Lompat ke isi

Kabupaten Kotabaru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kabupaten Kotabaru
Transkripsi bahasa daerah
  Jawi Banjarكابوڤاتين كوتابارو
Siring Laut Kotabaru
Siring Laut Kotabaru
Lambang resmi Kabupaten Kotabaru
Motto: 
Sa-ijaan
artinya:Semufakat, satu hati dan se-iya sekata
Peta
Peta
Kabupaten Kotabaru di Kalimantan
Kabupaten Kotabaru
Kabupaten Kotabaru
Peta
Kabupaten Kotabaru di Indonesia
Kabupaten Kotabaru
Kabupaten Kotabaru
Kabupaten Kotabaru (Indonesia)
Koordinat: 3°S 116°E / 3°S 116°E / -3; 116
Negara Indonesia
ProvinsiKalimantan Selatan
Tanggal berdiri1 Juni 1950
Ibu kotaKotabaru
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 22
  • Kelurahan: 4
  • Desa: 199
Pemerintahan
  BupatiMuhammad Rusli
  Wakil BupatiSyairi Mukhlis
  Sekretaris DaerahEka Sapruddin
  Ketua DPRDSuwanti
Luas
  Total9.442,46 km2 (3,645,75 sq mi)
Populasi
 (31 Desember 2024)[2]
  Total332.787
  Kepadatan35/km2 (91/sq mi)
Demografi
  Agama
  • 92,21% Islam
  • 1,84% Kepercayaan
  • 0,74% Buddha
  • 0,54% Hindu
  • 0,02% Konghucu[1]
  IPMKenaikan 72,01 (2023)
 tinggi [3]
Zona waktuUTC+08:00 (WITA)
Kode BPS
6302 Suntingan nilai di Wikidata
Kode area telepon+62 518
Pelat kendaraanDA xxxx G**
Kode Kemendagri63.02 Suntingan nilai di Wikidata
DAURp 659.221.816.000,- (2020)
Situs webwww.kotabarukab.go.id

Kabupaten Kotabaru adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini berada di Kotabaru yang terletak di wilayah Pulau Laut, tepatnya di Kecamatan Pulau Laut Utara, yang terpisah dari Pulau Kalimantan. Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten pertama dalam provinsi Kalimantan pada zaman dahulu. Dan pada masa Hindia Belanda, kabupaten ini dinamakan Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe dengan ibu kota di Kotabaru. Pada tahun 2025, penduduk kabupaten Kotabaru berjumlah 334.497 jiwa.[1]

Kabupaten ini memiliki luas wilayah 9.442,46 km² dan berpenduduk sebanyak 290.142 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) dengan nelayan laut sebanyak 15.961 jiwa.[2] Motto daerah ini adalah "Sa-ijaan" (bahasa Banjar) yang memiliki arti: Semufakat, satu hati dan se-iya sekata.

Letak Kotabaru pada 01°21'49" sampai dengan 04°10'14" Lintang Selatan dan 114°19'13" sampai dengan 116°33'28" Bujur Timur. Letak Kotabaru di sebelah timur laut provinsi Kalimantan Selatan:

Batas Wilayah

[sunting | sunting sumber]

Batas wilayah kabupaten Kotabaru antara lain;

UtaraKabupaten Pasir, Kalimantan Timur
TimurSelat Makassar
SelatanKabupaten Tanah Bumbu dan Laut Jawa
BaratKabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Banjar dan Tanah Bumbu

Kepulauan

[sunting | sunting sumber]
Kotabaru dilihat dari Selat Laut
Panorama Gunung Jambangan.
Pulau Aur (Kalimantan Selatan)

Kabupaten Kotabaru memiliki sekitar 110 pulau kecil, 31 di antaranya belum bernama. Kecamatan Kelumpang Tengah memiliki 21 pulau kecil, Kecamatan Pulau Sebuku memiliki 10 pulau kecil, Kecamatan Pulau Laut Selatan memiliki 23 pulau kecil dan lain-lain.

