Orang Tionghoa-Indonesia
Artikel ini harus menyertakan konten berbahasa non-Indonesia menggunakan {{lang}}, {{transliteration}} untuk alih-bahasa, dan {{IPA}} untuk transkripsi IPA. Lihat kode ISO 639 untuk bantuan parameternya. |
Melakukan ritual untuk malam Tahun Baru Imlek 2020 di Indonesia | |
| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 2,832,510 (2010, Sensus Penduduk Indonesia)[1] 3,280,000 (2020, National Geographic)[2] 11,150,000 (2023, Dewan Urusan Komunitas Luar Negeri, Taiwan)[3] | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
Di seluruh Indonesia Terutama di Jawa, Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung dan Kalimantan, dengan populasi yang signifikan di Indonesia Timur, terutama di sebagian wilayah Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, dan Kepulauan Maluku Populasi diaspora yang signifikan di: | |
| Bahasa | |
| Utama Indonesia (lingua franca) Bahasa ibu Bahasa Indonesia Peranakan Indonesia, Betawi, Jawa, Sunda, Minangkabau, Batak, Aceh, Bali, Melayu dan variasinya dan Bahasa di Indonesia lainnya Bahasa kedua Hokkien, Hakka, Tiochiu, Kanton, Fuzhou, Henghua, Hainan, Taishan, Mandarin dan varietas bahasa Tionghoa lainnya. Bahasa tersier Inggris | |
| Agama | |
Sebagian besar Buddhisme, Konfusianisme, Kekristenan | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Orang Tionghoa Indonesia | |||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hanzi tradisional: | 印度尼西亞華人 | ||||||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi sederhana: | 印度尼西亚华人 | ||||||||||||||||||||||||||||||
| Makna harfiah: | Orang Tionghoa Indonesia | ||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||
Orang Tionghoa Indonesia (juga disebut orang Tionghoa),[8][catatan 1] adalah salah sebuah kelompok masyarakat di Indonesia[9] adalah orang Indonesia yang leluhurnya bermigrasi dari Tiongkok dalam kurun waktu delapan abad terakhir. Leluhur orang Tionghoa-Indonesia berimigrasi secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu melalui kegiatan perniagaan. Peran mereka beberapa kali muncul dalam sejarah Indonesia, bahkan sebelum Republik Indonesia dideklarasikan dan terbentuk. Catatan-catatan dari Tiongkok menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Tiongkok. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari Tiongkok ke Nusantara dan sebaliknya.
Jumlah pasti populasi Tionghoa Indonesia tidak diketahui karena sensus penduduk 2020 tidak mencatat data etnis. Sensus 2010, yang terakhir memuat kategori etnis, mencatat 2.832.510 jiwa sebagai warga Tionghoa Indonesia. Perkiraan terkini berbeda cukup jauh, mulai dari sekitar 3,28 juta pada 2020 menurut pakar demografi Indonesia[2] hingga 11,15 juta pada 2023 menurut Dewan Urusan Komunitas Luar Negeri (OCAC) Taiwan, sehingga komunitas ini dapat digolongkan sebagai komunitas Tionghoa perantauan keempat terbesar di dunia menurut perkiraan demografer Indonesia, atau yang terbesar menurut OCAC.[3]
Orang Tionghoa dan keturunannya yang berasal dari Indonesia telah tinggal di kepulauan Indonesia setidaknya sejak abad ke-13. Banyak dari mereka yang awalnya datang sebagai pendatang (penduduk sementara), yang berniat untuk kembali ke kampung halamannya di hari tua.[10] Namun, sebagian lagi tinggal di wilayah ini sebagai migran ekonomi. Populasi mereka berkembang pesat selama periode kolonial ketika para pekerja dikontrak dari provinsi asal mereka di Tiongkok Selatan.
Populasi di Indonesia
[sunting | sunting sumber]Berdasarkan Volkstelling (sensus) pada masa Hindia Belanda, populasi Tionghoa Indonesia mencapai 1.233.000 (2,03%) dari penduduk Indonesia pada tahun 1930.[11] Tidak ada data resmi mengenai jumlah populasi Tionghoa di Indonesia dikeluarkan pemerintah sejak Indonesia merdeka. Namun ahli antropologi Amerika, G.W. Skinner, dalam risetnya pernah memperkirakan populasi masyarakat Tionghoa di Indonesia mencapai 2.505.000 (2,5%) pada tahun 1961.[12]
Dalam sensus penduduk pada tahun 2000, ketika untuk pertama kalinya responden sensus ditanyai mengenai asal etnis mereka, hanya 1% atau 1.739.000 jiwa yang mengaku sebagai Tionghoa. Definisi "etnis" yang dipakai BPS didasarkan atas pengakuan orang yang disensus. Atas dasar ini, jumlah ini dapat dianggap sebagai batas bawah ("lowerbound") karena banyak warga Tionghoa yang enggan mengaku sebagai "Tionghoa" dalam sensus. Perkiraan kasar yang dipercaya mengenai jumlah suku Tionghoa Indonesia saat ini ialah berada di antara kisaran 4% - 5% dari seluruh jumlah populasi Indonesia.[13]
Menurut Perpustakaan Universitas Ohio, jumlah suku Tionghoa di Indonesia mencapai 7.310.000 jiwa. Jumlah ini merupakan yang terbesar di luar Tiongkok[14] Sedangkan pada tahun 2006 jumlah etnis Tionghoa di Indonesia mencapai 7.670.000.[15] Poston, Dudley; Wong, Juyin (2016) memperkirakan populasi Tionghoa Indonesia mencapai lebih dari 8.010.720 jiwa.[16] Menurut data Statista pada tahun 2023, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 11,15 juta penduduk keturunan Tionghoa dan menjadikannya negara dengan populasi Tionghoa terbesar di luar Tiongkok. Angka ini setara dengan sekitar 4% dari total populasi Indonesia[17].
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Masa-masa awal
[sunting | sunting sumber]

Dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan di Nusantara, para imigran Cina pun mulai berdatangan, terutama untuk kepentingan perdagangan. Pada prasasti-prasasti dari Jawa orang Tionghoa disebut-sebut sebagai warga asing yang menetap di samping nama-nama sukubangsa dari Nusantara, daratan Asia Tenggara dan anakbenua India. Dalam suatu prasasti perunggu bertahun 860 dari Jawa Timur disebut suatu istilah, Juru Cina, yang berkait dengan jabatan pengurus orang-orang Tionghoa yang tinggal di sana. Beberapa motif relief di Candi Sewu diduga juga mendapat pengaruh dari motif-motif kain sutera Cina.[18]
Catatan Ma Huan, ketika turut serta dalam ekspedisi Cheng Ho, menyebut secara jelas bahwa pedagang Tionghoa muslim menghuni ibu kota dan kota-kota bandar Majapahit (abad ke-15) dan membentuk satu dari tiga komponen penduduk kerajaan itu.[19] Ekspedisi Cheng Ho juga meninggalkan jejak di Semarang, ketika orang keduanya, Wang Jinghong, sakit dan memaksa rombongan melepas sauh di Simongan (sekarang bagian dari Kota Semarang). Wang kemudian menetap karena tidak mampu mengikuti ekspedisi selanjutnya. Ia dan pengikutnya menjadi salah satu cikal-bakal warga Tionghoa Semarang. Wang mengabadikan Cheng Ho menjadi sebuah patung (disebut "Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong"), serta membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu.[20] Di komplek ini Wang juga dikuburkan dan dijuluki "Mbah Jurumudi Dampo Awang".[21]
Sejumlah sejarawan juga menunjukkan bahwa Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, memiliki darah Cina selain keturunan Majapahit. Beberapa wali penyebar agama Islam di Jawa juga memiliki darah Cina, meskipun mereka memeluk Islam dan tidak lagi secara aktif mempraktikkan kultur Tionghoa.[22]
Kitab Sunda Tina Layang Parahyang menyebutkan kedatangan rombongan Tionghoa ke muara Ci Sadane (sekarang Teluknaga) pada tahun 1407, pada masa daerah itu masih di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda (Pajajaran). Pemimpinnya adalah Halung dan mereka terdampar sebelum mencapai tujuan di Kalapa.
Beberapa catatan tertua ditulis oleh para agamawan, seperti Fa Hien pada abad ke-4 dan I Ching pada abad ke-7. Fa Hien melaporkan suatu kerajaan di Jawa ("To lo mo") dan I Ching ingin datang ke India untuk mempelajari agama Buddha dan singgah dulu di Nusantara untuk belajar bahasa Sanskerta. Di Jawa ia berguru pada seseorang bernama Jñânabhadra.
