Kabupaten Barito Kuala

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Barito Kuala
كابوڤاتين باريتو كوالا
Lambang Kabupaten Barito Kuala
Lambang Kabupaten Barito Kuala
كابوڤاتين باريتو كوالا
Moto: Selidah


Lokasi Kalimantan Selatan Kabupaten Barito Kuala.svg
Peta lokasi Kabupaten Barito Kuala
كابوڤاتين باريتو كوالا di Kalimantan Selatan
Koordinat: -
Provinsi Kalimantan Selatan
Dasar hukum UU Nomor 27 Tahun 1959
Tanggal peresmian 4 Januari 1960
Ibu kota Marabahan
Pemerintahan
 - Bupati H. Hasanudin Murad, SH
 - Wakil Bupati Drs. H. Mamum Kaderi, SE
 - Ketua DPRD Drs. Hikmatullah, SH
 - Ketua Pengadilan Negeri Achmad Virza Rudiansyah, SH, Mchn
 - Dandim Letkol ARH Irwan Setiawan SIP
 - Kapolres AKBP Syahril Saharda, S.IK, M.Si
 - Kepala Kejaksaan Negeri Asis Widarno, SH, MH
 - DAU Rp. 666.469.782.648(2013)[1]
Luas 3.284 km²
Populasi
 - Total 303.423 iwa (2015)[2]
 - Kepadatan
Demografi
 - Agama Islam 99.25%
Hindu 0.46%
Kristen Protestan 0.21%
Katolik0.07%[3]
 - Kode area telepon 0511
Pembagian administratif
 - Kecamatan 17
 - Kelurahan 6
Simbol khas daerah
Situs web http://www.baritokualakab.go.id/

Kabupaten Barito Kuala adalah salah satu Pemerintah Kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Marabahan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 3.284 km² dan berpenduduk sebanyak 276.066 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Kabupaten Barito Kuala merupakan pemekaran dari Kabupaten Banjar. Sebagian wilayah Barito Kuala termasuk dalam calon Wilayah Metropolitan Banjar Bakula[4][5]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut Staatblaad tahun 1898 no. 178[6]Distrik Bakumpai adalah satu-satunya Distrik di dalam Onderafdeeling Bakoempai dengan ibukota Marabahan, yang merupakan bagian dari Afdeeling Bandjermasin en Ommelanden (Banjarmasin dan daerah sekitarnya) Kabupaten Barito Kuala dengan Ibukotanya Marabahan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 yang sebelumnya daerah ini berstatus Kawedanaan dibawah Kabupaten Banjar. Mengingat luas wilayah, jumlah penduduk dan perkembangannya, potensi ekonomi yang dimiliki serta kondisi lainnya yang menunjang daerah ini untuk diangkat menjadi Daerah Otonom Tingkat II, maka oleh para tokoh masyarakat di daerah ini diperjuangkan agar menjadi Daerah Tingkat II yang berotonomi. Proses perjuangan menjadikan Marabahan menjadi Daerah Kabupaten dimulai sejak tanggal 17 Februari 1957 yaitu dengan dibentuknya Panitia gabungan Partai/Organisasi Penuntut Kabupaten (diketuai oleh M. Jalaluddin dan Imansyah sebagai penulis), bersamaan pula dengan dikeluarkannya resolusi oleh Kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) kepada Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Selatan tentang tuntutan supaya kawedanaan Marabahan dijadikan Daerah Otonom Tingkat II. Berbagai usaha ditempuh guna mewujudkan tuntutan tersebut beberapa peristiwa yang patut dicatat sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Barito Kuala Nomor 11/Kpts/DPRD-Batola/1997, antara lain :

1. Tanggal 17 Februari 1957

Telah terbentuk Panitia Penuntutan Kabupaten Daerah Otonom Tingkat II yang diketuai oleh M. Jalaluddin dan Sekretarisnya Imansyah. Pada waktu itu juga kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) ikut mengajukan tuntutan agar Kewedanan Marabahan dapat ditingkatkan menjadi kabupaten.