Pulau-pulau di Kotabaru di antaranya adalah:

Tanjung yang terdapat di Kotabaru:[4]

  1. Tanjung Ayun
  2. Tanjung Langadei
  3. Tanjung Berlayar
  4. Tanjung Batu
  5. Tanjung Dewa
  6. Tanjung Pamukan
  7. Tanjung Lolak
  8. Tanjung Pengujan
  9. Tanjung Kandang Haur
  10. Tanjung Urang
  11. Tanjung Kemuning
  12. Tanjung Pemancingan
  13. Tanjung Kurang
  14. Tanjung Alangalang
  15. Tanjung Kapal Pecah
  16. Tanjung Seloka
  17. Tanjung Layar
  18. Tanjung Kalidupan
  19. Tanjung Karambu
  20. Tanjung Semisir
  21. Tanjung Kiwi
  22. Tanjung Kunangkunang
  23. Tanjung Serdang

Menurut Hikayat Banjar pada abad ke-17, daerah-daerah di tenggara Kalimantan yang takluk kepada kerajaan Banjar di antaranya Pamukan dan Laut Pulau. Pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah (Marhum Panembahan), ia menyuruh Kiai Martasura ke Makassar/Gowa untuk menjalin hubungan bilateral kedua negara pada masa I Mangadacinna Daeng Bakle Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud yaitu Raja Tallo yang menjabat mangkubumi bagi Sultan Malikussaid Raja Gowa ke-XV [1638-1654], di mana Karaeng Pattingalloang telah memohon izin untuk meminjam kawasan Pasir (termasuk Kabupaten Kotabaru) kepada Marhum Panembahan sebagai tempat berdagang dan ia telah bersumpah apabila anak cucunya hendak menganiaya negeri Banjar maka akan dibinasakan Allah.

Maka diberikanlah daerah-daerah yang ada di sepanjang kawasan tenggara dan timur pulau Kalimantan sebagai tempatnya berdagang. Peristiwa pada abad ke-17 ini menunjukkan pengakuan Makassar (Gowa-Tallo) mengenai kekuasaan Kesultanan Banjar terhadap daerah di sepanjang tenggara dan timur pulau Kalimantan. Pada masa itu Sultan Makassar lebih terfokus untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di kawasan timur Nusantara.

Kerajaaan Pamukan yang terletak di sungai Cengal merupakan pemukiman pertama di daerah ini yang didiami suku Dayak Samihim/Dusun Maanyan yang dihancurkan oleh serangan dari laut. Suku Dayak kemudian meminta Sultan Banjar untuk mengirim seorang Pangeran yang akan memimpin mereka di wilayah bekas kerajaan Pamukan. Pangeran Dipati Tuha bin Sultan Saidullah kemudian diutus ke daerah ini dan ia menetap di sungai Bumbu (anak sungai Sampanahan). Kerajaan ini kemudian dikenal sebagai kerajaan Tanah Bumbu yang wilayahnya meliputi Cengal, Sampanahan, Manunggul, Bangkalaan, Cantung, Buntar Laut, dan Batulicin.[5] Mr. J. C. M. Radermacher dalam ekspedisi tahun 1780 melaporkan seorang Pangeran yang berkuasa di Sampanahan.[6] Pangeran ini diidentifikasi sebagai Pangeran Prabu/Sultan Sepuh bin Daeng Malewa/Pangeran Dipati yang menguasai daerah Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal.

Raja Tanah Bumbu[7]

  1. Pangeran Dipati Tuha (1660-1700) - anak atau ipar Sultan Saidullah Raja Banjar.
  2. Pangeran Mangu bin Pangeran Dipati Tuha (1700-1740) - saudara Pangeran Tjitra Sultan Kelua
  3. Ratu Mas binti Pangeran Mangu (1740-1780)[8]
  4. Kerajaan Tanah Bumbu berakhir karena wilayahnya dibagi menjadi wilayah kerajaan kecil sejak 1780 setelah mangkatnya Ratu Mas. Ratu Intan I anak Ratu Mas mewarisi daerah Cantung dan Batulicin, Pangeran Prabu mewarisi Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal, sedangkan Pangeran Layah mewarisi daerah Boentar Laut (Kelumpang Selatan).