Era kolonial
[sunting | sunting sumber]
Pada masa kolonial, Belanda pernah mengangkat beberapa pemimpin komunitas dengan gelar Kapiten Cina, yang diwajibkan setia dan menjadi penghubung antara pemerintah dengan komunitas Tionghoa. Beberapa di antara mereka ternyata juga telah berjasa bagi masyarakat umum, misalnya So Beng Kong dan Phoa Beng Gan yang membangun kanal di Batavia[butuh rujukan]. Di Batavia, Mohamad Djafar menjadi kapten Tionghoa muslim yang terakhir (kedua). Di Yogyakarta, Kapiten Tan Djin Sing sempat menjadi Bupati Yogyakarta.[23]

Sebetulnya terdapat juga kelompok Tionghoa yang pernah berjuang melawan Belanda, baik sendiri maupun bersama etnis lain. Bersama Kesultanan Mataram, kelompok Tionghoa berperang melawan VOC tahun 1740-1743 yang disebut dengan peristiwa Perang Kuning.[24] Di Kalimantan Barat, komunitas Tionghoa yang tergabung dalam "Republik" Lanfong[butuh rujukan] berperang dengan pasukan Belanda pada abad XIX.
Dalam perjalanan sejarah pra kemerdekaan, beberapa kali etnis Tionghoa menjadi sasaran pembunuhan massal atau penjarahan, seperti pembantaian di Batavia 1740 dan pembantaian masa perang Jawa 1825–1830. Pembantaian di Batavia tersebut[25][26] Diarsipkan 2009-09-21 di Wayback Machine. melahirkan gerakan perlawanan dari etnis Tionghoa yang bergerak di beberapa kota di Jawa Tengah yang dibantu pula oleh etnis Jawa. Pada gilirannya ini mengakibatkan pecahnya kerajaan Mataram. Orang Tionghoa tidak lagi diperbolehkan bermukim di sembarang tempat. Aturan Wijkenstelsel ini menciptakan permukiman etnis Tionghoa atau pecinan di sejumlah kota besar di Hindia Belanda.
Pendidikan
[sunting | sunting sumber]Kebangkitan nasionalisme di Hindia Belanda tidak terlepas dari perkembangan yang terjadi pada komunitas Tionghoa. Tanggal 17 Maret 1900 terbentuk di Batavia Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) yang mendirikan sekolah-sekolah, seperti di kota Garut dirintis dan didirikan pada tahun 1907 oleh seorang pengusaha hasil bumi saat itu bernama Lauw O Teng beserta kedua anak lelakinya bernama Lauw Tek Hay dan Lauw Tek Siang,dengan maksud agar orang Tionghoa bisa pintar, (kemudian jumlahnya mencapai 54 buah sekolah dan pada tahun 1908 dan mencapai 450 sekolah tahun 1934). Inisiatif ini diikuti oleh etnis lain, seperti keturunan Arab yang mendirikan Djamiat-ul Chair meniru model THHK. Pada gilirannya hal ini menyadarkan priyayi Jawa tentang pentingnya pendidikan bagi generasi muda sehingga dibentuklah Budi Utomo.
Perekonomian
[sunting | sunting sumber]Target pemerintah kolonial untuk mencegah interaksi pribumi dengan etnis Tionghoa melalui aturan passenstelsel dan Wijkenstelsel itu ternyata menciptakan konsentrasi kegiatan ekonomi orang Tionghoa di perkotaan. Ketika perekonomian dunia beralih ke sektor industri, orang-orang Tionghoa paling siap berusaha dengan spesialisasi usaha makanan-minuman, jamu, peralatan rumah tangga, bahan bangunan, pemintalan, batik, kretek dan transportasi. Tahun 1909 di Buitenzorg (Bogor) Sarekat Dagang Islamiyah didirikan oleh RA Tirtoadisuryo mengikuti model Siang Hwee (kamar dagang orang Tionghoa) yang dibentuk tahun 1906 di Batavia. Bahkan pembentukan Sarekat Islam (SI) di Surakarta tidak terlepas dari pengaruh asosiasi yang lebih dulu dibuat oleh warga Tionghoa. Pendiri SI, Haji Samanhudi, pada mulanya adalah anggota Kong Sing, organisasi paguyuban tolong-menolong orang Tionghoa di Surakarta. Samanhudi juga kemudian membentuk Rekso Rumekso yaitu Kong Sing-nya orang Jawa.
Pergerakan
[sunting | sunting sumber]Pemerintah kolonial Belanda makin khawatir karena Sun Yat Sen memproklamasikan Republik Tiongkok, Januari 1912. Organisasi Tionghoa yang pada mulanya berkecimpung dalam bidang sosial-budaya mulai mengarah kepada politik. Tujuannya menghapuskan perlakukan diskriminatif terhadap orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda dalam bidang pendidikan, hukum/peradilan, status sipil, beban pajak, hambatan bergerak dan bertempat tinggal.
Dalam rangka pelaksanaan Politik Etis, pemerintah kolonial berusaha memajukan pendidikan, namun warga Tionghoa tidak diikutkan dalam program tersebut. Padahal orang Tionghoa membayar pajak ganda (pajak penghasilan dan pajak kekayaan). Pajak penghasilan diwajibkan kepada warga pribumi yang bukan petani. Pajak kekayaan (rumah, kuda, kereta, kendaraan bermotor dan peralatan rumah tangga) dikenakan hanya bagi Orang Eropa dan Timur Asing (termasuk orang etnis Tionghoa). Hambatan untuk bergerak dikenakan bagi warga Tionghoa dengan adanya passenstelsel.
Pada waktu terjadinya Sumpah Pemuda, ada beberapa nama dari kelompok Tionghoa sempat hadir, antara lain Kwee Tiam Hong dan tiga pemuda Tionghoa lainnya. Sin Po sebagai koran Melayu Tionghoa juga sangat banyak memberikan sumbangan dalam menyebarkan informasi yang bersifat nasionalis. Pada 1920-an itu, harian Sin Po memelopori penggunaan kata Indonesia bumiputera sebagai pengganti kata Belanda inlander di semua penerbitannya. Langkah ini kemudian diikuti oleh banyak harian lain. Sebagai balas budi, semua pers lokal kemudian mengganti kata "Tjina" dengan kata Tionghoa. Pada 1931 Liem Koen Hian mendirikan PTI, Partai Tionghoa Indonesia (dan bukan Partai Tjina Indonesia).
Masa Pendudukan Jepang
[sunting | sunting sumber]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. |
Masa Revolusi dan Pra Kemerdekaan RI
[sunting | sunting sumber]Pada masa revolusi tahun 1945-an, Mayor John Lie yang menyelundupkan barang-barang ke Singapura untuk kepentingan pembiayaan Republik. Rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok, dekat Karawang, diambil-alih oleh Tentara Pembela Tanah Air (PETA), kemudian penghuninya dipindahkan agar Bung Karno dan Bung Hatta dapat beristirahat setelah "disingkirkan" dari Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1945. Di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merumuskan UUD'45 terdapat 4 orang Tionghoa yaitu; Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, dan di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terdapat 1 orang Tionghoa yaitu Drs.Yap Tjwan Bing. Liem Koen Hian yang meninggal dalam status sebagai warganegara asing, sesungguhnya ikut merancang UUD 1945. Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R. Supratman, pun pertama kali dipublikasikan oleh Koran Sin Po.
Dalam perjuangan fisik ada beberapa pejuang dari kalangan Tionghoa, namun nama mereka tidak banyak dicatat dan diberitakan. Salah seorang yang dikenali ialah Tony Wen, yaitu orang yang terlibat dalam penurunan bendera Belanda di Hotel Oranye Surabaya.
Pasca kemerdekaan
[sunting | sunting sumber]Orde Lama
[sunting | sunting sumber]
Pada Orde Lama, terdapat beberapa menteri Republik Indonesia dari keturunan Tionghoa seperti Oei Tjoe Tat, Ong Eng Die, Siauw Giok Tjhan, dll.
Bahkan Oei Tjoe Tat pernah diangkat sebagai salah satu Tangan Kanan Ir. Soekarno pada masa Kabinet Dwikora.
Pada masa ini hubungan Ir. Soekarno dengan beberapa tokoh dari kalangan Tionghoa dapat dikatakan sangat baik. Walau pada Orde Lama terdapat beberapa kebijakan politik yang diskriminatif seperti
Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1959 yang melarang WNA Tionghoa untuk berdagang eceran di daerah di luar ibu kota provinsi dan kabupaten. Hal ini menimbulkan dampak yang luas terhadap distribusi barang dan pada akhirnya menjadi salah satu sebab keterpurukan ekonomi menjelang tahun 1965 dan lainnya.