2. Tanggal 15 Maret 1957

Panitia Penuntut Kabupaten mengadakan rapat yang dihadiri oleh Partai Politik dan Organisasi Masa untuk menyusun resolusi yang isinya memohon kepada Pemerintah agar kewedanaan Marabahan dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom Tingkat II yang diberi nama kabupaten dalam waktu yang sesingkatsingkatnya.

3. Tanggal 1 Juni 1957

Panitia Penuntut kabupaten mengadakan rapat untuk menentukan sikap dengan dibentuknya Provinsi Kalimantan Tengah.

4. Bulan Juli 1957

Membentuk Panitia Penampung Hasrat Rakyat Marabahan dengan Ketua H. Marli Hasan, Wakil Ketua M. Jalaludin dan Sekretaris H. Syarkani. AB.

5. Tanggal 15 Juli 1957

Panitia Penampungan Hasrat Rakyat Marabahan mengadakan rapat umum di Pasar Marabahan dengan kesimpulan apabila tuntutan menjadi kabupaten tidak berhasil, masih terbuka jalan untuk menjadi kabupaten di Kalimantan Tengah.

6. Tanggal 17 Juli 1957

Presiden Soekarno berkunjung ke Banjarmasin dan menanggapi cara tuntutan Panitia Penampungan Hasrat Rakyat Marabahan yang menyatakan akan masuk Kalimantan Tengah dengan perkataan : “Mis Begrifven Demokrasi”. Akibat adanya tanggapan presiden tersebut, maka komando P.D.M. Martapura Letnan H. Muhammad Noor bersama Bupati Kepala Daerah Kabupaten Banjar yang diwakili Oleh H. Mukerad Bakeri, Ketua DPRD Bidang Ekonomi datang ke Marabahan untuk melihat secara dekat keadaan situasi Marabahan, namun kenyataannya Marabahan tetap aman.

7. Tanggal 18 Juli 1957

Sebagai pengurus mengundurkan diri dari kepanitian

8. Tanggal 20 Juli 1957

Mukrad Bakeri dan Wedana Mustafa Ideham memberi penjelasan kepada tokoh masyarakat untung ruginya masuk Kalimantan Tengah.

9. Tanggal 24 Juli 1957

Diadakan rapat untuk melengkapi personalia Panitia Gabungan Partai Politik diadakan Organisasi Massa Penuntut Kabupaten dengan susunan panitia baru sebagai berikut :

- Ketua : Baidillah - Wakil Ketua : M. Taosun Ma'ruf - Penulis I : Anang Asran - Penulis II : Darmansyah - Bendahara : Maksum - Pembantu : Semua anggota partai/organisasi yang ada.

10. Bulan Agustus 1957

DPRDP Kabupaten Banjar mengadakan kunjungan ke Marabahan sekaligus berdialog dengan tokoh masyarakat, pamong praja dan parpol/ormas.

11. Tanggal 8 Agutus 1957

DPRDP Kabupaten Banjar dalam sidangnya mengambil keputusan yang isinya pada Pemerintah Pusat agar Daerah Swatantra Tingkat II Kabupaten Banjar dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah sebagai berikut :

a. Kabupaten Banjar Barat meliputi Kewedanan Kayu Tangi;

b. Kabupaten Banjar Tengah meliputi Kewedanan Ulin;

c. Kabupaten Banjar Timur meliputi Kewedanan Barito Kuala.

12. Tanggal 19 Agustus 1957

DPRDP Provinsi Kalimantan Selatan dalam sidangnya hanya dapat menyetujui 2 (dua) Daerah Swatantra tingkat II saja, yaitu :

a. Kabupaten Banjar Barat meliputi kewedanan Kayu Tangi, Tanah Laut dan Ulin;

b. Kabupaten Banjar Timur meliputi Kewedanaan Barito Kuala.