Raja Bangkalaan[9]

  1. Pangeran Prabu/Sultan Sepuh-anak tiri Ratu Mas (1780-1800), Raja Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal.
  2. Pangeran Nata bin Pangeran Prabu (1800-1820), Raja Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul.
  3. Pangeran Seria bergelar Ratu Agung bin Pangeran Prabu (1800-?) Raja Cengal
  4. Gusti Ali bergelar Pangeran Mangku bin Pangeran Prabu (1800-?) Raja Sampanahan
  5. Raja Gusti Besar binti Pangeran Prabu (1820-1830), Raja Cantung, Batulicin, Bangkalaan, Manunggul, Sampanahan, Cengal. Ratu Intan 1 menunjuk Gusti Moeso mengepalai daerah Cantung (Sub-Raja) dan menunjuk Gusti Kamir mengepalai daerah Bangkalaan (Sub-Raja). Pangeran Haji Muhammad mengepalai Sela Selilau (Batulicin)
    1. Gusti Kamir bergelar Pangeran Muda bin Pangeran Prabu (ditunjuk oleh Ratu Intan 1 sebagai Sub-Raja Bangkalaan 1830-1838)
  6. Pangeran Haji Musa bin Pangeran Haji Muhammad (Raja Bangkalaan 1838-1840), merangkap Raja Batulicin (1832-1840), kemudian keturunannya:
    1. Pangeran Jaya Sumitra bin Pangeran Musa (Raja Pulau Laut)
    2. Pangeran Panji (Raja Batulicin)
    3. Pangeran Muhammad Nafis (Raja Kusan dan Batulicin)
    4. Pangeran Abdul Kadir Kasuma bin Pangeran Musa (Raja Kusan, Batulicin dan Pulau Laut, belakangan tahun 1861 daerah Kusan diserahkan kepada Raja Pagatan La Paliweng Arung Abdul Rahim)
    5. Pangeran Berangta Kasuma bin Pangeran Abdul Kadir Kasuma (Raja Pulau Laut), menikah dengan Putri Intan Jumantan binti Pangeran Kasuma Indra bin Pangeran Kassir)
    6. Pangeran Amir Husin Kasuma bin Pangeran Berangta Kasuma (Raja Pulau Laut)
    7. Pangeran Aminullah Kasuma bin Pangeran Amir Husin Kasuma(Raja Pulau Laut)
    8. Pangeran Abdurrahman Kasuma bin Pangeran Berangta Kasuma (Penjabat Raja Pulau Laut)
  7. Raja Aji Jawa, putera Raja Gusti Besar, menjadi Raja Bangkalaan (1840-1841). Ia sebagai raja untuk 6 daerah sekaligus yaitu sebagai Raja Bangkalaan, Manunggul, Sampanahan, Cengal, Cantung, Buntar Laut. Belakangan Sampanahan diberikan kepada pamannya Gusti Ali bin Pangeran Prabu yang bergelar Pangeran Mangku Bumi.
  8. Aji Tukul/Ratu Agung/Ratu Intan II binti Aji Jawi (1845), Raja Bangkalaan, Manunggul, dan Cengal. Sedangkan Raja Aji Mandura bin Aji Jawi sebagai Raja Cantung dan Buntar Laut. Pangeran Panji bin Pangeran Haji Musa yang menikah dengan Aji Landasan binti Aji Jawi mendapatkan daerah Batulicin.
  9. Aji Pati/Pangeran Agung, suami Aji Tukul (1845-1846), Raja Bangkalaan, Manunggul, Cengal
  10. Aji Samarang/Pangeran Muda Muhammad Arifillah bin Aji Pati (1846-1883), Raja Bangkalaan, Manunggul, dan Cengal.
  11. Aji Mas Rawan/Raja Arga Kasuma bin Aji Samarang (1883-1905), Raja Bangkalaan, Manunggul, Cengal