Orde Baru
[sunting | sunting sumber]Selama Orde Baru dilakukan penerapan ketentuan tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia, atau yang lebih populer disebut SBKRI, yang utamanya ditujukan kepada warga negara Indonesia (WNI) etnis Tionghoa beserta keturunan-keturunannya. Walaupun ketentuan ini bersifat administratif, secara esensi penerapan SBKRI sama artinya dengan upaya yang menempatkan WNI Tionghoa pada posisi status hukum WNI yang "masih dipertanyakan".
Pada Orde Baru Warga keturunan Tionghoa dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka. Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, dan pemakaian Bahasa Mandarin dilarang, meski kemudian hal ini diperjuangkan oleh komunitas Tionghoa Indonesia terutama dari komunitas pengobatan Tionghoa tradisional karena pelarangan sama sekali akan berdampak pada resep obat yang mereka buat yang hanya bisa ditulis dengan bahasa Mandarin. Mereka pergi hingga ke Mahkamah Agung dan akhirnya Jaksa Agung Indonesia waktu itu memberi izin dengan catatan bahwa Tionghoa Indonesia berjanji tidak menghimpun kekuatan untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan Indonesia.

Satu-satunya surat kabar berbahasa Mandarin yang diizinkan terbit adalah Harian Indonesia yang sebagian artikelnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Harian ini dikelola dan diawasi oleh militer Indonesia dalam hal ini adalah ABRI meski beberapa orang Tionghoa Indonesia bekerja juga di sana. Agama tradisional Tionghoa dilarang. Akibatnya agama Konghucu kehilangan pengakuan pemerintah.
Pemerintah Orde Baru berdalih bahwa warga Tionghoa yang populasinya ketika itu mencapai kurang lebih 5 juta dari keseluruhan rakyat Indonesia dikhawatirkan akan menyebarkan pengaruh komunisme di Tanah Air. Padahal, kenyataan berkata bahwa kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang, yang tentu bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh komunisme, yang sangat mengharamkan perdagangan dilakukan[butuh rujukan].
Orang Tionghoa dijauhkan dari kehidupan politik praktis. Sebagian lagi memilih untuk menghindari dunia politik karena khawatir akan keselamatan dirinya.
Pada masa akhir dari Orde Baru, terdapat peristiwa kerusuhan rasial yang merupakan peristiwa terkelam bagi masyarakat Indonesia terutama warga Tionghoa karena kerusuhan tersebut menyebabkan jatuhnya banyak korban bahkan banyak di antara mereka mengalami pelecehan seksual, penjarahan, kekerasan, dan lainnya.
Reformasi
[sunting | sunting sumber]Reformasi yang digulirkan pada 1998 telah banyak menyebabkan perubahan bagi kehidupan warga Tionghoa di Indonesia. Walau belum 100% perubahan tersebut terjadi, namun hal ini sudah menunjukkan adanya tren perubahan pandangan pemerintah dan warga pribumi terhadap masyarakat Tionghoa. Bila pada masa Orde Baru aksara, budaya, ataupun atraksi Tionghoa dilarang dipertontonkan di depan publik, saat ini telah menjadi pemandangan umum hal tersebut dilakukan. Di Medan, Sumatera Utara, misalnya, adalah hal yang biasa ketika warga Tionghoa menggunakan bahasa Hokkien ataupun memajang aksara Tionghoa di toko atau rumahnya. Selain itu, pada Pemilu 2004 lalu, kandidat presiden dan wakil presiden Megawati-Hasyim Muzadi menggunakan aksara Tionghoa dalam selebaran kampanyenya untuk menarik minat warga Tionghoa.
Budaya
[sunting | sunting sumber]Bahasa
[sunting | sunting sumber]
Empat kelompok bahasa Tionghoa utama diwakilkan di Indonesia: Hokkien (Min Selatan; Min Nan), Hainan, Hakka dan Kanton. Selain empat ini, orang-orang Tiochiu memiliki dialek mereka sendiri yang masih dapat saling dimengerti sampai tingkat tertentu dengan bahasa Hokkien. Meskipun begitu, pembedaan di antara keduanya semakin ditekankan di luar wilayah asal mereka.[27] Diperkirakan ada sekitar 2,2 juta penutur asli berbagai ragam bahasa Tionghoa di Indonesia pada tahun 1982: 1.300.000 penutur ragam Min Selatan (termasuk bahasa Hokkien dan Tiochiu); 640.000 penutur bahasa Hakka; 460.000 penutur bahasa Hainan; 180.000 penutur bahasa Kanton; dan 20.000 penutur ragam Min Timur (termasuk bahasa Hokciu). Selebihnya, sekitar 20.000 merupakan penutur dialek bahasa Indonesia.[28]
Masyarakat Tionghoa di Jakarta dan kota-kota lainnya di Jawa umumnya kurang fasih dalam bahasa-bahasa Tionghoa akibat kebijakan pelarangan oleh Orde Baru, sementara mereka yang berada di luar Jawa (seperti Sumatra dan Kalimantan) cenderung masih fasih. Penutur Hokkien dominan di pesisir timur Sumatra (Medan, Riau, Jambi) dengan variasi dialek Zhangzhou di Medan dan dialek Quanzhou di Riau, serta tersebar di sebagian Sulawesi dan Kalimantan. Penutur Hakka menjadi kelompok Tionghoa mayoritas di Bangka-Belitung dan Kalimantan Barat bagian utara, sedangkan penutur Tiochiu berpusat di Kalimantan Barat bagian selatan dan Kepulauan Riau. Sementara itu, komunitas Kanton banyak ditemukan di kota-kota besar di seluruh Indonesia, serta kelompok kecil lainnya seperti penutur Hokchia di Jawa Tengah dan Timur, dan penutur Hainan yang berpusat di Pematangsiantar.

Banyak orang Indonesia, termasuk etnis Tionghoa, percaya akan adanya dialek bahasa Melayu yang dikenal sebagai Melayu Tionghoa atau Melayu Cina. Berkembangnya sastra peranakan di paruh kedua abad ke-19 melahirkan varian semacam itu dan dipopulerkan melalui cerita-cerita silat yang diterjemahkan dari bahasa Tionghoa atau dituliskan dalam bahasa Melayu dan Indonesia. Meskipun begitu, para ahli berpendapat bahwa bahasa ini berbeda dari campuran bahasa Jawa dan Melayu lisan yang dianggap "hanya digunakan oleh etnis Tionghoa".[a]
[S]elain dari beberapa kata serapan dari bahasa Tionghoa, tidak ada hal yang Tionghoa secara unik tentang bahasa 'Melayu Tionghoa'. Bahasa tersebut hanyalah bahasa Melayu rendah pasaran, bahasa lidah orang-orang Jawa di jalanan dan pasaran, khususnya di kota-kotanya, digunakan oleh semua kelompok etnis di lingkungan perkotaan dan multi-etnis. Karena orang Tionghoa merupakan kelompok yang dominan dalam perkotaan dan pasar, bahasa tersebut dikaitkan dengan mereka, tetapi pejabat pemerintahan, orang-orang Eurasia, pedagang migran, atau orang-orang dari wilayah bahasa yang berbeda, semuanya menggunakan ragam Melayu ini untuk berkomunikasi.