13. Tanggal 30 Oktober 1957

DPRDP Kabupaten Banjar membuat resolusi yang isinya mendesak kepada DPRD Provinsi Kalimantan Selatan agar meninjau kembali keputusannya tanggal 19 Agustus 1957 dengan memperhatikan Keputusan DPRD Kabupaten Banjar tanggal 8 Agustus 1957. Pada hari itu juga dating ke Kalimantan Selatan 2 (dua) orang dari Biro Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri yaitu Drs. Husin dan Mr. Parengkuan.. Kedua utusan tersebut mengadakan pertemuan di Barabai dengan wakil-wakil daerah yang mengajukan permintaan otonomi daerah tingkat II. Mukerad Bakeri, anggota DPD Kabupaten Banjar mewakili Marabahan. Setelah terjadi dialog yang mendalam, oleh utusan dinyatakan tuntutannya akan diperhatikan apabila data-data yang lengkap tentang Marabahan dapat diserahkan sebelum utusan kembali ke Jakarta.

14. Tanggal 1 Nopember 1957

Mukrad Bakeri bersama-sama dengan Sekretaris Pemda Provinsi Kalimantan Selatan (M. Burhan Noor) menyerahkan data-data dimaksud kepada Utusan Departemen Dalam Negeri diLandasan Ulin.

15. Bulan Nopember 1957

Di luar daerah kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) juga turut berjuang dengan cara mengadakan pendekatan dengan Gubernur Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Selatan.

16. Bulan 24 Nopember 1957

Mukerad Bakeri memberikan penjelasan kepada Panitia Gabungan tentang Pembentukan Kabupaten.

17. Tanggal 18 Januari 1958

Panitia gabugan memberikan kuasa kepada Anggota Dewan Nasional, yaitu :

1.Brigjen H. Hasan Basri, Letkol Inf. Dan Resimen Infanteri 21/LAM di Banjarmasin.

2. Cilik Riwut, Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Tengah. Untuk membantu memperjuangkan kepada kepada Menteri Dalam Negeri agar Kabupaten Marabahan dapat diresmikan bersama-sama Kabupaten Barabai dan Kabupaten Kota Waringin.

18. Tanggal 12 April 1958

Anggota DPR-RI Seksi 6 (Kementerian Dalam Negeri) dating ke Kalimantan Selatan dan meninjau Marabahan. Rombongan terdiri dari 3 (tiga) orang, yaitu Handoko, Hasan Baseri dan Nuncik AR. Rombongan didampingi oleh Mukerad Bakeri dengan menumpang KM Bido. Laporan disusun di kapal sewaktu dalam perjalanan pulang ke Banjarmasin dengan isinya mendukung hasrat masyarakat Marabahan untuk dijadikan Daerah Otonomi Tingkat II.

19. Tanggal 17 Oktober 1958

Bertempat di Sekolah Rakyat (SR) VI Tahun Marabahan diadakan rapat pembaharuan Pengurus Gabungan Partai/Organisasi dengan susunan kepengurusan adalah sebagai berikut :

Ketua I : Baidillah Ketua II : M. Taosun Ma’ruf Ketua III : Asranuddin Penulis I : Darmansyah/Anang Asran Penulis II : Manuar Bendahara I : Mawardi Bendahara II : Maksum

20. Tanggal 11 Mei 1959

DPR RI menerima baik Rencana Undang-Undang Pembagian Kabupaten di Kalimantan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 27 Tahun 1959 tanggal 4 Juli 1959 Daerah Tingkat II Barito Kuala dengan ibukotanya Marabahan disetujui oleh pemerintah.

21. Tanggal 6 September 1959

Gubernur Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Selatan menunjuk Patih Akhmad Yunan untuk mempersiapkan pembentukan Kantor Daerah Swatantra Tingkat II Barito Kuala di Marabahan. Dan sebelum diresmikan dibentuklah Panitia yang diketahui oleh H. Kesuma Yuda dengan dibantu oleh beberapa orang.

22. Tanggal 4 Januari 1960

Akhirnya Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan (H. Maksid), meresmikan Daerah Tingkat II Barito Kuala di Marabahan dan hingga sampai sekarang pada tanggal 4 Januari diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Barito Kuala.

