Halaman yang dilindungi

Suku Kangean

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Suku Kangean
Oréng Kangéan  (Kangean)
[1]
UvA-BC 300.327 - Siboga - druipsteengrot bij de kampong Ardjasa (Arjasa) op het eiland Kangean.jpg
Kelompok pria Suku Kangean dalam misi Ekspedisi Siboga di Gua Koneng, Arjasa, Kangean ca. 1899
Jumlah populasi
ca. 125840+[2] (2013)
Daerah dengan populasi signifikan
 Indonesia125840+[3]
            Jawa Timur[4]lebih dari 125840
            Jawa Tengah[5](data akan diperbarui)
Bahasa
Dominan
Kangean
Resmi Pemerintahan
Indonesia
Lainnya
Bajo/Bajau • Mandar • Bugis • Makassar
Agama
Mayoritas
Islam (Sunni)
Minoritas
Islam Nusantara
Suku bangsa terkait

Suku Kangean (Bahasa Kangean: Oréng Kangéan[6]) adalah suku bangsa Austronesia yang berasal dari pulau Kangean, Indonesia dan pulau-pulau sekitarnya (secara majemuk dikenali sebagai Kepulauan Kangean).[7][8] Populasi Kangean berjumlah sekitar lebih dari 125840[9][10] yang kebanyakan tinggal di pulau Kangean, yang meliputi sekitar 90% dari populasi di pulau tersebut.

Tradisi

Tradisi Pangkak merupakan sebuah tradisi asli dari Kangean. Pangkak diserap dari kata aranggak atau aranggĕk dalam bahasa Kangean yang berarti "potong" atau "memotong", mengacu pada proses menuai padi dalam kegiatan panen. Pangkak adalah tradisi merayakan hasil panen. Pelaksanaan tradisi ini merupakan wujud rasa syukur atas hasil bumi yang didapat masyarakat melalui pertanian. Masyarakat Kangean percaya bahwa upacara pangkak adalah bentuk spiritual murni dan sebagai tanda syukur kepada Tuhan atas panen yang berhasil. Pangkak juga merujuk pada gaya nyanyian akapela yang dimainkan selama upacara panen pangkak.[11][12][13] Pangkak juga kemudian digubah sebagai tradisi ritual dalam lamaran di kalangan masyarakat Kangean. Ini merupakan perpaduan ritual agrikultural dan siklus hidup yang masuk akal: perayaan kesuburan yang ditemukan dalam pangkak akan berlanjut untuk pernikahan yang sangat subur. Hubungan antara pangkak dan proses pertunangan ini ditegaskan dalam lirik lagu pangkak, yang berbunyi: "Tenangkan pikiranmu, bertunanganlah; calon pengantinmu akan datang ke rumahmu; Ketika kamu lihat dia, kamu akan menemukan semangatmu”.[14] Upacara pangkak sering diiringi kesenian tradisional dengan menggunakan Gendeng Dumik yang berarti "gendang kecil", dan terkadang Pencak Silat juga dipertunjukkan.[15]

Bahasa Kangean:
"Ambololo hak-hak,
Ambololo harra,
Akadi ombĕk gulina padi,
Masa aranggĕk terbhik padi,
Togur réng tani lebur eola diyĕ,
Māsa réng tani aranggĕk padi.

Ambololo hak-hak,
Ambololo harra,
Gumbhira kejung sambi ātāndhĕng,
Ka’dissa oréng lake nabbu gendĕng,
Tāl-ontālan palotan sambi ātandhĕng,
Tandĕ nyaré juduh até lodang,
Ambololo hak-hak,
Ambololo harra."

Bahasa Indonesia:
"Ambololo hak-hak,
Ambololo harra,
Andai ombak ayunan padi,
Masa panen dekat menanti,
Pondokan petani indah dipandangi,
Masanya petani memotong (menuai) padi.