Menurut Ellen Rafferty, kaum peranakan di Jawa umumnya mulai menggunakan bahasa Melayu Rendah (Melayu Pasar) dan sebagian bahasa Jawa di rumah sebelum tahun 1800, sementara bahasa Melayu Rendah digunakan untuk komunikasi lintas daerah. Sejak tahun 1800, komunitas peranakan mulai menunjukkan penggunaan bahasa Jawa dalam komunikasi tertulis, dengan varian bahasa Jawa lisan yang kemudian diidentifikasi sebagai tingkatan ngoko. Setelah tahun 1880, penggunaan bahasa Jawa tertulis digantikan oleh bahasa Melayu Rendah tertulis. Sejak 1945, kaum peranakan menggunakan bahasa Jawa yang diindonesiakan di lingkungan rumah, yang dilengkapi dengan bahasa Jawa ngoko untuk percakapan lokal, serta bahasa Indonesia untuk komunikasi lintas daerah dan keperluan tertulis.[30]
Literatur akademik yang membahas bahasa Melayu Tionghoa umumnya mencatat bahwa etnis Tionghoa tidak menuturkan dialek Melayu yang seragam di seluruh nusantara.[31] Selain itu, meskipun pemerintah kolonial Belanda pertama kali memperkenalkan ejaan bahasa Melayu pada tahun 1901, surat kabar Tionghoa tidak mengikuti standar tersebut hingga setelah masa kemerdekaan.[32] Karena faktor-faktor tersebut, etnis Tionghoa memainkan "peran penting" dalam pengembangan bahasa Indonesia modern sebagai kelompok terbesar selama masa kolonial yang berkomunikasi dalam berbagai dialek Melayu.[33]
Hingga tahun 2018, jumlah orang Tionghoa Indonesia yang mempelajari bahasa Mandarin Standar mengalami peningkatan.[34]
Seni Pertunjukan
[sunting | sunting sumber]Barongsai
[sunting | sunting sumber]Barongsai adalah tari tradisional Tionghoa dengan menggunakan sarung dan kostum yang menyerupai singa. Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Pada 1965 kesenian barongsai di Indonesia sempat terhenti akibat situasi politik dan adanya pelarangan kebudayaan Tionghoa di Indonesia. Meski saat itu barongsai tidak diizinkan dimainkan, tetapi ada satu tempat yang bisa menampilkan kesenian budaya barongsai secara besar-besaran, yakni di Kota Semarang, tepatnya di panggung besar Kelenteng Sam Poo Kong atau dikenal juga dengan Kelenteng Gedong Batu. Barongsai di Indonesia kemudian mengalami masa marak ketika masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) yang mempopulerkan seni barongsai. Pada 9 Agustus 2012 di Jakarta, telah berdiri FOBI (Federasi Olahraga Barongsai Indonesia) yang menjadi wadah dari olahraga barongsai di Indonesia. FOBI akhirnya resmi masuk KONI pada 11 Juni 2013. Barongsai pun kini tidak hanya dimainkan oleh etnis Tionghoa saja, tetapi juga dimainkan oleh para kaum muda non-Tionghoa.[35]
Liang Liong
[sunting | sunting sumber]Tari Naga (karakter sederhana: 舞龙; karakter tradisional: 舞龍; pinyin: wǔ lóng) atau disebut juga Liang Liong di Indonesia. Tarian ini sering tampil pada waktu perayaan-perayaan tertentu. Orang Tionghoa sering menggunakan istilah 'Keturunan Naga'(龍的傳人 atau 龙的传人, lóng de chuán rén) sebagai suatu simbol identitas etnis. Dalam tarian ini, satu regu orang Tionghoa memainkan naga-nagaan yang diusung dengan belasan tongkat atau lebih. Penari terdepan mengangkat, menganggukkan, menyorongkan dan mengibas-kibaskan kepala naga-nagaan tersebut yang merupakan bagian dari gerakan tarian yang diarahkan oleh salah seorang penari.
Wayang Potehi
[sunting | sunting sumber]Wayang Potehi merupakan salah satu jenis wayang khas Tionghoa yang berthe asal dari Tiongkok bagian selatan. Kesenian ini dibawa oleh perantau etnis Tionghoa ke berbagai wilayah Nusantara pada masa lampau dan telah menjadi salah satu jenis kesenian tradisional Indonesia. Potehi berasal dari kata pou 布 (kain), te 袋 (kantong), dan hi 戯 (wayang). Wayang Potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain. Kesenian ini sudah berumur sekitar 3.000 tahun dan berasal dari Tiongkok.
Wushu
[sunting | sunting sumber]Wushusecara harafiah berarti "seni bertempur/bela diri". Ini juga merupakan istilah lain dari kungfu yang lebih dahulu populer, yang berarti "ahli" dalam bidang tertentu. Kata Wushu berasal dari dua kata yaitu “Wu” dan “Shu”. Arti dari kata “Wu” adalah ilmu perang, sedangkan arti kata “Shu” adalah seni. Sehingga Wushu bisa juga diartikan sebagai seni untuk berperang atau seni beladiri (Martial Art). Wushu juga mempelajari seni, olahraga, kesehatan, pengobatan, beladiri, pernapasan, pikiran dan mental. Semua aliran kung fu atau seni bela diri yang berasal dari China tradisional, baik keras atau lembut dapat disebut Wushu. Wushu keras termasuk tinju selatan Nanquan dan tinju panjang Changquan. Wushu lembut termasuk tinju Taiji, Telapak Baguazhang, dan tinju xingyiquan. Adapun seni beladiri Wushu yang telah dikembangkan oleh orang-orang etnis Tionghoa yang menetap di wilayah Asia Tenggara (terutama Indonesia) sering kali disebut dengan istilah Kuntao.[36]
Hidangan
[sunting | sunting sumber]| Bahasa Tionghoa | Kata serapan | |
|---|---|---|
| 紅酒 | angciu | |
| 麵 | mi | |
| 肉麵 | bakmi | |
| 肉酥 | bakso | |
| 豆腐 | tahu | |
| 肉包 | bakpao | |
| 豆醬 | tauco | |
| 粿條 | kwetiau | |
| 米粉 | bihun/mihun | |
| 魷魚 | cumi/juhi | |
| 蘿蔔 | lobak | |
| 粿 | kue | |
| 瓜籽 | kuaci | |
| Source: Tan 2002, hlm. 158 | ||
Budaya kuliner Tionghoa sangat nyata terlihat dalam hidangan Indonesia melalui kata-kata serapan dari bahasa Hokkien, Hakka, dan Kanton yang digunakan untuk berbagai jenis hidangan.[37] Kata-kata yang berawalan bak (肉) melambangkan adanya daging, seperti bakpao; kata-kata berakhiran cai (菜) melambangkan sayuran, seperti pecai dan capcai.[38] Kata mi (麵) melambangkan mi seperti dalam mi goreng.
Sebagian besar kata serapan untuk jenis hidangan dan bahan makanan ini berasal dari dialek Hokkien, serta digunakan secara luas dalam bahasa Indonesia maupun percakapan sehari-hari di kota-kota besar. Karena telah menjadi bagian tak terpisahkan dari bahasa setempat, banyak penduduk Indonesia termasuk etnis Tionghoa sendiri yang tidak lagi menyadari bahwa kata-kata tersebut berasal dari bahasa Hokkien. Beberapa hidangan populer Indonesia seperti nasi goreng, pempek, lumpia, dan bakpia dapat ditelusuri asal-usulnya dari pengaruh Tionghoa. Some food and ingredients are part of the daily diet of both the indigenous and ethnic Chinese populations as side dishes to accompany rice, the staple food of most of the country.[39] Among ethnic Chinese families, both peranakan and totok, pork is generally preferred as meat;[40] this is in contrast with traditional Indonesian cuisine, which in majority-Muslim areas avoids the meat. The consumption of pork has, however, decreased in recent years owing to a recognition of its contribution to health hazards such as high cholesterol levels and heart disease.[39]
In a 1997 restaurant listing published by the English-language daily The Jakarta Post, which largely caters to expatriates and middle class Indonesians, at least 80 locations within the city can be considered Chinese out of the 10-page list. Additionally, major hotels generally operate one or two Chinese restaurants, and many more can be found in large shopping centers.[41] Upscale Chinese restaurants in Jakarta, where the urban character of the ethnic Chinese is well established, can be found serving delicacies such as shark fin soup and bird's nest soup.[37] Food considered to have healing properties, including ingredients in traditional Chinese medicine, are in high demand.[42]
Festival
[sunting | sunting sumber]
Festival Qingming
[sunting | sunting sumber]Festival Qingming merupakan ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sesuai dengan ajaran Khong Hu Cu. Festival tradisional Tionghoa ini dilaksanakan pada hari ke-104 setelah titik balik Matahari di musim dingin (atau hari ke-15 pada hari persamaan panjang siang dan malam di musim semi), pada umumnya dirayakan pada tanggal 5 April atau 4 April pada tahun kabisat. Festival ini masih sering dirayakan di Kepulauan Bangka Belitung.
Imlek
[sunting | sunting sumber]Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan Tahun Baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama (Tionghoa: 正月; Pinyin: zhēng yuè) di tarikh Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh (Tionghoa: 十五暝/元宵節; pinyin: Shíwǔ míng/yuánxiāo jié) pada tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru Imlek dikenal sebagai Chúxī 除夕 yang berarti "malam pergantian tahun". Perayaan ini dirayakan dengan kumpul keluarga, jamuan besar, berdoa, penyalaan lampion dan penyulutan kembang api.
