Kabupaten Barito Kuala

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Kabupaten Barito Kuala
كابوڤاتين باريتو كوالا
Lambang Kabupaten Barito Kuala
Lambang Kabupaten Barito Kuala
كابوڤاتين باريتو كوالا


Moto: Selidah



Lokasi Kalimantan Selatan Kabupaten Barito Kuala.svg
Peta lokasi Kabupaten Barito Kuala
كابوڤاتين باريتو كوالا di Kalimantan Selatan
Koordinat: 118°44'–119°22' LS, 8°8'–8°57' BT
Provinsi Kalimantan Selatan
Dasar hukum UU Nomor 27 Tahun 1959
Tanggal peresmian 4 Januari 1960
Ibu kota Marabahan
Pemerintahan
-Bupati Hj. Noormiliyani A.S., S.H.
-Wakil Bupati Rahmadian Noor, S.T.
-Ketua DPRD Drs. Hikmatullah, SH
-Ketua Pengadilan Negeri Achmad Virza Rudiansyah, SH, Mchn
-Kepala Kejaksaan Negeri Asis Widarno, SH, MH
-Dandim Letkol ARH Irwan Setiawan SIP
-Kapolres AKBP Mugi Sekar Jaya, S.Sos, S.IK. POLRES Barito Kuala
APBD
-APBD Rp. 1.176.086.858.320,-[1]
-PAD Rp. 65.000.000.000,-
-DAU Rp. 666.469.782.648,-(2018)[1]
Luas 2.996,46 km²[2]
Populasi
-Total 309.749 jiwa (2017)[2]
-Kepadatan 104 jiwa/km² (2017)
Demografi
-Agama Islam 99.25%
Hindu 0.46%
Kristen Protestan 0.21%
Katolik0.07%[3]
-Bahasa Indonesia
-IPM 64,15 (2016)[4]
-Zona waktu UTC +8 WITA
-Kode area telepon 0511
Pembagian administratif
-Kecamatan 17[2]
-Kelurahan 6[2]
-Desa 195[2]
Simbol khas daerah
Situs web http://www.baritokualakab.go.id/

Kabupaten Barito Kuala adalah salah satu Pemerintah Kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Marabahan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 3.284 km² dan berpenduduk sebanyak 276.066 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Sebagian wilayah Barito Kuala termasuk dalam calon Wilayah Metropolitan Banjar Bakula.[5][6]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Barito Kuala yang ber-ibukota Marabahan terletak paling barat dari Provinsi Kalimantan Selatan dengan batas-batas: sebelah utara Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tapin, sebelah selatan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Dengan letak astronomis berada pada 2°29’50” - 3°30’18” Lintang Selatan dan 114°20’50” - 114°50’18” Bujur Timur.

Kabupaten Barito Kuala berada pada hamparan wilayah yang datar dengan kelerengan 0% - 2%, dengan ketinggian elevasi berkisar antara 1-3 meter di atas permukaan laut.