Ambololo hak-hak,
Ambololo harra,
Riang lagu sambil menari,
Disana lelaki menabuh gendang,
Saling lempar pulut sambil menari,
Tandanya jodoh sedang dicari,
Ambololo hak-hak,
Ambololo harra."

- mantra/doa/pujian yang diucapkan selama ritual pangkak oleh pawang lokal.[16]

Budaya

Masyarakat Kangean saling bergotong royong untuk meluncurkan perahu besar ke daerah pesisir Kangean pada 1920.
Perahu khas Kangean di Kangean pada 1920.

Gotong-royong adalah sebuah konsepsi etos sosialitas yang familiar bagi rakyat Indonesia (dan pada tingkat yang lebih luas mungkin juga mencakup negara-negara di maritim Asia Tenggara). Dalam bahasa di Indonesia khususnya Bahasa Jawa, gotong berarti "memikul beban dengan menggunakan bahu", sedangkan royong berarti "bersama" atau "bersama-sama", dengan demikian frase gabungan gotong royong dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai "beban bersama". Ini diterjemahkan menjadi bekerja sama, membantu satu sama lain, atau saling membantu.[17] Fasilitas umum desa, seperti irigasi, jalan, dan rumah ibadah (masjid, gereja, dan pura) biasanya dibangun secara gotong royong, yang mana dana dan material dikumpulkan bersama. Acara komunal tradisional, seperti upacara slametan juga biasanya diadakan dalam etos semangat goyong royong, yang mana setiap anggota masyarakat diharapkan dapat berkontribusi dan berpartisipasi dalam usaha tersebut secara harmonis.[18]

Bahasa

Bahasa Kangean adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Kangean yang berasal dari pulau Kangean.[19] Penutur bahasa Kangean berkonsentrasi di wilayah kepulauan Kangean, yang secara geografis terletak di utara Bali dan baratlaut Lombok. Bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

Agama dan Kepercayaan

Mayoritas masyarakat suku Kangean modern merupakan Muslim (dengan mayoritas penganut Islam Sunni). Sebelum terbentuknya pengadopsian Hinduisme, Buddhisme, Konfusianisme maupun Islam secara umum, penduduk asli Nusantara memiliki kepercayaan kepada entitas kekuatan spiritual rohani yang tak terlihat yang dapat berupa energi baik maupun energi buruk. Masyarakat pribumi kuno juga mempercayai bahwa nenek moyang yang telah meninggal tidak benar-benar lenyap atau hilang dari dunia, melainkan roh leluhur dapat bermetamorfosis dan memperoleh kuasa rohani seperti dewa (maupun dewi) dan tetap terlibat dalam urusan duniawi keturunan mereka. Itulah sebabnya pemujaan dan kekhidmatan untuk menghormati leluhur merupakan unsur penting dalam sistem kepercayaan kelompok-kelompok etnis pribumi di Indonesia, termasuk diantaranya yakni suku Kangean. Beberapa masyarakat suku Kangean masih melestarikan kepercayaan kuno ini dan juga mengasimilasikannya ke dalam agama yang kini umum dianut di Kangean (utamanya Islam), yang menghasilkan kepercayaan baru yang dikenal sebagai Islam Nusantara.

