Lompat ke isi

Gempa bumi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gempa bumi dengan skala magnitudo 6,0+ dari tahun 1900 sampai 2017
Bangunan hancur akibat dari Gempa bumi Yogyakarta Mei 2006

Gempa bumi (bahasa Inggris: Earthquake) adalah fenomena guncangan permukaan tanah akibat pelepasan energi secara tiba-tiba di bawah litosfer sehingga menimbulkan gelombang seismik. Intensitas gempa bumi bisa bermacam-macam, mulai dari gempa yang sangat lemah dan tidak dapat dirasakan, hingga gempa bumi dahsyat yang melempar benda-benda ke udara, merusak infrastruktur penting, dan menimbulkan kehancuran di seluruh kota. Aktivitas gempa bumi di suatu lokasi tertentu adalah laju rata-rata pelepasan energi seismik per satuan volume.

Gempa bumi dapat terjadi secara alami atau disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti penambangan, fracking, dan uji coba nuklir. Titik awal pecahnya disebut hiposenter atau fokus, sedangkan permukaan tanah yang berada tepat di atasnya disebut episentrum. Gempa bumi dapat disebabkan oleh kesalahan geologis, atau oleh aktivitas gunung berapi, tanah longsor, dan peristiwa lainnya. Frekuensi, jenis, dan ukuran gempa bumi di suatu wilayah menentukan aktivitas seismiknya, yang mencerminkan tingkat rata-rata pelepasan energi seismik.

Peristiwa gempa bumi yang paling terkenal adalah gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, memakan lebih dari 230.000 korban jiwa, dan gempa bumi terkuat yang pernah tercatat yaitu gempa bumi Valdivia 1960 di Chili dengan skala 9,5 Mw. Gempa bumi menimbulkan berbagai dampak, seperti guncangan tanah dan pencairan tanah, yang mengakibatkan kerusakan besar dan korban jiwa. Jika episentrum gempa besar terletak di lepas pantai, dasar laut mungkin akan mengalami pergeseran yang cukup besar sehingga menyebabkan tsunami. Gempa bumi juga dapat memicu tanah longsor. Gempa bumi dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik di sepanjang sesar aktif, termasuk sesar normal, sesar terbalik (dorong), dan sesar mendatar, dengan dinamika pelepasan energi dan patahan yang diatur oleh teori pantulan elastis.

Terminologi[sunting | sunting sumber]

Gempa bumi adalah guncangan permukaan bumi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba di litosfer yang menimbulkan gelombang seismik. Gempa bumi juga bisa disebut sebagai gempa, getaran, atau gempa bumi. Kata tremor juga digunakan untuk gemuruh seismik non-gempa.

Dalam pengertian yang paling umum, gempa bumi adalah peristiwa seismik apa pun—baik yang terjadi secara alami maupun yang disebabkan oleh manusia—yang menimbulkan gelombang seismik. Gempa bumi sebagian besar disebabkan oleh pecahnya patahan geologi, namun juga disebabkan oleh peristiwa lain seperti aktivitas gunung berapi, tanah longsor, ledakan ranjau, fracking, dan uji coba nuklir. Titik pecahnya awal suatu gempa disebut hiposenter atau fokusnya. Episentrum adalah titik di permukaan tanah tepat di atas hiposenter.

Aktivitas seismik suatu wilayah adalah frekuensi, jenis, dan ukuran gempa bumi yang dialami dalam kurun waktu tertentu. Kegempaan di suatu lokasi tertentu di bumi adalah laju rata-rata pelepasan energi seismik per satuan volume.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Peta lempeng tektonik
Gerakan lempengan tektonik global

Gempa bumi tektonik terjadi dimana saja di muka bumi dimana terdapat simpanan energi regangan elastis yang cukup untuk mendorong perambatan rekahan di sepanjang bidang patahan. Sisi-sisi patahan bergerak melewati satu sama lain dengan mulus dan secara aseismik hanya jika tidak terdapat ketidakteraturan atau ketimpangan di sepanjang permukaan patahan yang meningkatkan tahanan gesek. Sebagian besar permukaan patahan memiliki kekasaran seperti itu, yang mengarah ke bentuk perilaku stick-slip.

Gempa bumi sering menyebabkan banyak korban jiwa, karena letaknya yang dekat dengan daerah berpenduduk padat atau lautan, dimana gempa bumi sering menimbulkan tsunami yang dapat menghancurkan berjarak ribuan kilometer jauhnya. Wilayah-wilayah yang paling berisiko mengalami banyak korban jiwa adalah wilayah-wilayah dimana gempa bumi relatif jarang terjadi namun kuat, dan wilayah-wilayah miskin dengan aturan bangunan seismik yang lemah, tidak ditegakkan, atau tidak ada sama sekali.

Jenis Gempa bumi[sunting | sunting sumber]

Gempa bumi Tektonik[sunting | sunting sumber]

Tiga tipe patahan:
A. Strike-slip
B. Normal
C. Terbalik

Gempa bumi tektonik terjadi di mana saja di bumi di tempat yang terdapat energi tekanan elastis yang terakumulasi dengan cukup untuk mendorong perambatan fraktur di sepanjang bidang patahan. Permukaan bumi terdiri dari lempeng-lempeng yang berdekatan antara satu dengan yang lain. Lempeng-lempeng ini selalu mengalami pergerakan yang per tahunnya bisa mencapai 10 cm.[1] Sisi-sisinya hanya dapat bergerak saling melewati satu sama lain secara mulus dan tanpa disertai getaran (aseismik) jika tidak adanya ketidakteraturan atau asperitas di sepanjang permukaan patahan yang meningkatkan hambatan gesekan. Sebagian besar permukaan lempeng memiliki asperitas, yang menyebabkan bentuk perilaku pergesekan yang rapat. Saat patahan terkunci, gerakan relatif yang terus berlangsung di antara lempeng-lempeng akan meningkatkan tekanan dan, oleh karenanya, menyebabkan terakumulasinya energi tegangan di dalam volume di sekitar permukaan patahan. Hal ini terus berlanjut hingga tegangan antara dua atau lebih lempeng yang terjadi mencapai tingkat yang cukup untuk membobol asperitas, yang kemudian menyebabkan terjadinya pergeseran mendadak pada bagian patahan yang terkunci dan melepaskan energi yang terakumulasi.[2]

Gempa bumi sesar aktif[sunting | sunting sumber]

Sebuah diagram memperlihatkan episenter fokus gempa bumi

Ada tiga jenis sesar utama, yang dapat menyebabkan gempa bumi antar lempeng yaitu: sesar jenis normal, sesar naik (dorongan), dan sesar strike-slip. Sesar normal dan sesar terbalik merupakan contoh dari dip-slip, dimana perpindahan sepanjang sesar searah dengan arah kemiringan dan pergerakan pada patahan tersebut melibatkan komponen vertikal.