Sebagaimana diketahui bahwa wilayah Kabupaten Barito Kuala diapit oleh dua buah sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Kapuas, hal ini sangat mempengaruhi tata air yang ada di wilayah kabupaten ini, Disamping itu terdapat pula 3 buah terusan (anjir) buatan yang menghubungkan Sungai Barito dan Sungai Kapuas yaitu Anjir Talaran, Anjir Serapat dan Anjir Tamban. Keadaan hidrologi ini sangat dipengaruhi oleh curah hujan dan present land use baik di daerah ini maupun di bagian hulu. Dalam musim hujan pada waktu pasang air Sungai Barito dapat membanjiri sebagian besar wilayah ini dan mengakibatkan permukaan tanah tergenang terus menerus.Kapasitas pengairan alam melalui anak-anak sungai kecil sehingga terbentuk tanah rawa. Pasang surut turut pula mempengaruhi tata air yang ada, yang selalu bergerak naik turun mengikuti fluktuasi pasang surut air pada Sungai Barito dan Sungai Kapuas, gerak pasang surut ini terjadi 2 kali dalam 24 jam dan setiap harinya terlambat 50 menit sesuai dengan peredaran bulan. Perbedaan tinggi rendah permukaan air pada waktu pasang surut dapat mencapai 2-3 M, gerak pasang surut inilah yang dimanfaatkan oleh para petani untuk menggali handil-handil (parit) pada daerah yang akan dijadikan persawahan Secara umum daerah ini ditutupi oleh tumbuhan rawa daerah pantai ditutupi oleh hutan bakau (Mangrove) dan sedikit ditemukan cemara laut (Cacuarina sp). Sedangkan daerah yang masih dipengaruhi oleh air payau 1-3 Km dari pantai, di lokasi ini banyak ditumbuhi pohon nipah dan tumbuhan lainnya adalah nibung. Tumbuhan jingah, rambai yang tumbuh di sepanjang sungai, tumbuhan galam (Melaleuca spp) dan purun tikus (Fimbristylis spp) terdapat pada daerah yang sifat keasamannya antara PH 3,5-4,5 yang biasanya tumbuhan ini hidup berdampingan dan kadangkadang diselingi oleh rumput-rumputan. Galam merupakan pohon yang amat dominan dijumpai di wilayah ini, sedangkan hutan primier tidak ada. Jenis kayu hutan yang lain adalah belangiran (Shorea Belangiran), tumih. Tumbuhan air seperti enceng gondok dan rumput air yang acap kali menutupi saluran (anjir), sehingga menghambat lalu lintas air.Di daerah ini dijumpai juga beberapa jenis fauna yang hidup dan bisa kita temui, diantaranya beberapa jenis ikan darat seperti ikan gabus (Ophicephalus striatus), papuyu (Anabs testudineus), sepat, baung, patin, pipih dan lain-lain. Ikan-ikan tersebut hidup di sungai-sungai dan saluran rawa-rawa serta sawah. Jenis reftil seperi ular sawah, biawak. Terdapat pula salah satu jenis kera yang khas dan langka yaitu Bekantan (Nasalis Larvatus) yang merupakan maskot fauna Provinsi Kalimantan Selatan. Binatang mamalia lainnya adalah beberapa jenis kera, kucing hutan, beruang, musang dan lain-lain. Binatang lain yang merupakan hama tanaman adalah tikus dan babi hutan Jenis tanah yang diperoleh dari hasil survei eksplorasi yang sudah ada, disini terdapat dua jenis tanah yang masing-masing adalah ORGANOSOL yakni seluas 101.900 Ha (34%) dan tanah ALLUVIAL seluas 191.390 Ha (66%). Tanah Organosol berwarna coklat hitam dan sering tanah ini disebut gambut atau peat (bahan yang mudah terbakar), tanah ini terbentuk dari serat tumbuh-tumbuhan yang mengalami proses pembusukan, sifat keasamannya sangat tinggi sehingga kalau ingin mempergunakan tanah ini harus dengan sistem drainage.

Tanah Alluvial berwarna coklat hijau, tanah ini terdiri dari endapat Alluvium yang bahan induknya terutama termasuk dari pasir dan lumpur yang dibawa dan diendapkan oleh arus sungai dari pedalaman, tanah terdapat di sepanjang Sungai Barito dan tepi Sungai Kapuas, berupa tanggul-tanggul dan juga pada beberapa medeander sungai. Tanah Alluvial ini menutupi areal seluas 191.390 Ha, atau lebih kurang 64% dari luas wilayah Kabupaten Barito Kuala dan merupakan daerah terbaik bagi pertanian pasang surut.