Pada tahun 1844, distrik-distrik dalam onderafdeeling van Tanah Boemboe yaitu Pagatan, Kusan, Batulicin, Cantung dengan Buntar Laut, Bangkalaan, Sampanahan, Manunggul dan Cengal. Pada waktu itu distrik Pulau Laut belum dibentuk. Tahun 1845, Pulau Laut dan Batulicin berada di bawah pemerintah Kusan.[10] Cantung, Buntar Laut, Bangkalaan berada di Teluk Kelumpang, sedangkan Sampanahan, Manunggul dan Cengal berada di Teluk Pamukan atau Cengal.[11] Wilayah kabupaten Kotabaru hari ini merupakan gabungan wilayah bekas distrik (swapraja) pada masa kolonial Hindia Belanda, yaitu Poelau Laoet, Sampanahan, Tjangtoeng, Bangkalaan, Tjingal dan Manoenggoel.[12]

Pemerintahan

[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati

[sunting | sunting sumber]

Bupati yang menjabat saat ini di kabupaten Kotabaru ialah Muhammad Rusli, didampingi wakil bupati, Syairi Mukhlis. Rusli dan Syairi adalah pemenang pada pemilihan umum bupati Kotabaru 2024. Mereka kemudian dilantik oleh Presiden Republik Indonesia , Prabowo Subianto, di Istana Merdeka, Jakarta pada 20 Februari 2025. Mereka akan memimpin Kotabaru untuk periode 2025-2030.[13]

No Bupati Mulai Jabatan Akhir Jabatan Prd. Wakil Bupati
(14)
Sayed Jafar Al-Idrus
26 April 2021
20 Februari 2025
16
Andi Rudi Latif
(15)
Muhammad Rusli
20 Februari 2025
petahana
17
Syairi Mukhlis

Dewan Perwakilan

[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Kotabaru dalam tiga periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014–2019[14] 2019–2024[15] 2024–2029
PKB 3 Kenaikan 4 Penurunan 3
Gerindra 2 Steady 2 Kenaikan 4
PDI-P 4 Kenaikan 7 Penurunan 6
Golkar 4 Kenaikan 5 Penurunan 4
NasDem 6 Penurunan 2 Steady 2
PKS 4 Penurunan 2 Steady 2
Hanura 2 Kenaikan 3 Penurunan 2
PAN 2 Kenaikan 3 Kenaikan 6
PBB 1 Steady 1 Kenaikan 2
Demokrat 3 Penurunan 1 Kenaikan 2
Perindo (baru) 1 Penurunan 0
PPP 4 Steady 4 Penurunan 2
Jumlah Anggota 35 Steady 35 Steady 35
Jumlah Partai 11 Kenaikan 12 Penurunan 11

Pembagian wilayah administrasi

[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Kotabaru terdiri dari 22 kecamatan, 4 kelurahan dan 198 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 318.853 jiwa dengan luas wilayah 9.422,46 km² dan sebaran penduduk 34 jiwa/km².[16][17]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Kotabaru, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
KecamatanJumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
StatusDaftar
Desa/Kelurahan
63.02.14 Hampang 9Desa
63.02.18 Kelumpang Barat 6Desa
63.02.17 Kelumpang Hilir 9Desa
63.02.08 Kelumpang Hulu 10Desa
63.02.07 Kelumpang Selatan 9Desa
63.02.09 Kelumpang Tengah 13Desa
63.02.10 Kelumpang Utara 7Desa
63.02.19 Pamukan Barat 5Desa
63.02.11 Pamukan Selatan 11Desa
63.02.13 Pamukan Utara 13Desa
63.02.02 Pulau Laut Barat 11Desa
63.02.20 Pulau Laut Kepulauan 9Desa
63.02.03 Pulau Laut Selatan 8Desa
63.02.21 Pulau Laut Tanjung Selayar 10Desa
63.02.16 Pulau Laut Tengah 7Desa
63.02.04 Pulau Laut Timur 14Desa
63.02.06 Pulau Laut Utara 19Desa
Kelurahan
63.02.22 Pulau Laut Sigam 38Desa
Kelurahan
63.02.05 Pulau Sebuku 8Desa
63.02.01 Pulau Sembilan 5Desa
63.02.12 Sampanahan 10Desa
63.02.15 Sungai Durian 7Desa
TOTAL4198

Lambang Daerah

[sunting | sunting sumber]

Arti Lambang Daerah Kabupaten Kotabaru adalah sebagai berikut:

  • Lambang daerah berbentuk perisai segi lima, melambangkan ketuhanan dan pertahanan rakyat.
  • Lima buah sudut pada perisai, melambangkan kelima sila dari Pancasila.
  • Sisi atas berbentuk busur, gambaran dinamika dan stamina rakyat.
  • Sisi samping berbentuk tegak lurus, menggambarkan sifat gotong royong, kejujuran dan keadilan.
  • Sisi bawah perisai berbentuk lancip, menggambarkan suatu tujuan untuk membina masyarakat adil dan makmur.
  • Garis tebal berwarna kuning emas pada sisi dalam sekeliling perisai, melambangkan persatuan rakyat.
  • Dasar perisai berwarna merah, menggambarkan sifat keberanian.
  • Garis kuning tebal yang membagi dua lukisan bagian atas dan bawah, menggambarkan bidang agraris pertanian (padi).
  • Ikan todak, menggambarkan hasil tradisianal dari sektor perikanan kelautan.
  • Lautan dengan garis gelombang, menggambarkan panorama alam dan gelora semangat rakyat.

Demografi

[sunting | sunting sumber]

Suku Bangsa

[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa yang mendiami daerah ini antara lain:

Kultur masyarakat di sini cukup beragam, sebagai dampak pembauran suku-suku di sini.[18]

Seni Budaya

[sunting | sunting sumber]

Lagu Daerah

[sunting | sunting sumber]

Lagu daerah dari kabupaten Kotabaru adalah:

Upacara Adat

[sunting | sunting sumber]

Upacara adat di Kabupaten Kotabaru antara lain:

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 "Data Agregrat Kependudukan Provinsi Kalimantan Selatan Semester 1 Tahun 2025". www.disdukcapil.kalselprov.go.id. hlm. 1–5. Diakses tanggal 5 Maret 2026.
  2. 1 2 "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2024" (visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 28 Agustus 2025.
  3. "[Metode Baru] Indeks Pembangunan Manusia menurut Kabupaten/Kota (Umur Harapan Hidup Hasil Long Form SP2020), 2021-2023". www.kalsel.bps.go.id. Diakses tanggal 13 Maret 2024.
  4. (Indonesia) Songo, Edi. Genius Senior. WahyuMedia. hlm. 94. ISBN 9797950921. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-10. Diakses tanggal 2011-05-25. ISBN 978-979-795-092-7
  5. "Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia, Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde, Jilid 1, Lange & Co., 1853". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-10. Diakses tanggal 2010-12-14.
  6. "(Inggris) The New American encyclopaedia: a popular dictionary of general knowledge, Volume 2, D. Appleton, 1865". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-10. Diakses tanggal 2010-12-14.
  7. "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-09-18. Diakses tanggal 2010-01-11.
  8. "Ratu Mas dari Tanah Bumbu". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-11-25. Diakses tanggal 2010-01-11.
  9. Truhart P., Regents of Nations. Systematic Chronology of States and Their Political Representatives in Past and Present. A Biographical Reference Book, Part 3: Asia & Pacific Oceania, München 2003, s. 1245-1257, ISBN 3-598-21545-2.
  10. (1853)Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde. Vol. 1. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-10. Diakses tanggal 2011-05-27.
  11. (Belanda) (1853)Verhandelingen en Berigten Betrekkelijk het Zeewegen, Zeevaartkunde, de Hydrographie, de Koloniën. Vol. 13. hlm. 354. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-10. Diakses tanggal 2011-05-27.
  12. "Native states (zelfbesturen) in Dutch Borneo, 1900". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-12-11. Diakses tanggal 2011-06-24.
  13. Hanafi, Imam (19-02-2025). Imam Hanafi (ed.). "Rusli-Syairi dilantik jadi Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru pada Kamis". antaranewskalsel.com. Diakses tanggal 10-12-2025.
  14. Perolehan Kursi DPRD Kotabaru 2014-2019
  15. Perolehan Kursi DPRD Kotabaru 2019-2024
  16. "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
  17. "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020.
  18. Arcana, Putu Fajar (23 Desember 2018). "Gipsi Laut Pemberani". Kompas. Hlm.21

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]