Taman Nasional Batang Gadis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Peta Taman Nasional Batang Gadis-Batang Gadis National Park.
Subdistric Sorikmarapi Highland with Batang Gadis National Park.
Subdistric Sorikmarapi Highland withhout Batang Gadis National Park.
Gunung Sorik Marapi die taman nasional.

Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) adalah sebuah taman nasional di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatra Utara, terletak di 99° 12’ 45" BT sampai dengan 99° 47’ 10" dan 0° 27’ 15" sampai dengan 1° 01’ 57" LU dan secara administrasi wilayah ini dikelilingi 68 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal. Nama taman nasional ini berasal dari dari nama sungai utama yang mengalir dan membelah Kabupaten Madina, Sungai Batang Gadis.

TNBG meliputi kawasan seluas 108.000 hektare atau 26% dari total luas Madina yang terletak pada ketinggian 300 s/d 2.145 meter di atas permukaan laut dengan titik tertinggi puncak Gunung Sorik Marapi.

Surat keputusan Menteri Kehutanan No. 126/Menhut-II/2004 tanggal 29April 2004 tentang perubahan fungsi dan penunjukan hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan hutan produksi tetap di Kab. Mandailing Natal Propinsi Sumatera Utara seluas 108.000 Ha sebagai Kawasan Pelestarian Alam dengan fungsi Taman Nasional Batang Gadis. Dan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.169/Menlhk-II/2015 tentang Penunjukan Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional. TNBG terdiri dari dari kawasan hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan hutan produksi tetap. Hutan lindung yang dialih fungsikan seluas 101.500 ha, terdiri dari hutan lindung Register 4 Batang Gadis I, hutan Register 5 Batang Gadis II komp I dan II, Register 27 Batang Natal I, Register 28 Batang Natal II, Register 29 Bantahan Hulu dan Register 30 Batang Parlampuan I yang sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung sejak masa pemerintahan Belanda dalam kurun waktu 1921 – 1924. Sementara kawasan hutan produksi yang dialihkan meliputi areal eks HPH PT. Gruti, seluas 5.500 ha, dan PT. Aek Gadis Timber seluas 1.000 ha.

Pada tahun 2012, terjadi pengurangan luas TNBG dari ±108.000 ha menjadi ±72.150 ha sebagai konsekuensi hukum vonis Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 29P/HUM/2OO4  tanggal 17 September  2008 dari  permohonan keberatan hak uji materiil PT. Sorikmas Mining sebagai Pemohon. Setelah ditata batas, TNBG dikukuhkan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : SK.3973/Menhut-VII/KUH/2014 dengan luas 72.803,75

Tujuan pembentukan taman nasional adalah untuk menyelamatkan satwa dan habitat alam. TNBG juga sebagai simbol pengakuan nilai-nilai kearifan lokal dalam mengelola hutan.

Salah satu kearifan tradisional masyarakat setempat ini dibuktikan dengan lubuk larangan atau naborgo-borgo atau harangan rarangan atau hutan larangan, merupakan beberapa contoh kearifan lokal yang hingga kini masih lestari.

Pembentukan ini juga sangat penting mengingat bahwa laju kerusakan hutan alam di provinsi ini sudah pada tingkat yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Departemen Kehutanan pada tahun 2003, kerusakan hutan di kawasan ini mencapai 3,8 juta ha per tahun. Kerusakan hutan di Sumatra Utara sendiri mencapai 76 ribu ha per tahun dalam kurun waktu 1985 – 1998.

Sampai akhir November 2004 kerusakan hutan yang disebabkan penebangan liar (illegal logging) dan kebakaran hutan di Sumut mencapai 694.295 ha, untuk hutan lindung mencapai 207.575 ha, hutan konservasi 32.500 ha, hutan bakau 54 220 ha dan hutan produksi sekitar 400.000 ha.

Pembentukan taman nasional ini juga tidak semata-mata upaya pemerintah saja, melainkan atas jerih payah masyarakat dan kalangan lembaga swadaya masyarakat seperti, BITRA Indonesia, Conservation International Indonesia (CII), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut, PUSAKA Indonesia, Yayasan Leuser Lestari (YLL), Yayasan Samudra dan lain-lain.

Selain itu, potensi keanekaragaman jenis flora dan fauna yang tinggi menjadikannya habitat bagi beberapa satwa yang dilindungi seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), beruang madu (Helarctos malayanus), siamang (Hylobates syndactylus), ungko (Hylobates closii), kambing hutan (Naemorhedus sumatrae), rusa (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), kucing emas (Catopuma temminckii), landak (Hystrix brachyura), macan dahan (Neofelis nebulosa), juga berbagai macam burung, amfibi, dan reptil. Sedangkan untuk flora, saat ini terdapat dua jenis yang dilindungi seperti bunga Rafllesia dan kantong semar. Potensi pohon besar juga masih relatif banyak di TNBG (TNBG, 2019).

Topografi kawasan hutan TNBG berupa perbukitan sampai pegunungan yang memiliki ketinggian bervariasi, dengan kemiringan rata-rata lebih dari 40%. Ketinggian lokasi dari permukaan air laut berkisar antara 300 meter sampai ± 2.145 meter dengan puncak tertinggi berada pada puncak Gunung Sorik Marapi. Kombinasi tingginya curah hujan, dominasi kemiringan lereng lebih dari 40%, kondisi topografi yang umumnya perbukitan dan pegunungan, serta terletak di daerah vulkanis aktif membawa kondisi geologis yang labil pada TNBG (Balai BKSDA II Sumut, 2005).

Objek wisata[sunting | sunting sumber]

Objek wisata di Madina, berpusat pada desa-desa yang berada di kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Yakni Desa Pastap Julu, dan Sibanggor Julu. Gunung Sorik Marapi setinggi 2.145 meter, pendakiannya bisa dilakukan melalui desa Sibanggor Julu. ada juga rest area di Sopotinjak sebagai tempat persinggahan dan beristirahat ataupun melakukan penelitian bunga rafflesia.