Kemampuan tanah di daerah ini di ketahui bawah wilayah ini tidak seluruhnya datar, yakni lereng 0,2 % sehingga merupakan daerah endapan. Keadaan effektif tanah untuk alluvial lebih besar daripada 90 cm tercatat hampir 60% - 64% dari luas wilayah, sedangkan daerah yang ketebalan gambutnya lebih besar dari 75 cm terdapat seluas 6,74% tekstur tanah 95% liat (halus) sedangkan drainage yang dominan yakni di daerah yang tergenang rawa, untuk erosi tidak ada. Dari data diatas, kalau kita transparankan pada peta penggunaan tanah dengan peta kemampuan tanah dan jenis tanah maka akan kita lihat pada umumnya daerah yang diusahakan penduduk adalah daerah alluvial yang digunakan pada umumnya persawahan, karena memang merupakan daerah yang cukup subur. Pada daerah orgonosal atau gambut juga telah diusahakan dengan membuat handil-handil atau saluran-saluran pembuangan air sehingga untuk tempattempat

ketebalan gambutnya cukup tinggi dengan adanya handil-handil tersebut ketebalannya bisa menipis, sehingga bisa diusahakan Kabupaten Barito Kuala terletak di garis Khatulistiwa yang banyak curah hujannya, menurut FH. SCHMIT dan Y.A. FERGUSON dan VARHANDELINGAN nomor 42 dari Jawatan Meteorologi dan Geofisika, wilayah ini termasuk daerah hujan tipe b yaitu iklim yang mempunyai 1-2 bulan kering dalam setahun. Temperatur rata-rata antara 26 °C – 27 °C, suhu maksimal adalah 27,50 °C terdapat pada bulan Oktober, sedangkan suhu minimum terdapat pada bulan Juli dengan suhu mencapai 26,50 °C. Menurut penelitian angka ratarata hujan setiap tahunnya adalah 2665 mm dengan 107 hari hujan untuk Daerah Marabahan.

Angin pada bulan Januari, Februari dan Maret berhembus dari arah Barat Laut, bulan April dari arah Tenggara dan pada bulan Nopember, arah angin dari Barat Laut. Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh iklim, geografi dan pertemuan arus udara.

Jumlah curah hujan selama Tahun 2009 sebesar 2.047 mm. Curah hujan tertinggi pada Tahun 2009 terjadi pada bulan Januari dan Desember yaitu sebesar 359,7 dan 334 mm. Sedangkan curah hujan terendah terjadi di bulan September yakni sebesar 9,7 mm. Jumlah hari hujan selama Tahun 2009 sebanyak 107 hari dengan hari hujan terbanyak adalah di bulan Januari sebesar 19 hari. Hari hujan terjarang terjadi di bulan Agustus dan September sebanyak 1 hari hujan.

Pulau[sunting | sunting sumber]

Barito Kuala memiliki beberapa delta yang disebut pulau. Pulau tersebut terdapat di tengah-tengah sungai Barito yang membelah kabupaten Barito Kuala. Sungai Barito lebarnya lebih dari 1 km. Delta tersebut antara lain:

  1. Pulau Kembang (hutan wisata, habitat kera ekor panjang)
  2. Pulau Bakut (terdapat jembatan Barito)
  3. Pulau Kaget (cagar alam, habitat kera hidung panjang, yaitu bekantan)
  4. Pulau Sugara (pulau yang berpenduduk)
  5. Pulau Alalak (pulau yang berpenduduk)
  6. Pulau Sewangi (pulau yang berpenduduk)

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut Staatblaad tahun 1898 no. 178, Distrik Bakumpai adalah satu-satunya Distrik di dalam Onderafdeeling Bakoempai dengan ibukota Marabahan, yang merupakan bagian dari Afdeeling Bandjermasin en Ommelanden (Banjarmasin dan daerah sekitarnya).[7] Kabupaten Barito Kuala yang beribukota di Marabahan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 dengan status sebelumnya sebagai Kawedanan dibawah Kabupaten Banjar. Mengingat luas wilayah, jumlah penduduk dan perkembangannya, potensi ekonomi yang dimiliki serta kondisi lain yang menunjang daerah ini untuk diangkat menjadi Daerah Otonom Tingkat II, maka oleh para tokoh masyarakat diperjuangkan agar menjadi Daerah Tingkat II yang berotonomi. Proses perjuangan menjadikan Marabahan menjadi Daerah Kabupaten dimulai sejak tanggal 17 Februari 1957 dengan dibentuknya Panitia gabungan Partai/Organisasi Penuntut Kabupaten (diketuai oleh M. Jalaluddin dan Imansyah sebagai penulis), bersamaan pula dengan dikeluarkannya resolusi oleh Kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) kepada Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Selatan tentang tuntutan supaya kawedanaan Marabahan dijadikan Daerah Otonom Tingkat II.

