Mangga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Mangga
Mangga gedong gincu 071021-0845 tmo.jpg
Buah mangga gedong gincu,
dari Tomo, Sumedang
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Anacardiaceae
Genus: Mangifera
Spesies: M. indica
Nama binomial
Mangifera indica

Mangga atau mempelam adalah nama sejenis buah, demikian pula nama pohonnya. Mangga termasuk ke dalam marga Mangifera, yang terdiri dari 35-40 anggota dari suku Anacardiaceae.

Nama "mangga" berasal dari bahasa Tamil, mankay, yang berarti man "pohon mangga" + kay "buah".[2] Kata ini dibawa ke Eropa oleh orang-orang Portugis dan diserap menjadi manga (bahasa Portugis), mango (bahasa Inggris) dan lainnya.[2]

Mangga berasal dari daerah di sekitar perbatasan India dengan Burma, dan mangga telah menyebar ke Asia Tenggara sekurang-kurangnya semenjak 1500 tahun yang silam.[3][4] Buah ini dikenal pula dalam berbagai bahasa daerah, seperti pelem atau poh (Jw.).

Pemerian[sunting | sunting sumber]

Pohon mangga tua di tengah kota
Bunga mangga yang berkarang

Pohon mangga berperawakan besar, dapat mencapai tinggi hingga 30 m atau lebih, meski kebanyakan mangga pekarangan hanya sekitar 15 m atau kurang.[4] Batang tegak, bercabang kuat; dengan daun-daun lebat membentuk tajuk yang indah berbentuk kubah, oval atau memanjang, dengan diameter sampai 10 m.[5][4] Kulit batangnya tebal dan kasar dengan banyak celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun. Warna pepagan (kulit batang) yang sudah tua biasanya coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam.

Mangga berakar tunggang yang bercabang-cabang, sangat panjang hingga bisa mencapai 6 m. Akar cabang makin ke bawah semakin sedikit, paling banyak akar cabang pada kedalaman lebih kurang 30–60 cm.[5][4]

Daun[sunting | sunting sumber]

Daun tunggal, dan dengan letak tersebar. Panjang tangkai daun bervariasi dari 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya. Aturan letak daun pada batang biasanya 3/8, tetapi makin mendekati ujung, letaknya makin berdekatan sehingga tampaknya seperti dalam lingkaran (roset).[6]

Helai daun bervariasi namun kebanyakan berbentuk jorong sampai lanset, dengan panjang sekitar 15-40 cm dan lebarnya 6-16 cm, agak liat dan kasar seperti kulit, daun muda berwarna merah pulasan sampai kejinggaan, dan akan berangsur-angsur menjadi hijau tua mengkilap, dengan umur daun bisa mencapai 1 tahun atau lebih. Daunnya berpangkal melancip dengan tepi daun bergelombang dan ujung meluncip, dengan 12-30 tulang daun sekunder.


Beberapa variasi bentuk daun mangga:

  • Lonjong dan ujungnya seperti mata tombak.
  • Berbentuk bulat telur, ujungnya runcing seperti mata tombak.
  • Berbentuk segi empat, tetapi ujungnya runcing.
  • Berbentuk segi empat, ujungnya membulat.

Bunga[sunting | sunting sumber]

Berumah satu (monoecious), bunga mangga merupakan bunga majemuk yang berkarang dalam malai bercabang banyak di ujung ranting. Karangan bunga biasanya berbulu, tetapi sebagian ada juga yang gundul, kuning kehijauan, sampai 40 cm panjangnya. Bunga majemuk ini terdiri dari sumbu utama yang mempunyai banyak cabang utama. Setiap cabang utama ini mempunyai banyak cabang-cabang, yakni cabang kedua. Ada kemungkinan cabang bunga kedua ini mempunyai suatu kelompok yang terdiri dari 3 bunga atau mempunyai cabang tiga. Setiap kelompok tiga bunga terdiri dari tiga kuntum bunga dan setiap kuntum bertangkai pendek dengan daun kecil. Jumlah bunga pada setiap bunga majemuk bisa mencapai 1000-6000.[4][5][6]