Panjang maksimum patahan yang dipetakan (dapat pecah dalam satu waktu) adalah sekitar 1.000 km (620 mil). Contohnya adalah gempa bumi di Alaska (1957), Chile (1960), dan Sumatra (2004), semuanya berada di zona subduksi. Gempa bumi terpanjang yang terjadi pada patahan strike-slip, seperti Patahan San Andreas (1857, 1906), Patahan Anatolia Utara di Turki (1939), dan Patahan Semangko di Sumatra (1926), panjangnya sekitar setengah hingga sepertiga panjang sepanjang batas lempeng subduksi, dan panjang sepanjang patahan normal bahkan lebih pendek.

Jenis Sesar[sunting | sunting sumber]

Sesar normal[sunting | sunting sumber]

Sesar normal terjadi terutama di daerah yang keraknya memanjang seperti batas divergen. Gempa bumi yang terkait dengan sesar normal umumnya berkekuatan kurang dari magnitudo 7. Besaran maksimum di sepanjang sesar normal bahkan lebih terbatas karena banyak di antaranya berlokasi di sepanjang pusat penyebaran.

Sesar naik[sunting | sunting sumber]

Sesar Baribis. Sesar naik aktif di wilayah Jakarta Selatan

Sesar naik atau terbalik terjadi di daerah yang keraknya memendek seperti pada batas konvergen. Sesar terbalik, terutama yang berada di sepanjang batas konvergen, berhubungan dengan gempa bumi paling kuat (disebut gempa bumi megathrust) termasuk hampir semua gempa berkekuatan magnitudo 8 atau lebih. Gempa bumi megathrust bertanggung jawab atas sekitar 90% total momen seismik yang terjadi di seluruh dunia.

Sesar geser[sunting | sunting sumber]

Sesar geser atau mendatar adalah struktur curam di mana kedua sisi sesar tergelincir secara horizontal melewati satu sama lain; batas transformasi adalah jenis sesar strike-slip tertentu. Sesar mendatar, khususnya transformasi benua, dapat menghasilkan gempa bumi besar hingga berkekuatan 8. Sesar mendatar cenderung berorientasi vertikal, menghasilkan lebar sekitar 10 km (6,2 mil) di dalam kerak bumi yang rapuh. Dengan demikian, gempa dengan magnitudo jauh lebih besar dari 8 tidak mungkin terjadi.

Sesar Lembang. Sesar geser aktif yang paling terkenal di Kabupaten Bandung

Selain itu, terdapat hierarki tingkat tegangan pada ketiga jenis gangguan. Sesar dorong dihasilkan oleh sesar tertinggi, sesar geser oleh sesar menengah, dan sesar normal oleh tingkat tegangan terendah. Hal ini dapat dengan mudah dipahami dengan mempertimbangkan arah tegangan utama terbesar, yaitu arah gaya yang “mendorong” massa batuan pada saat terjadi patahan. Pada sesar normal, massa batuan terdorong ke bawah dalam arah vertikal, sehingga gaya dorong (tegangan utama terbesar) sama dengan berat massa batuan itu sendiri.

Energi yang dilepaskan[sunting | sunting sumber]

Kehancuran pada Bandara Sendai, setelah Gempa bumi dan tsunami Tōhoku 2011

Untuk setiap peningkatan satuan besarnya, terdapat peningkatan sekitar tiga puluh kali lipat energi yang dilepaskan. Misalnya saja, gempa berkekuatan 6,0 dapat melepaskan energi sekitar 32 kali lebih banyak dibandingkan gempa berkekuatan 5,0 skala Richter, dan gempa berkekuatan 7,0 dapat melepaskan energi 1.000 kali lebih banyak dibandingkan gempa berkekuatan 5,0 magnitudo. Gempa berkekuatan 8,6 magnitudo dapat melepaskan energi yang sama dengan 10.000 bom atom seukuran yang digunakan pada Perang Dunia II.[3]

Hal ini terjadi karena energi yang dilepaskan saat gempa bumi, dan besarnya gempa, sebanding dengan luas patahan yang pecah dan penurunan tegangan. Oleh karena itu, semakin panjang dan lebar area patahan, maka besaran yang dihasilkan akan semakin besar. Namun, parameter terpenting yang mengendalikan magnitudo gempa maksimum pada suatu patahan bukanlah panjang maksimum yang tersedia, namun lebar tersedia karena lebar tersedia bervariasi sebesar 20 kali lipat. Sepanjang batas lempeng konvergen, sudut kemiringan bidang patahan sangat besar. dangkal, biasanya sekitar 10 derajat. Oleh karena itu, lebar bidang di bagian atas kerak bumi yang rapuh bisa mencapai 50–100 km (31–62 mil) (seperti di Jepang, 2011), atau (Alaska, 1964), yang memungkinkan terjadinya gempa bumi terkuat.

Kedalaman gempa bumi[sunting | sunting sumber]

Kerusakan pada gedung setelah Gempa bumi Sulawesi Barat 2021, dengan kedalaman dangkal 10 km (6,2 mi)

Mayoritas gempa bumi tektonik berasal dari Cincin Api Pasifik dengan kedalaman tidak melebihi puluhan kilometer. Gempa bumi yang terjadi pada kedalaman kurang dari 70 km (43 mil) diklasifikasikan sebagai gempa bumi "fokus dangkal", sedangkan gempa bumi dengan kedalaman fokus antara 70 dan 300 km (43 dan 186 mil) biasanya disebut "fokus sedang" atau gempa bumi dengan kedalaman menengah. Di zona subduksi, di mana kerak samudera yang lebih tua dan lebih dingin turun ke bawah lempeng tektonik lain, gempa bumi dengan fokus dalam dapat terjadi pada kedalaman yang jauh lebih besar (berkisar antara 300 hingga 700 km (190 hingga 430 mil)).

Daerah subduksi yang aktif secara seismik ini dikenal sebagai zona Wadati–Benioff. Gempa bumi fokus dalam terjadi pada kedalaman di mana litosfer yang tersubduksi seharusnya tidak lagi rapuh karena suhu dan tekanan yang tinggi. Kemungkinan mekanisme terjadinya gempa dengan fokus dalam adalah patahan yang disebabkan oleh olivin yang mengalami transisi fase menjadi struktur spinel.

Gempa vulkanik[sunting | sunting sumber]

Gempa bumi sering terjadi di daerah letusan vulkanik dan disebabkan oleh patahan tektonik maupun pergerakan magma di gunung berapi. Gempa bumi semacam itu dapat menjadi peringatan dini akan terjadinya letusan gunung berapi, seperti yang terjadi pada letusan Gunung St. Helens 1980. Retentetan gempa dapat menjadi penanda lokasi aliran magma di seluruh gunung berapi. Kawanan ini dapat direkam oleh seismometer dan tiltmeter (alat yang mengukur kemiringan tanah) dan digunakan sebagai sensor untuk memprediksi letusan yang akan terjadi atau yang akan datang.