Berbagai usaha ditempuh guna mewujudkan tuntutan tersebut beberapa peristiwa yang patut dicatat sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Barito Kuala Nomor 11/Kpts/DPRD-Batola/1997, antara lain :

  1. Pada tanggal 17 Februari 1957, Telah terbentuk Panitia Penuntutan Kabupaten Daerah Otonom Tingkat II yang diketuai oleh M. Jalaluddin dan Sekretarisnya Imansyah. Pada waktu itu juga kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) ikut mengajukan tuntutan agar Kewedanan Marabahan dapat ditingkatkan menjadi kabupaten.
  2. Pada tanggal 15 Maret 1957, Panitia Penuntut Kabupaten mengadakan rapat yang dihadiri oleh Partai Politik dan Organisasi Masa untuk menyusun resolusi yang isinya memohon kepada Pemerintah agar kewedanaan Marabahan dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom Tingkat II yang diberi nama kabupaten dalam waktu yang sesingkatsingkatnya.
  3. Pada tanggal 1 Juni 1957, Panitia Penuntut kabupaten mengadakan rapat untuk menentukan sikap dengan dibentuknya Provinsi Kalimantan Tengah.
  4. Pada Bulan Juli 1957, Membentuk Panitia Penampung Hasrat Rakyat Marabahan dengan Ketua H. Marli Hasan, Wakil Ketua M. Jalaludin dan Sekretaris H. Syarkani. AB.
  5. Tanggal 15 Juli 1957, Panitia Penampungan Hasrat Rakyat Marabahan mengadakan rapat umum di Pasar Marabahan dengan kesimpulan apabila tuntutan menjadi kabupaten tidak berhasil, masih terbuka jalan untuk menjadi kabupaten di Kalimantan Tengah.
  6. Tanggal 17 Juli 1957, Presiden Soekarno berkunjung ke Banjarmasin dan menanggapi cara tuntutan Panitia Penampungan Hasrat Rakyat Marabahan yang menyatakan akan masuk Kalimantan Tengah dengan perkataan : “Mis Begrifven Demokrasi”. Akibat adanya tanggapan presiden tersebut, maka komando P.D.M. Martapura Letnan H. Muhammad Noor bersama Bupati Kepala Daerah Kabupaten Banjar yang diwakili Oleh H. Mukerad Bakeri, Ketua DPRD Bidang Ekonomi datang ke Marabahan untuk melihat secara dekat keadaan situasi Marabahan, namun kenyataannya Marabahan tetap aman.
  7. Tanggal 18 Juli 1957, Sebagai pengurus mengundurkan diri dari kepanitian.
  8. Tanggal 20 Juli 1957, Mukrad Bakeri dan Wedana Mustafa Ideham memberi penjelasan kepada tokoh masyarakat untung ruginya masuk Kalimantan Tengah.
  9. Tanggal 24 Juli 1957, Diadakan rapat untuk melengkapi personalia Panitia Gabungan Partai Politik diadakan Organisasi Massa Penuntut Kabupaten dengan susunan panitia baru sebagai berikut :
    • Ketua : Baidillah
    • Wakil Ketua : M. Taosun Ma'ruf
    • Penulis I : Anang Asran
    • Penulis II : Darmansyah
    • Bendahara : Maksum
    • Pembantu : Semua anggota partai/organisasi yang ada.
  10. Bulan Agustus 1957, DPRDP Kabupaten Banjar mengadakan kunjungan ke Marabahan sekaligus berdialog dengan tokoh masyarakat, pamong praja dan parpol/ormas.