Bunga-bunga dalam karangan berkelamin campuran, ada yang jantan dan ada pula yang hermafrodit (berkelamin dua). Besarnya bunga lebih kurang 6–8 mm. Bunga jantan lebih banyak daripada bunga hermafrodit, dan jumlah bunga hermafrodit inilah yang menentukan terbentuknya buah. Persentase bunga hermafrodit bermacam-macam, tergantung dari varietasnya, yaitu antara 1,25%-77,9%; sementara yang mempunyai bakal buah normal kira-kira 5-10%.

Bunga mangga biasanya bertangkai pendek, jarang sekali yang bertangkai panjang, dan berbau harum. Kelopak bunga biasanya bertaju 5; demikian juga mahkota bunga terdiri dari 5 daun bunga, tetapi kadang-kadang ada yang 4 sampai 8. Warnanya kuning pucat, sedangkan pada bagian tengah terdapat garis timbul berjumlah 3 sampai 5 yang warnanya sedikit tua. Bagian tepi daun mahkota berwarna putih. Pada waktu akan layu, warna mahkota bunga tadi menjadi kemerahan.[4][5][6]

Benang sari berjumlah 5 buah, tetapi yang subur hanya satu atau dua buah sedangkan yang lainnya steril. Benang sari yang subur biasanya hampir sama panjang dengan putik, yakni kira-kira 2 mm, sedangkan yang steril lebih pendek. Kepala putik berwarna kemerah-merahan dan akan berubah warna menjadi ungu pada waktu kepala sari membuka untuk memberi kesempatan kepada tepung sari yang telah dewasa untuk menyerbuki kepala putik. Bentuk tepung sari biasanya bulat panjang, lebih kurang 20-35 mikron.

Bakal buahnya tidak bertangkai dan terdapat dalam suatu ruangan, serta terletak pada suatu piringan. Tangkai putik mulai dari tepi bakal buah dan ujungnya terdapat kepala putik yang bentuknya sederhana. Dalam suatu bunga kadang-kadang terdapat tiga bakal buah.[4][5][6]

Kandungan Nutrisi[sunting | sunting sumber]

Buah mangga pada dasarnya merupakan golongan buah rendah kalori. Dalam satu buah mangga hanya terkandung sekitar 100 – 110 kalori. Kendati demikian, buah ini kaya akan antioksidan (polifenol dan beta karoten) dan sejumlah nutrisi lain yang bermanfaat bagi kesehatan.[7]

Dalam 1 buah mangga, terkandung aneka nutrisi berikut ini:

  • 1,5 – 2 gram serat
  • 15 gram karbohidrat
  • 1– 1,5 gram protein
  • 55 – 60 mikrogram vitamin A
  • 35 – 60 mg vitamin C
  • 9 mg vitamin E
  • 40 – 45 mikrogram folat
  • 10 – 15 mg kalsium
  • 10– 15mg magnesium
  • 200 mg kalium
  • 14 – 20 mg fosfor

Buah[sunting | sunting sumber]

Mangga
Mango and cross section edit.jpg
Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz)
Energi 250 kJ (60 kcal)
Karbohidrat 15 g
- Gula 13.7
- Serat pangan 1.6 g
Lemak 0.38 g
Protein 0.82 g
Vitamin A equiv. 54 μg (6%)
- beta-karotena 640 μg (6%)
- lutein dan zeaxanthin 23 μg
Tiamina (Vit. B1) 0.028 mg (2%)
Riboflavin (Vit. B2) 0.038 mg (3%)
Niasin (Vit. B3) 0.669 mg (4%)
Asam Pantotenat (B5) 0.197 mg (4%)
Vitamin B6 0.119 mg (9%)
Folat (Vit. B9) 43 μg (11%)
Vitamin C 36.4 mg (61%)
Vitamin E 0.9 mg (6%)
Vitamin K 4.2 μg (4%)
Kalsium 11 mg (1%)
Besi 0.16 mg (1%)
Magnesium 10 mg (3%)
Mangan 0.063 mg (3%)
Fosfor 14 mg (2%)
Kalium 168 mg (4%)
Natrium 1 mg (0%)
Zink 0.09 mg (1%)
Link to USDA Database entry
Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa.
Sumber: Data Nutrisi USDA

