Kota Banjarmasin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
"Banjarmasin" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Banjarmasin (disambiguasi).
Kota Banjarmasin
Kalimantan 1rightarrow blue.svg Kalimantan Selatan
Lambang Kota Banjarmasin
Lambang
Semboyan: Kayuh Baimbai
Banjar: Mendayung Bersama-sama
Lokasi Kota Banjarmasin di Pulau Kalimantan
Lokasi Kota Banjarmasin di Pulau Kalimantan
Kota Banjarmasin berlokasi di Indonesia
Kota Banjarmasin
Kota Banjarmasin
Lokasi Kota Banjarmasin di Pulau Kalimantan
Koordinat: 3°18′51,78″LU 114°35′33,05″BT / 3,3°LS 114,58333°BT / -3.30000; 114.58333
Negara  Indonesia
Hari jadi 24 September 1526
Pemerintahan
 • Wali kota Ibnu Sina, S.Pi, M.Si
Populasi (2010)
 • Total 625.481 jiwa
 • Kepadatan 8.687/km2 (22,500/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsa Banjar (79,12%)
Jawa (10,72%)
Madura (2,42%)
Bugis (0,54%)
Sunda (0,44%)
Lain-lain (6,76%) [1]
 • Agama Islam (95,54%)
Kristen (2,41%)
Katolik (1,04%)
Buddha (0,68%)
Hindu (0,07%)
Khonghucu (0,02%)
Lain-lain (0,24%) [2]
 • Bahasa Banjar, Indonesia
Zona waktu WITA
Kode telepon +62 511
Kecamatan 5
Desa/kelurahan 52
Flora resmi Kasturi (Mangifera Casturi)
Fauna resmi Bekantan (Nasalis Larvatus)
Situs web http://banjarmasinkota.go.id

Kota Banjarmasin adalah ibu kota provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia serta kota terbesar dan terpadat di Kalimantan. Kota ini juga termasuk salah satu kota besar di Indonesia dan Kota terpadat di luar pulau Jawa.

Banjarmasin yang dijuluki Kota Seribu Sungai ini memiliki wilayah seluas 72 km² yang wilayahnya merupakan delta atau kepulauan yang terdiri dari sekitar 25 buah pulau kecil (delta) yang dipisahkan oleh sungai-sungai di antaranya pulau Tatas, pulau Kelayan, pulau Rantauan Keliling, pulau Insan dan lain-lain.[3] Berdasarkan data BPS Kota Banjarmasin tahun 2015, Banjarmasin memiliki penduduk sebanyak 675.440 jiwa dengan kepadatan 9.381 jiwa per km².[4] Wilayah metropolitan Banjarmasin yaitu Banjar Bakula memiliki penduduk sekitar 1,9 juta jiwa.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Perahu Tambangan bersampung bengkok (melengkung) yang sekarang sudah punah

Banjar Masih sebelum tahun 1526 adalah nama kampung yang terletak di bagian utara muara sungai Kuin, yaitu kawasan Kelurahan Kuin Utara dan Alalak Selatan saat ini. Kampung Banjar Masih terbentuk oleh lima aliran sungai kecil, yaitu sungai Sipandai, sungai Sigaling, sungai Keramat, sungai Jagabaya dan sungai Pangeran yang semuanya bertemu membentuk sebuah danau. Kata banjar berasal dari bahasa Melayu yang berarti kampung atau juga berarti berderet-deret sebagai letak perumahan kampung berderet sepanjang tepian sungai.

Pada abad ke-16 muncul Kerajaan Banjar Masih dengan raja pertama Raden Samudera, seorang pelarian yang terancam keselamatannya oleh pamannya Pangeran Tumenggung yang menjadi raja Kerajaan Negara Daha sebuah kerajaan Hindu di pedalaman (Hulu Sungai). Kebencian Pangeran Tumenggung terjadi ketika Maharaja Sukarama masih hidup berwasiat agar cucunya Raden Samudera yang kelak menggantikannya sebagai raja. Raden Samudera sendiri adalah putra dari pasangan Puteri Galuh Intan Sari (anak perempuan Maharaja Sukarama) dan Raden Bangawan (keponakan Maharaja Sukarama). Atas bantuan Arya Taranggana, mangkubumi negara Daha, Raden Samudera melarikan diri ke arah hilir sungai Barito yang kala itu terdapat beberapa kampung di antaranya kampung Banjar (disebut juga Banjar Masih).

Rumah Banjar Bubungan Tinggi, Rumah Adat Kota Banjarmasin

Sekitar tahun 1520, Patih Masih (kepala Kampung Banjar) dan para patih (kepala kampung) sekitarnya sepakat menjemput Raden Samudera yang bersembunyi di kampung Belandean dan setelah berhasil merebut Bandar Muara Bahan di daerah Bakumpai, yaitu bandar perdagangan negara Daha dan memindahkan pusat perdagangan ke pelabuhan Bandar (dekat muara sungai Kelayan) beserta para penduduk dan pedagang, kemudian menobatkan Raden Samudera menjadi raja dengan gelar Pangeran Samudera. Hal ini menyebabkan peperangan dan terjadi penarikan garis demarkasi dan blokade ekonomi dari pantai terhadap pedalaman. Pangeran Samudera mencari bantuan militer ke berbagai wilayah pesisir Kalimantan, yaitu Kintap, Satui, Swarangan, Asam Asam, Laut Pulo, Pamukan, Pasir, Kutai, Berau, Karasikan, Biaju, Sebangau, Mendawai, Sampit, Pembuang, Kota Waringin, Sukadana, Lawai dan Sambas. Hal ini untuk menghadapi Kerajaan Negara Daha yang secara militer lebih kuat dan penduduknya kala itu lebih padat. Bantuan yang lebih penting adalah bantuan militer dari Kesultanan Demak yang hanya diberikan kalau raja dan penduduk memeluk Islam. Kesultanan Demak dan majelis ulama Walisanga kala itu sedang mempersiapkan aliansi strategis untuk menghadapi kekuatan kolonial Portugis yang memasuki kepulauan Nusantara dan sudah menguasai Kesultanan Malaka.

