Taman Nasional Wasur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Taman Nasional Wasur
IUCN Kategori II (Taman Nasional)
Wasur Rainbow 1994.jpg
Peta memperlihatkan letak Taman Nasional Wasur
Peta memperlihatkan letak Taman Nasional Wasur
Wasur NP
Location of Wasur NP in Papua
LetakPapua, Indonesia
Kota terdekatMerauke
Koordinat8°36′S 140°50′E / 8.600°S 140.833°E / -8.600; 140.833Koordinat: 8°36′S 140°50′E / 8.600°S 140.833°E / -8.600; 140.833
Luas4,138 km²
Didirikan1990
Pihak pengelolaKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Situs webwww.tamannasionalwasur.com

Taman Nasional Wasur adalah salah satu taman nasional yang ada di Indonesia. Letaknya berada di bagian tenggara Provinsi Papua. Namanya merupakan nama salah satu desa di dalamnya. Nama tersebut berasal dari kata bahasa Marori yaitu Waisol yang berarti kebun. Taman Nasional Wasur merupakan lahan basah yang tergenang air selama 4 - 6 bulan dalam setahun. Di dalamnya terdapat habitat burung migran. Keseimbangan ekosistem di dalam Taman Nasional Wasur dipengaruhi oleh siklus air. Pada musim kemarau, rawa-rawa terbentuk karena air surut melalui parit-parit alami yang terhubung ke laut. Dalam sistem koordinat geografi, kawasan Taman Nasional Wasur terletak antara 140o 29' – 141o 00' Bujur Timur dan 08o 04' – 09o 07' Lintang Selatan. Dalam pembagian administratif Indonesia, Taman Nasional Wasur masuk dalam wilayah Kabupaten Merauke di 4 kecamatan. Kecamatan-kecamatan ini ialah Kecamatan Merauke, Kecamatan Jagebob, Kecamatan Sota dan Kecamatan Naukenjarai.[1] Wilayah di dalam Taman Nasional Wasur telah dihuni oleh empat suku yaitu Suku Kanume, Suku Yeinan, Suku Marori Mengey dan Suku Marind. Keempat suku ini tinggal di kawasan hutan adat.[2]

Biodiversitasnya membuat taman ini dijuluki sebagai "Serengeti Papua". Sekitar 70% dari luas wilayah ini terdiri dari sabana, sementara vegetasi lainnya merupakan hutan rawa-rawa, hutan monsun, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan sagu. Tamana yang dominan meliputi spesies mangrove, Terminalia dan Melaleuca. Kawasannya merupakan bagian dari lahan basah terbesar di Papua dan sedikit terganggu oleh aktivitas manusia. Ini disebabkan oleh adanya masyarakat adat yang bertempat tinggal di dalam kawasan dan merupakan pemilik hak tanah ulayat hutan adat.[3] Taman Nasional Wasur juga merupakan tempat konservasi eksitu bagi beragam jenis mangga.[4]

Keanekaragaman Hayati[sunting | sunting sumber]

Jenis tumbuhan yang mendominasi hutan di kawasan taman nasional ini antara lain api-api, tancang ketapang dan kayu putih. Jenis satwa yang umum dijumpai antara lain kanguru pohon, kesturi raja, kasuari gelambir, dara mahkota/mambruk, cendrawasih kuning besar, cendrawasih raja, cendrawasih merah, buaya air tawar, dan buaya air asin. Lahan basah di taman nasional ini merupakan ekosistem yang paling produktif dalam menyediakan bahan pakan dan perlindungan bagi kehidupan berbagai jenis ikan, udang dan kepiting yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Berbagai jenis satwa seperti burung migran, walabi dan kasuari sering datang dan menghuni Danau Rawa Biru.

Akses Transportasi[sunting | sunting sumber]

Taman Nasional Wasur dapat dicapai dari Jayapura ke Merauke dengan waktu 1,5 jam. Kemudian dari Merauke ke lokasi menggunakan kendaraan roda empat dalam waktu satu sampai dua jam melalui jalan trans Irian.

Pemanfaatan[sunting | sunting sumber]

Taman Nasional Wasur dijadikan sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat adat Kanume di Kabupaten Merauke. Pemanfaatannya berupa penyulingan minyak kayu putih. Masyarakat adat Kanume juga bekerja sama dengan suku Marori, suku Mengey dan suku Yeinan.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kosmaryandi, Nandi (2012). "Taman Nasional Wasur, Mengelola Kawasan Konservasi di Wilayah Masyarakat Adat" (PDF). Media Konservasi. 17 (1): 7. 
  2. ^ Eghenter, dkk. (2012). Masyarakat dan Konservais: 50 Kisah yang Menginspirasi dari WWF untuk Indonesia. WWF Indonesia. hlm. 32. ISBN 978-979-1461-30-6. 
  3. ^ Indonesian Ministry of Forestry, retrieved 2009-10-30
  4. ^ Rugayah (2017). Tumbuhan Langka Indonesia: 50 Jenis Tumbuhan Terancam Punah (PDF). Jakarta: LIPI Press. hlm. 14. ISBN 978-979-799-884-4. 
  5. ^ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2013). Masyarakat Adat di Indonesia: Menuju Perlindungan Sosial yang Inklusif (PDF). Jakarta: Direktorat Perlindungan dan Kesejahteraan Masyarakat. hlm. 44. ISBN 978-602-17638-1-0. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]