Buah mangga termasuk kelompok buah batu (drupa) yang berdaging, dengan ukuran dan bentuk yang sangat berubah-ubah bergantung pada macamnya, mulai dari bulat (misalnya mangga gedong), bulat telur (gadung, indramayu, arumanis) hingga lonjong memanjang (mangga golek). Panjang buah kira-kira 2,5–30 cm. Pada bagian ujung buah, ada bagian yang runcing yang disebut paruh. Di atas paruh ada bagian yang membengkok yang disebut sinus, yang dilanjutkan ke bagian perut.[4][5][6]

Kulit buah agak tebal berbintik-bintik kelenjar; hijau, kekuningan atau kemerahan bila masak. Daging buah jika masak berwarna merah jingga, kuning atau krem, berserabut atau tidak, manis sampai masam dengan banyak air dan berbau kuat sampai lemah. Biji berwarna putih, gepeng memanjang tertutup endokarp yang tebal, mengayu dan berserat. Biji ini terdiri dari dua keping; ada yang monoembrional dan ada pula yang poliembrional..[4][5][6]

Hasil dan kegunaan[sunting | sunting sumber]

Mangga terutama ditanam untuk buahnya. Buah yang matang umum dimakan dalam keadaan segar, sebagai buah meja atau campuran es, dalam bentuk irisan atau diblender. Buah yang muda kerapkali dirujak, atau dijajakan di tepi jalan setelah dikupas, dibelah-belah dan dilengkapi bumbu garam dengan cabai. Buah mangga juga diolah sebagai manisan, irisan buah kering, dikalengkan dan lain-lain. Di berbagai daerah di Indonesia, mangga (tua atau muda) yang masam kerap dijadikan campuran sambal atau masakan ikan dan daging.

Biji mangga (emplok, Btw.)[8] dapat dijadikan pakan ternak atau unggas; di India bahkan dijadikan bahan pangan pada masa paceklik. Daun mudanya dilalap atau dijadikan sayuran. Kayu mangga cukup kuat, keras dan mudah dikerjakan; namun kurang awet untuk penggunaan di luar. Kayu ini juga dapat dijadikan arang yang baik.

Daun mangga mengandung senyawa organik tarakserol-3beta dan ekstrak etil asetat yang bersinergis dengan insulin mengaktivasi GLUT4, dan menstimulasi sintesis glikogen, sehingga dapat menurunkan gejala hiperglisemia.[9]

Mangga terutama dihasilkan oleh negara-negara India, Tiongkok, Meksiko, Thailand, Pakistan, Indonesia, Brasil, Filipina, dan Bangladesh. Total produksi dunia pada tahun ‘80an sekitar 15 juta ton, namun hanya sekitar 90.000 ton (1985) yang diperdagangkan di tingkat dunia. Artinya, sebagian besar mangga dikonsumsi secara lokal.

Sementara itu pasar utama mangga adalah Asia Tenggara, Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Singapura, Hong Kong dan Jepang merupakan pengimpor yang terbesar di Asia. Gambaran produksi mangga tahun 2007 dapat dilihat pada tabel di bawah.