Sultan Trenggono mengirim seribu pasukan dan seorang penghulu Islam, yaitu Khatib Dayan yang akan mengislamkan raja Banjar Masih dan rakyatnya. Pasukan Pangeran Samudera berhasil menembus pertahanan musuh. Mangkubumi Arya Taranggana menyarankan rajanya daripada rakyat kedua belah pihak banyak yang menjadi korban, lebih baik kemenangan dipercepat dengan perang tanding antara kedua raja. Tetapi pada akhirnya Pangeran Tumenggung akhirnya bersedia menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Samudera.

Dengan kemenangan Pangeran Samudera dan diangkutnya rakyat negara Daha (orang Hulu Sungai) dan penduduk Bandar Muara Bahan (orang Bakumpai) maka muncullah kota baru, yaitu Banjar Masih yang sebelumnya hanya sebuah desa yang berpenduduk sedikit. Pada 24 September 1526 bertepatan tanggal 6 Zulhijjah 932 H, Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah (1526-1550). Rumah Patih Masih dijadikan keraton, juga dibangun paseban, pagungan, sitilohor (sitihinggil), benteng, pasar dan masjid (Masjid Sultan Suriansyah). Muara sungai Kuin ditutupi cerucuk (trucuk) dari pohon ilayung untuk melindungi keraton dari serangan musuh. Di dekat muara sungai Kuin terdapat rumah syahbandar, yaitu Goja Babouw Ratna Diraja seorang Gujarat.[5]

Kerajaan Banjar Masih berkembang pesat, Sultan Suriansyah digantikan anaknya Sultan Rahmatullah 1550-1570, selanjutnya Sultan Hidayatullah 1570-1620 dan Sultan Musta'in Billah 1520-1620. Untuk memperkuat pertahanan terhadap musuh, Sultan Mustainbillah mengundang Sorang, yaitu panglima perang suku Dayak Ngaju beserta sepuluh orang lainnya untuk tinggal di keraton. Seorang masuk Islam dan menikah dengan adik sultan, kemungkinan dia adik dari isteri Sultan, yaitu Nyai Siti Diang Lawai yang berasal dari kalangan suku Biaju (Dayak Ngaju). Tahun 1596, Belanda merampas 2 jung lada dari Banjarmasin yang berdagang di Kesultanan Banten. Hal ini dibalas ketika ekspedisi Belanda yang dipimpin Koopman Gillis Michaelszoon tiba di Banjarmasin tanggal 7 Juli 1607.

Pada tahun 1612, armada Belanda tiba di Banjar Masih (Banjar Lama) untuk membalas atas ekspedisi tahun 1607. Armada ini menyerang Banjar Masih dari arah pulau Kembang dan menembaki keraton di sungai Kuin pusat pemerintahan Kesultanan Banjar sehingga kota Banjar (kini Banjar Lama) atau kampung Keraton dan sekitarnya hancur, sehingga ibukota kerajaan dipindahkan dari Banjar Masih ke Martapura. Walaupun ibukota kerajaan telah dipindahkan tetapi aktivitas perdagangan di pelabuhan Banjarmasin (kota Tatas) tetap ramai. Menurut berita dinasti Ming tahun 1618 menyebutkan bahwa terdapat rumah-rumah di atas air yang dikenal sebagai rumah Lanting (rumah rakit) hampir sama dengan apa yang dikatakan Valentijn. Di Banjarmasin (kota Tatas) banyak sekali rumah dan sebagian besar mempunyai dinding terbuat dari bambu (bahasa Banjar: pelupuh) dan sebagian dari kayu. Rumah-rumah itu besar sekali, dapat memuat 100 orang, yang terbagi atas kamar-kamar. Rumah besar ini dihuni oleh satu keluarga dan berdiri di atas tiang yang tinggi. Menurut Willy, kota Tatas (kini Banjarmasin Tengah di sungai Martapura) terdiri dari 300 buah rumah. Bentuk rumah hampir bersamaan dan antara rumah satu dengan lainnya yang dihubungkan dengan titian. Alat angkutan utama pada masa itu adalah jukung atau perahu.

Selain rumah-rumah panjang di pinggir sungai terdapat lagi rumah-rumah rakit yang diikat dengan tali rotan pada pohon besar di sepanjang tepi sungai. Kota Tatas (kini Banjarmasin) merupakan sebuah wilayah yang dikelilingi sungai Barito, sungai Kuin dan Sungai Martapura seolah-olah membentuk sebuah pulau sehingga dinamakan pulau Tatas. Di utara Pulau Tatas adalah Banjar Lama (Kuin) bekas ibukota pertama Kesultanan Banjar, wilayah ini tetap menjadi wilayah Kesultanan Banjar hingga digabung ke dalam Hindia Belanda tahun 1860. Sedangkan pulau Tatas dengan Benteng Tatas (Fort Tatas) menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda yang sekarang menjadi pusat kota Banjarmasin saat ini. Nama Banjarmasih, oleh Belanda lama kelamaan diubah menjadi Banjarmasin, namun nama Banjarmasin biasanya mengaju kepada kota Tatas di sungai Martapura, sedangkan nama Banjar Masih mengacu kepada Banjar Lama di sungai Kuin. Kota Banjarmasin modern merupakan aglomerasi pulau Tatas (kota Tatas), Kuin (Banjar Lama) dan daerah sekitarnya.

Kesultanan Banjar dihapuskan Belanda pada tanggal 11 Juni 1860, merupakan wilayah terakhir di Kalimantan yang masuk ke dalam Hindia Belanda, tetapi perlawanan rakyat di pedalaman Barito baru berakhir dengan gugurnya Sultan Muhammad Seman pada 24 Januari 1905. Kedudukan golongan bangsawan Banjar sesudah tahun 1864, sebagian besar hijrah ke wilayah Barito mengikuti Pangeran Antasari, sebagian lari ke rimba-rimba, antara lain hutan Pulau Kadap Cinta Puri, sebagian kecil dengan anak dan isteri dibuang ke Betawi, Bogor, Cianjur dan Surabaya, sebagian mati atau dihukum gantung. Sementara sebagian kecil menetap dan bekerja dengan Belanda mendapat ganti rugi tanah, tetapi jumlah ini amat sedikit.[6]

Geografis[sunting | sunting sumber]

Kantor wali kota (balai kota) Banjarmasin.
Pusat Kota Banjarmasin (Resident de Haanweg)

Letak[sunting | sunting sumber]

Kota Banjarmasin terletak pada 3°15' sampai 3°22' Lintang Selatan dan 114°32' Bujur Timur, ketinggian tanah asli berada pada 0,16 m di bawah permukaan laut dan hampir seluruh wilayah digenangi air pada saat pasang. Kota Banjarmasin berlokasi daerah kuala sungai Martapura yang bermuara pada sisi timur Sungai Barito. Letak Kota Banjarmasin nyaris di tengah-tengah Indonesia.