Wilayah administrasi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Barito Kuala terbagi menjadi 3 Sub Wilayah Pembangunan, yaitu:

Sub Wilayah Pembangunan I (1.217,73 km²; 51,25%) dengan pusatnya Marabahan, meliputi kecamatan:

  1. Marabahan: -- km²( --%), merupakan pemekaran dari kecamatan Bakumpai
  2. Bakumpai: 369,38 km²(15,54%), terdiri 15 desa, 3 kelurahan
  3. Cerbon: 108,23 km² (4,55%), terdiri 8 desa
  4. Barambai: 186,19 km² (7,84%), terdiri 11 desa
  5. Tabukan: 165,15 km² (6,95%), terdiri 13 desa
  6. Kuripan: 123,10 km² (5,18%), terdiri 9 desa
  7. Belawang: 265,69 km² (11,18%), terdiri 28 desa
  8. Wanaraya: -- km² ( --%), merupakan pemekaran dari kecamatan Belawang

Sub Wilayah Pembangunan II (441,72 km²; 18,59%) dengan pusatnya Berangas, meliputi kecamatan:

  1. Alalak: 94,39 km² (3,97%), terdiri 18 desa
  2. Rantau Badauh: 119,93 km² (5,05%), terdiri 9 desa, 2 kelurahan
  3. Mandastana: 227,40 km² (9,57%), terdiri 21 desa
  4. Jejangkit: -- km²( --%), merupakan pemekaran dari kecamatan Mandastana

Wilayah administrasi

Kabupaten Barito Kuala terbagi menjadi 3 Sub Wilayah Pembangunan, yaitu:

Sub Wilayah Pembangunan I (1.217,73 km²; 51,25%) dengan pusatnya Marabahan, meliputi kecamatan:

  1. Marabahan: -- km²( --%), merupakan pemekaran dari kecamatan Bakumpai
  2. Bakumpai: 369,38 km²(15,54%), terdiri 15 desa, 3 kelurahan
  3. Cerbon: 108,23 km² (4,55%), terdiri 8 desa
  4. Barambai: 186,19 km² (7,84%), terdiri 11 desa
  5. Tabukan: 165,15 km² (6,95%), terdiri 13 desa
  6. Kuripan: 123,10 km² (5,18%), terdiri 9 desa
  7. Belawang: 265,69 km² (11,18%), terdiri 28 desa
  8. Wanaraya: -- km² ( --%), merupakan pemekaran dari kecamatan Belawang

Sub Wilayah Pembangunan II (441,72 km²; 18,59%) dengan pusatnya Berangas, meliputi kecamatan:

  1. Alalak: 94,39 km² (3,97%), terdiri 18 desa
  2. Rantau Badauh: 119,93 km² (5,05%), terdiri 9 desa, 2 kelurahan
  3. Mandastana: 227,40 km² (9,57%), terdiri 21 desa
  4. Jejangkit: -- km²( --%), merupakan pemekaran dari kecamatan Mandastana

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Di Kabupaten ini ada 2 (dua) kelembagaan penting yang membentuk Pemerintahan Daerah, yaitu kelembagaan untuk pejabat politik, yaitu Kepala Daerah dan DPRD serta kelembagaan untuk pejabat karier yang terdiri dari perangkat daerah (Dinas, Badan, Kantor, Sekretariat, Kecamatan, Kelurahan dan lain-lain).

Bupati[sunting | sunting sumber]

Nama-Nama Bupati Kabupaten Barito Kuala 1960-Sekarang

No Nama Masa Jabatan Keterangan
1 H. Hadariah 1960 s/d 1962 Bupati
2 H. Maksum & Mustafa Ideham 1962 s/d 1963 Pj. Bupati
3 Asdhy Suryadi 1963 s/d 1970 Bupati
4 Darmansyah, SA 1970 s/d 1972 Bupati
5 H. Abdul Azis 1972 s/d 1973 Pj. Bupati
6 H. Syarkawi, D. BA 1973 s/d 1978 Bupati
7 H. Syarkawi, D. BA 1978 s/d 1978 Pj. Bupati
8 H. Abdul Azis 1978 s/d 1983 Bupati
9 H. Abdul Azis 1983 s/d 1987 Pj. Bupati
10 Drs. H. Joellian Shahrani 1987 s/d 1992 Bupati
11 Ir, H, M. Said 1992 s/d 1993 Pj. Bupati
12 Drs. H. Raymullan 1993 s/d 1998 Bupati
13 Drs Bardiansyah Mudjidi, M.Si 1998 s/d 2002 Bupati
14 Drs Eddy Sukarma, M.Si 2002 s/d 2007 Bupati
15 H Hasanuddin Murad, SH 2007 s/d 2012 Bupati
16 H Hasanuddin Murad, SH 2012 s/d sekarang Bupati