  11. Tanggal 8 Agutus 1957, DPRDP Kabupaten Banjar dalam sidangnya mengambil keputusan yang isinya pada Pemerintah Pusat agar Daerah Swatantra Tingkat II Kabupaten Banjar dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah sebagai berikut : a. Kabupaten Banjar Barat meliputi Kewedanan Kayu Tangi; b. Kabupaten Banjar Tengah meliputi Kewedanan Ulin; c. Kabupaten Banjar Timur meliputi Kewedanan Barito Kuala.
  12. Tanggal 19 Agustus 1957, DPRDP Provinsi Kalimantan Selatan dalam sidangnya hanya dapat menyetujui 2 (dua) Daerah Swatantra tingkat II saja, yaitu : a. Kabupaten Banjar Barat meliputi kewedanan Kayu Tangi, Tanah Laut dan Ulin; b. Kabupaten Banjar Timur meliputi Kewedanaan Barito Kuala.
  13. Tanggal 30 Oktober 1957, DPRDP Kabupaten Banjar membuat resolusi yang isinya mendesak kepada DPRD Provinsi Kalimantan Selatan agar meninjau kembali keputusannya tanggal 19 Agustus 1957 dengan memperhatikan Keputusan DPRD Kabupaten Banjar tanggal 8 Agustus 1957. Pada hari itu juga dating ke Kalimantan Selatan 2 (dua) orang dari Biro Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri yaitu Drs. Husin dan Mr. Parengkuan.. Kedua utusan tersebut mengadakan pertemuan di Barabai dengan wakil-wakil daerah yang mengajukan permintaan otonomi daerah tingkat II. Mukerad Bakeri, anggota DPD Kabupaten Banjar mewakili Marabahan. Setelah terjadi dialog yang mendalam, oleh utusan dinyatakan tuntutannya akan diperhatikan apabila data-data yang lengkap tentang Marabahan dapat diserahkan sebelum utusan kembali ke Jakarta.
  14. Tanggal 1 Nopember 1957, Mukrad Bakeri bersama-sama dengan Sekretaris Pemda Provinsi Kalimantan Selatan (M. Burhan Noor) menyerahkan data-data dimaksud kepada Utusan Departemen Dalam Negeri di Landasan Ulin.
  15. Bulan Nopember 1957, Di luar daerah kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) juga turut berjuang dengan cara mengadakan pendekatan dengan Gubernur Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Selatan.
  16. Tanggal 24 Nopember 1957, Mukerad Bakeri memberikan penjelasan kepada Panitia Gabungan tentang Pembentukan Kabupaten.
  17. Tanggal 18 Januari 1958, Panitia gabugan memberikan kuasa kepada Anggota Dewan Nasional, yaitu :
    • Brigjen H. Hasan Basri, Letkol Inf. Dan Resimen Infanteri 21/LAM di Banjarmasin.
    • Cilik Riwut, Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Tengah. Untuk membantu memperjuangkan kepada kepada Menteri Dalam Negeri agar Kabupaten Marabahan dapat diresmikan bersama-sama Kabupaten Barabai dan Kabupaten Kota Waringin.
