’anyan yang tinggal di Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Kesamaan bahasa itu yang membuat Dayak Ma’anyan awalnya diduga sebagai leluhur Madagaskar.[22] Riset genetika yang dilakukan peneliti Lembaga Eijkman Institute for Molecular Biology yang beralamat di Jl. Dipenogoro 69 Jakarta menemukan bahwa genetika Dayak Ma’anyan berbeda dengan orang Madagaskar. Hasil studi tersebut telah dipublikasikan pada jurnal Nature Scientific Reports edisi 18 Mei 2016.[23][24]

Sejumlah peneliti dari Universitas Toulouse, Perancis dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah mencocokkan genetika orang Madagaskar dengan seluruh data genetik orang Indonesia lainnya. Hasil dari penelitian tersebut ditemukan kecocokan genetika orang Madagaskar dengan orang Banjar. Orang Banjar sendiri terbentuk dari percampuran Dayak Ma’anyan dengan Melayu. Percampuran itu diduga terjadi karena kegiatan perdagangan lintas pulau di Nusantara sejak sekitar abad ke-5, dan diduga semakin intensif di era Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Orang Melayu yang menjadi nenek moyang orang Banjar ini memiliki kemiripan genetik populasi di Semenanjung Malaysia saat ini. Komposisi orang Banjar adalah 76-77 persen Melayu dan 23-24 persen Dayak Ma’anyan.

Etnis Banjar berlayar ke Madagaskar 1.000-1.200 tahun lalu, kemudian kawin-mawin dengan etnis Bantu dari Afrika Selatan. Percampuran genetik antara Banjar dan Bantu di Madagaskar ini terekam pertama kali sekitar 670 tahun lalu dan kemudian membentuk populasi Madagaskar saat ini, yang memiliki komposisi genetis etnis Banjar 36-37 persen dan sisanya etnis Bantu dari Afrika. (Kompas, Ahmad Arif, 16 Juli 2016).[25][26][27][28][29][30][31][32][33][34][35][36][37][38][39][40]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Candi Agung
Balai Arkeologi Banjarmasin menemukan bukti bahwa situs Candi Agung, dibangun dan dihuni dua kali oleh leluhur suku Banjar pada abad ke-3 dan abad ke-13.
Candi Agung
Pada tahun 1996, telah dilakukan pengujian C-14 terhadap sampel arang Candi Agung yang menghasilkan angka tahun dengan kisaran 242-226 SM (Kusmartono dan Widianto, 1998:19-20).

Komposisi DNA suku Banjar terdiri :
[41]

  • C-13.3 % (Paleo Asia, mongolia)
  • F-6.7 % (nenek moyang negrito k, dravidia h, kaukasia g, dan Mesopotamia I, j)
  • O1-26.7 % (Austronesia)
  • O2-26.7 % (Austroasiatic)
  • O3-26.6 % (Sino Tibet)

Suku bangsa Banjar terbentuk dari suku-suku Bukit, Maanyan, Lawangan dan Ngaju yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu yang berkembang sejak zaman Sriwijaya dan kebudayaan Jawa pada zaman Majapahit, dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam, dari kerajaan Banjar, sehingga menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar.[42] Suku bangsa Banjar terbagi menjadi tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala). Banjar Pahuluan pada asasnya adalalah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus. Banjar Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar Kuala mendiami sekitar Banjarmasin dan Martapura. Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang terbagi ke dalam dua dialek besar yaitu Banjar Hulu dan Banjar Kuala. Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu (sebelum kesultanan Banjar dihapuskan pada tahun 1860) adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman (terakhir di Martapura), nama tersebut tampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.[43]

Sejak abad ke-19, suku Banjar migrasi ke pantai timur Sumatera dan Malaysia. Di Malaysia, suku Banjar digolongkan sebagai bagian dari Bangsa Melayu.

Kesultanan Banjar sebelumnya meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah seperti saat ini, kemudian pada abad ke-16 terpecah di sebelah barat menjadi kerajaan Kotawaringin yang dipimpin Pangeran Dipati Anta Kasuma bin Sultan Mustain Billah dan pada abad ke-17 di sebelah timur menjadi kerajaan Tanah Bumbu yang dipimpin Pangeran Dipati Tuha bin Sultan Saidullah yang berkembang menjadi beberapa daerah: Sabamban, Pegatan, Koensan, Poelau Laoet, Batoe Litjin, Cangtoeng, Bangkalaan, Sampanahan, Manoenggoel, dan Tjingal.

Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur merupakan tanah rantau primer orang Banjar, selanjutnya dengan budaya maadam, orang Banjar merantau hingga ke luar pulau misalnya ke Kepulauan Sulu bahkan menjadi salah satu dari lima etnis yang pembentuk Bangsa Suluk atau Tausug (yakni percampuran orang Buranun, orang Tagimaha, orang Baklaya, orang Dampuan/Champa dan orang Banjar).[44][45][46][47][48][49][50][51]

Hubungan antara Banjar dengan Kepulauan Sulu atau Banjar Kulan terjalin ketika para pedagang Banjar mengantar seorang Puteri dari Raja Banjar untuk menikah dengan penguasa suku Buranun (suku tertua di Kepulauan Sulu). Salah satu rombongan bangsa Suluk yang menghindari kolonial Spanyol dan mengungsi ke Kesultanan Banjar adalah moyang dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Banjar Pahuluan[sunting | sunting sumber]

Orang [Banjar] Pahuluan puak Amandit (Kandangan)

Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk pedalaman, yaitu Orang Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama.

Untuk kepentingan keamanan, atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek permukiman tersendiri. Komplek permukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek permukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya. Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat orang Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini tampaknya wilayah permukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur orang Bukit ikut membentuknya.[43]

Banjar Batang Banyu[sunting | sunting sumber]

Perkampungan orang [Banjar] Batang Banyu puak Nagara Daha

Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbentuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Sebagai warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah. Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari Orang Maanyan (dan Orang Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Banjar Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar. Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.[43]

Banjar Kuala[sunting | sunting sumber]

Perkampungan orang Banjar [Kuala].

Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar. Di kawasan ini mereka berjumpa dengan orang Ngaju, yang seperti halnya dengan masyarakat Bukit dan masyarakat Maanyan serta Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam. Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.[43]

Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur budaya Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton. Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah grup atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan.

Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya.[52]

Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar, ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti Patih Belandean, Patih Belitung, Patih Kuwi dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Maanyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia.[53]

Sosio-historis[sunting | sunting sumber]

Secara sosio-historis masyarakat Banjar adalah kelompok sosial heterogen yang terkonfigurasi dari berbagai sukubangsa dan ras yang selama ratusan tahun telah menjalin kehidupan bersama, sehingga kemudian membentuk identitas etnis (suku) Banjar. Artinya, kelompok sosial heterogen itu memang terbentuk melalui proses yang tidak sepenuhnya alami (priomordial), tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang cukup kompleks.[54]

Islam telah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak berabad-abad yang silam. Islam juga telah menjadi identitas mereka, yang membedakannya dengan kelompok-kelompok yang ada di sekitarnya yang kini disebut sebagai Dayak, yang umumnya masih menganut religi sukunya. Memeluk Islam merupakan kebanggaan tersendiri, setidak-tidaknya dahulu, sehingga berpindah agama di kalangan masyarakat Dayak dikatakan sebagai "babarasih" (membersihkan diri) di samping menjadi orang Banjar.[43]

Masyarakat Banjar bukanlah suatu yang hadir begitu saja, tetapi ia merupakan konstruksi historis secara sosial suatu kelompok manusia yang menginginkan suatu komunitas tersendiri dari komunitas yang ada di kepulauan Kalimantan. Etnik Banjar merupakan bentuk pertemuan berbagai kelompok etnik yang memiliki asal usul beragam yang dihasilkan dari sebuah proses sosial masyarakat yang ada di daerah ini dengan titik berangkat pada proses Islamisasi yang dilakukan oleh Demak sebagai syarat berdirinya Kesultanan Banjar. Banjar sebelum berdirinya Kesultanan Islam Banjar belumlah bisa dikatakan sebagai sebuah ksesatuan identitas suku atau agama, namun lebih tepat merupakan identitas yang merujuk pada kawasan teritorial tertentu yang menjadi tempat tinggal[55].

Suku Banjar yang semula terbentuk sebagai entitas politik terbagi 3 grup (kelompok besar) berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku berdasarkan persfektif kultural dan genetis :

  1. Grup Banjar Pahuluan adalah campuran orang Melayu-Hindu dan orang Bukit yang berbahasa Melayik (unsur Bukit sebagai ciri kelompok)
  2. Grup Banjar Batang Banyu adalah campuran orang Pahuluan, orang Melayu-Hindu/Buddha, orang Keling-Gujarat, orang Maanyan, orang Lawangan, orang Bukit dan orang Jawa-Hindu Majapahit (unsur Maanyan seperti Debagai ciri kelompok). Di Kalsel masih dapat ditemukan komunitas sub-Dayak Maanyan yang masih menganut adat Kaharingan yang bertetangga dengan perkampungan suku Banjar seperti Dayak Warukin, Dayak Balangan, dan Dayak Samihim.
  3. Grup Banjar Kuala[56] adalah campuran orang Kuin, orang Batang Banyu, orang Dayak Ngaju (Berangas, Bakumpai)[57], orang Kampung Melayu[58], orang Kampung Bugis-Makassar[59], orang Kampung Jawa[60], orang Kampung Arab[59], dan sebagian orang Cina Parit yang masuk Islam (unsur Ngaju sebagai ciri kelompok). Proses amalgamasi masih berjalan hingga sekarang di dalam grup Banjar Kuala yang tinggal di kawasan Banjar Kuala - kawasan yang dalam perkembangannya menuju sebuah kota metropolitan yang menyatu (Banjar Bakula).

Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan orang Ngaju/serumpunnya (Kelompok Barito Barat) yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan orang Maanyan/serumpunnya (Kelompok Barito Timur) seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.