Organisasi Perangkat Daerah[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Kabupaten Barito Kuala telah menyusun Organisasi Perangkat Daerah sebagaimana digambarkan dalam tabel dibawah ini:

BENTUK KELEMBAGAAN ORGANISASI JUMLAH
Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD
2
Dinas Daerah
13
Badan
13
Kecamatan
17
Kelurahan
5

Sosial Budaya & Media[sunting | sunting sumber]

RSPD 100 FM Gol Radio 106.7 FM

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah pertumbuhan penduduk Kabupaten Barito Kuala tahun 2004 hingga tahun 2009 terus mengalami kenaikan dengan pertumbuhan antara 0,35 persen hingga 1,56 persen. Pada tahun 2004 jumlah penduduk Kabupaten Barito Kuala sebanyak 262.042 jiwa, lalu

tahun 2005 meningkat 0,35 persen menjadi 262.947 jiwa, tahun 2006 meningkat sebesar 1,56 persen menjadi 267.052 jiwa. Tahun 2007 meningkat sebesar 0,90 persen menjadi 269.448 jiwa kemudian pada tahun 2008 menjadi 272.332 jiwa atau meningkat sebesar 1,07 persen. Tahun 2009 meningkat sebesar 1,03 persen menjadi 275.143 jiwa Kalau dihitung dari tahun 2004 hingga tahun 2009 terjadi kenaikan jumlah penduduk sebesar 5,00 persen.

Distribusi penduduk menurut kecamatan terbesar adalah Kecamatan Alalak sebanyak 42.111 jiwa dan Kecamatan Tamban 32.021 jiwa. Sedangkan Jumlah penduduk terkecil adalah Kecamatan Kuripan dengan jumlah penduduk sebanyak 5.431 jiwa. Kalau lebih jauh dilihat keadaan dinamika kependudukan di Kabupaten Barito Kuala, terutama kalau ditinjau dari aspek persebaran dan kepadatan penduduk per kecamatan akan tergambar secara kuantitas Kecamatan Alalak dan Tamban merupakan kecamatan yang berpenduduk banyak yaitu 15,31 persen dan 11,64 persen dari seluruh penduduk di Kabupaten Barito Kuala. Sedangkan kecamatan dengan tingkat persebaran penduduk paling kecil adalah Kecamatan Kuripan yaitu 1,97 persen, padahal kecamatan ini merupakan kecamatan dengan wilayah terluas di Kabupaten Barito Kuala. Hal ini terkait dengan letak dan kondisi geografis Kecamatan Kuripan itu sendiri dan belum terpenuhinya akses transportasi secara optimal. Akan tetapi jika dilihat dari tingkat kepadatannya dapat diketahui bahwa Kecamatan Alalak dan Wanaraya merupakan kecamatan yang padat penduduknya di Kabupaten Barito Kuala yaitu masing-masing sebesar 392,28 dan 382,96 jiwa/km2. Sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terkecil masih dipegang oleh Kecamatan Kuripan yaitu sekitar 15,81 jiwa/km2. Hal ini wajar, mengingat wilayah paling luas dengan penduduk paling sedikit di Kabupaten Barito Kuala. Selebihnya, penduduk tersebar merata hampir di seluruh Kabupaten Barito Kuala.

Penduduk kabupaten Barito Kuala Tahun 2009 berjumlah 275.143 jiwa yang terdiri dari laki–laki 135.240 jiwa dan perempuan 139.903 jiwa dengan sex ratio sebesar 96,67. Dibandingkan dengan tahun 2008 jumlah penduduk pada tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 1,03 %.

