Tsunami

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Gambar Tsunami menurut Katsushika Hokusai, seorang pelukis Jepang dari abad ke 19.

Tsunami (津波, terj. har. ombak besar di pelabuhan) adalah perpindahan badan air yang disebakan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500–1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, tetapi ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.

Istilah[sunting | sunting sumber]

Tsunami

Tsunami (Chinese characters).svg

"Tsunami" dalam tulisan kanji
Nama Jepang
Kanji: 津波

Kata tsunami adalah serapan dari bahasa Jepang 津波 (tsunami): tsu berarti pelabuhan, dan nami berarti gelombang. Nama ini diperkirakan berasal dari para nelayan Jepang, yang mengamati bahwa kapal-kapal dan bangunan di pelabuhan rusak akibat fenomena ini sekalipun mereka tidak merasakan gelombang besar ketika berada di laut lepas.[1] Kadang, tsunami disebut "gelombang pasang" oleh orang awam, tetapi nama yang dulunya populer ini ditolak para pakar karena fenomena ini tidak ada hubungannya dengan fenomena pasang surut yang diakibatkan gravitasi matahari dan bulan.[2] Para pakar lebih menyukai istilah tsunami, walaupun sebenarnya fenomena ini tidak hanya terjadi di pelabuhan.[3]

Tidak banyak bahasa yang memiliki padanan dari istilah ini. Contohnya, dalam bahasa Aceh, tsunami disebut ië beuna atau alôn buluël (tergantung daerah). Kata smong dan emong digunakan di bahasa-bahasa Pulau Simeulue, sebelah barat pantai Sumatera. Dalam bahasa Tamil di pantai timur India, tsunami disebut aazhi peralai.[1]

Penyebab terjadinya tsunami[sunting | sunting sumber]

Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan pada dasar lautan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air.[4] Dalam proses kembalinya air yang terganggu ini menuju ekuilibrium atau keadaan tenang, suatu gelombang dapat terbentuk dan menyebar meninggalkan pusat gangguan, sehingga menyebabkan tsunami.[5] Peristiwa-peristiwa yang dapat menyebabkan perpindahan air seperti ini di antaranya gempa bumi bawah laut, longsor yang terjadi di dasar laut, jatuhnya benda ke dalam air seperti letusan gunung, meteor, atau ledakan senjata.[6][7]

Pemicu paling umum adalah gempa bumi yang mengakibatkan sekitar 80%–90% dari seluruh tsunami.[8] Gempa yang paling berpotensi menyebabkan tsunami adalah gempa yang terjadi pada zona penunjaman (daerah pertemuan dua lempeng yang membenamkan salah satu lempeng tersebut) yang dangkal. Namun, tidak semua gempa seperti ini menyebabkan tsunami. Biasanya, hanya gempa berkekuatan di atas 7,0 skala magnitudo momen yang memiliki potensi ini. Semakin kuat suatu gempa, semakin besar pula peluang tsunami yang disebabkan oleh gempa tersebut.[9]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Gupta & Gahalaut 2014, hlm. 1.
  2. ^ Rinard Hinga 2015, hlm. 338.
  3. ^ Awate 2016, hlm. 114.
  4. ^ Rinard Hinga 2015, hlm. 338–339.
  5. ^ Rinard Hinga 2015, hlm. 339.
  6. ^ Ward 2011, hlm. 5–9.
  7. ^ Margaritondo 2005, hlm. 402.
  8. ^ Ward 2011, hlm. 5.
  9. ^ Rinard Hinga 2015, hlm. 340.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]