Asal-usul bangsawan Banjar dari Mahasin (Tumasik kuno) menurut Naskah Wangsakerta[sunting | sunting sumber]

Inilah Pustaka Kerajaan-kerajaan di Bumi Nusantara (iti pustaka rājya rājya i bhūmi nusāntara) Bab 3 Bagian 2 (tritiya sargah ri dwitiya parwa)

/Halaman 162/ … Kemudian menurut kisah yang lain lagi, yaitu mengenai kerajaan-kerajaan di Sumatera (swarnadwipa), pada patangatus-rwalikur-ikang-çakakāla (422 S ~ 500 M), di bumi Sumatera terdapat dua kerajaan besar, yaitu Kerajaan Pali (rājya pali) yang terletak di Sumatera-(swarnabhumi)-bagian-utara dan tengah-bagian-utara. Kedua adalah Kerajaan Melayu, yang disebut juga Sriboja (rājya malayu sinebut juga çriboja), berada di Sumatera-bagian-selatan dan tengah-bagian-selatan.

Di Sumatera-bagian-utara yang termasuk /163/ kekuasaan Kerajaan Pali, di situ terdapat beberapa kerajaan kecil yang tunduk dan mengabdi kepada kekuasaan Maharaja Pali (kawaçaning mahārāja pali). Beberapa kerajaan diantaranya adalah Kerajaan Indrapuri (rājya indrapuri), Kerajaan Indrapurwa (rājya indrapurwa), Kerajaan Indrapatra (rājya indrapatra), Kerajaan Kendari (rājya kandhari) dan banyak lagi yang lain. Begitu pula negeri-negeri (déça mandala) Parlak, Paséh, Samudra, Nago, Barus, Pagay, Lamuri, Haru, Tamyang, dan banyak lagi yang lainnya. Keseluruhan jumlah negeri-negeri tersebut adalah kira-kira seratus empat puluh negeri di bawah Kerajaan Pali di Bumi Sumatera.

/164/ Di wilayah kerajaan [Pali, sebagian besar] rakyatnya memeluk agama Budha (budhayana) tetapi di beberapa wilayah seperti: Pagay, Lamuri, Haru, dan Tamyang, mereka memuja nenek-moyang (pitrepuja), memuja gunung (parwatapuja), memuja api (agnipuja), memuja sungai (lwahpuja), memuja matahari (suryapuja), memuja bulan (candrapuja), memuja batu (watupuja), memuja pepohonan (sdhāwarapuja), memuja langit (akaçapuja), dan banyak lagi yang mereka sembah.

Masyarakat yang menganut ajaran nenek-moyang tersebut [umumnya] tidak berpakaian, dan mereka juga gemar memakan orang sesamanya (mangan mwang samanya), serta meminum darah manusia dan binatang (anginum rāh manusa mwang satwa). Di samping itu ada juga yang /165/ berpakaian daun-daunan, atau bercawat dari kulit binatang. Juga ada yang berpakaian serat kulit kayu. Di antara mereka banyak yang tinggal di hutan, mereka bersembunyi dan berpencar-pencar.

Itulah sebabnya warga masyarakat yang tinggal di wilayah Pagay, Lamuri, Haru, dan Tamyang, tidak mengenal agama Budha, tidak seperti negeri lainnya.

Pada patangatus-patang-puluh ikang çakakāla (440 S ~ 518 M) Kerajaan Pali mengikat persahabatan dengan kerajaan Cina (rājya cina). Selanjutnya pada patangatus-patang-puluh-lima ikang çakakāla (445 S ~ 523 M) Kerajaan Pali mengutus seorang duta ke /166/ Kerajaan Cina. Sebagai sahabat, Raja Pali mendapat bingkisan berbagai barang hasil bumi dan hasil kerajinan tangan.

Adapun di Sumatera-bagian-selatan dan tengah-bagian-selatan, adalah kekuasaan Kerajaan Sriboja atau Negara Melayu (kacakrawartyan ing rājya çriboja athawa malayu nagara), yang terletak di Palembang (hanéng palémbang).

Di wilayah [Melayu] terdapat lebih dari seratus negeri besar dan kecil. Beberapa ada yang cukup besar, namun semuanya tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Melayu (séwaka ring rājya melayu) yaitu Kerajaan Sriwijaya (rājya çriwijaya) di Jambi wilayahnya (i jambi mandalanira), Kerajaan Tulangbawang (rājya tulangbawang), /167/ Kerajaan Siak (rājya syak), kemudian Rekan, Kampay, Pane, Bangka, Balitung, Nias (nayas), Tanjungkidul, dan banyak lagi yang lainnya.

Pada [patangatus]-telung-puluh-sanga ikang çakakāla (439 S – 517 M) Kerajaan Melayu mengikat persahabatan dengan Kerajaan Cina.

Adapun warga masyarakat Kerajaan Melayu memeluk agama Budha.

Pada masa itu kerajaan-kerajaan di Bumi Nusantara saling bersahabat (silih amitra). Demikian pula Kerajaan Melayu bersahabat dengan Kerajaan Tarumanagara (rājya tarumanagara). Kerajaan Pali, Kerajaan Bakulapura (Borneo – Kalimantan?), Kerajaan Cina, Kerajaan Keling (Jawa Tengah?), dan hampir semua kerajaan di Bumi Nusantara (bhumi nusāntara), serta negeri /168/ yang lain di luar Nusantara (sabrang nusāntara).

Pada limangatus-sangang-puluh-rwa ikang çakakāla (592 S – 670 M), Kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi [sebuah] kerajaan besar dengan balatentara yang berani dan kuat. Sebagian wilayah Kerajaan Melayu direbut oleh pasukan perang Kerajaan Sriwijaya. Sebelumnya, yaitu pada limangatus-sangang-puluh-wwalu ikang çakakāla (598 S – 676 M) Kerajaan Pali diserbu, oleh angkatan bersenjata Sriwijaya. [Saat itu] terjadi pertempuran desak-mendesak antara angkatan bersenjata Kerajaaan Pali dengan angkatan bersenjata Sriwijaya.

Adalah /169/ Kerajaan Kendari (rājya kandharī) yang telah menjadi negeri merdeka sejak patangatus-wwalung-puluh-lima ikang çakakāla (485 S – 563 M) dan juga mengikat persahabatan dengan Kerajaan Cina, ikut serta berperang melawan Kerajaan Sriwijaya, tetapi Kerajaan Kendari dapat dikalahkan, dan negaranya dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya.

Pada akhirnya kalahlah semua kerajaan yang ada di Sumatera bagian utara.

Oleh karena itu, angkatan bersenjata kerajaan Pali dan kerajaan-kerajaan taklukannya pergi ke pengungsian. Begitu juga warga masyarakat dan para pembesar (mantri-mantri) /170/ ahli nujum (pranaraja), para pendeta (sang dwija), para pemuka (sang pinakadi), mengungsi menuju ke arah selatan dengan menggunakan berbagai perahu besar maupun kecil; banyaknya beberapa ratus buah.

Ada yang menuju Pulau Jawa, yaitu berhenti dan menetap di kerajaan Indraprahasta (rājya indraprahasta; sejaman dengan Tarumanagara, di lereng timur gunung Ciremay), ada yang berhenti kemudian berdiam di wilayah Bakulapura, ada juga yang berhenti kemudian berdiam di Semenanjung (hujung mendini), Mahasin, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan banyak lagi.

[Satu] kesatuan angkatan bersenjata Kerajaan Pali, lengkap dengan berbagai perlengkapan kerajaannya, berlabuh dan bermukim /171/ di Pulau Lembu (nusa ghoh). Selanjutnya [mereka] mendirikan sebuah kerajaan, yang disebut Kerajaan Pali, atau kemudian disebut Kerajaan Bali (athawa neher sinebut rājya bali).

Begitu juga Kerajaan Mahasin (rājya mahasin), di Semenanjung (i nusa hujung mendini), juga diserbu oleh angkatan bersenjata Sriwijaya. Terjadilah pertempuran, saling beradu [nyawa, namun] akhirnya angkatan bersenjata Kerajaan Mahasin pun dikalahkan.

Sisa-sisa pasukan [Mahasin], semuanya mengungsi dengan menaiki beberapa puluh perahu besar maupun kecil menuju arah selatan. Kemudian mereka berhenti dan bermukin di negeri Banjar yang berada di Bumi /172/ Tanjungpura (banjar mandala i bhumi tanjungpura), yaitu Kalimantan-bagian-selatan (bakulapura bangkidul). Di sana mereka mendirikan kerajaan di negeri Banjar (madeg rājya i banjar déça), dan selanjutnya kerajaan itu disebut Kerajaan Banjarmasin (rājya banjarmahasin).

Adapun [lokasi] Kerajaan Mahasin [sebelumnya], wilayahnya di kemudian hari disebut Tumasik yang terletak di Semenanjung (tumasik i nusa hujung mendini).

Pada nemang-atus-punjul-pat ikang çakakāla (604 S – 682 M), angkatan bersenjata Sriwijaya di bawah pimpinan sang raja yaitu Dapunta Hyang Sri Jayanasa (dapunta hyang çri jayanasa), kembali ke selatan [dari Semenanjung], [yaitu] Manangkabwa. Dari Manangkabwa kemudian pada nemang-atus-punjul-lima ikang çakakāla /173/ (605 – 683 M), angkatan bersenjata Sriwijaya di bawah pimpinan rajanya, yaitu Dapunta Hyang, menyerbu separuh [sisa] Kerajaan Melayu, yang belum dapat dikalahkan. Angkatan bersenjata Sriwijaya yang berjumlah dua-puluh ribu (rwang laksa) orang mengalahkan Kerajaan Melayu secara keseluruhan (siddha paripurnā ngalahaken rājya melayu).

Sisa-sisa angkatan bersenjata Melayu [ada yang] mengungsi ke Kerajaan Sunda di bumi Jawa Barat (rājya sunda i bhumi jawa kulwan).

Kerajaan Melayu yang berada di Palembang sudah ditundukkan oleh Kerajaan Sriwijaya pada nem-angatus-punjul-nem ikang çakakāla (606 S – 684 M) [dimana] Sri Jayanasa mendirikan tanda peringatan (çri jayanasa magaway cétya) /174/ berupa prasasti di Sri Ksetra (praçasti hanéng çri kçétra) bersama para pengikutnya, dengan harapan tidak ada lagi perlawanan dan sejahteralah semua masyarakat: [baik] rendah, menengah, atau utama (wasthā kabéh janapada: kanista madhya mottama), di bawah kekuasaan negara (ng siniwi nagara).