Struktur dinamika[sunting | sunting sumber]

Gempa tektonik dimulai sebagai area slip awal pada permukaan patahan yang menjadi fokus. Setelah retakan dimulai, retakan tersebut mulai menyebar menjauhi fokus, menyebar di sepanjang permukaan patahan. Perambatan lateral akan terus berlanjut hingga retakan mencapai suatu penghalang, seperti ujung segmen sesar, atau suatu wilayah pada sesar yang tidak mempunyai tekanan yang cukup untuk memungkinkan terjadinya keruntuhan lanjutan. Untuk gempa bumi yang lebih besar, kedalaman keruntuhan akan dibatasi ke bawah oleh zona transisi getas-daktil dan ke atas oleh permukaan tanah. Mekanisme proses ini kurang dipahami karena sulit untuk menciptakan kembali pergerakan cepat seperti itu di laboratorium atau merekam gelombang seismik di dekat zona nukleasi akibat gerakan tanah yang kuat.

Dalam kebanyakan kasus, kecepatan pecahnya mendekati, namun tidak melebihi, kecepatan gelombang geser (gelombang S) batuan di sekitarnya.

Gempa bumi Supershear[sunting | sunting sumber]

Gempa bumi Turki–Suriah 2023 dengan kecepatan supershear, membunuh sekitar 60.000 jiwa

Dalam seismologi, gempa bumi supershear adalah gempa yang terjadi di sepanjang permukaan patahan dengan melebihi kecepatan gelombang geser seismik (gelombang S). Hal ini menyebabkan efek yang mirip dengan ledakan sonik.[4]

Beberapa peristiwa gempa bumi supershear:

Diketahui bahwa gempa pecah supershear merambat dengan kecepatan lebih besar dari kecepatan gelombang S. Sejauh ini semua hal ini telah diamati selama peristiwa-peristiwa strike-slip yang besar.

Gempa bumi lambat[sunting | sunting sumber]

Pemandangan Pantai Pangandaran setelah Gempa bumi dan tsunami Jawa 2006

Pecahan gempa bumi yang lambat terjadi dengan kecepatan yang luar biasa rendah. Salah satu bentuk gempa bumi lambat yang sangat berbahaya adalah gempa tsunami, ketika intensitas gempa yang dirasakan relatif rendah, dan disebabkan oleh kecepatan rambat yang lambat dari beberapa gempa bumi besar.

Gempa jenis ini tidak memberikan peringatan kepada penduduk di sekitar pantai, karena intensitasnya yang sangat rendah, seperti pada peristiwa Gempa bumi dan tsunami Jawa 2006, dimana penduduk hampir tidak merasakan guncangan gempa, dan ratusan orang tewas akibat tsunami setelahnya.[5]

Gempa bumi intralempeng[sunting | sunting sumber]

Gempa bumi Intralempeng atau disebut gempa bumi Intraslab mengacu pada gempa bumi yang terjadi diluar perbatasan lempeng tektonik; gempa ini sangat berbeda dengan gempa tektonik biasa dengan kedalaman dangkal, yang terjadi di batas dari lempeng tektonik.

Gempa bumi Sumatra Barat 2009 salah satu contoh gempa bumi intralempeng, dengan kedalaman 90 km (56 mi)

Banyak kota yang menghadapi risiko seismik berupa gempa bumi intralempeng besar yang jarang terjadi. Penyebab gempa bumi ini seringkali tidak diketahui secara pasti. Dalam banyak kasus, kesalahan penyebab terkubur dalam-dalam dan terkadang bahkan tidak dapat ditemukan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gempa dapat disebabkan oleh pergerakan cairan ke atas kerak bumi di sepanjang zona patahan kuno. Dalam keadaan seperti ini, sulit untuk memperkirakan bahaya seismik suatu kota, terutama jika hanya terjadi satu gempa bumi dalam sejarah. Beberapa kemajuan sedang dicapai dalam memahami mekanisme patahan yang menyebabkan gempa bumi ini.[6][7]

Gempa susulan[sunting | sunting sumber]

Gempa susulan adalah gempa yang terjadi setelah gempa sebelumnya, yaitu gempa utama. Perubahan tekanan antar batuan yang cepat, dan tekanan dari gempa bumi asli merupakan penyebab utama terjadinya gempa susulan ini, bersamaan dengan pecahnya lapisan kerak bumi di sekitar bidang patahan saat menyesuaikan dengan efek gempa utama.[8]

Peta gempa utama dan susulan pada Gempa bumi Lombok Agustus 2018

Gempa susulan terjadi di wilayah yang sama dengan gempa utama namun selalu berkekuatan lebih kecil, namun gempa tersebut masih cukup kuat untuk menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada bangunan yang sebelumnya telah rusak akibat gempa utama. Jika gempa susulan lebih besar dari gempa utama, maka gempa susulan tersebut ditetapkan kembali sebagai gempa utama dan guncangan utama semula ditetapkan kembali sebagai gempa pendahuluan. Gempa susulan terbentuk saat kerak di sekitar bidang patahan yang tergeser menyesuaikan diri dengan efek gempa utama.

Gempa bumi swarm[sunting | sunting sumber]

Gempa bumi swarm adalah kawanan gempa yang terjadi di suatu wilayah tertentu dalam waktu singkat dengan skala yang relatif sama. Gempa bumi ini berbeda dengan gempa bumi yang diikuti oleh serangkaian gempa susulan karena tidak ada guncangan utama, sehingga tidak ada gempa yang berkekuatan lebih besar dari gempa lainnya.

Contoh gempa bumi swarm terjadi pada Kabupaten Sumedang dengan kekuatan 4,5, 4,8 dan 4,2 pada Desember 2023 dan Januari 2024.[9]

Frekuensi gempa bumi[sunting | sunting sumber]

Gempa bumi dan tsunami di Messina, Italia memakan hingga 120,000 korban jiwa, salah satu bencana terburuk dalam sejarah Eropa.