  18. Tanggal 12 April 1958, Anggota DPR-RI Seksi 6 (Kementerian Dalam Negeri) dating ke Kalimantan Selatan dan meninjau Marabahan. Rombongan terdiri dari 3 (tiga) orang, yaitu Handoko, Hasan Baseri dan Nuncik AR. Rombongan didampingi oleh Mukerad Bakeri dengan menumpang KM Bido. Laporan disusun di kapal sewaktu dalam perjalanan pulang ke Banjarmasin dengan isinya mendukung hasrat masyarakat Marabahan untuk dijadikan Daerah Otonomi Tingkat II.
  19. Tanggal 17 Oktober 1958, Bertempat di Sekolah Rakyat (SR) VI Tahun Marabahan diadakan rapat pembaharuan Pengurus Gabungan Partai/Organisasi dengan susunan kepengurusan adalah sebagai berikut :
    • Ketua I : Baidillah
    • Ketua II : M. Taosun Ma’ruf
    • Ketua III : Asranuddin
    • Penulis I : Darmansyah/Anang Asran
    • Penulis II : Manuar
    • Bendahara I : Mawardi
    • Bendahara II : Maksum
  20. Tanggal 11 Mei 1959, DPR RI menerima baik Rencana Undang-Undang Pembagian Kabupaten di Kalimantan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 27 Tahun 1959 tanggal 4 Juli 1959 Daerah Tingkat II Barito Kuala dengan ibukotanya Marabahan disetujui oleh pemerintah.
  21. Tanggal 6 September 1959, Gubernur Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Selatan menunjuk Patih Akhmad Yunan untuk mempersiapkan pembentukan Kantor Daerah Swatantra Tingkat II Barito Kuala di Marabahan. Dan sebelum diresmikan dibentuklah Panitia yang diketahui oleh H. Kesuma Yuda dengan dibantu oleh beberapa orang.
  22. Tanggal 4 Januari 1960, Akhirnya Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan (H. Maksid), meresmikan Daerah Tingkat II Barito Kuala di Marabahan dan hingga sampai sekarang pada tanggal 4 Januari diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Barito Kuala.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No. Foto Nama Masa Jabatan Akhir Jabatan Keterangan Wakil Bupati Ref.
1 H. Hadariah 4 Januari 1960 1 Agustus 1962 [8]
2 H. Maksum 1 Agustus 1962 21 Juni 1963 Mustafa Ideham
3 Asdhy Suryadi 21 Juni 1963 2 April 1970
4 Darmansyah, S.A. 2 April 1970 24 Agustus 1972
5 H. Abdul Azis 24 Agustus 1972 15 Februari 1973 Penjabat sementara (pjs.) bupati
6 H. Syarkawi D., B.A. 15 Februari 1973 15 Februari 1978
15 Februari 1978 6 November 1978 Penjabat sementara (pjs.) bupati
H. Abdul Azis 6 November 1978 5 November 1983
5 November 1983 15 Januari 1987 Penjabat sementara (pjs.) bupati
7 Drs. H. Joellian Shahrani 15 Januari 1987 15 Juni 1992
8 Ir. H. M. Said 15 Juni 1992 3 November 1993 Penjabat sementara (pjs.) bupati
9 Drs. H. Raymullan 3 November 1993 3 November 1998
10 Drs. Bardiansyah Mudjidi, M.Si. 3 November 1998 3 November 2002
11 Drs. Eddy Sukarma, M.Si. 3 November 2002 3 November 2007 H. M. Hatta Mazanie, S.H.
12 H. Hasanuddin Murad, S.H. 3 November 2007 3 November 2012 Periode pertama Drs. H. Sukardhi [9]
4 November 2012 4 November 2017 Periode kedua H. Makmun Kaderi
13 Hj. Noormiliyani A.S., S.H. 4 November 2017 sekarang Rahmadian Noor, S.T. [10]