[Untuk memperingati kemenangan di Palembang] Maharaja Sriwijaya mengadakan upacara (magaway sangskārāgama) dan memberikan anugrah (malakwaken dana) kepada kepala agama Budha (dharmadhyaksa ring kasogatan) yaitu Guru Besar Sakyakirti (dang acāryya çakyakirti). Tujuan sang raja adalah agar harta itu digunakan untuk membuat wihara dan keperluan lainnya.

Pada waktu itu, hadir sekalian raja taklukan [dari seluruh] Sumatera, serta semua pemimpin wilayah /175/ dari negeri-negeri yang berada di bawah kekuasaan Maharaja Sriwijaya (séwaka mahāraja çriwijaya), yaitu: pemuka kaum (sang pinakadi), ahli nujum (sang pranaraja), pembesar kerajaan (mantri raja), perwira angkatan bersenjata (sang tanda), panglima angkatan bersenjata (sang baladika wadyabala), panglima angkatan laut (sénapati sarwajala), duta-duta dari negara sahabat, kepala agama Buddha (dang acāryyāgama budhayāna), kepala agama Nirwana (dang acāryyāgama nirwānayāna), pendeta (dwija), para sanggha: bhiksu, bhiksuni, upasaka, dan upasika. Begitu juga beberapa ribu angkatan bersenjata Sriwijaya dan sejumlah warga masyarakat.

Kerajaan Sriwijaya menguasai seluruh Pulau Sumatera (wus nyakrawarti rat swarnabhumi) pada nem-angatus-telu-welas ikang çakakāla /176/ (613 S – 691 M), sebagai maharaja dimana semua raja-raja di Pulau Sumatera telah takluk dan berada di bawah kuasa Sriwijaya (ri séwaka ring çriwijaya).

Dengan Kerajaan Sunda, Kerajaan Sriwijaya telah membuat perjanjian, keduanya tidak akan saling menyerang negara masing-masing, dan bekerja sama dalam persahabatan. Oleh karena itu duta Sriwijaya berada di Kerajaan Sunda dan duta Kerajaan Sunda berada di Kerajaan Sriwijaya. [Lalu dibuat] Piagam perjanjian yang ditulis bersama pada tanggal 14, paro-terang, bulan Magha (ing catur daça çuklapaksa, māghamasa) /177/ nem-angatus-punjul-pitu ikang çakakāla (607 S – 685 M) oleh keduanya, antara Sri Maharaja Jayanasa, Raja Kerajaan Sriwijaya dari Pulau Sumatera, dan Sri Maharaja Tarusbawa, Raja Kerajaan Sunda dari Jawa Barat di Pulau Jawa.[61]

Suku Banjar Perantauan[sunting | sunting sumber]

Suasana pasar rakyat di Pasar Terapung Lok Baintan. Pada jaman dahulu saudagar Banjar melakukan perdagangan interinsuler maupun perdagangan inter-kontinental.
Kapal KPM (Koninklijk Paketvaart Maatshappij) berlabuh di Banjarmasin
Peta penyebaran suku bangsa Banjar di berbagai daerah.

Pulau Kalimantan[sunting | sunting sumber]

Taburan Suku Banjar di Kalimantan menurut Sensus 2010 :

Suku Bangsa Kalimantan Barat [62] Kalimantan Tengah [63] Kalimantan Selatan [64] Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara [65] Jumlah Keterangan
Suku Banjar 14.430
(0,33%)
464.260
(21,03%)
2.686.627
(74,34%)
440.453
(12,45%)
3.605.770
(26,24%)
Suku Banjar juga terdapat di Sabah, Sarawak dan Brunei

Kalimantan Timur dan Utara[sunting | sunting sumber]

Sebelum masa Kesultanan Banjar berhubungan dengan VOC Belanda sekitar 1606, pada saat itu Kesultanan Banjar merupakan negara maritim di mana pedagang-pedagang Banjar sudah melakukan hubungan niaga dengan Filipina Selatan (Banjar Kulan), Brunei, Cochin Cina/Campa, sehingga kawasan timur Kalimantan merupakan perlintasan jalur perdagangan orang Banjar sejak berabad-abad yang lalu. Sejak itulah orang Banjar/Kesultanan Banjar melebarkan teritorialnya ke daerah rantau Kalimantan Timur atau disebut juga negeri-negeri di atas angin dalam Hikayat Banjar.

Selain orang Kutai dan Dayak, pemukim lain yang dikategorikan pendatang dan dominan di beberapa desa di Mahakam Tengah yaitu orang Banjar dan Bugis. Di beberapa desa seperti halnya di Muara Muntai dan Muara Kaman, beberapa keluarga orang Banjar bahkan telah bermukim semenjak ratusan tahun yang lalu. Mereka pun banyak yang sudah beranak pinak dan tidak mengetahui lagi kampung asal leluhur mereka di Kalimantan Selatan. Mereka sering disebut atau menyebutkan diri sebagai Banjar Kutai yang artinya orang Banjar yang telah menjadi Kutai, atau Kutai Banjar yang berarti perkampungan di Kutai yang berdialek Banjar.

Di Kalimantan Timur, eksistensi Orang Banjar sudah terjalin semenjak masa pemerintahan Kesultanan Banjar dipimpin Sultan Suriansyah (1595-1620). Dengan bala bantuan dari Kerajaan Demak, Kesultanan Banjar terus melebarkan pengaruhnya ke Paser, Kutai, dan Berau. Perjanjianyang ditanda tangani antara Pieter Pietarsz (utusan VOC) dengan Raja Kutai Kartanegara dalam tahun 1635 memuat antara lain bahwa perdagangan bebas hanya dibolehkan antara Kerajaan Kutaidengan Orang-orang Banjar dan Belanda saja. Semenjak itulah pedagang-pedagang asal Banjar mulai mendominasi sebelum kedatangan migrasi orang Bugis pada tahun 1638-1654 dan jatuhnya Makasar ke tangan Belanda tahun 1667.

Kekalahan pangeran Antasari dan jatuhnya Kesultanan Banjar ke tangan Belanda dalam perang Banjar yang berlangsung dari tahun 1859-1863, menyebabkan para pengikut Pangeran Antasari dan bangsawan Kesultanan Banjar lain yang tidak mau tunduk dengan Belanda memilih pergi dan menetap di daerah lain termasuk Kesultanan Kutai, Paser dan Berau. Selain melaui pesisir pantai, mereka juga menembus jalan darat dan bermukim di sekitar danau-danau besar di bagian tengah Sungai Mahakam. Atas ijin Sultan Aji Muhammad Sulaiman, empat bangsawan dari Banjar yaitu pangeran Permata Sari, Pangeran Singa Menteri, Pangeran Nata dan Pangeran Surya Nata bersama pengikutnya diperkenankan menetap di Tenggarong. Selanjutnya Pangeran Nata lebih memilih bermukim di Muara Pahu yang saat itu diperintah oleh Raden Mara Jelau turunan dari Raden Baroh yang dahulunya merupakan kerajaan otonom kecil di Hulu Mahakam. Secara spontan orang-orang Banjar berdatangan untuk berdagang, mencari ikan dan mengumpulkan hasil hutan terutama rotan dan karet di daerah Mahakam. Pada saat Kesultanan Kutai di pimpin Aji Amidin gelar Pangeran Mangku Negoro, orang-orang Banjar dari Amuntai dan Nagara sengaja didatangkan dan disediakan tempat di Danau Jempang dan Melintang. Mereka membawa bibit ikan sepat dan biawan untuk ditaburkan di danau-danau tersebut. Hingga kini kedua jenis ikan tersebut merupakan komoditi penting hasil tangkapan nelayan di Mahakam Tengah.

Kepandaian orang Banjar dalam berdagang dan memperkenalkan kebudayaan Islam-Banjar sedikit banyak memberi pengaruh terhadap penyebaran Islam dan perkembangan bahasa Melayu dialek Banjar sebagai bahasa pergaulan dan perdagangan. Melalui kepandaian berdagang inipula penyebaran orang Banjar terus berkembang dan bahkan hingga membentuk perkampungan-perkampungan Banjar baru yang terus berlanjut hingga kini.

Mata pencaharian Orang Banjar di Kalimantan Timur sangat bervariatif. Mereka yang bermukim di desa-desa adalah bertani dan nelayan perairan darat (sungai dan danau). Sebagian lagi hidup sebagai pedagang, pegawai, dan pekerja di perusahaan. Pemanfaatan lahan rawa dan perairan sungai serta danau di Kaltim untuk pertanian sawah dan perikanan banyak dilakukan oleh pemukim Orang Banjar. Mereka ada yang telah menetap permanen selama beberapa generasi dan sebagiannya lagi sebagai pendatang musiman yang datang untuk mencari ikan, berdagang, tambang emas tradisional dan bekerja di sektor lain. Di dalam perdagangan, orang-orang Banjar melakukannnya secara berkelompok sesuai daerah asal. Mereka berdagang hingga daerah pedalaman dengan memperdagangkan berbagai kebutuhan pokok sembako, elektronik, hasil pertanian dan hasil hutan.

Pemukiman Orang Banjar di sekitar Mahakam Tengah banyak dijumpai di sekitar di Kecamatan Muara Muntai, Muara Kaman, dan beberapa desa di Kahala dan Muara Wis. Di daerah ini Orang Banjar telah bermukim lama dan terus bertambah dengan pendatang pemukim musiman dari Banjar lainnya. Di kecamatan lain mungkin juga terdapat orang Banjar, tetapi jumlahnya sedikit dan kebanyakan sebagai pendatang baru.

