Pulau Nias

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

1°6′LU 97°32′BT / 1,1°LU 97,533°BT / 1.100; 97.533

Nias
Nias Topography.png
Geografi
Lokasi Asia Tenggara
Koordinat 1°6′LU 97°32′BT / 1,1°LU 97,533°BT / 1.100; 97.533
Luas 4.771 km²
Negara
Indonesia
Provinsi Sumatera Utara
Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Barat, Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli

Nias (bahasa Nias Tanö Niha) adalah kepulauan yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera, Indonesia, dan secara administratif berada dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara. Pulau ini merupakan pulau terbesar dan paling maju diantara jejeran pulau-pulau di pantai barat Sumatera, dihuni oleh mayoritas suku Nias (Ono Niha) yang masih memiliki budaya megalitik. Daerah ini memiliki objek wisata penting seperti selancar (surfing), rumah tradisional, penyelaman, fahombo (lompat batu).

Pulau dengan luas wilayah 5.625 km² ini berpenduduk hampir 900.000 jiwa.

Agama mayoritas di daerah ini adalah Kristen Protestan dimana 90% penduduknya memeluk agama ini, sedangkan sisanya beragama Katolik, Islam, dan Budha. Penduduk yang memeluk agama Islam pada umumnya berada di wilayah pesisir Kepulauan Nias.

Pulau Nias yang sebelumnya adalah hanya 1 kabupaten saja, saat ini telah dimekarkan menjadi empat kabupaten dan 1 kota, yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli.

Pembagian Daerah Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kota Gunungsitoli

Kabupaten Nias Utara

Kabupaten Nias Barat

Kabupaten Nias Selatan

Kabupaten Nias

Tsunami & Gempa Bumi 2004 dan 2005[sunting | sunting sumber]

Pada 26 Desember 2004, gempa bumi Samudra Hindia 2004 terjadi di wilayah pantai barat pulau ini sehingga memunculkan tsunami setinggi 10 meter di daerah Sirombu dan Mandrehe. Korban jiwa akibat insiden ini berjumlah 122 jiwa dan ratusan keluarga kehilangan rumah.

Pada 28 Maret 2005, pulau ini kembali diguncang gempa bumi, tadinya diyakini sebagai gempa susulan setelah insiden Desember 2004, namun kini peristiwa tersebut merupakan gempa bumi terkuat kedua di dunia sejak 1965. Sedikitnya 638 orang dilaporkan tewas, serta ratusan bangunan hancur.

Hampir tidak ada bangunan perumahan rakyat di seluruh Pulau Nias yang tidak mengalami kerusakan, akibat gempa itu.

Menurut Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Perwakilan Nias, bencana telah menyebabkan 13.000 rumah rusak total, 24.000 rumah rusak berat, dan sekitar 34.000 rumah rusak ringan. Sebanyak 12 pelabuhan dan dermaga hancur, 403 jembatan rusak dan 800 km jalan kabupaten dan 266 km jalan provinsi hancur. Sebanyak 723 sekolah dan 1.938 tempat ibadah rusak.

Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias[sunting | sunting sumber]

Usulan untuk pembentukan daerah otonomi baru (DOB) Provinsi Kepulauan Nias terus diperjuangkan oleh masyarakat Nias. Sebagian besar masyarakat Nias mengharapkan agar pembentukan Provinsi Kepulauan Nias (Kepni) ini dapat segera direalisasikan. Alasan yang sangat kuat tentang usulan ini dikarenakan pemerataan kesejahteraan di Provinsi Sumatera Utara dinilai hanya terpusat di bagian timur provinsi tersebut. Kota Medan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Sumatera Utara berjarak sangat jauh dari Pulau Nias, hal ini disebabkan karena secara geografis, posisi ibukota Provinsi ini berada di bagian timur.

Anggapan oleh sebagian orang yang menyatakan bahwa pembentukan Provinsi Kepulauan Nias ini hanyalah untuk menyalurkan syahwat kekuasaan politik sebagian tokoh Nias adalah salah besar. Fakta di lapangan adalah adanya ketimpangan yang sangat tinggi antara kesejahteraan daerah di bagian timur provinsi Sumatera Utara dengan daerah bagian barat provinsi tersebut, terutama di daerah kepulauan Nias. Tim pemantau dari pemerintah pusat dan provinsi biasanya menggunakan jalur perhubungan udara apabila berkunjung ke Pulau Nias sehingga kurang merasakan secara nyata betapa jauhnya jarak perjalanan dari pusat pemerintahan provinsi ke daerah kepulauan Nias.

Transportasi Menuju Pulau Nias[sunting | sunting sumber]

Perjalanan menuju Pulau Nias dari Kota Medan (ibukota Provinsi Sumatera Utara) dapat ditempuh melalui dua jalur perhubungan yakni perhubungan darat-laut dan perhubungan udara. Apabila memilih perjalanan darat-laut maka perjalanan dari Kota Medan menuju Pelabuhan Sibolga dapat ditempuh selama kurang lebih 10-12 jam menggunakan angkutan darat seperti mobil pribadi, bus umum, atau mobil travel. Di pelabuhan ini, perjalanan menuju Pulau Nias dapat menggunakan Kapal Ferry yang setiap hari berlayar dari dan menuju Pulau Nias. Perjalanan laut ini dapat ditempuh selama 12 jam perjalanan. Apabila memilih perjalanan udara, penerbangan dari Kota Medan ke Gunungsitoli dapat ditempuh dari Bandar Udara Internasional Kualanamu dalam waktu kurang lebih 55 menit menuju ke Bandar Udara Binaka, dengan menggunakan maskapai Garuda Indonesia dan juga maskapai Lion Air Group yang dioperasikan oleh anak perusahaannya Wings Air.

Pada pertengahan Juli 2016, penerbangan dari Kota Padang menuju Kota Gunungsitoli juga dioperasikan oleh Wings Air setiap hari. Meskipun sebelumnya di jalur ini sudah ada Susi Air yang melayani penerbangan dari Kota Padang, Sumatera Barat ke Pulau Nias tetapi penerbangan ini harus transit terlebih dahulu di Pulau Tello (Kepulauan Batu, Nias Selatan).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]