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Barito Kuala

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Barito Kuala terbagi menjadi 3 Sub Wilayah Pembangunan, yaitu: Sub Wilayah Pembangunan I (1.217,73 km²; 51,25%) dengan pusatnya Marabahan, meliputi kecamatan:

  1. Marabahan: -- km²( --%), merupakan pemekaran dari kecamatan Bakumpai
  2. Bakumpai: 369,38 km²(15,54%), terdiri 15 desa, 3 kelurahan
  3. Cerbon: 108,23 km² (4,55%), terdiri 8 desa
  4. Barambai: 186,19 km² (7,84%), terdiri 11 desa
  5. Tabukan: 165,15 km² (6,95%), terdiri 13 desa
  6. Kuripan: 123,10 km² (5,18%), terdiri 9 desa
  7. Belawang: 265,69 km² (11,18%), terdiri 28 desa
  8. Wanaraya: -- km² ( --%), merupakan pemekaran dari kecamatan Belawang

Sub Wilayah Pembangunan II (441,72 km²; 18,59%) dengan pusatnya Berangas, meliputi kecamatan:

  1. Alalak: 94,39 km² (3,97%), terdiri 18 desa
  2. Rantau Badauh: 119,93 km² (5,05%), terdiri 9 desa, 2 kelurahan
  3. Mandastana: 227,40 km² (9,57%), terdiri 21 desa
  4. Jejangkit: -- km²( --%), merupakan pemekaran dari kecamatan Mandastana

Organisasi Perangkat Daerah[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Kabupaten Barito Kuala telah menyusun Organisasi Perangkat Daerah sebagaimana digambarkan dalam tabel dibawah ini:

BENTUK KELEMBAGAAN ORGANISASI JUMLAH
Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD
2
Dinas Daerah
13
Badan
13
Kecamatan
17
Kelurahan
5

Sosial Budaya & Media[sunting | sunting sumber]

RSPD 100 FM Gol Radio 106.7 FM

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah pertumbuhan penduduk Kabupaten Barito Kuala tahun 2004 hingga tahun 2009 terus mengalami kenaikan dengan pertumbuhan antara 0,35 persen hingga 1,56 persen. Pada tahun 2004 jumlah penduduk Kabupaten Barito Kuala sebanyak 262.042 jiwa, lalu

tahun 2005 meningkat 0,35 persen menjadi 262.947 jiwa, tahun 2006 meningkat sebesar 1,56 persen menjadi 267.052 jiwa. Tahun 2007 meningkat sebesar 0,90 persen menjadi 269.448 jiwa kemudian pada tahun 2008 menjadi 272.332 jiwa atau meningkat sebesar 1,07 persen. Tahun 2009 meningkat sebesar 1,03 persen menjadi 275.143 jiwa Kalau dihitung dari tahun 2004 hingga tahun 2009 terjadi kenaikan jumlah penduduk sebesar 5,00 persen.

Distribusi penduduk menurut kecamatan terbesar adalah Kecamatan Alalak sebanyak 42.111 jiwa dan Kecamatan Tamban 32.021 jiwa. Sedangkan Jumlah penduduk terkecil adalah Kecamatan Kuripan dengan jumlah penduduk sebanyak 5.431 jiwa. Kalau lebih jauh dilihat keadaan dinamika kependudukan di Kabupaten Barito Kuala, terutama kalau ditinjau dari aspek persebaran dan kepadatan penduduk per kecamatan akan tergambar secara kuantitas Kecamatan Alalak dan Tamban merupakan kecamatan yang berpenduduk banyak yaitu 15,31 persen dan 11,64 persen dari seluruh penduduk di Kabupaten Barito Kuala. Sedangkan kecamatan dengan tingkat persebaran penduduk paling kecil adalah Kecamatan Kuripan yaitu 1,97 persen, padahal kecamatan ini merupakan kecamatan dengan wilayah terluas di Kabupaten Barito Kuala. Hal ini terkait dengan letak dan kondisi geografis Kecamatan Kuripan itu sendiri dan belum terpenuhinya akses transportasi secara optimal. Akan tetapi jika dilihat dari tingkat kepadatannya dapat diketahui bahwa Kecamatan Alalak dan Wanaraya merupakan kecamatan yang padat penduduknya di Kabupaten Barito Kuala yaitu masing-masing sebesar 392,28 dan 382,96 jiwa/km2. Sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terkecil masih dipegang oleh Kecamatan Kuripan yaitu sekitar 15,81 jiwa/km2. Hal ini wajar, mengingat wilayah paling luas dengan penduduk paling sedikit di Kabupaten Barito Kuala. Selebihnya, penduduk tersebar merata hampir di seluruh Kabupaten Barito Kuala.

Penduduk kabupaten Barito Kuala Tahun 2009 berjumlah 275.143 jiwa yang terdiri dari laki–laki 135.240 jiwa dan perempuan 139.903 jiwa dengan sex ratio sebesar 96,67. Dibandingkan dengan tahun 2008 jumlah penduduk pada tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 1,03 %.