Kota ini terletak di tepian timur sungai Barito dan dibelah oleh Sungai Martapura yang berhulu di Pegunungan Meratus. Kota Banjarmasin dipengaruhi oleh pasang surut air laut Jawa, sehingga berpengaruh kepada drainase kota dan memberikan ciri khas tersendiri terhadap kehidupan masyarakat, terutama pemanfaatan sungai sebagai salah satu prasarana transportasi air, pariwisata, perikanan dan perdagangan.

Menurut data statistik 2001 dari seluruh luas wilayah Kota Banjarmasin yang kurang lebih 98,46 km² ini dapat dipersentasikan bahwa peruntukan tanah saat sekarang adalah lahan tanah pertanian 3.111,9 ha, perindustrian 278,6 ha, jasa 443,4 ha, permukiman adalah 3.029,3 ha dan lahan perusahaan seluas 336,8 ha. Perubahan dan perkembangan wilayah terus terjadi seiring dengan pertambahan kepadatan penduduk dan kemajuan tingkat pendidikan serta penguasaan ilmu pengetahuan teknologi.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayah Kota Banjarmasin adalah sebagai berikut:

Utara Sungai Alalak (seberangnya kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala)
Selatan Kabupaten Banjar (kecamatan Tatah Makmur)
Barat Sungai Barito (seberangnya kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala)
Timur Kabupaten Banjar (kecamatan Sungai Tabuk dan Kertak Hanyar)

Fungsi dan penggunaan tanah[sunting | sunting sumber]

Tanah aluvial yang didominasi struktur lempung adalah merupakan jenis tanah yang mendominasi wilayah Kota Banjarmasin. Sedangkan batuan dasar yang terbentuk pada cekungan wilayah berasal dari batuan metaforf yang bagian permukaan ditutupi oleh kerakal, kerikil, pasir dan lempung yang mengendap pada lingkungan sungai dan rawa.

Penggunaan tanah di Kota Banjarmasin tahun 2003 untuk lahan pertanian seluas 2.962,6 ha, industri 278,6 ha, perusahaan 337,3 ha, jasa 486,4 ha dan tanah perumahan 3.135,1 ha. Dibandingkan dengan data tahun-tahun sebelumnya lahan pertanian cenderung menurun, sementara untuk lahan perumahan mengalami perluasan sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi dan pertumbuhan penduduk.[7] Luas optimal Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebuah kota adalah 30% dari luas kota,[8] sedangkan kota Banjarmasin hanya memiliki 10 sampai 12% RTH saja.[9]

Iklim[sunting | sunting sumber]

Busur Sirkumhorizontal yang muncul di atas langit Banjarmasin

Kota Banjarmasin beriklim sabana tropis di mana angin muson barat bertiup dari Benua Asia melewati Samudera Hindia menimbulkan musim hujan, sedangkan angin dari Benua Australia adalah angin kering yang berakibat adanya musim kemarau.

Curah hujan yang turun rata-rata per tahunnya kurang lebih 2.400 mm dengan fluktuasi tahunan berkisar antara 1.600-3.500 mm, jumlah hari hujan dalam setahun kurang lebih 150 hari dengan suhu udara yang sedikit bervariasi, sekitar 26 °C.

Kota Banjarmasin termasuk wilayah yang beriklim tropis. Angin Muson dari arah Barat yang bertiup akibat tekanan tinggi di daratan Benua Asia melewati Samudera Hindia menyebabkan terjadinya musim hujan, sedangkan tekanan tinggi di Benua Australia yang bertiup dari arah Timur adalah angin kering pada musim kemarau. Hujan lokal turun pada musim penghujan, yaitu pada bulan-bulan November–April. Dalam musim kemarau sering terjadi masa kering yang panjang. Curah hujan tahunan rata-rata sampai 2.628 mm dari hujan per tahun 156 hari. Suhu udara rata-rata sekitar 25 °C - 38 °C dengan sedikit variasi musiman. Fluktuasi suhu harian berkisar antara 74-91%, sedangkan pada musim kemarau kelembabannya rendah, yaitu sekitar 52% yang terjadi pada bulan-bulan Agustus, September dan Oktober.

Data iklim Banjarmasin
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 29
(85)
29
(85)
30
(86)
31
(87)
31
(88)
31
(87)
31
(87)
31
(88)
31
(88)
31
(88)
31
(87)
29
(85)
31
(87)
Rata-rata terendah °C (°F) 25
(77)
25
(77)
24
(76)
26
(78)
26
(78)
25
(77)
24
(75)
24
(75)
24
(75)
25
(77)
25
(77)
24
(76)
24
(76)
Presipitasi mm (inci) 350
(13.78)
300
(11.81)
310
(12.2)
210
(8.27)
200
(7.87)
120
(4.72)
120
(4.72)
110
(4.33)
130
(5.12)
120
(4.72)
230
(9.06)
290
(11.42)
2.570
(101,18)
Sumber: http://www.weatherbase.com/weather/weather.php3?s=58669&refer=&units=metric

Sungai[sunting | sunting sumber]

Siring tepian sungai Martapura di depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin (bekas Benteng Tatas) merupakan waterfront Banjarmasin
Kesibukan lalu litas jukung dan perahu tambangan di sebuah sungai kecil di Banjarmasin pada masa Hindia Belanda.
Sungai di Banjarmasin
Perahu Tambangan simbol Kota Banjarmasin

Sungai menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Kota Banjarmasin sehingga Banjarmasin mendapat julukan "kota seribu sungai" meski sungai yang mengalir di Banjarmasin tak sampai seribu. Sungai menjadi wadah aktivitas utama masyarakat zaman dahulu hingga sekarang, utamanya dalam bidang perdagangan dan transportasi. Sungai-sungai yang membelah kota ini, diupayakan sebagai magnet ekonomi, khususnya pariwisata.[10] Data dari Dinas Kimprasko Banjarmasin menunjukkan pada 1997 di Ibu Kota Kalimantan Selatan itu terdapat 117 sungai, kemudian pada 2002 berkurang menjadi 70 sungai, lalu pada 2004 sampai sekarang hanya tinggal 60 sungai.[11][12] Penataan kota Banjarmasin semestinya penataan daratan harus mengikuti penataan sungai, artinya penataan sungai yang didahulukan baru penataan daratan.[13]

Berikut adalah beberapa nama sungai yang mengaliri Kota Banjarmasin.
Catatan: Tabel di bawah belumlah lengkap.