Di Muara Muntai dan Muara Kaman, pemukim Banjar yang telah lama telah bercampur baur dengan penduduk lokal orang Kutai. Sedangkan pendatang baru atau musiman seringkali mengelompok tersendiri dalam pemukiman yang terkonsentrasi. Di daerah ini dan di sekitar danau Jempang dan Melintang, Orang Banjar bukan saja memperkenalkan budidaya ikan model keramba dan jaring apung, tetapi juga memperkenalkan teknik penangkapan ikan modern lainnya yang destruktif seperti alat setrum, potasium, dan pukat harimau.[66]

Suku Banjar membentuk 15 % dari populasi penduduk Kaltim dan terdapat seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Suku Banjar di Kaltim lebih banyak populasinya dibandingkan suku Dayak maupun suku Kutai. Di Kota Samarinda dan Balikpapan, suku Banjar merupakan kelompok etnik asal Kalimantan terbanyak di kedua wilayah kota tersebut.[67]

Menurut data statistik Kalimantan Timur 2002, Suku Banjar terdapat di Kota Samarinda (140.761 jiwa), Kota Balikpapan (63.010 jiwa), Kutai Kartanegara (57.506 jiwa), Paser (32.323 jiwa), Kutai Timur (11.380 jiwa), Berau (9.659 jiwa), Tarakan (8.766 jiwa), Kutai Barat (6.658 jiwa), Bontang (5.328 jiwa), Bulungan (3.315 jiwa), Nunukan (1.124 jiwa) dan Malinau (490 jiwa).[68]

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565, yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau alias Adji Tenggal (ayah Puteri Petung) dari Kerajaan Kuripan yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas di daerah Paser, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur. Organisasi Suku Banjar di Kalimantan Timur adalah Kerukunan Bubuhan Banjar-Kalimantan Timur (KBB-KT).

Kalimantan Tengah[sunting | sunting sumber]

Kalimantan Tengah termasuk dalam wilayah Kesultanan Banjar. Daerah-daerah di Kalimantan Tengah dan seterusnya hingga negeri Sambas di Kalimantan Barat disebut negeri-negeri di bawah angin dalam Hikayat Banjar. Sudah berabad-abad orang Banjar melakukan migrasi dan melebarkan teritorialnya ke daerah rantau Kalimantan Tengah, sehingga menjadikan suku Banjar sebagai kelompok etnik kedua terbanyak setelah suku Dayak (rumpun Dayak) di wilayah tersebut. Kalimantan Tengah juga menjadi hunian orang Banjar terbanyak kedua setelah Kalimantan Selatan.

Menurut sensus tahun 2000, Suku Banjar merupakan 24,20 % dari populasi penduduk dan sebagai suku terbanyak di Kalteng. Tahun 2000 (sebelum pemekran daerah), suku Banjar terdapat di Kabupaten Kapuas (40,5%), Palangkaraya (27,64%), Kotawaringin Timur (20,3%), Kotawaringin Barat (16,02%), Barito Selatan (10,5%) dan Barito Utara (2,56%).

Komposisi etnis di Kalteng berdasarkan sensus tahun 2000 terdiri suku Banjar (24,20%), Jawa (18,06%), Ngaju (18,02%), Dayak Sampit (9,57%), Bakumpai (7,51%), Madura (3,46%), Katingan (3,34%) dan Maanyan (2,80%)[69]. Tetapi jika digabungkan suku Dayak (Ngaju, Sampit, Maanyan, Bakumpai) mencapai 37,90%.

Besarnya proporsi Suku Banjar dan Jawa di Kalimantan Tengah karena perantauan orang Banjar asal Kalimantan Selatan dan transmigrasi asal Jawa yang cukup besar ke Kalimantan Tengah. Orang Banjar secara langsung memanfaatkan berbagai peluang ekonomi yang masih terbuka luas di Kalimantan Tengah. Berbeda dengan orang Jawa yang pindah ke Kalimantan Tengah karena program transmigrasi, orang Banjar pindah atas kemauan sendiri. Daerah pedalaman Kalimantan Selatan (daerah Pahuluan) adalah daerah padat penduduk dan sejak lama merupakan sumber migrasi keluar orang Banjar tidak hanya ke berbagai tempat di Pulau Kalimantan, tetapi juga ke Sumatera dan Jawa.[70]

Perkampungan suku Banjar Kalteng terutama terdapat daerah kuala dari sungai Mentaya di Kabupaten Kotawaringin Timur dan sungai Seruyan di Kabupaten Seruyan, misalnya desa Tanjung Rangas dan Pematang Panjang.

Migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta'inbillah (1650-1672), yang telah mengizinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Dipati Anta-Kasuma.

Suku Banjar yang datang dari lembah sungai Negara (wilayah Batang Banyu) terutama orang Negara (urang Nagara) yang datang dari Kota Negara (bekas ibukota Kerajaan Negara Daha) telah cukup lama mendiami wilayah Kahayan Kuala, Pulang Pisau, yang kemudian disusul orang Kelua (Urang Kalua) dari Tabalong dan orang Hulu Sungai lainnya mendiami daerah yang telah dirintis oleh orang Negara. Puak-puak suku Banjar ini akhirnya melakukan perkawinan campur dengan suku Dayak Ngaju setempat dan mengembangkan agama Islam di daerah tersebut.

Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat dia perjuangannya dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.

Pulau Jawa[sunting | sunting sumber]

Jawa Timur[sunting | sunting sumber]

Suku Banjar di Jawa Timur banyak bermukim di Kota Surabaya, Malang, Pasuruan dan Tulungagung.[71] Di Tulungagung, masyarakat Banjar merupakan pendatang yang cukup mendominasi terutama dalam perdagangan emas. Etnis Banjar di Tulungagung merupakan komunitas etnis pendatang yang cukup besar jumlahnya dibanding etnis Tionghoa dan Arab.[72]

Jawa Tengah[sunting | sunting sumber]

Masjid Kampung Banjar Semarang
Kampung Banjar, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara

Menurut Serat Maha Parwa, penduduk Jawa berasal dari Hindustan dan Siam yang sebelumnya singgah di Nusa Kencana (Kalimantan).[73] Di daratan kota Rembang telah ditemukan bangkai perahu kuno terbuat dari kayu ulin diduga berasal dari Kalimantan Selatan.[74] Berdasarkan Hikayat Banjar (1663) dapat diketahui bahwa Sultan Demak telah mengirimkan seribu pasukan untuk membantu Pangeran Samudera (raja Banjarmasih) untuk berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung penguasa Kerajaan Negara Daha terakhir. Kemenangan akhirnya diraih oleh Pangeran Samudera sebagai Sultan Banjarmasin ke-1, sedangkan Pangeran Tumenggung diizinkan menetap di daerah Alay dengan seribu penduduk. Selama peperangan tersebut tertangkap pula 40 orang Negara Daha baik laki-laki maupun perempuan, yang kemudian dibawa ke Demak dan Tadunan sebagai ganti 20 orang prajurit Demak yang gugur. Kejadian berlangsung sekitar tahun 1520-1526[75][76] Dewasa ini Suku Banjar di Jawa Tengah hanya berkisar 10.000 jiwa. Suku Banjar terutama bermukim di Kota Semarang dan Kota Surakarta.[77] Dahulu, suku Banjar kebanyakan bermukim di Kampung Banjar[78] dalam wilayah kelurahan Dadapsari. Kelurahan ini juga dikenal sebagai Kampung Melayu.

Migrasi suku Banjar ke kota Semarang kira-kira pada akhir abad ke-19 dan bermukim di sebelah barat kali Semarang berdekatan dengan eks kelurahan Mlayu Darat. Di wilayah ini suku Banjar membaur dengan etnis lainnya seperti Arab-Indonesia, Gujarat, Melayu, Bugis dan suku Jawa setempat. Keunikan suku Banjar di kampung ini, mereka mendirikan rumah panggung (rumah ba-anjung) yang sudah beradaptasi dengan lingkungan setempat, tetapi sayang kebanyakan rumah tersebut sudah mulai tergusur karena kondisi yang sudah tua maupun faktor alam (air pasang, rob) yang nyaris menenggelamkan kawasan ini akibat banjir pasang air laut.[79]

Sedangkan di Surakarta, suku Banjar kebanyakan bermukim di Kelurahan Jayengan. Suku Banjar di Surakarta memiliki yayasan bernama Darussalam, yang diambil dari nama Pesantren terkenal yang ada di kota Martapura. Kebanyakan suku Banjar di Jawa Tengah merupakan generasi ke-5 dari keturunan Martapura, Kabupaten Banjar. Tokoh suku Banjar di Jawa Tengah adalah (alm) Drs. Rivai Yusuf asal Martapura, yang pernah menjabat Bupati Pemalang dan Kepala Dinas Perlistrikan Jawa Tengah. Ia juga ketua Ikatan Keluarga Kalimantan ke-1, saat ini dijabat Bp. H Akwan dari Kalimantan Barat. Di samping itu ada pula Ikatan Keluarga Banjar di Semarang, yang diketuai H. Karim Bey Widaserana dari Barabai. [80]

Pulau Sulawesi[sunting | sunting sumber]

Di Makassar, etnis Banjar umumnya sebagai pedagang perhiasan, tukang jahit, tukang emas, pedagang batu permata dan pembuat kopiah.[81] Diketahui, ada sebuah perkampungan suku Banjar di Kota Manado yaitu Kelurahan Banjer, yang mengisyaratkan bahwa ada Suku Banjar yang bermukim di Sulawesi Utara. Selain itu, ada tokoh Banjar yang lahir di Manado seperti Muhammad Thoha Ma'ruf.

Pada tahun 1884, salah seorang tokoh Perang Banjar bernama Pangeran Perbatasari (cucu Pangeran Antasari dibuang ke Kampung Jawa Tondano. Di sana, ia menikah dengan seorang wanita Jaton (Jawa Tondano). Beberapa tahun kemudian, saudaranya Gusti Amir juga menyusul ke sana dan menikah dengan wanita Jaton. Orang Jaton keturunan para pangeran asal Banjar ini menyandang fam Perbatasari dan Sataruno.[82]

Pulau Sumatera[sunting | sunting sumber]

Taburan Suku Banjar di Kawasan Regional Sumatera menurut Sensus 2010 :

Suku Bangsa Riau [83] Sumatera Utara [84] Jambi [85] Kepulauan Riau[86]
Suku Banjar 227.239
(4,10%)
125.707
(0,97%)
102.237
(3,31%)
11.811
(0,70%)

Suku Banjar sudah lama terdapat di Sumatera.[87][88] Berdasarkan sensus tahun 1930, suku Banjar di Sumatera berjumlah 77.838 jiwa yang terdistribusi di Plantation belt (Pantai Timur Sumatera Utara) 31.108 jiwa, di Sumatera bagian Tengah 46.063 jiwa dan di Sumatera bagian Selatan 430 jiwa.[89] Belakangan, suku Banjar di Sumatera banyak yang berpindah ke Malaysia sebelum kemerdekaannya.