Diperkirakan sekitar 500.000 gempa bumi terjadi setiap tahunnya, dan dapat dideteksi dengan instrumentasi saat ini. Sekitar 100.000 gempa bumi di antaranya dapat dirasakan. Gempa bumi kecil hampir terus-menerus terjadi di seluruh wilayah didunia seperti di California dan Alaska, serta di El Salvador, Meksiko, Guatemala, Chili, Peru, Indonesia, Filipina, Iran, Pakistan, Kepualauan Azores di Portugal, Turki, Selandia Baru, Yunani, Italia, India, Nepal, dan Jepang.[10][11]

Gempa bumi berkekuatan besar jarang terjadi dan hubungannya bersifat eksponensial; misalnya, gempa bumi yang lebih besar dari magnitudo 4 terjadi sepuluh kali lebih banyak dibandingkan gempa yang lebih besar dari magnitudo 5. Di Britania Raya (wilayah seismik terendah di Eropa), telah dihitung bahwa rata-rata kejadiannya adalah: gempa bumi berkekuatan 3,7–4,6 setiap tahun, gempa bumi berkekuatan 4,7–5,5 setiap 10 tahun, dan gempa bumi berkekuatan 5,6 atau lebih besar setiap 100 tahun.[12]

Jumlah stasiun seismik telah meningkat dari sekitar 350 pada tahun 1931 menjadi ribuan saat ini. Akibatnya, lebih banyak gempa bumi yang dilaporkan dibandingkan di masa lalu, namun hal ini disebabkan oleh kemajuan pesat dalam instrumentasi, dibandingkan peningkatan jumlah gempa bumi. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan bahwa, sejak tahun 1900, telah terjadi rata-rata 18 gempa bumi besar (berkekuatan 7,0–7,9) dan satu gempa besar (berkekuatan 8,0 atau lebih besar) per tahun, dan rata-rata ini relatif stabil.

Cincin Api Pasifik. Zona seismik dan letusan gunung berapi terbesar didunia
Zona Sabuk alpida. Zona seismik paling aktif kedua didunia

Sebagian besar gempa bumi di dunia 90%, terjadi di zona sepanjang 40.000 kilometer (25.000 mil), yang dikenal sebagai Cincin Api Pasifik. Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini.

Gempa besar juga cenderung terjadi di sepanjang batas lempeng lainnya, seperti di sepanjang Pegunungan Himalaya yang dikenal sebagai Zona sabuk alpida, zona seisimik paling aktif kedua setelah Cincin api di Pasifik.[13] Zona seismik Sabuk alpida mempunyai reputasi sebagai pembunuh. Meskipun hanya sekitar 17% gempa bumi besar di dunia terjadi di sabuk seismik Alpida, sebagian besar korban jiwa akibat gempa bumi sepanjang sejarah terjadi di zona ini. Hal ini terutama disebabkan oleh konstruksi yang lemah dan banyaknya jumlah penduduk di wilayah tersebut. Beberapa gempa bumi mematikan di daerah ini termasuk Gempa bumi Asia Selatan 2005 yang membunuh sekitar 87.000 jiwa, lalu Gempa bumi Bam 2003 di Tenggara Iran menewaskan sekitar 34.000 orang, dan gempa bumi baru baru ini yaitu Gempa bumi Turki–Suriah 2023 membunuh sekitar 50.000 jiwa.[14]

Tokyo menjadi kota paling rawan gempa di dunia. Para ahli mengatakan, ada kemungkinan 70 persen gempa besar berkekuatan 7.0 melanda wilayah selatan Tokyo dalam 30 tahun ke depan.

Kota-kota besar seperti Mexico City, Tokyo, Jakarta, Manila, Los Angeles, San Francisco, Roma, Istanbul, Bucharest, Delhi dan Teheran memiliki resiko gempa bumi yang sangat tinggi, dengan kerusakan dan jumlah korban yang tak terbatas. Beberapa seismolog memperingatkan bahwa satu gempa bumi saja dapat merenggut nyawa sekitar tiga juta orang, meskipun peristiwa semacam itu belum pernah terjadi dalam catatan sejarah.[15][16]

Dampak gempa bumi[sunting | sunting sumber]

Guncangan dan pergerakan tanah[sunting | sunting sumber]

Struktur bangunan delapan lantai yang fondasinya hancur, setelah diguncang Gempa bumi Kota Meksiko 1985
Animasi perbandingan guncangan gempa antara Gempa bumi Kota Meksiko 1985 dan Gempa bumi Puebla 2017

Guncangan tanah adalah dampak utama yang ditimbulkan oleh gempa bumi. Tingkat keparahan dampak lokal bergantung pada kombinasi kompleks besaran gempa, jarak dari pusat gempa, serta kondisi geologi dan geomorfologi setempat, yang dapat memperkuat atau mengurangi perambatan gelombang. Guncangan tanah diukur dengan percepatan tanah puncak.

Efek ini disebut amplifikasi. Hal ini terutama disebabkan oleh perpindahan gerakan seismik dari tanah dalam yang keras ke tanah dangkal yang lunak dan efek fokus energi seismik yang disebabkan oleh susunan geometris khas dari endapan tersebut.

Guncangan tanah adalah risiko berbahaya bagi struktur teknik bangunan besar seperti bendungan, jembatan, dan pembangkit listrik tenaga nuklir yang dapat merusak struktur tersebut.

Pencairan tanah[sunting | sunting sumber]

Dampak Pencairan tanah di Balaroa, Palu, setelah Gempa bumi dan tsunami Sulawesi 2018

Pencairan tanah atau Likeufaksi terjadi ketika, karena goncangan, material butiran jenuh air (seperti pasir) untuk sementara kehilangan kekuatannya dan berubah dari padat menjadi cair. Likuifaksi tanah dapat menyebabkan struktur kaku, seperti bangunan dan jembatan, miring atau tenggelam ke dalam endapan cair. Misalnya, pada Gempa bumi Alaska tahun 1964, pencairan tanah menyebabkan banyak bangunan tenggelam ke dalam tanah, dan akhirnya runtuh dengan sendirinya.[17]

Longsor[sunting | sunting sumber]

Gempa bumi juga dapat menyebabkan tanah longsor pada perbukitan yang curam dan sebuah pegunungan.

Kebakaran[sunting | sunting sumber]

Kebakaran saat Gempa bumi San Francisco 1906.

Gempa bumi juga dapat menyebabkan kebakaran dengan merusak saluran listrik atau saluran pipa gas. Misalnya, pada Gempa bumi San Francisco 1906 lebih banyak korban jiwa yang disebabkan oleh api daripada gempa itu sendiri.[18]

Tsunami[sunting | sunting sumber]

Tsunami saat Gempa bumi di Samudra Hindia.

Tsunami adalah gelombang laut dengan panjang gelombang dan periode panjang yang dihasilkan oleh pergerakan air dalam jumlah besar secara tiba-tiba atau tiba-tiba—termasuk saat terjadi gempa bumi di bawah laut. Di lautan terbuka, jarak antara puncak gelombang dapat melebihi 100 kilometer (62 mil), dan periode gelombang dapat bervariasi dari lima menit hingga satu jam. Tsunami semacam itu bergerak dengan kecepatan 600–800 kilometer per jam (373–497 mil per jam), bergantung pada kedalaman air. Gelombang besar yang dihasilkan oleh gempa bumi atau tanah longsor bawah laut dapat menyerbu daerah pesisir terdekat dalam hitungan menit. Tsunami juga dapat menempuh jarak ribuan kilometer melintasi lautan terbuka dan mendatangkan kehancuran di pantai seberang beberapa jam setelah gempa bumi yang menimbulkannya.