No Nama sungai[14] Panjang (km) Daerah yang dialiri No Nama sungai Panjang (km) Daerah yang dialiri[15]
1 Barito 11,50 Banjarmasin bagian barat 25 Pengambangan 1,10 Banua Anyar dan Pengambangan
2 Martapura 17,00 Sepanjang kota Banjarmasin 26 Kerokan 0,63
3 Anjir Mulawarman 2,90 27 Guring  ??
4 Kuin 3,10 Kuin Cerucuk, Kuin Utara, Kuin Selatan, Pangeran, Pasar Lama 28 Jingah  ?? Sungai Jingah
5 Pangeran 3,30 Pangeran, Kuin Utara 29 Tapekong  ?? Sepanjang Jl. Veteran
6 Pelambuan 1,38 Pelambuan 30 Pulantan  ?? Pemurus Dalam
7 Alalak 11,90 Alalak Utara 31 Banguntan  ?? Basirih
8 Basirih 1,50 Basirih Selatan 32 Saka Mangkok  ?? Mantuil
9 Andai 2,10 Andai 33 Halinau  ?? Mantuil
10 Teluk Dalam 2,20 Teluk Dalam, Telaga Biru 34 Gardu  ?? Sungai Lulut
11 Duyung 2,02 35 Gudang  ?? Pemurus Dalam
12 Banyiur SP 2,00 36 Bengao  ?? Kelayan Timur dan Kelayan Selatan
13 Pekapuran 2,54 Kawasan Pekapuran 37 Simpang Jalar  ?? Basirih Selatan
14 Pemurus 0,30 Kawasan Pemurus 38 Banyun  ??
15 Miai 1,25 39 Jarak  ?? Kuin Utara
16 Awang 1,60 40 Skip  ?? Kelayan Selatan
17 Tatah Belayung 2,60 Tanjung Pagar 41 Jeruju  ?? Alalak Tengah
18 Kelayan 4,40 Kawasan Kelayan 42 Bayuan  ?? Alalak Tengah
19 Simpang Jelai 2,30 43 Siuding  ?? Kuin Utara
20 Liang Anggang 1,50 44 Pandai  ?? Kuin Utara
21 Pekauman  ?? 45 Beruntung  ??
22 Mawar  ?? Mawar 46 Belitung  ??
23 Keramat  ?? 47 Kuripan  ?? Kuripan
24 Tatas Antasan Besar 48 Andai 1,68 sungai andai

Demografi[sunting | sunting sumber]

Pasar tradisional di Banjarmasin pada zaman Belanda.

Kota Banjarmasin terdiri atas 5 kecamatan, yaitu:

  1. Banjarmasin Barat: 13,37 km²
  2. Banjarmasin Selatan: 20,18 km²
  3. Banjarmasin Tengah: 11,66 km²
  4. Banjarmasin Timur: 11,54 km²
  5. Banjarmasin Utara: 15,25 km²

Jumlah penduduk di wilayah ini dapat diperincikan sebagai berikut:

Tabel Jumlah Penduduk Banjarmasin tahun 2008[16]

Nomor Kecamatan Luas (km²) Jumlah Penduduk (jiwa) Kepadatan (jiwa/km²)
1 Banjarmasin Selatan 20,18 150.221 7.444
2 Banjarmasin Timur 11,54 118.278 10.249
3 Banjarmasin Barat 13,37 149.753 11.201
4 Banjarmasin Tengah 11,66 114.584 9.827
5 Banjarmasin Utara 15,25 94.409 6.209

Perkembangan populasi penduduk Banjarmasin.

No. Tahun Populasi
1 1780 [17] 2.300 jiwa
2 1900 52.685 jiwa[18]
3 1930[19] 57.822 jiwa
4 1990[20] 481.371 jiwa
5 2000[21][22] 527.724 jiwa
6 2005[20] 589.115 jiwa
7 2010[23] 625.395 jiwa

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Kehidupan masyarakat Banjar di Sungai Martapura tempo dulu.
Pemilihan Nanang Galuh Banjar Kota Banjarmasin 2013

Mayoritas penduduk kota Banjarmasin berasal dari etnis Banjar (79,12%). Penduduk asli yang mendiami Banjarmasin adalah orang Banjar Kuala yang memiliki budaya sungai dengan interaksi masyarakat yang sangat kuat terhadap sungai. Di Banjarmasin juga banyak terdapat orang Banjar Pahuluan yang berasal dari Banua Anam serta orang Banjar dari daerah-daerah lain di Kalimantan Selatan.

Etnis minoritas terbesar yang cukup mudah ditemui di Banjarmasin yaitu etnis Jawa (10,72%) dan Madura (2,42%). Orang Jawa di Banjarmasin dapat ditemui di hampir semua kawasan dan umumnya telah membaur dengan orang Banjar, sedangkan orang Madura lebih mengelompok dengan mendiami beberapa kantong permukiman Madura di Banjarmasin seperti di Kampung Gadang, Pekapuran, Kelayan dan Pasar Lama. Seperti di kota besar pada umumnya, di Banjarmasin juga terdapat pemukiman keturunan Tionghoa (di Jl. Veteran) dan Arab (di Jl. Antasan Kecil Barat). Etnis-etnis lainnya yang terdapat di Banjarmasin yaitu etnis Bugis (dari Tanah Bumbu, Kotabaru dan Sulawesi), Dayak (dari Bakumpai, Meratus dan Kalimantan Tengah), Sunda, Batak dan lain-lain.

Komposisi Suku bangsa di kota Banjarmasin antara lain:[1]

Nomor Suku Bangsa Jumlah
1 Suku Banjar 417.309
2 Suku Jawa 56.513
3 Suku Madura 12.759
4 Suku Bukit 7.836
5 Suku Bugis 2.861
6 Suku Sunda 2.319
7 Suku Bakumpai 1.048
8 Suku Mandar 105
9 Suku-suku lainnya 26.500

Suku-suku lainnya adalah:

Agama[sunting | sunting sumber]

Masjid Jami Banjarmasin, Masjid bersejarah di Banjarmasin yang memiliki bentuk perpaduan arsitektur Banjar dan kolonial
Tempat Ibadah Tridharma Banjarmasin, Kelenteng di kawasan Pecinan Banjarmasin

Islam adalah agama mayoritas yang dianut sekitar 96% masyarakat Kota Banjarmasin. Selain itu ada juga yang beragama Kristen, Katolik dan Buddha yang rata-rata dianut masyarakat keturunan Tionghoa dan pendatang.