Suku Banjar di Sumatera Utara terdapat di Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan dan Labuhan Batu. Taburan suku Banjar yang tinggal di Sumatera Utara mendiami 14 desa diantaranya: [90].

Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 pada masa pemerintahan Sultan Isa (raja Indragiri sebelum raja yang terakhir). Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari Martapura dan menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri. Suku Banjar juga banyak menyebar di Kepulauan Riau dan Kepulauan Bangka Belitung, seperti di pulau Singkep[91][92]

Pulau Bali, Lombok dan Sumbawa[sunting | sunting sumber]

Taburan Suku Banjar di Kepuluan Sunda Kecil menurut Sensus 2010 :

Suku Bangsa Bali [93] Nusa Tenggara Barat [94] Nusa Tenggara Timur [95]
Suku Banjar 349
(0,01%)
1.083
(0,02%)
200
(0,00%)

Suku Banjar juga memiliki hubungan historis suku Sasak di Kerajaan Selaparang, pulau Lombok. Menurut Babad Lombok dan Babad Seleparang, prajurit Kesultanan Banjar yang dipimpin dua orang Patih telah membantu Kerajaan Seleparang melawan musuhnya. Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin, pada masa pemerintahan Sultan Ri'ayatullah (1660-1663) sudah terjalin kekerabatan antara Kesultanan Banjar dan Kerajaan Seleparang dengan adanya pernikahan antara Raden Subangsa dengan dua orang puteri dari Raja Seleparang. Raden Subangsa kemudian menetap di Taliwang (Sumbawa Barat) dan dikenal dengan sebutan Pangeran Taliwang oleh orang Seleparang dan orang Sumbawa.[76][96] Raja-raja Sumbawa merupakan keturunan dari Raja Banjar.[97] Sehingga Suku Banjar merupakan salah satu dari gabungan dari lima suku yang menjadi leluhur masyarakat suku Samawa (Sumbawa).[98] Di pulau Lombok masih ditemukan permukiman orang Banjar yaitu di Kampung Banjar, Ampenan. Mereka mendirikan Masjid Nurul Qomar.[99] Dari Ampenan, orang Banjar menyeberang ke pulau Bali dan kebanyakan bermukim di Kampung Islam Kusamba Kabupaten Klungkung, Bali.[100][101]

Sistem kekerabatan[sunting | sunting sumber]

Waring
Sanggah
Datu
Kai (kakek) + Nini (nenek)
Abah (ayah) + Uma (ibu)
Kakak < ULUN > Ading
Anak
Cucu
Buyut
Intah/Muning

Seperti sistem kekerabatan umumnya, masyarakat Banjar mengenal istilah-istilah tertentu sebagai panggilan dalam keluarga. Skema di samping berpusat dari ULUN sebagai penyebutnya.

Bagi ULUN juga terdapat panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara tertua disebut Julak, saudara kedua disebut Gulu, saudara berikutnya disebut Tuha, saudara tengah dari ayah dan ibu disebut Angah, dan yang lainnya biasa disebut Pakacil (paman muda/kecil) dan Makacil (bibi muda/kecil), sedangkan termuda disebut Busu. Untuk memanggil saudara dari kai dan nini sama saja, begitu pula untuk saudara datu.

Disamping istilah di atas masih ada pula sebutan lainnya, yaitu:
 · minantu (suami / isteri dari anak ULUN)
 · pawarangan (ayah / ibu dari minantu)
 · mintuha (ayah / ibu dari suami / isteri ULUN)
 · mintuha lambung (saudara mintuha dari ULUN)
 · sabungkut (orang yang satu Datu dengan ULUN)
 · mamarina (sebutan umum untuk saudara ayah/ibu dari ULUN)
 · kamanakan (anaknya kakak / adik dari ULUN)
 · sapupu sakali (anak mamarina dari ULUN)
 · maruai (isteri sama isteri bersaudara)
 · ipar (saudara dari isteri / suami dari ULUN)
 · panjulaknya (saudara tertua dari ULUN)
 · pambusunya (saudara terkecil dari ULUN)
 · badangsanak (saudara kandung)

Untuk memanggil orang yang seumur boleh dipanggil ikam, boleh juga menggunakan kata aku untuk menunjuk diri sendiri. Sedangkan untuk menghormati atau memanggil yang lebih tua digunakan kata pian, dan kata ulun untuk menunjuk diri sendiri.

Islam Banjar[sunting | sunting sumber]

Masjid tradisional dengan gaya arsitektur Banjar

.

Istilah Islam Banjar menunjuk kepada sebuah proses historis dari fenomena inkulturisasi Islam di Tanah Banjar, yang secara berkesinambungan tetap hidup di dan bersama masyarakat Banjar itu sendiri.[102] Dalam ungkapan lain, istilah Islam Banjar setara dengan istilah-istilah berikut: Islam di Tanah Banjar, Islam menurut pemahaman dan pengalaman masyarakat Banjar, Islam yang berperan dalam masyarakat dan budaya Banjar, atau istilah-istilah lain yang sejenis, tentunya dengan penekanan-penekanan tertentu yang bervariasi antara istilah yang satu dengan lainnya.

Inti dari Islam Banjar adalah terdapatnya karakteristik khas yang dimiliki agama Islam dalam proses sejarahnya di Tanah Banjar. Ciri khas itu adalah terdapatnya kombinasi pada level kepercayaan antara kepercayaan Islam, kepercayaan bubuhan, dan kepercayaan lingkungan. Kombinasi itulah yang membentuk sistem kepercayaan Islam Banjar.[103] Di antara ketiga sub kepercayaan itu, yang paling tua dan lebih asli dalam konteks Banjar adalah kepercayaan lingkungan, karena unsur-unsurnya lebih merujuk pada pola-pola agama pribumi pra-Hindu. Oleh karena itu, dibandingkan kepercayaan bubuhan, kepercayaan lingkungan ini tampak lebih fleksibel dan terbuka bagi upaya-upaya modifikasi ketika dihubungkan dengan kepercayaan Islam.[102]

Sejarah Islam Banjar dimulai seiring dengan sejarah pembentukan entitas Banjar itu sendiri. Menurut kebanyakan peneliti, Islam telah berkembang jauh sebelum berdirinya Kerajaan Banjar di Kuin Banjarmasin, meskipun dalam kondisi yang relatif lambat lantaran belum menjadi kekuatan sosial-politik. Kerajaan Banjar, dengan demikian, menjadi tonggak sejarah pertama perkembangangan Islam di wilayah Selatan pulau Kalimantan. Kehadiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjar lebih kurang tiga abad kemudian merupakan babak baru dalam sejarah Islam Banjar yang pengaruhnya masih sangat terasa sampai dewasa ini.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa Banjar merupakan bahasa ibu Suku Banjar. Bahasa ini berkembang sejak zaman Kerajaan Negara Dipa dan Daha yang bercorak Hindu-Buddha hingga datangnya agama Islam di Tanah Banjar. Banyak kosakata-kosakata bahasa ini sangat mirip dengan Bahasa Dayak, Bahasa Melayu, maupun Bahasa Jawa.

Pada dasarnya Bahasa Banjar termasuk dalam rumpun bahasa Melayik Dayak seperti halnya bahasa Dayak Iban, Dayak Kanayatn, dll. Tetapi bahasa orang Banjar sekarang sudah mengalami perubahan dengan masuknya kosakata Bahasa Melayu, dan Bahasa Jawa. Bahasa Banjar asli hanya dipakai saat diselenggarakannya ritual aruh adat Kaharingan Dayak Meratus (Banjar Arkhais) oleh para Balian Kaharingan.

Sebagian besar orang Banjar dan orang Meratus saat ini sudah tidak bisa lagi membahasakan bahasa asli mereka.

Filsafat hidup dan nilai budaya suku Banjar[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa unsur filsafat hidup suku Banjar, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif, antara lain:[104]

  • Baiman. Yaitu setiap Urang Banjar meyakini adanya Tuhan/Allah. Setiap individu suku Banjar selalu disuruh untuk mempelajari tentang rukun iman dan melaksanakan dengan rajin kelima rukun Islam. Bila belum mempelajari tentang keimanan dan rukun Islam ini dianggap keberagamaan orang Banjar belum sempurna.
  • Bauntung. Urang Banjar harus punya keterampilan hidup. Jadi Urang Banjar dari kecil sudah diajari keterampilan kejuruan, yaitu keterampilan yang dikaitkan dengan pekerjaan tertentu yang terdapat dilingkungannya. Hal ini bisa dilihat dari asal Urang Banjar tersebut misalnya orang Kelua punya keahlian menjahit, orang Amuntai punya keahlian membuat lemari, orang Alabio punya keahlian sebagai pedagang kain, Negara punya keahlian sebagai pedagang emas, membuat gerabah, membuat perahu/kapal, orang Mergasari punya keahlian sebagai pembuat anyaman, orang Martapura punya keahlian berdagang batu-batuan. Urang Banjar selalu di ajari life skill atau keterampilan agar hidup bisa mandiri. Urang Banjar harus bekerja terus menerus, karena setiap kali selesai suatu tugas, tugas lain telah menanti.
  • Batuah. Arti berkah atau bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Urang Banjar sebagai pemeluk agama Islam, tentu akan mengamalkan ajaran secara baik, yaitu agar hidupnya membawa kebaikan bagi orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Jadi Urang Banjar dalam tatanan masa lalu maupun saat ini selalu diharapkan agar hidupnya berguna bagi dirinya, keluarga dan orang banyak. Agar bisa berguna bagi masyarakat, maka Urang Banjar harus memiliki iman yang kuat, ilmu yang bermanfaat dan beramal kebajikan.
  • Cangkal. Yaitu ulet dan rajin dalam bekerja. Urang Banjar harus bekerja keras untuk menggapai cita-cita, sehingga di masa lalu mereka suka merantau. Sifat cangkal dalam bekerja adalah salah satu identitas orang Banjar. Dalam pandangan Urang Banjar bekerja harus maksimal, berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT, sehingga hidupnya akan bahagia di dunia dan akhirat.
  • Baik Tingkah laku. Yaitu Urang Banjar dalam pergaulan sehari-hari harus menunjukkan budi pekerti yang luhur agar dia disenangi orang lain. Dengan kata lain, Urang Banjar harus pandai beradaptasi dengan lingkungan di mana dia bertempat tinggal.
  • Kompetitif individual. Yaitu orang Banjar terkenal sebagai pekerja keras dalam menggapai cita-citanya tetapi bekerja sendiri-sendiri tidak secara kolektif, sehingga Urang Banjar tidak mampu membangun suatu poros kekuatan ekonomi atau politik di Pentas Nasional. Urang Banjar cenderung memiliki sifat individual dan ego yang tinggi sehingga susah diatur.
  • Materialis pragmatis. Gaya hidup Urang Banjar saat ini dikarenakan pengaruh globalisasi dengan trend hidup yang materialis-pragmatis, sehingga pola hidup Urang Banjar sangat konsumtif. Disisi lain, gaya hidup anak muda Banjar dalam memilih kerja, lebih mengutamakan kerja kantoran yang berdasi atau karyawan supermarket daripada pedagang kecil dengan modal sendiri dan mandiri.
  • Sikap qanaah dan pasrah. Urang Banjar selagi muda adalah pekerja keras untuk meraih cita-citanya, tapi kalau sudah berhasil dan sudah tua hidupnya santai untuk menikmati hidup dan beribadah kepada Allah untuk mengisi waktu.
  • Haram manyarah dan waja sampai kaputing. Yaitu pantang menyerah dan tegar pendirian. Kata hikmah di atas diungkapkan oleh Pangeran Antasari dalam rangka memperkuat motivasi pasukannya menghadapi pasukan penjajah Belanda. Urang Banjar mempunyai pendirian yang kuat untuk mempertahankan keyakinan atau yang diperjuangkannya, sehingga tidak mudah goyang atau terombang-ambing oleh situasi dan kondisi yang dihadapi. Prinsip ini dipakai dan dijadikan semboyan Provinsi Kalimantan Selatan.