Jumlah rumah tangga di Kabupaten Barito Kuala adalah sebesar 77.282 rumah tangga. Dibandingkan dengan tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 2,53 %. Kepadatan penduduk per km2 di Kabupaten Barito Kuala adalah 92 jiwa, di mana Kecamatan Alalak adalah kecamatan terpadat dengan 392 jiwa per km2 disusul Kecamatan Wanaraya 383 jiwa per km2, sedangkan kecamatan yang kecil kepadatannya yaitu Kecamatan Kuripan sebesar 16 jiwa per km2.

Berdasarkan kelompok umur, hampir dari setengah penduduk Kabupaten Barito Kuala adalah penduduk usia dewasa/produktif (20 - 59 th) tercatat sebesar 56,50 persen, kemudian penduduk usia sekolah (5 - 19 th) sebesar 27,15 persen, usia tua/lansia (> 60) sebesar 5,80 persen dan usia balita (0 - 4 th) sebesar 10,55 persen. Pada tahun 2009, penduduk usia tua/lansia dan penduduk usia sekolah mengalami penurunan 58,91 persen dan 3,44 persen, namun untuk penduduk usia balita dan usia produktif mengalami peningkatan masing-masing sebesar 20,17 persen dan 17,79 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa angka kelahiran mengalami peningkatan dan usia harapan hidup penduduk Kabupaten Barito Kuala menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Mayoritas penduduk Kabupaten Barito Kuala berasal dari etnis Banjar. Di Kecamatan Bakumpai juga terdapat etnis Dayak Bakumpai. Selain itu terdapat pula etnis Jawa dan Bali yang mendiami kawasan transmigrasi.

Suku bangsa di kabupaten ini antara lain:[7]

  1. Suku Banjar: 184.180 jiwa
  2. Suku Jawa: 37.121 jiwa
  3. Suku Bakumpai: 18.892 jiwa
  4. Suku Sunda: 1.249 jiwa
  5. Suku Buket: 826 jiwa
  6. Suku Madura: 299 jiwa
  7. Suku Bugis: 211 jiwa
  8. Suku lainnya: 3.126 jiwa

Pulau-pulau[sunting | sunting sumber]

Barito Kuala memiliki beberapa delta yang disebut pulau. Pulau tersebut terdapat di tengah-tengah sungai Barito yang membelah kabupaten Barito Kuala. Sungai Barito lebarnya lebih dari 1 km.

Delta tersebut antara lain:

  1. Pulau Kembang (hutan wisata, habitat kera ekor panjang)
  2. Pulau Bakut (terdapat jembatan Barito)
  3. Pulau Kaget (cagar alam, habitat kera hidung panjang, yaitu bekantan)
  4. Pulau Sugara (pulau yang berpenduduk)
  5. Pulau Alalak (pulau yang berpenduduk)
  6. Pulau Sewangi (pulau yang berpenduduk)

Lagu Daerah[sunting | sunting sumber]

Lagu-lagu daerah yang berasal dari wilayah ini antara lain:

Geografis[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Barito Kuala yang ber-ibukota Marabahan terletak paling barat dari Provinsi Kalimantan Selatan dengan batas-batas: sebelah utara Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tapin, sebelah selatan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Dengan letak astronomis berada pada 2°29’50” - 3°30’18” Lintang Selatan dan 114°20’50” - 114°50’18” Bujur Timur.

Kabupaten Barito Kuala berada pada hamparan wilayah yang datar dengan kelerengan 0% - 2%, dengan ketinggian elevasi berkisar antara 1-3 meter di atas permukaan laut.