Cengbeng
[sunting | sunting sumber]
Cengbeng merupakan ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sesuai dengan ajaran Khong Hu Cu. Festival tradisional Tionghoa ini dilaksanakan pada hari ke-104 setelah titik balik Matahari di musim dingin (atau hari ke-15 pada hari persamaan panjang siang dan malam di musim semi), pada umumnya dirayakan pada tanggal 5 April atau 4 April pada tahun kabisat.
Kerusuhan Rasial terhadap Warga Tionghoa di Indonesia
[sunting | sunting sumber]Kerusuhan-kerusuhan yang menimpa etnis Tionghoa antara lain pembunuhan massal di Jawa 1946–1948, peristiwa rasialis 10 Mei 1963 di Bandung, 5 Agustus 1973 di Jakarta, Malari 1974 di Jakarta, Kerusuhan Mei 1998 di beberapa kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Solo,dll. serta berbagai kerusuhan rasial lainnya.[43]
Beberapa contoh kerusuhan rasial yang terjadi yaitu:
- Bandung, 10 Mei 1963. Kerusuhan anti suku peranakan Tionghoa terbesar di Jawa Barat. Awalnya, terjadi keributan di kampus Institut Teknologi Bandung antara mahasiswa pribumi dan non-pribumi. Keributan berubah menjadi kerusuhan yang menjalar ke mana-mana, bahkan ke kota-kota lain seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Medan.[44]
- Desember, tahun 1966. Sekolah- sekolah Tionghoa di Indonesia ditutup pada bulan Desember.[45]
- Jakarta, tahun 1967. Koran- koran berbahasa Tionghoa ditutup oleh pemerintah.[45]
- April, gereja- gereja diserang di Aceh, berbarengan dengan demonstrasi anti-Tionghoa di Jakarta.[45]
- Pekalongan, 31 Desember 1972. Terjadi keributan antara orang-orang Arab dan peranakan Tionghoa. Awalnya, perkelahian yang berujung terbunuhnya seorang pemuda Tionghoa. Keributan terjadi saat acara pemakaman.
- Palu, 27 Juni 1973. Sekelompok pemuda menghancurkan toko Tionghoa. Kerusuhan muncul karena pemilik toko itu memakai kertas yang bertuliskan huruf Arab sebagai pembungkus dagangan.
- Bandung, 5 Agustus 1973. Dimulai dari serempetan sebuah gerobak dengan mobil yang berbuntut perkelahian. Kebetulan penumpang mobil orang-orang Tionghoa. Akhirnya, kerusuhan meledak di mana-mana.[46]
- Jakarta, tahun 1978. Pelarangan penggunaan karakter- karakter huruf Tionghoa di setiap barang/ media cetak di Indonesia.[47]
- Ujungpandang, April 1980. Suharti, seorang pembantu rumah-tangga meninggal mendadak. Kemudian beredar desas-desus: Ia mati karena dianiaya majikannya seorang Tionghoa. Kerusuhan rasial meledak. Ratusan rumah dan toko milik suku peranakan Tionghoa dirusak.
- Medan, 12 April 1980. Sekelompok mahasiswa USU bersepeda motor keliling kota, sambil memekikkan teriakan anti suku peranakan Tionghoa. Kerusuhan itu bermula dari perkelahian.
- Solo, 20 November 1980. Kerusuhan melanda kota Solo dan merembet ke kota-kota lain di Jawa Tengah. Bermula dari perkelahian pelajar Sekolah Guru Olahraga, antara Pipit Supriyadi dan Kicak, seorang pemuda suku peranakan Tionghoa. Perkelahian itu berubah menjadi perusakan dan pembakaran toko-toko milik orang-orang Tionghoa.[48][49]
- Surabaya, September 1986. Pembantu rumah tangga dianiaya oleh majikannya suku peranakan Tionghoa. Kejadian itu memancing kemarahan masyarakat Surabaya. Mereka melempari mobil dan toko-toko milik orang-orang Tionghoa.[50]
- Pekalongan, 24 November 1995. Yoe Sing Yung, pedagang kelontong, menyobek kitab suci Alquran. Akibat ulah penderita gangguan jiwa itu, masyarakat marah dan menghancurkan toko-toko milik orang-orang Tionghoa.[51]
- Bandung, 14 Januari 1996. Massa mengamuk seusai pertunjukan musik Iwan Fals. Mereka melempari toko-toko milik orang-orang Tionghoa. Pemicunya, mereka kecewa tak bisa masuk pertunjukan karena tak punya karcis.
- Rengasdengklok, 30 Januari 1997. Mula-mula ada seorang suku peranakan Tionghoa yang merasa terganggu suara beduk Subuh. Percekcokan terjadi. Masyarakat mengamuk, menghancurkan rumah dan toko Tionghoa.[52]
- Ujungpandang, 15 September 1997. Benny Karre, seorang keturunan Tionghoa dan pengidap penyakit jiwa, membacok seorang anak pribumi. Hal itu menyulut emosi massa warga pribumi yang kemudian menghakimi Benny Karre hingga tewas, belum puas, kerusuhan pun meledak, toko-toko Tionghoa dibakar, dirusak dan dihancurkan, sambil meneriakkan provokasi dengan kata-kata rasis.[43]
- Februari 1998. Kraksaan, Donggala, Sumbawa, Flores, Jatiwangi, Losari, Gebang, Pamanukan, Lombok, Rantauprapat, Aeknabara: Januari – Anti-Tionghoa.[43]
- Kerusuhan Mei 1998. Salah satu contoh kerusuhan rasial yang paling dikenang masyarakat Tionghoa Indonesia yaitu Kerusuhan Mei 1998. Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa — terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Solo. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang terbunuh, terluka, mengalami pelecehan seksual, penderitaan fisik dan batin serta banyak warga keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama besar yang dianggap provokator kerusuhan Mei 1998. Bahkan pemerintah mengeluarkan pernyataan berkontradiksi dengan fakta yang sebenarnya yang terjadi dengan mengatakan sama sekali tidak ada pemerkosaan massa terhadap wanita keturunan Tionghoa disebabkan tidak ada bukti-bukti konkret tentang pemerkosaan tersebut. Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun umumnya orang setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian orang-orang tersebut.[43][48]
- 5-8 Mei 1998. Medan, Belawan, Pulobrayan, Lubuk-Pakam, Perbaungan, Tebing-Tinggi, Pematang-Siantar, Tanjungmorawa, Pantailabu, Galang, Pagarmerbau, Beringin, Batangkuis, Percut Sei Tuan: Ketidakpuasan politik yang berkembang jadi anti Tionghoa.[43][48]
- Jakarta, 13-14 Mei 1998. Kemarahan massa akibat penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang dikembangkan oleh kelompok politik tertentu jadi kerusuhan anti-Tionghoa. Peristiwa ini merupakan peristiwa anti-Tionghoa paling besar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Sejumlah perempuan keturunan Tionghoa diperkosa.[43][48]
- Solo, 14 Mei 1998. Ketidakpuasan politik yang kemudian digerakkan oleh kelompok politik tertentu menjadi kerusuhan anti Tionghoa.[43][48][53]
- Tanjungbalai, 29-30 Juli 2016. Kerusuhan Tanjungbalai, Sumatera Utara, meliputi aksi pengrusakan, penjarahan dan pembakaran yang menyasar rumah, tempat-tempat ibadah dan balai yayasan sosial Tionghoa. Kerusuhan terjadi akibat adanya unsur provokasi dengan ujaran kebencian di media sosial yang memuat isu SARA terkait keluhan volume pengeras suara masjid dari salah seorang warga keturunan tionghoa yang kemudian mengundang aksi massa. Kerugian akibat kejadian itu ditaksir mencapai hingga sedikitnya ratusan juta rupiah.[54]
Peran Warga Tionghoa Bagi Republik Indonesia
[sunting | sunting sumber]Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. |
Peran Ekonomi
[sunting | sunting sumber]Implikasi peran ekonomi warga Tionghoa dalam berbagai sektor termasuk usaha, investasi, dan kontribusi positif pada ekonomi negara. Implikasi tersebut tidak hanya menjadi pelaku utama dalam bisnis besar dan investasi, tetapi juga berperan sebagai penggerak ekonomi lokal melalui usaha mikro, kecil, dan menengah. Warga Tionghoa juga terlibat dalam tenaga kerja di berbagai sektor, memberikan kontribusi pada produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Kontribusi tersebut melalui pembayaran pajak mendukung keuangan negara, dan implikasi dalam perdagangan membantu mengembangkan pasar domestik dan memperluas akses ke pasar internasional. Kemitraan dan jaringan bisnis yang dibangun oleh warga Tionghoa turut memfasilitasi pertukaran ekonomi dan teknologi antara Indonesia dan negara-negara lain, memperkuat posisi Indonesia dalam panggung ekonomi global.