Berikut penduduk Kota Banjarmasin menurut agama yang dianut :[2]

Nomor Agama Jumlah Konsentrasi
1 Islam 597.556 95,54%
2 Kristen 15.095 2,41%
3 Katolik 6.484 1,04%
4 Buddha 4.262 0,68%
5 Hindu 437 0,07%
6 Khonghucu 122 0,02%
7 Lainnya 1.525 0.24%
Total 625.481 100,00%

Berikut jumlah tempat ibadah di Kota Banjarmasin tahun 2009 :[24]

Nomor Agama Tempat Ibadah Jumlah
1 Islam Masjid 177
Musala/Langgar 838
Jumlah 1.015
2 Kristen Gereja 25
Semi/Darurat 30
Jumlah 55
3 Katolik Gereja 3
Kapel/Darurat 0
Jumlah 3
4 Hindu Pura/Kuil 1
Sanggah/Balai 0
Jumlah 1
4 Buddha Vihara/Cetya 5
Klenteng 2
Jumlah 7

Penguasa[sunting | sunting sumber]

Penguasa Banjarmasin semula adalah patih (kepala desa), setelah menjadi Kesultanan adalah Sultan Banjar, setelah perpindahan ibukota kerajaan ke Martapura, pelabuhan Banjarmasin di bawah otoritas Putera Mahkota atau adik Sultan Banjar, dan setelah dikuasai Belanda, Banjarmasin di bawah Residen Belanda.

Ronggo (kepala pribumi) Banjarmasin Raden Tumenggung Suria Kasuma dan panakawannya (foto oleh Hendrik Veen, 1913)

Penguasa Kota Banjarmasin:[25]

  1. Patih Masih, kepala kampung Banjarmasih (Kuin Utara)
  2. Sultan Suriansyah, Sultan ke-1, berkedudukan di Kuin
  3. Sultan Rahmatullah, Sultan ke-2, berkedudukan di Kuin
  4. Sultan Hidayatullah, Sultan ke-3, berkedudukan di Kuin
  5. Sultan Mustain Billah, berkedudukan di Kuin
  6. Sultan Agung, berkedudukan di Sungai Pangeran
  7. Pangeran Abdullah bin Sultan Muhammadillah, Putra Mahkota
  8. Pangeran Dupa, Putra Mahkota[26]
  9. Jan van Suchtelen (1747-1752), residen Belanda di Tatas
  10. Bernard te Lintelo (1752-1757), residen Belanda di Tatas
  11. R. Ringholm (1757-1764), residen Belanda di Tatas
  12. Lodewijk Willem de Lile (1760-1764), residen Belanda di Tatas[27]
  13. Willem Adriaan Palm (1764-1777), residen Belanda di Tatas
  14. Piter Waalbek (1777-1784), residen Belanda di Tatas
  15. Barend van der Worm (1784-1787), residen Belanda di Tatas
  16. Alexander Hare (1812), Resident-Comissioner Inggris di Tatas[28][29]
  17. C. L. Hartmann[30]
  18. A. M. E. Ondaatje (1858), residen Belanda di Banjarmasin.[31]
  19. I.N. Nieuwen Huyzen (1860), residen Belanda di Tatas
  20. C.C. Tromp. (mulai 11 November 1870).[32]
    1. Ronggo 1860: Pangeran Toemenggoeng Tanoe Karsa
    2. Ronggo 1898: Kiahi Mas Djaja Samoedra
    3. Ronggo 1913: Raden Toemenggoeng Soeria Kasoema
  21. C.A. Kroesen (1898), residen Belanda di Tatas
  22. C.J. Van Kempen (1924), residen Belanda di Tatas. Mulai tahun 1919 Banjarmasin memiliki Burgemester (Walikota)
  23. J. De Haan (1924-1929), residen Belanda di Tatas
  24. R. Koppenel (1929-1931), residen Belanda di Tatas
  25. W.G. Morggeustrom (1933-1937), residen Belanda di Tatas

Perguruan tinggi[sunting | sunting sumber]

Perguruan Tinggi yang ada di Kota Banjarmasin antara lain:

  • ( Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi )STIE Panca setia Banjarmasin.

Media[sunting | sunting sumber]

Radio[sunting | sunting sumber]

  • RRI Banjarmasin [34]
  • Radio Jaringan Nirwana Group Banjarmasin [35]
  • Radio Abdi Persada[36]
  • Radio SmartFM[37]
  • J Radio Banjarmasin [91,7 Fm][38]
  • Radio Gema FM [105, 9 Fm]
  • Radio DBS FM 101,9 FM
  • Radio SKY (Swara Kayutangi) 89,3 FM
  • Radio Swara Tiga 96.4 FM
  • Radio Music Channel 96.00 FM
  • Radio Khana 98,4 FM
  • Radio Chandra 88,5 FM
  • Radio Nusantara Antik 102,7 FM
  • Radio Madinatussalam 90,9 FM
  • RRI Pro 3 92.5 Fm
  • Ashbone 96.8 Fm
  • SUN FM 103.5 Fm
  • Kanal FM 105.5 Fm
  • Radio Dangdut TPI Banjarmasin 103.9 Fm
  • Pelangi FM 94.4 Fm
  • Radio “D” 93.3 Fm
  • Sindo Trijaya FM 104.3 Fm

Surat Kabar Harian[sunting | sunting sumber]

Televisi Lokal[sunting | sunting sumber]

Gedung TVRI Stasiun Kalimantan Selatan

Tabloid Lokal[sunting | sunting sumber]

Tabloid URBANA Serambi UMMAH

Objek Wisata[sunting | sunting sumber]

Pasar Lima di Banjarmasin

Kota Banjarmasin memiliki berbagai objek wisata, baik wisata alam, wisata sejarah, wisata kuliner, maupun wisata pendidikan.[39][40][41]

Plaza Posindo Banjarmasin

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kawasan pecinan di Banjarmasin pada tahun 1862
Pintu gerbang dengan tulisan 1606 (tahun ketika VOC pertama kali datang di Banjarmasin) dibangun untuk menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dirk Fock pada tahun 1924