Nilai budaya Banjar yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan diri sendiri dan manusia dengan alam:[105]

  • Wujud konsepsi berelaan merupakan nilai ikhlas dan syukur dan semata-mata untuk ibadah dan mendapat keridhoan Allah SWT.
  • Pada sistem kekerabatan, baik karena keturunan maupun karena status sosial dan profesi, ada konsep bubuhan. Dalam konsepsi bubuhan termuat nilai bedingsanakan (persaudaraan), betutulungan (tolong menolong) dan mau haja bakalah bamanang (mau saja kalah menang) maksudnya mau saja memberi dan menerima. Bubuhan sebagai kesatuan sosial sangat kuat ikatannya dengan ke-gotongroyongan. Orang hidup harus betutulongan (tolong menolong), jangan hidup saurang-saurang (sendiri-sendiri).
  • Nilai untuk pengembangan diri konsepsi gawi manuntung, yaitu seseorang dalam mengerjakan sesuatu harus dapat menyelesaikannya dengan baik. Serta konsepsi dalas balangsar dada artinya biarpun harus berselancar dada yang maknanya seseorang harus berjuang dengan sungguh-sungguh.
  • Nilai konsepsi bisa-bisa maandak awak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Nasehat ini biasanya diberikan agar dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat

Kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Busana Pengantin Banjar.

Umumnya adat kebudayaan Banjar berakar dari adat kebudayaan Dayak Kaharingan yang setelah pengIslaman massal adat kebudayaan Kaharingan ini disunting untuk disesuaikan dengan keyakinan baru mereka yaitu Islam.

Salah satu contohnya adalah adat baayun anak yang pada zaman dahulu adalah ritual pemberkatan anak Kaharingan dengan dibacakan mantra-mantra Balian, sekarang dalam adat Banjar yang Islam baayun anak tidak lagi menggunakan mantra-mantra Balian akan tetapi dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Keterampilan Mengolah Lahan Pasang Surut[sunting | sunting sumber]

Kehidupan orang Banjar terutama kelompok Banjar Kuala dan Batang Banyu lekat dengan budaya sungai. Sebagai sarana transportasi, orang Banjar mengembangkan beragam jukung (perahu) sesuai dengan fungsinya yakni Jukung Pahumaan, Jukung Paiwakan, Jukung Paramuan, Jukung Palambakan, Jukung Pambarasan, Jukung Gumbili, Jukung Pamasiran, Jukung Beca Banyu, Jukung Getek, Jukung Palanjaan, Jukung Rombong, Jukung/Perahu Tambangan, Jukung Undaan, Jukung Tiung dan lain-lain.[106] Kondisi geografis Kalimantan Selatan yang banyak memiliki sungai dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh orang Banjar, sehingga salah satu keahlian orang Banjar adalah mengolah lahan pasang surut menjadi kawasan budi daya pertanian dan permukiman.[107] Sistem irigasi khas orang Banjar yang dikembangkan masyarakat Banjar mengenal tiga macam kanal. Pertama, Anjir (ada juga yang menyebutnya Antasan) yakni semacam saluran primer yang menghubungkan antara dua sungai. Anjir berfungsi untuk kepentingan umum dengan titik berat sebagai sistem irigasi pertanian dan sarana transportasi. Kedua, Handil (ada juga yang menyebut Tatah) yakni semacam saluran yang muaranya di sungai atau di Anjir. Handil dibuat untuk menyalurkan air ke lahan pertanian daerah daratan. Handil ukurannya lebih kecil dari Anjir dan merupakan milik kelompok atau bubuhan tertentu. Ketiga, Saka merupakan saluran tersier untuk menyalurkan air yang biasanya diambil dari Handil. Saluran ini berukuran lebih kecil dari Handil dan merupakan milik keluarga atau pribadi.

Rumah Banjar[sunting | sunting sumber]

Arsitektur Rumah Banjar Bubungan Tinggi di perkantoran gubernur Kalsel, gedung DPRD Kalsel dan anjungan Kalsel di TMII.

Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris. Rumah tradisonal Banjar adalah tipe-tipe rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai berkembang sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Dari sekian banyak jenis-jenis rumah Banjar, tipe Bubungan Tinggi merupakan jenis rumah Banjar yang paling dikenal dan menjadi identitas rumah adat suku Banjar.

Tradisi lisan[sunting | sunting sumber]

Tradisi lisan oleh Suku Banjar sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu, Arab, dan Cina. Tradisi lisan Banjar (yang kemudian hari menjadi sebuah kesenian) berkembang sekitar abad ke-18 yang di antaranya adalah Madihin dan Lamut. Madihin berasal dari bahasa Arab, yakni madah (ﻤﺪﺡ) yang artinya pujian. Madihin merupakan puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Sedangkan Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut berasal dari negeri Cina dan mulanya menggunakan bahasa Tionghoa.[108] Namun, setelah dibawa ke Tanah Banjar oleh pedagang-pedagang Cina, maka bahasanya disesuaikan menjadi bahasa Banjar.[108]

Teater[sunting | sunting sumber]

Satu-satunya seni teater tradisional yang berkembang di pulau Kalimantan adalah Mamanda. Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.[109]

Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut (Putri).[109]

Tokoh-tokoh ini wajib ada dalam setiap Pementasan. Agar tidak ketinggalan, tokoh-tokoh Mamanda sering pula ditambah dengan tokoh-tokoh lain seperti Raja dari Negeri Seberang, Perompak, Jin, Kompeni dan tokoh-tokoh tambahan lain guna memperkaya cerita.

Disinyalir istilah Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja. Mamanda secara etimologis terdiri dari kata "mama" (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.[109]

Musik[sunting | sunting sumber]

Salah satu kesenian berupa musik tradisional khas Suku Banjar adalah Musik Panting. Musik ini disebut Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan panting, sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut musik panting. Pada awalnya musik panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gabus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya, maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti babun, gong,dan biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa orang. Nama musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada musik panting yang terkenal alat musik nya dan yang sangat berperan adalah panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting. Orang yang pertama kali memberi nama sebagai musik panting adalah A. SARBAINI. Dan sampai sekarang ini musik panting terkenal sebagai musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.[110]

Selain itu, ada sebuah kesenian musik tradisional Suku Banjar, yakni Musik Kentung. Musik ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat, Astambul dan kampung Bincau, Martapura. Pada masa sekarang, musik kentung ini sudah mulai langka. Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.[111]

Tarian[sunting | sunting sumber]

Seni Tari Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama "Baksa" yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan.

Makanan[sunting | sunting sumber]

Masakan tradisional Banjar diantaranya: sate Banjar[112], soto Banjar, ketupat Kandangan, kue bingka dan lain-lain.

Populasi[sunting | sunting sumber]

Menurut sensus BPS tahun 2010 populasi suku Banjar berjumlah 4.127.124.[113] Suku Banjar terdapat di seluruh provinsi Indonesia dengan 2.686.627 diantaranya tinggal di Kalimantan Selatan. Populasi suku Banjar dalam jumlah besar juga dapat ditemkan di Kalimantan Tengah (464.260) dan Kalimantan Timur (440.453) yang merupakan daerah perantauan primer orang Banjar. Di pulau Sumatera orang Banjar banyak terdapat di Riau (227.239), Sumatera Utara (125.707) dan Jambi (102.237) karena migrasi orang Banjar pada abad ke-19 ke pesisir timur Sumatera.

