Suku Bajo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Suku Bajo
ᨈᨚ ᨓᨍᨚ  (Script error: The function "name_from_code" does not exist.)
  • Bajoʼ
  • Bajok
  • Bajoq
  • Bajao
  • Bajau
  • Bayo
  • Wajo
  • Wajoʼ
  • Wajok
  • Wajoq
  • Badjo
  • Badjoʼ
  • Badjok
  • Badjoq
  • Badjao
  • Badjaoe
  • Wadjo
  • Wadjoʼ
  • Wadjok
  • Wadjoq
  • Bojo
  • Mbojo
COLLECTIE TROPENMUSEUM Bewoners van Badjo-kampong Kajoa op Ternate Noord-Molukken TMnr 10005732.jpg
Permukiman mayarakat suku Bajo di pulau Ternate, Maluku Utara, ca. 1920
Jumlah populasi
± 349.000
Daerah dengan populasi signifikan
 Indonesia± 349.000[1]
 Sulawesi Tenggara± 25.000
           Wakatobi± 25.000
 Sulawesi Selatan± 5.000
 Sulawesi Tengah± 5.000
 Maluku Utara± 1.500
           Kep. Sula± 1.500[2]
 Kalimantan Timur± 3.000
 Jawa Timur± 5.000
           Kep. Kangean± 5.000
Bahasa
Agama
Etnis terkait
Permukiman masyarakat suku Bajo di Ternate, Maluku Utara, ca. 1920

Suku Bajo juga disebut sebagai Bajoʼ, Bajok, Bajoq, Bajao, Bajau, Bayo, Wajo, Wajoʼ, Wajok, Wajoq, Bodjo, Mbodjo (ejaan lamaBadjo; Badjoʼ; Badjok; Badjoq; Badjao; Badjaoe; Wadjo; WadjoʼWadjok; Wadjoq; Bodjo; Mbodjo) adalah suku bangsa yang berasal dari Sulawesi Selatan[3] yang umumnya mendiami wilayah perairan Sulawesi, khususnya di area laut Flores.[4]

Etimologi

Menurut tradisi, istilah “bajo” berakar dari kata bajoʼ atau wajoʼ (aksara Bugis: ᨓᨍᨚ) dalam bahasa Bugis yang merujuk kepada pohon yang secara umum diidentifikasi sebagai tumbuhan dari genus Macaranga[5] yang dipercayai oleh masyarakat lokal Sulawesi (khususnya suku Bajo dan Bugis) sebagai tempat penguasa wilayah Cinnotabiʼ yang dikenali sebagai La Tenribali.[catatan 1][6]

Sejarah

Asal-usul

Tradisi Lisan dan Tulisan

Berdasarkan kisah leluhur kuno, suku Bajo dipercayai berasal dari negeri Cinnotabiʼ di Sulawesi. Menurut satu tradisi yang tercatat dalam kronik-kronik Bajo, Cinnotabiʼ didirikan oleh seorang totompo (orang yang naik dari dunia bawah) bernama La Matatikkaʼ yang menikahi seorang keturunan tomanurung (orang yang turun dari dunia atas) bernama Lingeʼmanasa.[7] Dalam Lontaraʼ Sukkuʼna Wajoʼ (terj. bahasa Indonesia: Sejarah Lengkap Wajoʼ), disebutkan bahwa Cinnotabiʼ didirikan oleh seorang bangsawan Bugis bernama La Paukkeʼ yang menemukan wilayah subur di pedalaman semenanjung selatan Sulawesi.[8]

Penelitian modern

Sebuah studi genetik dari tiga kelompok suku Bajo di kepulauan Derawan (Kalimantan Timur), Kotabaru (Kalimantan Selatan), dan Kendari (Sulawesi Tenggara) menunjukkan bahwa asal usul suku Bajo adalah berasal dari Sulawesi Selatan, hal ini selaras dengan kisah leluhur turun-temurun yang menyampaikan hal demikian. Etnogenesis suku Bajo diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-4 M oleh peristiwa campuran antara kelompok suku Bugis dan Papua. Para penulis menyatakan bahwa suku Bajo bermigrasi ke pulau Kalimantan sekitar abad ke-11 M dan bermukim di Kalimantan Timur, dan kemudian menuju Kalimantan Utara dan Filipina Selatan sekitar abad ke-13 hingga ke-14 M, yang diduga suku Bajo didorong untuk bermigrasi selama peningkatan pengaruh dan aktivitas perdagangan Kemaharajaan Sriwijaya di kawasan laut Sulawesi.[9]