Jumlah rumah tangga di Kabupaten Barito Kuala adalah sebesar 77.282 rumah tangga. Dibandingkan dengan tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 2,53 %. Kepadatan penduduk per km2 di Kabupaten Barito Kuala adalah 92 jiwa, di mana Kecamatan Alalak adalah kecamatan terpadat dengan 392 jiwa per km2 disusul Kecamatan Wanaraya 383 jiwa per km2, sedangkan kecamatan yang kecil kepadatannya yaitu Kecamatan Kuripan sebesar 16 jiwa per km2.

Berdasarkan kelompok umur, hampir dari setengah penduduk Kabupaten Barito Kuala adalah penduduk usia dewasa/produktif (20 - 59 th) tercatat sebesar 56,50 persen, kemudian penduduk usia sekolah (5 - 19 th) sebesar 27,15 persen, usia tua/lansia (> 60) sebesar 5,80 persen dan usia balita (0 - 4 th) sebesar 10,55 persen. Pada tahun 2009, penduduk usia tua/lansia dan penduduk usia sekolah mengalami penurunan 58,91 persen dan 3,44 persen, namun untuk penduduk usia balita dan usia produktif mengalami peningkatan masing-masing sebesar 20,17 persen dan 17,79 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa angka kelahiran mengalami peningkatan dan usia harapan hidup penduduk Kabupaten Barito Kuala menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Mayoritas penduduk Kabupaten Barito Kuala berasal dari etnis Banjar. Di Kecamatan Bakumpai juga terdapat etnis Dayak Bakumpai. Selain itu terdapat pula etnis Jawa dan Bali yang mendiami kawasan transmigrasi. Suku bangsa di kabupaten ini antara lain:[11]

  1. Suku Banjar: 184.180 jiwa
  2. Suku Jawa: 37.121 jiwa
  3. Suku Bakumpai: 18.892 jiwa
  4. Suku Sunda: 1.249 jiwa
  5. Suku Buket: 826 jiwa
  6. Suku Madura: 299 jiwa
  7. Suku Bugis: 211 jiwa
  8. Suku lainnya: 3.126 jiwa

Lagu Daerah[sunting | sunting sumber]

Lagu-lagu daerah yang berasal dari wilayah ini antara lain:

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Tempat Wisata[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Barito Kuala memiliki beberapa tempat wisata, yaitu:

  • Agrowisata Terantang
  • Jembatan Barito
  • Jembatan Rumpiyang
  • Makam H. Abdussamad
  • Makam Datu Kayan
  • Makam Datu Aminin
  • Pulau Kembang
  • Pulau Kaget
  • Wisata Argo Sei. Kambat
Didahului oleh:
Kawedanan Barito Kuala
Diteruskan oleh:
tidak ada

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  2. ^ a b c d e "Permendagri no.137 tahun 2017". 27 Desember 2017. Diakses tanggal 12 Juni 2018. 
  3. ^ "Kabupaten Baritone Kuala Dalam Angka 2016"
  4. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2016". Diakses tanggal 2018-07-06. 
  5. ^ oza (3 Februari 2011). "Prospek Menjadi Kota Metropolis". Radar Banjarmasin. 
  6. ^ "Konsep Metropolitan Banjar Bakula Akhirnya Diakui Pusat". Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. 04 Februari 2011. 
  7. ^ Saleh, Idwar; SEJARAH DAERAH TEMATIS Zaman Kebangkitan Nasional (1900-1942) di Kalimantan Selatan, Depdikbud, Jakarta, 1986.
  8. ^ "Sejarah Marabahan". amatyadisamuntai.blogspot.co.id. 3 April 2009. Diakses tanggal 4 Desember 2016. 
  9. ^ "Daftar Bupati Barito Kuala". baritokualakab.go.id. Diakses tanggal 4 Desember 2016. 
  10. ^ "Bupati Perempuan Pertama di Kabupaten Batola Dilantik Gubernur Kalsel". Banjarmasin Post Online. 4 November 2017. Diakses tanggal 5 November 2017. 
  11. ^ Sumber: Badan Pusat Statistik - Sensus Penduduk Tahun 2000

Pranala luar[sunting | sunting sumber]