Referensi

  1. ^ Hokkien: 康依安; Jepang: カンゲアン; Jawa: ꦏꦔꦼꦪꦤ꧀ (dalam Aksara Jawa) atau كـڠـيان (dalam Pegon); Bugis dan Makassar: ᨀᨂᨙᨕᨊ; IPA: bahasa Indonesia: [kɑːŋɛɑːn], bahasa Inggris: [kɑːŋiːɑːn]
  2. ^ "Total Populasi berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Sumenep". sumenepkab.bps.go.id. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumenep. 2013. Diakses tanggal 31 December 2020. Data Kecamatan Sapeken, Kecamatan Arjasa, Kecamatan Kangayan di Kangean 
  3. ^ "Total Populasi berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Sumenep". sumenepkab.bps.go.id. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumenep. 2013. Diakses tanggal 31 December 2020. Data Kecamatan Sapeken, Kecamatan Arjasa, Kecamatan Kangayan di Kangean 
  4. ^ Data jumlah penduduk bersuku Kangean di provinsi Jawa Timur ini hanya mencakup wilayah kecamatan Arjasa, Sapeken, dan Kangayan yang berada di kepulauan Kangean, referensi lebih lanjut terkait data penduduk bersuku Kangean di wilayah provinsi Jawa Timur secara umum sangat dibutuhkan.
  5. ^ Data jumlah penduduk bersuku Kangean di provinsi Jawa Tengah belum dapat diestimasikan secara pasti dikarenakan kurangnya data yang memadai, namun beberapa sumber pemerintahan mencantumkan tentang keberadaan masyarakat suku Kangean dan penutur bahasa Kangean di Jawa Tengah.
  6. ^ Hokkien: 康依安; Jepang: カンゲアン; Jawa: ꦏꦔꦼꦪꦤ꧀ (dalam Aksara Jawa) atau كـڠـيان (dalam Pegon); Bugis dan Makassar: ᨀᨂᨙᨕᨊ; IPA: bahasa Indonesia: [kɑːŋɛɑːn], bahasa Inggris: [kɑːŋiːɑːn]
  7. ^ "Kangean in Indonesia". joshuaproject.net. Joshua Project. 2011. Diakses tanggal 19 January 2021. 
  8. ^ "Kangean (suku)". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 17 Juni 2021. Kangean merupakan suku bangsa di daerah provinsi Jawa Timur (Kepulauan Kangean) 
  9. ^ "Total Populasi berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Sumenep". sumenepkab.bps.go.id. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumenep. 2013. Diakses tanggal 31 December 2020. Data Kecamatan Sapeken, Kecamatan Arjasa, Kecamatan Kangayan di Kangean 
  10. ^ Data jumlah penduduk bersuku Kangean diluar dari ketiga kecamatan tersebut belum dapat diestimasikan secara pasti dikarenakan kurangnya data.
  11. ^ "Mouth Music: Pangkak Harvest Songs in the Kangean Islands". auralarchipelago.com. Aural Archipelago. 11 April 2018. Diakses tanggal 20 January 2021. 
  12. ^ "PANGKAK : TRADITIONAL CEREMONY FROM KANGEAN ISLAND, INDONESIA". javaisbeautiful.com. Getaway Tours Indonesia. 21 March 2012. Diakses tanggal 20 January 2021. 
  13. ^ Amalyah, Lailya Septi (2013). "ANALYSIS OF SYMBOLS USED BY KANGEAN PEOPLE IN PANGKAK TRADITIONAL CEREMONY". Thesis. University of Muhammadiyah Malang. (2013). Diakses tanggal 20 January 2021. 
  14. ^ "Mouth Music: Pangkak Harvest Songs in the Kangean Islands". auralarchipelago.com. Aural Archipelago. 11 April 2018. Diakses tanggal 20 January 2021. 
  15. ^ "Sejarah Pengadilan Negeri Sumenep". pn-sumenep.go.id. Pengadilan Negeri Sumenep Kelas II. 11 February 2020. Diakses tanggal 20 January 2021. 
  16. ^ "Sejarah Pengadilan Negeri Sumenep". pn-sumenep.go.id. Pengadilan Negeri Sumenep Kelas II. 11 February 2020. Diakses tanggal 20 January 2021. 
  17. ^ "Gotong Royong - KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2020-05-23. 
  18. ^ Taylor, Paul Michael; Aragon, Lorraine V (1991). Beyond the Java Sea: Art of Indonesia's Outer Islands. Abrams. hlm. 10. ISBN 0-8109-3112-5. 
  19. ^ Kangean Speaking Peoples - Joshua Project

Lihat pula