Kawasan Banjarmasin awalnya sebuah perkampungan bernama "Banjarmasih" (terletak di Bagian utara Banjarmasin). Tahun 1606 pertama kali VOC-Belanda mengunjungi Banjarmasin, saat itu masih terletak di muara sungai Kuin. Kota-kota yang terkenal di pulau Kalimantan pada awal abad ke-18 adalah Borneo (Brunei City), Ноrmata (Karimata), Marudo, Bendamarfin (Banjarmasin), dan Lava (Lawai).[43] Tahun 1747, VOC-Belanda memperoleh Pulau Tatas (Banjarmasin bagian Barat) yang menjadi pusat Banjarmasin semenjak saat itu hingga ditinggalkan Belanda tahun 1809. Tahun 1810 Inggris menduduki Banjarmasin[44] dan menyerahkannya kembali kepada Belanda tahun 1817. Daerah Banjar Lama (Kuin) dan Banjarmasin bagian Timur masih tetap menjadi daerah pemerintahan pribumi di bawah Sultan Banjar dengan pusat pemerintahan di keraton Martapura (istana kenegaraan) hingga diserahkan pada tanggal 14 Mei 1826. Tahun 1835, misionaris mulai beroperasi di Banjarmasin.[45] Tahun 1849, Banjarmasin (Pulau Tatas) menjadi ibukota Divisi Selatan dan Timur Borneo.[46] Saat itu rumah Residen terletak di Kampung Amerong berhadap-hadapan dengan Istana pribadi Sultan di Kampung Sungai Mesa yang dipisahkan oleh sungai Martapura. Pulau Tatas yang menjadi daerah hunian orang Belanda dinamakan kotta-blanda. Ditetapkan dalam Staatblaad tahun 1898 no. 178[6], kota ini merupakan Onderafdeeling Banjarmasin en Ommelanden (1898-1902), yang merupakan bagian dari Afdeeling Bandjermasin en Ommelanden (Banjarmasin dan daerah sekitarnya).[47] Tahun 1918, Banjarmasin, ibukota Residentie Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo mendapat Gemeente-Raad. Pada 1 Juli 1919, Deean gemeente mulai berlaku beranggotakan 7 orang Eropa, 4 Bumiputra dan 2 Timur Asing. Pada tahun 1936 ditetapkan Ordonantie pembentukan Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote-Oost (Stbld. 1936/68). Borneo Barat dan Borneo Selatan-Timur menjadi daerah Karesidenan dan sebagai Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote-Oost yang pusat pemerintahannya adalah Banjarmasin.[48] Tahun 1937, otonomi kota Banjarmasin ditingkatkan dengan Stads Gemeente Banjarmasin karena Banjarmasin sebagai ibukota Gouvernement Borneo.[49] Tanggal 16 Februari 1942, Jepang menduduki Banjarmasin.[50], kemudian dibentuk pemerintahan pendudukan bagi Borneo & kawasan Timur di bawah Angkatan Laut Jepang.[51] Tanggal 17 September 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu (tentara Australia) yang memasuki Banjarmasin.[52][53] Tanggal 1 Juli 1946 H. J. van Mook menerima daerah Borneo en de Groote-Oost dari tentara pendudukan Sekutu dan menyusun rencana pemerintahan federal melalui Konferensi Malino (16-22 Juli 1966) dan Konferensi Denpasar (7-24 Desember 1946) yang memutuskan pembentukan 4 negara bagian yaitu Jawa, Sumatera, Borneo (Netherlands Borneo) dan Timur Besar (Negara Indonesia Timur), namun pembentukan negara Borneo terhalang karena ditentang rakyat Banjarmasin[54][55][56][57] Tahun 1946 Banjarmasin sebagai ibukota Daerah Banjar satuan kenegaraan sebagai daerah bagian dari Republik Indonesia Serikat. Kotapradja Banjarmasin termasuk ke dalam Daerah Banjar, meskipun demikian Daerah Banjar tidak boleh mencampuri hak-hak dan kewajiban rumah-tangga Kotapradja Banjarmasin dalam daerahnya sendiri.[58]

Lagu Daerah[sunting | sunting sumber]

  1. ampar-ampar pisang
  2. paris barantai ( kotabaru gunungnya bamega)
  3. Kampung Batuah
  4. Talambat Badatang
  5. Pangeran Suriansyah
  6. Banua Banjar
  7. Pambatangan

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Kota Banjarmasin merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah yang anggota-anggotanya berasal dari partai politik peserta pemilu, yang dipilih oleh rakyat berdasarkan hasil pemilihan umum. Anggota DPRD Kota Banjarmasin 2014-2019 berjumlah 45 orang dari 11 partai politik peserta pemilu yaitu :[59]

DPRD Kota Banjarmasin
2014-2019
Partai Kursi
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 8
Lambang PKB PKB 6
Lambang PDI-P PDI-P 5
Lambang PPP PPP 5
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 5
Lambang PAN PAN 4
Lambang PKS PKS 4
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 3
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 3
Lambang PBB PBB 1
Lambang Partai NasDem Partai NasDem 1
Total 45

Tokoh kelahiran Banjarmasin[sunting | sunting sumber]

Jarak Banjarmasin (0 km Jalan Nasional) dengan kota-kota lain[60][sunting | sunting sumber]