Peran Sosial Budaya dan Pendidikan
[sunting | sunting sumber]Didirikannya sekolah-sekolah Tionghoa oleh organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) sejak 1900, mendorong berkembangnya pers dan sastra Melayu Tionghoa. Maka dalam waktu 70 tahun telah dihasilkan sekitar 3000 buku, suatu prestasi yang luar biasa bila dibandingkan dengan sastra yang dihasilkan oleh angkatan pujangga baru, angkatan 45, 66 dan pasca 66 yang tidak seproduktif itu. Dengan demikian komunitas ini telah berjasa dalam membentuk satu awal perkembangan bahasa Indonesia.
Sumbangsih warga Tionghoa Indonesia juga terlihat dalam koran Sin Po, di mana koran Sin Po menjadi koran pertama yang menerbitkan teks lagu Indonesia Raya setelah disepakati pada Sumpah Pemuda tahun 1928.
Nama Sie Kok Liong memang sangat jarang didengar oleh masyarakat Indonesia, namun Sie Kok Liong merupakan seorang warga Tionghoa yang menyewakan rumahnya bagi para pemuda dalam menyelenggarakan Sumpah Pemuda.
Hanya sedikit catatan mengenai Sie Kok Liong, seiring dengan tumbuhnya sekolah-sekolah pada awal abad ke-20 di Jakarta tumbuh pula pondokan-pondokan pelajar untuk menampung mereka yang tidak tertampung di asrama sekolah atau untuk mereka yang ingin hidup lebih bebas di luar asrama yang ketat. Salah satu di antara pondokan pelajar itu adalah Gedung Kramat 106 milik Sie Kok Liong.
Di Gedung Kramat 106 inilah sejumlah pemuda pergerakan dan pelajar sering berkumpul. Gedung itu, selain menjadi tempat tinggal dan sering digunakan sebagai tempat latihan kesenian Langen Siswo juga sering dipakai untuk tempat diskusi tentang politik para pemuda dan pelajar. Terlebih lagi setelah Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) didirikan pada September 1926. Selain dijadikan kantor PPPI dan kantor redaksi majalah Indonesia Raya yang diterbitkan oleh PPPI, berbagai organisasi pemuda sering menggunakan gedung ini sebagai tempat kongres. Bahkan pada 1928 Gedung Kramat 106 jadi salah satu tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda II tanggal 27 – 28 Oktober 1928.
Universitas Trisakti yang kini menjadi salah satu universitas terkenal di Indonesia juga merupakan salah satu sumbangsih warga Tionghoa di Indonesia. Pada tahun 1958, universitas ini didirikan oleh para petinggi Baperki yang kebanyakan keturunan Tionghoa salah satunya yaitu Siauw Giok Tjhan, pada tahun 1962 oleh Presiden Soekarno nama universitas ini diganti menjadi Universitas Res Publika hingga 1965, dan sejak Orde Baru, universitas ini beralih nama menjadi Universitas Trisakti hingga sekarang.
Di Medan dikenal kedermawanan Tjong A Fie, rasa hormatnya terhadap Sultan Deli Makmun Al Rasyid diwujudkannya pengusaha Tionghoa ini dengan menyumbang sepertiga dari pembangunan Mesjid Raya Medan. Rumah peninggalan Tjong A Fie sampai sekarang masih ada di kota Medan walaupun bangunannya terlihat tidak terurus lagi.
Di Bagansiapiapi terdapat Ritual Bakar Tongkang sebagai ucapan rasa syukur masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi atas perlindungan Dewa Kie Ong Ya. Ritual Bakar Tongkang sangat diandalkan pemerintah daerah setempat sebagai daya tarik wisata daerah di mana setiap tahunnya menyedot puluhan ribu kunjungan wisatawan baik dalam maupun luar negeri.
Saat ini di Taman Mini Indonesia Indah sedang dibangun taman budaya Tionghoa Indonesia yang diprakarsai oleh PSMTI. Pembangunan taman ini direncanakan akan selesai sebelum tahun 2012 dengan biaya kurang lebih 50 miliar rupiah.[butuh rujukan]
Tokoh Tionghoa Indonesia
[sunting | sunting sumber]Galeri
[sunting | sunting sumber]Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Indonesian scholar Dede Oetomo believed "the term 'Chinese Malay' is really a misnomer. There may be a continuity between 'Chinese Malay' and modern Indonesian, especially because the former was also used in the written discourse of members of ethnic groups besides the Chinese in the colonial period and well into the postindependence era" (Kahin 1991, hlm. 54).
- ↑ Biasanya juga disebut sebagai Tenglang (Hokkien: Tn̂g-lâng), Tengnang (Tiochiu), Thong ngin (Hakka), Tonning (Fuqing), Tòhng yàn (bahasa Kantonis). Dalam bahasa Mandarin mereka disebut Tangren (Hanzi: 唐人, "orang Tang") atau lazim disebut Huaren (Hanzi Tradisional: 華人 ; Hanzi Sederhana: 华人). Istilah Tangren berasal dari nama Dinasti Tang, sementara istilah orang Han (Hanzi Tradisional: 漢人, Hanzi Sederhana: 汉人, Hanyu Pinyin: Hànrén, "orang Han") berasal dari nama Dinasti Han. Slang bahasa Inggris: Chindo; singkatan dari bahasa Inggris: Chinese Indonesian (Post, The Jakarta. "Why it's important to talk about Chinese-Indonesians or Chindos". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-12-09.)
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Chinese Diaspora".
- 1 2 "Berapakah Jumlah Sesungguhnya Populasi Tionghoa di Indonesia?". nationalgeographic.grid.id. 5 June 2021. Diakses tanggal 22 August 2023.
- 1 2 "Statistical Yearbook of the Overseas Community Affairs Council, R.O.C. (TAIWAN)" (PDF) (dalam bahasa Chinese). Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ Stephen Gapps. "A Complicated Journey: Chinese, Indonesian, and Australian Family Histories". Australian National Maritime Museum. Diarsipkan dari asli tanggal 6 May 2018. Diakses tanggal 22 April 2018.
- ↑ Terri McCormack (2008). "Indonesians". Dictionary of Sydney. Diakses tanggal 22 April 2018.
- 1 2 Thomas Fuller (12 December 1998). "Indonesia's Ethnic Chinese Find a Haven For Now, But Their Future Is Uncertain: Malaysia's Wary Welcome". The New York Times. Diakses tanggal 22 April 2018.
- ↑ "Statistics" (dalam bahasa Tionghoa). National Immigration Agency, ROC. Diakses tanggal 2011-02-13.
- ↑ Kenneth Utama (30 August 2016). "Why it's important to talk about Chinese-Indonesians or Cindo". The Jakarta Post. Diakses tanggal 9 March 2021.
- ↑ sesuai Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Trisnanto, AM Adhy (Minggu, 18 Februari 2007), "Etnis Tionghoa Juga Bangsa Indonesia", Suara Merdeka, diarsipkan dari asli tanggal 2008-12-29, diakses tanggal 13 Agustus 2008 ; Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
- ↑ Wang Gungwu (1996). "Sojourning: the Chinese experience in Southeast Asia". Dalam Anthony Reid (ed.). Sojourners and settlers: histories of Southeast Asia and the Chinese. Honolulu: University of Hawai'i Press. hlm. 1–9.
- ↑ Vasanty, Puspa (2004). Prof. Dr. Koentjaraningrat (ed.). "Kebudayaan Orang Tionghoa Di Indonesia", Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. Penerbit Djambatan. hlm. hal. 359. ISBN 979-428-510-2.
- ↑ Skinner, G.W. (1963). R.T. McVey (ed.). "The Chinese Minority", Indonesia. New Haven, HRAF. hlm. hal. 99. Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
- ↑ Kusno, Malikul (Sabtu, 9 Desember 2006), "UU Kewarganegaraan dan Etnis Tionghoa", Harian Umum Sinar Harapan, diarsipkan dari asli tanggal 2008-06-16, diakses tanggal 18 Agustus 2008 ; Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
- ↑ "Ohio University". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-03-10. Diakses tanggal 2007-02-28.