Klasifikasi

Pada suku Bajo dikenal empat klasifikasi masyarakat dari cara kebiasaannya melaut, diantaranya adalah:[10]

  • Palibu, yakni kebiasaan melaut hanya satu hari dan jaraknya dekat. Mereka menggunakan perahu soppe yang dikendalikan dayung. Setelah mendapat ikan, mereka kembali ke darat, untuk menjual hasil tangkapan atau menikmatinya bersama keluarga.
  • Papongka, yakni melaut bisa sepekan atau dua pekan. Mereka menggunakan jenis perahu yang sama besarnya dengan kelompok Palibu. Sekadar perahu soppe. Bila dirasa telah memperoleh hasil atau kehabisan air bersih, mereka akan menyinggahi pulau-pulau terdekat. Setelah menjual ikan-ikan tangkapan dan mendapat air bersih, mereka pun kembali ke laut. Begitu seterusnya.
  • Sakai, yakni kebiasaan mencari ikan yang jauh lebih lama dengan menggunakan perahu besar yang disebut leppa. Leppa ini dapat memuat satu keluarga dan kebutuhan hidup selama melaut. Mereka tidak jauh berbeda dengan kelompok Papongka. Namun, wilayah kerjanya lebih luas. Bila kelompok Papongka hitungannya seluas provinsi, maka kelompok Sakai hitungannya antar provinsi atau antar pulau. Sehingga, waktu yang dibutuhkan pun lebih lama minimal sebulan. Mereka bisa berada di “tempat kerja”nya itu selama sebulan atau dua bulan. Karena itu, perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin.
  • Lame, bisa dikategorikan kegiatan nelayan-nelayan yang cukup modern. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang banyak dan mesin bertenaga besar. Mereka mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. Dan mereka bisa berada di lautan hingga berbulan-bulan.

Subkelompok

Suku Bajo memiliki beberapa bagian kelompok yang bervariasi di berbagai daerah, diantaranya yakni:

  • Bajo Bahari (bahasa Inggris: Bahari Bajo people; Bahari Bajau people) — kelompok suku Bajo yang mayoritas mendiami wilayah Buton yang hidup berdampingan dengan suku Buton.[11]
  • Bajo Kangean (bahasa Kangean: Oréng Bajo Kangéan; bahasa Bugis: ᨈᨚ ᨓᨍᨚ ᨀᨂᨙᨕᨊ, translit. To Bajo Kangeang, har. 'Orang Bajo Kangean'; bahasa Inggris: Kangean Bajo people) — kelompok suku Bajo yang mayoritas mendiami wilayah kepulauan Kangean yang hidup berdampingan dengan suku Kangean. Subkelompok ini memiliki varian kelompok yang terdiri dari:
  • Bajo Sampela atau Bajau Sampela (bahasa Inggris: Sampela Bajo people; Sampela Bajau people) — kelompok suku Bajo yang mendiami kepulauan Wakatobi.[12]
  • Bajo Sama atau Bajau Sama (bahasa Inggris: Sama Bajo people; Sama Bajau people), yang mana dalam subkelompok ini memiliki pengelompokan lagi yakni terdiri dari:
    • Sama Bihing (juga disebut sebagai Sama Lipid)
    • Sama Deya
    • Sama Pala'u
    • dan lain sebagainya.

Bahasa

Bahasa Bajo merupakan bahasa yang dituturkan secara dominan oleh masyarakat suku Bajo, khususnya di wilayah Laut Flores seperti di kepulauan Wakatobi. Di beberapa daerah lain, masyarakat suku Bajo juga bertutur dalam bahasa lain seperti contohnya di pulau Ternate, masyarakat Bajo mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Ternate, begitu pula di wilayah kepulauan Kangean, masyarakat Bajo lebih dominan bertutur dalam bahasa Kangean.

