Taman Nasional Sebangau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kawasan Taman Nasional Sebangau

Taman Nasional Sebangau merupakan salah satu taman nasional yang terletak di Kalimantan Tengah, Indonesia. Dalam pembagian administratif, Taman Nasional Sebangau terletak di tiga kabupaten. Masing-masing yaitu Kabupaten Katingan (52%), Kabupaten Pulang Pisau (38) dan Kota Palangka Raya (10%). Taman Nasional Sebangau terdiri dari hutan gambut. Taman nasional ini disahkan oleh Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 423/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004. Lahan yang ditempati seluas 568.700 hektar. Flora yang hidup di dalam taman nasional ini antara lain ramin, jelutung, bintangur, meranti, dan nyatoh. Sedangkan jenis fauna yang hidup dengan populasi yang besar adalah orang utan dan owa kalimantan. Taman Nasional Sebangau dijadikan sebagai kawasan perlindungan lahan basah. 81% wilayahnya merupakan ekosistem lahan gambut. Taman Nasional Sebangau menjadi sumber utama bagi fungsi hidrologi di Pulau Kalimantan karena menjadi kawasan penyerap karbon. Permasalahan yang ditemui dalam Taman Nasional Sebangau adalah pengadaan perkebunan kelapa sawit dan kebakaran hutan. Ini berdampak pada perubahan iklim di taman nasional ini.[1] Keanekaragaman hayati di Taman Nasional Sebangau cukup tinggi. Taman nasional ini menjadi habitat bagi 166 jenis flora, 35 jenis mamalia, dan 150 jenis burung. Selain itu, hidup pula berbagai jenis reptil dan ikan. Fungsi alami dari Taman Nasional Sebangau adalah sebagai habitat utama bagi orang utan dan bekantan.[2]

Luas dan kekayaan[sunting | sunting sumber]

Orang utan

Taman Nasional Sebangau mempunyai luas membentang sekitar 568.700 hektare, mengalami perubahan melalui SK Menteri Kehutanan Nomor: 529/Menhut-II/2012 dengan luas menjadi 542.141 hektare. Adapun kekayaan alam yang dimilikinya meliputi 808 jenis flora, 35 jenis mamalia, 182 jenis burung, dan 54 spesies ular. Jenis-jenis flora yang tumbuh di areal rawa gambut TNS sangatlah spesifik dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi baik dari hasil kayunya maupun hasil non-kayu seperti getah-getahan, rotan, obat-obatan dan lain sebagainya. Beberapa contoh jenis kayu komersial tinggi seperti Ramin (Gonystylus bancanus), Meranti Jawa (Shorea pauciflora, Shorea tysmanniana, S.uluginosa), Jelutung (Dyera lowii), Nyatoh (Palaquium spp), Bintangur (Calophyllum spp), Kapur Naga (Calophyllum macrocarpum) dan lain-lain. Sedangkan untuk jenis fauna yang spesifik di antaranya ada orangutan (Pongo pygmaeus), Bakantan (Nasalis larvatus), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Owa (Hylobates agilitis), Burung Rangkong (hornbills), Macan Daun, Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan lain-lain. selain itu, di taman nasional ini juga terdapat riset Orangutan liar yang dikelola bersama WWF dan Masyarakat desa keruing. sebagai riset Orangutan dan flora fauna lain, tentu hasilnya juga dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat banyak serta konservasi Flora fauna bersangkutan.

Kelembagaan[sunting | sunting sumber]

Pos Sungai Koran, Taman Nasional Sebangau

Taman Nasional Sebangau, terdiri dari 3 (tiga) Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) yaitu SPTN Wilayah I di Kota Palangka Raya, SPTN Wilayah II di Kabupaten Pulang Pisau dan SPTN Wilayah III di Kabupaten Katingan. Dalam pelaksanaan tugas fungsinya dibagi dalam beberapa sanggraloka pengelolaan:

  1. Sanggraloka Sebangau Hulu
  2. Sanggraloka Habaring Hurung
  3. Sanggraloka Mangkuk
  4. Sanggraloka Bangah
  5. Sanggraloka Sebangau Kuala
  6. Sanggraloka Baun Bango
  7. Sanggraloka Muara Bulan, dan
  8. Sanggraloka Mendawai

Pemanfaatan[sunting | sunting sumber]

Ekosistem rawa gambut di dalam Taman Nasional Sebangau dimanfaatkan untuk pelestarian lingkungan secara alami. Hutan rawa gambut yang ada di dalamny berperan sebagai penyerap dan penyimpan karbon dalam jumlah besar. Selain itu, ekosistem ini juga menjadi bagian dari sistem pengaturan tata air di Kabupaten Katingan.[3]

Rehabilitasi[sunting | sunting sumber]

Kegiatan rehabilitasi Taman Nasional Sebangau dimulai pada tahun 2005 hingga tahun 2008. Bentuk kegiatannya berupa penanaman bibit tanaman lokal. Pembuatan bibit diadakan di sekitar perkemahan Sanitra Sebangau Indah. Bibit yang ditanam adalah jenis lokal seperti S. balangeran, A. pneumatophora, D. polyphylla, dan Diospyros sp. Penanaman diadakan pada lah seluas 686 ha. Selain itu, reboisasi juga telah dilakukan melalui kerja sama dengan masyarakat setempat, perusahaan swasta dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Penanaman bibit sebanyak 100 ribu batang pohon selesai pada tahun 2008 dengan luas 250 ha dan dibantu oleh Garuda Indonesia. Kegiatan rehabilitasi lain juga diadakan oleh Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan serta Komando Daerah Militer XII/Tanjung Pura. Keduanya bekerja sama menanam bibit di lahan seluas 1.000 ha dalam wilayah Kecamatan Sebangau Kuala, Kabupaten Pulang Pisau.[4]

Ancaman[sunting | sunting sumber]

Beberapa ancaman yang ada terhadap Taman Nasional Sebangau antara lain:

  • Pembalakan liar
  • Kerusakan hidrologi dan lahan gambut
  • Kebakaran hutan dan lahan
  • Banjir
  • Pembangunan infrastruktur
  • Sampah

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Jaringan Pemantau Independen Kehutanan dan Environmental Investigation Agency (2018). Hilangnya Hutan dan Gambut Kita: Sebuah Investigasi tentang Konversi Hutan dan Gambut serta Pembalakan Liar di Taman Nasional Sebangau (PDF). Bogor: Jaringan Pemantau Independen Kehutanan. hlm. 4. 
  2. ^ Pujiati (2017). "Restorasi Ekosistem Gambut di Taman Nasional Sebangau: Kembalinya Fungsi Tata Air dan Menjauhnya Kebakaran Gambut" (PDF). Belajar dari Lapangan: Kisah Keberhasilan Pemulihan di Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam secara Partisipatif. Forda Press: 126. ISBN 978-602-6961-27-3. 
  3. ^ Kalima, T., dan Denny (2019). "Komposisi Jenis dan Struktur Hutan Rawa Gambut Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah". Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 16 (1): 52. doi:10.20886/jphka.2019.16.1.51-72. ISSN 2540-9689. 
  4. ^ Tata, H.L, dan Adi Susmianto (2016). Prospek Paludikultur Ekosistem Gambut Indonesia. Bogor: Forda Press. hlm. 42. ISBN 978-602-6961-05-1.