Sebagaimana diketahui bahwa wilayah Kabupaten Barito Kuala diapit oleh dua buah sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Kapuas, hal ini sangat mempengaruhi tata air yang ada di wilayah kabupaten ini, Disamping itu terdapat pula 3 buah terusan (anjir) buatan yang menghubungkan Sungai Barito dan Sungai Kapuas yaitu Anjir Talaran, Anjir Serapat dan Anjir Tamban. Keadaan hidrologi ini sangat dipengaruhi oleh curah hujan dan present land use baik di daerah ini maupun di bagian hulu. Dalam musim hujan pada waktu pasang air Sungai Barito dapat membanjiri sebagian besar wilayah ini dan mengakibatkan permukaan tanah tergenang terus menerus.Kapasitas pengairan alam melalui anak-anak sungai kecil sehingga terbentuk tanah rawa. Pasang surut turut pula mempengaruhi tata air yang ada, yang selalu bergerak naik turun mengikuti fluktuasi pasang surut air pada Sungai Barito dan Sungai Kapuas, gerak pasang surut ini terjadi 2 kali dalam 24 jam dan setiap harinya terlambat 50 menit sesuai dengan peredaran bulan. Perbedaan tinggi rendah permukaan air pada waktu pasang surut dapat mencapai 2-3 M, gerak pasang surut inilah yang dimanfaatkan oleh para petani untuk menggali handil-handil (parit) pada daerah yang akan dijadikan persawahan Secara umum daerah ini ditutupi oleh tumbuhan rawa daerah pantai ditutupi oleh hutan bakau (Mangrove) dan sedikit ditemukan cemara laut (Cacuarina sp). Sedangkan daerah yang masih dipengaruhi oleh air payau 1-3 Km dari pantai, di lokasi ini banyak ditumbuhi pohon nipah dan tumbuhan lainnya adalah nibung. Tumbuhan jingah, rambai yang tumbuh di sepanjang sungai, tumbuhan galam (Melaleuca spp) dan purun tikus (Fimbristylis spp) terdapat pada daerah yang sifat keasamannya antara PH 3,5-4,5 yang biasanya tumbuhan ini hidup berdampingan dan kadangkadang diselingi oleh rumput-rumputan. Galam merupakan pohon yang amat dominan dijumpai di wilayah ini, sedangkan hutan primier tidak ada. Jenis kayu hutan yang lain adalah belangiran (Shorea Belangiran), tumih. Tumbuhan air seperti enceng gondok dan rumput air yang acap kali menutupi saluran (anjir), sehingga menghambat lalu lintas air.Di daerah ini dijumpai juga beberapa jenis fauna yang hidup dan bisa kita temui, diantaranya beberapa jenis ikan darat seperti ikan gabus (Ophicephalus striatus), papuyu (Anabs testudineus), sepat, baung, patin, pipih dan lain-lain. Ikan-ikan tersebut hidup di sungai-sungai dan saluran rawa-rawa serta sawah. Jenis reftil seperi ular sawah, biawak. Terdapat pula salah satu jenis kera yang khas dan langka yaitu Bekantan (Nasalis Larvatus) yang merupakan maskot fauna Provinsi Kalimantan Selatan. Binatang mamalia lainnya adalah beberapa jenis kera, kucing hutan, beruang, musang dan lain-lain. Binatang lain yang merupakan hama tanaman adalah tikus dan babi hutan Jenis tanah yang diperoleh dari hasil survei eksplorasi yang sudah ada, disini terdapat dua jenis tanah yang masing-masing adalah ORGANOSOL yakni seluas 101.900 Ha (34%) dan tanah ALLUVIAL seluas 191.390 Ha (66%). Tanah Organosol berwarna coklat hitam dan sering tanah ini disebut gambut atau peat (bahan yang mudah terbakar), tanah ini terbentuk dari serat tumbuh-tumbuhan yang mengalami proses pembusukan, sifat keasamannya sangat tinggi sehingga kalau ingin mempergunakan tanah ini harus dengan sistem drainage.

Tanah Alluvial berwarna coklat hijau, tanah ini terdiri dari endapat Alluvium yang bahan induknya terutama termasuk dari pasir dan lumpur yang dibawa dan diendapkan oleh arus sungai dari pedalaman, tanah terdapat di sepanjang Sungai Barito dan tepi Sungai Kapuas, berupa tanggul-tanggul dan juga pada beberapa medeander sungai. Tanah Alluvial ini menutupi areal seluas 191.390 Ha, atau lebih kurang 64% dari luas wilayah Kabupaten Barito Kuala dan merupakan daerah terbaik bagi pertanian pasang surut.