Biasanya, gempa subduksi di bawah magnitudo 7,5 tidak menyebabkan tsunami, meskipun beberapa kejadiannya telah tercatat. Sebagian besar tsunami yang merusak disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 7,5 atau lebih.

Banjir[sunting | sunting sumber]

Banjir mungkin efek sekunder dari gempa bumi jika bendungan rusak. Gempa bumi dapat menyebabkan tanah longsor membendung sungai, runtuh dan menyebabkan banjir.

Dampak pada Manusia[sunting | sunting sumber]

Korban terluka di Sewon, Bantul akibat Gempa bumi Yogyakarta 2006

Dampak fisik akibat gempa bumi termasuk: Cedera dan kehilangan nyawa.[19]

Selain itu, masyarakat yang terkena dampak gempa cenderung terpengaruh secara psikologis, seperti gangguan mental dan perilaku yang secara langsung menimbulkan rasa takut atau menyebabkan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Dilaporkan bahwa antara 10 dan 40% para penyintas bencana gempa bumi mengalami depresi, dan sulit tidur karena gangguan kecemasan.

Para penyintas gempa mengalami dampak kecemasan, adalah sesuatu yang wajar saat mengalami gempa pertama, apalagi gempa besar.

Diketahui bahwa gejala PTSD, depresi, dan kecemasan merupakan gangguan mental yang banyak terjadi pada remaja Indonesia pasca gempa.

Orang-orang dapat mengalami pusing, kecemasan, dan bahkan "gempa susulan hantu”. Gempa bumi selalu menakutkan, namun bagi sebagian orang, gempa susulan dapat terjadi lebih dari sekedar gempa yang sebenarnya: Orang dapat mengalami kecemasan, masalah tidur, dan masalah kesehatan lainnya dalam hitungan jam atau hari setelah gempa.[20]

Prediksi[sunting | sunting sumber]

Sebuah Seismometer alat pengukur skala gempa bumi

Prediksi gempa adalah cabang ilmu seismologi yang berkaitan dengan spesifikasi waktu, lokasi, dan berapa besarnya gempa bumi di masa depan. Banyak metode yang telah dikembangkan untuk memprediksi kapan gempa bumi akan terjadi, dalam waktu, dan tempat yang ditentukan. Meskipun banyak upaya yang dilakukan, hingga saat ini gempa bumi belum dapat diprediksi pada hari atau bulan tertentu.

Pada tahun 1970-an, para ilmuwan optimis bahwa metode untuk memprediksi gempa bumi akan segera ditemukan, tetapi pada tahun 1990-an kegagalan terus berlanjut, dan membuat banyak pihak mempertanyakan apakah hal semacam itu bisa dilakukan. Sebagian besar ilmuwan pesimis dan berpendapat bahwa, memprediksi gempa bumi pada dasarnya adalah hal mustahil untuk dilakukan.

Gempa bumi Haicheng 1975 diklaim salah satu gempa bumi yang berhasil diprediksi oleh seismologi, sehingga angka korban kematian berhasil ditekan, sebagian besar kota telah dievakuasi sebelum gempa, dan hanya sedikit korban yang meninggal akibat runtuhnya bangunan.

Sistem peringatan gempa[sunting | sunting sumber]

- Negara yang memiliki sistem peringatan dini gempa bumi (warna merah)
- Negara yang dalam masa pengembangan peringatan dini gempa bumi (warna kuning)

Pada tahun 2023, Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan Meksiko memiliki sistem peringatan dini gempa bumi nasional yang akurat dan komprehensif.

Meksiko[sunting | sunting sumber]

SASMEX Sistem peringatan dini gempa bumi di Mexico City

Negara yang mempunyai penerapan sistem peringatan dini gempa bumi, termasuk Meksiko (Sistem Peringatan Seismik Meksiko) atau disebut SASMEX. Sistem peringatan ini memberikan peringatan gempa bumi hingga 60 detik ke Mexico City, Acapulco, Kota Puebla, Oaxaca, Guadalajara, Colima dan Toluca. SASMEX dibuat setelah peristiwa mematikan Gempa bumi Kota Meksiko 1985, dalam rangka langkah-langkah kesiapsiagaan darurat.

Jaringan sensor SASMEX yang melayani Kota Meksiko telah dianggap sebagai sistem peringatan dini gempa pertama yang mengeluarkan peringatan dan tersedia untuk masyarakat umum.[21]

Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]

ShakeAlert di California

Di Amerika Serikat. Sistem pra-deteksi gempa bumi otomatis paling awal dipasang pada tahun 1990an; misalnya, di California, sistem stasiun pemadam kebakaran Calistoga yang secara otomatis memicu sirene seluruh kota untuk memperingatkan seluruh penduduk di wilayah tersebut akan adanya gempa bumi.[22]

Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memulai penelitian dan pengembangan sistem peringatan dini di Pantai Barat Amerika Serikat pada bulan Agustus 2006, dan sistem tersebut mulai dapat dibuktikan pada bulan Agustus 2009. Setelah melalui berbagai fase pengembangan, versi 2.0 diluncurkan pada musim gugur tahun 2018, memungkinkan sistem yang "cukup berfungsi dan teruji" untuk memulai Fase 1 untuk memperingatkan California, Oregon, dan Washington.

ShakeAlert memperingatkan masyarakat mulai tanggal 28 September 2018, pesan-pesan itu sendiri tidak dapat didistribusikan sampai berbagai mitra distribusi swasta dan publik menyelesaikan aplikasi seluler dan melakukan perubahan pada berbagai sistem peringatan darurat. Sistem peringatan pertama yang tersedia untuk umum adalah aplikasi ShakeAlertLA, yang dirilis pada Malam Tahun Baru 2018 (walaupun hanya memperingatkan adanya guncangan di wilayah Los Angeles). Pada 17 Oktober 2019, Cal OES mengumumkan peluncuran sistem distribusi peringatan di seluruh negara bagian di California, menggunakan aplikasi seluler dan sistem Peringatan Darurat Nirkabel (WEA). California menyebut sistem mereka sebagai Sistem Peringatan Dini Gempa California. Sistem ini peringatan diluncurkan di Oregon pada 11 Maret 2021 dan di Washington pada 4 Mei 2021, melengkapi sistem peringatan untuk Pantai Barat.[23]

Jepang[sunting | sunting sumber]

Mekanisme sistem peringatan dini gempa bumi di Jepang
Sistem Peringatan Gempa (EEW) pada Ponsel di Jepang
Suara dari sistem peringatan (EEW) pada Ponsel

Di Jepang sistem peringatan dini gempa bumi, dibuat oleh Badan Meteorologi Jepang, sistem peringatan tersebut bernama (EEW) Earthquake Early Warning. Sistem ini menggunakan gelombang seismik. Sistem tersebut akan diperingati melalui ponsel seluler, saluran televisi, dan radio, beberapa detik atau menit sebelum gempa bumi mengguncang.[24]

Sistem ini dikembangkan untuk meminimalkan kerusakan akibat gempa dan memungkinkan masyarakat untuk berlindung atau mengevakuasi daerah berbahaya sebelum datangnya guncangan yang kuat. Sistem ini digunakan oleh kereta api untuk memperlambat kereta dan oleh pabrik untuk menghentikan jalur perakitan sebelum gempa terjadi.