- ↑ "印尼2006 年華人人口統計推估 (Perkiraan Statistik Jumlah Penduduk Tionghoa Indonesia Tahun 2006)" (PDF). Overseas Compatriot Affairs Commission, R.O.C (Taiwan). Diakses tanggal 2010-05-10.
本會以人口增加率1.38%估計,2006 年印尼華人人口約有767 萬人,約占印尼總人口的3.4%,尚屬合理。
- ↑ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaPoston and Wong - ↑ https://goodstats.id/infographic/di-luar-china-ini-negara-dengan-populasi-tionghoa-terbanyak-cs2U0.
- ↑ Rustopo 2008. Jawa Sejati. Otobiografi Go Tik Swan. Penerbit Ombak Yogyakarta
- ↑ Arismunandar A 2007. Kerajaan Majapahit abad XIV dan XV. Artikel pada laman Majapahit Kingdom Diarsipkan 2022-03-12 di Wayback Machine.
- ↑ Ada yang berpendapat kelenteng ini dibangun oleh orang dari Tuban, suatu pelabuhan penting di pantai utara Jawa Timur pada masa lalu.
- ↑ "Zulkifli AA. Laksamana Cheng Ho pernah singgah di Surabaya". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-07-15. Diakses tanggal 2012-07-15.
- ↑ (Indonesia) Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 63. ISBN 9798451163.
- ↑ Setiono, Benny G. "Tionghoa Dalam Pusaran Politik", hal. 167, Transmedia
- ↑ Fadillah, Arie Sunaryo,Danny Adriadhi Utama ,Ramadhian; Fadillah, Ramadhian; Sunaryo, Arie (24 Januarin 2020). Pratomo, Angga Yudha (ed.). "Geger Pecinan, Saat Laskar Tionghoa-Jawa Bersatu Melawan VOC". Merdeka.com. Diakses tanggal 15 Januari 2022. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ http://home.iae.nl/users/arcengel/NedIndie/chinezenengels.htm
- ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-09-28. Diakses tanggal 2006-11-13.
- ↑ Skinner 1963, hlm. 102.
- ↑ Lewis 2005, hlm. 391.
- ↑ Heidhues 1999, hlm. 154.
- ↑ Rafferty, Ellen (1984). "Languages of the Chinese of Java—An Historical Review". The Journal of Asian Studies. 43 (2): 247–272. doi:10.2307/2055313. ISSN 0021-9118. JSTOR 2055313. S2CID 163299613.
- ↑ Kahin 1991, hlm. 55.
- ↑ Kahin 1991, hlm. 61.
- ↑ Kahin 1991, hlm. 65.
- ↑ Tan-Johannes, Grace (2018-08-23). "Why more Chinese Indonesians are learning Mandarin, and nurturing their children's sense of belonging to Chinese culture". South China Morning Post. Diakses tanggal 2018-09-04.
- ↑ Indonesia, INI BARU (ALE/SA) (2018-02-16). "Barongsai di Indonesia, Dulu dan Kini". INI BARU Indonesia. Inibaru.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-11-20.
- ↑ "Sejarah Wushu, Dari Tes Masuk Militer Hingga Cabang Olahraga". kumparan. kumparanSPORT.
- 1 2 Tan 2002, hlm. 154.
- ↑ Tan 2002, hlm. 155–156.
- 1 2 Tan 2002, hlm. 158.
- ↑ Tan 2002, hlm. 157.
- ↑ Tan 2002, hlm. 160.
- ↑ Tan 2002, hlm. 168.
- 1 2 3 4 5 6 7 [Purdey, Jemma. "Anti-Chinese violence in Indonesia, 1996-1999," Honolulu: University of Hawai'i Press, 2006].
- ↑ [Tan, Giok-Lan, "The Chinese of Sukabumi", Ithaca, NY: Modern Indonesia Project, Southeast Asia Program, Dept. of Asian Studies, Cornell University, 1963].
- 1 2 3 [Coppel, Charles. "Indonesian Chinese in Crisis," Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1978].
- ↑ Catatan lama ketidak adilan sosial dan kerusuhan sosial 5 Agustus 1973, diakses dari situs Socio-politica.com
- ↑ Kronik Dasar Hukum Pendirian Rezim Pelarangan Buku, diakses dari situs elsam.or.id[pranala nonaktif permanen]
- 1 2 3 4 5 [Siegel, James T. "Solo in the New Order: Language and Hierarchy in an Indonesian City, Princeton, NJ: Princeton University Press, 1986].
- ↑ [Siegel, James T. “Thoughts on the Violence of May 13 and 14, 1998, in Jakarta,” dalam Violence and the State in Suharto's Indonesia, ed. Benedict Anderson (Ithaca, NY: Cornell Southeast Asia Program Publications, 2001.].
- ↑ Sejarah Masuknya Etnis Tionghoa di Surabaya, hal 19, diakses dari situs Sunan-Ampel.ac.id[pranala nonaktif permanen]
- ↑ "Rusuh Gara-gara Orang Gila, Arsip Berita Gatra yang ditulis dalam bentuk email di Indopub". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-08-20. Diakses tanggal 2013-05-16.
- ↑ [Ang, Ien. "On Not Speaking Chinese: Living Between Asia and the West," London: Routledge, 2006].
- ↑ [Heryanto, Ariel. "State Terrorism and Political Identity in Indonesia: Fatally Belonging," London: Routledge, 2006].
- ↑ Detail Kejadian Kerusuhan di Tanjung Balai, diakses dari situs tirto.id
Bibliografi
[sunting | sunting sumber]Sumber tersier
[sunting | sunting sumber]- Heidhues, Mary Somers (1999), "Indonesia", dalam Pan, Lynn (ed.), The Encyclopedia of the Chinese Overseas, Cambridge, M.A.: Harvard University Press, hlm. 151–168, ISBN 978-0-674-25210-3.
- Ma, Rosey Wang (2005), "Hui Diaspora", dalam Ember, Melvin; Ember, Carol R. & Skoggard, Ian (ed.), Encyclopedia of Diasporas: Immigrant and Refugee Cultures Around the World, New York, N.Y.: Springer Science+Business Media, hlm. 113–124, ISBN 978-0-387-29904-4.
- McKeown, Adam (2005), "Chinese Diaspora", dalam Ember, Melvin; Ember, Carol R. & Skoggard, Ian (ed.), Encyclopedia of Diasporas: Immigrant and Refugee Cultures Around the World, New York, N.Y.: Springer Science+Business Media, hlm. 65–76, ISBN 978-0-387-29904-4.
- Nagata, Judith (1999), "Indonesians", dalam Magocsi, Paul R. (ed.), Encyclopedia of Canada's Peoples, Toronto, ON: University of Toronto Press, hlm. 723–726, ISBN 978-0-8020-2938-6.
- Penny, Janet & Gunawan, Tuti (2001), "Indonesians", dalam Jupp, James (ed.), The Australian People: An Encyclopedia of the Nation, Its People and Their Origins (Edisi 2nd), Cambridge, M.A.: Cambridge University Press, hlm. 439–441, ISBN 978-0-521-80789-0.
- Reid, Anthony (1999), "Chinese and Southeast Asian interactions", dalam Pan, Lynn (ed.), The Encyclopedia of the Chinese Overseas, Cambridge, M.A.: Harvard University Press, hlm. 51–53, ISBN 978-0-674-25210-3.
- Reid, Anthony (2007), "Entrepreneurial Minorities, Nationalism, and the State", dalam Chirot, Daniel; Reid, Anthony (ed.), Essential Outsiders: Chinese and Jews in the Modern Transformation of Southeast Asia and Central Europe, Seattle: University of Washington Press, hlm. 33–73, ISBN 978-0-295-97613-6.
- Tan, Mely G. (2005), "Ethnic Chinese in Indonesia", dalam Ember, Melvin; Ember, Carol R. & Skoggard, Ian (ed.), Encyclopedia of Diasporas: Immigrant and Refugee Cultures Around the World, New York, N.Y.: Springer Science+Business Media, hlm. 795–807, ISBN 978-0-387-29904-4.
- Walrond, Carl (4 March 2009), Indonesians, Auckland: Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand.
- Wibowo, Agustinus (2024). Kita dan Mereka. Jakarrta: Mizan Pustaka. Pemeliharaan CS1: Postscript (link)
Sumber sekunder
[sunting | sunting sumber]- Ananta, Aris; Arifin, Evi Nurvidya & Bakhtiar (2008), "Chinese Indonesians in Indonesia and the Province of Riau Archipelago: A Demographic Analysis", dalam Suryadinata, Leo (ed.), Ethnic Chinese in Contemporary Indonesia, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, hlm. 17–47, ISBN 978-981-230-834-4.