Sepuluh Produsen Mangga Teratas tahun 2007
Negara Produksi dalam Ton Catatan
 India 13.501.000 F
 Tiongkok 3.752.000 F
 Meksiko 2.050.000 F
 Thailand 1.800.000 F
 Pakistan 1.719.180 F
 Indonesia 1.620.000 F
 Brasil 1.546.000 F
 Filipina 975.000 F
 Nigeria 734.000 F
 Vietnam 370.000 F
 Dunia 33.445.279 A
  • Tanpa simbol = data resmi
  • P = data resmi, F = perkiraan FAO
  • * = data tak resmi/setengah resmi
  • C = data hasil perhitungan
  • A = data gabungan (resmi, tak resmi, dan atau hasil perhitungan)

Sumber

Food And Agricultural Organization of United Nations: Economic And Social Department: The Statistical Division

Trivia[sunting | sunting sumber]

Mangga memiliki nilai-nilai kultural yang tinggi, khususnya di pelbagai negara di Asia bagian selatan. Di Filipina, buah ini merupakan simbol nasional. Dalam kitab suci Weda agama Hindu, mangga dianggap sebagai “hidangan para dewa”. Daun-daun mangga kerap digunakan secara ritual dalam dekorasi upacara perkawinan atau keagamaan Hindu.

Mangga di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Beberapa jenis mangga yang ditemui di Indonesia, antara lain: mangga arumanis, mangga apel, mangga golek, mangga madu, mangga manalagi, mangga alpukat, mangga gedong gincu, mangga indramayu, mangga pakel, mangga kweni, mangga kemang, mangga lalijiwo, mangga endog.

Jenis yang berkerabat[sunting | sunting sumber]

Mangga sekerabat dengan bacang (M. foetida), kemang (M. kemanga), kuweni (M. x odorata), kasturi (M. casturi), dan banyak lagi. Daftar kerabat mangga selengkapnya dapat dilihat pada uraian mengenai marga Mangifera.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ World Conservation Monitoring Centre (1998). Mangifera indica. The IUCN Red List of Threatened Species 1998: e.T31389A9624842. doi:10.2305/IUCN.UK.1998.RLTS.T31389A9624842.en Downloaded on 05 January 2019.
  2. ^ a b "mango | Origin and meaning of mango by Online Etymology Dictionary". www.etymonline.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-05-02. 
  3. ^ Ensminger, Audrey H.; et al. (1995). The concise encyclopedia of foods & nutrition. Internet Archive. Boca Raton, Fla. : CRC Press. hlm. 651. ISBN 978-0-8493-4455-8. 
  4. ^ a b c d e f g h i "MANGO Fruit Facts". www.crfg.org. Diakses tanggal 2020-05-02. 
  5. ^ a b c d e f g Moore, Lincoln M. (August, 2004). "Mango,(Mangifera indica) USDA NRCS National Plant Data Center" (PDF). United States Department of Agriculture, National Resources Conservation Service. Diakses tanggal 02-05-2020. 
  6. ^ a b c d e f "Mango". www.hort.purdue.edu. Diakses tanggal 2020-05-02. 
  7. ^ "USDA Nutrient Database". 
  8. ^ Chaer, Abdul (Juni, 2009). Kamus Dialek Jakarta. Depok: Masup Jakarta. hlm. 116. ISBN 978-979-15706-7-1. 
  9. ^ (Inggris) "3beta-taraxerol of Mangifera indica, a PI3K dependent dual activator of glucose transport and glycogen synthesis in 3T3-L1 adipocytes". Centre for Biotechnology, Anna University; Sangeetha KN, Sujatha S, Muthusamy VS, Anand S, Nithya N, Velmurugan D, Balakrishnan A, Lakshmi BS. Diakses tanggal 2010-06-22. 

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Bahan bacaan[sunting | sunting sumber]

  • Morton, J. 1987. Mango. p. 221–239. In: Fruits of warm climates. Julia F. Morton, Miami, FL.
  • van Steenis, C.G.G.J. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita. Jakarta.
  • Verheij, E.W.M. dan R.E. Coronel (eds.). 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang dapat dimakan. PROSEA – Gramedia. Jakarta. ISBN 979-511-672-2.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]