Efektivitas peringatan tergantung pada posisi penerimanya. Setelah menerima peringatan, seseorang memiliki waktu beberapa detik hingga satu menit atau lebih untuk mengambil tindakan. Daerah dekat pusat gempa mungkin akan mengalami guncangan hebat sebelum peringatan dikeluarkan.[25]

Setelah Gempa bumi dan tsunami Tōhoku 2011, sistem (EEW) dan sistem peringatan tsunami Jepang dianggap efektif. Meskipun tsunami menewaskan lebih dari 20.000 orang, dan diyakini bahwa jumlah korban jiwa akan jauh lebih besar tanpa sistem peringatan (EEW).

Tiongkok[sunting | sunting sumber]

Sistem peringatan gempa Tiongkok (EEWS), 150.000 stasiun pemantauan dipasang

Sistem peringatan gempa di Tiongkok dibangun pada tahun 1990an. Kehancuran akibat Gempa bumi Sichuan 2008 mendorong investasi Tiongkok dalam sistem peringatan dini gempa bumi nasional (EEWS). Sejumlah stasiun pemantauan, sensor, dan sistem analitik dipasang untuk meningkatkan akurasi, daya tanggap, dan kelengkapan data gempa. Pada bulan Juni 2019, sistem peringatan gempa nasional (EEWS), berhasil memperingatkan sebuah kota akan terjadinya gempa berkekuatan 6,0 Mw antara 10-27 detik sebelum guncangan tiba.

Pada tahun 2023, (EEWS) nasional telah selesai dibangun, dengan 150.000 stasiun pemantauan, dikelola oleh tiga pusat nasional, 31 pusat provinsi, 173 pusat prefektur dan kota. Sistem peringatan dini gempa Tiongkok adalah jaringan seismik terbesar di dunia.[26]

Indonesia[sunting | sunting sumber]

Di Indonesia, sistem peringatan dini gempa bumi saat ini dalam masa pengembangan, sistem tersebut bernama (EWAS) Earthquake Early Warning System, sistem pendeteksi guncangan ini difungsikan untuk memberikan tanda peringatan kehadiran gempa bumi kepada masyarakat secara otomatis dan sangat cepat. Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan rasa aman sekaligus kewaspadaan masyarakat di daerah-daerah rawan bencana gempa bumi yang makin sering terjadi.

(EWAS) memberi tanda peringatan gempa bumi berupa bunyi sirine yang keras di tengah masyarakat tepat saat guncangan gempa terjadi. EWAS efektif mendeteksi guncangan gempa dan membunyikan alarm peringatan dalam waktu kurang dari 5 detik. Tidak harus menunggu pesan SMS atau whatsapp yang baru mengabarkan gempa 5 menit setelah gempa terjadi.

Ketika alarm EWAS berbunyi, sudah pasti itu akibat gempa, bukan karena truk melintas atau karena adanya perkerjaan renovasi/konstruksi bangunan. Masyarakat tidak perlu ragu, segera bergegas keluar bangunan menuju tempat yang lapang, agar terhindar dari bahaya terkena runtuhan bangunan.

Sistem EWAS dibangun dari sejumlah detektor getaran tanah (node) yang dipasang di suatu lingkungan pemukiman, misalnya suatu desa atau kelurahan; atau gedung apartemen, gedung perkantoran, kawasan industri hingga daerah wisata pantai dan pegunungan serta tempat wisata lainnya yang ramai pengunjungnya. Setiap node saling berkomunikasi melalui gelombang radio. Sehingga jarak antar node tergantung dari jangkauan komunikasi radio antar node. Sejauh ini Sistem EWAS yang sudah terpasang jarak antar nodenya sekitar 200-300 meter.[27]

Sistem Global[sunting | sunting sumber]

Detektor Gempa[sunting | sunting sumber]

Logo dari Detektor Gempa dari Francesco Finazzi, kini dapat di install melalui aplikasi Android
Pengguna aplikasi Detektor Gempa "Earthquake Network"

Pada bulan Januari 2013, Francesco Finazzi dari Universitas Bergamo memulai proyek penelitian Jaringan Gempa yang bertujuan untuk mengembangkan dan memelihara sistem peringatan gempa crowdsourced berdasarkan jaringan ponsel pintar. Ponsel pintar digunakan untuk mendeteksi guncangan tanah yang disebabkan oleh gempa bumi dan peringatan dikeluarkan segera setelah gempa terdeteksi. Masyarakat yang tinggal pada jarak yang lebih jauh dari pusat gempa dan titik deteksi mungkin akan diperingatkan sebelum mereka terkena gelombang gempa yang merusak.

Masyarakat dapat mengambil bagian dalam proyek ini dengan menginstal aplikasi Android "Earthquake Network" di ponsel pintar mereka. Aplikasi ini mengharuskan ponsel untuk menerima peringatan.[28][29]

"Earthquake Network" atau "Detektor Gempa" kini dapat di install dalam aplikasi Play Store untuk seluruh pengguna global.

Sistem Peringatan Gempa Android[sunting | sunting sumber]

Pada 11 Agustus 2020, Google mengumumkan bahwa sistem operasi Android-nya akan mulai menggunakan akselerometer di perangkat untuk mendeteksi gempa bumi (dan mengirimkan datanya ke "server pendeteksi gempa" perusahaan). Karena jutaan ponsel beroperasi pada Android, dan menghasilkan jaringan pendeteksi gempa terbesar di dunia.

Data yang dikumpulkan oleh perangkat Android hanya digunakan untuk memberikan informasi cepat mengenai gempa bumi melalui Google Penelusuran, meskipun perangkat tersebut selalu direncanakan untuk mengeluarkan peringatan untuk banyak area lain berdasarkan kemampuan deteksi Google di masa mendatang.