- Borschberg, Peter, ed. (2004), Iberians in the Singapore-Melaka area and adjacent regions (16th to 18th century), vol. 14 (Edisi illustrated), Wiesbaden, Germany: Otto Harrassowitz Verlag, ISBN 978-3-447-05107-1, diakses tanggal 14 December 2011
- Chang, Yau Hoon (16 October 2010), "Mapping 'Chinese' Christian Schools in Indonesia: Ethnicity, Class and Religion", Asia Pacific Education Review, 12 (3): 403–411, doi:10.1007/s12564-010-9144-7, S2CID 145461894, diakses tanggal 15 February 2012.
- Chua, Christian (2008), Chinese Big Business in Indonesia: The State of Capital, Routledge Contemporary Southeast Asia Series, London: Routledge, ISBN 978-0-415-45074-4.
- Coppel, Charles A. (2002), Studying Ethnic Chinese in Indonesia, Asian Studies Monograph Series, Singapore: Singapore Society of Asian Studies, ISBN 978-9971-9904-0-4.
- Cunningham, Clark E. (2008), "Unity and Diversity among Indonesian Migrants to the United States", dalam Ling, Huping (ed.), Emerging Voices: Experiences of Underrepresented Asian Americans, Piscataway, N.J.: Rutgers University Press, hlm. 90–108, ISBN 978-0-8135-4341-3.
- Dawis, Aimee (2009), The Chinese of Indonesia and Their Search for Identity: The Relationship Between Collective Memory and the Media, Amherst, N.Y.: Cambria Press, ISBN 978-1-60497-606-9.
- East Asia Analytical Unit (1995), Overseas Chinese Business Networks in Asia, Canberra: Department of Foreign Affairs and Trade, ISBN 978-0-642-22960-1.
- Gernet, Jacques (1996), A History of Chinese Civilization (Edisi 2nd), Cambridge, M.A.: Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-49781-7.
- Guillot, C.; Lombard, Denys; Ptak, Roderich, ed. (1998), From the Mediterranean to the China Sea: miscellaneous notes, Wiesbaden, Germany: Otto Harrassowitz Verlag, ISBN 978-3-447-04098-3, diakses tanggal 14 December 2011.
- Heidhues, Mary Somers (2001), "Chinese Settlements in Rural Southeast Asia: Unwritten Histories", dalam Reid, Anthony (ed.), Sojourners and Settlers: Histories of Southeast Asia and the Chinese, Honolulu, H.I.: University of Hawaii Press, hlm. 164–182, ISBN 978-0-8248-2446-4.
- Hoon, Chang-Yau (2006), "'A Hundred Flowers Bloom': The Re-emergence of the Chinese Press in Post-Suharto Indonesia", dalam Sun, Wanning (ed.), Media and the Chinese Diaspora: Community, Communications and Commerce, London: Routledge, hlm. 91–118, ISBN 978-0-415-35204-8.
- Kahin, Audrey, ed. (1991), Indonesia: The Role of the Indonesian Chinese in Shaping Modern Indonesian Life, Ithaca, N.Y.: Cornell Southeast Asia Program, ISBN 978-99936-0-446-4.
- Lewis, M. Paul, ed. (2005), "Indonesia", Ethnologue: Languages of the World (Edisi 15th), Dallas, T.X.: SIL International, ISBN 978-1-55671-159-6, diakses tanggal 26 January 2010.
- Phoa, Liong Gie (1992), "The Changing Economic Position of the Chinese in Netherlands India", dalam Fernando, M. R. & Bulbeck, David (ed.), Chinese Economic Activity in Netherlands India: Selected Translations from the Dutch, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, hlm. 5–18, ISBN 978-981-3016-21-7.
- Pratiwo (2007), "Seeking the Spirit of the Age: Chinese Architecture in Indonesia Today", dalam Nas, Peter J. M. (ed.), The Past in the Present: Architecture in Indonesia, Leiden: Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, hlm. 73–83, ISBN 978-90-6718-296-6.
- Purdey, Jemma (2006), Anti-Chinese Violence in Indonesia, 1996–1999, Honolulu, H.I.: University of Hawaii Press, ISBN 978-0-8248-3057-1.
- Reid, Anthony (2001), "Flows and Seepages in the Long-term Chinese Interaction with Southeast Asia", Sojourners and Settlers: Histories of Southeast Asia and the Chinese, Honolulu, H.I.: University of Hawaii Press, hlm. 15–50, ISBN 978-0-8248-2446-4.
- Robison, Richard (1986), "The Emergence of a Capitalist Class: Chinese-Owned Capital", Indonesia: The Rise of Capital, Sydney: Allen & Unwin, hlm. 271–322, ISBN 978-0-04-909024-8.
- Sen, Krishna (2006), "'Chinese' Indonesians in National Cinema", dalam Sun, Wanning (ed.), Media and the Chinese Diaspora: Community, Communications and Commerce, London: Routledge, hlm. 119–136, ISBN 978-0-415-35204-8.
- Setiono, Benny G. (2003), Tionghoa dalam Pusaran Politik [Indonesia's Chinese Community under Political Turmoil], Jakarta: Elkasa, ISBN 978-979-96887-4-3.
- Skinner, G. William (1963), "The Chinese Minority", dalam McVey, Ruth (ed.), Indonesia, Survey of World Cultures, New Haven, C.T.: Yale University Southeast Asia Studies, hlm. 97–117, OCLC 411723.
- Suryadinata, Leo (1999), "The Ethnic Chinese Issue and National Integration in Indonesia" (PDF), Trends in Southeast Asia, Singapore, ISSN 0219-3213, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 14 June 2011.
- Suryadinata, Leo (2002), "Democracy and Ethnic Chinese Politics", Election and Politics in Indonesia, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, hlm. 126–138, ISBN 978-981-230-121-5.
- Suryadinata, Leo (2008), "Chinese Indonesians in an Era of Globalization: Some Major Characteristics", dalam Suryadinata, Leo (ed.), Ethnic Chinese in Contemporary Indonesia, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, hlm. 1–16, ISBN 978-981-230-834-4.
- Suryadinata, Leo, ed. (2004), Chinese Indonesians: State Policy, Monoculture, and Multiculture, Singapore: Marshall Cavendish, ISBN 978-981-210-298-0.
- Suryadinata, Leo (1984), Dilema Minoritas Tionghoa [Dilemma of the Chinese Minority], Jakarta: Grafiti Pers, OCLC 11882266.
- Suryadinata, Leo; Arifin, Evi Nurvidya & Ananta, Aris (2003), "The Ethnic Chinese: A Declining Percentage", Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape, Indonesia's Population Series, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, hlm. 73–102, ISBN 978-981-230-218-2.
- Tan, Mely G. (2002), "Chinese Dietary Culture in Indonesian Urban Society", dalam Wu, David Y. H. & Cheung, Sidney C. H. (ed.), The Globalization of Chinese Food, Honolulu, H.I.: University of Hawaii Press, hlm. 152–169, ISBN 978-0-8248-2582-9.
- Tan, Mely G. (2008), Etnis Tionghoa di Indonesia: Kumpulan Tulisan [Ethnic Chinese in Indonesia: Collected Writings] (dalam bahasa Inggris and Bahasa Indonesia), Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, ISBN 978-979-461-689-5.
- Widodo, Johannes (2007), "The Chinese Diaspora's Urban Morphology and Architecture in Indonesia", dalam Nas, Peter J. M. (ed.), The Past in the Present: Architecture in Indonesia, Leiden: Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, hlm. 67–72, ISBN 978-90-6718-296-6.
Sumber primer
[sunting | sunting sumber]- Hellwig, Tineke & Tagliacozzo, Eric, ed. (2009), The Indonesia Reader: History, Culture, Politics, Durham, N.C.: Duke University Press, ISBN 978-0-8223-4424-7.
- Suryadinata, Leo, ed. (1997), Political Thinking of the Indonesian Chinese, 1900–1995: A Sourcebook (Edisi 2nd), Singapore: Singapore University Press, ISBN 978-9971-69-201-8.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]Pranala luar pada artikel ini mungkin tidak sesuai dengan kebijakan atau pedoman Wikipedia. |
- (Indonesia) Forum Diskusi Budaya Tionghoa dan Sejarah Tiongkok
- (Indonesia) Budaya, Sejarah & Tradisi Tionghoa
- (Indonesia) Budaya Tionghoa Diarsipkan 2010-12-29 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Seputar Info Tradisi dan Budaya Tionghoa