Tugu 0 km di Kota Banjarmasin
Kota-kota lainnya Darat (m)/Laut (mil) Keterangan
Pelabuhan Trisakti 5.000 m -
Terminal Tipe B Banjarmasin 6,000 m -
Terminal Regional Tipe A Banjar Bakula Pura[61] 17,000 m -
Bandara Syamsudinoor 26,000 m 1800 detik
Banjarbaru[62] 35,000 m 2700 detik
Martapura 40,320 km 3600 detik
Cempaka (Kantor Sekda Kalsel/Gubernuran) 60,000 m -
Pelaihari 65,000 m 40,000 m dari Banjarbaru
Batulicin 265 km 250 km dari Tanah Grogot
Kotabaru 305,000 m 28,800 detik
Batas timur laut Kalsel-Kaltim (Sengayam) - -
Rantau 113,000 m 64,000 m dari Martapura
Kandangan 135,000 m 23 km dari Rantau
Negara 165,000 m 30 km dari Kandangan
Amuntai 190,000 m 42 km dari Tanjung
Kelua 204 km -
Batas barat laut Kalsel-Kalteng (Pasir Panas) 221 km 17 km dari Desa Pulau
Tamiang Layang 229 25 km dari Kelua
Ampah 276,000 m 47,000 m dari Tamiang Layang
Buntok 318,000 m 192,000 m dari Palangka Raya
Muara Teweh 414 km 605 km dari Palangka Raya (via Bjm)
Puruk Cahu 511,000 m 702 km dari Palangka Raya (via Bjm)
Terminal Tipe B Pantai Hambawang 155 km 9 km dari Barabai
Barabai 165,000 m 28,000 m dari Kandangan
Paringin 202,000 m 39,000 m dari Barabai
Terminal Tipe B Mabuun 224 km 5 km dari Tanjung
Tanjung 232,000 m 25,000 m dari Paringin
Batas utara Kalsel-Kaltim (Gunung Halat) 288 km 92 km dari Tanjung, 184 dari Tanah Grogot
Penajam 472 km 135 km dari Samarinda
Balikpapan 500,000 m 115,000 m dari Samarinda
Samarinda[63][64] 615 km (196 mil)[65] 15 jam
Tenggarong 660,000 m 45,000 m dari Samarinda
Sendawar 992,000 m 377,000 m dari Samarinda
Bontang 760.000 m 110 km dari Samarinda
Tanjung Redeb 1,190,000 m 575,000 m dari Samarinda
Malinau - 1,273 km dari Samarinda
Nunukan 1,423 km 808 km dari Samarinda
Marabahan 48,000 m -
Jembatan Barito 16.1 km
Batas barat Kalsel-Kalteng (Anjir Serapat) 30.2 km 16,100 m dariBjm + jemb 1,082 km + 12.8 km sampai Batas Kalteng
Kuala Kapuas[66] 46 km 152 km dari Palangka Raya, 16 km dari batas Kalsel
Palangka Raya[67] 191,000 m 5 jam
Sampit[68] 418 km 227 km dari Palangka Raya
Nanga Bulik 650,000 m 559,000 m dari Palangka Raya
Batas Kalbar-Kalteng (Kudangan) 850.4 km 820.2 Km dari Batas Kalsel[69]
Nangatayap 912.90 km 62.5 km dari Batas Kalteng[70]
Balai Berkuak 1,069.79 km Nangatayap-Balai Berkuak 156.89 km
Tayan 1,150,590 m Balai Berkuak-Tayan 80,80 km
Pontianak 1,249,650 m Tayan-Teraju-Pontianak 99,060 m
Batas Kalbar-Sarawak (Entikong) 1,599,650 m 350 km dari Pontianak
Kuching 1,691,650 m Pontianak-Kuching (via Serian) 442 Km[71]
Serian 1,627,650 m Kuching-Serian 64 km[72]
Sibu 1,977,650 m Serian-Sibu 350 Km[73]
Bintulu 2,167,650 m Sibu-Bintulu 190 Km
Miri 2,357,650 m Bintulu-Miri 190 Km
Kota Kinabalu 2,767,650 m Miri-Beufort-Kinabalu 410,000 M
Sandakan 3,057,650 m Kinabalu-Sandakan 290,000 M
Tawau 3,307,650 m Sandakan-Tawau 250 Km
Surabaya 268 mil -
Semarang 624,000 m via udara[74]
Jakarta 923,000 m[75] ditarik garis lurus
Padang 1200 nautical miles 1-3 jam waktu penerbangan dgn kecepatan rata-rata 400-1200 nautical miles per jam.
Teheran 8,587 km[76] 5,327.19 mil[77]
San Francisco 13500 nautical miles 15-30 jam waktu penerbangan dgn kecepatan rata-rata 450-900 nautical miles per jam.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Lain-lain[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Sumber: Badan Pusat Statistik - Sensus Penduduk Tahun 2000)
  2. ^ a b Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut
  3. ^ (Indonesia) naz (16 Januari 2011). "Banjarmasin Ternyata Kepulauan". Radar Banjarmasin. Diakses tanggal 8 August 2011. 
  4. ^ (Indonesia) naz. "Proyeksi Penduduk Kota Banjarmasin Menurut Kelompok Umur Tahun 2010-2015". BPS Kota Banjarmasin. Diakses tanggal 29 Januari 2015. 
  5. ^ (Belanda) Anton Abraham Cense, De kroniek van Bandjarmasin, C.A. Mees, 1928
  6. ^ a b Saleh, Idwar; SEJARAH DAERAH TEMATIS Zaman Kebangkitan Nasional (1900-1942) di Kalimantan Selatan, Depdikbud, Jakarta, 1986.
  7. ^ Situs Resmi Pemko Banjarmasin - Profil Kota Banjarmasin: Sumber Daya Alam
  8. ^ Perkembangan dan pembangunan RTH Kota
  9. ^ Berita Anak Indonesia - Selamat Ulang Tahun, Banjarmasin!.Diakses 1 September 2010
  10. ^ Banjarmasin diarahkan jadi kota berbasis sungai
  11. ^ Barito Post edisi 15 Maret 2008
  12. ^ Menyelamatkan Sungai, Bukan Cuma Pasar Terapung
  13. ^ Banjarmasin Kesulitan Kelola Sungai
  14. ^ BPS - Banjarmasin Dalam Angka: Keadaan Geografis Tabel 1.2.1. – Nama dan Panjang Sungai di Kota Banjarmasin
  15. ^ Peta Kota Banjarmasin - Terbitan PT. Karya Pembina Swajaya Surabaya
  16. ^ Jumlah Penduduk Banjarmasin
  17. ^ laporan Radermacher: kota Tatas (di barat) 2.000 jiwa; Kuin (di utara) 100 jiwa; Kampung Kelayan (di timur) 200 jiwa
  18. ^ (Inggris) Houtsma, M. Th (1993). First Encyclopaedia of Islam 1913-1936:. E.J.Brill,s,BRILL. p. 647. ISBN 9004097961.  ISBN 9789004097964
  19. ^ Hasil Sensus Penduduk 1930
  20. ^ a b "Indonesia: Provinces, Cities & Municipalities". City Population. Diakses tanggal 2010-04-28. 
  21. ^ Hasil Sensus Penduduk BPS 2000
  22. ^ World Gazetteer
  23. ^ Hasil Sensus Penduduk BPS 2010