Dialek

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Bajo yang dituturkan antar satu daerah dengan daerah lainnya (Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur), menunjukkan persentase perbedaan berkisar antara 60,75%—75,25% (beda dialek).[13] 

Dialek-dialek bahasa Bajo yang dituturkan di Sulawesi sendiri terdiri dari:

  • Jampea
  • Jaya Bakti
  • Kajoa
  • Matalaang
  • Poso
  • Roti
  • Same'
  • Sulamu
  • Togian 1
  • Togian 2
  • Wallace

Kesastraan

Sekitar abad ke-13 sampai 15 M, aksara khas suku Bugis mulai dipakai untuk mencatat sejarah dan silsilah, yakni menggunakan aksara Lontara.[14][15] Selama setidaknya dua abad sebelum agama Islam dipeluk secara luas pada sekitar tahun 1600-an, literatur di wilayah Sulawesi Selatan secara garis besar terbebas dari pengaruh luar, dan memberikan gambaran masyarakat Nusantara pra-modern yang jarang sekali dapat ditemui.[16]

Kebudayaan

(Symbol note.svg Proses Pengembangan)

Referensi

  1. ^ "Bajau in Indonesia" (dalam bahasa Inggris). 
  2. ^ Hasil Penelitian ‘Perubahan Permukiman Suku Bajo di Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara’ oleh Capalulu, M. A.; Waani, J. D.; Rengkung, Michael M. tahun 2015
  3. ^ Kusuma P; Brucato N; Cox MP; Letellier T; Manan A; Nuraini C; Grangé P; Sudoyo H; Ricaut FX (2017). "The last sea nomads of the Indonesian archipelago: genomic origins and dispersal". Eur J Hum Genet (dalam bahasa Inggris). 25 (8): 1004–1010. doi:10.1038/ejhg.2017.88. PMC 5567155alt=Dapat diakses gratis. PMID 28513608. 
  4. ^ "Bajo (suku)". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 17 Juni 2021. Bajo merupakan suku bangsa yang berasal dan mendiami perairan Sulawesi 
  5. ^ Abidin (1985), hlm. 403.
  6. ^ Abidin (1985), hlm. 399.
  7. ^ Wellen (2014), hlm. 114.
  8. ^ Wellen (2014), hlm. 27.
  9. ^ Kusuma P; Brucato N; Cox MP; Letellier T; Manan A; Nuraini C; Grangé P; Sudoyo H; Ricaut FX (2017). "The last sea nomads of the Indonesian archipelago: genomic origins and dispersal". Eur J Hum Genet (dalam bahasa Inggris). 25 (8): 1004–1010. doi:10.1038/ejhg.2017.88. PMC 5567155alt=Dapat diakses gratis. PMID 28513608. 
  10. ^ Poedjowibowo, Djajeng; Waani, Judy O.; Warouw, Fela. "Teritorialitas Pada Permukiman Suku Bajo di Desa Tumbak (Studi Kasus Permukiman Diatas Air)" [Territorial of the Bajo Tribe Settlements in Tumbak Village (Study case of Residency over Water)] (PDF). 
  11. ^ "Menilik Kehidupan Suku Bajo Buton, Pengembara yang Tinggal di Laut" [Looking into the Life of Bajo Tribe in Buton, the nomads who lives in sea]. merdeka.com. Merdeka. 
  12. ^ Nurhaliza, Wa Ode Sitti; Suciati, Titis Nurwulan (2019). "Potret Sosial Budaya Masyarakat Suku Bajo Sampela di Kabupaten Wakatobi" [Social Cultural Portrait of the Bajo Tribe (Sampela Bajo) in Wakatobi Regency]. Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian. 5 (2): 341–356. ISSN 2461-0836. 
  13. ^ "Bahasa Bajo (Provinsi Nusa Tenggara Barat)". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 
  14. ^ Caldwell (1988), hlm. 169–171.
  15. ^ Pelras (1996), hlm. 96–97.
  16. ^ Wellen (2014), hlm. 13.

Daftar pustaka

Catatan

  1. ^ Juga dikenal sebagai La Tenriba atau La Tenribabbareng dalam beberapa naskah kuno

Lihat Pula