Pada tanggal 28 April 2021, Google mengumumkan peluncuran sistem peringatan ke Yunani dan Selandia Baru, negara pertama yang menerima peringatan berdasarkan kemampuan deteksi Google sendiri. Peringatan Google diperluas ke Turki, Filipina, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan pada bulan Juni 2021.[30]

Zona Gempa[sunting | sunting sumber]

Pusat gempa bumi dari tahun 1900–2015. Bintang kuning adalah episenter Gempa bumi Sichuan 2008

Terdapat dua zona atau sirkum gempa besar, keduanya bertempat di pertemuan antara dua lempeng tektonik. Zona Pertama, yang juga disebut Cincin Api Pasifik atau Pacifik Ring Of Fire, terletak di sekitar Samudera Pasifik, Melintasi Benua Asia bagian Timur, Benua Amerika bagian barat dan Pulau Papua di Benua Australia. Melintasi Amerika serikat. Sebagian besar wilayah San Fransisco pada tahun 1906, juga hancur akibat gempa yang melanda pada zona tersebut. bahkan negara Indonesia juga termasuk dalam dua zona seperti Cincin Api Pasifik dan Sabuk alpida yang terkena dampak gempanya.[31] Zona Kedua melewati Selatan Eurasia (Ini tidak termasuk kawasan Asia dari Gondwana seperti Semenanjung Arab dan Anak Benua India) dan terus ke arah Laut Tengah sampai ke Pegunungan atlas di Afrika Utara.

Gempa bumi pada abad ke-21[sunting | sunting sumber]

  • Note: Berikut ini adalah daftar gempa bumi mematikan dari tahun 2000–Sekarang;
    Setidaknya >1,000 korban jiwa
Rank Tanggal Lokasi Artikel Korban Magnitudo
1 02010-01-1212 Januari 2010  Haiti, Port-au-prince Gempa bumi Haiti 2010 220,000–316,000 7.0
2 02004-12-2626 Desember 2004  Indonesia, Sumatra, Samudra Hindia Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 227,898 9.1–9.3
3 02008-05-1212 Mei 2008  Tiongkok, Sichuan Gempa bumi Sichuan 2008 87,587 7.9
4 02005-10-088 Oktober 2005  Pakistan
 India, Kashmir
Gempa bumi Asia Selatan 2005 87,351 7.6
5 02023-02-066 Februari 2023  Turki
 Suriah, Gaziantep
Gempa bumi Turki–Suriah 2023 62,013 7.8
6 02003-12-2626 Desember 2003  Iran, Kerman Gempa bumi Bam 2003 34,000 6.6
7 02001-01-2626 Januari 2001  India, Gujarat Gempa bumi Gujarat 2001 20,026 7.7
8 02011-03-1111 Maret 2011  Jepang, Tōhoku Gempa bumi dan tsunami Tōhoku 2011 19,759 9.0–9.1
9 02015-04-2525 April 2015    Nepal Gempa bumi Nepal April 2015 8,964 7.8
10 02006-05-2727 Mei 2006  Indonesia, Yogyakarta Gempa bumi Yogyakarta 2006 5,778 6.4
11 02018-09-2828 September 2018  Indonesia, Sulawesi Tengah Gempa bumi dan tsunami Sulawesi 2018 4,340 7.5
12 02023-09-088 September 2023  Maroko, Marrakesh-Safi Gempa bumi Maroko 2023 2,960 6.8
13 02010-04-1313 April 2010  Tiongkok, Qinghai Gempa bumi Yushu 2010 2,698 6.9
14 02003-05-2121 Mei 2003  Aljazair, Algiers Gempa bumi Boumerdes 2003 2,226 6.8
15 02021-08-1414 Agustus 2021  Haiti, Les Cayes Gempa bumi Haiti 2021 2,248 7.2
16 02023-10-077 Oktober 2023  Afghanistan, Herat Gempa bumi Herat 2023 1,482 6.3
17 02005-03-2828 Maret 2005  Indonesia, Sumatra Gempa bumi Sumatra 2005 1,314 8.6
18 02022-06-2121 Juni 2022  Afghanistan Gempa bumi Asia Selatan 2022 1,163 6.0
19 02009-09-3030 September 2009  Indonesia, Sumatera Barat Gempa bumi Sumatra Barat 2009 1,115 7.6

Dalam budaya[sunting | sunting sumber]

Mitologi dan agama[sunting | sunting sumber]

Dalam Mitologi Nordik, gempa bumi dijelaskan sebagai perjuangan keras dewa Loki. Ketika Loki, dewa kejahatan dan perselisihan, membunuh Baldr, dewa keindahan dan cahaya, dia dihukum dengan diikat di sebuah gua dengan ular berbisa ditempatkan di atas kepalanya yang meneteskan racun. Istri Loki, Sigyn, berdiri di sampingnya dengan mangkuk untuk menangkap racun, tetapi setiap kali dia harus mengosongkan mangkuk, racun itu menetes ke wajah Loki, memaksanya untuk menyentakkan kepalanya dan meronta-ronta ke ikatannya, yang menyebabkan bumi bergetar.

Dalam mitologi Yunani, Poseidon adalah penyebab dan dewa gempa bumi. Ketika suasana hatinya sedang buruk, dia menghantam tanah dengan trisula, menyebabkan gempa bumi dan bencana lainnya. Dia juga menggunakan gempa bumi untuk menghukum dan menakuti orang-orang sebagai balas dendam.[32]

Dalam mitologi Jepang, Ōnamazu adalah ikan lele raksasa yang menyebabkan gempa bumi. Ōnamazu tinggal di lumpur di bawah bumi dan dijaga oleh dewa Kashima yang menahan ikan dengan batu. Saat Kashima lengah, ōnamazu meronta-ronta, dan menyebabkan gempa bumi yang dahsyat.[33]

Budaya Populer[sunting | sunting sumber]

Gempa bumi Valdivia 1960. Gempa terbesar yang pernah tercatat

Dalam budaya populer modern, penggambaran gempa bumi dibentuk oleh kenangan kota-kota besar yang hancur oleh gempa, seperti yang terjadi pada Gempa bumi Kobe tahun 1995, Gempa bumi San Francisco 1906 atau Gempa bumi Kota Meksiko 1985.