  24. ^ "Jumlah Tempat Ibadah Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2009" (PDF). Diakses tanggal 2014-12-28. 
  25. ^ http://eprints.lib.ui.ac.id/12976/1/82338-T6811-Politik%20dan-TOC.pdf
  26. ^ (Inggris)Verhandelingen. Deel 1,2, 3e druk; 3,4, 2e druk; 5-. 1814
  27. ^ http://databases.tanap.net/vocrecords/pdf/files/3C3DAF148D0C9FC5DEC709F70DD5C841.pdf
  28. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 1. Lands Drukkery. p. 192. 
  29. ^ (Indonesia) Anwar, Rosihan (2004). Sejarah kecil "petite histoire" Indonesia 2. Penerbit Buku Kompas. p. 137. ISBN 979-709-141-4. ISBN 978-979-709-141-5
  30. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 8. Lands Drukkery. p. 680. 
  31. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1858). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 31. Lands Drukkery. p. 134. 
  32. ^ (Belanda) Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 44. Lands Drukkery. 1871. p. 195. 
  33. ^ [ http://www.stieindonesia-bjm.ac.id/ STIE Indonesia]
  34. ^ LPP RRI Banjarmasin
  35. ^ [1]
  36. ^ Situs Resmi Radio Abdi Persada
  37. ^ Situs Resmi Radio SmartFM
  38. ^ [2]
  39. ^ Kuliner Ramadan di Tepi Sungai Martapura
  40. ^ Pasar Wadai, Surga Makanan Tradisional
  41. ^ Wisata Air "Kota Seribu Sungai" Kian Menggeliat
  42. ^ Berkeliling di Kota Seribu Sungai, Banjarmasin
  43. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Bendamarfin
  44. ^ (Inggris) (2007)"British possessions in Indonesia, 1810-1817". Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses tanggal 11 August 2011. 
  45. ^ (Inggris) (1836)Evangelical magazine and missionary chronicle 14. s.n. p. 578. 
  46. ^ (Inggris) Ooi, Keat Gin (2004). Southeast Asia: a historical encyclopedia, from Angkor Wat to East ... 3. ABC-CLIO. p. 211. ISBN 9781576077702. ISBN 1-57607-770-5
  47. ^ Administrative divisions in Dutch Borneo, 1902
  48. ^ Historical dictionary of Indonesia Oleh R. B. Cribb,Audrey Kahin
  49. ^ (Inggris) (2007)"Representative councils in the Netherlands Indies, 1937". Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses tanggal 11 August 2011. 
  50. ^ Japanese conquest of the Netherlands Indies, 1941-1942
  51. ^ Japanese administrative divisions in the Indonesian archipelago
  52. ^ Allied re-occupation, August 1945-March 1946
  53. ^ (Inggris) Johnston, Mark (2000). Fighting the enemy: Australian soldiers and their adversaries in World War II. Cambridge University Press. ISBN 0521782228. ISBN 978-0-521-78222-7
  54. ^ (Indonesia) Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia. Jurnal sejarah: pemikiran, rekonstruksi, persepsi. Yayasan Obor Indonesia. p. 34. ISBN 1858-2117 Check |isbn= value (bantuan). 
  55. ^ (Indonesia) Abdul Gafar Pringgodigdo, Hassan Shadily (ed.). Ensiklopedi umum. Kanisius. p. 588. ISBN 9794135224.  Text "year1973" ignored (bantuan)ISBN 978-979-413-522-8
  56. ^ (Indonesia) The Idea of Indonesia. Penerbit Serambi. ISBN 9790241054. ISBN 978-979-024-105-3
  57. ^ (Indonesia) Hoesein, Rushdy (2010). Terobosan Sukarno dalam perundingan Linggarjati. Penerbit Buku Kompas. ISBN 9797094898. ISBN 978-979-709-489-8
  58. ^ Pangeran Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin. "Masa Pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS)". Diakses tanggal 12 april 2011. 
  59. ^ Komposisi DPRD Kota Banjarmasin - situs resmi Pemko Banjarmasin, diakses 20 Juli 2015.
  60. ^ Peta Ruas Jalan Kalsel
  61. ^ Terminal Penumpang Antar Provinsi Pal 17 Gambut Kalsel
  62. ^ Profil Daerah Kalimantan Selatan - Struktur, Luas, dan Jarak ke Ibukota Provinsi
  63. ^ Profil Daerah Kalimantan Timur - Struktur, Luas, dan Jarak ke Ibukota Provinsi
  64. ^ Peta Ruas Jalan Kaltim
  65. ^ JARAK SAMARINDA DENGAN KOTA-KOTA LAINNYA
  66. ^ Kuala Kapuas
  67. ^ Profil Daerah Kalimantan Tengah - Struktur, Luas, dan Jarak ke Ibukota Provinsi
  68. ^ ACROSS KALIMANTAN TO SAMPIT
  69. ^ Jalan lintas selatan Kalsel dialokasikan Rp 364,67 miliar
  70. ^ Trans Kalimantan Butuh Rp 1.17 Triliun Lagi
  71. ^ DAMRI PONTIANAK - KUCHING PERLU LEBIH MENDENGAR
  72. ^ Serian Healthy City
  73. ^ Dewan Dukung Kereta Api Kalimantan
  74. ^ Mandala Air tak Naikan Tarif
  75. ^ Current local times and distance from Banjarmasin
  76. ^ Qiblat locator
  77. ^ islamicfinder.org

Pustaka[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Kota-kota besar di Indonesia
  Kota Provinsi Populasi     Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 9.607.787 Kota Banjarmasin
Kota Banjarmasin
7 Makassar Sulawesi Selatan 1.338.663
2 Surabaya Jawa Timur 2.765.487 8 Batam Kepulauan Riau 944.285
3 Bandung Jawa Barat 2.394.873 9 Pekanbaru Riau 897.767
4 Medan Sumatera Utara 2.097.610 10 Bandar Lampung Lampung 881.801
5 Semarang Jawa Tengah 1.773.905 11 Padang Sumatera Barat 833.562
6 Palembang Sumatera Selatan 1.455.284 12 Malang Jawa Timur 820.243
Sumber: Sensus Penduduk 2010 (tidak termasuk kota satelit)

Koordinat: 3°18′52″LS 114°35′33″BT / 3,31438333333°LS 114,592513889°BT / -3.31438333333; 114.592513889