Kemampuan tanah di daerah ini di ketahui bawah wilayah ini tidak seluruhnya datar, yakni lereng 0,2 % sehingga merupakan daerah endapan. Keadaan effektif tanah untuk alluvial lebih besar daripada 90 cm tercatat hampir 60% - 64% dari luas wilayah, sedangkan daerah yang ketebalan gambutnya lebih besar dari 75 cm terdapat seluas 6,74% tekstur tanah 95% liat (halus) sedangkan drainage yang dominan yakni di daerah yang tergenang rawa, untuk erosi tidak ada. Dari data diatas, kalau kita transparankan pada peta penggunaan tanah dengan peta kemampuan tanah dan jenis tanah maka akan kita lihat pada umumnya daerah yang diusahakan penduduk adalah daerah alluvial yang digunakan pada umumnya persawahan, karena memang merupakan daerah yang cukup subur. Pada daerah orgonosal atau gambut juga telah diusahakan dengan membuat handil-handil atau saluran-saluran pembuangan air sehingga untuk tempattempat

ketebalan gambutnya cukup tinggi dengan adanya handil-handil tersebut ketebalannya bisa menipis, sehingga bisa diusahakan Kabupaten Barito Kuala terletak di garis Khatulistiwa yang banyak curah hujannya, menurut FH. SCHMIT dan Y.A. FERGUSON dan VARHANDELINGAN nomor 42 dari Jawatan Meteorologi dan Geofisika, wilayah ini termasuk daerah hujan tipe b yaitu iklim yang mempunyai 1-2 bulan kering dalam setahun. Temperatur rata-rata antara 26 °C – 27 °C, suhu maksimal adalah 27,50 °C terdapat pada bulan Oktober, sedangkan suhu minimum terdapat pada bulan Juli dengan suhu mencapai 26,50 °C. Menurut penelitian angka ratarata hujan setiap tahunnya adalah 2665 mm dengan 107 hari hujan untuk Daerah Marabahan.

Angin pada bulan Januari, Februari dan Maret berhembus dari arah Barat Laut, bulan April dari arah Tenggara dan pada bulan Nopember, arah angin dari Barat Laut. Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh iklim, geografi dan pertemuan arus udara.

Jumlah curah hujan selama Tahun 2009 sebesar 2.047 mm. Curah hujan tertinggi pada Tahun 2009 terjadi pada bulan Januari dan Desember yaitu sebesar 359,7 dan 334 mm. Sedangkan curah hujan terendah terjadi di bulan September yakni sebesar 9,7 mm. Jumlah hari hujan selama Tahun 2009 sebanyak 107 hari dengan hari hujan terbanyak adalah di bulan Januari sebesar 19 hari. Hari hujan terjarang terjadi di bulan Agustus dan September sebanyak 1 hari hujan.

Tempat Wisata[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Barito Kuala memiliki beberapa tempat wisata, yaitu:

  • Agrowisata Terantang
  • Jembatan Barito
  • Jembatan Rumpiyang
  • Makam H. Abdussamad
  • Makam Datu Kayan
  • Makam Datu Aminin
  • Pulau Kembang
  • Pulau Kaget
  • Wisata Argo Sei. Kambat
Didahului oleh:
Kawedanan Barito Kuala
Diteruskan oleh:
tidak ada

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Perpres_No._10_Tahun_2013
  2. ^ "Kabupaten Baritone Kuala Dalam Angka 2016"
  3. ^ "Kabupaten Baritone Kuala Dalam Angka 2016"
  4. ^ oza (3 Februari 2011). "Prospek Menjadi Kota Metropolis". Radar Banjarmasin. 
  5. ^ "Konsep Metropolitan Banjar Bakula Akhirnya Diakui Pusat". Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. 04 Februari 2011. 
  6. ^ Saleh, Idwar; SEJARAH DAERAH TEMATIS Zaman Kebangkitan Nasional (1900-1942) di Kalimantan Selatan, Depdikbud, Jakarta, 1986.
  7. ^ Sumber: Badan Pusat Statistik - Sensus Penduduk Tahun 2000