Beberapa film fiktif populer yang menggambarkan kehancuran gempa bumi seperti, diperkirakan akan terjadi di Patahan San Andreas California suatu hari nanti, yang digambarkan dalam novel dan film: 2012 (2009) dan San Andreas (2015). Film drama Tiongkok Aftershock (2010) juga terinpirasi dari peristiwa Gempa bumi Tangshan 1976. Dan film drama Indonesia Hafalan Shalat Delisa (2011) yang terinpirasi dari bencana Gempa bumi dan tsunami Aceh tahun 2004

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ US Department of Commerce, NOAA. "NWS JetStream Max - World's Major Tectonic Plates". www.weather.gov (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-03-11. Diakses tanggal 2023-03-11. 
  2. ^ Ohnaka, M. (2013). The Physics of Rock Failure and Earthquakes. Cambridge University Press. hlm. 148. ISBN 978-1-107-35533-0. 
  3. ^ Wyss, M. (1979). "Estimating expectable maximum magnitude of earthquakes from fault dimensions". Geology. 7 (7): 336–340. Bibcode:1979Geo.....7..336W. doi:10.1130/0091-7613(1979)7<336:EMEMOE>2.0.CO;2. 
  4. ^ Levy D. (December 2, 2005). "A century after the 1906 earthquake, geophysicists revisit 'The Big One' and come up with a new model". Press release. Stanford University. Diarsipkan dari versi asli tanggal January 29, 2008. Diakses tanggal June 12, 2008. 
  5. ^ National Research Council (U.S.). Committee on the Science of Earthquakes (2003). "5. Earthquake Physics and Fault-System Science". Living on an Active Earth: Perspectives on Earthquake Science. Washington, D.C.: National Academies Press. hlm. 418. ISBN 978-0-309-06562-7. Diakses tanggal 8 July 2010. 
  6. ^ Iwata, Tomotaka; Asano, Kimiyuki (2011). "Characterization of the Heterogeneous Source Model of Intraslab Earthquakes Toward Strong Ground Motion Prediction". Pure and Applied Geophysics. 168 (1–2): 117–124. Bibcode:2011PApGe.168..117I. doi:10.1007/s00024-010-0128-7. 
  7. ^ Senoa, Tetsuzo; Yoshida, Masaki (2004). "Where and why do large shallow intraslab earthquakes occur?". Physics of the Earth and Planetary Interiors. 141 (3): 183–206. Bibcode:2004PEPI..141..183S. doi:10.1016/j.pepi.2003.11.002. 
  8. ^ "Aftershock | geology". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-08-23. Diakses tanggal 2021-10-13. 
  9. ^ "BRIN Ungkap Sesar Aktif Berkekuatan Besar Kepung Sumedang". CNN Indonesia. Diakses tanggal 21 Juni 2024. 
  10. ^ "Earthquake Hazards Program". United States Geological Survey. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-05-13. Diakses tanggal 2006-08-14. 
  11. ^ The 10 biggest earthquakes in history Diarsipkan 2013-09-30 di Wayback Machine., Australian Geographic, March 14, 2011.
  12. ^ "Seismicity and earthquake hazard in the UK". Quakes.bgs.ac.uk. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-11-06. Diakses tanggal 2010-08-23. 
  13. ^ "Historic Earthquakes and Earthquake Statistics: Where do earthquakes occur?". United States Geological Survey. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-09-25. Diakses tanggal 2006-08-14. 
  14. ^ "All about the Alpide Belt that makes Turkey a hotbed for devastating earthquakes" [Semua tentang Sabuk Alpida yang menjadikan Turki sarang gempa bumi dahsyat]. theprint.in (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 7 Mei 2024. 
  15. ^ "The 12 Most Earthquake Vulnerable Cities In The World" [12 Kota Paling Rentan Gempa bumi Di Dunia]. World Atlas (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 24 Januari 2024. 
  16. ^ "Global urban seismic risk Diarsipkan 2011-09-20 di Wayback Machine.." Cooperative Institute for Research in Environmental Science.
  17. ^ "Historic Earthquakes – 1964 Anchorage Earthquake". United States Geological Survey. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-06-23. Diakses tanggal 2008-09-15. 
  18. ^ "The Great 1906 San Francisco earthquake of 1906". United States Geological Survey. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-02-11. Diakses tanggal 2008-09-15. 
  19. ^ "The wicked problem of earthquake hazard in developing countries". www.preventionweb.net (dalam bahasa Inggris). 7 March 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-11-03. Diakses tanggal 2022-11-03. 
  20. ^ "Survivors of Deadly Earthquakes Must Deal with Lasting Trauma" [Korban Gempa Mematikan Harus Menghadapi Trauma Abadi]. Scientificamericab.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 5 Mei 2024. 
  21. ^ Suárez, Gerardo; García Acosta, Virginia (2014). "The seismic alert system in Mexico City: an example of a successful Early Warning System (EWS)" (PDF). UNISDR Scientific and Technical Advisory Group. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2 October 2015. Diakses tanggal 28 July 2017. 
  22. ^ Podger, Pamela (July 2001). "Calistoga to get an earful of nation's first quake siren". napanet. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-02-23. Diakses tanggal 2012-10-28. 
  23. ^ Snibbe, Kurt (2019-10-15). "California's earthquake early warning system is now statewide" [Sistem peringatan dini gempa California kini diterapkan di seluruh negara bagian]. Mercury News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-12-31. 
  24. ^ Sankei-MSN News (2011-05-01 21:55) "The Earthquake Early Warning – the chime contained the tone of pains, even examined the 'Godzilla'" 緊急地震速報…チャイムに苦心の音色 「ゴジラ」の検討も (dalam bahasa Jepang). MSN. 2011-05-01. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 July 2011. Diakses tanggal 2011-06-26. 
  25. ^ "What is the Earthquake Early Warning (or "緊急地震速報 (Kinkyu Jishin Sokuho)" in Japanese)?". Japan Meteorological Agency. 2007-08-30. Diakses tanggal 2008-06-29. 
  26. ^ Sharma, Sejal (10 Juni 2023). "China is building the world's largest earthquake early warning system" [Tiongkok sedang membangun sistem peringatan dini gempa bumi terbesar di dunia]. Interesting Engineering (dalam bahasa Inggris). 
  27. ^ "Earthquake Early Warning System di Indonesia". Geoscience.ui.ac.id. Diakses tanggal 22 April 2024. 
  28. ^ Finazzi, Francesco; Fassò, Alessandro (2016). "A statistical approach to crowdsourced smartphone-based earthquake early warning systems". Stochastic Environmental Research and Risk Assessment. 31 (7): 1649–1658. arXiv:1512.01026alt=Dapat diakses gratis. doi:10.1007/s00477-016-1240-8. 
  29. ^ Finazzi, Francesco (2016). "The Earthquake Network Project: Toward a Crowdsourced Smartphone‐Based Earthquake Early Warning System". Bulletin of the Seismological Society of America. 106 (3): 1088–1099. arXiv:1512.01026alt=Dapat diakses gratis. Bibcode:2016BuSSA.106.1088F. doi:10.1785/0120150354. Diakses tanggal 10 June 2016.  [pranala nonaktif permanen]
  30. ^ Spooner, Boone (April 28, 2021). "Introducing Android Earthquake Alerts outside the U.S." Google blog. Google. Diakses tanggal May 6, 2021. 
  31. ^ Ensiklopedia Pengetahuan Populer. Jakarta: Lentera. 2008. hlm. 143. ISBN 978-979-3535-28-9. 
  32. ^ George E. Dimock (1990). The Unity of the Odyssey. Univ of Massachusetts Press. hlm. 179–. ISBN 978-0-87023-721-8. 
  33. ^ "Namazu". World History Encyclopedia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-04-23. Diakses tanggal 2017-07-23. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]