Populasi suku Banjar diantaranya sebagai berikut:[114]

Provinsi Populasi Suku Banjar Jumlah Penduduk Konsentrasi Distribusi
Kalimantan Selatan 2.686.627 3.626.616 74,08% 65,10%
Kalimantan Tengah 464.260 2.212.089 20,99% 11,25%
Kalimantan Timur 440.453 3.553.143 12,40% 10,67%
Riau 227.239 5.538.367 4,10% 5,51%
Sumatera Utara 125.707 12.982.204 0,97% 3,05%
Jambi 102.237 3.092.265 3,31% 2,48%
Kalimantan Barat 14.430 4.395.983 0,33% 0,35%
Jawa Timur 12.405 37.476.757 0,03% 0,30%
Kepulauan Riau 11.811 1.679.163 0,70% 0,29%
Jawa Barat 9.383 43.053.732 0,02% 0,23%
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 8.572 9.607.787 0,09% 0,21%
Sulawesi Selatan 3.837 8.034.776 0,05% 0,09%
Sulawesi Tengah 3.452 2.635.009 0,13% 0,08%
Aceh 2.734 4.494.410 0,06% 0,07%
Banten 2.572 10.632.166 0,02% 0,06%
Daerah Istimewa Yogyakarta 2.545 3.457.491 0,07% 0,06%
Jawa Tengah 2.336 32.382.657 0,01% 0,06%
Sumatera Selatan 1.442 7.450.394 0,02% 0,03%
Nusa Tenggara Barat 1.083 4.500.212 0,02% 0,03%
Sulawesi Utara 594 2.270.596 0,03% 0,01%
Sulawesi Tenggara 499 2.232.586 0,02% 0,01%
Lampung 411 7.608.405 0,01% 0,01%
Sumatera Barat 355 4.846.909 0,01% 0,01%
Bali 349 3.890.757 0,01% 0,01%
Papua 327 2.833.381 0,01% 0,01%
Bangka Belitung 249 1.223.296 0,02% 0,01%
Sulawesi Barat 221 1.158.651 0,02% 0,01%
Maluku 213 1.533.506 0,01% 0,01%
Nusa Tenggara Timur 200 4.683.827 0,00% 0,00%
Bengkulu 180 1.715.518 0,01% 0,00%
Papua Barat 165 760.422 0,02% 0,00%
Gorontalo 134 1.040.164 0,01% 0,00%
Maluku Utara 102 1.038.087 0,01% 0,00%
Total 4.127.124 237.641.326 1,74% 100,00%

Tokoh-tokoh Banjar[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Literatur[sunting | sunting sumber]

  • Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar; Deskripsi dan Analisis Kebudayaan Banjar, (Jakarta: Rajawali Press, 1997).
  • J.J. Rass, Hikajat Bandjar:A Study in Malay Histiography, (The Hague : Martinus Nijhoff), 1968
  • Tjilik Riwut, Kalimantan Memanggil, Djakarta:Penerbit Endang, 1957.
  • Idwar Saleh, Sejarah bandjarmasin:Selajang Pandang Mengenai Bangkitnja Keradjaan Bandjarmasin, Posisi, Funksi dan Artinja Dalam Sedjarah Indonesia Dalam Abad Ketudjuh Belas. Bandung: Balai Pendidikan Guru. 1958
  • Rumah Tradisional Banjar: Rumah Bubungan Tinggi, Departemen Pendididkan dan Kebudayaan, Museum Negeri Lambung Mangkurat, 1984
  • M. Gazali Usman, Kerajaan Banjar:Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam, Banjarmasin: Lambung Mangkurat Press, 1994.
  • Jurnal Kebudayaan:KANDIL, Melintas Tradisi, Edisi 6, Tahun II, Agustus-Oktober, 2004 ISSN: 1693-3206
  • Arthum Artha, Naskah Kitab Undang Undang Sultan Adam 1825, Banjarmasin: Penerbit Murya Artha, 1988
  • Tim Haeda, Islam Banjar; Tentang Akar Kultural dan Revitalisasi Citra Masyarakat Religius, (Banjarmasin: Lekstur, 2009)
  • Francisco O. Javines, Our march of death and people power from Mactan to EDSA: in articles and poems, Rex Bookstore, Inc., 1992, ISBN 971-23-0834-0, 9789712308345 (orang Banjar di Filipina)
  • M.c. Halili, Philippine history, Rex Bookstore, Inc., 2004, ISBN 971-23-3934-3, 9789712339349

