Suku Sawi
Rumah panggung milik suku Sawi yang dibangun di wilayah hulu Sungai Fayit. | |
| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 4.800[1] | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Bahasa | |
| Sawi, Indonesia | |
| Agama | |
| Kekristenan (terutama), agama tradisional | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Awyu, Wambon, Kombai, Korowai |
Sawi atau Sawuy adalah kelompok etnis yang berasal dari Papua Selatan, Indonesia. Mereka berbicara dalam bahasa Sawi, yang termasuk dalam rumpun bahasa Awyu.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Mereka dikenal sebagai pemburu kepala kanibalistik pada tahun 1950-an.[2] Pos Belanda baru dibangun pada tahun 1955 di Primapun, Distrik Safan, Kabupaten Asmat, dan mereka memulai ekspedisi ke wilayah suku Sawi melalui Sungai Kronkel.[3]
Sejak saat itu, banyak orang Sawi telah memeluk Kekristenan dan bangunan melingkar terbesar di dunia yang terbuat dari tiang-tiang yang tidak digiling dibangun pada tahun 1972 sebagai tempat pertemuan Kristen oleh Sawi.[4] Misionaris Kristen Don Richardson datang pada tahun 1965 dan hidup tinggal di antara suku Sawi selama 15 tahun, ia kemudian menulis sebuah buku tentang pengalamannya yang disebut Peace Child (Anak Perdamaian).
Wilayah adat
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 1962, terdapat sekitar 19 kampung yang ditinggali oleh suku Sawi di wilayah hulu dari Primapun.[3] Biasanya kampung-kampung tersebut terletak dekat dengan sungai dan anak-anak sungainya seperti dari bagian utara, Sungai Faraes, Sungai Kohovan, Sungai Huyap, Sungai Evdav, Sungai Yeem, Sungai Peesee, Sungai Manam, Sungai Kronkel, Sungai Fanet, Sungai Kidari, Sungai Hanai, Sungai Sagudar, Sungai Tumpu, dll.[5] Suku-suku lain yang berdampingan dengan suku Sawi di wilayah tersebut berupa suku Awyu (Pisa) di sebelah timur, suku Asmat di sebelah barat dan utara, suku Kayagar dan suku Atohwaim di sebelah selatan.[6]
Rumah adat
[sunting | sunting sumber]Rumah adat suku Sawi disebut av[3] pada umumnya berupa rumah panggung yang dibangun tinggi diatas pohon membentuk rumah pohon, dideskripsikan oleh Richardson berbentuk bungkuk, dan menyerupai roti. Memiliki panjang sekitar 12 meter, dan dibangun sekitar 9-15 meter diatas tanah. Walau tidak semua orang sawi membangun rumah pohon dan ada yang membangun rumah di permukaan tanah. Untuk naik dan turun kedalam rumah terdapat tangga yang dibuat dari beberapa batang yang diikat.[7] Di tengah pemukiman suku Sawi terdapat rumah laki-laki, wanita tidak diperbolehkan masuk kecuali diberi ijin, biasanya memiliki panjang sekitar 24 meter.[8] Rumah panjang tesebut merupakan pusat kebudayaan suku Sawi, pada palang pintu biasanya dihias tulang belulang dari hewan dan manusia, digunakan sebagai aula perjamuan untuk tamu terhormat, forum tempat masyarakat berdiskusi tentang perang, tempat untuk laki-laki melakukan hubungan intim, dan tempat jagal untuk korban pengayauan.[9]
Lihat juga
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Sawuy in Indonesia". Joshua Project. Diakses tanggal 18-09-2014.
- ↑ Tucker (1983), p. 476
- 1 2 3 Kamur, Ruben (2018). "Odakem-Minisme dalam Kebudayaan Suku Bangsa Sawi Wilayah Pantai Kasuari Kabupaten Asmat Provinsi Papua". Jurnal Ekologi Birokrasi. 6 (3). Cenderawasih University: 59–71. ISSN 2338-705X. Diakses tanggal 2026-04-26.
- ↑ Tucker (1983), p. 478
- ↑ Richardson (1974), p. 16
- ↑ Szilzer, Peter J.; Clouse, Helja Heikkinen (1991). Index of Irian Jaya languages :a special publication of Irian :Peter J. Silzer, Helja Heikkinen Clouse. SIL and Universiy of Cenderawasih. Diakses tanggal 2024-12-15.
- ↑ Richardson (1974), p. 20
- ↑ Richardson (1974), p. 24
- ↑ Richardson (1974), p. 114
Bacaan lebih lanjut
[sunting | sunting sumber]- Peace Child (1974) ISBN 1-57658-289-2
- Tucker, Ruth (1983). From Jerusalem to Irian Jaya: A Biographical History of Christian Missions. Grand Rapids, Michigan: Zondervan. ISBN 0-310-23937-0.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Never the Same Dokumenter tentang kunjungan ke Sawi pada tahun 2012