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175. 
  2. ^ http://www.joshuaproject.net/peoples.php?peo3=10658
  3. ^ https://media.neliti.com/media/publications/40337-ID-merajut-dunia-islam-dunia-melayu-sosok-orang-melayu-banjar-di-tanah-leluhur.pdf
  4. ^ (Indonesia) Yunanto Wiji Utomo (21 Juni 2012). "DNA Orang Dayak Akan Diteliti". Indonesia: Kompas.com. 
  5. ^ (Indonesia) Nograhany Widhi Koesmawardhani (15 November 2016). "Herawati Sudoyo: Secara Genetik, Asal Usul Orang Indonesia Itu Beragam". Indonesia: detikNews. 
  6. ^ http://print.kompas.com/baca/english/2016/07/16/Ancestors-of-Malagasy-Came-from-Banjar
  7. ^ http://print.kompas.com/baca/english/2016/07/04/The-Journey-across-the-Indian-Ocean?utm_source=bacajuga
  8. ^ http://www.terradaily.com/reports/The_history_of_human_genetic_ancestry_in_Madagascar_999.html
  9. ^ https://academic.oup.com/mbe/article/33/9/2478/2579515/No-One-Is-an-Island-The-History-of-Human-Genetic
  10. ^ http://www.terradaily.com/reports/The_history_of_human_genetic_ancestry_in_Madagascar_999.html
  11. ^ https://academic.oup.com/mbe/article-lookup/doi/10.1093/molbev/msw117
  12. ^ (Inggris) Stephen A. Wurm (1996). Atlas of Languages of Intercultural Communication in the Pacific, Asia, and the Americas. 1. Berlin; New York: UNESCO. hlm. 688.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan)ISBN 3-11-013417-9
  13. ^ (Inggris) Truman Simanjuntak (2006). Austronesian Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago: Proceedings of the International Symposium. Indonesia: LIPI Press. hlm. 209.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan) ISBN 979-26-2436-8
  14. ^ (Indonesia) Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia- Belanda 1635-1860, Penerbit Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat 1965
  15. ^ http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/37-Datung-Ayuh-dan-Bambang-Siwara
  16. ^ (Indonesia)Tsing, Anna Lowenhaupt. Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi pada Masyarakat. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 75–79, 405. ISBN 979-461-306-1. ISBN 9789794613061
  17. ^ http://news.detik.com/internasional/1874649/28-wanita-indonesia-tak-sengaja-temukan-madagaskar-1200-tahun-silam
  18. ^ http://news.detik.com/berita/1893986/madagaskar-pertama-kali-dikoloni-28-perempuan-indonesia-1200-tahun-lalu
  19. ^ http://news.detik.com/berita/1894053/ternyata-bahasa-penduduk-madagaskar-meminjam-bahasa-indonesia
  20. ^ http://news.detik.com/berita/1894003/tes-dna-buktikan-orang-indonesia-dan-madagaskar-bersaudara
  21. ^ http://popular-archaeology.com/issue/summer-2016/article/new-picture-emerges-on-human-settlement-of-madagascar
  22. ^ https://eprints.uns.ac.id/5115/1/187911011201108011.pdf
  23. ^ http://www.nature.com/articles/srep26066
  24. ^ http://news.detik.com/berita/2855830/dari-indonesia-bagian-mana-28-perempuan-nenek-moyang-orang-madagaskar
  25. ^ http://print.kompas.com/baca/sains/iptek/2016/07/16/Leluhur-Orang-Madagaskar-dari-Banjar
  26. ^ https://www.researchgate.net/publication/273703326_Mitochondrial_DNA_and_the_Y_chromosome_suggest_the_settlement_of_Madagascar_by_Indonesian_sea_nomad_populations
  27. ^ https://www.sciencedaily.com/releases/2016/07/160705183132.htm
  28. ^ http://www.nature.com/articles/srep26066
  29. ^ https://www.researchgate.net/profile/Pradiptajati_Kusuma
  30. ^ http://mbe.oxfordjournals.org/content/33/9/2396
  31. ^ http://kaltim.hypotheses.org/1042
  32. ^ http://bmcgenomics.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12864-015-1394-7
  33. ^ https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3903192/
  34. ^ https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1199379/
  35. ^ http://mbe.oxfordjournals.org/content/26/9/2109.full
  36. ^ https://www.pressreader.com/
  37. ^ http://www.academia.edu/9383544/Austronesians_in_Madagascar_a_critical_assessment_of_the_works_of_Paul_Ottino_and_Philippe_Beaujard
  38. ^ http://mbe.oxfordjournals.org/content/early/2016/06/29/molbev.msw117.full.pdf
  39. ^ http://massey.genomicus.com/publications/Brucato_2016_MolBiolEvol_v33_p2396.pdf
  40. ^ http://edisidumai.com/2017/01/herawati-sudoyo-secara-genetik-asal-usul-orang-indonesia-itu-beragam/
  41. ^ https://haplomaps.com/haplogroup-k/
  42. ^ Sosial Budaya Provinsi Kalimantan Selatan - indonesia.go.id
  43. ^ a b c d e (Indonesia) Alfani Daud, Islam & masyarakat Banjar: diskripsi dan analisis kebudayaan Banjar, RajaGrafindo Persada, 1997, ISBN 979-421-599-6, 9789794215999
  44. ^ (Inggris)Ongsotto, Ongsotto; et al. (2002). Philippine History Module-based Learning I' 2002 Ed. Rex Bookstore, Inc. ISBN 9789712334498.  ISBN 971-23-3449-X
  45. ^ (Inggris)Balfour, Edward (1885). The cyclopædia of India and of eastern and southern Asia, commercial industrial, and scientific: products of the mineral, vegetable, and animal kingdoms, useful arts and manufactures, Jilid 2. Bernard Quaritch. 
  46. ^ (Jerman)Waitz, Theodor (1865). [Anthropologie der naturvölker: Die Völker der Südsee. Pt.1 Die Malaien. Pt.2. Die Mikron esier und nordwestlichen Polynesier Periksa nilai |url= (bantuan). F. Fleischer.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan)
  47. ^ (Inggris)Malayan miscellanies, Malayan miscellanies (1820). Malayan miscellanies. Malayan miscellanies. 
  48. ^ (Inggris)J. H., Moor (1837). Notices of the Indian archipelago & adjacent countries: being a collection of papers relating to Borneo, Celebes, Bali, Java, Sumatra, Nias, the Philippine islands ... F.Cass & co. 
  49. ^ (Jerman)Berlin, Gesellschaft für Erdkunde (1867). Zeitschrift der Gesellschaft für Erdkunde zu Berlin: zugl. Organ d. Deutschen Geographischen Gesellschaft. 2. Gesellschaft für Erdkunde. 
  50. ^ (Jerman)Gesellschaft für Erdkunde zu Berlin, Gesellschaft für Erdkunde zu Berlin (1867). Zeitschrift. D. Reimer. 
  51. ^ (Inggris)Norris, Edwin (1853). The native races of the Indian Archipelago: Papuans. Perpustakaan Publik Lyon. hlm. 142. 
  52. ^ (Indonesia) Mohamad Idwar Saleh; Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Dengan Akhir Abad ke-19, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Pengembangan Permuseuman Kalimantan Selatan, Museum Negeri Lambung Mangkurat Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru 1986.
  53. ^ Idwar Saleh, makalah Perang Banjar 1859-1865, 1991.
  54. ^ Tim Haeda dalam Islam Banjar; Tentang Akar Kultural dan Revitalisasi Citra Masyarakat Religius, 2009
  55. ^ Irfan Noor, "Islam dan Universum simbolik Urang Banjar"
  56. ^ Inti Orang Banjar Kuala yang asli adalah penduduk mula-mula yang menempati sungai Kuin sebelum tahun 1612, setelah tahun tahun 1612 mereka dipindahkan ke Martapura yang menjadi cikal bakal penduduk Martapura. Menurut laporan Radermacher dalam tahun 1780 penduduk Kuin (Banjar Lama) hanya berjumlah 100 orang, sedangkan di Tatas 2000 orang. Pada awal abad ke-18 di Banjarmasin mulai didirikan perkampungan suku pendatang seperti kotta-blanda, Kampung Cina, Melayu, Arab, Jawa, Bugis dan lain-lain. Di Martapura juga terbentuk Kampung Melayu, Kampung Jawa, pendatang suku Suluk dan lain-lain
  57. ^ menempati kawasan Alalak
  58. ^ Kelurahan Melayu Banjarmasin, mereka mengklaim sebagai penduduk "asli" Banjarmasin dengan logat bicara yang khas
  59. ^ a b Kelurahan Pasar Lama Banjarmasin
  60. ^ Kelurahan Kertak Baru Ulu Banjarmasin
  61. ^ http://jejakrekam.com/2017/01/09/banjarmasin-sudah-ada-di-abad-7/
  62. ^ Kalimantan Barat - Suku Bangsa
  63. ^ Kalimantan Tengah - Suku Bangsa
  64. ^ Kalimantan Selatan - Suku Bangsa
  65. ^ Kalimantan Timur - Suku Bangsa
  66. ^ http://bioma.or.id/wp-content/uploads/2015/11/Dok_02_Sosekbud_Bioma.pdf Tipologi Sosial, Ekonomi dan Budaya Masyarakat Di Mahakam Tengah
  67. ^ (Inggris) Magenda, Burhan Djabier (2010). East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy. Equinox Publishing. hlm. 18. ISBN 6028397210. ISBN 978-602-8397-21-6
  68. ^ http://www.adbi.org/files/2005.02.dp24.forestry.sector.indonesia.table.2.pdf
  69. ^ "Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape" (PDF). Institute of Southeast Asian Studies. 2003. 
  70. ^ "Mencari Indonesia :demografi-politik pasca Soeharto" (PDF). Indonesian Institute of Sciences. 2007. 
  71. ^ Komunikasi Antar Etnis Tionghoa - Banjar - Jawa (Studi Deskriptif pada Masyarakat Kampung Dalem Kota Tulungagung
  72. ^ Tradisi Keagamaan Masyarakat Etnis Banjar di Tulungagung
  73. ^ (Indonesia) Purwadi & Hari Jumanto (2005). Asal mula tanah Jawa. Gelombang Pasang. 
  74. ^ (Indonesia) PENELITIAN AWAL TEMUAN PERAHU KUNA
  75. ^ Maka Pangeran Samudera itu, sudah tetap kerajaannya di Banjarmasih itu, maka masuk Islam. Diislamkan oleh Penghulu Demak itu. Maka waktu itu ada orang negeri Arab datang, maka dinamainya Pangeran Samudera itu Sultan Suryanullah. Banyak tiada tersebut. Maka Penghulu Demak dengan Menteri Demak itu disuruh Sultan Suryanullah kembali. Maka orang Demak yang mati berperang ada dua puluh itu, disilih laki-laki dan perempuan yang dapat menangkap, tertangkap tatkala berperang itu, orang empat puluh. Maka Penghulu Demak dan Menteri Demak serta segala kaumnya sama dipersalin. Yang terlebih dipersalinnya itu penghulunya, karena itu yang mengislamkan. Serta persembah Sultan Suryanullah emas seribu tahil, intan dua puluh biji, lilin dua puluh pikul, pekat seribu galung, damar seribu kindai, tetudung seribu buah, tikar seribu kodi, kajang seribu bidang. Sudah itu maka orang Demak itu kembali. Itulah maka sampai sekarang ini di Demak dan Tadunan itu ada asalnya anak-beranak cucu-bercucu itu asal orang Nagara itu; tiada lagi tersebut.(J.J. Ras Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography)
  76. ^ a b (Melayu)Johannes Jacobus Ras, Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh, Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Lot 1037, Mukim Perindustrian PKNS - Ampang/Hulu Kelang - Selangor Darul Ehsan, Malaysia 1990.
  77. ^ Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, PT Bentang Pustaka, Hlm. 140, ISBN 979-3062-59-2
  78. ^ Kampung Banjar dahulu termasuk dalam wilayah Kelurahan Banjarsari (Semarang) yang telah dihapuskan bersama dengan kelurahan Mlayu Darat kemudian digabung ke dalam wilayah Kelurahan Dadapsari
  79. ^ (Indonesia) PENGARUH KEBUDAYAAN BANJAR TERHADAP BENTUK RUMAH PANGGUNG MASYARAKAT BANJAR DI KAMPUNG MELAYU SEMARANG
  80. ^ (Indonesia) Tundjung W. Sutirto, Perwujudan kesukubangsaan kelompok etnik pendatang, Pustaka Cakra, 2000
  81. ^ KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN KOTA MAKASSAR SEBAGAI TEMA PAMERAn
  82. ^ "Pejuang Islam yang Terasing di Tanah Minahasa". Masjid Raya Vila Inti Persada. 2010. Diakses tanggal 2011-07-27. 
  83. ^ Riau - Suku Bangsa
  84. ^ Sumatera Utara - Suku Bangsa
  85. ^ Jambi - Suku Bangsa
  86. ^ Kepulauan Riau - Suku Bangsa
  87. ^ WAGUBSU HADIRI PERINGATAN MAULID MASYARAKAT BANJAR
  88. ^ JELANG RAMADHAN MASYARAKAT BANJAR DI LANGKAT SILATURAHMI DENGAN BUPATI
  89. ^ (Inggris) A. J. Gooszen, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Netherlands), A demographic history of the Indonesian archipelago, 1880-1942, KITLV Press, 1999, ISBN 90-6718-128-5, 9789067181280
  90. ^ (Indonesia) Nasution, Dr. Rosramadhana (2016). Ketertindasan Perempuan Dalam Tradisi Kawin Anom: Subaltern Perempuan pada Suku Banjar Dalam Perspektif Poskolonial (PDF). Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 91. ISBN 978-979-461-941-4
  91. ^ http://www.tanjungpinangpos.co.id/2011/06/14798/suku-banjar-pertahankan-adat-istiadat.html
  92. ^ http://repository.unja.ac.id/2778/1/jurnal.pdf
  93. ^ Bali - Suku Bangsa
  94. ^ Nusa Tenggara Barat - Suku Bangsa
  95. ^ Nusa Tenggara Timur - Suku Bangsa
  96. ^ http://kesultananbanjar.com/id/hubungan-kesultanan-sumbawa-dengan-kesultanan-banjar/
  97. ^ http://kesultananbanjar.com/id/kunjungan-sultan-banjar-ke-kesultanan-sumbawa/
  98. ^ Kabupaten SUMBAWA
  99. ^ http://www.lombokpost.net/2017/03/23/didirikan-pendatang-banjar-101-tahun-silam/
  100. ^ crcs.ugm.ac.id/wp-content/uploads/2015/12/mONOGRAF-bALI-BULAN-SABIT-DI-PULAU-DEWATA-1.pdf
  101. ^ https://vienmuhadi.com/2013/11/14/nafas-islam-di-bali-2/
  102. ^ a b (Indonesia) Haeda, Tim (2009). Islam Banjar; Tentang Akar Kultural dan Revitalisasi Citra Masyarakat Religius. Banjarmasin: Lekstur. 
  103. ^ (Indonesia) Daud, Alfani (1997). Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.  line feed character di |title= pada posisi 51 (bantuan)
  104. ^ (Indonesia) Sahriansyah (2015). Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar. Banjarmasin: IAIN Antasari Press. ISBN 978-6020-82829-9. 
  105. ^ (Indonesia) Istiqomah, Ermina; Setyobudihono, Sudjatmiko (2014). "Nilai Budaya Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan: Studi Indigenous". Jurnal Psikologi Teori dan Terapan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. 5 (1): 1-6. ISSN 2597-9035.  line feed character di |title= pada posisi 51 (bantuan)
  106. ^ Jukung, Urat Nadi Orang Banjar
  107. ^ (Indonesia) Levang, Patrice (2003). Ayo ke tanah sabrang: transmigrasi di Indonesia. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 165. ISBN 979-9100-03-8. ISBN 9789799100030
  108. ^ a b Kompas Online - Gusti Jamhar Akbar, Tokoh Seni Lamut
  109. ^ a b c Viva Borneo - Mamanda, Seni Pementasan Pulau Kalimantan
  110. ^ Musik Panting Banjar
  111. ^ Musik Kentung Banjar
  112. ^ (Indonesia) Tim Dapur Demedia, Kitab masakan sepanjang masa, DeMedia, 2010 ISBN 979-1471-89-4, 9789791471893
  113. ^ demografi.bps.go.id/phpfiletree/bahan/kumpulan_tugas_mobilitas_pak_chotib/Kelompok_1/Referensi/BPS_kewarganegaraan_sukubangsa_agama_bahasa_2010.pdf
  114. ^ (Indonesia) Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 978-979-064-417-5. ISBN 9789790644175

Pranala luar[sunting | sunting sumber]